Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Nishfu Sya’ban

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan Waspada dalam Memandang Permasalahan

Malam Nishfu Sya’ban

Berkenaan dengan malam Nisfu (pertengahan) Sya’ban ada beberapa permasalahan yang patut diketahui: Tentang keutamaan malam ini, terdapat beberapa hadits yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya hadits A’isyah: “Suatu malam Rasulullah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai shalat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi). Menurut perawinya hadits ini mursal (ada rawi yang tidak bersambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadits Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan shalat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah berfirman: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadits lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadits-hadits tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya.

Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban? Adalah dengan memperbanyak ibadah dan shalat malam dan dengan puasa. Namun, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, yaitu dengan secara sendiri-sendiri. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan shalat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.

Jadi, sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya.

Nisfu Sya’ban berasal dari kata Nisfu (bahasa Arab) yang berarti separuh atau pertengahan, Sya’ban adalah nama bulan ke-8 dalam kalender Islam. Dengan demikian, nisfu sya’ban berarti pertengahan bulan Sya’ban. Pada malam ini, biasanya diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah, serta ditetapkan imannya. Setelah pembacaan Surat Yaasiin biasanya diteruskan dengan shalat Awwabin atau shalat tasbih atau ada yang menyebut shalat sunnah muthlaq atau shalatul khair.

Peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia, selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya’ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.

Nikmatnya Nisfu Sya’ban

Hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban (15 Sya’ban). Nisfu artinya setengah atau seperdua dan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam perhitungan tahun Hijriyah. Malam Nisfu Sya’ban dimuliakan karena pada malam itu, dua malaikat yakni Raqib dan Atid, yang mencatat amal perbuatan manusia sehari-hari, menyerahkan catatan-catatan amal tersebut kepada Allah SWT. Pada malam itu pula catatan-catatan itu ditukar dengan yang baru. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Bulan Sya’ban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan yang diangkatkan Tuhan amal-amal. Saya ingin diangkatkan amal saya ketika sedang berpuasa.” (HR An-Nasa’i dari Usamah, sahabat Nabi SAW).

Di samping itu, pada malam Nisfu Sya’ban turun beberapa kebaikan dari Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya yang berbuat baik pada malam tersebut. Kebaikan-kebaikan itu berupa syafa’at (pertolongan), maghfirah (ampunan), pembebasan dari azab dan sebagainya. Dengan demikian, malam Nisfu Sya’ban antara lain dinamakan juga malam syafa’at, malam maghfirah, dan malam pembebasan.

Sehubungan dengan malam Nisfu Sya’ban yang dinamakan juga malam syafa’at, Al-Ghazali mengatakan, “Pada malam ke-13 Sya’ban, Allah SWT memberikan kepada hamba-hamba-Nya sepertiga syafa’at, pada malam ke-14 diberikan-Nya pula dua pertiga syafa’at, dan pada malam ke-15 diberikan-Nya syafa’at itu penuh. Hanya yang tidak memperoleh syafa’at itu ialah orang-orang yang sengaja hendak lari dari pada-Nya sambil berbuat keburukan seperti unta yang lari.”

Malam itu juga disebut malam maghfirah karena pada malam itu Allah SWT menurunkan ampunan-Nya kepada segenap penduduk bumi. Di dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan, “Tatkala datang malam Nisfu Sya’ban, Allah memberikan ampunan-Nya kepada penghuni bumi, kecuali bagi orang yang syirik dan berpaling pada-Nya.” (HR Ahmad)

Selain itu malam Nisfu Sya’ban disebut malam pembebasan karena pada malam itu Allah SWT membebaskan manusia dari siksa neraka. Sabda Nabi SAW di dalam hadits yang diriwayatkan Ibn Ishak dari Anas bin Malik, “Wahai Humaira (Asiyah RA) apa yang engkau perbuat pada malam ini? Malam ini adalah malam Nisfu Sya’ban, di mana Allah memberikan kebebasan dari neraka laksana banyaknya bulu kambing Bani Kalb, kecuali (yang tidak dibebaskan) enam, yaitu; orang yang tidak berhenti minum khamr, orang yang mencerca kedua orangtuanya, orang yang membangun tempat zina, orang yang suka menaikkan harga (secara aniaya), petugas cukai (yang tidak jujur), dan tukang fitnah.” Dalam riwayat lain disebutkan “tukang pembuat patung atau gambar” sebagai ganti “petugas cukai”.

Hukum Nisfu Sya”ban

Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan sya’ban. Adapun di dalam sejarah kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi pemindahan kiblat kaum muslimin dari baitul maqdis kearah masjidil haram, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi didalam menafsirkan firman Allah swt :

Artinya : “Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. Al Baqoroh : 142)

Al-Qurthubi mengatakan bahwa telah terjadi perbedaan waktu tentang pemindahan kiblat setelah kedatangannya saw ke Madinah. Ada yang mengatakan bahwa pemindahan itu terjadi setelah 16 atau 17 bulan, sebagaimana disebutkan di dalam (shahih) Bukhori. Sedangkan Daaruquthni meriwayatkan dari al-Barro yang mengatakan, ”Kami melaksanakan shalat bersama Rasulullah saw setelah kedatangannya ke Madinah selama 16 bulan menghadap Baitul Maqdis, lalu Allah swt mengetahui keinginan nabi-Nya, maka turunlah firman-Nya,”Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.”. Didalam riwayat ini disebutkan 16 bulan, tanpa ada keraguan tentangnya.

Imam Malik meriwayatkan dari Yahya bin Said dari Said bin al Musayyib bahwa pemindahan itu terjadi dua bulan sebelum peperangan badar. Ibrahim bin Ishaq mengatakan bahwa itu terjadi di bulan Rajab tahun ke-2 H.

Abu Hatim al Bistiy mengatakan bahwa kaum muslimin melaksanakan shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari. Kedatangan Rasul saw ke Madinah adalah pada hari senin, di malam ke 12 dari bulan Rabi’ul Awal. Lalu Allah swt memerintahkannya untuk menghadap ke arah ka’bah pada hari selasa di pertengahan bulan sya’ban. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid I hal 554)

Kemudian apakah Nabi saw melakukan ibadah-ibadah tertentu di dalam malam nisfu sya’ban ? terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw banyak melakukan puasa di dalam bulan sya’ban, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Aisyah berkata, ”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau saw berpuasa (selain ramadhan, pen) adalah sya’ban. Beliau saw berpuasa (selama) bulan sya’ban kecuali hanya sedikit (hari saja yang beliau tidak berpuasa, pen).”

Adapun shalat malam maka sessungguhnya Rasulullah saw banyak melakukannya pada setiap bulan. Shalat malamnya pada pertengahan bulan sama dengan shalat malamnya pada malam-malam lainnya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dengan sanad yang lemah, ”Apabila malam nisfu sya’ban maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya”.

Sesungguhnya Allah swt turun hingga langit dunia pada saat tenggelam matahari dan mengatakan, ”Ketahuilah wahai orang yang memohon ampunan, maka Aku telah mengampuninya. Ketahuilah wahai orang yang meminta rezeki, maka Aku telah berikan rezeki. Ketahuilah wahai orang yang sedang terkena musibah, maka Aku telah selamatkan, ketahuilah ini ketahuilah itu hingga terbit fajar.”

Syeikh ‘Athiyah Saqar mengatakan, ”Walaupun hadits-hadits itu lemah namun bisa dipakai dalam hal keutamaan amal.” Itu semua dilakukan dengan sendiri-sendiri dan tidak dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama).

Al-Qasthalani menyebutkan di dalam kitabnya “al Mawahib Liddiniyah” juz II hal 259 bahwa para tabi’in dari ahli Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul bersungguh-sungguh dengan ibadah pada malam nisfu sya’ban. Manusia kemudian mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu. Disebutkan pula bahwa yang sampai kepada mereka adalah berita-berita israiliyat. Tatkala hal ini tersebar maka terjadilah perselisihan di masyarakat dan di antara mereka ada yang menerimanya.

Ada juga para ulama yang mengingkari, yaitu para ulama dari Hijaz, seperti Atho’, Ibnu Abi Malikah serta para fuqoha Ahli Madinah sebagaimana dinukil dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ini adalah pendapat para ulama Maliki dan yang lainnya, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah.

Kemudian al Qasthalani mengatakan bahwa para ulama Syam telah berselisih tentang menghidupkan malam itu kedalam dua pendapat. Pertama : Dianjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah di masjid. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wangi-wangian dan menghidupkan malamnya di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rohawaih. Dia mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan cara berjama’ah tidaklah bid’ah, dinukil dari Harab al Karmaniy di dalam kitab Masa’ilnya. Kedua : Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat, berdoa akan tetapi tidak dimakruhkan apabila seseorang melaksanakan shalat sendirian, ini adalah pendapat al-Auza’i seorang imam dan orang faqih dari Ahli Syam.

Tidak diketahui pendapat Imam Ahmad tentang malam nisfu sya’ban ini, terdapat dua riwayat darinya tentang anjuran melakukan shalat pada malam itu. Dua riwayat itu adalah tentang melakukan shalat di dua malam hari raya. Satu riwayat tidak menganjurkan untuk melakukannya dengan berjama’ah. Hal itu dikarenakan tidaklah berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Dan satu riwayat yang menganjurkannya berdasarkan perbuatan Abdurrahman bin Zaid al-Aswad dan dia dari kalangan tabi’in.

Demikian pula dalam melakukan shalat di malam nisfu sya’ban tidaklah sedikit pun berasal dari Nabi saw maupun para sahabatnya. Perbuatan ini berasal dari sekelompok tabi’in khususnya para fuqaha Ahli Syam. (Fatawa al Azhar juz X hal 31).

Sementara itu al Hafizh ibnu Rajab mengatakan bahwa perkataan ini adalah aneh dan lemah karena segala sesuatu yang tidak berasal dari dalil-dalil syar’i yang menyatakan bahwa hal itu disyariatkan maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menceritakannya di dalam agama Allah baik dilakukan sendirian maupun berjama’ah, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan berdasarkan keumuman sabda Rasulullah saw, ”Barangsiapa yang mengamalkan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” Juga dalil-dalil lain yang menunjukkan pelarangan bid’ah dan meminta agar waspada terhadapnya.

Dalam kitab “al-Mausu’ah al-Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.

Sementara itu, al-Auza’i berpendapat berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan shalat (menghidupkan malam nisfu sya’ban) adalah makruh karena menghidupkan malam itu tidaklah berasal dari Rasul saw dan tidak juga dilakukan oleh seorangpun dari sahabatnya.

Sementara itu, Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin ‘Amir serta Ishaq bin Rohawaih menganjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah.”

Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, berdzikir maupun berdoa kepada Allah swt yang dilakukan secara sendiri-sendiri. Adapun apabila hal itu dilakukan dengan brjama’ah maka telah terjadi perselisihan di kalangan para ulama seperti penjelasan diatas.

Dan hendaklah setiap muslim menyikapi permasalahan ini dengan bijak tanpa harus menentang atau bahkan menyalahkan pendapat yang lainnya karena bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para ulama meskipun hanya dilakukan oleh para tabi’in.

Barakah Nishfu Sya’ban

Seorang yang mengagungkan dan meneladani Rasulullah SAW pasti sangat ingin mengetahui apa yang beliau ajarkan tentang segala sesuatu. Tentang malam Nisfu Sya’ban Rasulullah SAW di antaranya bersabda sbb:

Imam Ahmad meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda, “Allah mengampuni semua dosa hamba-hamba Nya pada malam Nisfu Sya’ban kecuali dosa orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata bahwa Nabi SAW telah bersabda,“Barangsiapa mengerjakan shalat di malam Nisfu Sya’ban 100 raka’at dan pada tiap-tiap raka’atnya membaca QS. Al-Fatihah (sekali) dan QS. Al-Ikhlas 5 kali, maka Allah SWT akan menurunkan/mengirimkan 500.000 malaikat. Tiap-tiap malaikat membawa satu daftar catatan (yang terbuat) dari cahaya. Mereka menuliskan pahala (orang yang shalat pada mala Nisfu Sya’ban) sampai hari kiamat.”

Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah pernah menyuruhnya pergi ke rumah Aisyah untuk suatu keperluan. Anas berkata kepada Aisyah, “Cepatlah, karena saya meninggalkan Rasulullah Saw. sedang membicarakan malam Nisfu Sya’ban.”

Aisyah berkata kepadanya, “Duduklah, saya akan menyampaikan kepada Anda hadits tentang Nisfu Sya’ban. Pada malam Nisfu Sya’ban kebetulan ia adalah malam giliran saya. Pada malam itu, saya terbangun, tetapi saya tidak menemukan beliau berada di sisi saya. Saya mengira beliau pasti mengunjungi budak yang bernama al-Qibthiyah. Saya keluar melewati masjid, tiba-tiba kaki saya menyandung Rasulullah Saw yang saat itu sedang berdoa; ”Jiwaku tunduk kepada Mu, hatiku beriman kepada Mu. Inilah tanganku dan apa yang kusembunyikan dalam diriku. Wahai Yang Mahaagung, ampunilah dosa-dosaku. Wajahku bersujud kepada Mu, duhai Sang Pencipta. Ya Allah, berilah aku hati yang bersih dari perbuatan syirik, kufur dan dari perbuatan-perbuatan orang yang celaka.”

Beliau lalu sujud dan berdoa, “Tuhanku aku berlindung kepada keridhoan-Mu dari murka-Mu, kepada pengampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu memuji-Mu seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri. Aku hanya mampu berkata seperti apa yang diucapkan saudaraku Daud. Kubenamkan wajahku kedalam tanah karena keagungan Tuhanku.”

Lalu beliau mengangkat kepalanya kembali. Beliau berkata padaku, “Wahai Humayra, apakah engkau tidak tahu bahwa malam ini malam Nisfu Sya’ban ? Pada malam ini Allah membebaskan hamba-hamba Nya dari neraka sebanyak bilangan bulu kambing, kecuali enam orang ; peminum arak, orang yang menyakiti kedua orang tuanya, orang yang berbuat zina, orang yang memutuskan silaturahmi, para penjudi, dan orang yang suka marah-marah tanpa alasan.

Shalat Nishfu Sya’ban; Sunnah yang Dianggap Bid’ah

Banyak orang menuduh shalat nisfu Sya’ban sebagai bid’ah. Mereka menuduh demikian bisa jadi dengan niat yang baik untuk membersihkan praktek ibadah dari Bid’ah dan mengembalikan agar ibadah yang dilakukan sesuai sunah Rasul. Alasannya sangat sederhana karena shalat Nisfu Sya’ban tidak pernah dikerjakan jaman Rasul. Benarkah shalat Nisfu Sya’ban bidah? Apakah nabi tidak pernah melakukannya?

Untuk lebih melengkapi khazanah kita, akan kami paparkan pula beberapa pertanyaan yang mengingkari shalat nisfu Sya’ban dari berbagai dialog, antara lain:

Pernyataan Pertama : Tidak ada keistimewaan malam nisfu Sya’ban dibandingkan malam lainnya. Sehingga tidak perlu mengkhususkan ibadah pada malam tersebut. Beberapa Hadits yang menerangkan keutamaan nisfu Sya’ban adalah maudhu’ (palsu) dan dha’if. Sehingga tidak boleh diamalkan.

Para ulama semisal Ibnu Rajab, Ibnul Jauzi, Imam al-Ghazali, Ibnu Katsir dan yang lainnya, menyatakan hadits-hadits yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini sangat banyak jumlahnya. Hanya, umumnya hadits-hadits tersebut dhaif, namun ada juga beberapa hadits yang Hasan dan Shahih Lighairihi. Untuk lebih jelasnya, berikut di antara hadits-hadits dimaksud:

Hadits 1

عَنْ عَلِيٍّ اِبْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِذَا كَانَ لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا، وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلىَ سَمَآءِ الدُّنْياَ، فَيَقُوْلُؤ : أَلاَ مُسْتَغْفِرٌ فَأَغْفُرُ لَهُ ، أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقُهُ ، أَلاَ مُبْتَلِىٌّ فَأُعَافِيْهِ ، أَلاَ كَذَا ، أَلاَ كَذَا ، حَتَّى يَطْلَعِ اْلفَجْرَ) (رواه ابن ماجه والحديث ضعفه الألبانى).

Artinya: “Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: “Apabila sampai pada malam Nishfu Sya’ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: “Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar” (HR. Ibnu Majah dan hadits tersebut dinilai Hadits Dhaif oleh Syaikh al-Albany).

Hadits 2

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَقَدْتُ النَِّبيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيْعِ رَافَعَ رَأْسَهُ إِلىَ السَّمَآءِ ، فَقَالَ : ( أَكُنْتَ تَخَافِيْنَ أَنْ يَحِْيفَ اللهُ عَلَيْكَ وَرَسُوْلُهُ ؟ ) فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ . فَقَالَ : ( إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلىَ سَمَآءِ الدُّنْياَ فَيَغْفُرُ ِلأَكْثَرِ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمٍ كَلَبٍ ) (رواه أحمد والترمذى وابن ماجه وضعفه الألبانى فى ضعيف الترمذى).

Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Suatu malam saya kehilangan Rasulullah saw, lalu aku mencarinya. Ternyata beliau sedang berada di Baqi’ sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau bersabda: “Apakah kamu (wahai Aisyah) khawatir Allah akan menyia-nyiakan kamu dan RasulNya?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, saya pikir anda pergi mendatangi di antara isteri-isterimu”. Rasulullah saw bersabda kembali: “Sesungguhnya Allah turun ke dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni ummatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan” (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Turmidzi. Syaikh al-Albany menilai hadits riwayat Imam Turmudzi tersebut sebagai hadits Dhaif sebagaimana ditulisnya pada ‘Dhaifut Turmudzi’).

Kedua hadits tersebut adalah hadits yang dinilai Dhaif oleh jumhur Muhaditsin di antaranya oleh Syaikh Albany, seorang ulama yang tekenal sangat ketat dengan hadits.

Namun demikian, di bawah ini juga penulis hendak mengetengahkan Hadits Hasan dan Shahih Lighairihi yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini. Hadits-hadits dimaksud adalah:

Hadits 3

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللهَ لَيُطْلَعَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفُرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ ، إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مَشَاحِنٍ ) (رواه ابن ماجه وحسنه الشيخ الألبانى فى صحيح ابن ماجه : 1140 )

Artinya: “Dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang dengki dan iri kepada sesama muslim” (HR. Ibn Majah, dan Syaikh Albani menilainya sebagai hadits Hasan sebagaimana disebutkan dalam bukunya Shahih Ibn Majah no hadits 1140).

Hadits 4

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ وَ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( إِنَّ اللهَ لَيُطْلَعَ إِلىَ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفُرُ لِعِبَادِهِ إِلاَّ اثْنَيْنِ : مَشَاحِنٌ ، أَوْ قَاتِلُ نَفْسٍ ) (رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه).

Artinya: “Dari Abdullah bin Amer, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya akan menemui makhlukNya pada malam Nishfu Sya’ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).

Namun, Syaikh Syu’aib al-Arnauth menilai hadits tersebut hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada dua rawi yang bernama Ibn Luhai’ah dan Huyay bin Abdullah yang dinilainya sebagai rawi yang lemah. Namun demikian, ia kemudian mengatakan bahwa meskipun dalam sanadnya lemah, akan tetapi hadits tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits Shahih karena banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lainnya (Shahih bi Syawahidih).

Hadits 5

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي اْلعَاصْ مَرْفُوْعاً قَالَ ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِذاَ كَانَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَادَى مُنَادِ : هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ ، فَأَغْفُرُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ ، فَأُعْطِيْهِ ؟ فَلاَ يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئاً إِلاَّ أُعْطِيْهِ ، إِلاَّ زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكاً) (رواه البيهقى).

Artinya: “Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: “Apabila datang malam Nishfu Sya’ban, Allah berfirman: “Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik” (HR. Baihaqi).

Dengan memperhatikan, di antaranya, hadits-hadits di atas, maka tidak berlebihan apabila banyak ulama berpegang teguh bahwa malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang istimewa, karena bukan hanya dosa-dosa akan diampuni, akan tetapi juga doa akan dikabulkan. Hadits-hadits yang dipandang Dhaif yang berbicara seputar keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, paling tidak kedudukan haditsnya menjadi terangkat oleh hadits-hadits lain yang berstatus Hasan atau Shahih Lighairihi.

Atau boleh juga dikatakan, karena hadits-hadits dhaif yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini dhaifnya tidak parah dan tidak berat, maka satu sama lain menjadi saling menguatkan sehingga kedudukannya naik menjadi Hadits Hasan Lighairihi. Wallahu’alam.

Istimewanya malam Nishfu Sya’ban ini juga dikuatkan oleh atsar para sahabat. Imam Ali bin Abi Thalib misalnya, sebagaimana dikutip Ibnu Rajab, apabila datang malam Nishfu Sya’ban, ia banyak keluar rumah untuk melihat dan berdoa ke arah langit, sambil berkata: “Sesungguhnya Nabi Daud as, apabila datang malam Nishfu Sya’ban, beliau keluar rumah dan menengadah ke langit sambil berkata: “Pada waktu ini tidak ada seorang pun yang berdoa pada malam ini kecuali akan dikabulkan, tidak ada yang memohon ampun, kecuali akan diampuni selama bukan tukang sihir atau dukun”. Imam Ali lalu berkata: “Ya Allah, Tuhannya Nabi Daud as, ampunilah dosa orang-orang yang meminta ampun pada malam ini, serta kabulkanlah doa orang-orang yang berdoa pada malam ini”.

Sebagian besar ulama Tabi’in seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya, juga mengistimewakan malam ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, membaca al-Qur’an dan berdoa. Demikian juga hal ini dilakukan oleh jumhur ulama Syam dan Bashrah.

Bahkan, Imam Syafi’i pun beliau mengistimewakan malam Nishfu Sya’ban ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, doa dan membaca al-Qur’an. Hal ini sebagaimana nampak dalam perkataannya di bawah ini:

بَلَّغْنَا أَنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِى خَمْسِ لَيَالٍ:  لَيْلَةُ اْلجُمُعَةِ ، وَ اْلعِيْدَيْنِ ، وَ أَوَّلُ رَجَبٍ ، وَ نِصْفُ شَعْبَانَ . قَالَ : وَاسْتَحِبْ كُلَّ مَا حَكَيْتُ فِى هَذِهِ اللَّياَلِي .

Artinya: “Telah sampai kepada kami riwayat bahwa dua itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam Jum’at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya’ban. Imam Syafi’i berkata kembali: “Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi”.

Dari pemaparan di atas nampak bahwa sebagian besar para ulama salaf memandang istimewa malam ini, karenanya mereka mengisinya dengan mempergiat dan memperbanyak ibadah termasuk berdoa, shalat dan membaca al-Qur’an.

Pernyataan Kedua : Shalat Nisfu Sya’ban Bid’ah karena tidak pernah dilakukan Rasul. Sehingga ibadah mereka tidak sesuai sunnah Rasul.

Nama panjang dari shalat Nisfu Sya’ban adalah “Shalat Muthlaq yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban”. Untuk memudahkan pengucapan, ulama menyebutnya shalat nisfu Sya’ban. Karena termasuk jenis shalat Muthlaq, maka boleh dikerjakan kapan saja termasuk malam pertengahan Sya’ban selama dikerjakan tidak pada waktu yang dilarang. Kalau pada malam yang lain boleh melakukan shalat Muthlaq, maka pada malam nisfu Sya’ban juga boleh. Membid’ahkan shalat nisfu Sya’ban sama dengan membid’ahkan shalat Muthlaq yang sunnah.

Apalagi ada hadits yang menyatakan bahwa Rasul menggiatkan qiyamul layl pada malam nisfu Sya’ban. Semakin kuat lah dasar shalat nisfu Sya’ban.

وَمِنْهَا حَدِيْثُ عَائِشَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الَّليْلِ فَصَلىَّ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتىَّ ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ : ” يَا عَائِشَةَ ـ أَوْ يَا حُمَيْرَاءَ ـ ظَنَنْتُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِكَ أَيْ ، لَمْ يُعْطِكِ حَقَّكِ ” ؟ . قُلْتُ : لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنَّ ظَنَنْتُ أَنَّكَ قَدْ قُبِضْتَ لِطُوْلِ سُجُوْدِكَ ، فَقَالَ : ” أَتَدْرِيْنَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ” ؟ قُلْتُ:  اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ “هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطْلَعُ عَلىَ عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَيَغْفُرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ ، وَيَرْحَمُ اْلمُسْتَرْحِمِيْنَ ، وَ يُؤْخَرُ أَهْلُ اْلحَقْدِ كَمَا هُمْ” (رواه البيهقي من طريق العلاء بن الحارث عنها، وقال: هذا مرسل جيد) .

Dari A’isyah: “Suatu malam Rasulullah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai shalat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadits ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Bahkan kalau kita menyandarkan pada hadits di atas, justru Mereka Yang Shalat Pada Malam Nisfu Sya’ban Ibadahnya Sesuai Sunnah Rasul.

Pernyataan Ketiga : Shalat Nisfu Sya’ban saja Bid’ah, apalagi melakukannya secara berjamaah. Semakin jauh dari Islam. Kalaulah memang bagus mengapa Rasul dan sahabat tidak melakukan? Padahal Mereka adalah generasi terbaik.

Saudaraku, selama ada dalil umum yang membolehkan, maka mengenai tekhnisnya berjamaah atau tidak, dapat diatur menurut kondisi dan keadaan.

Pelaksanaan mengisi malam Nishfu Sya’ban diberjamaahkan ini pertama kali dilakukan oleh ulama tabi’in yang bernama Khalid bin Ma’dan, lalu diikuti oleh ulama tabi’in lainnya seperti Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya. Bahkan terus berlanjut dan menjadi tradisi ulama Syam dan Bashrah sampai saat ini.

Meski tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya, kami lebih condong untuk mengatakan tidak mengapa dan tidak dilarang. Tidak semua yang tidak dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Selama ada hadits dan qaidah umum yang membolehkan, maka mengenai tehnis, apakah diberjamaahkan atau sendiri-sendiri, semuanya diserahkan kepada masing-masing dan tentu diperbolehkan. Hal ini sebagaimana tradisi takbir berjamaah pada malam hari raya.

Hal ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya. Rasulullah saw dan para sahabat hanya melakukannya di rumah masing-masing. Tradisi berjamaah membaca takbir pada malam Hari Raya ini pertama kali dilakukan oleh seorang ulama tabi’in yang bernama Abdurrahman bin Yazid bin al-Aswad. Dan tradisi ini pun sampai saat ini masih diberlakukan dan diamalkan hampir di seluruh negara-negara muslim.

Demikian juga dengan shalat Tarawih diberjamaahkan. Rasulullah saw hanya melakukannya satu, dua atau tiga malam saja secara berjamaah. Setelah itu, beliau melakukannya sendiri. Dan hal ini berlaku juga sampai masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq serta pada permulaan khalifah Umar bin Khatab. Setelah Umar bin Khatab masuk ke sebuah mesjid dan menyaksikan orang shalat tarawih sendiri-sendiri, akhirnya beliau melihat alangkah lebih baiknya apabila diberjamaahkan. Sejak itu, beliau manunjuk sahabat Rasulullah saw yang bernama Ubay bin Ka’ab untuk menjadi imam pertama shalat Tarawih diberjamaahkan. Tradisi ini juga berjalan dan terus dipraktekkan sampai sekarang ini.

Kalaulah shalat qiyamu Ramadhan (Tarawih) yang beliau lakukan selalu tidak berjamaah dengan sahabat, kecuali hanya 1-3 malam saja, boleh dilakukan secara berjamaah, lalu takbir malam ‘Ied juga boleh dilakukan secara berjamaah, mengapa shalat Muthlaq malam nisfu Sya’ban (untuk menyingkat selanjutnya disebut “shalat Nisfu Sya’ban”) tidak boleh dilakukan berjamaah? Tentu ini tidak fair.

Di zaman Rasul, para sahabat dengan melihat Rasul qiyamullayl saja mereka sudah melakukannya. Namun di akhir zaman ini jika ada ustad berkata, “wahai umat Islam, shalat tarawih yang dilakukan Rasul tidak berjamaah dan dilakukan di tengah malam (bukan ba’da Isya langsung). Oleh karena itu shalatlah sendiri-sendiri nanti malam.” Yang shalat tarawih pasti sedikit. Kecuali instruksi itu untuk bangun malam dalam rangka menyaksikan final piala dunia antara Belanda Vs Spanyol insya Allah jamaahnya banyak meskipun jam 1.30 malam. Jadi, kondisi zaman mengarahkan untuk shalat tarawih secara berjamaah.

Begitu pula dengan shalat nisfu Sya’ban. Di akhir zaman ini, Kalau shalat Nisfu Sya’ban (apalagi jika 100 raka’at) dilakukan hanya boleh sendiri-sendiri, saya yakin sangat-sangat sedikit orang yang mau menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Namun kalau dilakukan secara berjamaah, satu sama lain dapat saling memotivasi sehingga lebih semangat.

Pernyataan Keempat : Terlebih lagi dalam shalat nisfu Sya’ban, mereka menetapkan jumlah 100 rakaat. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasul.

Ada beberapa alasan mengapa saya shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat[1]:

1. Karena shalat nisfu Sya’ban termasuk shalat Muthlaq, maka jumlahnya bebas. 10 rakaat boleh, 20, 30, bahkan 100 rakaat juga boleh. Kalau kita sanggup 1.000 rakaat juga tidak ada yang melarang, karena shalat Muthlaq. Mengapa kita berani melarang jumlah tertentu dalam shalat Muthlaq? Apakah kalau 99 rakaat boleh, 101 juga boleh lalu khusus 100 rakaat tidak boleh?

Nabi SAW pernah berkata kepada Bilal, sesudah mengerjakan shalat Shubuh sebagaimana berikut: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang engkau kerjakan dalam Islam yang penuh dengan pengharapan karena aku mendengar suara sandalmu di depanku di syurga”. Bilal menjawab tidak pernah aku melakukan suatu perbuatan yang saya harapkan kebaikannya, melainkan pasti aku bersuci dahulu, baik saatnya malam hari atau siang hari. Sesudah aku bersuci aku melakukan shalat sebanyak yang dapat kulakukan”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Jabir bin Hayyan, penemu ilmu Kimia sekaligus orang pertama memperoleh julukan Sufi, melakukan shalat Muthlaq 400 rakaat sebelum memulai penelitian.
Kalau ada seseorang menganjurkan untuk shalat nisfu Sya’ban 77 rakaat karena dia senang dengan angka 7, boleh saja. Namun daripada saya mengikuti dia, lebih baik saya mengikuti para ulama yang shalih.

2. Banyak ulama-ulama shalih yang ahli ma’rifat seperti syekh Abdul Qadir Jailani melakukan shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat, begitu pula dengan imam Ghazali dan ulama lainnya. Maka tidak ada salahnya jika kita mengikuti beliau.

“Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepadaKu” (Luqman 31:15).

3. Jumlah 100 rakaat ada haditsnya. Meskipun banyak orang yang menolak hadits tersebut. Namun Imam Ahmad berkata, “hadits dhaif lebih aku sukai daripada pendapat pribadi seseorang”.

Pernyataan Kelima : Bacaan dalam shalat Nisfu Sya’ban (al-Ikhlas 10 kali setelah al-Fatihah, sehingga dikallikan 100 rakaat menjadi 1.000 kali membaca al-Ikhlas) adalah bacaan yang mengada-ada. Tidak pernah dilakukan juga oleh Rasul.

Bacaan yang dibaca dalam shalat nisfu Sya’ban setelah al-Fatihah terserah. Ayat manapun termasuk al-Ikhlas boleh dibaca dalam shalat asalkan ayat al-Qur’an. Tidak ada juga ketentuan bahwa surat al-Ikhlas tidak boleh dibaca beberapa kali dalam satu rakaat.

“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an”. (QS. Al-Muzammil: 20).

Imam masjid Quba selalu membaca surat Al Ikhlas disetiap habis fatihah, ia selalu menyertakan surat Al Ikhlas lalu baru surat lainnya, lalu makmumnya protes, seraya meminta agar ia menghentikan kebiasaanya, namun Imam itu menolak, silahkan pilih imam lain kalau kalian mau, aku akan tetap seperti ini!, maka ketika diadukan pada Rasul saw, maka Rasul saw bertanya mengapa kau berkeras dan menolak permintaan teman temanmu (yang meminta ia tak membaca surat al-ikhlas setiap rakaat), dan apa pula yang membuatmu berkeras mendawamkannya setiap rakaat?” ia menjawab : “Aku mencintai surat Al Ikhlas”, maka Rasul saw menjawab: “Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari hadits no. 741).

Kesimpulannya, shalat Muthlaq pada malam nisfu Sya’ban secara berjamaah sebanyak 100 rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas 10 kali setiap bada Fatihah dibolehkan. Jangan sampai kita mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Kalau nabi saja tidak boleh, apalagi kita.

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu” (at-Tahrim; 1).

Tata Cara Shalat Nishfu Sya’ban

Shalat Khoir ini dikerjakan sebanyak 100 rakaat (2 rakaat-2 rakaat). Pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 26 Juli 2010. Shalat Nisfu Sya’ban boleh dimulai sejak ba’da Maghrib. Tiap-tiap satu rakaat membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas 10 kali. Setiap dua rakaat satu salam, maka total 50 kali salam dan total surat al-ikhlas yang dibaca dalam 100 rakaat adalah 1000 kali.

Ulama salaf mengerjakan shalat Sya’ban ini dan memberi nama sholat ini Shalatul Khoir. Sulthonul Awliya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengerjakan sholat Khoir ini.

Telah diriwayatkan dari Sayyidina Hasan Rohimahullah bahwasanya telah menceritakan tiga puluh sahabat Nabi kepadaku, “Barangsiapa yang melaksanakan sholat Nisfu Sya’ban pada malam ini Allah akan memandang padanya dengan 70 pandangan dan Allah memberikan padanya setiap pandangan 70 kebutuhan, yang paling dekat adalah maghfiroh Allah swt”.

Niat Shalat Nisfu Sya’ban / Shalat Khoir:

  1. Ushalli sunnatan nishfu Sya’ban rak’ataini lillahi ta’ala Allahu Akbar. (atau)
  2. Ushalli sunnatal khoir rak’ataini lillahi ta’ala Allahu Akbar. (atau)
  3. Ushalli sunnatal muthlaqi rak’ataini lillahi ta’ala Allahu Akbar

Adapun shalat yang kewarid di dalam Nisfu Sya’ban banyaknya 100 raka’at, 1000 kali surat al-Ikhlas. Shalat ini diberi nama Shalatul Khair yakni shalat yang sebaik-baiknya, atau shalat muthlaq.

Niat shalat nisfu Sya’ban pilih diantara 3 yang diatas. Kalau ragu haditsnya pilih saja niat yang ketiga (Sunnah Muthlaq), Karena sunnah muthlaq boleh dilakukan kapan saja, tanpa ada batasannya dan tidak terikat oleh waktu.

Bagi yang tidak mau mengerjakan sholat ini juga tidak apa apa. Asal jangan menyalahkan karena shalat ini dikerjakan juga oleh Sultonul Awliya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dan banyak para Wali dan para ahli thariqah mengerjakannya.

Hakekat Sya’ban

Sya’ban dalam bahasa Arab berasal dari kata sya’aba artinya memancar, berpencar, bercabang. Sejarah munculnya nama bulan tersebut berasal jauh sebelum Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW datang. Nama itu berasal dari sebuah kebiasaan bangsa Arab pada saat itu yang berpencar keluar rumah untuk mencari air. Mereka mengambil jalannya masing-masing. Satu sama lain berbeda dari segi arah jalan dan cara mencari airnya. Berpencarnya mereka mencari air adalah makna dari Sya’ban. Ketika air itu ditemukan, lalu memancarlah mata air. Mata air yang memancar ini juga disebut sebagai sya’ban.

Dari segi etimologi, kata Sya’ban mengandung makna yang cukup dalam. Istilah memancar juga bisa dipakai untuk penyebutan cahaya. Pada contoh ini, kata itu dapat digandeng menjadi “cahaya yang memancar”.

Penyebutan Sya’ban menjadi nama bulan bukanlah sekedar cerita sejarah. Akan tetapi, adanya penyandaran kata itu kepada hal-hal yang menjadi sumber kehidupan menunjukkan bahwa kata Sya’ban memiliki keistimewaan makna tersendiri. Kata “memancar” yang dipakai dan disandarkan kepada cahaya dan air menjadi makna lain yang lebih mendalam. Ia bukan sekedar nama.

Mari kita kembali mengingat tentang penghitungan tahun hijriyah yang didasarkan pada lunar system (sistem bulan), penghitungan tahun yang bersandarkan pada bulan yang mengelilingi bumi.

Bulan tidaklah bercahaya. Adapun, jika bulan bercahaya, maka cahayanya hanyalah pantulan dari cahaya matahari. Dalam hal ini, yang menjadi sumber cahaya adalah matahari. Cahaya matahari yang memantul pada bulan adalah penampakan dari arah bumi.

Konsep-konsep alam fisika adalah simbolisasi (tasybiih) dari alam metafisika. Apa yang disimbolkan sebagai bulan adalah manusia yang berkedudukan sebagai insan. Konsep bulan yang tidak bercahaya adalah sama dengan manusia yang tidak bercahaya. Hanya Tuhanlah yang memiliki cahaya. Cahaya manusia berasal dari Tuhan. Seperti bulan, manusia mendapatkan cahayanya dari pantulan cahaya Tuhan. Sebagaimana firman Allah:

Artinya: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Yunus (10) : 6)

Cahaya Tuhan yang memancar adalah makna dari mekanisme alam-alam. Tak ada satupun makhluk yang bercahaya, kecuali ia mendapatkan pantulan dari cahaya Tuhan. Cahaya itu berlapis dan membentuk gradasi hingga meniadakan wujud makhluk. Makhluk menjadi seperti wujud oleh karena pantulan cahaya Tuhan. Padahal makhluk sama sekali tidak wujud, namun ia hanyalah hak mutlak Allah.

Allah berfirman : “Allah adalah cahaya langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (Annuur : 35)

Pancaran yang dinisbatkan pada kata Sya’ban mengandung hakekat pemahaman bahwa pancaran cahaya Allah telah melimpah pada manusia. Limpahan cahaya itu menjadi sebuah kesadaran yang mendalam dan membawa manusia untuk mengaktualisasikan kepribadian yang “menuhan”. Kepribadian inilah yang dikatakan insan. Insan itulah yang menerima cahaya-Nya, sehingga ia bisa mencapai maqamat insan kamil.

Jika penisbatan insan kamil (manusia sempurna) merujuk pada sosok jasad (wadag) kasar, maka hal kesempurnaan tersebut menjadi mustahil. Karena manusia dalam pengertian jasadi, tidak akan bisa mencapai kesempurnaannya. Kesempurnaan hanyalah milik insan. Siapakah insan? Dari mana sosok itu muncul?

Sosok insan tidak lain adalah Rasul. Dialah yang menyandang sebagai ciptaan awal, atau akal universal, atau nur Muhammad, atau Nur awal. Dialah Rahmat Allah yang menyebar ke seantero alam. Dialah sosok yang menggerakkan segala sesuatu. Manusia menjadi hidup dan memiliki indera. Munculnya mekanisme pertumbuhan. Munculnya sebuah gerak bagi alam fisika. Dan segala sesuatu yang merupakan ciptaan.

Rasul bukanlah Tuhan. Tetapi Tuhan bukan sesuatu yang lain dari Rasul. Kesaksian Rasul disanding kepada kesaksian Tuhan, sehingga membentuk dua kalimat Syahadat. Dan dua kalimat itu diucapkan oleh jasad kasar yang bernama manusia. Artinya, kalimat “aku bersaksi” itu menunjukkan sebuah kepribadian yang menjadi insan. Ia menerima limpahan cahaya Allah. Bukan jasadnya, tapi insannya. Ketika pribadi telah menjadi insan, ia meniscayakan gerak jasad sesuai dengan cahaya Allah. “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah”.

Mengapa puncak fadhilah amal di bulan Sya’ban berada pada pertengahannya (malam tanggal 15)? Hal ini mengambil makna simbolik dari bulan purnama penuh yang terjadi pada tanggal 15. Bulan purnama penuh adalah simbolisasi dari pancaran cahaya Allah yang penuh pada diri insan. Momentum bulan purnama penuh, dijadikan perenungan yang mendalam akan hakekat cahaya Allah yang memancar dengan penuh pada diri insan. Sesuai dengan namanya, Sya’ban bermakna pancaran.

Dari segi fadhilah amal, diantaranya adalah shalat tasbih pada pertengahan bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban). Tasbih dijadikan dasar untuk mencapai cahaya Allah. Sebab Allah Maha Suci. Tidak akan bisa mencapai kepada yang Maha Suci kecuali setelah penyucian. Makna tasbih adalah penyucian. Sekali lagi, penyucian yang dimaksud tidaklah sekedar merujuk pada penyucian jasad. Akan tetapi, ia merujuk pada penyucian akal untuk mencapai puncak kemurniannya. Sehingga gerak jasad akan mendapatkan perintahnya dari puncak kemurnian akal. Proses tersebut harus dimaknai menjadi pencucian otak (brainwash) agar ia terlepas dari segala belenggu yang berasal dari persepsi penampakan. Hakekat kekotoran adalah akal yang terbelenggu dan hakekat kesucian adalah akal yang merdeka. Semua itu hanya berada pada cara pandang akal kepada sesuatu; apakah pandangan itu diarahkan hanya kepada Allah ataukah tidak sama sekali. Dari sanalah, ia akan mendapatkan seluruh daya yang dipancarkan dari cahaya Allah.

Dari segi peristiwa sejarah yang pernah terjadi di pertengahan bulan Sya’ban adalah pemindahan arah kiblat dari Masjid Aqsha ke Masjid Haram. Hal ini bermakna bahwa pandangan-pandangan kesucian diarahkan pada makna Masjid Haram yang merujuk kepada pencegahan diri dari perbuatan keji dan munkar. Karena makna haram juga berarti hurmah (kehormatan). Mencapai kehormatan adalah berarti mencapai kesucian. Cara yang ditempuh untuk mencapai kehormatan adalah dengan mengharamkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Cara tersebut juga menjadi definisi mendasar dari shalat. Masjid Haram dalam makna ini adalah shalat itu sendiri. Secara literatur berarti “tempat sujud yang diharamkan”.

“Telaahlah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al’Ankabuut : 45).

Peristiwa pemindahan arah kiblat menunjukkan standarisasi upaya dasar manusia untuk mencapai kesuciannya. Sebab, Masjid Aqsha merupakan kesucian kedua setelah Masjid Haram. Masjid Aqsha merupakan kesucian lanjutan setelah kesucian awal sudah dicapai. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Start awal kesucian berada pada Masjid Haram, lalu ia berjalan menuju Masjid Aqsha yang bermakna “tempat sujud yang lebih agung”. Aqsha adalah superlatif dari qushwa yang artinya agung, besar, luas.

Demikianlah makna Sya’ban sebagai bulan yang berada diantara Rajab dan Ramadhan. Rajab bermakna keagungan, Sya’ban bermakna pancaran, Ramadhan bermakna Terang benderang. Menjadi sebuah proses yang sangat sistematis bagi manusia untuk mencapai insan kamil. Agung – Memancar – Menerangi. Allahu a’lamu bishawaabih.

Munajat Nisfu Sya’ban

Ya Allah…
Jalan menujuMu memang lurus.
Namun keras, berat dan menyakitkan

Ya Allah…
Lindungilah mataku dari permainan yang memusingkan,
penampakan yang menjerumuskan, sikap yang tiada arah

Ya Allah…
Jadikanlah ketololanku sebagai proses
untuk menggapai daya cerdasMu

Ya Allah…
Aku bingung, pusing dan lelah
Dimana cintaMu yang berlaku sebagai penuntun?
Dimana kasihMu yang berlaku sebagai arah?
Dimana sayangMu yang berlaku sebagai pembimbing?

Aku hilang daya hidupMu…
Aku hilang sistem kerajaanMu…
Aku tersungkur dengan ketololanku…

Ya Allah…
Aku mohon ampun atas tertutupnya pandangan akan dosa.
Aku mohon ampun atas pandangan yang menapikan RasulMu.
Aku mohon ampun atas hilangnya tuntunan dari rasa terdalam pada diriku.
Aku mohon ampun atas peratapan yang tiada tuntunan.
Aku mohon ampun atas segala sesuatu yang tiada penisbatanMu.

Ya Allah…
Berikanlah tongkat penuntun
Terangilah jalanku dengan makna

Ya Allah…
Telah gugur hijab pengakuan.
Telah menetes air mata kebingungan.
Telah tersungkur getaran kepalsuan.

Kini, di pagi ini, di tengah hiruk pikuk AsmaMu,
aku lemahkan diriku di hadapanMu.
Rangkaian kerajaan makna dalam kata,
menjadi sutera yg membungkus kefanaan.

Tulisan perjalanan tiada dimohon untuk menjadi hijab.
Mudahkanlah pribadi yang tegak dan bebas dari belenggu.
Ya Allah…

(byHaqq: 25-07-2010 M./14-08-1431 H.)


[1] Shalat sunah tersebut ditentang keras oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab (Kumpulan Penjelasan tentang Buku Al-Muhazzab). An-Nawawi memandang hadits-hadits yang menerangkan shalat tersebut adalah hadits maudu’ (hadits lemah). Oleh karenanya, melaksanakan shalat tersebut adalah bid’ah. Apa yang diungkapkan Imam Nawawi diikuti pula oleh Sayyid Abu Bakar Syata ad-Dimyati (ahli tasawuf) dalam kitabnya, I’anat At-Thalibin (Panduan bagi Siswa).

Iklan

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juli 2010
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 127,245 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: