Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Hikmah Puasa Ramadhan

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan

Hikmah Puasa Ramadhan

al-Hajj Ahmad Baihaqi

Puasa dan Ramadhan adalah dua kata yang berbeda satu sama lain namun sangat berkaitan. Puasa adalah sebuah pekerjaan dan Ramadhan adalah nama bulan, yakni bulan ke 9 pada perhitungan tahun Hijriyah/Qomariyah. Jadi, Puasa Ramadhan adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan pada bulan Ramadhan dengan dasar dan syarat-syarat yang telah ditentukan. Mengapa pekerjaan itu disebut puasa, dan mengapa harus dilakukan di bulan Ramadhan?

Puasa dalam bahasa Arab  disebut dengan Shaum atau Shiyam. Berasal dari sumber huruf shad, alif dan mim. Sedangkan Ramadhan dalam bahasa Arab berasal dari sumber huruf ra, mim dan dhad. Huruf-huruf dasar yang membentuk kedua kata tersebut dapat mengawali kajian mendalam tentang makna puasa.

Puasa di bulan Ramadhan adalah sebuah perintah yang berkaitan dengan simbol. Puasa bermakna imsak. Imsak artinya menahan atau menggenggam. Ramadhan artinya menerangi. Jika dimajemukkan, dua kata itu akan menyusun sebuah pengertian; menggenggam sebuah potensi kefitrahan untuk mencapai penerangan sejati.

Dalam Surat al-Baqarah, Allah swt berfirman;

183.  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184.  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, Maka tangguhkanlah (puasanya itu) pada hari-hari yang lain. dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya wajib baginya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

187.  Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah Pakaian bagimu, dan kamupun adalah Pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Dalam ayat-ayat tentang puasa ada beberapa tahap penjelasan yang mengarah kepada tujuan dan maksud diperintahkannya puasa. Hal ini berkaitan dengan turunnya al-Qur’an pada bulan ini.

Puasa dalam literature Arab adalah sebuah proses penyucian bathin. Hal ini dapat di gali dalam pengertaian taqwa pada penggalan ayat “… agar kalian menjadi orang bertaqwa”. Kata taqwa yang sangat mendasar dapat kita dalami dari ayat pertama surat al-Baqarah; “Alif, laam, miim. Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang bertaqwa”.

Orang bertaqwa adalah orang yang selalu menjadikan Kitab sebagai petunjuk dan meyakini bahwa Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya. Artinya, orang bertaqwa itu tidak akan ragu terhadap apa yang terbetik dihatinya tentang petunjuk-petunjuk yang ada di dalam kitab.

Di ayat tersebut, Kitab itu diisyarahkan dengan kata dzalika (itu) yang mengarah kepada ayat sebelumnya yaitu; Alif, laam dan miim. Jadi, yang dimaksud dengan Kitab itu adalah Alif, lam dan miim. Kenapa alif, lam, dan mim dikatakan sebagai Kitab. Karena dalam dasar-dasar ilmu tentang sejarah kata, ada rahasia yang terkandung di dalam huruf-huruf itu. Allah menurunkan maksud dan makna pada setiap symbol, benda, tanda, isyarah, materi dll. Rahasia yang terkandung dalam huruf dapat digali melalui ilmu dasar yang juga menjadi kurikulum awal bagi orang yang akan belajar membaca al-Qur’an yakni ilmu makharijul huruf (tempat keluarnya huruf).

Pada pengetahuan tentang keluarnya huruf, alif itu terbentuk pada tenggorokan (halqiyah), lam terbentuk dari pertemuan antara ujung lidah dengan langit-langit (dzaulaqiyah), dan mim terbentuk dari pertemuan antara dua bibir (syafawiyah). Jika kita rangkai menjadi kesatuan huruf alif, lam dan miim, maka nampaklah sebuah symbol proses turunnya Kalam Allah yang disebut Wahyu; bermula dari tenggorokan, lalu turun ke ujung lidah, kemudian keluar melalui dua bibir. Halqiyah – Dzaulaqiyah – Syafawiyah. Halqiyah adalah symbol Allah, dzaulaqiyah adalah symbol Jibril dan Syafawiyah adalah symbol Muhammad. Itulah yang dikatakan Kitab (sebagaimana tersebut pada ayat 2 surat al-Baqarah).

Allah SWT berfirman:

“Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh nafsnya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Qaaf: 16)

Dalam ayat tersebut, tenggorokan itu lebih dekat daripada urat leher. Karenanya tenggorokan itu adalah symbol keberadaan Allah. Lam adalah symbol Jibril yang terbentuk dari pertemuan ujung lidah dengan langit-langit. Ujung lidah adalah symbol pembuka rasa. Orang yang mencicipi makanan dengan ujung lidah pada saat puasa tidaklah membatalkan puasanya. Rasa berada pada akal yang menjadikan seseorang dapat membedakan segala sesuatu. Mim bermakna penciptaan dunia yang disimbolkan dengan dua yang berlawanan sekaligus berpasangan; yakni bentuk bibir yang terbuka menjadi dua; atas dan bawah. Ini bermakna langit dan bumi. Dua itu juga hanyalah sebutan, pada kenyataannya adalah sebuah lobang mulut yang darinya keluarlah kalam. Dari sanalah Allah turunkan kalam-Nya yang bermula hanyalah suara tanpa bahasa. Lalu diolah oleh lidah menjadi bahasa yang dimengerti, dan kemudian dikeluarkan oleh bibir.

Itulah Kitab. Kitab itulah yang tidak ada keraguan dan selalu menjadi petunjuk bagi orang bertaqwa. Orang bertaqwa tidak bergeser sedikitpun dari keyakinannya tentang petunjuk sebuah Kitab. Hal ini kemudian menjadi langkah awal dari cara memahami Kitab Al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang (30 juz) adalah tulisan yang dapat dibaca dari Kitab. Kitab adalah Proses turunnya dan Al-Qur’an adalah tulisannya. Keduanya menyatu menjadi sebuah kebenaran.

Apa yang dialami oleh Nabi sebenarnya juga dialami oleh manusia biasa yang bertaqwa. Namun, yang keluar dari Nabi adalah Wahyu yang disebut Al-Qur’an dan yang keluar dari manusia bertaqwa adalah ilham. Memahami al-Qur’an yang 30 juz itu juga harus dengan proses-proses seperti Nabi yang menerima Wahyu. Artinya, harus berposisi tegak lurus antara mulut, lidah dan tenggorokan. Harus lurus antara anggota tubuh (perbuatan), akal pikiran dan hati. Inilah maksud dari manusia bertaqwa yang tersebut dalam surat al-Baqarah. Manusia-manusia tersebut diharapkan lahir pada bulan Ramadhan dengan cara puasa. Beliaulah manusia yang disucikan, yang selalu terjaga dari dosa dan selalu menjaga diri dari keterikatan dunia. Jadi, maksud diperintahkannya puasa itu agar kita punya kemampuan meluruskan antara perbuatan, akal pikiran dan hati.

Kemampuan meluruskan itu bukan pula tanpa maksud. Dalam rangkaian ayat tentang puasa, di antaranya adalah diturunkannya al-Qur’an. Turunnya al-Qur’an dirangkai dengan ayat tentang puasa. Artinya, al-Quran itu sangat berkaitan erat dengan orang yang puasa. Hal ini mengandung makna bahwa hanya orang-orang sucilah yang mampu membuka makna-makna yang dimaksud dalam al-Qur’an. Hanya orang-orang yang disucikan yang mampu “menyentuh” pesan-pesan al-Qur’an.

“Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (al-Waqi’ah: 78-79)

Orang yang mampu menangkap sari (pesan-pesan inti) dalam al-Qur’an adalah orang yang sudah disucikan. Orang yang disucikan oleh Allah adalah orang yang selalu berusaha untuk menyucikan dirinya sendiri, dan itu terjadi pada pelaksanaan ibadah puasa. Jadi, orang berpuasa harus punya tujuan untuk bisa mengkaji dan menggali makna-makna inti yang terkandung dalam al-Qur’an.

Kemudian, untuk apa mengetahui pesan-pesan inti yang terkandung dalam al-Qur’an? Dan apa yang menjadi pesan inti dalam al-Qur’an? Apa kaitannya dengan kehidupan dunia?

Pesan inti yang terkandung dalam al-Qur’an berujung pada kesadaran di mana Allah menerangkan dalam ayat selanjutnya tentang puasa (al-Baqarah: 186);

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Orang yang mampu membuka pesan-pesan inti dalam al-Qur’an adalah orang yang rindu kepada Allah, ia ingin mengenal Allah, ia menisbatkan segala perbuatannya kepada Allah, ia ingin memasuki sebuah keadaan di mana Allah bersemayam. Ia hanya merasa indah, nyaman, tenteram bersama Allah. Hal itu tidak bermakna bahwa ia mempersepsikan dan menghayalkan bentuk dan rupa Allah dalam angan-angannya. Wujud Allah berada pada rasanya yang dari rasa itu ia melihat, mendengar, berbicara, dan berpikir hanya Allah yang menjadi ukuran. Nafsunya telah sampai kepada lautan ketenangan yang dia sendiri tidak mampu membahasakannya.

Secara skematis, maksud puasa dapat disimpulkan :

Puasa (Imsak) – Pelepasan Segala Ikatan (Takhalli) – Pengisian dengan Ilmu dan Akhlak (Tahalli) – Nuzulul Qur’an – Liqa’ Rabb.

Puasa adalah imsak yang bermakna menahan, memegang, menggenggam. Dan yang digenggam dalam hal ini adalah fitrah diri (kesucian, qadar, potensi dan cahaya ruhaniyah). Hakekat penggenggaman itu dilakukan oleh Tuhan itu sendiri yang berimplikasi kepada melepasnya segala belenggu hijab duniawi, baik yang positif maupun yang negatif).

Pelepasan itu harus dengan daya upaya yang kuat dan bersifat spiritual. Pada saat bersamaan, bathin itu diisi dengan ilmu dan akhlak. Ilmu adalah kuncinya, akhlak adalah inti ruangannya. Di dalam ruangan akhlak itu, dua dimensi arah pandang menjadi satu (Nurani); dua cahaya menjadi satu; yakni syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Saat itu, persepsi akal pikiran menjadi lurus. Bathin dan lahir tidak ada pertentangan. Saat itulah Al-Qur’an menjadi nyata di dalam diri, petunjuk-petunjuk sangat jelas bisa dipahami, tuntunan dan bimbingannya sangat mudah diterima. Inilah yang disebut dengan kesucian/ qadar dirinya telah kembali.  Ia menjadi orang yang disucikan sehingga mampu “menyentuh” pesan-pesan Al-Qur’an.

Mengenal Allah adalah pesan inti dalam al-Qur’an, akar dari segala ilmu, pondasi dari segala ibadah, puncak dari segala kesadaran manusia, muara dari segala cinta dan kerinduan. Mengenal Allah adalah sandaran keikhlasan, kesabaran, ketenangan, kelapangan dada, kenikmatan rasa. Mengenal Allah adalah pembuka Mi’rajur-Rasul yang darinya segala rahasia terkuak, kebenaran tersibak, menjadikan gerak inderawi dan jasadi sebagai ibadah dan tasbih. Sayyidina Ali r.a. pernah berkata; “aku tidak akan menyembah sesuatu yang tidak aku kenal”.

Manusia yang mengenal Allah akan mendapatkan kemenangan yang nyata. Dari sana ia mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu dan yang akan datang, akan dicukupkan segala nikmatnya, akan selalu diberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, akan dilimpahkan kepadanya segala pertolongan yang besar yang akan menyelesaikan segala persoalan-persoalan hidup.

Manusia yang mengenal Allah akan dilimpahkan karunia yang tak terbayangkan sebelumnya, akan diwariskan dunia beserta isinya, dan akan menjadi Penyeimbang dan Pemakmur kehidupan dunia.

Jadi, hasil yang diharapkan dari perintah puasa adalah :

  1. Menjelaskan Al-Qur’an sebagai suatu hidayah bagi dirinya sendiri dan orang lain.
  2. Tumbuhnya kerinduan untuk bertanya tentang Tuhan, lalu mencari petunjuk-petunjuk (irsyaadaat) kepada orang-orang yang dilimpahkan petunjuk (Mursyid).
  3. Dirinya senantiasa bertasbih, sehingga memiliki kecenderungan untuk selalu berpikir positif untuk segala aktifitas kehidupan.
  4. Kesadarannya dinamis (bergerak kepada satu arah), sehingga selalu haus akan pencarian kebenaran haqiqi tentang Tuhan (keinginan untuk mengenal Tuhan semakin membara).
  5. Atas dasar itu semua, setiap langkahnya pada kehidupan dunia selalu tidak lepas dari zikir kepada Allah SWT, hal ini berdampak pada; ketenangan jiwa, memiliki lautan kearifan dan kebijaksanaan, Cinta pada ilmu, toleran, dermawan, empati dan setia kepada setiap kebaikan, memiliki rasa kasih sayang kepada semua makhluk, dll.

Akhirnya tujuan akhir dari orang berpuasa adalah :

Dua Kebahagiaan puasa; terbukanya fitrah (Ifthar), dan Perjumpaan dengan Tuhan (Liqaa’/ Tawajjuh). (Hadits Nabi).

Wallaahu a’lam bishawaabih

Iklan

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 123,966 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: