Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Apa yang Dibutuhkan oleh Pejalan (Bagian 2)

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan

Apa yang Dibutuhkan oleh Pejalan

(Bagian 2)

Syeikh Ibnu Arabi

Sahabat…

Merenungkan nasihat Syeikh Al-Islam Muhyiddin Ibnu Araby memang membuat kita menjadi hati-hati dalam menjalani suluk. Berikut kami sajikan kelanjutan dari bekal yang pertama. Marilah kita tafakkuri bersama…

TIGA

Ibnu Arabi-1Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia – yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.

Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Indikator/ aturan perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.

Bukankah manusia merupakan pelayan-Nya? Tiada sedikitpun bagian dari kehidupannya yang tidak bertujuankan Allah. Allah Satu-satunya Yang membatasinya. Kehendaknya, kebebasan pilihannya, dan takdirnya tertulis di dahinya, dimana Tangan Sang Kuasa berada di atas segala kehendak dan perilakunya. Allah lah tempat segala sesuatunya bergantung.

Hadits Nabi Muhammad saw., “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat shaleh maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim. “ (TQS.42:40)

Ayat al-quran di atas menyatakan bahwa ketika kita disakiti, kita boleh membalasnya dengan hal serupa atau membiarkannya saja dengan memberikan maaf, tidak membalas, sehingga kita nanti dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang dicintai, selamat, dan benar sebagai Janji Allah.

Salah satu dari poin akhlak yang baik adalah marah dan memberikan hukuman yang adil benar (‘adil bilhaqq) sesuai hukum agama. Kemarahan dan manifestasinya (hukuman dll) merupakan dosa besar jika dilakukan berdasarkan hawa nafsu pribadi. Pergunakan marah kepada seseorang yang menantang Allah. Merupakan hal terbaik memisahkan diri dari orang-orang yang tidak sekeyakinan denganmu, yang tidak berusaha melaksanakan syariat agama dan tidak berusaha melaksanakan kebenaran, dan yang menjelek-jelekkan iman dan agamamu. Tetapi, engkau tetap tidak boleh membalas mereka dengan menjelek-jelekkan mereka. Tugasmu adalah menghindari mereka, ke luar dari barisan/ perkumpulan mereka dan masukilah sekumpulan orang-orang beriman. Habiskan waktumu dengan berzikir, memuliakan Allah dan mengabdi kepada-Nya alih-alih menghabiskan banyak perdebatan dan kekesalan bersama mereka. Layani, rawat dengan baik orang-orang yang membutuhkanmu: para pekerjamu, anak-anakmu, istri atau suamimu, ibu dan ayahmu, sanak saudaramu, teman-temanmu, dan hewan peliharaanmu, juga tanamanmu. Allah memberikan mereka semua kepada tanganmu hari ini untuk mengujimu. Engkau berada dalam perawatan-Nya. Layani dan rawat mereka sebagaimana Engkau menginginkan Al-Ahad melayani dan merawatmu.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Segala ciptaan bergantung kepada Allah.” Dia Allah memberikan amanah tanggungan berupa keluarga dll ke dalam tanganmu. Karena itu mengapa Rasul-Nya saw. berkata, “Dia yang paling dicintai Allah adalah dia yang memberikan pelayanan dan perawatan terbaik kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya.”

Tunjukkan cinta, kasih sayang, kepekaan/ empati/ simpati, kemurahan hati, dan perlindungan kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Jika engkau sebenar mengharapkan cinta kasih sayang Allah dan perlindungan-Nya, ingatlah bahwa sepenuhnya engkau bergantung kepada-Nya Al-Ahad, Tuhan dan Pemilik jagat raya dan seisinya.

Ajarkan kata-kata Allah yang terdapat dalam kitab suci-Nya dan akhlak mulia kepada anak-anakmu. Buatlah kondisi pengajaran yang menyenangkan agar mereka dapat mempelajarinya dengan baik. Lakukan itu tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka.

Pertama : ajarkan kehati-hatian/ kewaspadaan, kesabaran, berpikir yang benar.

Kedua : hati-hati jangan sampai menempatkan cinta dunia di dalam hati mereka.

Ketiga: ajari mereka untuk tidak menyukai sesuatu yang dapat menumbuhkan kebanggaan: barang mewah, pakaian bagus, makanan lezat dan minuman enak, obsesi, ambisi; Biarkan anak-anakmu mendapatkan hal pertentangan dari semua itu. Patahkan keinginan-keinginan mereka. Sesungguhnya semua hal itu akan menggiring kepada akhlak yang buruk. Sadarilah sebenar sadari hal ini. Sederhanalah, karena Kesederhanaan akan menjauhkanmu dan anak-anakmu dari akhlak yang buruk dan mendekatkan kepada akhlak mulia. Sederhanalah, lakukan dengan sebenar khusyuk dan mendekatlah kepada Allah dengan jalan-jalan ad-diin (al-iman, al-islam, al-ihsan).

Jangan berdekatan dengan mereka yang tidak mencari Allah, mereka yang menjadi budak dari keinginan-keinginan (hawa-nya nafs) dan syahwat mereka. Hati mereka jauh dari cahaya kebenaran dan mereka dilemparkan masuk ke dalam lubang kegelapan nyata, sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada hati mereka. Jika engkau sedang berada bersama mereka, hadapi mereka dengan baik dan berilah nasihat seperlunya. Jika mereka malah menyakitimu, hal itu dikarenakan mereka tidak mengerti. Jangan membalas mereka kembali. Bagaimanapun bentuk perlakuan mereka kepadamu, sesakit apapun yang mereka berikan, tetaplah engkau berperilaku baik. Hingga kemudian saatnya nanti mereka pun menjadi suka dan menghormatimu, dan barangkali pada suatu saat nanti mereka yang tadinya menyerangmu malah mengikutimu.

Jangan pernah merasa puas dengan tingkat spiritualmu; mikraj-lah terus. Mikrajlah dengan penuh kehati-hatian, tanpa pernah berhenti.ayatullah-khomeini sdg shalat Melalui shalat yang sebenar ditujukan bagi Allah, Al-Haqq, akan membawamu kepada suatu keadaan yang akan memperkokoh kedirianmu. Dalam setiap tingkatan, dalam setiap pergerakan/ perjalanan, sedang melakukan sesuatu atau diam, selalulah jujur dan penuh iman. Selalulah bersama Al-Haqq. Jangan pernah sekalipun melupakan-Nya. Rasakanlah Kehadirannya, selalu.[]

EMPAT

Belajarlah untuk memberi, baik ketika engkau sedang lapang maupun sempit, sedang bahagia maupun berduka. Berusahalah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Hal itu akan membuktikan keimananmu kepada Allah. Akan membuktikan bahwa Allah memang telah menetapkan rezeki tiap orang dan penetapan tersebut tidak akan tertukar.

Seorang kikir adalah seorang pengecut. Setan terkutuk berbisik di dalam telinganya bahwa kematianmu masih lama; bahwa dunia ini penuh musuh dimana jika engkau memberi, maka engkau akan menjadi miskin, tidak dihargai dan dihormati orang, dan sendirian; adalah suatu kebodohan memberi banyak kepada orang lain, karena tiada seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Pada seorang berkeadaan sempit, setan mengatakan padanya bahwa ia akan semakin miskin jika memberi kepada orang lain. Tidak ada yang akan menolongnya, dan ia mungkin hanya akan menjadi beban bagi orang lain dan dibenci pula. Kalau begitu ia harus menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan menjadi lebih miskin. Jika bisikan-bisikan setan menawan hatinya, maka ia akan digiring ke tepian api neraka. Sebaliknya, seseorang yang membuka telinganya kepada bisikan-bisikan Allah adalah seseorang yang sedang mendengarkan kata-kata yang penuh berkah, yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya.

“Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS.42:9)

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (TQS.47:38)

Makna ayat di atas: setelah diajak, diajari, dan dibawa kepada jalan iman, jika engkau mulai atau masih terus menjadi kikir, maka engkau akan kehilangan kedudukanmu, tingkatanmu, dan kasih sayang Allah. Sebaliknya, bagi siapa yang pemurah dan yakin di dalam kepemurahan Allah, akan di bawa kepada kedudukan yang kokoh.

Seseorang yang kikir tidak memahami maksud dari ancaman-ancaman Allah.

“Musa berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih’.” (TQS.10:88)

Ayat di atas merupakan doa Nabi Musa as bagi Fir’aun. Ketika Allah berkehendak menghancurkan Fir’aun dan para pembesar, Nabi Musa as berdoa kepada Allah, Sang Hakim mutlak, kutukan karena kekikiran. Efek dari kutukan itu mengena kepada semua orang Mesir kikir dan pendengki. Mereka mati dalam keadaan miskin dan kelaparan.

Seseorang yang dikutuk karena kekikirannya tidak mendengarkan kata-kata para Rasul Allah saw., yang berkata, “Allah memiliki dua orang malaikat yang berdoa setiap pagi, ‘Wahai, Tuhan kami, perbanyaklah anugerahmu atas orang-orang pemurah, dan ambillah milik orang-orang yang menyimpannya rapat-rapat!”

Pada suatu hari, ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. akan memberikan semua harta bendanya kepada Rasulullah Muhammad saw., ia pun ditanya Rasulullah saw., “Apa yang telah engkau sisihkan bagi keluargamu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab ketika memberikan setengah harta bendanya, ia pun menjawab pertanyaan yang serupa, “Aku meninggalkan setengahnya lagi bagi keluargaku.” Rasulullah Muhammad saw. berkata tentang mereka, “Perbedaan di antara kalian berdua adalah dalam hal merespon pertanyaanku.”

Seseorang yang memberi akan mendapatkan lebih dari Sang pemberi. Si kikir, selain berdosa karena kekikirannya, juga telah menuduh bahwa Allah kikir; ia lebih memilih harta bendanya sebagai pelindung dan pemberi bagi dirinya daripada Allah sang Pemurah. Merupakan dosa besar telah memprasangkai Allah sedemikian dan menyebabkan seseorang tertolak dari rahmat Allah dan kehilangan imannya. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari hal sedemikian. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Karena itu, simpanlah sekedarnya apa-apa yang telah Allah berikan kepadamu. Jangan pernah takut miskin. Allah akan memberikanmu apa-apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Tidak ada seorang pemurahpun yang akan dihancurkan dalam kemiskinan karena kepemurahannya.[]

LIMA

Jika engkau berharap untuk menemukan al-Haqq, kecintaan Allah, dan Dukungan-Nya, maka tinggalkanlah perilaku negatif, kendalikanlah sifat buruk dan kemarahanmu . Jika engkau tidak mampu untuk tidak marah, setidaknya jangan perlihatkan marahmu; maka Allah akan senang dan betapa setan akan kecewa kepadamu. Engkau pun akan mulai untuk mendidik egomu, menguatkan dan mendekatkanmu kepada Jalanmu. Kemarahan merupakan hasil dan sebuah tanda dari adanya ego yang tidak terkendali, bagaikan seekor hewan buas liar bebas tidak terkurung. Mengeluarkan marah, bagai tali kekang yang engkau buang dari atas kepalamu dan memasukkan banyak keburukan ke dalamnya. Jinakkanlah kepalamu, kau ajarkan bagaimana berpikir dengan benar, untuk taat kepada Allah, sehingga tiada orang lain yang engkau sakiti ataupun dirimu sendiri.

Begitu engkau berhasil mengekang pikiranmu, maka begitu menghadapi orang yang kehilangan kendali dirinya dan marah-marah kepadamu, maka engkau akan menghadapinya dengan tenang. Kau tidak akan bereaksi agresif pada penyerangannya. Kau tidak akan menghukum atau merespon perilaku negatifnya dengan kekasaran juga, melainkan kau abaikan saja. Mengabaikan lebih efektif daripada membalasnya. Barangkali ia akan melihat akibat-akibat dari perbuatannya, akibat dari kemarahannya, menyadari hal benar – salah, dan akhirnya mengakui kesalahannya.

Perhatikanlah saran-saran tentang pengendalian marah ini dan jadikanlah sebagai karakter dirimu; maka tentu engkau akan memperoleh hasil dan ganjaran positif di dunia maupun di akhirat. Timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah, Dia akan menghukummu. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?

Allah akan memperlakukanmu sama dengan perlakuanmu terhadap orang lain. Jadi berusahalah untuk memiliki kualitas perilaku yang baik: pendamai, penolong, lemah – lembut, dan penuh cinta. Dengan perilaku tersebut, berjama’ahlah. Engkau akan melihat bagaimana perilaku tersebut akan merahmati sekelilingmu, menciptakan harmoni, cinta – kasih, saling menghargai dan menghormati. Sang Kekasih Allah, Nabi Muhammad saw., memerintahkan kita untuk saling mencintai satu sama lain dan memelihara hubungan silaturahiim. Betapa Rasulullah Muhammad saw. mengulang-ulangi perintah ini dalam banyak cara, dalam banyak pernyataan. Untuk meninggalkan kemarahan, gantilah ia dengan penderitaan menahannya, memaafkan, dan tetap saling menjaga dan memperhatikan orang yang menyakiti. Kesemuanya merupakan, menjadi pilar dari tumbuh dan berkembangnya cinta.

Bukalah hatimu lebar-lebar, luaskanlah agar mampu menerima Rahmat Allah. Sebuah hati yang terahmati menjadi cermin manifestasi Allah. Ketika manifestasi Allah muncul dan datang melaluimu, begitu kau merasakan Kehadiran-Nya, maka kau akan malu ketika berperilaku salah. Hal itu akan menyebabkan antara engkau dan orang lain memiliki keterhubungan hati. Rahmat-Nya pun akan melindungimu dan orang lain dari dosa.

Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad saw., “Apakah yang dimaksud dengan Rahmat Allah?” Nabi Muhammad saw. menjawab, “Shalat dan mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau berada di Dalam Kehadiran-Nya, seolah-olah engkau melihat-Nya.” Rasa menghormati Allah terefleksi di dalam hati seorang mukmin yang mencapai level demikian.

Lalu Nabi Muhammad saw. melanjutkan, “Bagi engkau yang tak mampu melihat-Nya, yakinilah Dia tentu mampu melihatmu.”

Seorang mukmin yang mencapai level Rahmat Allah akan memiliki hati nurani. Dia akan merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasinya sehingga membuatnya malu untuk berbuat dosa. Nabi Muhammad saw. berkata lagi, “Memiliki hati nurani adalah kebaikan sempurna.” Jika seorang mukmin memiliki hati nurani, ia akan menyadari apa yang ia lakukan dan ia tidak boleh melakukan kesalahan. Seseorang dengan hati yang dipenuhi Allah, maka hawa nafsunya tak akan membahayakannya baik ketika ia berada di dunia maupun di akhirat nanti. Tanda-tanda seseorang yang sudah memiliki hati nurani, yaitu: berkurangnya arogansi dan merasa diri penting; keduanya merupakan ego. Orang seperti itu tidak akan pernah mencoba atau berusaha untuk mendominasi atau menguasai seseorang. Semoga kalian semua mencapai level Rahmat Allah dan memiliki hati nurani, dan semoga kalian semua memiliki kekuatan dan pandangan tajam menuju Allah semata. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Bangunlah sebelum terbit matahari, berdzikirullaah lah, dan bertobatlah . Dosa yang disertai taubat akan menghapus dosa itu. Dosa akan hilang bagaikan tidak pernah terjadi. Ketika perilaku, shalat, dan ibadah lain disertai oleh taubat, maka hal itu bagaikan cahaya di atas cahaya, keagungan di atas keagungan. Mendzikiri Allah dan memuji-Nya akan menyatukan keterceberaian di dalam hati – seperti ratusan pecahan kepingan cermin – menambalnya, menjadikannya satu kembali, dan mengembalikan hati untuk focus kepada Al-Ahad. Lalu semua kejahatan pun meninggalkan hati, dan hati lalu dipenuhi dengan kesenangan senantiasa mendzikiri-Nya.

Ketika hatimu penuh melimpah dengan mendzikiri-Nya, lalu membaca al-Quran; refleksikanlah maknanya pada dirimu. Pada ayat-ayat yang menunjukkan ke-ahad-an dan kesempurnaan-Nya, pujilah Dia. Pada ayat-ayat yang menunjukkan berkah, anugerah, rahmat, dan cinta atau kemurkaan dan hukuman-Nya, berlindunglah dari-Nya di Dalam Diri-Nya dan mohonlah Rahmat-Nya. Pada ayat tentang kisah para nabi dan pengikutnya, benar-benar perhatikan dan ambillah pelajaran dari apa-apa yang terjadi kepada mereka. Memang Al-Quran sulit dimaknai karena memiliki makna samar hingga tujuh lapis, di dalam setiap katanya. Maknanya berubah sesuai dengan perubahan maqom dan ahwalmu, pengetahuan dan pemahamanmu. Karena itu, tidak mungkin kau akan pernah merasa lelah, lemah, atau bosan dalam membaca al-quran, dengan maknanya.[]

___________________

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘arabi

___________________

Sumber Naskah:

Notes FB dari sahabat Dwi Afriyanti Arifyanto, kami haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau dan semoga Allah merahmati mbak Dwi Afriyanti sekeluarga. Amin.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 117,295 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: