Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

KEHENDAK JIWA

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada Dalam Melihat Permasalahan


KEHENDAK JIWA

Ahmad Baihaqi


Terkadang jiwa yang ingin kembali ini memunculkan perasaan sia-sia untuk tetap melakukan perubahan-perubahan bagi diri jasadi. Ia gamang, bosan dan klimaks setiap kali melakukan sesuatu dalam dimensi ruang dan waktu. Semua penampakan menjadi tidak utuh,  tidak menimbulkan motivasi, dan tidak menimbulkan kenikmatan. Keinginan kembali bagi jiwanya semakin membara. Ia semakin asing pada penampakan yang sama sekali tidak diinginkannya.

Tuhan, tidakkah begitu cepat luapan jiwa ini menjadi irama bagi diri yang belum mengerti tentang apapun?

Tuhan, bahkan akupun tidak mengerti apakah ini suatu siksaan atau kenikmatan?

Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana kehendakMu memainkan perasaan ini hingga tak ada lagi “segala sesuatu”?

Kadang rasa lelah pada pikiran ini memunculkan kepasrahan total. Lalu ia bawa perasaan ini melintasi berbagai negeri, zaman dan keadaan. Ia hanya ada dalam perasaan yang muncul seperti kilas mimpi. Tak ada masalah bagi jarak dan perbedaan masa. Semua konstan dan tak beraturan.

Kehendak jiwa tak bisa dipertahankan keajegannya. Ia aktif bak radar yang sedang bekerja menangkap sinyal yang masuk dalam radius gelombangnya. Kadang sedih, sunyi dan terasa asing. Kadang gembira ria, ramai dan beraneka rasa. Kadang datar, landai dan biasa saja. Tak ada rasa yang ajeg, tetap dan mapan. Setiap saat berubah, berbolak-balik, maju mundur, naik turun. Yah, cukup melelahkan.

Kehidupan dari rasa jiwa yang muncul seperti ini ternyata semakin menampakan batasan-batasan mekanismenya. Meski ia tidak punya keajegan gerak, namun kecendrungan akibat dari rasa yang timbul akan semakin bisa diraba dan dirasa. Namun, itupun jika tidak berlama-lama meratapi keadaan yang diakibatkan oleh kehendak jiwa. Dan aku sadar bahwa itu adalah kelalaian.

Ya Tuhan, berikanlah aku kenikmatan di setiap perubahan pada kehendak jiwa.

Telah kusadari, bahwa kehilangan rasa nikmat dari setiap perubahan kehendak jiwa adalah sebuah kelalaian yang membelenggu. Semakin dibiarkan, ia akan cendrung menyesatkan. Semakin diikuti, ia seperti minuman yang memabukkan. Melepaskannya adalah menimbulkan rasa kenikmatan disetiap perubahanya. Disinilah keajegan itu mucul dan harus dipertahankan.

Jika mampu dideteksi, kehendak jiwa tidak akan membuat diri menjadi lemah dan lalai. Ia akan memunculkan daya gerak dan menjalankan mekanismenya sendiri. Ia selalu membuka ruang bagi kesadaran yang mengajarkan akal pikiran untuk mengenal segala sesuatu hingga mencapai titik akhir. Titik akhir ini adalah sebuah batas bagi kesadarannya, karena ia bukanlah keluasan haqiqi. Keluasan haqiqi yang tanpa batas justru melampaui kesadaran bagi akal pikiran. Barangkali ini yang disebut sebagai rasa tertinggi.

Mekanisme kehendak jiwa tidak terbaca lantaran ia telah keluar dari unsur-unsur akal. Sehingga tak bisa dijelaskan dan dibahasakan. Oleh karenanya, ia selalu menuntut kesiapan untuk perubahannya.

Kehendak jiwa yang dapat dirasa adalah sebuah amanat Tuhan yang pencapaiannya telah dituntun dan diajarkan dalam agama. Tempat yang menjadi rumah bagi jiwa yang berkehendak disebut juga dengan Qalbu, Ka’bah atau Bayt. Bolehlah agama menyebutnya demikian. Namun, yang lebih penting dari itu, bahwa fakta dari kehendak jiwa sangat tidak mudah untuk dirasa.

Bisa saja, tuntunan agama, baik berdasarkan Qur’an dan Hadits, telah membuat kesimpulan yang dirangkum dalam kaedah-kaedah Iman, Islam dan Ihsan. Tapi tuntunan tersebut masih sangat-sangat tekstual, sehingga sulit dimengerti. Aku sendiri sering melihat, mendengar dan merasakan sebuah pemahaman dari seseorang yang memahami teks tuntunan tersebut. Namun, aku menjadi kurang tertarik pada setiap pemahaman itu dan semakin merasa gersang dalam memahami tuntunan agama, ketika pemahaman itu selalu saja mengalami benturan-benturan yang tanpa disadari tidak mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan zaman.

Dunia dan akhirat terletak pada akal pikiran. Istilah dunia yang kupahami dari teks agama adalah suatu kebendaan yang mengikat. Sedangkan istilah akhirat adalah sesuatu yang lepas dari ikatan kebendaan itu. Makna kebendaan yang dimaksud di sini hanya berada pada pikiran kita. Melepaskan ikatannya bermakna membebaskan pikiran dari penampakannya yang membuat kita termotivasi untuk memilikinya. Pemahaman ini terus kurajut hingga membentuk jawaban-jawaban yang saling berkaitan pada setiap permasalahan. Terbangunlah sebuah konsistensi pemahaman yang utuh dan berkesinambungan.

Pertanyaannya, bagaimana sesuatu yang telah lepas dari unsur-unsur kebendaan, kemudian dituntut untuk fokus pada kehendak yang tak terbaca secara akal, sementara ia berimplikasi pada perasaan-perasaaan? Ya Tuhan, ini bukanlah sesuatu yang mudah.

Nabi Muhammad saw bukanlah orang gila (sebagaimana kita yakini bersama), tapi reaksi senyum tulus ketika beliau diludahi oleh kaumnya, bukanlah sikap yang mudah dimengerti. Reaksi senyum mungkin masih bisa dilakukan oleh siapapun, tapi ketulusan yang menjadi ruh dari senyum itu sangat tidak mudah untuk dipahami. Sisi kehendak jiwa pada fenomena tersebut sepertinya tak terjangkau. Karena, bisa saja kehendak jiwa tidak mereaksikan senyum, tapi kemarahan. Tentu saja kemarahan yang dimaksud adalah kemarahan yang tulus. Persolannya, karena kehendak jiwa tak terbaca,  maka rasa nikmat itu menjadi sulit  muncul pada perubahan reaksi yang spontan.

Meski begitu, aku tetap menaruh keyakinan pada perjalanannya. Sebab, berapa banyak dari perubahan sikap yang kita alami berjalan begitu saja tanpa direka-reka dan disangka-sangka. Dan ternyata itupun sebuah kesadaran yang tak disangka-sangka pula.

Rasa jiwa ini terkadang membawa perasaan ke setiap kondisi zaman. Ia masuk dan menempati perasaan-perasaan setiap orang. Seolah ia menjadi pelaku bagi situasi di zaman itu. Perasaan-perasaan yang beraneka macam itu muncul begitu saja tanpa bisa dicegah. Ini juga hal lain yang sulit dipahami.

Alhasil, gerak jiwa ini membuat keterkejutan bagi akal. Ia lelah terhadap kehidupan ini. Hanya satu yang didambakannya; “Kembali”. Keterlepasan penjara dunia menjadi dambaan dan kemerdekaan paripurna. Jika bukan karena keinginan untuk kembali dianggap sebuah dosa dan skeptisisme, maka kenikmatan pada proses ini akan menggiring manusia untuk segera meninggalkan dunia fana ini.

Dalam hal-hal tertentu terkadang kita merasakan sesuatu yang mungkin orang lain juga merasakannya. Perasaan yang sama ini bagi setiap manusia adalah sebuah tanda bahwa tak ada perbedaan perasaan di antara kita. Perbedaan hanya berada pada penyebutan saja (asma). Perbedaan penyebutan itu menampilkan bentuk dan kebendaan. Lalu kita terjebak pada bentuk dan kebendaan itu, hingga membuat dunia menjadi ramai dengan perbedaan perbedaan. Penampakan menjadi berbeda dan perbuatanpun menjadi berbeda. Segala sesuatu yang diperbuat manusia juga menjadi berbeda. Padahal inti rasanya tetaplah sama. Lalu bagaimana memahami perasaan yang sama pada bentuk-bentuk dan penampakan yang berbeda?

Kehendak jiwa telah menjelma menjadi bentuk dan perbuatan yang berbeda. Sungguh ia telah menjadi sesuatu yang sangat memusingkan, ketika banyak orang terjebak pada penampakan-penampakan yang berbeda. Motivasi dan tujuan hidupnya hanya untuk perbedaan-perbedaan. Ia berjuang mati-matian hingga akhirnya mati demi untuk perbedaan-perbedaan, sungguh ironi. Padahal kehendak jiwa yang berada pada dirinya yang paling dalam tidak ada perbedaan sama sekali.

Jika kita pahami, kehendak jiwa membentuk satu kesatuan mekanisme yang sebetulnya saling berkaitan satu sama lain. Ia tidak saling berbenturan, tapi masing-masing berjalan dengan teratur. Saling bekerjasama untuk membangun dan menegakkan suatu mekanisme yang lebih besar. Seperti sebuah Negara dengan berbagai atribut yang menjalankan tugasnya masing-masing. Atribut-atribut yang disebut departemen dengan tugasnya masing-masing itu telah menjadi penentu untuk tetap berdiri dan berjalannya Negara. Hanya dengan menentukan sebuah orientasi dasar, setiap departemen harus menjalankan fungsinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara yang bersangkutan.

Mekanisme besar yang menaungi mekanisme-mekanisme kecil adalah sebuah fakta bahwa keteraturan itu telah dibentuk bukan untuk berbenturan tapi untuk sebuah tujuan agar sesuatu yang masuk dalam mekanisme itu mampu mencapai derajat yang tertinggi. Tujuan itu adalah semulia-mulianya tujuan. Produktifitas mekanisme begitu akurat sehingga takkan keluar dari fungsi yang telah diamanahkan. Seperti juga mesin pabrik yang mencetak suatu produk. Jika ada yang gagal dalam proses produksi, maka ia tidak akan mencapai tujuan sebagai manusia sempurna yang diharapkan produktifitasnya.

Manusia sempurna bukanlah sebutan untuk sosok jasadi dengan berbagai atribut nafsunya. Pada sisi jasadi, tak ada manusia yang mencapai kesempurnaan paripurna. Atribut nafsu telah membawa manusia kepada keterpurukannya. Namun, bukan berarti nafsu tidak berguna sama sekali. Kenaikan manusia dengan derajat yang mulia, justru ketika ia berhasil menempatkan nafsunya sesuai fungsinya. Di sisi ini, nafsu menjadi sub-bagian dari kesatuan mekanisme yang besar. Manusia sempurna adalah cermin kehendak jiwa yang kesuciannya memunculkan sebuah mekanisme untuk mencetak produk-prododuk baru. Tangan adalah sebuah mekanisme. Kaki juga merupakan sebuah mekanisme. Mulut, mata, kuping, hidung, kulit, organ dalam, dan lain-lain, merupakan mekanisme-mekanisme yang saling berkaitan satu sama lain. Bahkan tubuh secara utuh pun terikat dengan sebuah mekanisme alam semesta yang lebih besar. Semua itu menjadi kesatuan yang tak terbatas.

Seluruh mekanisme tersebut telah tunduk pada sebuah kehendak yang tak terbaca secara akal. Bukan karena bentuknya yang tak terlihat, tapi karena geraknya yang tak terduga. Akal hanya bisa menterjemahkan dengan praduga yang tak pasti. Ia hanya menerima sinyal-sinyal secara acak. Kilasan-kilasannya seperti mimpi yang tanpa batas waktu. Geraknya seperti cahaya yang tidak bisa diterjemahkan secara akal, karena telah keluar dari dimensi ruang dan waktu.

Ya Allah… Maha Suci Engkau, tiada ilmu bagi kami, kecuali yang telah Engkau ajarkan, Ridhoilah aku si pendosa ini, ampunilah aku, berikan aku pengetahuan tentang cara mengenal mekanisme dengan benar. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui….

Filed under: Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: