Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Perjalanan Menuju Allah

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada Dalam Melihat Permasalahan


Perjalanan Menuju Allah

Muhammad Bagir, MA

Perjalanan menuju Allah merupakan perjalanan yang sangat panjang yang penuh harapan, yang tidak ada batasnya, karena tujuan dan harapannya adalah Allah Swt. Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mencari wasilah yang akan menyampaikan kita kepada-Nya. Allah Berfirman:

Hai orang-orang beriman, patuhlah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya.” (Al-Ma’idah:80)

orang-orang yang berdo’a itu mencari wasilah kepada Tuhannya.” (Al-Isra’:57).

Seorang ‘Arif terkenal dunia Islam, menjelaskan mengenai Tiga wasilah yang beliau gunakan dalam perjalanan menuju Allah, yakni, hajat (kebutuhan), Do’a (permohonan) dan al-hubb (kecintaan).

Wasilah pertama adalah Hajat (kebutuhan) yang menjadi sebab diturunkannya rahmat Allah Swt, meski Allah telah melimpahkan rahmat-Nya atas seluruh mahkluq-Nya, manusia, binatang dan tumbuhan tanpa diminta. Di saat manusia kehausan, Tuhanlah yang memberinya air. Di saat mereka lapar, Dialah yang memberinya makan. Di saat mereka telanjang Dia-lah yang memberinya pakaian.

Jika aku sakit, Dialah yang mengobati aku.” (Syu’araa’:80)

Bahkan Allah akan memberi orang-orang yang tidak mengenal-Nya, yang tidak tahu bagaimana meminta dari-Nya dan tidak tahu apa yang akan diminta dari-Nya. Ungkapan kebutuhan senantiasa berhubungan dengan rahmat dan karunia Allah. Rahmat Allah turun di saat manusia memerlukannya. Laksana air turun ke tempat yang rendah. Ini semua, karena Allah Maha Pemurah semata.

Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa ungkapan hajat (kebutuhan) adalah wasilah yang dapat menurunkan rahmat Allah Swt dan dikabulkannya do’a, seperti Nabi Ayyub as yang memanggil Allah Swt yang hidup penuh penderitaan dan cobaan.

Dan ingatlah Ayyub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, sesungguhnya penyakit telah menimpaku, dan Engkau paling penyayang di antara para penyayang.’ Lalu Kami perkenaan permohonannya. Kami hilangkan penyakit yang ada padanya. Kami kembalikan kepadanya keluarganya dan Kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai belas kasih dari Kami dan peringatan bagi para penyembah Allah. “(Al-Anbiya: 83-84)

Lihatlah juga bagaimana Nabi Musa as dan Harun as yang menyebut kelemahan dan ketakutannya dari Fir’aun ketika Allah Swt berfrman :

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya Dia telah melampaui batas. Maka berkatalah padanya dengan kata-kata lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut. Mereka berdua berkata,”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir ia segera menyiksa kami atau bertambah melampaui batas”. (Thaha 43:45).

Nabi Musa as dan Harun as tidak meminta untuk diselamatkan dari kekejaman fir’aun dan menjamin keamanannya, melainkan mereka menyebutkan kelemahan dan ketakutan mereka dari fir’aun, dan Allah mengabulkan hajat mereka dengan memberi bantuan dan dukungan melalui firman-Nya :

Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.”(Thaha:46)

Wasilah kedua adalah Do’a (Permohonan) merupakan kunci Rahmat Allah Swt, Allah Swt berfiman :

Berdo’alah pada-Ku, niscaya Kukabulkan.

Allah memerintahkan kita untuk memohon padanya ketika kita mempunyai kebutuhan, Allah swt berfirman :

Dan Ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah swt berfirman: “Sungguh Aku akan menjadikanmu seorang imam(pemimpin) bagi seluruh manusia’. Ibrahim memohon: ‘Juga dari keturunanku’, Allah berfirman: ‘Janjiku ini (kepemimpinan) tidak akan mengenai orang-orang yang zalim”. (Al-Baqarah : 124)

Allah Swt menganugerahkan kepada Nabi Ibrahim as kepemimpinan bagi seluruh umat manusia, dan janji Allah dengan permohonan Nabi Ibrahim as mengenai keturunannya menjadi pemimpin telah menjadi bukti sejarah yang tak dapat dipungkiri, seperti Nabi Ishaq, Ya’qub Yusuf, Musa, Harun, Isa dan Muhammad Saw merupakan pemimpin-pemimpin besar di zamannya, masih banyak lagi di antara para NAbi merupakan keturunan Nabi Ibrahim as, sebuah riwayat mengatakan ribuan di antara Anbiya (para nabi) merupakan keturunan Nabi Ibrahim as. Permohonan membutuhkan tenggang waktu yang lebih panjang, berbeda dengan hajat (kebutuhan) yang langsung Allah kabulkan.

Wasilah ketiga adalah al-hubb (Cinta), Cinta dilandasi oleh pengenalan (makrifat), cinta hanya memiliki satu tujuan, dan tidak memiliki maksud selain untuk mencintai “objek” yang dikenal atau dicintai. Melalui cinta, seorang hamba Allah dapat menurunkan rahmat Allah Swt yang tidak dapat diturunkan dengan wasilah lain. para pecinta selalu waspada dalam hidupnya, mereka tidak pernah lengah. Para pecinta tidak mengeluh karena cinta mereka, melainkan tidak mampu menahan dirinya untuk berjumpa dengan dambaan kasih. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt berfirman kepada hambanya :

Sesungguhnya ada hamba-hambaku yang mencintai-Ku dan Aku mencintai mereka. Mereka merindukan-Ku dan Aku merindukan mereka. Mereka memperhatikan-Ku dan Aku memperhatikan mereka. Jika kamu menempuh jalan mereka maka Aku akan mencintaimu. Jika kamu berpaling dari mereka, Aku akan murka padamu.

Berbeda dengan hajat dan do’a, cinta merupakan sebuah pengorbanan, cinta tidak meminta balasan melainkan hanya kedekatan. Ketika seorang hamba mencintai Tuhannya dengan cinta yang sejati, maka ia akan merasakan kelezatan bermunajat dan berdzikir di tengah keheningan malam, yang tidak didapati di siang hari. Ketika seseorang menyatakan cinta, maka orang tersebut akan mengorbankan segenap yang dimilikinya bagi dambaan kekasih yang dicintainya, ketika orang beriman telah mengorbankan dirinya kepada Tuhan, kenapa dia mesti memperhatikan adanya bencana dan bahaya atau perhatian terhadap dirinya sendiri, ketika ia pergi menuju Tuhan, maka segala sesuatu tidak berarti melainkan Tuhan, tangan kaki dan sebagainya adalah alat yang diberikan Tuhan sebagai sarana mewujudkan cinta. Saya akhiri tulisan ini dengan salah satu di antara wahyu Allah Swt kepada Nabi Musa as :

Adalah berbohong orang yang mengaku mencintai-Ku, tetapi dimalam hari tidur melupakan-Ku. Hai anak Imran, kalau kamu lihat orang-orang yang bangun di tengah kegelapan malam, sungguh Aku berada di hadapannya. Mereka mengajakku berbincang, padahal Mahatinggi Aku untuk dapat disaksikan. Mereka berbicara kepada-Ku, padahal Mahamulia Aku untuk dapat ditemui. Hai anak Imran, berikan kepada-Ku cucuran air matamu dan kekhusu’an hatimu. Panggillah Aku di kegelapan malam, akan kamu dapati Aku dekat (darimu) dan menyambut (panggilanmu).” (Hadist Qudsi)

Wallahu ‘a’lam bis showab, wassalamu alaykum wr., wb

Filed under: Agama

One Response

  1. Rayyan mengatakan:

    Sungguh luar biasa..
    Allahu Akbar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: