Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kritik atas Pandangan Modern tentang Adat

Bagi orang modern, membicarakan adat adalah hal yang tak menarik, sudah ketinggalan zaman, sudah kuno, kolot, dan bukan zamannya lagi. Tapi bagi orang modern yang sudah bete dengan kemoderenan, membicarakan adat berarti keluar dari kesumpekan, keluar dari kepengapan tradisi, sejenis pembebasan, bebas dari kemonotonan, keluar dari alur utama sejarah, dan karenanya jadi ‘seksi’. Dan biasanya, yang ‘seksi’ dapat menggerakkan gairah dan merangsang gerak. Kekakuan wacana berubah jadi elastis dan, ibarat air, ia kembali mengalir.

Sudah lama kita tidak bicara tentang adat. Kalaupun bicara, paling banter hanya untuk mencela dan memakinya habis-habisan. Kita sudah lupa, bahwa sebelum kita menghayati hidup secara modern, hidup kita dulu sudah pernah dihayati dengan penghayatan total secara adat. Sekolah Adatlah yang pernah melahirkan nenek dan kakek kita, yang mengajari mereka pertama kali memandang kehidupan dan membangun peradaban yang khas yang dilandasi atas pandangan hidup itu. Adatlah ‘agama’ pertama mereka, ‘filsafat’ pertama mereka, ‘sosiologi’ pertama mereka, ‘politik’ pertama mereka, ‘ekonomi’ pertama mereka, ‘sains’ pertama mereka. Adat adalah asal mula, sangkan, alpha, genesis, ‘rumah’ pertama kita.

Karena adat adalah ‘rumah’ pertama kita, meskipun kita sudah bergelar Doctor (Ph.D) dan dididik di sekolah model modern, toh kita masih juga percaya tuyul, babi ngepet, dukun, nomor hoki, primbon, mujarobat, malam Jum’at Kliwon, kuntilanakadat tidak mungkin kita hilangkan sisa-sisanya dalam alam-bawah sadar kita, dalam dasar benak kita yang paling dalam. Kita tidak pernah bisa menjadi modern 100 %, dan itu bukanlah hal yang harus ditangisi atau disesali. Kita harus mengakui dengan amat sadar, bahwa lidah dan selera adat kita akan singkong rebus tidak akan pernah bisa hilang, walaupun 1001 Restoran McDonald’s menyerbu dan menelikung seluruh kota di Indonesia!

Saat Modernitas berkuasa, adat bungkam atau mungkin dibungkamkan. Lembaga-lembaga modern meminggirkannya. Modernisme menjadi raja wacana, adat jadi budaknya. Adat jadi kambing hitam yang gemuk untuk dicela dan dimaki-maki Modernitas. Tapi, saat Roda Takdir berputar dan Modernitas runtuh saat ‘Krisis Nasional 1998’ terjadi, Adat mulai memberanikan diri untuk lepas dari ketertindasannya dan meraih kembali kemerdekaannya. Keadaan membalik, kini adat yang bebas memaki-maki dan mencela Modernitas. Suatu tindakan balas, tapi tindakan balas yang lebih cerdas dari yang sebelumnya. Adat kini tidak memakai ‘logika lama’nya yang sudah dekaden untuk mengritik Modernitas, tapi memakai ‘logika baru’ yang lahir dari evaluasi terus-menerus dan kritik tak kenal lelah atas Modernitas. Adat menemukan angkatan baru tentara setia dari orang-orang modern yang sudah muak dengan kemoderenan. Mereka menggunakan ‘logika baru’ untuk mengritik Modernitas, sekaligus untuk mengapresiasi-ulang Adat.

‘Logika baru’ macam apa yang mereka gunakan? Yang jelas adalah ‘logika’ yang lebih cerdas dari ‘logika modern’, yakni, cara memandang realitas umum secara lebih baik, yang meluaskan cakrawalanya hingga ke aspek-aspek riel yang belum dijamah dan tersentuh oleh ‘logika modern’. ‘Logika modern’ hanya menganggap riel realitas fisikal, sedangkan realitas metafisikal dianggapnya tidak riel, tidak ada. ‘Logika baru’ memandang realitas fisikal dan realitas metafisikal sebagai dua segi dari satu hal yang sama: Realitas. Keduanya ada dan di-ada-kan, karena dipisahkan oleh definisi dan abstraksi ‘logika modern’. Mulanya Realitas itu tunggal, tapi kemudian ‘logika modern’ memisah-misahnya ke dalam dua pisahan, sebab ‘logika modern’ tidak bisa memahami banyak hal dengan representasi satu kata. ‘Logika modern’ cenderung memisah-misah dalam definisi-definisi, sehingga kenyataan seolah-olah pisah. Padahal, kepisahan hanya merupakan kesan logis yang diakibatkan oleh definisi, bukan realitas sebenarnya yang memang tidak pisah. ‘Logika baru’ menolak kesan logis yang ditimbulkan definisi dalam memandang realitas, dan kembali menyadarkan manusia bahwa Realitas sesungguhnya tunggal. Tapi bukan berarti bahwa dengan mengatakan Realitas itu tunggal, lantas ‘logika modern’ bisa seenaknya bilang bahwa Realitas itu fisikal tunggal. Tidak begitu. ‘Logika baru’ mengoreksi ‘logika modern’ yang memandang Realitas sebagai yang semata-mata fisikal, tapi Realitas adalah kesatuan tunggal metafisik dan fisik. ‘Logika baru’ ingin memakai kembali ‘saudara kembar’ fisika yang dulu ditelantarkan ‘logika modern’, yakni metafisika. Dengan menyandingkan fisika dengan metafisika, maka Realitas kembali dipahami manusia secara tunggal, utuh, integral.

‘Logika baru’ yang integral tersebut akan digunakan dalam tulisan ini untuk mengritik beberapa pandangan modern yang terbukti salah mengenai adat. Agar obyek kritikan kita kian jelas, di sini dikutip beberapa pandangan kalangan modernis mengenai adat.

Tan Malaka (sek. 1897-1949) menulis dalam bukunya Massa Actie (1926) sebagai berikut:

Zaman yang lalu, zaman penjajahan Hindu dan Islam serta zaman kesaktian yang ‘gelap’ itu, tak dapat menolong kita walaupun sedikit. Marilah sekarang kita adakan tembok baja antara zaman dulu dan zaman depan, dan jangan sekali-kali melihat ke belakang dan mencoba-coba mempergunakan tenaga purbakala itu untuk mendorong masyarakat yang berbahagia. Marilah kita mempergunakan pikiran ‘rasional’ sebab pengetahuan dan cara berpikir yang begitu adalah puncak tingkatan yang tertinggi dalam peradaban manusia dan tingkatan pertama buat zaman depan. Cara berpikir yang rasionil, membawa kita kepada kekuasaan atas tenaga-tenaga alam yang mendatangkan manfaat, dan pemakaiannya yang benar, yang kepada cara pemakaian itu makin lama makin bergantung nasib manusia. Hanya cara berpikir dan bekerja yang rasionil menarik manusia dari ketakhayulan, kelaparan, hawar dan perbudakan, dan membimbing manusia kepada kebenaran…[1]

Tan Malaka memandang adat sebagai ‘tenaga purbakala’ di ‘zaman kesaktian yang gelap’, yang penuh dengan ‘ketakhayulan, kelaparan, hawar, dan perbudakan’. Sebaliknya, Tan Malaka memuji-muji Rasionalisme sebagai ‘puncak tertinggi dalam peradaban manusia’ di ‘zaman depan’ yang akan membawa manusia Indonesia ‘kepada kekuasaan atas tenaga-tenaga alam yang mendatangkan manfaat’ dan yang dapat ‘menarik manusia dari ketakhayulan, kelaparan, hawar, perbudakan, dan membimbing manusia kepada kebenaran’.

Benarkah adat penuh berisi takhayul dan karenanya, adat tidak membimbing manusia Indonesia kepada kebenaran? Tan Malaka menggunakan Rasionalisme-Barat sebagai instrumen untuk mengukur dan menilai adat—suatu hal yang tidak adil, tapi juga yang tidak dapat dihindari. Pertama, dikatakan ‘tidak adil’, karena adat dipahami sebagai obyek untuk kacamata ontologis yang berlainan yang sungguh-sungguh membencinya. Adat diserang dari luar dirinya, dari sesuatu yang asing darinya, dari sesuatu yang tidak mengenalnya, dari sesuatu yang buta terhadapnya, dan karenanya, ia tidak mungkin dapat memahami adat sebagaimana adat memahami dirinya sendiri. Ini tidak adil. Ini penjajahan pandangan. Tapi, kedua, dikatakan ‘tidak dapat dihindari’, karena beginilah dinamika pemikiran. Suatu pemikiran tidak akan maju, jika tidak mengalami kritik. Adat harus terus-menerus dikritik, diperbarui, dimakna-ulang, didewasakan, ditinggikan kesempurnaannya, agar ia maju, kian sempurna, kian canggih. Tapi, tentunya jangan disalah-pahami, bahwa adat perlu dikritik oleh Rasionalisme. Jika adat dikritik oleh sesuatu yang membencinya, maka kritikan tersebut tidak mungkin dapat meninggikan kemajuan adat, tapi malah menolaknya, membuangnya jauh-jauh. Begitulah yang terjadi, jika Rasionalisme mengritik adat. Bukan adat kian disempurnakan oleh Rasionalisme, tapi justru adat dilemahkan dan ditaklukkan. Itulah yang diimplikasikan dari pernyataan Tan Malaka ‘marilah sekarang kita adakan tembok baja antara zaman dulu dan zaman depan, dan jangan sekali-kali melihat ke belakang dan mencoba-coba mempergunakan tenaga purbakala itu untuk mendorong masyarakat yang berbahagia,’ yang penuh kebencian terhadap adat dan mengajak untuk membuangnya jauh-jauh.

Apakah Tan Malaka hendak membuang jauh-jauh adat, lantaran adat mengandung takhayul dan kepalsuan? Sayangnya, Tan Malaka menulis karyanya ini pada tahun 1926, tahun dimana Rasionalisme belum berintrospeksi akan dirinya, belum bercermin-diri, serta belum menyadari ilusi-ilusi dan superstisi-superstisinya yang dikandungnya sendiri. Jika Tan Malaka masih hidup di tahun 2000-an dan berkenalan dengan Paskamodernisme-Barat, maka mungkin saja Tan Malaka akan mengoreksi pandangannya itu. Lagi pula, takhayul baru dibenci pada saat Rasionalisme muncul, tidak sebelumnya. Takhayul masih dimaknai secara positif oleh manusia adat, jauh sebelum Rasionalisme membencinya. Manusia adat memiliki ‘takhayul yang benar’—tentunya ‘benar’ menurut kriteria adat, bukannya ‘benar’ menurut Rasionalisme. Di zaman Paskamodern, perbedaan antara fiksi dan realitas kian blur, kian kabur, kian tidak jelas. Kebenaran pun bersifat lokal dan dipengaruhi oleh kebudayaan setempat. Obyektifitas dalam Modernisme kini dipahami sebagai ilusi dan superstisi. Bahkan, secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa takhayul dan pentakhayulan adalah sesuatu yang sungguh-sungguh diberkati dan direstui oleh Paskamodernisme.

Apakah Tan Malaka akan memilih adat jika elemen takhayul dalam adat telah dibuang? Saya pikir tidak. Tan Malaka memandang takhayul sebagai substansi dasar adat, yang hanya dapat dihilangkan dengan mengadopsi suatu yang baru yang dianggapnya tidak mengandung takhayul: Rasionalisme. Maklumlah, sebab Tan Malaka pun belum bisa mengritisi dan melampaui MADILOGnya (Materialisme, Dialektika, Logika). Dia ‘anak kandung’ Modernisme yang belum bisa membangkangi Modernisme. Alih-alih terbebaskan dari takhayul adat, Tan Malaka malah masuk ke alam takhayul baru, yakni ‘takhayul modern’, yang dimisalkan dengan Obyektifitas, Sains Bebas-Nilai, Hukum Konstan Sejarah, Ekonomi Berkemanusiaan, Masyarakat Tak-Berkelas, dan lain-lain.

Apakah takhayul itu salah? Itu tergantung pada kacamata apa yang dipakai. Adat memandang takhayul sebagai suatu yang biasa, wajar, benar. Tapi Modernisme memandang takhayul adat sebagai suatu yang abnormal, palsu, salah. Pada gilirannya, Paskamodernisme memandang Modernisme memiliki sejumlah takhayul yang juga dianggapnya abnormal, palsu, salah. Dan pada gilirannya pula, suatu mazhab filosofis baru yang entah apa namanya di masa depan akan memandang palsu takhayul-takhayul yang dipercayai Paskamodernisme dan menganggapnya semua sebagai palsu dan salah. Lalu, pelajaran apa yang dapat dipetik dari uraian ini? Pertama, barangkali hobi manusia adalah bertakhayul; kedua, setiap ‘takhayul lama’ yang dikritik akan menghasilkan ‘takhayul baru’; dan ketiga, manusia berpindah-pindah dari satu jenis ‘takhayul sederhana’ menuju ‘takhayul yang kompleks’.

Karena istilah ‘takhayul’ sudah kadung berkonotasi negatif (lantaran Modernisme menyebutnya sebagai superstition, fallacy, delusion, false notion, misconception, falsehood, dan falsity), maka di sini akan digunakan padanan-katanya yang agak berkonotasi positif, seperti imagination atau vision. Manakah manusia yang tidak pernah melakukan semua hal itu? ‘Manusia modern’ manakah yang tidak pernah bermimpi atau berimajinasi? Bagaimana mungkin menganggap palsu suatu yang tidak pernah bisa ia hilangkan dalam hidupnya sebagai manusia? Tidakkah Karl Marx pun berimajinasi tentang Classless Society, Muhammad berimajinasi tentang Al-Jannah, Thomas More tentang Utopia, Soekarno dan Soeharto tentang Masyarakat Pancasila, dengan cara yang sama dengan orang Jawa adat asli yang berimajinasi tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi?

Demi kuatnya argumentasi tentang hobi takhayul manusia, dikutip di sini pandangan seorang filosof Paskamodern, Susanne K. Langer (1895-1985). Dalam karyanya yang fenomenal berjudul Philosophy in A New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, Susanne menegaskan bahwa dalam memahami kenyataan di luar dirinya, manusia senantiasa memproduksi citra-citra mental yang berupa simbol-simbol, dan simbol-simbol ini senantiasa berubah-ubah (dalam ungkapan Susanne, symbolic transformation). Realitasnya mungkin saja sama, tapi simbol-simbol yang merepresentasikannya berubah-ubah sejalan dengan pemahaman manusia yang berubah-ubah. Bukan hanya sains yang dipahami manusia secara simbolis, tapi juga mitos, analogi, nalar metaforis (metaphorical thinking), dan seni. Produksi simbol-simbol yang terus berubah-ubah (symbolic transformation), dalam penelitian Susanne, merupakan aktivitas manusia yang alamiah dan wajar. Wajar berarti tak salah. Kata Susanne:

…there is a primary need in man, which other creatures probably do not have, and which actuates all his apparently unzoological aims, his wistful fancies, his consciousness of value, his utterly impractical enthusiasms, and his awareness of a “Beyond” filled with holiness. Despite the fact that this need gives rise to almost everything that we commonly assign to the “higher” life, it is not itself a “higher” form of some “lower” need; it is quite essential, imperious, and general, and may be called “high” only in the sense that it belongs exclusively (I think) to a very complex and perhaps recent genus. It may be satisfied in crude, primitive ways or in conscious and refined ways, so it has its own hierarchy of “higher” and “lower”, elementary and derivative forms.

This basic need, which certainly is obvious only in man, is the need of symbolization. The symbol-making function is one of man’s primary activities, like eating, looking, or moving about. It is the fundamental process of his mind, and goes on all the time. Sometimes we are aware of it, sometimes we merely find its results, and realize that certain experiences have passed through our brains and have been digested there.[2]

Jika dalam dirinya sendiri manusia memiliki potensi untuk senantiasa bertakhayul (imagining), mampukah ia mencapai kebenaran? Itu tergantung ukuran kebenaran apa yang dipakai. Jika yang dipakai adalah ukuran kebenaran Rasionalisme, maka takhayul tetap saja dianggap tidak benar. Tapi jika yang dipakai adalah ukuran kebenaran adat, maka takhayul dianggap benar. Apakah manusia bisa seragam, bersuara satu dengan bulat, mengukur dengan satu ukuran yang tidak tergoyahkan, untuk mencapai kebenaran? Saya pikir, tidak bisa. Manusia saja sudah berlain-lainan dalam lain dimensinya, maka bagaimana mungkin ukuran kebenarannya dapat seragam?

Yang mungkin dilakukan adalah memadukan. Memadukan ukuran kebenaran Rasionalisme dan Adat. Elemen-elemen yang berlawanan secara semu dalam Rasionalisme dan Adat dipadukan, sehingga cakrawala manusia kian luas. Fisika dan metafisika dipadukan lagi. Bahasa modern dipakai dan diperluas untuk menjelaskan ekspresi-ekspresi adat. Memang, itu bukan lagi berwujud sebagai Modernisme atau adat, tapi suatu yang baru, suatu yang Paskamodern. Susanne K. Langer di Barat sudah melangkah ke arah itu, kita yang di Timur hanya tinggal kembali ke adat dan memadukannya dengan Modernisme.

Yang juga dikritik di sini adalah pandangan Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994). Dalam banyak kesempatan, Takdir memuja-muja Modernisme-Barat dan memaki-maki adat. Kata Takdir:

Kalau kita analyseeren masyarakat kita dan sebab-sebabnya kalah bangsa kita dengan perlombaan bangsa-bangsa di dunia, maka nyatalah kepada kita bahwa menjadi statischnya, menjadi matinya, tiada berjiwanya masyarakat bangsa kita ialah karena berabad-abad itu kurang memakai otaknya, kurang egoisme (yang saya maksud bahagiannya yang sehat), kurang materialisme. Dalam hal intellect berabad-abad bangsa kita parasiteren, hidup seperti benalu pada masa yang silam. Bangsa kita tiada mengasah otaknya, tiada berusaha mendapat pikiran sendiri, ia menjadi Sleurmens.

Perasaan individu, persoonlijkheid di dalam bangsa kita semati-matinya, oleh karena dalam masyarakat kita yang lama individu itu terikat oleh bermacam-macam ikatan: adat-istiadat, kebiasaan, bermacam-macam tahyul, pikiran dan pemandangan yang bukan-bukan…[3]

Rakyat Indonesia ini mesti berubah, mesti menjadi manusia moderen dan melihat sejarah penjajahan dahulu sebagai kekalahan kualitas bangsa kita terhadap kualitas bangsa Belanda. Kekalahan kita sebenarnya tentang kecerdasan kita, tentang pengetahuan kita, tentang kegiatan kita. Sudah cukup kita menyalahkan Belanda. Sekarang apa boleh buat kita mesti menyalahkan juga nenek moyang kita yang dijajah Belanda. Kalau kualitas bangsa kita dulu sama baiknya dengan kualitas bangsa Belanda, sejarah akan menjadi lain, yaitu kita yang menjajah negeri Belanda yang begitu kecil.[4]

Apa yang mesti berubah dari manusia Indonesia, Takdir pun menjelaskannya:

Mau tidak mau kita mesti berubah tentang mentalitas; yaitu dari cara berpikir dan berbuat, dari kesantaian dan kepasrahan kebudayaan expresif yang berdasarkan perasaan, intuisi, dan imajinasi agama dan seni, kepada mentalitas kebudayaan progresif moderen yang berdasarkan rasio, efisiensi, dan sikap keaktifan rohani dan jasmani yang terjelma menjadi kemajuan ilmu, kemajuan teknologi dan kemajuan ekonomi.[5]

Otak Indonesia harus diasah menyamai otak Barat! Individu harus dihidupkan sehidup-hidupnya! Keinsyafan akan kepentingan diri harus disadarkan sesadar-sadarnya! Bangsa Indonesia harus dianjurkan mengumpulkan harta dunia sebanyak-banyak mungkin! Ke segala jurusan bangsa Indonesia harus berkembang![6]

Dalam pandangan Takdir, Adatlah yang membuat bangsa kita dijajah dan kalah oleh Belanda. Kenapa kita kalah oleh negeri kecil di Eropa itu? Menurut Takdir, karena adat tidak membuat individu menjadi berkembang dan maju, karena adat mengikat manusia Indonesia dengan ikatan yang tidak boleh dilanggar, karena adat tidak membolehkan manusia Indonesia untuk menggunakan otaknya, untuk menginsyafi kepentingan pribadi, serta untuk menghargai materi dan materialisme.

Kritikan yang sama juga kita tujukan kepada Takdir: bagaimana mungkin ia memahami adat secara benar, jika ia membencinya? Bukan hanya peribahasa ‘tak kenal, maka tak sayang yang relevan di sini, tapi juga ‘tak sayang, maka tak kenal’. Sebab, sebagaimana diungkap baik oleh Santo Aurelius Augustinus (l. 354), ‘tak ada kebaikan yang dapat dipahami secara sempurna, jika kebaikan itu tidak dicintai secara sempurna‘. Cintalah pendorong dasar pemahaman, bukannya pemahaman pendorong dasar cinta. ‘Cintalah yang bertanya, cintalah yang mencari-cari, cintalah yang mengetuk-ngetuk, cintalah yang menyingkap, dan akhirnya, cintalah yang mengabadikan segala yang telah tersingkap‘, demikian Santo Aurelius Augustinus.

Adatkah yang menyebabkan bangsa kita terjajah? Bisa jadi itu benar, tapi bukan berarti bahwa adat bersalah dalam hal ini. Penjajahan bukan hanya dimengerti oleh orang modern sebagai ‘dosa kemanusiaan’, tapi juga oleh orang adat. Lagipula, adat tidak mengenal ‘kebohongan-kebohongan licik’ sebagai taktik dan strategi perang—suatu yang digunakan penjajah Modern-Belanda di Indonesia untuk menangkapi pemimpin perang adat. Saat penjajah gagal dalam pertempuran-pertempuran teratur, maka mereka menggunakan strategi musyawarah, yang mereka ketahui sangat dihormati oleh adat, untuk menangkapi pemimpin perang adat yang sulit mereka taklukkan, sebagaimana dialami oleh Diponegoro. Mereka membuat ‘musyawarah-musyawarah palsu’ untuk memenangkan perang. Hukum perang adat, dalam penelitian GPH Haryomataram, justru sangat menghargai kepatriotan dan menghindari ‘kebohongan licik’.[7] Bahwa kemudian adat tidak dapat mengalahkan kecanggihan teknologi perang dan kelicikan taktik perang Belanda, bukanlah merupakan kesalahan. Adat sudah berupaya keras untuk memenangkan perang kolonial dengan taktik perang adat yang patriotik, tapi Belanda yang moderenlah yang menggunakan cara-cara licik, tidak patriotik, dan penuh kebohongan yang rupanya jadi pemenang perang.

Kita memang harus mengritik adat, agar dapat memajukan adat. Tapi mengritik adat dengan suatu yang membencinya (seperti Modernisme) tidak akan menghasilkan kritikan yang memajukan adat, tapi malah membuangnya. Dengan menyayangi adat, lalu mengritiknya atas dasar kecintaan terhadap adat, maka adat akan maju, kian baru, kian sempurna.

Di kemudian hari, menjelang wafatnya, Sutan Takdir mengoreksi pandangannya yang memaki adat, lalu memandangnya kembali sebagai suatu yang amat diperlukan orang Modern, untuk mengimbangi ekses-ekses Modernisme yang membahayakan Kemanusiaan. Kata Takdir:

…masyarakat dan kebudayaan modern itu mengalami krisis justru karena sifat-sifat kemodernannya yang dikuasai rasio, individualisme, dan keduniaan. Kedudukan rasio yang terlampau kuat dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan telah mengancam membuat masyarakat dan kebudayaan modern menjadi kering, kaku dan kasar; individualisme membuat perhubungan sesama manusia kehilangan kemesraan, kerukunan dan tolong-menolong, dan menjadi terpecah-pecah dan penuh kesepian pribadi. Kehidupan dan cita-cita yang berlebih-lebihan akan harta dan nilai keduniaan membuat suasana masyarakat dingin berhitung, malahan menimbulkan persaingan yang sering melampaui batas kemanusiaan. Dalam krisis ini, yang makin lama makin meluas, terutama angkatan muda di seluruh dunia mulai mencari nilai-nilai modern. Dalam hal ini kebudayaan Indonesia yang lama, seperti yang masih banyak dijelmakan oleh bahasa-bahasa daerah dalam rumusan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan, dapat memberi sumbangan.[8]

But in the face of the tremendously devastating modern weapons, product of the still fast progressing science and technology of our time, there is of course also the other possibility that the human race on this planet earth through the shortsightedness and narrowness of its mind and spirit, or Geist or Budi will beg down in its present insoluble, chaotic rivalries, conflicts, purposeless engine wars and commit suicide in a nuclear war. Then the human race will disappear from life on earth like formerly the mastodon and other extinct animal of prehistorical time. The evolution of human culture which started with the appearance of man on earth comes then to an end.

In the favorable and positive case, a further development of human mind-spiritual life and its cultural realization will take place. A new society and culture of the whole of humanity is then emerging, greater than any in the past…it is very likely that the great synthesizing and creative task of building up a new global society and culture of the whole of humanity will take place in Southeast Asia…which in the course of the history of the last 2,000 years has given evidence of its open-mindedness and assimilative power by accepting in its total cultural make-up not only the elements and traits of the great Chinese, Indian and Middle Age cultural tradition, but which with its native creativity has also been able to create out of this elements and traits great cultural monuments of lasting religious and aesthetic greatness.[9]

Takdir pun akhirnya menggunakan ‘logika baru’: memadukan adat dan Modernisme untuk melampaui ekses-ekses Modernisme yang membahayakan Kemanusiaan. Orang modern yang lain juga harus menyadari kesadaran yang sama dengan Takdir, bahwa Modernisme bukan segala-galanya, bukan pula adat segala-galanya. Kedua matra filosofis itu memiliki dekadensi dan kelebihan masing-masing. Yang satu tidak bisa menjatuhkan satu yang lain. Seorang filosof yang arif-bijaksana akan memadukan apa yang positif dalam adat dan Modernisme untuk memahami kenyataan secara lebih baik, sebagaimana diungkap secara baik oleh seorang filosof Uganda kontemporer, Zubairi `b. Nasseem:

If philosophy is the love of wisdom, then its function cannot be merely to reproduce the discourse and assumptions of the established powers. On the contrary, its function is to penetrate through to the other side and to create favorable conditions for the Other to come forward and express concerns, cares, disquietudes, and aspirations. In this process of recognizing and respecting the oppressed Other, the legitimacy of the Other’s discourse must first be established.[10]

___________________________

Diambil dari buku “Serat Adat” oleh: Ferry Hidayat


[1] Tan Malaka, Massa Actie, (Jakarta: CEDI & Aliansi Press, 2000), hh. 171-172

[2] Susanne Knauth Langer, Philosophy in A New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, (New York: The New American Library of World Literature, 1961), cet-11, h. 45

[3] Ignaz Kleden et.al. (eds.), Kebudayaan sebagai Perjuangan, hh. 17-21.

[4] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Kata Sambutan Rektor Universitas Nasional dalam menyongsong Tahun Baru 1987’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun IX, No.5, Februari 1987, Jakarta, Universitas Nasional, h. 323.

[5] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Tugas Ilmu, Agama dan Seni dalam Krisis Poros Sejarah Dewasa Ini’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun XII, No.1, Oktober 1989, Jakarta, Universitas Nasional, hh. 14-15

[6] Ignaz Kleden et.al. (eds.), Kebudayaan sebagai Perjuangan, hh. 17-21.

[7] GPH. Haryomataram et.al., Hukum Perang Tradisional di Indonesia, (Jakarta: Pusat Studi Hukum Humaniter Fakultas Hukum Universitas Trisakti, 1999), h. 35

[8] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Politik Bahasa Nasional dan Pembinaan Bahasa Indonesia’, h. 44.

[9] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Socio-Cultural Development in Global and National Perspective and Its Impacts’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun X, No.10, Juli 1988, Jakarta, Universitas Nasional, hh. 730-731.

[10] Zubairi `b. Nasseem, ‘African Heritage and Contemporary Life: An Experience of Epistemological Change’, dalam AT. Dalfovo et.al. (eds.), The Foundations of Social Life, Ugandan Philosophical Studies, I, (Washington: Council for Research in Values and Philosophy [CRVP], 1992), Chapter 1, h.11

 

Filed under: Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: