Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Iran dan Ayatullah Khomeini: “Study Analisis tentang pemikiran Ayatullah Khomeini terhadap Islam, Republik Islam Iran dan Perdamaian”

Pasulukan Loka Gandasasmita
“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permaslahan


Iran dan Ayatullah Khomeini: “Study Analisis tentang pemikiran Ayatullah Khomeini terhadap Islam, Republik Islam Iran dan Perdamaian”

Penulis : Tim Penulis Mahasiswa Fakultas Sosial-Politik dan Anggota Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Nasional

PENDAHULUAN

Pada tahun 1979 tak satupun rakyat Iran percaya bahwa negaranya akan terjadi perpindahan kekuasaan. Mungkin juga tidak akan ada yang percaya bahwa yang menumbangkan shah Reza dari kekuasaannya adalah seorang kakek tua yang sepanjang hidupnya itu dihabiskan dalam pengasingan di daerah kecil di Perancis, bernama Neauphlele Chateau. Ternyata Khomeini hanya ringkih fisiknya, tetapi jiwa dan semangatnya  bukan main kokohnya.

Pada saat kedatangannya ke Iran untuk pertama kalinya ”sejak diasingkan”, Khomeini sangat dielu-elukan oleh rakyat Iran yang sudah berkumpul di jalan untuk menyambut sang tokoh Revolusi Iran di Teheran. Semua orang dari berbagai macam ideologi ”termasuk komunis” mengelu-elukan musuh nomer satu Pemerintahan Teheran pada saat itu. Seorang tokoh perjuangan mengatakan ”Dialah satu-satunya Feedayen paling konsisten, yang bersih, jujur, bermoral tinggi, penuh integritas dan konsisten melawan kekuasaan Shah yang diktator”. 1 (Achmad Munif, 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia, Narasi, Yogyakarta, 2007. hal. 18)

Perlawanan sang Ayatullah dipicu oleh beberapa hal yang salah satunya masuknya budaya Barat secara leluasa sehingga mendesak kebudayaan Islam. 2 (Diyah Ratna dan Izzudin Irsam Mujib, Khomeini dan Revolusi Iran, Narasi, Yogyakarta, 2009. hal. 25) Padahal lebih dari 90% rakyat Iran pemeluk Islam bermadzab Shiah. Penanggalan Islam ingin diganti dengan penanggalan zaman Cyrus Agung, membuat kaum muslimin sangat kecewa.

Namun dari itu semua suka atau tidak suka, semua orang tidak bisa membantah bahwa ia adalah pengobar revolusi terbesar dalam sejarah Islam, setelah revolusi moral dan ketaukhidan yang dilancarkan Rasul Muhammad, di Jazirah Arabia. Khomeini yang selalu tampil tenang dan nyaris tanpa senyum itu adalah merk revolusi Islam. Kehadirannya di kancah politik telah mengubah monarki menjadi republik yang berasaskan Islam. Dari negeri yang dulunya dekat sekali dengan Barat selama 40 tahun dan kini menjadi negeri yang  sama sekali tidak ramah terhadap Barat.

Pemimpin Yang Sudah Teruji Oleh Waktu

Ayatullah adalah sosok dan panutan bagi dunia Islam baik dari segi agamanya maupun politiknya. Penganut Islam Shiah ini begitu kuat dedikasi dan pemikirannya tentang Islam dan terbentuknya Republik Islam Iran. Beliau begitu kental sekali akan ke-Islamannya yang ia buktikan melalui pemikirannya tersebut. Bagaimana pemikiran dia yang mengubah Iran menjadi negara yang benar-benar identik dengan Islam. Sistem kenegaraannya diubah menjadi Republik yang berlandaskan Islam. Tentang perdamaian yang menjadi barang mahal di kawasan timur-tengah, Ayatullah menyerukan perdamaian untuk Palestina. Sosoknya begitu kuat dan kharismatik sebagai pemimpin. Dia seorang pemikir yng kuat yang walaupun jauh ditempat pengasingan tapi dengan pemikirannya itu dia bisa melakukan sesuatu untuk terciptanya perubahan di negeri para Mullah tersebut.

Inspirator Revolusi Iran 1979

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dalam hal ini akan muncul beberapa persoalan, Khomeini adalah sosok atau tokoh yang bisa merubah wajah Iran sampai sekarang ini. Republik Islam Iran adalah salah satu hasil dari pemikiran beliau yang mana sampai sekarang dipakai dalam menjalankan roda kenegaraan. Ada sebuah pertanyaan, sejauh mana pemikiran tersebut bisa lahir dan menjadi dasar negara di Iran tentang ”Republik Islam Iran”?bagaimana perjalanannya sampai bisa terjadinya revolusi tersebut?

Konseptor Republik Islam Iran

Gerakan politik Ayatullah baik dari pemikirannya tentang pembebasan Iran dari Monarki ala shah Reza dan Republik Islam Iran. Dari pemikiran dan langkah-langkah yang dia buat baik tentang Republik Islam Iran membuahkan hasil pada 1 Februari 1979. Iran benar-benar berubah menjadi negara yang berubah baik dari segi politik,budaya,ekonomi dan hukum serta militer. Budaya Islam shiah menjadi landasan utama dengan menggunakan sistem kaum mullah(keputusan tertinggi dari pemerintah adalah di tangan rakyat dengan terlebih dahulu melalui pertimbangan penasihat spiritual).3 (Diyah Ratna dan Izzudin Irsam Mujib, op cit, hal. 32) Hukum yang mengacu pada hukum al-qur’an yang benar-benar ingin menerapkan hukum tersebut di negara Iran. Ekonomi yang produktif yang berdasarkan pada kebutuhan nasional dan gaya hidup yang sederhana. Dan pada bidang militer yang sudah terbukti pada masa sekarang yaitu pasukan Garda Revolusi Iran menjadi tonggak kekuatan Iran dibidang militer. Tapi yang terpenting adalah bagaimana konsep pemikiran beliau tentang ”Republik Islam Iran”. Inilah yang akan banyak digali sejauh mana pemikiran tersebut bisa lahir dan menjadi dasar negara di Iran.

Khomeini mendirikan pemerintahan Islam seperti teorinya. Yang segera jadi perhartiannya adalah konsolidasi kekuatan. Dia percaya bahwa tanpa kekuatan, kemungkaran tak mungkin dapat disingkirkan, kebenaran tak mungkin dapat ditegakkan dan Islampun tak mungkin dapat diterapkan. Langkah pertamanya adalah membersihkan revolusi dari kekuatan ‘mungkar’ dan mereka yang mengabdi pada rezim lama. Dalam masa yang singkat, Amir ‘Abbas Hoveyda, mantan Perdana Menteri dan lebih dua ratus Jenderal dan pejabat teras Shah dihukum mati. Kemudian diikuti eksekusi atas personel militer, pejabat dan para pelaku berbagai kejahatan.

Sistem nilai baru yang diperkenalkan Khomeini tidak dapat dikenali sebagai secara tradisional Islami. Khomeini dan pengikutnya menggunakan kosakata yang pada esensinya kosakata ‘Islam Revolusioner’. Tuhan yang disebut-sebut oleh kebanyakan kaum revolusioner, sudah tak lagi hanya ‘pengasih dan penyayang’, seperti yang termaktub dalam setiap surat dalam Al Qur’an, tetapi juga sebagai ‘pengahancur tiran’. 4 (http://www.iranembassy.or.id/news_detail.php?idne=1634&idn=1&idsn)

Perbedaan antara Khomeini yang revolusioner dan Bazargan yang gradualis, bukan saja dalam soal HAM, seperti yang terjadi dimasa rezim baru. Tapi juga dalam sikap, pandangan dunia, dan pandangan masa depan Iran.

Sekilas Pandang tentang Khomeini

Bila kita membicarakan tentang Iran maka tidak akan pernah bisa lepas dari sosok Ayatullah Khomeini. Khomeini begitu lekat dengan Iran karena ditangan beliaulah Iran berubah dari yang menganut kekuasaan monarki ala shah Reza Pahlevi yang telah berakar di Iran dapat berakhir dan digantikan oleh konsep bernegara berdasarkan ajaran agama Islam yang hingga kini menjadi asas dalam kehidupan masyarakat Iran.

Melalui pemikiran-pemikiran beliaulah Iran bisa seperti sekarang ini. Walaupun terasingkan di pinggiran kota kecil Paris Neauphle le Chateau, Khomeini tiada hentinya membangkitkan semangat perubahan terhadap rakyat Iran. Jarak bukan hal yang membuat pemikiran Khomeini berhenti. Baik puisi, ceramah-ceramah beliau yang di rekam dalam bentuk kaset dan dan buku-buku menjadi bukti bahwa semangat beliau tidak pernah padam sebelum perubahan itu terjadi.

Tepat pada hari kamis tanggal 1 Februari 1979 Khomeini menginjakkan kaki untuk pertama kalinya sejak 15 tahun terasingkan. Sorak-sorai rakyat Iran menyambut pejuang yang tak pernah gentar terhadap shah Reza. Teheran penuh dengan masa yang tiada hentinya mengagung-agungkan Khomeini. Anak muda, ibu-ibu dengan anaknya dan para pejuang yang yang tak kenal lelah demi terciptanya perubahan dan itu terbayarkan walau dengan air mata, darah dan nyawa.

B. Khomeini Sang Founding Father

Iran tidak akan menjadi seperti sekarang kalau tidak ada yang namanya Ayatullah Khomeini. Konsep Republik Islam Iran menjadikan Iran sekarang ini menjadi salah satu negara yang kuat akan dasar negaranya. Bagaimana seorang Khomeini yang konsisten memperjuangkan rakyat Iran walau harus keluar masuk penjara dan diasingkan ke negeri orang lain. Dengan terus-menerus dia melakukan perlawanan dengan pemikiran beliau yang kuat dan tak pernah padam hanya karena jarak yang memisahkan.

Dengan mayoritas Islam Shiah terbesar, Khomeini menjadi ’Founding Father’ Iran. Hal ini terbukti sampai sekarang yang menjadikan Iran sebagai salah satu negara di Timur-Tengah yang masih tersisa dan berdiri dengan tegak. Negar-negara tetangga Iran sudah ’tekontaminasi’ oleh produk-produk yang diciptakan oleh Barat. Dengan dasar idealisme yang kuat Iran berani melawan hal itu dan sampai sekarang Iran tetap menjadi negara yang selalu dipimpin oleh pemimpin yang seperti apa yang telah dan diwariskan oleh sang ’Founding Father’ Iran, Ayatullah Khomeini.

Analisis

Dengan pemikirannya Iran pada tahun 1979 disulap oleh dia ’Ayatullah Khomeini’ menjadi negara yang mempunyai dasar negara yang kuat sampai sekarang. Republik Islam Iran merupakan hasil buah pemikiran beliau. Bagaimana Iran itu terbangun atas dasar Islam dan Al-Qur’an yang pada masa Shah itu semua dirubah menjadi negeri yang agak ke Barat-baratan.

Sejak muda Khomeini memang sudah memiliki obsesi untuk hadirnya Republik Islam yang bersendikan Al-Qur’an. Khomeini adalah seorang pemikir Islam. Ia telah menulis lebih dari 20 buku tentang teologi Islam. Selain itu dia adalah seorang guru dan ulama besar yang telah melahirkan lebih dari seribu pemimpin, yang kemudian menjadi elite di bidang keagamaan yang tersebar di seluruh Iran.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Ayatullah al-Uzmah Sayyid Ruhullah al-Musavi al-Khomeini dilahirkan di kota Khomein, dekat Isfahan, sekitar 300 kilometer selatan Taheran, pada 24 September 1902 (20 Jamadi-al-Thani 1320 H), bertepatan dengan hari ulang tahun Hazrat Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW dan Istri Ali Bin Abi Thalib (Imam Syiah Pertama). Nama Khomeini berasal dari nama kota Khomeyn. Di Iran memang ada semacam tradisi menggunakan nama kota/daerah sebagai nama orang, biasanya dengan menambahkan akhiran”i”. Contoh lain, Rafsanjan menjadi Rafsanjani, Teheran menjadi Teherani dan sebagainya. Sedangkan gelar Sayid menunjukan adanya garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW. 5 (http://www.iranembassy.or.id/news_detail.php?idne=1634&idn=1&idsn)

Ia berasal dari keluarga yang sangat religius. Baik ayahnya, Ayatullah Sayyid Mustafa al-Musavi al-Khomeini, kakeknya Sayyid Ahmad Hindi lahir di kintur, maupun kakek ayahnya, Sayyid Din Ali Syah, dikenal sebagai tokoh agama yang disegani pada masanya. Keluarga kakeknya adalah keluarga ulama terkemuka, Mir Hamed Husein Hindi Nesyaburi, yang karyanya, Abaqat Al-Anwar, jadi kebanggan Syiah India. 6 (http://www.iranembassy.or.id/news_detail.php?idne=1634&idn=1&idsn) Begitu pula kakek dari ibunya (Hajar Agha Khanon), Ayatullah Aqa Mirza Ahmad Khwasari. Sayyid Din Ali Syah adalah seorang cendikiawan muslim (Religious Scholar) dari Nishapur atau Nesyhabur (Iran timur Laut) yang bermigrasi ke Kashmir di mana kemudian ia menetap untuk selamanya. Anaknya Sayyid Ahmad Hindi, meninggalkan India pada sekitar 1830 dan mengembara ke Karbala dan Najab (dua kota suci ummat Islam syiah Irak) kemudian mengunjungi kota Khumayn untuk memenuhi undangan temannya, Yusuf Khan. Di Khumayn ia menikah dengan adik yusuf Khan yaitu Sakinah, dan memperoleh empat orang anak (seorang laki-laki, tiga perempuan). Anak laki-lakinya, Sayyid Mustafa al-Musavi yang lahir pada tahun 1856. Mustafa belajar di Najaf di bawa bimbingan Mirza Hasan Syirasi kemudian pada tahun 1894 ia kembali ke Khomeyn. Sayyid Ahmad meninggal dunia pada saat Mustafa berumur 8 tahun. Sayyid Mustafa juga mendapat bimbingan dari ayatullah Aqa Mirza Ahmad Khwansari dan kemudian menikah dengan anak Mirza Ahmad, Hajar Agha Khanom. Sayyid Mustafa dikaruniai anak sebanyak enam orang dan Ruhullah Khomeini yang bungsu dan satu-sdatunya yang panggilannya adalah Khomeini.

Pada tahun 1903, Ayah Ruhollah meninggal dunia pada usia 42 tahun. Kabarnya sayyid Mustafa dibunuh oleh dua orang bernama Ja’far Quli Khan dan Ridha Quli Sultan, agen-agen dinasti Qajar (1796-1926). Waktu itu Sayyid Mustafa sedang dalam perjalanan menuju ibukota provinsi Arak untuk menemui Gubernur Adhuh al-Sultan, guna melaporkan situasi yang tidak aman di kota Khomayn, jenazah Sayyid Mustafa segera di bawah ke Najaf. Para Ulama Taheran, Arak, Isfahan, Golpaygan, dan Khumayn, mengadakan upacara untuk mengenang kematian sayyid Mustafa.

Periode bergolak ini tidak pelak lagi meninggalkan kesan pada Ruhullah muda, kendatipun di disayangi oleh Sahebeh, bibinya yang tinggal bersama keluarga Ruhullah. Sahibeh memiliki mental dan pikiran yang kuat, kehidupan Ruhullah di dominasi Sahebeh dan Ibunya. Keduanya meninggal ketika Ruhullah berumur enam belas tahun.

Pada usia dua puluh tujuh tahun, Khomeini menikah dengan Batul, putri seorang Ayatullah dari Teheran. Mereka dikarunia lima orang anak, dua putra dan tiga putri.

Pada usia 19 tahun Khomeini kecil mulai belajar agama Islam pada Ayatullah Haeri di Irak. Seperti anak-anak lain, Ruhullah diajar menghapal beberapa surah terakhir Al-Quran dan beberapa frase serta kata Arab tentang Nabi dan Para Imam. Selain berbagai buku riwayat para imam dan sebuah buku hadits Nabi Muhammad SAW, diajakarkan pula sejarah versi Shiah. Misalnya ada keyakinan bahwa Nabi maupun keluarga Nabi (termasuk para Imam Shiah) wafat secara tidak alamiah. Ini ditunjukan dengan perkataan yang dinisbahkan kepada para Imam Shiah, kami kalau tidak diracun, ya dibunuh. Perjuangan antara kebenaran dan kebatilan ini, atau melihat segalanya dengan hitam dan putih, membekas pada jiwa dan pikiran Ruhullah. Kosa kata dan rasa dizalimi, senantiasa menyertainya sepanjang hayatnya. Jika menyangkut rasa tragedi yang mendalam, tak ada wilayah yang kelabu. Ruhullah mendengar hal ini berulang kali dalam hidupnya, dari rumah sampai maktab, mesjid dan madrasah. Dalam interpretasi disejarah seperti ini, Nabi muhammad disalimi musuh-musuhnya. Putrinya Fatimah, yang dihormati oleh kaum Syiah, diperlakukan secara tidak adil oleh Umar. Suaminya Ali diperlakukan secara tidak adil oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman yang merampas haknya untuk menggatikan Nabi sebagai Khalifah. Kaum Sunni hanya menganggap Ali sebagai Khalifah keempat setelah Nabi Muhammad SAW, sedangkan kaum Shiah memandang Ali sebagai Imam pertama. Setelah diperlakukan secara tidak adil, Ali kemudian dibunuh. Merupakan tugas segenap kaum Shiah untuk mengatasi ketidakadilan-ketakadilan semacam itu.

Perlawanan Khomeini dimulai sejak ayah dari Shah Reza Pahlevi yaitu Reza Shah. Bukunya yang pertama Kashfol-Asra, merupakan kritik tajam terhadap Reza Shah yang dianggap memerintah dengan sewenang-wenang. Khomeini beranggapan bahwa Reza Shah telah menghancurkan kebudayaan Islam yang sudah mengakar di Iran dan menjadi budak asing. 7  (Achmad Munif, op cit, hal. 18) Ketika kekuasaan berpindah tangan ke anaknya ‘Shah Reza Pahlevi’, Khomeini tidak menyurutkan semangatnya untuk menentang bahkan perlawanannya semakin keras. Pada tahun 1962 Khomeini berhasil mengorganisir pemogokan sebagai protes atas kebijakan pemerintah yang memperbolehkan saksi tidak perlu dilakukan sumpah untuk memberikan kesaksiannya dengan Al-Qur’an. Pada tahun berikutnya dan tepatnya pada tahun 1963, tentara Shah membunuh tidak kurang dari seribu demonstran dalam satu hari, Ayatullah Khomeini dipenjara untuk beberapa bulan, kemudian 8 bulan menjadi tahanan rumah. Pada bulan November 1964 barulah ia boleh kembali ke Qom.

Ternyata tahanan dan penjara tidak mengurangi sedikitpun semangat dari Khomeini untuk menentang Shah Reza. Ia terus berjuang dan pada suatu ketika ia diasingkan ke Turki, Irak dan terakhir di suatu desa kecil di Perancis, bernama Neauphlele Chateau. 8 (Achmad Munif, op cit, hal. 17) Dari pengasingan yang jauh itu pula ‘Khomeini’ tetap semangat untuk mengobarkan perubahan demi terciptanya suatu pemerintahan yang jauh dari penindasan dan pemerintahan yang jauh akan Islam. Pidato, ceramah-ceramah beliau yang dikasetkan dan pesan-pesan yang ia sampaikan kepada rakyat Iran. Umumnya kaset-kaset tersebut merekam komentar Khomeini tentang kejadian di Iran. Dalam pesannya ia selalu berpihak kepada rakyat dan memberikan semangat kepada mereka untuk melancarkan perlawanan kepada Pemerintah Teheran secara lebih keras. Dengan kata lain ia menganjurkan pemberontakan.

Kaset Khomeini merupakan pembawa suara yang terang-terangan menentang Shah dan rezimnya. Sebelumnya memang banyak oposisi yang mencoba menentang tapi dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak berani mengkritik secara langsung. Keberanian Khomeini telah menyulut keberanian rakyat Iran yang secara terang-terangan melakukan perlawanan semakin tinggi. Apalagi setelah Khomeini menyebut-nyebut “Republik Islam” yang kemudian disambut dengan antusias oleh rakyat Iran yang notaben lebih dari 90% adalah pemeluk Islam Shiah dan sudah rindu akan adanya perubahan di Negara mereka.

Bisa jadi namanya akan selalu dikenang rakyat Iran sebagai pemeluk Islam bermadzab Shiah terbesar di dunia. Seperti mereka mengenang Ali bin Abi Tholib, Husein bin Ali, serta imam-imam Shiah besar lainnnya. Khomeini memang seorang pemimpin besar, namun ia bukan seorang nepotis. Itulah salah satu ciri unik orang yang sangat dibenci keluarga Shah ini. Selama berkuasa Khomeini tidak pernah menunjukkan adanya gejala menjadikan anak-anaknya sebagai putra mahkota, termasuk ahmad Khomeini yang sejak muda menjadi orang kepercayaan atau semacam asisten pribadi.

Lepas dari bagaimana karakter kekuasaannya Khomeini pasca-revolusi yang juga mendapat kritik pedas-perannya sebagai salah satu seorang pemimpin besar dunia Islam tidaklah bisa diingkari. Bagaimana pemikiran dia tentang hukum dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat harus disusun berdasarkan hukum Allah(syariat Islam) yang mengatur secara lengkap tentang hubungan sesama manusia dan menjelaskan norma-norma yang ada maupun implementasinya pada setiap norma kehidupan. Maka orang-orang yang berada di jalur pemerintahan harus mendalami pengetahuan tentang syariat Islam. Dan karena yang mempelajari syariat adalah fakih, maka hukum dan peradilan Negara harus disusun berdasarkan pengetahuan para fakih, yang disebut marja’ . Peraturan yang disusun oleh prinsip monarki ataupun dewan parlemen dan legislatif yang dipilih berdasarkan suara terbanyak dinyatakan salah dalam Islam. Sistem hukum yang disusun oleh para ulama sangat diperlukan untuk menghindari adanya ketiakadilan, korupsi, penindasan pada masyarakat lemah maupun miskin dan juga menghindari adanya inovasi atau perubahan dari Islam itu sendiri maupun hukum syariat Islam. Adanya hukum itu juga untuk menghancurkan pengaruh anti-Islam dan konspirasi oleh Negara-negara asing non-Muslim.9 (Diyah Ratna dan Izzudin Irsam Mujib, op cit, hal. 31)

Sistem Wilayat al-Faqih ini telah banyak diadaptasi menjadi beberapa bentuk pemerintahan setelah Khomeini. Tetapi Ayatullah Khomeini adalah pendiri Islam pertama yang mengatur jalannya pemerintahan Islam pada sebuah Negara Republik Islam.
Ayatullah Khomeini telah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mendirikan Negara Islam. Setelah Rasul Muhammad mendapat wahyu di Gua hira dan mendapat mandat kenabian, yang kemudian melahirkan Islam sebagai salah satu agama besar di dunia. 10 (Achmad Munif, op cit, hal. 20)

KESIMPULAN

Iran merupakan salah satu negara yang dasar negaranya mengunakan hukum syariat Islam. Gagasan ini pertama kali dibentuk pada saat Ayatullah Khomeini berhasil merubah wajah Iran dari yang Monarki ala Shah Reza dan dirubah menjadi Republik Islam Iran pada tahun 1979. Ayatullah Khomeini begitu besar jasanya dengan melakukan perubahan sampai keakar-akarnya. Hukum Islam ditegakkan di bumi Wilayat al-Faqih. Hukum yang mengacu pada hukum Al-qur’an yang benar-benar ingin menerapkan hukum tersebut di negara Iran. Ekonomi yang produktif yang berdasarkan pada kebutuhan nasional dan gaya hidup yang sederhana. Dan pada bidang militer yang sudah terbukti pada masa sekarang yaitu pasukan Garda Revolusi Iran menjadi tonggak kekuatan Iran dibidang militer.

Sistem Wilayat al-Faqih ini telah banyak diadaptasi menjadi beberapa bentuk pemerintahan setelah Khomeini. Tetapi Ayatullah Khomeini adalah pendiri Islam pertama yang mengatur jalannya pemerintahan Islam pada sebuah Negara Republik Islam.
Ayatullah Khomeini telah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai orang yang berhasil mendirikan Negara Islam. Setelah Rasul Muhammad mendapat wahyu di Gua hira dan mendapat mandat kenabian, yang kemudian melahirkan Islam sebagai salah satu agama besar di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdullah, Yusuf, Perjuangan Ayatullah Khomeini. Jakarta: Antara, 1979
  • Munif, Achmad, 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia. Yogyakarta: Narasi, 2007
  • Ratna, Diyah dan Izzudin Irsam, Khomeini dan Revolusi Iran. Yogyakarta: Narasi, 2009
  • Khomeini, Imam, Palestina Dalam Pandangan Imam Khomeini. Jakarta: Pustaka Zahra, 2004
  • http://www.iranembassy.or.id/news_detail.php?idne=1634&idn=1&idsn
  • Penulis:

•Firda Umairoh*
•Rendy C.Mulyawan*
•Reza Fahlevi*
*Mahasiswa Fakultas Sosial-Politik dan Anggota Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Nasional

 

Filed under: Renungan

One Response

  1. nana mengatakan:

    KEREN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: