Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Puasa dan Pembentukan Karakter Budaya Lokal

al-Hajj Ahmad Baihaqi

Puasa dan Kerinduan Spiritual

Sudah dipermaklumkan bagi umat muslim diseluruh dunia, bahwa puasa bulan ramadhan adalah suatu perintah Allah SWT yang ditujukan untuk membentuk pribadi yang merdeka dan tercerahkan. Pembentukan kepribadian yang dimaksud didahului dengan sebuah proses yang bersifat bathiniyah dan jasadiyah. Proses tersebut merupakan upaya untuk set back kepada potensi-potensi dasar yang dimiliki oleh seseorang yang menjalankan ibadah puasa.

Ada sebuah kesadaran yang muncul di hampir semua orang yang berpuasa kerinduan akan saat-saat ketika ia menjalankan puasa di masa kecil dulu. kerinduan yang muncul tersebut bukanlah sekedar kesadaran tanpa motivasi. Ada semacam kekuatan motivasi yang melatarbelakangi mengapa seseorang merasa rindu untuk kembali seperti masa-masa yang telah lalu. Keadaan ini secara umum menghinggapi sebagian besar orang yang berpuasa. Hal ini dapat kita rasakan betapa dipenghujung bulan ramadhan setiap orang disibukkan untuk setidaknya berpikir bagaimana bisa kembali ke kampung halaman. Kembali ke kampung halaman dalam istilah lokal kita sebut “mudik”.

Adanya budaya mudik bukanlah sebuah tren yang secara kebetulan muncul di tengah kebutuhan para urban untuk menghilangkan kepenatan yang setiap hari dilanda kesibukan bekerja karena tuntutan hidup di kota besar. Budaya mudik muncul karena dilatarbelakangi oleh sebuah spirit yang mungkin jarang sekali disadari oleh orang yang berpuasa bahwa spirit itu bukanlah tuntutan lahiriyah sehingga harus kembali ke kampung halaman. Namun, ia lebih disebabkan oleh sebuah kondisi dimana kesadaran ketuhanan muncul untuk membentuk dan menata kesadaran baru. Kesadaran tersebut nantinya akan menjadi semacam arsitektur untuk membuat perencanaan pembentukan mentalitas di masa depan.

Kerinduan mudik pada saat akhir puasa adalah kerinduan spiritual. Kerinduan untuk kembali pada fitrah. Realitas mudik yang menjadi tren saat ini adalah manifestasi kebingungan orang berpuasa ketika rasa ketuhanan muncul di dalam dirinya. Kembali ke fitrah adalah kembali kepada kadar, potensi atau fitrah diri. Hal itu merupakan kesempatan awal untuk mencapai ide tertinggi bagi produktifitas diri dengan bimbingan langsung dari Tuhan.

Bimbingan Tuhan muncul sebagai kesadaran untuk memperbaiki keadaan dirinya, meski hanya pada tataran ide. Kerinduan spiritual yang diartikan sebagai mudik merupakan realitas kebingungan untuk kembali kepada Tuhan. Jika ia diartikan sebagai ajang untuk saling memaafkan, tidaklah signifikan dengan sikap mental yang pemaaf. Dengan saling memaafkan tidak serta merta menunjukkan bahwa jiwa kita tulus untuk memaafkan. Namun, yang terjadi pada saat ‘idul fitri hanyalah letupan-letupan kecil dari kerinduan spiritual untuk mencapai rasa ketuhanan. Pencapaian yang diinginkan bukanlah sekedar saling memaafkan, tetapi kemengertian tentang hakekat Tuhan dan penciptaannya.

Rekonstruksi Nilai Budaya

Begitu besar pengaruh puasa, tidak saja bagi orang yang menjalankannya, tetapi ia membuat suatu fenomena yang bisa merubah cara pandang sebuah bangsa. Tak ada satu kekuatanpun yang bisa menggeser perintah agama yang sudah menjadi budaya ini. Dalam berbagai lapisan tingkatan orang yang menjalankan puasa, ia tetaplah punya pengaruh setidaknya sedikit berpikir tentang adanya tradisi tersebut, meskipun barangkali ia tidak menjalankannya. Semangat puasa setidaknya muncul menjadi sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh bagi cara hidup setiap orang, baik bagi yang menjalankannya maupun bagi yang tidak.

Dari segi ini, kekuatan pengaruh perintah puasa bisa dijadikan momentum untuk memperkuat resistensi budaya lokal terhadap penetrasi budaya luar. Resistensi budaya lokal yang dimaksud di sini lebih menekankan aspek nilai yang menjadi spirit produktifitas bangsa. Sedangkan penetrasi budaya luar yang dimaksud di sini adalah sebuah pengaruh negatif yang dapat melunturkan nilai sehingga produktifitas bangsa melemah.

Hal ini menjadi sangat penting untuk dianalisa. Sebab apa yang menjadi ukuran identitas sebuah bangsa bangkit kembali adalah adanya kesadaran tentang nilai yang bergeser dan kegamangan dalam menata kembali nilai-nilai. Padahal jika setiap orang kembali kepada tanah air di mana dia dilahirkan dengan berupaya memahami secara lebih mendalam tentang nilai dan kearifan lokal, maka sebuah bangsa tidak akan kehilangan identitasnya. Ia akan mengerti bagaimana seharusnya berfikir dan ke mana seharusnya kembali.

Penetrasi budaya luar yang begitu besar sehingga tidak hanya sekedar menggeser nilai-nilai lokal bahkan menghapuskan ingatan tentang tanah kelahiran, sangatlah berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa. Sebab, tidak akan bisa sebuah nilai di tata kembali tanpa adanya kemampuan mencapai pencerahan paripurna bagi dirinya dan pemikirannya. Kita tidak cukup punya kepribadian untuk membuat tatanan baru dengan nilai-nilai yang baru. Kecuali Tuhan mengutus seorang Rasul pembaharu yang bisa menumbuhkan dan menata kembali nilai yang luntur bahkan sama sekali hilang. Namun tetap saja, pola yang diterapkan adalah dengan mengadopsi nilai-nilai kuno yang dalam penampilannya sudah mulai usang. Sama ketika Nabi Muhammad SAW membangun karakter bangsa Arab ketika itu dengan ajaran Islam yang ditampilkan melalui ritual-ritual yang memang sudah sejak lama dikenal. Jadi, secara ideologis tidak ada ajaran baru. Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak membawa ajaran baru dan sama sekali tidak merobah tatanan budaya yang sudah mengakar. Beliau hanya mengembalikan nilai budaya pada ‘khitthah’nya bukan menciptakan budaya baru.

Bentuk Perlawanan Terhadap Kapitalisme

Kapitalisme global adalah sebuah penjajahan kuno dengan tren wajah dan penampilan yang baru. Padahal ia bukanlah barang asing yang bukan tidak dikenali. Ia sangat merusak sendi-sendi nilai dan kearifan lokal. Ia sudah lama bercokol dan menjadi musuh bagi pembentukan karakteristik budaya bangsa. Sejak zaman Nabi Adam as., kapitalisme merasuk dan mempengaruhi tatanan yang sudah, sedang dan akan dibangun. Dimanapun dan sampai kapanpun ia akan tetap ada. Kita semestinya menyadari bahwa pengaruh itu tetap ada dan mesti dilawan dalam rangka membangun karakteristik bangsa yang bernilai dan beradab. Jika tidak, maka sebentar lagi identitas kita akan dikubur oleh zaman dan tiada lagi nilai yang mendasari produktifitas budaya. Budaya pada akhirnya kering dari nilai dan kearifan sehingga bangsa ini menjadi keropos dan tidak akan pernah merasa “berpijak di tanah sendiri”.

Kapitalisme telah, sedang dan akan melahirkan penindasan, hedonisme, euporia kebebasan hak-hak dasar, anarkisme pembangunan fasilitas fisik dan konsumtifisme. Semua itu mengarah kepada kerusakan mental. Tidak akan bisa dibenahi kecuali melakukan perbaikan mental. Peraturan perundang-undangan disinyalir bisa mengatasi persoalan-persoalan di atas, namun perbaikan tidak akan bisa tercapai sesuai dengan motivasi yang paling mendasar, yakni jiwa yang terbangun dan melatari segala pembangunan fisik. Pada sisi ini, puasa merupakan momentum yang tepat untuk memerangi kapitalisme dan merestrukturisasi budaya sehingga lebih memiliki pondasi yang mapan. Sebatas ini, kemapanan pondasi sangat diperlukan untuk memulai penataan fisik. Kehancuran bangsa telah terbukti di dalam sejarah, lebih disebabkan oleh mentalitas yang rusak dan kering akan nilai-nilai lokal yang melatarbelakanginya.

Nilai budaya dan kearifan lokal merupakan potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun agama telah berperan dalam pembentukan kejiwaan, namun jiwa tetap membuat sebuah warna yang tidak lepas dari unsur-unsur alam di sekitar lingkungannya. Agama Islam memang lahir di tanah Arab, tetapi cara berpakaian bagi orang yang beragama Islam tidak ditentukan oleh kearabannya. Pakaian untuk orang beragama Islam bisa berbentuk dan berwarna apa saja asalkan tidak keluar dari spirit dasar dan tujuan berpakaian. Kesadaran inilah yang bisa membangun perlawanan terhadap pengaruh-pengaruh kapitalisme. Tidak cukup hanya membangun infrastruktur atau mekanisme perundangan untuk menahan arus penyebaran kapitalisme.

Kapitalisme harus lebih dipahami sebagai sebuah sikap hidup bukan sekedar sebuah bangunan system. Karena itu, cara melawan arus kapitalisme dengan cara membangun sikap hidup. Basis yang lebih berkapasitas dalam membangun sikap hidup adalah nilai-nilai agama yang mendasari nilai-nilai budaya. Kekuatan budaya adalah sebuah nilai dari sikap hidup. Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang punya nilai untuk menentukan sikap hidup. Jadi, struktur bangsa ini harus disusun berdasarkan amanah dasar kemanusiaan. Komunitas bangsa harus mampu “memproduksi” manusia-manusia yang punya spirit kepribadian, bukan manusia yang materialistis.

Para pendiri bangsa ini telah menancapkan sebuah tekad untuk “menciptakan” manusia Indonesia seutuhnya melalui ideologi Pancasila. Arah dan tujuannya tidak sekedar kesejajaran dengan bangsa-bangsa di dunia, tetapi lebih merupakan sebuah bangsa yang punya nilai luhur. Di sisi ini, Pancasila adalah sebuah karakteristik nasionalisme dalam mempertahankan sebuah bangsa. Ia adalah cara pandang yang berbasis pada kepribadian yang utuh dan keindonesiaan. Ia bukan agama, tapi ‘hampir’ menjadi sebuah agama. Karena kekuatannya ‘mirip’ dengan agama. Namun tetap saja, ideologi agama-agama menjadi landasan utamanya.

Puasa dan tren rutinitas ritual agama lainnya diakomodir oleh Negara, meski tidak menjadi undang-undang. Spirit agama untuk membangun tatanan masyarakat bangsa sudah begitu terasa. Mengapa kita seolah maju mundur untuk bisa merelevansikan antara tujuan agama dengan tujuan Negara. Padahal nasionalisme yang dibangun Negara tidak berbeda sama sekali dengan nasionalisme yang dibangun oleh agama. Kita ingin menjadi kampiun bagi bangsa-bangsa di dunia, sementara kepribadian yang dibangun tidak identik dengan nilai-nilai luhur. Pembangunan bangsa saat ini lebih menekankan karakter materialistik. Asal bisa membangun kota dengan ukuran-ukuran peredaran uang, kita merasa sudah membangun. Padahal pembangunan yang kita lakukan seperti “menanam bom waktu” yang tinggal menunggu ledakannya.

Spirit puasa adalah melepaskan pandangan-pandangan kebendaan duniawi untuk memunculkan rasa ketuhanan. Sedangkan kapitalisme justru menguatkan pandangan-pandangan kebendaan yang melenyapkan rasa ketuhanan. Karena rasa ketuhanan lenyap, maka rasa kemanusiaanpun menjadi hilang. Jangan beranggapan bahwa puasa adalah kontra produktif dan menghasilkan jiwa pesimis, pasif dan statis. Justru daya terbesar bagi produktifitas diri terletak pada bagaimana pandangan-pandangannya merdeka dari belenggu kebendaan. Salah besar jika puasa menghasilkan manusia-manusia yang kontra produktif.

Unity of Opinion

Keanekaragaman yang dimiliki Bangsa Indonesia merupakan potensi “pengayaan kurikulum” dalam membentuk kepribadian. Aneka warna kulit, agama, ras dan budaya berada dalam satu wadah besar yang dapat disamakan seperti sebuah kawah candradimuka untuk membangun kesadaran pluralisme. Kesadaran tersebut berbasis pada keyakinan agama yang dimiliki oleh masing-masing manusia Indonesia. Tak ada perbedaan pandangan pada kepentingan yang paling tinggi, yakni humanitas dan spiritualitas (unity of opinion).

Karena itu, dalam konsepsi dasar negara dikenal dengan sebutan negara theokrasi, bukan negara agama. Tidak ada sebutan untuk negara agama secara konsepsional, yang ada hanyalah negara ketuhanan (theokrasi).

Negara Ketuhanan membuka ruang untuk berkembangnya agama-agama dalam hal memurnikan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualisme. Pandangan kebangsaan meniscayakan pandangan luhur dari agama-agama. Hal ini bukan berarti menghilangkan pandangan-pandangan dasar dalam hal tata cara beragama. Karena konsep dasar negara Indonesia tidak disebut sebagai kesatuan agama. Akan tetapi, seluruh kepentingan agama tetaplah diakomodir dalam negara Ketuhanan Indonesia.

Di dalam tahapan tertinggi kesadaran beragama seseorang akan memunculkan kepribadian yang manunggal. Kepribadian ini mengaktualisasikan jiwa yang merdeka dan terlepas dari perasaan-perasaan berbeda. Ia akan sadar bahwa perbedaan hanya ada pada tataran metodologi proses untuk mencapai kesemestaan jiwa. Perbedaan hanya nampak pada tata cara untuk mencapai keagungan tertinggi. Ketika sampai pada keagungan tertinggi, maka perbedaan menjadi sirna. Dari sini yang nampak adalah kesamaan-kesamaan. Karena itu, kepribadiannya tidak akan mengalami persoalan signifikan ketika melihat perbedaan warna dasar yang melatarbelakangi tatacara di dalam mencapai keagungan tertinggi.

Agama Islam mengajarkan kurikulum Tauhid yang secara bahasa bermakna penyatuan. Tauhid atau penyatuan adalah realitas “unity of opinion” (kesatuan pandangan). Ia muncul karena adanya keanekaragaman sekaligus menjadi cita-cita tertinggi setiap manusia. Tidak akan sampai kepada pandangan Tauhid jika keanekaragaman masih menjadi persoalan bagi dirinya. Syeikh Jalaluddin Rumi mengistilahkan konsep Tauhid dengan “syuhudul wahdah fil katsroh” (menyaksikan yang Satu di dalam yang banyak). Pandangan ini tidak berbeda sama sekali dengan istilah “Bhinneka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Meski penyebutannya berbeda, tetapi maksud dan arahnya tetap sama.

Kurikulum Tauhid meliputi konsep-konsep dasar yang bertujuan mencapai kepribadian yang manunggal. Konsep-konsep dasar tersebut terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan. Ketiganya disebut juga sebagai dasar-dasar aqidah islamiyah. Setelah sebelumnya diberikan juga pemahaman mendasar tentang konsep-konsep Ketuhanan. Arah tujuan kurikulum Tauhid adalah membentuk kepribadian yang merdeka, manunggal dan netral terhadap keanekaragaman.

Dari cara pandang seperti ini baru bisa mencapai bangsa yang berbudaya, merdeka, beradab dan berkeadilan sosial. Kemerdekaan jelas merupakan sebuah nikmat, hanya wujudnya yang abstrak yang terkadang membuat kita gagal merepresentasikan makna kemerdekaan sesuai aturan-aturan alam yang dituntun agama. Terkadang juga pemikiran kita digiring untuk selalu merasa merdeka dalam situasi dan kondisi yang justru belum merdeka. Karena hakekat kemerdekaan bukanlah pada momentum 17 Agustus 1945, tetapi justru pada realitas hidup setiap jiwa yang ingin mengembangkan potensinya sesuai aturan-aturan.

Segmentasi sikap setiap anak bangsa yang merealisasikan makna kemerdekaan belum dikatakan sesuai amanah kemerdekaan. Barangkali, realitas politik harus sedikit lebih fair agar mampu memproduksi sejarah yang lebih jujur, mekanisme yang lebih mapan dan budaya yang lebih bernilai. Karena, banyak dari masyarakat bangsa ini yang “keblinger” dalam menyikapi berbagai momentum dalam perjalanan kehidupan bangsanya sendiri. Sikap yang keblinger akan melahirkan langkah yang juga keblinger. Pada akhirnya, tatanan kehidupan yang disusun sejak awal perjuangan merebut kemerdekaan juga akan keblinger. Budaya yang dibangun juga akan keblinger, tidak bernilai, tidak beradab dan tidak mencerminkan sebuah bangsa yang membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Mari kita sama-sama bertaubat dengan berupaya mencapai rasa kemanusiaan diri kita. Mencapai suatu keterlepasan dari kungkungan pandangan kebendaan. Bertaubat untuk tidak menjadikan harta, pangkat, jabatan, loyalitas kelompok, dan integritas sempit sebagai semangat yang melandasi nasionalisme.

Hanya kepada Allah swt kita serahkan segala upaya, keinginan-keinginan dan rencana-rencana. Karena Ia Maha Penolong, Maha Bijaksana, Yang Memiliki sebaik-sebaik rencana. Kita hanyalah hamba dhoif yang masih sangat tergantung pada makhluk, ruang, waktu, kondisi dan keadaan dan kepada partikel-partikel dunia yang sama sekali tidak pernah ada titik kepuasannya.

 

Wallahu a’lamu bishawaabih

 

 

Filed under: Agama, Renungan

One Response

  1. Fadli mengatakan:

    1)Mengapa adanya budaya lokal ?
    2)Bagaimana terbentuknya budaya lokal ?
    3)Untuk apa kita mempelajari budaya lokal ?
    4)Sebutkan ciri-ciri budaya lokal ?
    5)Bagaimanakah islam dapat mewarnai budaya lokal ?😛😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

September 2010
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: