Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Pemandu

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan


Pemandu

I.

Setelah berselang bertahun-tahun, tiba-tiba teringat pengalaman semasa kuliah. Itu terjadi pada suatu liburan musim dingin ketika pulang kampung di dataran China Utara.

Sepanjang hari berkumpul dengan orang tua, hidup sederhana merasakan kebahagiaan. Pada suatu hari, beberapa teman SMA datang berkunjung, ingin mengadakan reuni di rumah salah seorang teman, maka saya dengan senang hati berangkat naik sepeda. Sebelum berangkat ayah bertanya apakah saya dapat mengenali jalan pulang, tanpa ragu saya menjawab tidak ada masalah. Beberapa teman juga mengatakan demikian.

Jalan di pedesaan meskipun tidak luas namun cukup rata. Mengendarai sepeda sambil mengobrol, tak terasa setengah jam lebih sudah terlewatkan, tibalah di rumah teman itu. Karena sudah lama berpisah, teman-teman saling  bercerita pengalaman di bidang yang berlainan, sungguh sangat menyenangkan. Tak terasa matahari telah terbenam. Setelah melanjutkan ngobrol sebentar lalu berpamitan. Teman-teman bertanya apakah masih ingat jalan pulang, saya samar-samar masih ingat arahnya, maka dengan sombong mengatakan tidak ada masalah, lalu mengayuh sepeda.

Baru keluar dari halaman saya bertemu ayah. Saya terperanjat dan bertanya mengapa beliau datang. Ayah mengatakan, merasa khawatir karena matahari sudah terbenam masih tidak melihat saya kembali. Mungkin karena mengetahui di mana desa tempat teman SMA itu, jadi masih dapat menemukan saya. Saya tidak berkata apa-apa, mengayuh sepeda mengikuti ayah pulang.

Senja pada musim dingin sangatlah pendek. Segera sesudah meninggalkan kampung, hari jadi gelap-gulita. Saya mengikuti ayah, berbelok-belok, satu demi satu perkampungan kami lewati. Sambil bersepeda di dalam hati saya merasa sangat berterima kasih kepada ayah yang memandu. Jalan ketika perjalanan berangkat tadi tampaknya biasa saja, tapi sekarang nampak asing, jika tidak ada ayah, hampir dipastikan saya tidak akan menemukan jalan pulang.

Sejak SMP saya tinggal di asrama sekolah di kabupaten, dalam sekejap sudah enam tahun. Setelah tamat SMA saya kuliah di kota besar nun jauh yang perlu ditempuh dengan kereta api. Darah muda memang mudah menjadi sombong. Jika sekarang dikenang kembali, tanpa dipandu ayah benar-benar tak terbayangkan akibatnya.

II.

Jauh terpisahkan samudera luas, telah lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri. Sekarang anak-anak juga sudah akan bersekolah. Menghadapi pendidikan mereka, terkenanglah jalan hidup yang sudah saya tempuh. Tak terasa dada sesak dipenuhi keluhan sendu: di persimpangan jalan kehidupan, pada labirin kehidupan yang tak bertepi, banyak orang telah mengulurkan tangan membantu, tanpa mereka tak akan tercapai keadaan seperti hari ini.

Teringat masa kecil, suatu saat sedang seru bermain saya menjadi sangat marah. Tak terasa mengumpat dengan kata-kata kotor. Kakak saya melihat adegan ini, dengan sedih berkata, “Aku tahu orang lain dapat mengucapkan kata-kata kotor, tapi tak pikirkan engkau akan juga begitu. Mendengar umpatanmu aku merasa pilu.”  Saya menjadi terguncang sehingga tidak pernah lagi mengucapkan kata-kata kotor.

Mengenang kembali pengalaman hidup yang telah saya alami, saya dapat merasakan bahwa manfaat terbesar yang diperoleh dari pengaruh keluarga adalah kesetiaan terhadap kewajiban.

Teringat sebuah ungkapan semasa kecil yang paling mengesankan, “Kejujuran dan kebajikan akan diwariskan ke anak-cucu dalam masa panjang, puisi dan buku tentang moral bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu yang lama.”

Ini juga merupakan gambaran dari perilaku dan tutur kata orang tua. Ayah adalah seorang guru, telah berjerih payah sepanjang hidupnya di depan kelas. Ibu juga pernah bersekolah, pada waktu   senggang setelah bekerja seharian, beliau memupuk hati kecil anak-anaknya dengan siraman budaya tradisional.

Mulai dari loyalitas dan rasa bakti seorang Jie Zitui sampai dengan pertarungan naga hitam dan naga putih, pemisahan kebaikan dan kejahatan serta perwujudan kecerdasan dan keberanian. Mulai anjuran belajar dari cerita “karena anak tidak rajin belajar, sang ibu sampai merusak alat tenun”, hingga anjuran menghargai waktu tentang “sejengkal waktu adalah sejengkal emas”.Mulai dari bersujud pada Tuhan, sampai dengan rajin dan hemat pada kehidupan sehari-hari.

Pengaruh pendidikan dalam keluarga, seiring dengan inspirasi dari para guru yang dibincangkan setelah selesai pelajaran sekolah, membuat saya menyadari bahwa hidup hendaklah jujur dan rajin.

III.

Penderitaan terbesar dalam hidup adalah tidak mengetahui arah. Bagaikan mobil yang kondisinya sudah lengkap namun tidak tahu akan dibawa ke mana.

Pada usia tujuh tahun, saya pernah seorang diri berdiri di halaman rumah memandang jauh ke angkasa, sambil memikirkan makna kehidupan. Meski masih kecil juga sudah mulai dapat merasakan kesulitan hidup, dingin dan kehangatan duniawi. Saya dapat melihat bahwa orang jujur rentan terhadap perlakuan sewenang-wenang, dan dapat memahami perasaan orang yang sedang mengekang diri tanpa menangkis penghinaan orang, juga agak merasa bimbang akan menjadi seperti apa diri ini di kemudian hari.

Pada masa sekolah menengah meskipun sibuk tetapi sederhana, saya hanya memikirkan harus belajar dengan baik agar tidak mengecewakan harapan orang tua dan guru. Akhirnya tercapai juga keinginan untuk melanjutkan ke universitas. Saya baru menyadari bahwa ternyata terdapat banyak pilihan dalam hidup ini, juga mengerti bahwa pengetahuan tidak ada batasnya.

Keyakinan hidup tradisional dalam diri merasa diserang, sehingga di samping menyelesaikan studi, juga ikut-ikutan teman membaca sepintas dibidang lain dengan harapan setelah membaca banyak buku akan memperoleh jawaban makna hidup. Oleh karena itu saya mempelajari filsafat Barat sampai dengan pandangan Lao Zi Zuangzi, dari mitologi Yunani sampai ke peradaban Barat modern, dari cerita klasik Fengshen Yanyi sampai ke cerita fiksi Dinasti Ming dan Qing “San Yan Er Pai”.

Setelah melihat teman kuliah membaca sutra Buddha dan kitab suci Taoisme “Dao De Jing”, karena penasaran maka saya mendaftar untuk mempelajari mata kuliah Zhouyi tentang ramalan.

Namun keinginan tetaplah tinggal keinginan, setelah sibuk mondar-mandir mencari masih tetap tidak menemukan jawaban yang memuaskan, sehingga seperti banyak teman sekolah lain, saya lalu melanjutkan mencari impian sampai ke luar negeri.

Kemudian saya menemukan bahwa pada kenyataannya, baik di China maupun di luar negeri, anak muda yang masih studi ataupun orang penting dalam masyarakat adalah sama seperti dirinya, mereka masing-masing sedang mencari tujuan hidup mereka.

Teringat saat kuliah di perguruan tinggi, pada satu mata kuliah utama yang saya ambil, Profesornya sangat bereputasi, telah mendekati usia 60. Ketika memberi pelajaran beliau tidak membawa rencana pelajaran, juga tidak membawa bahan pelajaran, namun beliau mengajar seolah tanpa dipikir lagi, tanpa henti memberikan penjelasan.

Di sela-sela kelas, beliau hanya menghisap pipa rokoknya, sesekali mengobrol dengan kami. Pernah satu kali dia menyinggung bahwa pada saat tugas masuk desa, dia bersama kolega lain mendiskusikan mekanika kuantum di kandang kerbau. Mungkin sudah terlalu banyak yang dia alami, tidak terlihat jelas hati profesor tua tersebut sedang pedih, tak berdaya, ataukah mengeluh penasaran.

Demikian pula, selama studi di luar negeri juga terdapat mata kuliah mekanika kuantum yang sulit. Karena merupakan mata kuliah pilihan, banyak teman kuliah merasa takut memilihnya, sebab itu tidak banyak mahasiswa yang ikut dalam kelas. Profesor tua yang senior ini juga tidak membawa rencana pelajaran, tidak membawa materi pelajaran, namun dapat memberi penjelasan yang baik dan membantu kami mencerna dari berbagai sumber.

Profesor tua ini juga tidak banyak bicara, tapi berbeda dengan profesor di China tadi, profesor ini memiliki rasa humor. Suatu kali ketika sedang ujian, ketika kami sedang tegang menjawab soal ujian, beliau berjalan mondar-mandir di podium, dan kemudian menulis di papan tulis: Life without test is not worth it (jika tanpa ujian maka hidup ini menjadi tidak berarti).

Dalam menghadapi sesuatu yang lucu dan menjengkelkan ini kami dapat merasakan bahwa kata-kata ini sangat inspiratif.

IV.

Memasuki zaman sekarang ini berbagai ajaran dan doktrin telah menjamur di mana-mana dan serba serbi teknologi telah sangat berkembang. Bila ingin mendalami suatu bidang keilmuan, akan dengan mudah menemukan mentor untuk membantu memecahkan labirin dan menyingkirkan awan kabut yang menyelimutinya.

Namun khusus untuk masalah jalan hidup manusia, topik yang seolah abadi dibahas sejak zaman dahulu, dengan samar-samar dan menghanyutkan itu, hanya baru dapat dipahami dengan cara menenangkan hati.

Dalam perjalanan hidup selama puluhan tahun, saya mengetahui arti kemiskinan, setelah melihat tetangga dengan tujuh anggota tinggal dalam gubuk kecil. Saya telah mengerti apa yang disebut sakit, setelah melihat orang tua menderita penyiksaannya selama  bertahun-tahun.

Saya telah mengetahui apa yang disebut perlakuan sewenang-wenang setelah mengalami menerima pembagian jatah seekor ikan kecil dari tim produksi namun ketika akan diambil kakak ternyata ditipu orang lain. Saya pun telah mengerti apa yang disebut tak berdaya setelah mengetahui ibu terpaksa harus bekerja keras sendirian sehingga menderita penyakit menahun se-panjang hidupnya setelah melahirkan saya karena ayah bertugas di luar daerah.

Saya menjadi paham apa yang disebut sikap manusia yang dingin terhadap sesamanya ketika untuk memperbaiki rumah, ayah ibu mencari pinjaman uang kemana-mana tanpa hasil. Saya melihat hilangnya moralitas sosial setelah mengetahui sang kakak yang ingin membukakan jendela atap bus umum untuk para penumpang karena teriknya cuaca justru mendapat perlakuan sinis.

Saya mengetahui hilangnya hati nurani setelah melihat kemarahan seseorang yang mengembalikan peralatan elektronik namun ditolak, malah sengaja dibuat rusak petugas toko dan kemudian dipungkiri. Saya mengetahui apa yang dinamakan perilaku pejabat setelah mengetahui seorang teman sekolah karena ketika perpindahan penduduk terdapat sedikit kesalahan penulisan dokumen sehingga mengalami kesulitan berangkat ke luar negeri, mengetahui apa yang dimaksud dengan suka memandang bulu dan tamak dari gosip para kerabat dekat dan tetangga. Saya mengerti apa yang disebut banyak perubahan dalam kehidupan dari rekan sekitar yang mengalami kenaikan dan penurunan jabatan serta pengangguran.

Anda ingin membiarkan diri terombang ambing mengikuti arus atau memelihara hati yang tulus? Atau ingin menempuh kehidupan seperti orang dungu atau dalam kejelasan? Atau ingin mengejar ketenaran selama hidup ini atau ingin “menempuh kehidupan sederhana tanpa mengejar nama besar untuk memelihara temperamen dan tujuan hidup yang anggun, memelihara kestabilan dan ketenangan hati agar dapat menghasilkan kinerja yang baik”? Atau akan tunduk pada realitas, atau mempraktekkan “mengultivasi diri, mengatur rumah tangga, mengelola negara dan memadamkan kerusuhan dunia”? Ataukah Anda ingin mencapai kehidupan diri yang bebas, atau ingin menolong makhluk hidup di dunia?

Pemikiran-pemikiran ini selalu mengganggu diri, seolah-olah telah lama meraba-raba dalam kegelapan dan sangat mendambakan melihat secercah cahaya.

V.

Akhirnya suatu hari, dalam sebuah percakapan telepon dengan keluarga mendengar tentang Sejati, Baik dan Sabar. Dalam waktu tak lama telah membaca buku tentangnya. Disamping kegembiraan yang tak terkira, terpaksa harus diakui bahwa ternyata ajaran dan jalan kebenaran masih ada bahkan berada disekitar kita.

Bukan saja telah menjawab pertanyaan dan apa yang dicari-cari di dalam dan di luar negeri selama bertahun-tahun, bahkan buku-buku tersebut telah menyingkap mulai dari qigong sampai dengan kemampuan paranormal, mulai dari sembahyang dalam masyarakat sampai dengan dongeng Yunani, mulai dari yin yang dan lima elemen sampai dengan kehidupan dan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan.

Belasan tahun telah berlalu, saya juga telah mengalami kenyamanan tubuh yang bebas dari penyakit, suka-cita karena terjadinya peningkatan jiwa raga, mampu mengesampingkan sifat egois, kembali pada diri sejati nan indah. Bersamaan dengan itu juga telah menyaksikan “mempersalahkan seseorang tidak akan kekurangan alasan,” dari penganiayaan dengan memutar balik hitam dan putih serta putih dikatakan hitam dapat dimengerti bahwa jalan kebenaran dalam dunia adalah penuh pahit getir, dari orang-orang yang tidak gentar terhadap kesulitan dan bahaya, mempertahankan dengan gigih keyakinan yang benar dapat mengerti apa yang dikatakan oleh orang zaman dahulu tentang “ketika seseorang mengalami kesulitan dalam hidup hendaknya memperteguh hatinya, jangan mengendurkan aspirasi yang agung.”

Terlalu banyak kesengsaraan yang harus dialami manusia, sampai saat ini terdapat banyak kerabat, tetangga dan rekan-rekan sibuk mencari nafkah berjuang dalam penderitaan. Sesungguhnya yang paling menyakitkan dalam hidup bukanlah menanggung beban, melainkan tidak bisa melihat harapan, meraba-raba dalam keputus-asaan masa mendatang yang tak kunjung tiba.

Saya jadi teringat sebuah lagu yang melantunkan: melampaui beragam kesulitan, aku datang berulang-ulang untukmu … benar-benar berharap engkau, aku dan dia tidak melewatkan kesempatan langka untuk memiliki masa depan yang bahagia. (Zhou Zheng/The Epoch Times/prm)

Filed under: Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: