Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kritik SBY Dan 3 Salah Tanggap SBY atas Adjie

Pasulukan Loka Gandasasmita
“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permaslahan


Lewat Tulisan, Anggota TNI AU Kritik SBY
Dan
3 Salah Tanggap SBY atas Adjie

Kolonel Adjie Suradjie

Tulisan berjudul “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan” yang ditulis oleh Kolonel Penerbang TNI AU Adjie Suradji menuai kontroversial. Sang kolonel ini secara terbuka mengkritik atasannya (presiden) melalui tulisan di halaman opini salah satu media nasional, Senin (6/9). Lantas bagaimana sikap sang Presiden? Berikut tulisan Adjie Suradji berjudul “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”:

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Presiden RI ke-1 s/d ke-5

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soe- harto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu “Bersama Kita Bisa” (2004) dan “Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus-hendaklah hukum ditegakkan-walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503- 1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.

Quid leges sine moribus (Roma)-apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?

Keberanian

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin-kepentingan rakyat-keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).

Ahmadinejad (Iran), Hugo Chavez (Venezuela), dan Evo Morales (Bolivia).

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya-dengan jargon reformasi gelombang kedua-SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.

(Adjie Suradji Anggota TNI AU/http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/03101393/pemimpin.keberanian.dan.perubahan)

3 Salah Tanggap SBY atas Adjie

Tulisan berjudul “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan” yang ditulis oleh Kolonel Penerbang TNI AU Adjie Suradji beberapa waktu lalu menuai kontroversial. Namun setidaknya ada 3 salah tanggap SBY atas tulisan yang dibuat Adjie ini.

Salah tanggap pertama:

Kritik bukanlah serangan. Kritik adalah kupasan, telaah, studi tentang suatu objek, kemudian seorang yang sedang studi itu memuat opini, pendapat, atau teorinya atas objek itu.

Anggapan bahwa suatu kritik adalah serangan; sangat mengejutkan, karena seperti dilakukan oleh mereka yang tidak ber-edukasi dan sangat aneh, apalagi dilakukan oleh seseorang yang memiliki jenjang pendidikan tinggi seperti SBY.

Kata-kata: Tidak ada ruang!, benar-benar bertentangan dengan citra SBY sebagai demokrat tulen, malah meneguhkan citranya sebagai feodal yang telah diperkuat lagi oleh citra Ibas yang serba dapat keleluasaan bak Pangeran di kerajaan jaman dahulu . Atau kelengkapan suatu kerajaan yang memiliki sekelompok penjilat Raja.

Salah tanggap kedua:

SBY mencontohkan kejadian antara Jenderal Chrystal yang sedang bertugas di Afghanistan dengan Presiden Obama. Sebagai pembanding, sangatlah tidak tepat, karena substansi antara Chrystal dan Obama adalah soal penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Sudah banyak diketahui bahwa ada tarikan kepentingan besar antara lobi Yahudi yang pedagang senjata, pedagang narkoba ganja Afghanistan, lobi yang tidak suka dan selalu merongrong Obama, yang diwakili oleh Jenderal Chrystal yang menentang penarikan, berhadapan dengan Obama yang konsisten berusaha memenuhi janji kampanyenya tentang penarikan pasukan AS dari Irak dan Afghanistan. Ada nuansa pembangkangan Jenderal Chrystal yang berkomentar keras, maka Obama bereaksi dengan mengganti dan memulangkan Chrystal.

Tetapi kritikan dan opini Adjie justru mengingatkan SBY tentang janji kampanye SBY tentang pemberantasan korupsi yang telah berkali-kali dilanggar dan dilupakannya, bahkan disuburkan melalui praktek Partai Demokrat, remisi para koruptor, pembiaran pelemahan KPK, dan berbagai pembiaran lainnya di segala bidang. Tunduknya Presiden kepada pengusaha Bakrie atas kasus Lapindo dan pengusiran halus Sri Mulyani. Semua tindakan SBY yang mengecewakan rakyat.

Itulah salah tanggap kedua tentang ke-tidak relevan-an suatu contoh.

Salah tanggap ketiga

Sekali lagi SBY tidak memerankan dirinya sebagai Eksekutif yang baik dengan mengatakan “Bukan wewenang saya“. padahal sebaiknya beliau menjawab langsung sebagai Presiden kepada rakyatnya, atau bahkan Panglima Tertinggi TNI kepada anak buahnya.

Apa susahnya menjawab dengan santun sebagaimana cara menjawab ke Malaysia. Atau dengan bijak semacam: “Suara Saudara Adjie adalah suara kita semua, dan saya sedang berusaha keras mewujudkannya, dan tentunya membutuhkan perhatian dan dukungan rakyat seperti dicontohkan oleh Saudara Adjie. Untuk itu saya memberi penghargaan yang tinggi atas keprihatinan yang telah diekspresikan dengan lengkap dan sampai di hadapan rakyat sekalian. Inilah masalah kita bersama yaitu: Korupsi, Pemanfaatan kekayaan negeri untuk kemakmuran rakyat.” Apa susahnya?

Kita sangat mengharapkan institusi Kepresidenan yang bermartabat dan dicintai rakyat.

Dalam Rumah Sehat Kompasiana ini alangkah baiknya kalau semua penghuni selalu mengedepankan substansi suatu tulisan dalam mendiskusikannya.

Sangat saya sayangkan seorang penulis senior kadangkala mengaburkan substansi dan karena keseniorannya telah membelokkan banyak kompasianer muda ke arah yang kurang membawa manfaat karena penuh dengan hal-hal atributif dan prosedural seperti etika militer, sapta marga, atau yang seperti  kata SBY: tidak ada ruang. Hal-hal itu membawa kebuntuan menuju pencerahan nalar yang sangat dibutuhkan bagi kemajuan bangsa kita.

Adjie membawa pencerahan dengan kemampuannya mengartikulasikan pendapat rakyat banyak melalui media massa. Sementara 3 salah tanggap SBY telah menimbulkan kernyitan kening rakyat banyak.

Filed under: Waspada

One Response

  1. weight mengatakan:

    i see what you did there

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: