Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Rahasia di Balik Materi

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan


Rahasia di Balik Materi

Sejak seseorang lahir, ia terus-menerus menjadi sasaran indoktrinasi masyarakat. Sebagian dari indoktrinasi ini, mungkin sebagian terbesarnya, berpegang bahwa kenyataan adalah semua yang dapat disentuh dengan tangan dan disentuh dengan mata. Pemahaman ini, yang sangat berpengaruh dalam masyarakat, diteruskan tanpa dipertanyakan lagi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Walau begitu, sejenak pemikiran tanpa dibebani indoktrinasi apa-apa, akan membuat seseorang menyadari sebuah fakta yang mengejutkan:

Sejak kita lahir, semua hal yang ada di sekitar kita hanyalah apa yang ditampilkan panca indra kita kepada kita. Dunia, manusia, hewan, bunga, warna-warni bunga tersebut, aroma, buah-buahan, rasa, planet, bintang, gunung, batu, bangunan, dan angkasa; singkatnya, semua adalah persepsi yang ditampilkan panca indra kita kepada kita. Untuk menjernihkan masalah ini lebih jauh, akan sangat menolong jika kita membicarakan tentang panca indra, agen yang menyediakan informasi tentang dunia luar kepada kita.

Persepsi kita tentang penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan, semua berfungsi serupa. Citra rasa, aroma, suara, pandangan, dan kepadatan yang kita terima dari objek yang kita asumsikan ada di dunia luar semua dikirimkan oleh saraf ke pusat yang sesuai di otak. Dengan demikian, apa yang diterima otak adalah impuls saraf. Misalnya, selama proses penglihatan, kelompok cahaya (foton) yang berpindah dari objek ke mata melalui lensa di depan mata di mana mereka dibelokkan dan jatuh terbalik pada retina di belakang mata. Impuls saraf yang diteruskan oleh retina diterima sebagai citra di pusat penglihatan otak setelah beberapa rangkaian proses. Dan kita, di sebuah bagian otak kita yang disebut pusat penglihatan, yang berukuran beberapa centimeter kubik saja, menangkap sebuah dunia yang cerah dan penuh warna, yang mempunyai kedalaman, ketinggian, dan keluasan.

Sebuah sistem yang serupa bekerja pada semua indra lainnya. Pengecapan misalnya, diubah menjadi impuls saraf oleh sel-sel khusus di mulut dan lidah lalu dikirimkan ke pusat yang sesuai di otak.

Sebuah contoh akan memperjelas hal ini lebih jauh. Mari kita bayang-kan saat Anda sedang meminum segelas limun. Rasa dingin dan padatnya gelas yang Anda pegang diubah menjadi impuls-impuls saraf oleh sel-sel khusus di bawah kulit Anda dan diteruskan ke otak. Secara bersamaan, aroma limun, rasa manis yang anda alami ketika mengecapnya dan warna kuning yang Anda lihat ketika memandang gelas diteruskan ke otak dalam bentuk impuls-impuls saraf. Bunyi yang Anda dengar ketika Anda meletakkan gelas di meja juga diterima oleh telinga Anda dan diteruskan ke otak sebagai sinyal listrik. Pusat-pusat pendengaran di otak, yang pada dasarnya berbeda namun saling bekerja sama, menerjemahkan semua persepsi ini. Sebagai hasil dari interpretasi ini, Anda akan mengasumsikan diri Anda sedang meminum segelas limun. Dengan kata lain, segala sesuatu berlangsung di pusat-pusat pengindraan di otak tatkala Anda mengira semua persepsi ini adalah nyata.

Namun, pada titik ini Anda tertipu karena sebenarnya Anda tidak mempunyai bukti apa pun untuk mengasumsikan bahwa apa yang Anda tangkap di otak memiliki korelasi dengan materi di luar tengkorak Anda.

Hal yang telah dijelaskan sejauh ini cukup jelas dan terbukti benar oleh ilmu pengetahuan saat ini. Setiap ilmuwan akan memberitahu Anda cara bekerjanya sistem ini dan bahwa dunia yang kita kira kita diami pada kenyataannya adalah kumpulan dari banyak persepsi. Seorang ilmuwan Inggris, John Gribbin menyatakan terkait dengan interpretasi yang dibuat otak, bahwa indra kita seperti interpretasi berbagai rangsangan yang datang dari dunia luar, sebagaimana jika ada sebatang pohon di taman. Dia terus mengatakan bahwa otak kita menerima berbagai rangsangan yang disaring melalui indra kita, dan bahwa pohon hanyalah suatu stimulus. Kemudian dia mempertanyakan: Jadi, yang mana yang nyata? Pohon yang terbentuk oleh indra kita, atau pohon di taman?

Tidak diragukan, ini adalah suatu realitas yang membutuhkan perenungan mendalam. Hingga kini, sangat mungkin Anda mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang Anda lihat di dunia luar adalah realitas absolut. Namun, sebagaimana juga dibuktikan oleh sains, tidak mungkin membuktikan bahwa objek itu mempunyai kolerasi materi di dunia luar. Subjek yang dijelaskan secara ringkas ini adalah salah satu subjek yang paling penting yang Anda akan sadari dalam hidup Anda.

Jutaan Warna di Dalam Tempat yang Gelap Gulita

Jika kita pikirkan ini secara mendalam, kita menemukan suatu hal yang sangat mencengangkan. Otak, di mana pusat-pusat pengindraan kita berada, hanyalah sepotong daging seberat 1.400 gram. Dan tengko-rak, suatu massa tulang, melindungi sepotong daging ini. Dengan perlin-dungan ini, tidak ada cahaya, suara, atau aroma apa pun dapat menem-busnya. Bagian dalam dari tengkorak gelap gulita dan sepenuhnya terisolasi dari cahaya dan aroma apa pun.

Namun di dalam tempat yang gelap ini, kita menangkap dunia yang penuh warna dengan jutaan rasa, aroma, dan suara yang bermacam-macam. Bagaimana ini terjadi?

Apa yang membuat Anda merasakan cahaya di dalam kegelapguli-taan? A pa yang membuat Anda merasakan aroma di suatu tempat yang sepenuh nya terisolasi dari segala jenis aroma? Begitu juga, apa yang membuat Anda merasakan berbagai perasaan lain? Siapa yang membuat semua ind ra ini untuk Anda?

Kenya taannya, setiap saat terjadi keajaiban. Sebagaimana disebutkan di atas, semua persepsi tentang ruang yang kita tempati, misalnya, diubah menjadi impuls saraf dan dikirimkan ke otak kita. Pengindraan yang dikirimkan ke otak diinterpretasikan sebagai citra sebuah ruangan. Dengan kata lain,  Anda sebenarnya tidak berada di dalam ruangan yang Anda asumsikan teng ah Anda tempati; sebaliknya, ruangan itu berada di dalam Anda. Lokasi r uangan tetap di dalam otak, atau dapat dikatakan, lokasi di mana ia ditang kap di dalam otak adalah sebuah bintik kecil, gelap, dan hening. Anda menangkap baik ruangan yang Anda tempati dan pemandangan yang luas di tempat yang sama.

Selain itu, lagi-lagi ota k kita yang menginterpretasikan dan mem-berikan arti kepada sinyal yang kita asumsikan sebagai “dunia luar”. Misalnya, mari kita cermati indra pendengaran. Pada kenyataannya, otak kita yang mengubah gelombang suara di “dunia luar” menjadi suatu simfoni. Dengan kata lain, musik adalah juga suatu persepsi yang dicipta-kan oleh otak kita. Begitu pula, ketika kita melihat warna-warni, yang mencapai otak kita hanyalah impuls-impuls saraf yang berbeda karakter. Sekali lagi, otak kitalah yang mengubah sinyal-sinyal ini menjadi warna-warni. Tidak ada warna di “dunia luar”. Apel tidak merah, langit tidak biru, dan pohon tidak hijau. Mereka seperti adanya hanya karena kita mempersepsi mereka seperti itu. “Dunia luar” tergantung sepenuhnya pada si pemerhati.

Bahkan kerusakan kecil pada retina mata dapat menyebabkan buta warna. Sebagian orang menangkap biru sebagai hijau, sebagian lagi menangkap merah sebagai biru, dan sebagian lagi menangkap semua warna sebagai bermacam corak abu-abu. Pada titik ini, tidak ada artinya apakah objek di luar itu berwarna atau tidak.

Seorang pemikir terkenal, Barkeley juga menyinggung fakta ini:

Pada awalnya, diyakini bahwa warna-warni, aroma, dan lain-lain, “benar-benar ada”, namun kemudian pandangan semacam itu ditinggalkan, dan dipahami bahwa mereka hanya ada tergantung pada pengindraan kita.60

Kesimpulannya, alasan kenapa kita melihat objek-objek berwarna bukanlah karena mereka berwarna atau karena mereka mempunyai keberadaan materi yang bebas di luar diri kita. Kebenarannya adalah bahwa semua kualitas yang kita anggap berasal dari objek-objek berada di dalam diri kita dan bukan di “dunia luar”.

Hal ini mungkin tidak pernah Anda pikirkan sampai hari ini.

Apa yang Ada di Luar Diri Kita?

Sejauh ini kita telah membahas fakta bahwa kita hidup di dalam tengkorak kita dan menangkap tidak lebih dari apa yang ditangkap indra kita. Sekarang mari kita teruskan selangkah lebih jauh: “Apakah benda-benda yang kita tangkap mempunyai keberadaan sebenarnya atau mereka adalah imajiner?”

Mari mulai dengan bertanya: perlukah ada dunia luar untuk dapat melihat atau mendengar?

Tidak. Tidak perlu ada dunia luar untuk dapat melihat atau mende-ngar. Berbagai bentuk rangsangan terhadap otak akan memicu berfung-sinya semua indra, membentuk perasaan, penglihatan dan suara. Contoh yang terbaik untuk menjelaskan ini adalah mimpi.

Saat bermimpi, anda terbaring di atas tempat tidur, di ruangan yang gelap dan hening, mata anda tertutup rapat. Tidak ada yang sampai ke-pada Anda dari dunia luar untuk ditangkap, baik cahaya atau suara. Na-mun, di dalam mimpi Anda, Anda mengalami banyak hal seperti yang mungkin Anda alami dalam kehidupan sehari-hari, sama hidup dan je-lasnya dengan saat terjaga. Di dalam mimpi Anda, Anda juga terbangun dan bergegas berangkat kerja. Begitu pula, di dalam mimpi Anda pergi berlibur dan merasakan sinar matahari.

Di samping itu, selama mimpi Anda, Anda tidak merasa ragu ten-tang apa yang Anda lihat. Hanya pada saat terbangun Anda akan menya-dari bahwa semuanya hanyalah mimpi. Di dalam mimpi, Anda merasa takut, cemas, gembira, atau sedih. Begitu pula, Anda merasakan nyata-nya benda-benda. Namun, tidak ada sumber yang menghasilkan segala persepsi ini. anda masih berada di ruangan yang gelap dan hening.

Descartes menyatakan sebagai berikut tentang fakta mimpi yang mencengangkan:

Di dalam mimpi, saya melihat bahwa saya melakukan berbagai hal, saya pergi ke berbagai tempat; namun ketika terbangun, saya menyadari saya tidak melakukan apa-apa, atau pergi ke mana-mana, dan bahwa saya terbaring tenang di atas tempat tidur. Siapa yang dapat menjamin bahwa saya juga tidak bermimpi saat ini, dan lebih jauh lagi, bahwa seluruh hidup saya juga bukanlah sebuah mimpi?61

Dalam hal ini, sebagaimana kita mengalami mimpi kita sebagai suatu yang nyata dan hanya menyadari bahwa itu hanya dunia khayalan ketika terbangun, kita tidak dapat mengklaim bahwa apa yang kita alami kala bangun adalah nyata. Jadi, sepenuhnya mungkin bahwa kita dapat saja terbangun dari kehidupan di muka bumi, yang kita kira kita tinggali saat ini, dan mula mengalami hidup yang sebenarnya. Kita tidak mempu-nyai bukti untuk menyangkalnya. Sebaliknya, penemuan sains modern mengemukakan keraguan yang serius tentang pernyataan bahwa apa yang kita alami di kehidupan sehari-hari adalah keberadaan yang sebenarnya.

Dalam hal ini, kita berhadap-hadapan dengan hal yang nyata: saat kita menganggap bahwa dunia yang kita diami ini ada, tidak ada landasan bagi perkiraan ini. sama sekali mungkin bahwa berbagai persepsi ini tidak memiliki korelasi material.

Apakah Otak Kita Terpisah dari Dunia Luar?

Jika benda-benda yang kita terima sebagai dunia material hanyalah terdiri dari persepsi-persepsi yang ditunjukkan kepada kita, apakah otak itu, yang dengannya kita mendengar, melihat, dan berpikir? Bukankah otak juga, seperti yang lainnya, adalah kumpulan atom-atom dan molekul-molekul?

Seperti segala sesuatu lainnya yang kita anggap sebagai “materi”, otak kita juga persepsi, dan sudah pasti tidak terkecuali. Lagi pula, otak kita juga adalah potongan daging yang kita rasakan melalui indra kita. Sebagaimana segala sesuatu yang kita anggap ada di dunia luar, otak juga hanyalah imaji bagi kita.

Lalu, siapa yang merasakan semua ini? Siapa yang melihat, mendengar, mencium, dan mengecap?

Semua ini membawa kita berhadap-hadapan dengan sesuatu yang nyata: manusia yang melihat, merasa, berpikir, dan sadar adalah lebih dari sekadar kumpulan atom dan molekul yang menyusun tubuhnya. Yang membuat seorang manusia sebenar-benarnya adalah roh yang diberikan Allah kepadanya. Jika tidak, menyifatkan kesadaran dan semua sifat dan kecakapan kepada sepotong daging seberat 1,5 kg jelas tak masuk akal, belum lagi bahwa potongan daging ini hanyalah ilusi.

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As- Sajdah, 32: 7-9) !

Allah Adalah yang Terdekat dengan Diri Kita

Karena seorang manusia bukanlah akumulasi materi melainkan suatu “ruh jiwa”, lalu siapakah yang menampilkan, atau lebih tepatnya “menciptakan” dan menampilkan, kumpulan persepsi yang disebut “materi” kepada jiwa kita?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat jelas: Allah, Yang “meniupkan” ruh-Nya kepada manusia, adalah Pencipta segala sesuatu di sekeliling kita. Satu-satunya sumber persepsi adalah Allah. Tidak ada yang bukan ciptaan-Nya. Dalam ayat berikut, Allah menceritakan bahwa Dia men-ciptakan segala sesuatu dan jika tidak, tidak akan ada sesuatu pun.

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan le-nyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir, 35: 41) !

Sebagai hasil dari pengondisian yang terus-menerus yang diterima manusia sejak lahir, mereka mungkin tidak bersedia menerima fakta ini. Namun, bagaimanapun mereka menghindari mendengar atau melihat-nya, ini adalah sebuah fakta yang jelas. Semua citra yang ditunjukkan ke-pada manusia adalah ciptaan Allah. Lebih-lebih lagi, tidak hanya dunia luar tetapi juga semua tindakan yang menurut seseorang ia lakukan terjadi hanya dengan kehendak Allah. Suatu tindakan yang independen dan terpisah dari kehendak Allah adalah tidak mungkin.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Shaffat, 37: 96) !

“Maka bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika ka-mu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mu’min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengeta-hui.” (QS. Al Anfaal, 8: 17) !

Sebagai hasil dari semua ini kita memahami bahwa satu-satunya keberadaan yang absolut adalah Allah. Tidak ada sesuatu pun kecuali Dia. Dia meliputi segala sesuatu di langit, bumi, dan segala sesuatu di antaranya. Allah menyebutkan di dalam Al Quran bahwa Dia ada di mana-mana dan bahwa Dia meliputi segala sesuatu:

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan ten-tang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguh-nya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS. Fushilaat, 41: 54) !

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah . Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah, 2: 115) !

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’, 4: 126) !

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS. Al Israa’, 17: 60) !

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan yang disenga-ja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah, 2: 255) !

Allah meliputi Anda dari depan, belakang, kanan, kiri, yakni dari segala arah; Dia Yang menyaksikan Anda kapan pun, di mana pun, sepenuhnya mengendalikan di dalam di luar diri Anda, dan lebih dekat kepada Anda dibandingkan urat leher Anda itulah Allah, Yang Mahakuasa, satu-satunya.

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Baqarah, 2:32) !

Kita melihat segala sesuatu di sekitar kita berwarna di dalam kegelapan otak kita, sebagaimana taman ini terlihat berwarna dari jendela kamar yang gelap.

Ketika kita berada di dalam sebuah ruangan, kita menganggap diri kita berada di sebuah tempat yang terbatas, dan ketika berada di tepi laut kita berada di tempat yang sangat luas. Hal ini, dalam beberapa ukuran, hanyalah ilusi, karena sebenarnya, kita mengalami kedua keadaan di dalam tempat yang sangat sempit di dalam otak kita.

Di dalam mimpi kita, kita dapat memimpikan diri kita berada di kepulauan tropis. Kita menjalani momen itu dengan semua realitasnya. Tidak seorang pun dapat meyakinkan kita bahwa kita sedang bermimpi pada saat itu. Baru setelah terbangun kita mengerti bahwa kita tadinya bermimpi.

Filed under: Science

One Response

  1. aldo mengatakan:

    pemikiran gila….mimpi dan nyata tidak dapat dibedakan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: