Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Katakanlah; “Dialah Allah yang Berkepribadian”

Pasulukan Loka Gandasasmita
“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permaslahan


Katakanlah; “Dialah Allah yang Berkepribadian”

Oleh : Ahmad Baihaqi

windows_7_islamic_wallpaper_by_islamicwallpersAllah mengejawantah di dunia melalui pribadi-pribadi. Ahad, adalah satu bukti bahwa kesatuan pribadi dengan Allah adalah sebuah pertanda bahwa istilah manusia pada hakekatnya adalah keterbatasannya sendiri akan kesadaran pengejawantahan Allah di dunia. Manusia muncul karena Allah telah terbatasi dalam pandangannya sendiri. Maha luas Allah menjadi terbatas oleh manusia. Pandangan manusia yang terbatas adalah Allah sendiri yang telah dibatasi, maka muncullah istilah manusia.

Manusia adalah ketiadaan. Ia merasa seperti ada, karena keterbatasan pengetahuannya akan yang sebenarnya ada, yakni Allah SWT. Struktur mekanisme yang ditetapkan Allah melalui para Malaikat-Nya telah melilit manusia sehingga ia seakan “lupa” akan dirinya sendiri yang merupakan pengejawantahan Allah dalam bentuk kepribadiannya sendiri.

Disinilah ia kehilangan petunjuk dari kesadaran yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Tidak akan sampai pada keadaan yang meniadakan perasaan ada, jika manusia tidak membalik kesadarannya menjadi kesadaran Tuhan. Pada sisi ini, Tuhan dalam pandangan manusia menjadi tiada.

Dalam surat al-Ikhlas dikatakan “Katakanlah; Dialah Allah yang Ahad”. Ahad dalam pemahaman ayat ini adalah sebuah kepribadian yang mewujudkan akhlak-Nya. Akhlak Tuhan telah mengejawantah dan menjadi bentuk yang berbeda. Ahad adalah satu pribadi, satu pandangan, satu kemurnian akal, satu pengetahuan yang muncul dari kesadaran yang dinisbatkan pada Allah. Ia tempat bergantung. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada di antara kepribadian yang banyak itu menjadi sebanding. Semua menjadi ahad ahad yang membentuk struktur alam semesta. Tidak akan sama antara ahad yang satu dengan ahad yang lain.

Ketika kesadaran pandangan telah membalikkannya menjadi ahad, maka ia telah menjadi teropong Tuhan untuk menyampaikan segala titah-Nya. Ia telah menjadi utusan-Nya untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam semesta. Di sisi ini jiwanya telah men-Tuhan dan dibatasi oleh sebuah mekanisme kemalaikatan melalui rukun-rukun Iman. Rukun Iman yang kita kenal ada enam, adalah sebuah mekanisme Tuhan untuk mengejawantah ke alam dunia. Rukun Iman itu adalah sebuah unsur yang membentuk mekanisme sehingga Tuhan mengejawantah. Ketika teropong Tuhan dibatasi, maka sosok manusia telah membaliknya menjadi kepribadiannya. Sejauh mana teropong Tuhan dibatasi, sejauh itulah sosok kepribadian manusianya.

Allah_Dalam_Pengejawantahan

Ide Gambar : KH. Muhammad Yunus

Filed under: Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: