Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Adat Sebenar Adat atau Adat Perennis

Masyarakat asli Indonesia tidak pernah menyebut dan membuat definisi tentang Adat, karena itu, istilah Adat merupakan pinjaman. Di sini akan dikaji etimologi kata asing itu dan sejauhmana kata itu dipakai dan dimaknai oleh masyarakat asli. Kata adat merupakan pinjaman dari bahasa Arab yaitu al-`âdat, yang berarti ‘sesuatu yang dilakukan berkali-kali dan terus menerus’ atau ‘sesuatu yang selalu dilakukan kembali’. Sedangkan kata al-`âdat itu sendiri merupakan derivasi dari kata kerja `âda-ya`ûdu (pulang kembali ke tempat sebelumnya) dan dari kata benda al-`ûdu (kepulangan atau cara kuno). Kata ini dipinjam oleh masyarakat asli bersamaan dengan pengislaman mereka oleh penyebar-penyebar Islam. Ketika mazhab yurisprudensi Syafi’iyyah dianut oleh Muslim-Indonesia, maka kata al-`âdat yang semula bermakna semantik, berubah ke makna terminologis. Menurut mazhab Syafi’iyyah, ‘al-`âdat muhakkamah’ (kebiasaan setempat merupakan sumber pertimbangan hukum Islam). Jadi, sejak saat itu, seluruh kebiasaan lokal dalam pandangan hukum Islam disebut al-`âdat, yang disesuaikan penyebutannya oleh lidah masyarakat asli sebagai Adat.

Pemakaian kata Adat untuk menyebut kebiasaan asli lokal kian dipertegas sejak Orientalisme Belanda mengkaji Islam di Indonesia, hingga akhirnya Cornelis van Vollenhoven memakai untuk judul karyanya Het Adatrecht van Nederlandsch-Indie (1918). Dalam karyanya itu, Vollenhoven menyebut Adatrecht (Hukum Adat), untuk membedakannya dengan ‘Hukum Islam’. Vollenhoven menyebut segala hukum yang berasal dari kebiasaan asli lokal (native customary law) dengan ‘Hukum Adat’, yang kemudian dipendekkan saja sebutannya menjadi sekadar Adat. Sejak Vollenhoven, Adat dimaknai sekadar hukum yang berasal dari kebiasaan asli lokal, yang berbeda dari ‘Hukum Islam’.[1]

Jika memang dalam mazhab yurisprudensi Syafi’iyyah kebiasaan asli lokal merupakan salah satu pertimbangan hukum Islam (‘al-`âdat muhakkamah), mengapakah kajian ‘Hukum Adat’ oleh Vollenhoven c.s. malah mempertajam perbedaan antara ‘Hukum Islam’ dan ‘Hukum Adat’? Itulah kerjaan colonist. Barangkali (ini cuma dugaan murni), penajaman perbedaan antara ‘Hukum Adat’ dan ‘Hukum Islam’ oleh pihak orientalist-colonistlah yang menyebabkan Wahabi-Indonesia di Minangkabau sangat membenci Adat—sesuatu yang justru dilawan oleh penganut Syafi’i ortodoks yang tergabung dalam Nahdlatul ‘Ulama (NU), yang sungguh-sungguh memegang teguh prinsip hukum ‘al-`âdat muhakkamah’. Sungguh wajarlah, jika Gus Dur sungguh membela Adat (kebiasaan asli lokal) dan menganggapnya sebagai bagian dari ‘Hukum Islam’, walaupun itu juga masih merupakan subordinasi terhadap Adat.

Pemaknaan terhadap kata Adat oleh orang Indonesia mengalami simplifikasi sekaligus ekstensifikasi. Antropolog Koentjaraningrat memaknai kata Adat sebagai bagian dari unit yang lebih besar yang disebutnya kebudayaan. Kata Koentjaraningrat:

…kebudayaan menurut hemat saya antara lain berarti: keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu, maka istilah “kebudayaan” memang suatu istilah yang amat cocok. Adapun istilah Inggerisnya berasal dari kata Latin colere, yang berarti “mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture

Perbedaan antara adat dan kebudayaan itu adalah soal lain, dan bersangkutan dengan konsepsi bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud, ialah: (1) wujud ideel; (2) wujud kelakuan; dan (3) wujud fisik. Adat adalah wujud ideel dari kebudayaan. Secara lengkap wujud itu dapat kita sebut adat tata kelakuan, karena adat itu berfungsi sebagai pengatur kelakuan. Suatu contoh dari adat ialah: aturan sopan santun untuk memberi selembaran uang kepada seseorang yang mengadakan pesta kondangan. Adat dapat dibagi lebih khusus dalam empat tingkatan, ialah (i) tingkat nilai budaya, (ii) tingkat norma-norma, (iii) tingkat hukum, (iv) tingkat aturan khusus.[2]

Sutan Takdir Alisjahbana, dalam tulisannya Indonesia in the Modern World (1961), mendefinisikan Adat sebagai berikut:

adat is not a human creation, but the spirits and supernatural powers ruling the community. This adat is very different from what Englishmen call tradition, custom or convention today. Its meaning is not simply wider, but more particularly goes far deeper. It includes everything Englishmen call law nowadays; and it goes much further than law in determining the needs and the actions of individuals and the community. It ordains the ceremonies of marriage, birth and death, the times and the methods for sowing rice, building a house, praying for rain, and many other things. Economics, politics, philosophy and art all come within its sphere. Indeed from one point of view, adat is simply a social expression of the community religion, in as much as it is not a human creation, and in its exercise men are still constantly watched over by the spirits and supernatural powers ruling community. Because the adat which regulates the entire life of the community is dominated by spirits and supernatural powers, that communal life is inevitably static and deeply conservative. Its roots lay in the obscurity of the past, when the ancestors laid down the adat once and for all, or as Minangkabau people say: It doesn’t crack with the heat or rot in the rain. In such an environment the word ‘old’ has a special significance, denoting something venerable, sacred, powerful and full of wisdom.[3]

Yang pada mulanya adat dimaknai sebagai ‘kebiasaan asli lokal’, oleh Koentjaraningrat diperluas maknanya menjadi bagian dari kebudayaan, yakni manifestasi ideal dari kebudayaan. Sedangkan oleh Sutan Takdir, makna adat disimplifikasi sebagai ekspresi keagamaan kuno yang dianut masyarakat Indonesia sebelum Modernisasi. Ketiga makna yang sungguh berkonotasi berbeda ini memiliki ‘kelompok pemakai’nya masing-masing, sekaligus menimbulkan kebingungan makna. Teguh Meinanda & D. Akhmad dalam buku Tanya Jawab Pengantar Antropologi[4] dan Rudi M. & Teguh Meinanda dalam buku Tanya Jawab Antropologi Indonesia[5] memakai makna adat dalam pengertian Koentjaraningrat, sedangkan Sutrisno Kutojo & Mardanas Safwan dalam buku Tuanku Imam Bonjol: Riwayat Hidup dan Perjuangannya,[6] Deliar Noer dalam buku Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,[7] dan Sidi Ibrahim Boechari dalam buku Pengaruh Timbal-Balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau[8] menggunakan makna adat dalam pengertian ‘kebiasaan lokal asli’. Tokoh-tokoh modernist, seperti R.A. Kartini, Tan Malaka, Sutan Takdir Alisjahbana, tentu saja memaknai adat dengan pengertian ‘tradisi kuno sebelum adanya Modernisasi’.

Bagaimana masyarakat asli Indonesia sendiri memaknai adat? Suku Melayu memaknai adat sebagai suatu unitas yang berbeda dari unitas lain seperti Islam, seperti tercermin dalam peribahasa adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (adat bersendikan syari’at dan syari’at bersendikan kitab Al-Quran). Walaupun saling bersendi satu sama lain, secara implisit nampak bahwa adat dan syara’ merupakan dua hal berbeda. Selain suku Melayu, tidak ada bukti yang kuat, bahwa kata adat dipakai oleh seluruh suku di Indonesia. Suku-suku selain Melayu, bahkan, tidak pernah menamakan praktek-praktek kehidupan yang mereka praktekkan dengan suatu nama. Bukan berarti bahwa dengan tidak dinamainya, lantas mereka tidak memiliki tradisi asli lokal yang mapan. Mereka mempraktekkannya tanpa harus menyebutnya dengan suatu nama. Hanya para antropolog dan sosiolog modern yang menyebut tradisi asli lokal suku non-Melayu secara pukul-rata, dengan sebutan yang sama dipakai terhadap suku Melayu, yaitu adat.

Ada hal menarik mengenai adat yang luput dari perhatian para antropolog dan sosiolog modern, tapi sungguh diperhatikan oleh masyarakat asli Indonesia sendiri, yaitu, bahwa adat memiliki banyak kategori atau jenis, dan kategorisasi ini dilakukan oleh masyarakat asli itu sendiri, tanpa campur-tangan outsider. Suku Riau membagi adat ke dalam 3 (tiga) kategori: (1) adat sebenar adat; (2) adat yang diadatkan; dan (3) adat yang teradat.[9] Adat sebenar adat ialah adat yang tidak berubah oleh kondisi dan situasi apapun, karena berasal dari Yang Ilahi. Sedangkan dua jenis adat yang lainnya dapat berubah, karena dibuat untuk kepentingan sementara oleh pemimpin suku atau hasil musyawarah masyarakat itu sendiri. Adat yang diadatkan, dalam perspektif masyarakat asli Riau, berarti, sebagaimana diungkap oleh peribahasa:

Adat yang turun dari raja,
Adat yang tumbuh dari datuk,
Adat yang cucur dari penghulu,
Adat yang lahir dari mufakat,
Putus mufakat ia berobah.[10]

Sedangkan adat yang teradat ialah, sebagaimana diungkap pula dalam peribahasa berikut ini:

Adat yang teradat
Datang tidak bercerita
Pergi tidak berkabar;
Adat disarung tidak berjahit
Adat berkelindan tidak berjahit
Adat berjarum tidak berbenang
Yang terbawa burung lalu
Yang tumbuh tidak ditanam[11]

Suku Melayu-Minangkabau juga memiliki kategorisasi adat. Mereka membagi adat ke dalam 2 (dua) kategori: (1) adat babuhul mati, dan (2) adat babuhul sintak. Adat babuhul mati adalah adat yang ikatannya merupakan ikatan mati, tak bisa diubah-ubah. Adat babuhul mati juga disebut dengan sebutan lain, yaitu adat sabana adat (adat yang benar-benar adat). Adat sabana adat ialah adat yang diambil dari seluruh hukum dan sifat alam yang tidak mengenal perubahan, sedangkan adat babuhul sintak (yang juga disebut dengan adat nan diadatkan) adalah adat yang ikatannya merupakan ikatan longgar, bisa diubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi kontemporer, yang dihasilkan, misalnya, lewat perenungan pendiri adat Minangkabau, bernama Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang, atau lewat musyawarah. Pada gilirannya, adat babuhul sintak akan menjadi adat babuhul mati, karena keputusan yang pada awalnya bersifat sementara itu kemudian diabadikan oleh masyarakat menjadi keputusan tetap.[12] Ini sangat tepat diungkap oleh peribahasa Minang:

Kamanakan barajo kapado mamak,
Mamak barajo kapado tungganai,
Tungganai barajo kapado panghulu,
Panghulu barajo kapado mufakat,
Mufakat barajo kapado alua jo patuik,
Alua jo patuik barajo kapado bana,
Bana bardiri dengan sandirinyo.

(Kemenakan dipimpin oleh mamak,
mamak dipimpin oleh tungganai,
tungganai dipimpin oleh penghulu,
penghulu dipimpin oleh mufakat,
mufakat dipimpin oleh tatanan alam dan kepatutan,
tatanan alam dan kepatutan dipimpin oleh Kebenaran,
Kebenaran berdiri sendiri.)[13]

Penelaahan terhadap adat dalam dua suku Melayu tersebut memperlihatkan, bahwa dalam masyarakat asli pun telah terjadi dinamika internal, yang tercermin dari adat yang diadatkan dan adat yang teradat (dalam suku Riau) dan adat babuhul sintak (dalam suku Minang). Masyarakat asli dapat saja memperbarui adatnya, tanpa harus membuang adat untuk mengambil sesuatu yang asing. Namun, barangkali formulasi tersebut tinggal sekadar formulasi. Pada prakteknya, pembaharuan dalam adat lewat jalur adat yang diadatkan atau adat babuhul sintak, amat sulit dilakukan, jika bukan dikatakan mustahil. Pembusukan-pembusukan dalam adat pun terjadi, sebagaimana yang disesalkan oleh R.A. Kartini dalam kumpulan surat-suratnya Habis Gelap Terbitlah Terang, lantaran adat tidak segera diperbarui. Semestinya, semua pemimpin adat tidak perlu takut akan pembaharuan dalam adat, selama adat sebenar adat atau adat babuhul mati tidak berubah. Pembaharuan dalam adat babuhul sintak atau adat yang diadatkan merupakan keniscayaan hidup lahiriah manusia di alam historis, yang tidak akan berpengaruh pada ketetapan esensial dari adat sabana adat di alam meta-historis. Karena berasal dari Yang Ilahi Nan Abadi, maka adat sabana adat senantiasa abadi. Perubahan dan dekadensi hanya dapat mengenai adat babuhul sintak, sedangkan adat babuhul mati tidakkan dikenai perubahan dan dekadensi. Kebenaran itu abadi dan Kebenaran tidak mengenal keduaan (duality).

Alua jo patuik barajo kapado bana,
Bana bardiri dengan sandirinyo.

Jika dikatakan sebagai ‘abadi’, maka apa saja ‘yang abadi’ dalam Adat Sebenar Adat? Tentu saja yang abadi ialah kebenarannya, sebab ia manifestasi Sang Kebenaran. Jika dianalogikan dengan buah, kebenaran ialah isi buahnya atau daging buahnya, bukan kulitnya. Jika dianalogikan dengan cermin, maka kebenaran ialah suatu yang nyata ada di hadapan cermin, bukan yang dipantulkan cermin. Jika dianalogikan dengan matahari, kebenaran ialah intinya, bukan sinarnya. Dalam tari kecak di Bali, manakah elemen yang abadi? Bukan gerakan-gerakan tarinya, bukan format duduknya penari, bukan pula teriakan yang keluar dari mulut penari, yang merupakan unsur abadi, tapi komunikasi dan penyatuan (communion) dengan Yang Ilahilah yang abadi. Dalam tari Tunggal Penaluan suku Batak, manakah elemen yang abadi? Lagi-lagi, bukannya gerakan tarinya, bukan format barisan penarinya, bukan tongkat yang dipakai penari, bukan mantera yang dikomat-kamitkan penari yang bersifat abadi, tapi komunikasi dan penyatuan dengan Yang Ilahilah yang abadi. Dalam patung mbis suku Asmat, manakah elemen yang abadi? Bukan motif ukirannya, bukan simbolisme motifnya, bukan pula posisi vertikal patung itu yang abadi, tapi komunikasi dan penyatuan dengan Yang Sakrallah yang abadi.

Komunikasi dan penyatuan dengan Yang Sakral yang merupakan inti segala manifestasi adatlah yang menyebabkan adat jadi abadi. ‘Adat Abadi’ ini sungguh identik dengan apa yang disebut filsuf Perennialisme[14] sebagai Philosophia Perennis (Kebijaksanaan Abadi) atau Religio Perennis (Agama Abadi) atau the Tradition (Tradisi Abadi). Adat, bersama-sama dengan seluruh tradisi spiritual-sakral yang pernah ada di dunia ini, berintikan ajaran spiritual-sakral yang serupa dan tunggal: komunikasi dan penyatuan dengan Yang Ilahi. ‘Adat Abadi’ ini bukanlah ciptaan leluhur, tapi ciptaan Leluhur Abadi kita, yang disebut dengan beribu nama (Tuhan, Lowalangi, Deus, Theo, Tiwaz, Pater, Allah, dan lain-lain) tapi merujuk pada Kenyataan Nan Tunggal. Adat Perennis senantiasa ada di manapun, kapan pun, bagaimana pun, apapun manifestasinya, sebab:

…there has never been a time without God, nor a place into which He has failed to descent. His eternal power and Godhead have always been manifest in the things that are made, and the particular traditions are so many palimpsests of a script written into the substance of creation itself. It is not surprising, therefore, that we should find signs of tradition wherever and whenever we look…’ [15]

____________________

Diambil dari buku “Serat Adat” oleh: Ferry Hidayat

[1] Ratno Lukito, Pergumulan Antara Hukum Islam dan Adat di Indonesia, (Jakarta: INIS, 1998), hh.38-43

[2] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, h.20

[3] Sutan Takdir Alisjahbana, Indonesia in the Modern World, terj. Bahasa Inggris oleh Benedict R. Anderson, (New Delhi: Prabhakar Padhye, 1961), h.

[4] Teguh Meinanda & D. Akhmad, Tanya Jawab Pengantar Antropologi, (Bandung: Armico, 1989)

[5] Rudi M. & Teguh Meinanda, Tanya Jawab Antropologi Indonesia, (Bandung: Armico, 1982)

[6] Sutrisno Kutojo & Mardanas Safwan, Tuanku Imam Bonjol: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, (Jakarta: Mutiara, 1980), cet-3.

[7] Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942, terj. Indonesia oleh Deliar Noer, (Jakarta: LP3ES, 1996), cet-8.

[8] Sidi Ibrahim Boechari, Pengaruh Timbal-balik antara Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau, (Jakarta: Gunung Tiga, 1981).

[9] Lembaga Adat Melayu-Riau, “Adat-Istiadat dan Budaya Melayu: Kondisi, Potensi dan Prospektif sebagai Jati Diri Orang Melayu Riau menuju Masyarakat Madani”, hh. 130-131

[10] Ibid., h. 130

[11] Ibid., h. 131

[12] Mursal Esten, Minangkabau: Tradisi dan Perubahan, (Padang: Angkasa Raya, 1993), hh. 21-23

[13] Ibid., h. 23

[14] Perennialisme atau ‘Ajaran Abadi’ tidak pernah dibangun, diciptakan, atau dibuat oleh seorang pun. Hanya Yang Ilahilah yang menciptakannya dan menyebarkannya kepada Utusan-UtusanNya atau Komunikatornya, yang disebut dengan banyak sebutan seperti Rasul, Nabi, Buddha, Boddhisatva, Sannyasin, Bikkhu, Ulama, Sufi, Spiritualist, Mistikus, Master, Leluhur, Nenek Moyang, Dukun, Cenayang, Orang Pintar, Paranormal, Filsuf Perennialist, dan lain-lain. Yang dimaksud dengan Perennialisme di sini ialah aliran filsafat di Barat yang menggali kembali dan merevitalisasi ‘Ajaran Abadi’ tersebut, yang dipelopori oleh René Guénon (1886-1951), Frithjof Schuon (1907-1998), Ananda K. Coomaraswamy (1877-1947), dan lain-lain. Merekalah yang di Barat menyadarkan kembali akan kebenaran agama di hadapan Modernisme yang anti-agama.

[15] James S. Cutsinger, An Open Letter on Tradition, dari situs  http://www.religioperennis.org

Filed under: Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: