Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

“Laylatul Qadar”

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan

“Laylatul Qadar”

alHajj Ahmad Baihaqi

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Qadar. Dan tahukah kamu Apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya membawa segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Surat al-Qadr : 1-5).

Al-Qadru dalam bahasa Arab bermakna kadar, ketetapan, kekuasaan, kemampuan, kemuliaan, ukuran, nilai, harga, kehormatan, atau keagungan. Jika ditambahkan Laylatun (artinya malam) di depannya, maka kata itu menjadi bentuk penyifatan (mudhaf mudhaf ilayhi). Laylatun berkedudukan mudhaf (yang disifati) dan alqadru berkedudukan sebagai mudhaf ilayhi (yang menyifati).

Malam Qadar di dalam beberapa Hadits Rasulullah SAW disebutkan turun di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam Surat al-Qadr disebutkan bahwa malam itu Malaikat-malaikat dan Ruh diturunkan dengan membawa berbagai macam urusan (pesan Tuhan).

pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (al-Qadr : 4)

Lalu apa pengaruhnya malam Qadar terhadap diri dalam rangka pembentukan kepribadian? Jika yang dimunculkan adalah tanda-tanda di luar diri, maka pengaruh tersebut tidak ada, kecuali hanyalah keta’ajuban akan penampakan alam sekitar yakni berupa semilir angin berhembus lembut, matahari nampak pucat, pohon-pohon tunduk, dan lain-lain. Semua tanda yang berada di luar diri tersebut adalah sebuah pencitraan dari persepsi akal pikiran yang dimudakan kembali. Sesungguhnya tanda-tanda tersebut tidaklah benar-benar di luar diri, tetapi ia hanyalah pantulan dari indera penglihatan yang ketika itu dalam kontemplasi yang tinggi. Persepsi akal pikiran dimudakan kembali karena sesungguhnya ia tengah memasuki sebuah keadaan di mana akal pikiran tidak disibukkan oleh penampakan kebendaan yang membelenggu. Artinya, akal pikirannya berjalan hanya berdasarkan getaran hati.

Disebut malam qadar, karena malam itu adalah ketetapan nilai fitrah bagi orang yang mengalaminya, atau bisa juga disebut sebagai malam pencapaian kadar. Kadar itu adalah kadar fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia yang mengalami keadaan tersebut. Kadar fitrah bagi setiap orang merupakan titik kemurnian sehingga cahaya hati tembus dan meliputi seluruh gerak inderawi. Artinya, kepribadian yang meniscayakan gerak inderawi itu benar-benar bersumber pada kemurnian atau potensi dasar yang telah ditetapkan oleh Tuhan melalui mekanisme yang dicapai sebelumnya berupa akal pikiran yang pasrah dan merdeka dari belenggu kebendaan.

Melepaskan belenggu kebendaan dalam akal pikiran merupakan makna haqiqi dari istilah futhur (buka puasa). Futhur telah disinyalir oleh Nabi SAW sebagai bentuk kebahagiaan pertama bagi orang yang berpuasa. Sedangkan kebahagiaan kedua adalah berjumpa dengan Tuhan. Setelah sekian hari melakukan pelemahan dan pengekangan diri, menutup segala lobang yang memotivasi untuk melakukan penyimpangan dan memberhentikan gerak yang mengarah kepada kemaksiatan, maka ada hal yang tanpa sadar terbuka di dalam diri dan menampakkan sebuah bimbingan agar kepribadian kita cenderung cinta kepada Allah. Sesuatu yang terbuka itulah yang disebut sebagai “buka puasa” atau futhur. Sesuatu yang dibuka adalah sebuah belenggu berupa penampakkan kebendaan duniawi. Ketika penampakan itu ditutup, maka belenggunya menjadi terbuka. Dari situ, ia memulai perjalanannya untuk mencapai kebahagiaan kedua, yakni berjumpa dengan Tuhan. Allah memberikan  sebuah kesempatan kepada manusia dengan ridha-Nya untuk berjumpa dengan-Nya.

لِلصَّآئِمِ فَرْحَتاَنِ ، فَرْحَةٌ عِنْدَ اْلفُطُوْرِ وَ فَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَآءِ رَبِّهِ

“Dua kebahagiaan orang berpuasa; Kebahagiaan ketika berbuka dan Kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya”. (Hadits Shahih).

Malam qadar adalah sebuah keadaan di mana manusia berkesempatan kembali kepada keadaan awal, di mana tiada hijab antara dia dengan Tuhannya. “alastu birabbikum? Qaaluu balaa syahidnaa…” (Allah bertanya; bukankah Aku ini Tuhan kalian? Mereka berkata; Ya benar, kami telah menyaksikan….”). Keadaan awal, yang disebut oleh sebagian ulama sebagai alam “alastu”, merupakan kemurnian yang darinya kepribadian mendapatkan sebuah daya baru untuk menggunakan indera dengan benar dan sesuai amanah.

Dikatakan dalam Firman Allah bahwa malam Qadar lebih baik dari seribu bulan.

Jika kebaikan yang dikatakan melebihi dari seribu bulan tidak nampak dan tidak terasa dalam diri seseorang yang mengalami malam Qadar, maka pernyataan Allah dalam ayat tersebut tidak punya makna sama sekali. Bagaimana mungkin sebuah Firman tidak memiliki kedalaman makna. Bukankah sebuah firman harus memiliki kekuatan yang jika dihayati akan berimplikasi pada perubahan-perubahan hidup yang lebih berkwalitas dan lebih bermakna. Seperti apakah kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan?

Kalimat bahwa malam Qadar lebih baik dari seribu bulan dijelaskan pada ayat selanjutnya yakni “Malaikat-malaikat dan Ruh turun dengan izin Tuhan dengan membawa urusan (amr)”. Urusan sebagai terjemahan dari amrin lebih menekankan pada makna gerak dalam tataran idea. Ketika akal murni mencapai titik pencerahannya, maka ia memungkinkan terbentuknya pribadi yang dinamis dan kreatif. Kreatifitas yang muncul dari akal murni merupakan manipestasi hidup yang lebih berkwalitas. Betapa sangat banyak sesuatu yang harus diungkap di dalam kehidupan dunia oleh pribadi yang sebelumnya berjalan dengan kegelapan dan ketidaktahuan. Para Malaikat dan Ruh turun ke dalam jiwa yang lapang dan mewujudkan bimbingan untuk menjalani hidup yang lebih produktif.

Amrin yang dibawa oleh para Malaikat dan Ruh adalah pengetahuan dan pengenalan tentang Tuhan. Seseorang yang mendapatkan malam Qadar, yang mengandung kebaikan lebih dari seribu bulan, akan merasakan keluasan ilmu dan keberkahan hidup. Malam Qadar adalah titik lepas landas bagi jiwa yang berserah diri secara total kepada Allah. Ia juga merupakan titik awal untuk suluk (perjalanan menuju Tuhan) melalui pemahaman-pemahaman yang semestinya bagi setiap orang. Karena pada dasarnya, setiap manusia dituntut harus menemukan jalan terang untuk bisa kembali kepada Tuhannya dengan selamat. Hal inilah yang disebut sebagai fitrah dasar manusia. Perintah puasa adalah untuk kembali kepada fitrah dasar itu (‘idul fitri).

” Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (Ad Dukhan : 3-5)

Segala puji hanyalah milik Allah semata, dan semoga shalawat serta salam tetap tersambung kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.

Prosa Fitrah Diri

Kembali kepada Fitrah diri, di sana ada qadar yang mewujudkan perjumpaan. “Apakah Aku ini Tuhan kalian?”; itulah qadar dan fitrah. Itulah wadah perjumpaan. Itulah puncak tasbih (penyucian).

Burung terbang di angkasa, ikan hidup di dalam air, dan ular melata di atas tanah, semua itu adalah qadarnya masing-masing.

Qadar manusia berbeda dengan qadar binatang. Tasbih manusia juga berbeda dengan tasbih binatang. Fitrah manusia pun berbeda dengan fitrah binatang. Lalu bagaimana manusia dikatakan berbeda dengan binatang, kalau yang ditunjukkan dalam hidup hanyalah fitrah diri yang dzahir?

Fitrah itu akan terlihat berbeda manakala diri ini diarahkan kepada qalbu. Akan nampaklah taqdir dan fitrah kita. Di sana akan kita saksikan diri yang “telanjang”, yang tidak terikat dengan belenggu duniawi. Ooo…, ternyata ia adalah sorot lampu di tengah teriknya matahari. Tak ada yang beda di antara keduanya. Sorot lampu dan matahari tak bisa dikatakan nampak atau tak nampak. Ia menjadi tak terbahasakan. Akhirnya, tulisan inipun hanyalah satu upaya untuk mengungkap yang tak terbahasakan…

Ternyata dunia ini adalah dimensi yang berbeda dan yang menutup segala kesucian. Pembukaan qadar diri adalah langkah awal untuk melepaskan segala dimensi keduniaan. Ia berada pada akal yang paling tinggi, pada kesadaran yang paling akhir. Kebangkitan kembali adalah gerak setelahnya, yang memungkinkan peningkatan qadar. Ada penolakan dan pengharapan yang terlarang, manakala pengetahuan ini menjadi daya terbesar yang menggenggam sang diri.

Oh Tuhan, adakah taqdir yang luput dari pengetahuan pada maqam ini? Apakah itu pertanyaan dan pernyataan yang dzalim?

Tahu dan tidak tahu pada kenyataanya hanyalah dimensi akal, namun qadar itu hanyalah sebuah antisipasi; bahwa Allah adalah Muqallibal Quluub, berbolak balik pada singgasanaNya. Gelap kemudian terang, lalu kembali gelap, dan terang kembali. Ternyata, berbolak balikpun sebuah belenggu, cukup melelahkan…

Akal memang terbatas, tetapi batasnya sering luput dari pengetahuan. Karena batas akal pada setiap dimensi pengetahuan adalah kesadaran akhir. Tangis dan tertawa tidak lagi menjadi tanda derita dan bahagia. Karena tangis dan tertawa adalah belenggu ketakutan dan harapan.

Di tengah-tengah. Ya, di tengah-tengah. Timbangan tauhid mulai muncul. Munkar dan Nakir tidak lagi bertanya, cambuknya telah diletakkan. Karena derita dan bahagia sudah tidak ada bedanya. Surga telah sirna dan neraka telah padam. Wujud yang tiada tersyaratkan oleh dimensi dan perbandingan, akhirnya menjadi cermin bagi Wujud-Nya Sendiri.

Wallaahu a’lamu bishawabih

Iklan

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 127,245 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: