Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Dunia Mengajarkan Tuhan

Islam adalah agama yang realistis. Secara leksikal, kata “Islam” sendiri berarti tunduk, patuh, menerima. Ini menunjukkan bahwa syarat pertama menjadi seorang Muslim adalah menerima realitas dan kebenaran. Islam menolak setiap sikap keras kepala, prasangka, taklid buta, berat sebelah dan egoisme. Islam memandang semua itu bertentangan dengan realitas dan pendekatan realistis terhadap kebenaran. Menurut Islam, orang yang mencari ke¬benaran lalu menemui kegagalan dapat dimaafkan. Kalau kita secara membuta, keras kepala, dan angkuh, atau karena keturunan menerima sesuatu sebagai kebenaran, maka menurut Islam, apa yang kita lakukan itu tak ada nilainya. Seorang Muslim sejati mesti dengan gairah menerima kebenaran di mana pun ia mendapatkannya. Sejauh menyangkut menuntut ilmu, seorang Muslim tidak selayaknya apriori atau bersikap berat sebelah.

Upaya manusia mendapatkan ilmu dan kebenaran tidak hanya berlangsung pada masa tertentu dalam hidupnya, tidak pula hanya dalam wilayah terbatas. Dia juga tidak menuntut ilmu dari orang tertentu. Nabi SAW bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Beliau juga meminta kaum Muslimin agar menerima ilmu sekalipun dari seorang penyembah berhala. Dalam sabda lain, Nabi SAW mendesak umatnya untuk menuntut ilmu sekalipun harus ke negeri Cina. Tidak cukup sekedar itu, beliau bahkan menekankan, “Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai liang lahat.” Maka, memahami suatu persoalan secara parsial dan dangkal, secara membuta mengikuti orang-orang tua, dan menerima tradisi turun-temurun tidaklah logis, karena semua ini bertentangan dengan semangat tunduk di hadapan kebenaran. Oleh karena itu, Islam mengecamnya dan menganggapnya sebagai penyesatan.

Unsur realistis ini juga tampak jelas pada wujud manusia. Ia adalah makhluk realistis. Sebagai bayi yang baru lahir, sejak detik-detik pertama dari kehidupannya, ia telah mencari-cari susu ibunya sebagai realitas. Secara berangsur-angsur tubuh dan jiwa bayi ini berkembang sedemikian sehingga dia dapat membedakan antara dirinya dan sekitarnya. Kendatipun kontak bayi dengan sekitarnya terjadi melalui serangkaian pengetahuannya, namun dia tahu bahwa realitas sekitarnya itu berbeda dengan realitas pengetahuannya yang berfungsi hanya sebagai perantara.

Ciri-ciri Khas Dunia

Realitas sekitar itu yang dapat ditangkap oleh manusia melalui daya inderanya, dan itu yang lalu disebut dengan dunia. Realitas dunia ini memiliki sifat-sifat khas integral sebagai berikut:

1.  Terbatas

Segala yang dapat ditangkap oleh indera, dari partikel yang paling kecil sampai benda yang paling besar, pasti terbatas ruang dan waktunya. Apa pun dari realitas dunia ini tidak dapat eksis di luar batas-batas ruang dan waktunya. Benda-benda tertentu menempati ruang yang lebih besar dan masanya lebih panjang, sementara sebagian benda lain menempati ruang yang lebih kecil dan masanya lebih pendek. Namun pada prinsipnya, benda-benda itu terbatas ruang dan waktunya.

2.  Berubah

Segala sesuatu berubah dan tidak tahan utuh. Keadaan segala yang dapat ditangkap oleh indera dari dunia ini tidak statis dan tidak berhenti. Kalau mereka tidak berkembang, maka akan rusak. Benda materiil yang dapat ditangkap oleh indera, sepanjang masa eksistensinya, selalu mengalami perubahan sebagai bagian dari realitasnya. Kalau suatu wujud materiil itu tidak memberi sesuatu, maka ia menerima sesuatu, atau memberi sekaligus menerima. Dengan kata lain, kalau ia tidak menerima sesuatu karena realitas benda-benda lain dan tidak menambahkan sesuatu itu pada realitasnya sendiri, maka ia memberikan sesuatu karena realitasnya atau menerima sekaligus memberi. Alhasil, di dunia ini, tidak ada yang tetap dan statis. Ini adalah ciri dasar apa saja yang ada di dunia ini.

3.  Determinasi

Sifat khas lain dari benda-benda indrawi adalah determinasi. Kita dapati bahwa semua benda-benda itu determinatif dan ditentukan. Dengan kata lain, eksistensi masing-masing ditentukan oleh dan bergantung pada eksistensi benda yang lain. Tidak ada yang dapat eksis jika benda-benda lainnya tidak eksis. Kalau dengan saksama kita perhatikan realitas benda-benda materiil, ternyata banyak catatan “jika” yang menjadi syarat eksistensinya. Tak dapat ditemukan satu benda materiil yang bisa eksis tanpa syarat dan tanpa ketergantungan pada benda lain. Eksistensi segala sesuatu tergantung pada eksistensi sesuatu yang lain, dan eksistensi sesuatu yang lain juga tergantung pada eksistensi sesuatu yang lainnya lagi, dan begitu seterusnya.

4.  Bergantung

Eksistensi segala sesuatu tergantung pada terpenuhinya banyak syarat. Eksistensi masing-masing syarat ini tergantung pada ter¬penuhinya sekian syarat yang lain. Tak ada sesuatu yang dapat eksis dengan sendirinya, yakni tak ada syarat untuk eksistensinya. Dengan demikian, ihwal bergantung merupakan sifat esensial segala yang ada.

5.  Relatif

Eksistensi dan kualitas segala sesuatu di dunia ini relatif. Kita menilai sesuatu itu besar, kuat, indah, tahan lama dan bahkan ia itu ada, namun penilaian kita ini dalam bandingannya dengan benda-benda lain. Saat kita katakan, misalnya, matahari itu sangat besar, maksud kita adalah bahwa matahari itu lebih besar daripada bumi dan planet lain dalam sistem tata surya kita. Kalau tidak, sesungguhnya matahari ini sendiri lebih kecil daripada banyak bintang. Juga, ketika kita mengatakan bahwa kapal atau binatang tertentu hebat, kita membandingkannya dengan manusia atau sesuatu yang lebih lemah daripada manusia.

Bahkan eksistensi sesuatu itu komparatif. Bila kita bicara soal eksistensi, kesempurnaan, kearifan, keindahan, atau kekuatan, berarti kita mempertimbangkan tingkat lebih rendah dari kualitas itu. Kita selalu dapat mengasumsikan tingkatannya yang lebih tinggi juga, dan kemudian tingkatan lebih tinggi yang berikutnya. Setiap kualitas dalam perbandingannya dengan tingkatannya yang lebih tinggi berubah menjadi sebaliknya. Eksistensi menjadi non-eksistensi, sempurna berubah menjadi tidak sempurna. Juga, kearifan, keindahan, keagungan dan kehebatan masing-masing berubah menjadi kebodohan, keburukan dan kehinaan.

Berbeda dengan ruang lingkup indera, daya pikir manusia memiliki ruang lingkup yang tidak sebatas hal-hal lahiriah, namun juga sampai kepada apa yang ada di balik layar realitas materiil. Ini menunjukkan bahwa realitas itu bukan semata-mata apa saja yang kasat indera, terbatas, berubah, relatif dan tergantung itu.

Realitas Mutlak

Jadi realitas-realitas yang kita lihat, tampaknya dan pada umumnya, ada tidak dengan sendirinya. Mereka semua bergantung. Karena itu, tentu ada satu Realitas yang abadi, tak-bersyarat, mutlak, tak terbatas, dan selalu ada di balik segenap realitas itu. Segala sesuatu bergantung pada Reallitas Mutlak ini. Kalau tidak demikian, maka tidak mungkin ada realitas seperti Dia. Atau dengan kata lain, tidak akan ada yang eksis; sama sekali.

Al-Qur’an menerangkan bahwa Allah ada secara mandiri dan tak-bergantung. Ia mengingatkan bahwa segala yang ada, yang tergantung dan relatif itu, membutuhkan adanya suatu Realitas yang ada dengan sendiri-Nya untuk menopang eksistensi mereka. Allah ada dengan sendiri-Nya dan apa saja selain Dia pasti bergantung pada-Nya. Allah sempurna, karena segala sesuatu itu tidak ada pada diri mereka, maka mereka bergantung pada Realitas yang menutupi ketidakadaan tersebut dengan eksistensi.

Al-Qur’an menggambarkan segala sesuatu sebagai “tanda” atau “ayat”. Dengan kata lain, pada gilirannya segala sesuatu merupakan ayat dari Realitas Yang tak terbatas wujud, ilmu, kuasa, dan kehendak-Nya. Menurut Al-Qur’an, alam semesta laksana sebuah kitab yang dicipta oleh satu wujud yang arif, yang setiap baris dan kata di dalamnya merupakan tanda kearifan penulisnya. Dari sudut pandang Al-Qur’an, semakin orang tahu realitas segala sesuatu, dia semakin mengenal kearifan Allah, kuasa dan rahmat-Nya.

Dari satu sudut, setiap ilmu alam (maksudnya adalah ilmu yang digunakan untuk mengkaji dunia fisis, misalnya, fisika, kimia, biologi, geologi, botani—pen.) merupakan cabang dari kosmologi. Dari sudut lain dan dengan cara melihat sesuatu secara lebih mendalam, setiap ilmu alam merupakan uraian dari pengetahuan akan Allah. Dalam Al-Qur’an, kita dapat menjumpai satu dari sekian ayat yang menegaskan konsepsi ini:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia di bumi itu sebarkan segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. al-Baqarah: 164)

Dalam ayat ini, manusia diajak untuk memperhatikan kosmologi umum, industri pembuatan kapal, turisme beserta keuntungan finansialnya, meteorologi, asal-usul angin dan hujan, gerakan awan, biologi dan ilmu hewan. Al-Qur’an memandang perenungan tentang filosofi ilmu-ilmu ini adalah cara yang mengarah kepada pengenalan akan Allah.

Realitas Sempurna

Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah memiliki segenap sifat kesempurnaan: Dialah yang memiliki Nama-nama yang terbaik. (QS. al-Hasyr: 24)

Dan bagi-Nyalah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. (QS. ar-Rûm: 27)

Sebagaimana telah dipaparkan, Allah Mahahidup, Mahatahu, Maha Berkehendak, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pemberi Petunjuk, Maha Pencipta, Mahaarif, Maha Pengampun dan Mahaadil. Dia memiliki segenap sifat yang mahatinggi. Allah bukanlah tubuh; juga bukan susunan. Dia tidak lemah. Dia tidak kejam.

Sifat-sifat kesempurnaan ini dapat disederhanakan pada dua macam: sifat positif, yakni sifat-sifat yang secara langsung menegaskan kesempurnaan Allah; dan sifat negatif, yaitu segala sifat yang menafikan dari Dzat-Nya apa pun  asumsi kelemahan, kekurangan dan ketaksempurnaan. Dua macam sifat Allah itu tampak dalam ungkapan kita. Kita senantiasa memuji dan menyucikan Allah. Memuji Allah berarti menyebut sifat positif-Nya. Dan menyucikan-Nya berarti menyatakan bahwa Dia bebas dari semua yang tidak patut bagi Dzat-Nya.

Realitas Yang Satu

Allah tidak berbanding dengan sekutu. Tak ada yang sama dengan-Nya. Pada dasarnya, mustahil ada yang sama dengan-Nya. Karena kalau begitu, akan ada dua Tuhan atau lebih; Dia tidak lagi satu. Dua, tiga atau lebih merupakan ciri khas pada sesuatu yang terbatas dan relatif.

Dalam kaitannya dengan wujud yang mutlak dan tak-terbatas, pluralitas tak lagi berarti. Misalnya, kita bisa punya satu anak. Juga bisa punya dua anak atau lebih. Kita juga bisa memiliki seorang teman, juga bisa memiliki dua teman atau lebih. Teman atau anak merupakan wujud yang terbatas. Dan wujud yang terbatas bisa diserupai oleh wujud lain yang jumlah juga bisa banyak. Ini sama sekali berbeda dengan wujud yang tak-terbatas; dia tidak mungkin berganda dan berlipat jumlahnya.

Pendekatan berikut ini, meskipun tidak memadai, dapat menambah kejelasan untuk masalah ini. Ada dua teori yang dirujuk oleh para untuk menafsirkan dimensi-dimensi alam materiil, yaitu dunia yang dapat kita lihat dan rasakan. Sebagian berpendapat bahwa dimensi-dimensi alam semesta ini terbatas. Dengan kata lain, alam ini punya titik akhir. Namun sebagian yang lain berpendapat bahwa pada dimensi-dimensi alam ini, tidak ada tengahnya, tidak ada awalnya, tidak ada juga akhirnya. Atas dasar teori keterbatasan alam materiil, timbul pertanyaan; apakah alam ini hanya ada satu atau lebih dari satu? Dan berdasarkan teori ketakterbatasan alam ini, asumsi adanya alam lain menjadi absurd dan tak masuk akal. Apa pun asumsi kita mengenai keberadaan alam lain, hanya menegaskan identisitas alam itu dengan alam ini, atau bagian darinya.

Pendekatan di atas ini berlaku pada alam materiil yang terbatas, bergantung dan diciptakan. Realitas alam ini tidak mutlak, tidak mandiri, dan tidak ada dengan sendirinya. Dan kendati tidak terbatas dari segi dimensi-dimensinya, alam ini tetap terbatas dari segi realitasnya. Kalau dimensi-dimensinya tidak terbatas, maka tidak dapat diasumsikan adanya alam lain.

Eksistensi Allah SWT tidak terbatas. Dia hanyalah Realitas Mutlak. Dia ada pada segala sesuatu. Dia ada dalam ruang dan waktu. Dia lebih dekat dengan kita ketimbang urat leher kita sendiri. Karena itu, mustahil ada sesuatu yang menyerupai Allah. Bahkan kita tak dapat mengasumsikan adanya wujud lain seperti Dia.

Kita melihat tanda-tanda kearifan Allah SWT ada di mana-mana. Kita melihat satu kehendak dan satu sistem yang mengatur segenap alam semesta. Itu menunjukkan bahwa pusat dunia ini satu; tidak lebih. Kalau saja ada dua Tuhan atau lebih, tentu ada dua kehendak atau lebih yang berlaku pada alam. Dan dua realitas atau lebih yang pusat mereka berbeda tentu akan eksis di segala sesuatu yang ada. Akibatnya, segala sesuatu menjadi dua atau lebih. Konsekuensi lgisnya, tidak akan ada yang eksis sama sekali. Inilah maksud ayat Al-Qur’an:

Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (QS. al-Anbiyâ’: 22)

Konsekuensi Praktis

Kesadaran kita akan Allah sebagai Realitas Esa, Sempurna, Pemilik sifat-sifat tertinggi, Suci dari apa pun kekurangan dan keterbatasan, dan—dalam hubungan-Nya dengan alam semesta—Dia sebagai Pencipta, Pengelola, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Penyayang, akan menciptakan reaksi dalam diri kita. Reaksi ini apa yang kita sebut dengan menyembah.

Menyembah merupakan satu bentuk hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Hubungan ini adalah ketundukan,  pemujaan dan syukur. Hubungan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia kepada Penciptanya. Dan hubungan ini tidak mungkin dan terlarang bila dilakukan kepada selain Sang Pencipta, karena dengan mengenal Allah sebagai satu-satunya sumber eksistensi, Penguasa dan Pengelola segala sesuatu, kita menyadari tanggung jawab untuk tidak menjadikan makhluk sebagai sekutu-Nya dalam pemujaan kita. Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya Allah sajalah yang harus disembah. Tak ada dosa yang lebih besar daripada menyekutukan-Nya.

Kini mari kita bahas apa ibadah itu dan hubungan seperti apa yang khusus bagi Allah dan tak dapat dilakukan dengan selain-Nya.

Makna Ibadah

Untuk menjelaskan makna ibadah dengan benar, perlu ditekankan dua pengantar ini:

1. Ibadah terdiri atas perkataan dan perbuatan. Perkataan terdiri atas serangkaian kata dan kalimat yang kita baca, seperti memuji Allah, membaca Al-Qur’an atau membaca zikir atau doa yang lazim dibaca ketika melakukan shalat, dan mengucapkan “Labbaik” dalam haji. Sedangkan ibadah perbuatan adalah seperti berdiri, rukuk dan sujud ketika menunaikan salat, tawaf mengitari Ka’bah dan berada di Arafah dan Mahsyar ketika haji. Kebanyakan perbuatan ibadah seperti: salat dan haji, terdiri atas perkataan dan perbuatan sekaligus.

2. Ada dua macam perbuatan manusia. Sebagian perbuatan tidak memiliki tujuan yang jauh. Perbuatan seperti ini dilakukan bukan sebagai simbol untuk sesuatu yang lain, melainkan dilaku¬kan untuk mendapatkan efek alamiahnya sendiri. Misalnya, seorang petani melakukan kegiatan bertani untuk mendapatkan hasil wajar dari kegiatannya itu. Kegiatannya tersebut dilakukan bukan sebagai simbol, bukan untuk mengungkapkan perasaan. Begitu pula dengan seorang penjahit yang melakukan kegiatannya. Ketika kita melangkah ke sekolah, yang ada dalam benak kita tak lain adalah sampai di sekolah. Dengan perbuatan ini kita tidak bermaksud mencapai tujuan lain atau makna lain.

Namun ada perbuatan yang kita lakukan sebagai simbol dari beberapa hal lain atau untuk mengungkapkan perasaan kita. Kita menganggukkan kepala sebagai tanda setuju, kita menunduk kepada seseorang sebagai tanda hormat kepadanya. Kebanyakan perbuatan manusia tergolong jenis pertama, dan hanya sedikit yang tergolong jenis kedua. Namun demikian, ada perbuatan yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kita atau untuk menunjukkan maksud lain. Perbuatan ini dilakukan sebagai ganti dari kata-kata untuk mengungkapkan maksud.

Berdasarkan dua hal di atas, dapat kita katakan bahwa ibadah, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, merupakan aktifitas yang memiliki makna. Melalui dedikasinya, manusia mengungkapkan suatu kebenaran. Juga, melalui perbuatan seperti rukuk, sujud, tawaf dan seterusnya, manusia ingin menyampaikan apa yang diucapkannya ketika membaca bacaan ibadah.

Model Ibadah

Melalui ibadah, entah dengan kata-kata atau perbuatan, manusia menunaikan hal-hal tertentu:

1. Memuji Allah dengan mengucapkan sifat-sifat khusus milik Allah yang mengandung arti kesempurnaan mutlak, seperti Mahatahu, Mahakuasa dan Maha Berkehendak. Kesempurnaan mutlak berarti bahwa ilmu, kuasa dan kehendak-Nya tidak dibatasi atau tidak bergantung pada yang lain. Arti kesempuraaan ini merupakan implikasi wajar dari independensi Allah seutuh-utuhnya.

2. Menyucikan Allah, yakni menyatakan bahwa Dia tidak memiliki kekurangan dan kelemahan seperti: mati, terbatas, tidak tahu, tak berdaya, pelit, kejam, dan seterusnya.

3. Bersyukur kepada Allah, yakni memandang-Nya sebagai sumber sesungguhnya dari segala yang baik serta segala karunia dan rahmat. Bersyukur berarti percaya bahwa segala rahmat dan karunia hanya diperoleh dari Allah, dan bahwa yang apa pun selain Allah hanyalah perantara yang ditentukan oleh-Nya.

Tunduk dan Patuh kepada Allah, sepenuh-penuhnya. Yakni mengakui bahwa kepatuhan tanpa syarat wajib diberikan kepada Allah. Kewajiban ini adalah konsekuensi langsung dari pengakuan terhadap Allah sebagai Penguasa Mutlak atas segenap realitas dan Dzat yang berhak mengeluarkan perintah, dan dari kesadaran diri kita sebagai sebagai hamba Allah. Ketaatan kita itu hanya kepada Allah dikukuhkan oleh keimanan kita akan ketiadaan sekutu bagi Allah. Hanya Dia Yang Mutlak Sempurna, Yang tidak memiliki apa pun kekurangan. Dialah sumber sejati segala karunia, dan hanya Dia yang patut disyukuri atas semua itu. Hanya Dia yang patut dipatuhi sepenuhnya dan ditaati tanpa syarat. Setiap kepatuhan kepada selain Allah seperti: kepada Nabi SAW, para Imam, penguasa Muslim yang sah, orang tua dan guru, pada prinsipnya haruslah sebagai kepanjangan dari kepatuhan kepada-Nya, dan dalam rangka mendapatkan ridha-Nya. Itulah reaksi yang tepat yang harus ditunjukkan seorang manusia kepada Allah. Reaksi seperti ini dapat dilakukan hanya kepada Allah SWT.

[islammuhammadi/mt] Dari: Muqadimeh-i bar Jahanbini-e Islami: 1373 HS.—Rm. Murtadha Muthahari

Filed under: Renungan

One Response

  1. Yanes Marodinong mengatakan:

    Berbagi pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: