Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Dunia yang Beraneka Warna

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Melihat Permasalahan



Dunia yang Beraneka Warna

Pernahkah terpikir oleh Anda seperti apa hidup di dunia tanpa warna? Bebaskan diri Anda sejenak dari pengalaman Anda. Lupakan semua yang pernah Anda pelajari. Dan mulailah menggunakan imajinasi. Coba bayangkan badan Anda, orang-orang di sekitar Anda, lautan, langit, pohon-pohon, bunga-bunga, singkatnya, semuanya, berwarna hitam. Bayangkan bahwa di sekeliling Anda tidak ada warna. Coba pikirkan, bagaimana perasaan Anda jika orang, kucing, anjing, burung, kupu-kupu, dan buah-buahan tidak berwarna sama sekali. Tentunya Anda tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?

Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau dipertanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Dalam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).

Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan warna dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.

Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.

Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.

Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemikian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna. Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.

Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mempunyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, berdasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:

Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:

Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-warna itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara warna-warna tersebut?

Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?

Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.

Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan dengan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.

Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari kebutaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.

Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelukis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.

Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan dengan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:

“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !

Apakah Warna Itu? Bagaimana Warna Dibuat?

Beberapa detil mempunyai tempat penting dalam pikiran manusia dan itu tidak akan pernah berubah. Mari kita mulai dengan pohon, yang sangat akrab dalam pandangan kita. Warna pohon hampir pasti hijau atau nuansa hijau. Diketahui pula bahwa pada musim gugur, dedaunan berubah warna. Sama halnya, langit berwarna biru, nuansa abu-abu saat mendung atau kuning dan merah saat matahari terbit dan terbenam. Warna-warna buah tidak pernah berubah; warna buah jambu dan salak sudah seperti itu, dan selalu kita kenali dengan baik. Setiap makhluk hidup dan objek yang dipegang di bawah cahaya memiliki warna. Perhatikan baik-baik pelbagai benda di sekeliling Anda. Apa yang Anda lihat? Meja, kursi, pepohonan yang terlihat dari jendela, langit, dinding rumah, wajah-wajah orang lain, buah yang Anda makan, buku yang Anda baca saat ini.… Masing-masing mempunyai warna berbeda. Pernahkah Anda pikirkan, bagaimana semua warna ini dibentuk dan ditata?

Mari kita cermati secara umum apa yang diperlukan untuk pemben-tukan warna yang memainkan peran penting dalam kehidupan (Poin ini akan didiskusikan kemudian dengan terperinci). Untuk pembentukan warna tunggal, misalnya, merah atau hijau, setiap proses berikut harus terjadi dan, lebih penting lagi, harus mengikuti urutan berikut ini.

1. Kondisi pertama yang diperlukan untuk pembentukan warna adalah keberadaan cahaya (light). Dalam hal ini, ada baiknya memulai dengan mencermati sifat-sifat cahaya yang berasal dari matahari. Cahaya dari matahari yang datang ke bumi harus memiliki panjang gelombang tertentu untuk menghasilkan warna. Bagian cahaya ini, yang dikenal sebagai “cahaya tampak“, dibandingkan dengan semua cahaya lain yang dipancarkan matahari adalah satu berbanding 1025. Proporsi cahaya yang kecilnya hampir tak masuk akal ini, yang penting untuk pembentukan warna, mencapai bumi dari matahari

2. Bahkan, sebagian besar sinar (rays) yang dipancarkan matahari ke seluruh jagat raya mengandung beberapa karakteristik yang membahayakan mata. Oleh karena itu, cahaya yang tiba ke bumi harus dalam bentuk tertentu sehingga dapat ditangkap mata dengan mudah dan tidak membahayakannya. Untuk itu, sinar ini harus melewati suatu filter. Filter raksasa ini adalah “atmosfer“ yang menyelimuti bumi.

3. Cahaya yang melewati atmosfer disebarkan ke seluruh permukaan bumi, dan ketika mengenai objek, cahaya ini dipantulkan. Objek tempat cahaya jatuh harus dari jenis yang tidak menyerap cahaya, tetapi memantulkannya. Dengan kata lain, kualitas struktur objek harus selaras juga dengan cahaya yang mencapai bumi agar warna dapat terbentuk. Kondisi ini juga terpenuhi dan gelombang cahaya baru dipantulkan dari objek yang terkena cahaya matahari.

4. Syarat penting berikutnya dalam proses pembentukan warna adalah keberadaan alat yang dapat mengindra gelombang cahaya, yaitu mata. Sangat penting bahwa gelombang cahaya juga selaras dengan organ penglihatan.

5. Sinar yang datang dari matahari harus melewati lensa dan lapisan-lapisan mata dan kemudian diubah menjadi impuls-impuls saraf di dalam retina. Sinyal ini kemudian harus diangkut ke pusat penglihatan pada otak, yang bertugas menginterpretasikan pandangan.

6. Ada langkah terakhir yang harus dipenuhi agar kita dapat ‘meli-hat’ warna. Tahap akhir dalam pembentukan warna adalah interpretasi sinyal listrik sebagai “warna“ oleh sel saraf yang sangat khusus di dalam pusat penglihatan otak.

Demikianlah, untuk pembentukan satu warna saja, diperlukan urut-an proses yang sangat detail dan saling tergantung.

Semua informasi yang kita miliki tentang warna menunjukkan bah-wa setiap proses yang terjadi selama pembentukan warna diatur dalam keseimbangan yang rumit. Tanpa keseimbangan ini, tak pelak lagi kita akan berada di dunia yang gelap, bukan dunia penuh warna cemerlang, dan mungkin kita bahkan akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Mari kita anggap bahwa satu bagian saja, misalnya, sel saraf penerima sinyal listrik yang dibangkitkan oleh retina, tidak ada. Yang terjadi adalah, cahaya matahari tidak berada dalam spektrum tampak, bagian-bagian lain dari mata tidak berfungsi secara utuh, dan keberadaan atmosfer saja tidak memadai atau mengkompensasi kekurangan ini.

Peran Retina dalam Melihat

Marilah kita mengkaji retina lebih dekat dan lebih detail. Anggaplah bahwa zat pewarna (pigmentary substance) yang disebut “rhodopsin“, yang bekerja di dalam retina, tidak ada. Rhodopsin adalah zat yang berhenti berfungsi di bawah cahaya terang benderang tetapi berfungsi kembali dalam kegelapan. Mata tidak dapat melihat dengan jelas dalam cahaya remang-remang kecuali jika sejumlah rhodopsin dihasilkan dalam mata. Fungsi rhodopsin adalah untuk meningkatkan efisiensi dan dengannya mata membangkitkan impuls saraf dari cahaya remang-remang. Zat ini diproduksi sebanyak kebutuhan, tepat pada saat diperlukan. Jika kese-imbangan rhodopsin terjaga, citra menjadi jelas. Apa yang akan terjadi, jika rhodopsin yang sangat penting untuk proses penglihatan, tidak ada? Jika demikian, manusia hanya bisa melihat di bawah cahaya terang.2 Oleh karena itu, terbukti bahwa ada sistem sempurna di dalam mata, yang telah dirancang sampai dengan detail sekecil-kecilnya.

Lalu, karya seni siapakah sistem ini, yang menyelamatkan kita dari kegelapan dan menyajikan kepada kita sebuah dunia penuh warna?

Setiap tahap yang telah disebutkan sejauh ini mencakup serang-kaian proses, yang memerlukan adanya kebijaksanaan, keinginan dan kekuasaan dalam penciptaan mereka. Jelaslah bahwa tidak mungkin rangkaian proses yang ada dalam keselarasan seperti itu, telah terbentuk secara kebetulan. Juga, tidaklah mungkin sistem seperti itu telah terbentuk sendiri sejalan dengan waktu. Hasilnya tidak akan berubah sama sekali jika jutaan atau bahkan miliaran tahun dibiarkan berlalu. Sistem-sistem penyusun dunia yang beraneka warna tidak akan pernah muncul secara kebetulan. Sistem-sistem sempurna seperti itu hanya dapat muncul sebagai hasil dari desain khusus, yang berarti bahwa mereka diciptakan. Allah memiliki kekuatan dan kebijaksanaan abadi yang meliputi seluruh jagat raya. Contoh-contoh cita rasa seni Ilahi dalam penciptaan yang tiada taranya tersebar di seluruh semesta. Desain unik yang tampak jelas dalam pembentukan warna juga adalah ciptaan Allah semata. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al Baqarah, 2: 117) !

Tak dapat dibantah lagi betapa pentingnya warna dalam kehidupan manusia. Setiap benda mendapatkan arti dengan warna-warna yang dimilikinya. Bayangkan, warna-warna yang Anda lihat pada foto di samping ini (termasuk hitam dan putih) tidak ada sama sekali. Tentu saja, Anda tidak bisa melihat apa-apa dalam foto itu. Untuk membentuk satu saja dari sekian banyak warna pada objek-objek ini, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, semuanya pada saat bersamaan. Allah telah membuat pembentukan warna tergantung pada keberadaan sebuah sistem yang sangat terperinci.

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.” (QS. Qaaf, 50:6) !

Melalui lapisan-lapisan khusus yang dimilikinya, atmosfer menyerap hampir semua sinar berbahaya yang berasal dari matahari atau luar angkasa. Allah telah merancang setiap lapisan ini demi kehidupan di bumi.

Desain Dalam Warna

Warna adalah suatu konsep yang membantu kita mengenali sifat pelbagai objek dan mendefinisikannya dengan lebih tepat. Jika kita memikirkan warna objek di sekeliling kita, segera kita dapat melihat betapa nuansa warna sangat beraneka. Segala sesuatu, baik hidup maupun mati, memiliki warna. Makhluk hidup dari spesies yang sama memiliki warna tertentu yang sama pula di semua tempat di dunia. Ke mana pun Anda pergi, daging buah nanas selalu berwarna kuning, buah kiwi selalu hijau, lautan selalu bernuansa biru dan hijau, salju berwarna putih, lemon berwarna kuning, warna gajah sama di mana-mana di seluruh dunia, seperti juga warna pepohonan. Warna-warna itu tidak pernah berubah. Ini juga berlaku untuk warna-warna buatan. Ke mana pun Anda pergi di muka bumi ini, kalau Anda mencampur merah dengan kuning, Anda akan mendapatkan oranye. Jika Anda mencampur hitam dengan putih, Anda akan mendapatkan abu-abu. Hasilnya akan selalu demikian.

Sampai di sini, mungkin ada gunanya berpikir dengan cara lain. Pertama, mari kita berpikir dengan mengajukan pertanyaan, bagaimana warna-warna objek dibuat. Kita dapat menjelaskannya dengan sebuah contoh. Bayangkan Anda sedang melangkah memasuki toko dan melihat kain dengan berbagai desain dan model, dengan warna-warni yang sela-ras satu sama lain. Tentu saja, kain-kain itu tidak hadir di sana dengan begitu saja; orang secara sadar menggambar rancangannya, menentukan warna-warnanya, memproses kain itu untuk pewarnaan, dan setelah beberapa tahap antara, mereka memajangnya di toko itu. Singkatnya, kehadiran kain-kain ini tergantung kepada orang yang meran-cang dan memproduksinya. Ketika melihatnya, Anda tak akan mengatakan bahwa kain-kain itu ada di sana tanpa disengaja, atau bahwa desain-desain kain itu diperoleh secara kebetulan akibat ada cat-cat yang tumpah di atas kain itu. Kenyataannya, tak ada seorang pun yang berakal sehat akan menyatakan hal seperti itu. Sesungguhnya, ada sebuah kehendak sadar yang menyajikan kepada kita pemandangan yang kita lihat di alam setiap saat: kupu-kupu, bunga-bunga, tempat-tempat beraneka warna di dasar laut, pepohonan, awan, dan sebagainya, sebagaimana kain-kain itu disajikan kepada kita. Keane-karagaman di alam semesta adalah konsekuensi dari desain khusus. De-sain ini diwujudkan dalam setiap tahapan, dari pembentukan sinar hing-ga sinar itu menjadi citra penuh warna dalam otak kita. Ini adalah salah satu bukti terkuat keberadaan sang Pemilik, yaitu, Perancang desain da-lam warna. Pastilah, Allah, yang memiliki kebijaksanaan dan kekuasaan tidak terhingga untuk mencipta, menciptakan semua warna dan desain di alam semesta yang dikagumi manusia.

Tahap-tahap pembentukan warna telah diuraikan secara singkat sebelumnya. Dalam bab ini, rancangan unggul yang jelas terlihat dalam warna akan dikaji di bawah judul-judul terpisah sesuai dengan proses pembentukan dari cahaya ke mata dan otak.

1. Cahaya, Kehidupan dan Warna

Matahari hanyalah salah satu dari miliaran bintang berukuran se-dang di jagat raya. Yang menjadikan matahari bintang terpenting di jagat raya bagi kita adalah ukurannya, hubungannya dengan planet-planet yang bergerak mengelilinginya, dan sinar-sinar tertentu yang dipancar-kannya. Kalau ada satu saja karakteristik matahari yang berbeda dengan kondisi saat ini, niscaya tidak akan ada kehidupan di bumi. Sesungguh-nya, matahari memiliki sifat-sifat ideal yang memungkinkan kehidupan muncul dan tetap berlangsung di muka bumi.3 Karena itulah para ilmuwan menyebut matahari sebagai “sumber kehidupan“ di bumi.

Matahari adalah satu-satunya sumber panas, yang memanasi bumi dengan cara paling tepat; dan sumber cahaya, yang membantu tumbuh-tumbuhan berfotosintesis. Telah lazim diketahui bahwa panas dan fotosintesis sangat penting bagi kehidupan. Selain itu, keberadaan siang hari dan dunia yang penuh warna tergantung pada sinar yang dipan-carkan matahari. Dalam hal ini, muncul pertanyaan dalam benak, bagaimana sinar-sinar ini – sumber energi utama untuk bumi – bisa ada. Jelaslah bahwa sinar-sinar ini, yang merupakan kunci kehidupan di bumi, yang memenuhi kebutuhan penting tersebut, dan yang pada saat bersamaan memiliki semua karakteristik untuk tujuan itu, tidak dapat dianggap sebagai suatu kebetulan. Alasan untuk ini akan dapat dipahami dengan lebih baik jika struktur cahaya ini diteliti.

Energi yang dipancarkan bintang-bintang bergerak dalam gelombang melalui kehampaan ruang angkasa. Sama halnya, cahaya dan panas dipancarkan oleh matahari yang juga sebuah bintang sebagai energi dalam bentuk gelombang. Gerakan energi yang dipancarkan bintang-bintang ini dapat dibandingkan dengan gelombang yang ditimbulkan oleh sebuah batu yang dilempar ke danau. Seperti gelombang-gelombang di danau yang mempunyai panjang berbeda, demikian pula panas dan cahaya mempunyai panjang gelombang berbeda ketika mereka menyebar.

Sampai di sini, akan bermanfaat jika diberikan beberapa informasi tentang aneka panjang gelombang cahaya di jagat raya. Bintang-bintang dan sumber-sumber cahaya lain di jagat raya tidak memancarkan cahaya yang sama jenisnya. Sinar-sinar yang berbeda ini dikelompokkan menu-rut panjang gelombang dan frekuensinya. Aneka panjang gelombang ini berada pada sebaran yang sangat luas. Sebagai contoh, panjang gelom-bang terpendek berukuran 1025 kali lebih kecil dibandingkan panjang gelombang terpanjang (1025 adalah angka yang sangat besar, terdiri dari angka 1 diikuti 25 angka nol dibelakangnya) 4

Dalam spektrum utuh, seluruh sinar yang dipancarkan matahari dimampatkan ke dalam interval yang sangat pendek. 70% dari berbagai panjang gelombang yang dipancarkan matahari berada di dalam interval sempit, yang berkisar antara 0,3 mikron sampai 1,50 mikron. (Satu mikron sama dengan 10-6 m). Dengan menyelidiki mengapa sinar matahari terbatas pada interval sesempit itu, kita sampai pada suatu kesimpulan menarik: sinar-sinar yang memungkinkan kehidupan, dan warna, ada di bumi hanyalah sinar-sinar di dalam interval ini.

Fisikawan Inggris, Ian Campbell, yang menyebut desain luar biasa ini “sangat mengagumkan“ dalam bukunya The Energy and Atmosphere, mengemukakan hal ini:

Bahwa radiasi dari matahari (dan dari banyak rangkaian bintang) harus terkonsentrasi dalam berkas spektrum elektromagnetik yang sangat kecil, yang menyediakan radiasi tepat seperti yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan kehidupan di bumi, adalah sangat bersesuaian (ko-insiden). 5

Pada spektrum elektromagnetik spektrum dengan lebar di mana panjang gelombang terpanjangnya 1025 kali lebih besar daripada yang terpendek dalam selang/interval sempit radiasi yang dipancarkan matahari, terdapat porsi besar yang disebut “cahaya tampak”. Semen-tara, sinar-sinar yang terletak di bawah dan di atas interval ini mencapai bumi sebagai sinar-sinar inframerah dan ultraviolet. Sekarang, mari kita tinjau dengan singkat sifat-sifat kedua jenis sinar ini.

Sinar-sinar inframerah sampai di bumi dalam bentuk gelombang panas. Di sisi lain, sinar-sinar ultraviolet yang mengandung energi lebih besar bisa mempunyai efek merusak terhadap makhluk hidup. Sinar-si-nar inframerah menembus atmosfer, dan menyediakan panas, membuat bumi menjadi tempat yang cocok untuk kehidupan. Sementara, sinar ultraviolet dapat mencapai bumi hanya dengan laju (rate) tertentu. Jika laju ini sedikit saja lebih besar daripada tingkat saat ini, sinar ini akan merusak jaringan makhluk hidup dan menyebabkan kematian masal, sedangkan jika sinar ini sedikit lebih rendah, maka energi yang diperlu-kan makhluk hidup tidak akan tercukupi.

Ini adalah detil yang penting sekali bagi kehidupan. Dari uraian tentang fungsi dan manfaat sinar-sinar yang dipancarkan matahari, tam-pak keteraturan dan kontrol dalam setiap sistem yang ada di dunia. Jelas-lah, tidak mungkin sistem seperti ini, keseimbangan yang rumit yang telah kita kaji dengan singkat, dapat terbentuk secara kebetulan.

Dalam mengkaji elemen lain dari sistem tanpa cacat ini, sekali lagi kita melihat kemustahilan bahwa semua ini muncul sebagai konsekuensi dari suatu kebetulan.

2. Atmosfer: Perisai Pelindung Bumi

Pada halaman-halaman sebelumnya, telah disinggung bahwa sebagian sinar matahari berbahaya bagi kehidupan di bumi. Untuk mencegah efek membahayakan ini, diperlukan sebuah solusi.

Mari kita berpikir dan mencoba mencari solusi untuk masalah ini de-ngan mengembangkan sistem efisien untuk menyaring sinar matahari. Kita juga perlu menyadari fakta bahwa sistem ini harus multifungsi. Sistem ini harus melindungi dunia dari efek matahari yang berbahaya. Harus terjamin bahwa sistem ini tetap berfungsi dan tidak memerlukan pemeliharaan, sekaligus juga mampu menangkal kemungkinan ancaman lain terhadap bumi ini. Tentu saja dalam situasi seperti ini, beberapa al-ternatif solusi akan muncul. Namun, solusi-solusi yang dikemukakan ti-dak seefisien dan seserbaguna filter yang saat ini meliputi bumi: atmosfer. Atmosfer bumi berhasil seratus persen menyaring sinar-sinar berbahaya dan telah dirancang khusus oleh Allah untuk melindungi bumi.

Berkat lapisan-lapisan spesifik atmosfer, sinar matahari yang sampai ke bumi hanya sejumlah yang diperlukan karena atmosfer memproses sinar matahari secara spesifik berdasarkan panjang gelombangnya. At-mosfer kita seperti pabrik penyulingan raksasa yang dirancang untuk menyaring sinar-sinar ini. Sistem penyulingan raksasa yang tiada taranya di bumi ini menjalankan semua proses itu karena memang telah dirancang demikian oleh Allah. Allah mengungkapkan tentang penciptaan langit sebagai berikut (kata Arab sama dapat berarti ‘langit (heaven)’ atau ‘angkasa (skies)’):

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Al Mu’min, 40:57)

Sinar-sinar yang berasal dari matahari benar-benar spesifik. Sinar-sinar ini perlu memiliki sifat yang memungkinkannya menembus atmosfer dan mencapai bumi. Demikian pula, atmosfer harus memiliki struktur khusus yang memungkinkan sinar-sinar ini melewatinya. Jika tidak, keberadaan atmosfer dan ketepatan struktur sinar-sinar itu tidak akan ada gunanya. Karena atmosfer bersifat tembus-sinar (ray-permeable), sinar-sinar yang berasal dari matahari dapat dengan mudah mencapai bumi. Ada hal penting lain yang perlu disebutkan. Dengan membiarkan lewat hanya cahaya tampak dan sinar-sinar inframerah-dekat (near infra-red rays) yang diperlukan untuk kehidup-an, atmosfer sekaligus mencegah seluruh sinar lain yang merusak agar tidak men-capai bumi. Atmosfer bumi telah berfun-gsi sebagai “penyaring” yang sangat pen-ting bagi sinar-sinar perusak yang berasal dari matahari ataupun yang bukan dari matahari, yaitu dari luar angkasa.6

Michael Denton, seorang ahli astronomi terkenal, menyatakan:

Bahkan gas-gas atmosfer sendiri dengan sangat kuat menyerap radiasi elektro-magnetik di daerah spektrum tepat di ke-dua sisi cahaya tampak dan infra-merah-dekat. Perlu dicatat bahwa dari seluruh daerah radiasi elektromagnetik, dari ra-dio hingga sinar gamma, satu-satunya daerah spektrum yang bisa menembus atmosfer hanyalah berkas sedemikian sempit yang meliputi cahaya tampak dan inframerah-dekat. Hampir tidak ada radi-asi sinar gamma, X, ultraviolet, infra-merah-jauh, dan gelombang mikro yang mencapai permukaan bumi.7

Jelas bahwa ada desain sangat cang-gih dalam struktur atmosfer. Dari spek-trum dengan lebar yang ditunjukkan ang-ka sebesar 1025, matahari hanya meman-carkan sinar-sinar yang berguna bagi kita dan yang diperlukan untuk sebuah dunia penuh warna, dan atmosfer hanya meng-izinkan sinar-sinar yang tidak berbahaya, bahkan berguna, untuk mencapai bumi. Di samping itu, berkat sifat gas-gas dalam atmosfer, mata makhluk hidup, yang se-cara langsung menerima sinar matahari, terlindung dari efek-efek berbahaya. Semua ini adalah bukti bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan proporsi/ukuran yang tepat.

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasa-an-(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al Furqan, 25:2) !

3. Cahaya Menumbuk Benda/Materi

Cahaya yang datang dari matahari mencapai bumi dengan kecepatan 300.000 km per detik. Berkat kecepatan cahaya itulah, kita selalu melihat dunia penuh dengan warna. Lalu, bagaimanakah citra-citra yang tak tersela ini dibuat?

Cahaya menembus atmosfer dengan kecepatan luar biasa dan men-capai bumi dengan menumbuk berbagai objek. Ketika menumbuk suatu objek dengan kecepatan seperti ini, cahaya berinteraksi dengan atom-atom objek tersebut dan memantul dengan panjang gelombang berbeda, yang sesuai dengan warna-warna. Dengan cara inilah, buku yang sekarang Anda pegang, baris-barisnya, gambar-gambar, pemandangan yang Anda lihat di luar, pepohonan, gedung, mobil, langit, burung, kucing, singkatnya semua yang ditangkap mata Anda, memantulkan warna-warnanya.

Molekul yang memungkinkan warna dipantulkan adalah molekul pigmen. Warna yang dipantulkan suatu objek tergantung pada molekul pigmen yang terkandung dalam objek tersebut. Setiap molekul pigmen mempunyai struktur atom yang berbeda. Nomor, jenis dan urutan atom dalam molekul-molekul itu berbeda satu sama lain. Cahaya yang me-numbuk pelbagai pigmen itu kemudian dipantulkan dalam berbagai nuansa warna. Namun, ini saja tidak cukup untuk pembentukan warna. Agar cahaya pantul yang memiliki suatu kualitas warna tertentu dapat diterima dan dilihat, pantulan itu harus mencapai alat pelihat yang mampu mengindranya.

4. Cahaya Datang ke Mata

Agar sinar yang dipantulkan objek dapat dilihat sebagai warna, sinar itu harus mencapai mata. Keberadaan mata saja tidak cukup. Setelah mencapai mata, sinar itu harus diubah menjadi sinyal-sinyal saraf yang mencapai otak yang bekerja selaras dengan mata.

Mari kita pikirkan mata dan otak kita sendiri sebagai contoh terde-kat. Mata manusia adalah sebuah struktur sangat kompleks yang terdiri atas banyak organel dan bagian yang berbeda. Kerja serempak dan selaras semua bagian ini membuat kita dapat melihat dan menangkap warna. Mata, dengan jaringan-jaringan dan organel-organelnya seperti kelenjar air mata, kornea, konjungtiva, selaput pelangi, dan pupil, lensa, retina, choroid, otot-otot dan kelopak mata, adalah sistem yang tiada tara-nya. Selain itu, dengan jaringan saraf luar biasa yang menyam-bungkan mata dengan otak, dan daerah penglihatan yang sangat kompleks, mata secara keseluruhan, mempunyai struktur yang sangat istimewa, yang keberadaannya tidak dapat dianggap kebetulan.

Setelah pengantar singkat tentang mata, marilah kita lihat juga ba-gaimana proses melihat terjadi. Sinar yang datang ke mata mula-mula melewati kornea, lalu pupil dan lensa-lensa, dan akhirnya mencapai retina.

Pengindraan warna dimulai pada sel kerucut dalam retina. Ada tiga kelompok utama sel kerucut yang bereaksi sangat kuat terhadap warna tertentu dari cahaya. Sel-sel ini dikelompokkan sebagai sel-sel kerucut biru, hijau dan merah. Warna merah, biru dan hijau, yang membuat sel kerucut itu bereaksi, adalah tiga warna primer yang ada di alam. Dengan rangsangan sel kerucut yang sensitif terhadap ketiga warna ini, pada derajat yang berbeda, muncullah jutaan warna yang berbeda.

Sel kerucut mengubah informasi yang berhubungan dengan warna ini menjadi impuls saraf melalui pigmen-pigmen yang terkandung di dalamnya.8 Selanjutnya, sel saraf yang terhubung dengan sel kerucut ini mengirimkan impuls saraf ke suatu daerah tertentu dalam otak. Dalam daerah seluas beberapa sentimeter persegi di dalam otak inilah tempat dibentuknya dunia penuh warna yang kita lihat sepanjang hidup.

5. Dunia Penuh Warna di Dalam Otak Kita yang Gelap

Tahap terakhir pembentukan warna terjadi di dalam otak. Seperti telah disebutkan dalam bab sebelumnya, sel saraf dalam mata mengangkut citra yang telah diubah menjadi impuls saraf ke otak, dan segala sesuatu yang kita lihat di dunia luar diindra dalam pusat pengli-hatan otak. Sampai di sini, kita dihadapkan pada suatu fakta yang menakjubkan: otak adalah segumpal daging dengan kegelapan total di dalamnya. Impuls-impuls saraf yang berasal dari citra yang dibentuk pada retina oleh objek, diinterpretasikan di dalam otak yang gelap pekat. Citra objek tersebut, dengan warna dan semua sifat lainnya, dibentuk sebagai suatu persepsi di pusat penglihatan ini. Bagaimana proses pengindraan ini terjadi di dalam segumpal daging lunak seperti itu?

Banyak tanda tanya belum terjawab, seperti bagaimana warna di-indra. Chromatists (ahli ilmu warna) masih belum dapat menjawab perta-nyaan-pertanyaan seperti bagaimana impuls saraf dikirimkan ke otak melalui saraf-saraf optik, dan efek-efek fisiologi seperti apa yang tercipta dalam otak.9 Mereka hanya tahu bahwa pengindraan warna adalah kenyataan yang terjadi di dalam tubuh kita, yaitu, dalam pusat penglihatan otak.10

Pada kenyataannya, kebanyakan proses yang dilakukan otak belum dapat dijelaskan. Penjelasan tentang masalah ini sebagian besar ber-dasarkan teori. Namun demikian, otak telah melakukan tugasnya dengan sempurna sejak manusia pertama kali ada, tepat seperti apa yang dikerjakannya saat ini. Dunia tiga dimensi, dengan semua warna, desain, suara, bau dan berbagai rasa yang dialami manusia dalam segumpal daging berberat tidak sampai satu kilogram, dimungkinkan hanya oleh penciptaan Allah yang sempurna. Semua orang mendapati keajaiban penciptaan tiada tara ini telah ada sejak lahir. Manusia tidak mempunyai kontrol apa pun, baik dalam pembentukan fungsi-fungsinya, dalam kontinuitasnya, maupun pada tahap-tahap lainnya.

“Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (QS. Al Baqarah, 2: 255) !

Tidak ada orang yang akan menyatakan bahwa kain yang terlihat dalam gambar ini hadir begitu saja karena kebetulan, dan tidak ada perancangnya. Demikian pula, tidak dapat dikatakan bahwa pelangi, kupu-kupu, bunga-bunga, makhluk-makhluk laut, dan awan, singkatnya, semua yang ada di muka bumi ini, tidak ada perancangnya. Rancangan warna dan bentuk semua itu adalah milik Allah, yang mencipta tanpa ada contoh sebelumnya.

Panjang gelombang sinar yang datang dari luar angkasa sangat beragam, dari gelombang radio, yang memiliki panjang gelombang terpanjang, sampai sinar gamma, dengan panjang gelombang sangat pendek

Semua kondisi yang penting untuk keberadaan kehidupan di muka bumi, secara langsung maupun tidak langsung, tergantung pada cahaya yang datang dari matahari. Di lain pihak, pada struktur sinar matahari, terdapat desain yang tergantung pada keseimbangan sangat rumit.

Susunan cahaya membuat para ilmuwan kagum. Meskipun begitu banyak sinar datang dari luar angkasa, sinar matahari, seperti yang terlihat dalam skema di atas, berada pada interval yang sangat sempit. Interval inilah yang dibutuhkan untuk kehidupan.

Atmosfer membiarkan hanya sinar bermanfaat yang mencapai bumi sambil memantulkan kembali sinar berbahaya ke luar angkasa.

Kekerapan materi (material densities), yaitu kekerapan atom di ruang angkasa dan di atmosfer saling berbeda. Oleh karena itu, ketika memasuki atmosfer, cahaya akan me-nyebar lebih luas dan terpencar/terdifusi akibat menumbuk lebih banyak atom. Mata makhluk hidup dapat melihat dunia penuh warna hanya dengan mengindra sinar-sinar yang muncul setelah terdifusi, atau dengan kata lain, dilemahkan oleh atmosfer. Di lingkungan luar angkasa tanpa atmosfer, sinar begitu kuat sehingga dapat membahayakan mata. Selain itu, sinar inframerah-dekat juga menyebar di atmosfer dan menghangatkan bumi.

Sinar matahari terdiri dari partikel-partikel yang disebut “foton”, yang bergerak dalam gelombang. Ketika foton menumbuk elektron pada atom yang membentuk objek fisik di bumi, elektron memancarkan sinar dengan panjang gelombang tertentu, yang “identik dengan warna tertentu”. Ketika cahaya matahari jatuh pada selembar daun, misalnya, ini berarti foton cahaya telah menumbuk atom-atom molekul pigmen pada permukaan daun. Saat itu, elektron-elektron atom daun tersebut teraktifkan. Sebagai reaksi, atom-atom daun memancarkan foton. Jadi, foton yang mewakili “warna” daun mulai bergerak ke arah mata kita.

Di sebelah kiri, kita lihat hubungan antara sel-sel saraf dalam retina. Interkoneksi yang kompleks antara lapisan-lapisan sel ini membantu sel-sel saraf untuk bergerak bersama dan berinteraksi satu sama lain. Di sebelah kanan, adalah sebuah close-up sel kerucut. Jika sel-sel kerucut-pendek membantu kita melihat dunia berwarna, sel-sel batang-panjang membantu kita melihat bentuk dan gerakan.

Segala sesuatu yang kita lihat di dunia luar diterima di dalam otak. Bunga-bunga, burung-burung, langit, gunung, orang-orang di sekitar kita, singkatnya setiap detil yang beraneka warna di dunia diprojeksikan kepada kita di dalam otak kita. Sesungguhnya, otak adalah sebuah tempat gelap total. Dia yang memungkinkan kita, di dalam tempat gelap ini, melihat, merasa, menyentuh, mendengar, atau mengindra semua detil dunia luar, dengan kata lain membuat kita melihat segalanya, adalah Allah, Pencipta seluruh alam semesta. Allah mempunyai kekuasaan atas segalanya.

Filed under: Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: