Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Renungan Makna Bathin Al-Fatihah dan Renungan Seputar shalat

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan waspada dalam melihat permasalahan

Renungan Makna Bathin Al-Fatihah dan
Renungan Seputar Shalat

Renungan Makna Bathin Surat Al-Fatihah

Oleh : Satria Pengging-Padepokan Pengging

Makna ini, adalah yang terinspirasikan di dalam sanubari….Dia memberikan ilham dan cahaya-Nya, untuk membimbing kita lewat Surat Al Fatihah…..

Bismillahirrohmanirrohiim……
Dengan Asma Allah yang Maha Penyayang…

Sesungguhnya….. semua yang terjadi di dunia ini dan dalam hidup ini, tak lain tak bukan merupakan perwujudan Nama-Nya.. Dunia dan kehidupan ini adalah buah Cinta-Nya kepada yang Dia ciptakan.

Setiap hembusan nafas..setiap gerak..setiap rasa..setiap kehendak….adalah anugerah Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kita..setitik debu yang hakikatnya adalah ketiadaan dan sekadar bayang-bayang keberadaan-Nya…Bismillah..sesungguhnya adalah kata-kata yang berdaya cipta….dengan menghayati kenyataan bahwa sesungguhnya kita hanyalah bayang-bayang-Nya..bahwa kita sekadar cerminan-Nya..sesungguhnya kita bisa memasuki keadaan di mana kita bisa menjadi seperti-Nya, sebagai wakil-Nya, khalifah-Nya, dengan sebuah anugerah luar biasa: kesempatan untuk menjadi mitra-Nya dalam penciptaan. Dia sesungguhnya telah mengijinkan kita untuk mempergunakan kekuatan pikiran, kehendak dan tindakan yang tak terbatas…sehingga apa yang kita pikirkan, kehendaki dan lakukan, terwujud menjadi sebuah ciptaan baru.

Bismillah..sesungguhnya juga sebuah peringatan bahwa tak layak kita bersombong diri..karena semua yang kita miliki adalah milik-Nya….

Menghayati bismillah dalam hidup, sesungguhnya membuat hidup kita menjadi penuh makna..dan dalam diri bisa muncul perasaan penuh daya (powerful)…karena kita hidup bukan untuk diri kita sendiri melainkan untuk-Nya, dan bahwa kita tak hidup sendiri, melainkan dalam naungan perlindungan dan bimbingan Dia Yang Maha Kuasa…

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin..
Segala Puji Bagi Allah Penguasa Alam Semesta

Karena sejatinya segala sesuatu adalah cerminan Nama-Nya, bayang-bayang-Nya, maka memang yang layak mendapatkan segala pujian adalah Dia sendiri..

Kecantikan kita, kepandaian kita, kebaikan akhlak kita, adalah milik-Nya….
Alam yang indah, hidup yang penuh warna, adalah anugerah-Nya…

Tapi mensyukuri bukan sekadar memuja dan memuji-Nya..melainkan juga menjalankan tugas kekhalifahan yang Dia sematkan kepada kita sebagai kemuliaan kita: Kita memberi nilai lebih pada anugerah-Nya…

Sebagai wujud penterjemahan hamdalah…kita ubah seonggok tanah liat menjadi tembikar…kita ubah tanah yang gersang menjadi kebun hijau…

Sebagai wujud syukur kita..maka kita gunakan daya pikir, kehendak dan kemampuan bertindak untuk mewujudkan semua hal baik yang Dia Kehendaki….

Arrohmanirrohiim..

Dia kembali mengingatkan kita..bahwa selayaknya kita hanya memuji-Nya, karena semua yang kita rasakan, nikmati dan alami adalah wujud kasih dan sayang-Nya….

Selanjutnya…..kita juga perlu sadar bahwa salah satu tugas manusia adalah mempercantik akhlak mereka, sehingga mereka bisa mencapai keadaan takhaluk bi akhlaqillah..Berakhlak dengan akhlak Allah….

Maka…sebagai wujud ikhtiar kita untuk menjadi hamba-Nya yang baik..kita perlu menjadi manusia yang paling pengasih dan penyayang bagi segenap makhluk di muka bumi…

Kita tebarkan cinta kasih secara tulus..kita berbuat kebajikan di manapun kita berada…..Kita berbuat adil karena dengan keadilanlah langit dan bumi bisa tetap tegak…

Ya..kasih sayang, perbuatan baik dan keadilan..kita tebarkan kepada siapa saja selama mereka adalah makhluk Allah..karena setiap makhluk-Nya adalah keluarga-Nya….tak peduli apa label dirinya: muslim, kristen, hindu, china, melayu, jawa, dan lainnya..semua adalah keluarga-Nya yang layak kita perlakukan dengan hormat….

Maliki yaum al din..
Dialah Penguasa Hari Kebangkitan…

Ya..memang Dialah yang memegang kunci rahasia hari kebangkitan..bukan saja kebangkitan kita dari kematian fisik..tapi juga kebangkitan spiritual kita setelah kita sebelumnya terjebak dalam ilusi kehidupan dan kematian spiritual….

Dengan segenap rahmat yang Dia berikan..sejatinya kita punya missi hidup untuk kembali kepada-Nya….

Kita bisa kembali kepada-Nya, hanya jika kita sudah mengenalnya, dan kita mati sebelum datangnya maut..dalam pengertian, ego sudah kita tundukkan, dan jiwa kita sudah kita sucikan….

Agar keadaan ini bisa terjadi dan kita bisa kembali kepada-Nya dengan selamat…memang kita harus menyadari bahwa kuncinya juga ada pada Dia..Kita bisa kembali…kalau Dia menghendaki kita kembali. Kita bisa bertemu Dia, kalau Dia menghendaki kita bertemu dengan-Nya. Amal shalih dan tekad kuat kita hanyalah wasilah..tapi hakikatnya, kita hanya bisa selamat jika Dia menghendaki kita selamat. Untuk itu, dengan segenap kerendahan hati kita harus selalu memohon, sebagaimana dianjurkan dalam ayat berikutnya…

Iyya kana’budu wa iyya kanastain
Kepada-Nya kita beribadah..kepada-Nya kita memohon…

Untuk bisa mendapatkan kebangkitan spiritual dalam kehidupan kita..yang menjamin keselamatan kita di dunia dan akhirat..yang harus kita lakukan adalah mengukuhkan penghambaan kita pada-Nya. Ya..kita bisa meraih kemuliaan hanya jika kita menegaskan bahwa kita adalah hamba yang berserah diri di hadapan-Nya.

Sebagai hamba..kita dalam posisi siap menerima apa yang Dia berikan. Dan agar Dia melimpahkan semua hal terbaik kepada kita…kita harus berendah hati untuk selalu memohon kepada-Nya. Karena sebagai hamba, kita sungguh-sungguh tak punya apa-apa di hadapan Dia sebagai Tuan kita….

Ihdinasshirotal mustaqim..
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus…..

Dari sekian permintaan yang layak kita sampaikan kepada Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…yang paling penting adalah permintaan agar Dia memberi kita petunjuk agar kita berada di jalan yang lurus.

Sesungguhnya….Dia sudah memberikan furqon di hati kita, yang bisa membedakan mana jalan lurus dan jalan sesat. Dia juga sudah menebarkan segenap tanda-tanda-Nya yang memberi kita isyarat apa yang sebaiknya kita kerjakan dan tidak, juga mana jalan yang lurus dan mana pula jalan yang keliru. Bahkan Dia juga memberikan Kitabnya dari generasi ke generasi….

Lalu mengapa Dia masih menyuruh kita meminta kepada-Nya agar diberi jalan yang lurus? Bukankah Dia sudah memberi seluruh yang kita butuhkan untuk bisa memilih jalan lurus?

Tentu ini sebuah misteri…

Sejauh kakak renungkan….ternyata ayat ini lagi-lagi mendorong kita agar kian meneguhkan kehambaan kita di hadapan-Nya…kita harus mempertegas kefaqiran kita di depan Dia yang Maha Kaya dan Maha Kuasa.

Pada kenyataannya….sekalipun setiap manusia sudah diberi pendengaran, penglihatan dan fuad..bahkan juga Kitab Suci dan segenap fenomena semesta..tetap saja banyak orang tak mengenal-Nya dan memilih jalan yang keliru dalam kehidupan ini.

Bahkan ada orang yang sepertinya benar-benar mengikuti Quran dan Sunnah…pada hakikatnya adalah orang yang paling tersesat.

Ya..memang menemukan jalan kebenaran itu susah-susah gampang. Kita bisa saja merasa sudah merasa berada di jalan yang benar, padahal bisa jadi kita berada di dalam kesesatan yang nyata.

Karena mengenal Allah, dan berada di jalan yang benar itu tidak mudah…maka sepatutnyalah setiap orang berendah hati…tidak merasa dirinya paling benar..sembari terus menerus memohon kepada-Nya. Karena seperti yang pernah kita bahas..Dia Yang Maha Ghaib, hanya bisa ditemui oleh mereka yang Dia Kehendaki. Dia yang Maha Misteri..hanya bisa dikenali oleh yang Dia Kasihi.

Nah..kita sebagai seorang hamba hanya bisa menggapai-gapaikan tangan kita untuk mendapatkan Kasih Sayang dan Petunjuk-Nya.

Kita berada dalam kegelapan pada awalnya…Dialah yang memiliki Cahaya untuk menerangi jalan hidup kita.

Nah..bagaimana caranya agar Cahaya itu hadir ke hati kita? Di sinilah letak perjuangan sejati yang dalam sebuah hadits nabi disebut jihadul akbar..perjuangan yang lebih besar ketimbang peperangan melawan musuh berpedang…

Jihad itu adalah jihadun nafs..perjuangan menaklukkan ego…perjuangan mensucikan diri sehingga hati ini menjadi kosong dan bisa menjadi tempat bersemayamnya Dia yang Maha Agung.

Memohon petunjuk kepada-Nya..bukan semata-mata melafalkan permintaan..tapi juga bekerja keras menapaki jalan-jalan ruhani: Taubat, Syukur, Sabar, dan seterusnya, hingga kita bisa Taslim dan Fana……

Setelah melewati jalan-jalan ruhani inilah..kita bisa berharap Cahaya-Nya menerangi hati kita.

Semata-mata berbekal akal pikiran dan ketaatan pada ajaran lahiriah agama..sungguh tak cukup untuk bisa bertemu dengan-Nya dan meraih kebahagiaan sejati.

Untuk bisa meraih tujuan utama hidup itu..yang harus kita lakukan adalah terus menerus melakukan ikhtiar tazkiyatun nafs dan takhaluk bi akhlaqillah…..hingga kita bertemu dengan apa yang Dia janjikan;

Shirotolladzina an’amta alayhim ghoyril maghdubi alayhim waladdholliin…

Jangan pernah bayangkan..hanya karena kita beragama Islam, lantas kita pasti mendapatkan jalan penuh kenikmatan…

Belum…untuk mendapatkan jalan itu..kita harus benar-benar Taslim..berserah diri, yang kemudian bersambung pada Fana..sebuah kesadaran diri bahwa pada hakikatnya yang ada sebetulnya hanya Dia Yang Maha Ada…sebagaimana diisyaratkan dalam kata-kata yang kita baca dalam doa iftitah: wajahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh…

Selama kita masih melihat ada yang selain-Nya..maka sesungguhnya kita masih terhijab dari jalan kebenaran….

(Nota dari Pasulukan Loka Gandasasmita : Tetaplah berkarya para Ksatria Kebatinan semoga kita bisa merubah kondisi kebathinan Bangsa kita yang saat ini sedang terpuruk. Tetaplah berkarya Satria Pengging)

Renungan Tentang Tujuan Shalat

Shalat sering disebut sebagai tiangnya dien, merujuk pada hadits, “Asshalatu imaduddien”. Tanpa penegakan shalat, runtuhlah dien seseorang. Namun, perlulah kita merenung lebih dalam, agar pemahaman kita atas soal ini tak keliru. Pada kenyataannya, banyak di antara kita yang berangkat dari hadits ini, justru lebih peduli untuk mendakwa orang lain ketimbang bermuhassabah tentang dirinya. Mereka menyombongkan diri sebagai orang yang telah shalat..dan menganggap yang tidak shalat seperti mereka sebagai ahli neraka.

Agar kita bisa memperoleh pemahaman yang benar tentang shalat…dan agar shalat yang kita lakukan benar-benar memberi manfaat kepada kita -yang paling penting adalah tersibaknya kebahagiaan – kita perlu berangkat dari beberapa pernyataan al Qur’an dan al hadits tentang shalat. Kemudian kita mengevaluasi pemahaman yang umum terjadi seputar shalat.

Di dalam Al Qur’an dinyatakan sebagai berikut:

” Fa ‘aqimisshalata li dzikry”
“Inna shalata tanha aniel fakhsya’i wal munkar”

Dalam hadits dinyatakan juga bahwa:
“Asshalata mi’rajul mu’minin”

Sementara itu..dalam pandangan masyarakat kebanyakan, shalat seringkali dipahami sebagai kegiatan yang bertujuan untuk menyembahnya, atau untuk mendekati-Nya.

Sahabat, mari kita selami rahasia shalat dengan coba terlebih dahulu memahami hakikatnya sebagaimana dinyatakan dalam hadits: “Asshalatu mi’rajul mu’minin”

Shalat itu adalah momen bagi setiap mu’min untuk bermi’raj, mengangkat dan menerbangkan jiwa kepada ketinggian: pada tempat di mana Cahaya Ilahi bisa kita dapatkan. Melalui shalat sang mu’min hening sejenak dari hiruk pikuk dunia, menyelami kedalaman jiwanya, mengenali bisikan hati nuraninya, berdialog dengan suara ruhani yang suci. Melalui keheningan, sang mu’min membuka diri untuk mendapatkan kemesraan dari Sang Maha Suci….Mengapa? Ada sebuah ujaran sufistik, “Tuhan adalah sahabat kesunyian” Memang, hanya dengan hening dari segala ilusi panca indera, Tuhan benar-benar bisa kita sadari kehadiran-Nya dan kita rasakan Kasih Sayangnya.

Sahabat…mungkin Anda pernah nonton film Matrix yang dibintangi Keanu Reeves? Film itu sangat baik..penuh filsafat yang luar biasa mencerahkan…

Pada bagian akhir film itu, sang tokoh utama, Neo, dengan ditemani mitra dan kekasihnya Trinity, memutuskan untuk masuk ke markas The Machine. Dalam perjalanan..mereka dihadang berjuta-juta pasukan the Machine. Ada yang mengesankan kakak..pada tahap pertama pertarungan Neo dengan pasukan The Machine..kita bisa lihat bahwa salah satu kunci kemenangannya adalah kemampuan Neo untuk melihat dengan mata hati..dia bisa menang justru ketika ia menjadi buta…ia beralih dari ilusi panca indera kepada cahaya yang muncul dari kedalaman jiwa dan menghancurkan musuhnya menggunakan kekuatan fikiran. Kemudian..ketika perjuangan makin berat karena lawan seperti tak ada habisnya..yang membuat Neo bisa menang adalah satu hal: “Dia menerbangkan pesawatnya ke langit penuh Cahaya..dengan cara itu dia bisa melampaui tantangan yang ada.”

Sahabat…..shalat kita, sesungguhnya adalah momen bagi kita untuk meraih kekuatan dari Yang Maha Kuat, untuk menutupi segala kelemahan dan kehinaan kita.

Berikutnya, apakah makna “tegakkan shalat untuk mengingatku”? Pertama, kita harus paham dulu apa yang disebut mengingat-Nya. Apakah itu sama dengan ketika mengingat kembali sebuah barang yang kita lupakan? Yang dalam prosesnya kita melakukan obyektifikasi: memasukkan citra benda yang kita lupa dan mau ingat dalam pikiran kita?

Tentu bukan..mengingat Allah artinya adalah mengingat kembali apa hakikat kehidupan ini, dan apa hubungan kita dengan-Nya. Dalam khazanah ilmu jawa dikenal istilah, “sangkan paraning dumadi”. Allah itu, sejatinya dalah “asal muasal dan tujuan kehidupan”. Kita berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Kondisi ideal seorang manusia adalah ketika selalu ingat, sadar, bahwa hidup dia semata-mata merupakan nikmat dan wujud Kasih Sayang-Nya, dan bahwa kita ini sedang dalam perjalanan kembali menuju rumah peristirahatan terakhir, tempat dari mana kita berasal. Lebih jauh, manusia yang terbaik adalah manusia yang hatinya telah sanggup mengenal Allah..di dalam hatinya Allah bersemayam….dan yang ada di dalam hasratnya adalah kerinduan untuk kembali kepada Dia Yang Maha Indah, Dia Yang Maha Agung.

Sahabat…..kondisi ideal ini hanya bisa dicapai kalau manusia telah menegakkan shalat…Apakah yang dsebut menegakkan shalat? Menegakkan shalat adalah menterjemahkann nilai-nilai Shalat dalam sajadah kehidupan yang membentang luas. Orang yang menegakkan shalat adalah orang yang senantiasa berpikir, berbicara, bertindak dan berkehendak benar, serta menjadi Cahaya Tuhan. Ibarat pohon, dia adalah pohon yang dahannya kokok, daunnya rimbun menjadi tempat banyak orang bernaung, bunganya indah memberi kebahagiaan pada yang melihat, dan buahnya manis membuat orang senang karena dapat manfaat.

Nah..pelatihan yang disediakan oleh Allah agar kita bisa mencapai itu semua, adalah shalat. Shalat kita lakukan agar kekejian dan kemungkaran di dalam diri kita sirna, tergantikan oleh Cahaya-Nya.

Maka, shalat yang sesungguhnya bukanlah ritual di atas sajadah..itu hanyalah pelatihan bagi kita, persiapan bagi kita, untuk melakukan shalat sebenarnya..jihad dalam kehidupan sehari-hari, sebuah jihad untuk menjadi saksi atas Kebenaran, Cinta dan Keagungan-Nya.

Semestinya kesadaran dan pemahaman seperti inilah yang ada dalam pikiran kita.

Sahabat…..dengan demikian, kita harus merenung lebih jauh..bagaimana caranya agar ritual shalat di atas sajadah memberi kita energi untuk bisa menegakkan shalat dalam kehidupan nyata.

Ternyata aku belum betul-betul shalat

“Inna shalata miftahul jannah”

Tuhanku, lewat lisan nabi-Mu, tegas dinyatakan bahwa shalat adalah kunci pembuka surga. Surga adalah alam kebahagiaan, yang bisa kita rasakan dalam kehidupan masa kini maupun masa mendatang. Mereka yang shalat, semestinya sanggup menyibak rahasia kebahagiaan. Kenyataannya, Tuhanku, diri ini masih sering terombang-ambing dalam kegelisahan, ketakutan, penderitaan. Masih banyak hari-hari yang kulalui dalam keluh kesah. Duh..wahai Tuhanku…jangan-jangan sebetulnya aku belum menegakkan shalat..Aku memang menjalankan ritual shalat..tapi nilai-nilai shalat belum bersenyawa dalam diriku. Ampuni aku Tuhanku…

Tuhanku….setelah kutafakkuri…setiap perintah yang kau berikan pada hamba-Mu, itu dimaksudkan agar hamba-Mu bisa mengecap kebahagiaan. Shalat kau turunkan sebagai sebuah media pelatihan bagi jiwa dan raga, agar bisa mencapai kondisi prima: kondisi di mana kehadiran-Mu benar-benar terasa dalam kalbu, dan Cinta kepada-Mu tumbuh bersemi. Tuhanku…shalat sesungguhnya adalah kesempatan bagi sang hamba untuk bermi’raj secara ruhani..menjangkau alam rahasia-Mu..sehingga kemudian Kau berkenan melimpahkan Cahaya-mu dalam kehidupan seorang hamba…

Namun..tak semestinya seorang hamba mencukupkan diri dengan shalat yang dia lakukan..karena dia harus membuktikan apa yang dia lakukan ketika shalat..dalam kehidupan sehari-hari. Tuhanku…pada titik inilah aku sering lalai..aku tak menjalankan nilai-nilai shalat dalam kehidupanku. Detik demi detik, aku terus membesarkan egoku, dan membiarkan syahwatku..sembari mengabaikan Keagungan-Mu. Padahal aku telah mengucapkan takbir…. Aku tak sepenuhnya berserah diri pada-Mu, karena aku terjebak oleh bisikan nafsuku. Ampunilah aku Tuhanku…..

Tuhanku…akupun mengucapkan wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamawati wal ardh….tapi pada kenyataannya, aku sering tak melihat-Mu….Aku selalu melihat yang lain…aku tak menghadapkan diriku pada-Mu…..Ampuni aku wahai .Tuhanku…

Aku berkata inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirobbil alamiin…Tapi pada kenyataannya, aku seringkali membanggakan diri sendiri, seolah-olah kesalehanku, karyaku, adalah milikku sendiri. Padahal semuanya adalah milikmu, ada karena kasih sayangmu, karena tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuasaan dari-Mu…Ampuni aku, wahai Tuhanku….

Panjang nian jika kutuliskan semua kelalaianku wahai Tuhanku….Ijinkan, kuatkan aku, agar aku bisa memperbaiki diriku….membuktikan shalatku, menegakkan shalatku, sehingga pintu kebahagiaan benar-benar terkuak….Bimbinglah aku, berilah ilmu dan cahaya-Mu..sehingga aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya hidup dalam naungan Cinta dan Cahaya-Mu. Engkaulah yang Maha Pengasih, Lagi Maha Pengampun….

(Satria Pengging- Padepokan Pengging)


Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 117,295 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: