Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kemegahan Runtuh Tampak Kemurnian

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan


Kemegahan Runtuh Tampak Kemurnian

Tao Yuanming (365–427), seorang penyair China kuno dalam syair yang berjudul Minum Arak dan Kembali Hidup Di Pedesaan, dia telah menggunakan taraf hati yang murni saat melukiskan keindahan alam.

“Bunga seruni berada di sebelah timur pagar, tenang dan santai nampak gunung selatan”, ini menunjukkan dalam kehidupan, dia menjunjung tinggi kesenangan hidup dalam alam serta kepribadian agungnya yang “tak membungkukkan pinggang demi lima kati beras” (salah satu cuplikan syairnya yang sangat terkenal).

Seorang penyair China, Yuan Haowen (1190-1257) zaman Dinasti Yuan, mengomentari syair yang ditulis Tao Yuanming dengan mengatakan, “Sepatah kata alami telah memperbarui segala yang kuno, kemegahan runtuh dan menampakkan kemurnian.” Yuan Haowen sangat  mengagumi syair lagu karya Tao Yuanming yang tercipta alami, bagaikan perkataan dari Langit, murni baru dan menyegarkan tidak ada penyakit seperti yang dipahat manusia.

Memang benar, syair-syair karya Tao Yuanming jika dibandingkan dengan penyair lainnya, lebih sederhana dan alami, tidak ada polesan, mengupas habis segala riasan, yang terlihat hanya pemikiran dan perasaan yang ikhlas dan terus terang, mengandung kemurnian abadi dan daya tarik kekal yang selalu segar dan baru, syair-syairnya mencapai taraf paling tinggi yang dikagumi Yuan Haowen.

Sebenarnya prinsip menjadi manusia juga demikian, kemurnian yang ada di dunia fana lebih menang daripada segala benda di luar tubuh manusia, seperti uang, kekuasaan dan rangkaian daun zaitun sebagai simbol kemuliaan, semuanya ini benda-benda yang ada di luar tubuh manusia. Kembali ke asal dan jati diri baru merupakan makna kehidupan sesungguhnya.

Alkisah, dahulu kala ada seorang hartawan bermarga Jia saat berusia 93 tahun dia menderita penyakit kronis. Walaupun dia sangat kaya, di sampingnya selalu ada perawat yang melayaninya makan obat dan suntik setiap hari, tetapi dia tetap merasakan semua ini akan berakhir, yang ada di depan mata hanya kebingungan, seperti tak tahu  berada di mana.

Tepat saat itu datanglah seorang pertapa dari gunung, memberikan dia sebuah resep rahasia. Asalkan melafalkan berulang-ulang nama aslinya semasa kecil, dia akan panjang umur dan tidak menua. Setelah mendengar resep ini, meski hartawan itu tidak percaya, tetapi karena tidak ada pilihan lain, terpaksa dia melakukan apa yang dikatakan pertapa itu.

Mendadak dia menemukan bahwa nama aslinya menghilang hampir 80 tahun, karena orang-orang di sekitarnya segan dengan masalah perbedaan status, sehingga tidak ada yang berani memanggil nama aslinya. Dia hanya dipanggil Tuan Jia.

Ketika dia mengenang nama Jia Zhen semasa kecilnya dulu, dengan sekejap dia merasa telah kembali pada sikap hati murni masa kecil yang polos dan naif, seketika dia terharu hingga mengucurkan air mata. Lama tak bertemu dengan diri yang sebenarnya itu! Dia seperti baru pertama kali meraba detak jantungnya.

Karena itu hartawan ini lantas memanggil 6 pembantunya, untuk melafalkan nama kecilnya terus-menerus dan bergilir di kamarnya. Seiring dengan itu sikap hatinya mulai berubah semakin hari kian ringan dan santai. Seakan menampakkan diri yang sebenarnya.

Ada pepatah mengatakan, hati murni maka iblis tak akan bisa menyerbu. Suatu hari tubuhnya benar-benar mengalami perubahan, tubuhnya berangsur-angsur pulih kembali, dan kian nampak muda. Hidupnya sepertinya mendapatkan kehidupan yang baru.

Dari kisah ini kita dapat melihat, di saat kehidupan ini pada titik krusial, semua benda di luar tubuh kita seperti uang, kekuasaan dan nama baik sudah bukan hal yang penting. Benda-benda tersebut meski dapat memikat orang di dunia, tetapi itu semua merupakan beban dalam kehidupan manusia. Benda itu tidak berfungsi menghidupkan kembali orang yang sekarat.

Sebaliknya kemurnian di dunia fana, manusia tidak merasakan berharganya kemurnian karena kebanyakan manusia hanya mengejar hasil dan keuntungan di depan mata, bahkan sama sekali melupakan keberadaan kemurnian itu sendiri. Namun, seseorang bisa tidak terpengaruh segala konsep di dunia ketika menemukan diri sendiri yang sebenarnya. Pada saat itu sikap kemurnian hati yang timbul barulah merupakan titik awal dari perjalanan hidupnya menuju kebajikan. (The Epoch Times/lin)

Filed under: Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: