Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Sukarno; 9 Cinta, 9 Revolusi

Pasulukan Loka Gandasasmita
“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permaslahan


Sukarno; 9 Cinta, 9 Revolusi

Soekarno

Bagi Soekarno, tidak ada krisis yang dilalui tanpa cinta. Hasrat besar Soekarno untuk kemerdekaan dan kebesaran bangsanya tidak lepas dari episode cinta yang ia lalui sepanjang hidup. Inilah yang menggoda saya untuk membaca, mempelajari dan coba menuliskan sebagai penghibur lara yang sering menghinggapi hati. Untuk masalah yang satu ini, tentu saya tidak akan bisa belajar dari Hatta atau Tan Malaka. Untuk setiap pecinta yang mencari alasan dari kekalahannya, roman cinta Bung Karno menjadi kekuatan yang meneguhkan asa.

Soekarno memang mengakui bahwa ia gandrung dengan kecantikan. Tetapi kecintaan pada perempuan bagi Soekarno bukan sekedar isyarat lima indera kepada hati. Sifat cinta Soekarno tumbuh dalam lingkaran sebab dan akibat yang seringkali terlepas dari makna cinta itu sendiri. Pada saat pertama kali jatuh cinta di usia 14 tahun kepada gadis Indo-Belanda Rike Meelhusyen, Soekarno telah memiliki kesadaran, menaklukkan gadis Indo-Belanda bukan sekedar urusan cinta belaka tetapi adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk bisa menaklukkan kolonialisme Belanda. Dan ia gagal pada percobaan pertama menaklukkan Belanda, gadis itu tidak pernah membalas cintanya.

Jalinan kasih Soekarno dengan Utari, puteri tokoh SI, HOS Tjokroaminoto mulai menunjukkan karakter cinta Soekarno. Hasrat cintanya pada Lak, panggilan sayangnya untuk Utari, sama menggebunya dengan semangat Soekarno untuk memahami ideologi politik Tjokroaminoto. Ketika Lak ia persunting ternyata Soekarno menemukan kehambaran sama seperti kebuntuan yang ia dapatkan dari doktrin ideologi SI Tjokroaminoto. Pada saat menempuh pendidikan di Technische Hogers-school di Bandung, Soekarno menceraikan Utari bersamaan dengan perpisahan ideologinya dengan Tjokro. Soekarno memilih jalan sendiri yang ia ciptakan.

Inggit Ganarsih, ibu indekos Soekarno di Bandung yang berbeda usia 12 tahun di atasnya selanjutnya mengisi ruang hati Soekarno. Inggit dengan kesederhanaannya setia mendampingi Engkus yang mulai menunjukkan sepak terjangnya menentang pemerintah kolonial. Ia rela melakukan apa saja untuk dapat menjenguk Soekarno di penjara Sukamiskin, ikut dalam pembuangan Soekarno di Ende dan kemudian Bengkulu. Tetapi ironisnya justru dalam kesetiaan mendampingi Soekarno dalam pembuangan, Inggrit tersisih oleh kehadiran perempuan lain di Bengkulu. Tidak rela dimadu, Inggrit memilih cerai dengan Soekarno. Perpisahan dengan Inggit adalah perceraian Soekarno dengan semangat belajar dan mencari.

Perempuan Bengkulu itu bernama Fatimah, anak seorang tokoh Muhammadiyah disana. Soekarno kemudian mengganti namanya menjadi Fatmawati, suatu aspirasi nasional perlambang kedaulatan yang dicitakan oleh Soekarno. Fatmawati kemudian memang menjadi saksi bagaimana Soekarno mendirikan sebuah republik baru yang merdeka dan berdaulat. Ia ikut menemani Soekarno pada saat-saat genting ketika para pemuda menculik Soekarno ke Rengasdengklok. Ia pula yang terusir dari istana Jogjakarta pada saat suaminya ditangkap dan selanjutnya mesti bertahan hidup di pinggir Kali Code. Fatmawati, ibu negara pertama sang penjahit bendera pusaka, pula yang memberikan keturunan untuk Soekarno.

Tetapi sebagaimana Utari dan Inggit, Fatmawati mesti kalah oleh hasrat cinta Soekarno yang bergerak dimainkan krisis pencarian kebesaran Soekarno. Pada tahun 1954, Soekarno kehilangan legitimasi politiknya sebagai presiden dalam sistem politik parlementer. Seolah ingin kembali mendapatkan legitimasi kekuasaan tradisional Jawa, Soekarno menikahi seorang perempuan Solo bernama Hartini. Fatmawati memilih pergi dari istana, tetapi Soekarno tidak menceraikannya. Inilah awal dimana Soekarno membalut krisis dengan permainan cinta. Semuanya menjadi semakin tidak terkendali sejak Soekarno memegang kekuasaan absolut pasca dekrit presiden 5 Juli 1959.

Dalam krisis pemberontakan Permesta di Manado pada tahun 1959, Soekarno menikahi Kartini Manoppo. Bekas pramugari Garuda yang berasal dari Bolaan Mangondouw Sulawesi Utara. Soekarno seolah ingin menunjukkan, bahwa cinta bisa meredakan suasana disintegrasi yang memanas. Dua tahun kemudian, Permesta bersamaan dengan PRRI selesai dan sebagaimana sifat cinta yang mengasihi, Soekarno memberikan amnesti umum.

Tetapi tidak selamanya politik berbicara dengan kharisma dan senjata, terkadang ia juga bersendawa tentang keindahan. Pada saat Soekarno berkunjung ke Jepang untuk sebuah perundingan tentang pampasan perang, semuanya berjalan dengan alot. Tetapi Soekarno tahu persis cara memenangkan perang. Bila pampasan perang tidak didapatkan maka dia akan menawan kecantikan bunga Sakura. Dan Soekarno membawa pampasannya sendiri dari Jepang dengan mempersunting seorang geisha di klub Copacobana Jepang, Naoko Nemoko yang ia beri nama Ratna Sari Dewi.

Pada tahun 1963, perdebatan tentang akar dan arah kebudayaan nasional tengah memuncak. Para seniman terpolarisasi dalam dua kutub kebudayaan, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan (Manikebu). Konon Lekra berbicara tentang Sosialisme, Manikebu berbicara tentang humanisme universal. Lekra berbicara tentang seni untuk rakyat, manikebu seni untuk seni. Sebagai penyambung lidah rakyat, Soekarno tidak menyeru untuk menengahi perdebatan kebudayaan itu, dia memberikan contoh dengan tindakan. Soekarno menikahi seorang penari tradisional dari Jawa Timur, Haryatie. Seolah ingin menunjukkan, apapun visi kebudayaan yang diusung oleh semua kelompok semuanya berasal dari langgam yang sama, kebudayaan tradisional Indonesia.

Setahun kemudian di tengah semangat Soekarno menggerakkan kekuatan negara-negara muda dalam Games of New Emerging Forces (Ganefo), ia terhisap gelora muda mempersunting Yurike Sangir, gadis yang masih duduk di bangku kelas VII SMA. Yurike seolah menjadi gambaran dari negara-negara baru eks kolonial yang penuh gelora melawan kekuatan-kekuatan kapitalis lama yang telah ratusan tahun menghisap mereka. Menaklukkan Yurike mungkin sama nilainya dengan memimpin puluhan negara-negara dunia ketiga dengan kegarangan Soekarno di atas podium.

Bahkan dalam senjakala kekuasaannya, Soekarno masih mampu menunjukkan cinta sebagai simbol dari sebuah krisis. Pada tahun 1966, ia menikahi seorang gadis asal Tenggarong, Kalimantan, Heldi Djafar. Gadis yang menutup untaian kisah cinta Soekarno itu seakan menggambarkan pula berakhirnya hasrat besar Soekarno untuk menyatukan pulau Kalimantan dalam satu kekuasaan Indonesia. Inilah tahun-tahun dimana Suharto mengirim beberapa utusannya ke Malaysia untuk mengakhiri hasrat Sukarno akan Kalimantan Utara.

Ada yang datang, ada pula yang pergi dalam kehidupan cinta Soekarno. Sembilan perempuan dalam kehidupan Soekarno untuk sembilan revolusi yang memutar roda sejarah Indonesia di bawah bendera revolusi Soekarno. Perempuan-perempuan itu mengakui, mereka terhisap oleh rayuan cinta Soekarno dan tidak juga bisa mengelak dari kharisma magis sang pemimpin besar revolusi. Dan sekarang saya mengerti, kita boleh tidak setuju dengan semua yang dilakukan oleh Bung Karno dalam hal politik dan perempuan. Tetapi kita tidak bisa mengelak bahwa di balik cintanya yang besar itulah sebenarnya hadir sosok bapak bangsa sang Pemimpin Besar Revolusi.

Filed under: Renungan

One Response

  1. Kang Bondan mengatakan:

    Lagi cari materi posting nih. Dapet di sini. terima kasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Oktober 2010
M S S R K J S
« Sep   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: