Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

SANG CINTA

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada Dalam Melihat Permasalahan


SANG CINTA

Ahmad Baihaqi

Sekarang ini, kita berada pada masa, dimana kita harus punya ketetapan hati atas segala sesuatu yang kita lakukan, meski ketetapan itu menyakitkan. Kelapangan dada telah menjadi penentu; bisakah kita mencintai segala yang kita kerjakan. Karena di dalam cinta itu ada ketulusan yang tak terbatas. Cinta yang memunculkan ketulusan untuk mengerjakan segala sesuatu itu adalah efek balik dari cinta kepada Allah. Cinta itu takkan bisa diraih dan dirasa, kecuali dengan mengenal rasa cinta itu sendiri. Rasa cinta akan semakin bisa dikenal dan dirasa jika diri ini memulai untuk mengenal diri sendiri juga.

Dari sini, sebenarnya diri kita telah mulai menapaki jalan untuk mengenal Allah. Mengenal Allah untuk bisa mengerti makna mencintai segala sesuatu. Sumber cinta itu diambil dari “sumur” yang tak pernah kering yakni mencintai Allah. Allah itu adalah Cinta yang memunculkan rasa mencintai. Rasa cinta Allah ini harus melebihi apapun; anak, suami/istri, orang tua, harta benda, pangkat, jabatan, dan lain-lain. Meski pada akhirnya, Sang Cinta itu sendiri memang sudah, sedang dan akan terus mencintai para pecinta.

Cinta kepada Allah tanpa kita sadari akan kembali kepada rasa kita sendiri dalam bentuk kasih sayang kepada orang-orang yang kita cintai. Tidak mungkin cinta kepada Allah akan berbuah menyia-nyiakan orang-orang yang kita cintai, bahkan justru sebaliknya akan semakin sayang. Cinta kepada Allah menjadi kebohongan belaka, jika tidak dengan mengenal-Nya. Mengenalnya itu akan merubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Lalu terbentuklah kepribadian yang kokoh, tidak cengeng, tidak pengecut, tidak kenal lelah dalam mencari ilmu.

Setiap helaan nafas kita, ada kerinduan yang harus ditumpahkan. Kerinduan itu berbuah ketahanan mental dalam rangka mencari minuman untuk melepas dahaga pencarian-Nya, yakni berupa ilmu. Kepribadian dan ketahanan mental tidak dimaksudkan hanya sekedar penampilan lahiriyah. Tapi lebih dari itu, ia masuk dan tenggelam, sehingga menjadi pengetahuan bagi akal pikiran kita sendiri. Kerinduan ini telah menjadi syahwat atau gairah untuk mengenal dan menyatu dengan Cinta.

Untuk tidak cengeng dan tidak pengecut, ternyata memang tidak mudah. Karena pada dasarnya manusia itu memang cengeng, pengecut, lalai dan bodoh. Untuk keluar dari stigma itu, kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Perjuangan itu akan semakin terasa pada saat diri menghadapi godaan. Tekanan moral, pukulan mental, hinaan atau kebencian orang, merupakan medan juang yang tidak ringan. Hal itu memang telah menjadi penyakit klasik. Jadi, semestinya sejak dulu kita dituntut memang harus waspada.

Kita sering terjebak oleh literatur agama dengan segala atribut fiqih dan syari’atnya secara tekstual. Kita tidak pernah mencoba berpikir secara kontekstual dan menyelam sampai ke inti dasar dari setiap ibadah yang kita lakukan. Inti dasar itu berada pada jiwa yang darinya memancarlah cahaya kesadaran akal pikiran. Padahal, istilah fiqih itu semestinya merujuk pada pemahaman hati, bukan akal pikiran. “…Lahum quluubul laa yafqahuuna bihaa…” (mereka punya hati, tetapi tidak berfiqih (tidak digunakan untuk memahami).

Pada setiap ritual ibadah syar’iyyah, ada spirit yang mendasarinya. Spirit itu muncul sebagai kesadaran yang memiliki daya dorong untuk berontak dan keluar dari hal-hal yang mengikat diri kita. Pemberontakan dalam diri itu harus muncul dengan tekad, bahkan seolah-olah justru menentang ajaran agama. Padahal, kita hanya ingin membuktikan; seperti apakah Allah memberi rizky kepada hamba-Nya, apa yang dimaksud Wujud yang tiada wujud lain selain-Nya, bagaimana memformulasikan hubungan Pencipta dengan ciptaan. Nah, hal-hal yang menggelitik ini memicu pemberontakan dari dalam diri. Artinya, harus benar-benar berjuang untuk keluar dari kungkungan nafsu yang melemahkan dan melecehkan kita.

Pada akhirnya, kepribadian yang terbangun dari perjuangan itu melahirkan sikap toleran, kasih sayang, penuh pengertian, empati dan peduli terhadap segala kesusahan manusia. Subhanallah, itu tidaklah mudah. Benarlah kiranya Sayyidinaa Abu Bakar r.a., sering menangis dan tertawa sendiri. Karena citra dirinya telah menyaksikan kebodohannya sendiri di masa lalu.

Apa yang terjadi pada Sayyidina Abu Bakar r.a., bisa terjadi pula pada setiap orang. Aku sendiri pernah mengalami dan merasakan rintihan jiwa yang seperti itu. Kadang aku suka menangisi banyak orang yang kesusahan dan masih berkutat pada persoalan-persoalan keduniaan. Aku menangisi orang-orang yang masih terjebak dan terbelenggu oleh hawa nafsunya. Aku juga pernah menangisi orang-orang yang kaya raya dan sombong dengan kekayaannya. Seolah ingin kubelah dada ini dan kubagikan pada setiap orang. Agar mereka mengerti bahwa disinilah jalan keluar, di dalam dada ini ada sebongkah kebahagiaan yang tak terbahasakan. Di sini ada banyak solusi dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Rintihan ini muncul begitu saja, tanpa direka-reka dan disangka-sangka. Ia mengalir dalam darah dan membangun kepribadian. Sepertinya diri ini terlahir kembali dengan pandangan-pandangan yang baru. Akal pikiran kita terasa ringan, tak ada tekanan dari beban-beban kehidupan.

Hal ini tidak muncul dari akal pikiran. Justru akal pikiran tidak mampu merubah dan membangun kepribadian. Akal pikiran tidak mampu memaksa kita untuk menjadi orang kuat yang memiliki kepribadian. Semua itu sebuah anugerah yang muncul dari dasar hati yang prosesnya terjadi begitu saja. Ternyata, tanpa sadar aku telah melewati suatu fase dimana nafsu sudah tidak lagi berada di kepala, tapi ia meresap dan tenang ke dasar hati. Barangkali, ini yang dinamakan mekanisme ruhani yang mengajarkan kita untuk toleran terhadap siapapun dan apapun. Tak terbatasi agama, suku, negara, bahasa dan lain-lain. Semua itu berlangsung begitu saja, tanpa ada rekayasa pikiran yang terlalu dibuat-buat dan direka-reka.

Lalu, bagaimana setelah itu? Jawabnya, ya biasa saja. Hidup menjadi lebih ringan, penampilan biasa saja, mengerjakan sesuatu dengan lapang, tidak ada yang menuntut kita untuk mengharuskan diri menjadi ini dan itu, keadaan pun tidak mesti dituntut untuk menjadi begini dan begitu. Hal ini bukanlah pesimisme atau skeptisisme yang memperdaya. Kuncinya adalah, kehausan diri akan ilmu tak pernah terpuaskan. Ia menjadi sebuah dorongan yang sangat kuat, sehingga rasa jiwa ini seolah menjadi penentu untuk menampung banyak orang. Kehausan akan ilmu bukan untuk dieksploitasi demi produktifitas kebendaan. Ia istiqomah pada khiththahnya, sehingga penampilan jasadi menjadi tidak penting. Karena mekanisme ruhani sudah menata penampilan tersebut.

Kasih sayang tulus terserap di dalam keluarga, lingkungan, masyarakat, bahkan negara. Karena jiwa ini seolah telah “dibeli” oleh Allah dan menjadi keharusan untuk berbuat sesuatu demi keadaan diri kita di hadapan Allah, bukan demi lingkungan itu sendiri. Karena sesungguhnya, keluarga, lingkungan, masyarakat dan negara dengan sendirinya telah tertata melalui mekanisme ruhani yang muncul dari para pecinta. Meski dalam realitanya dilakukan oleh orang-orang yang kapable pada bidangnya.

Pada keadaan ini, Sang Cinta telah menjadi cahaya spirit bagi penataan mekanisme-mekanisme, sehingga proses penataan yang dialami lingkungannya menjadi lebih lembut, tidak radikal dan tidak menyakitkan. Cahaya Sang Cinta telah menjelma kepada para pecinta dan memancarkannya hingga menembus batas-batas akal. Ia sebenarnya tak mau, bahkan takkan pernah mau berhenti untuk menjadi pelita bagi sub-sistem pada sebuah mekanisme besar. Mekanisme itulah yang dikatakan seperti urat nadi yang mengalirkan darah kecintaan hingga sekujur tubuh alam semesta telah menjadi Sang Cinta yang telah menjelma menjadi para pecinta. Sang Cinta dengan para pecinta menjadi tak berbatas. Jasadnya sendiri telah menjadi bagian dari mekanisme mengalirnya kecintaan bagi kehidupan para pecinta.

Ana man ahwa wa man ahwa Ana

“Aku adalah dia yang mencinta dan siapapun yang mencinta adalah Aku”
(Hadits Qudsi).

Iklan

Filed under: Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 123,966 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: