Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

RISALAH DERITA

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”

Bijaksana dan waspada dalam melihat permasalahan

TENTANG KESEDIHAN WUJUD

Wujud yang Maha Luas Tiada Terbatas.  Ia – lah wujud itu sendiri[1]. Wujuudun bima huwa wujuudun. Atau, wujud qua wujud. Tak dibatasi oleh apa pun kecuali oleh al-’adam al-muthlaq (baca: ketiadaan mutlak atau nothingness). Sehingga benar – benar batas ini, -yaitu al-’adam al-muthlaq-, sama sekali tidak mempunyai keberadaan (baca : efek) apa pun sehingga bisa (baca : berpotensi) untuk membatasi wujud.

Alam yang demikian semarak adalah kumpulan sesuatu – sesuatu yang berefek satu sama lain. Tiap semua hal yang memiliki wujud mesti berefek. Dan tidak dikatakan berefek melainkan dirasakan efeknya oleh yang lain. Dan kesaling-kelindanan, atau kesalinghubungan, efek – efek dalam sekalian alam ini memestikan satu titik konvergen tempat semua terhubung, tempat semua bersatu. Satu titik yang seluas sekalian alam. Sekalian alam yang simpel, basith, sederhana, di mana seluruh efek realitas sekalian alam bermula. Dan ini lah wujuduun bima huwa wujuudun, atau wujud sebagaimana wujud itu sendiri. Wujud yang murni sebagaimana wujud yang murni itu sendiri. Wujud murni yang terlepas dari seluruh penyifatan (baca : pe-mahiyyah-an) apa pun atas dirinya.[2] Wujud murni yang meliputi segala sesuatu[3], tanpa suatu persatuan [4].  Bukankah Ia, wujud murni, adalah tempat bergantungnya semua mahiyyah ?[5]

Maka, Dia (baca : huwa)  – lah , – yang tak terpahami oleh siapapun karena dinyatakan oleh bentuk ketiga-, wujud murni yang tak ter – mahiyyah -kan (baca : tak tersifati) oleh akal siapapun. Dan jelas Dia, –  wujud murni ini-, Tunggal. Jangan sebut satu. Karena satu bisa mendua bisa pula menjadi tiga. Bisa pula satu menjadi setengah, sepertiga dan lain – lain. Sedang wujud murni itu Tunggal, tak mungkin mendua tak mungkin pula menjadi tiga. Tidak mungkin pula ia menjadi setengah ataupun sepertiga. Ke – tunggal -annya adalah ahadiyyul ma’na. Sungguh benar apa yang telah dikatakan dalam Qur’an Suci, Qul huwalloohu ahad.

Wujud murni ada dengan sendirinya dan meng-ada-kan segala. Segala sesuatu memiliki wujud yang tunggal dan simpel. Dan ini – lah yang disebut dengan wahdatul-wujuud. Ke-tunggal-an wujud. Wujud secara hakiki adalah cahaya (nuur). Allahu nuurus-samaawaati wal-’ardh[6] Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Cahaya tampak (efeknya) dengan sendirinya dan menampakkan (efek) selainnya. Maka demikianlah sifat swa-bukti (self-evident) dan sifat swa-manifestasi (self-manifestation) adalah hakikat Zat-Nya, wujud murni tiada terbatas.

Wujud murni – pun mesti menampakkan Lautan Kesempurnaan – Nya yang tiada terjangkau. Melodinya melankolis. Melodinya bak suara seruling perih Laila -Majnun. “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenali. Karena itu Aku ciptakan makhluk – makhluk, agar aku dikenali di dalam makhluk – makhluk tersebut.”[7] Ungkapan swa-manifestasi Kesempurnaan-Nya ini demikian pedih dan merupakan hakikat wujud. Merupakan hakikat realitas. Merupakan hakikat ke-segala-an. Kesedihan azali wujud murni untuk dikenali memberikan berbagai drama kesedihan yang memuncak pada Lautan Manifestasi wujud di alam ini. Bahkan, Yang Terpuji (Muhammad) (S.A.A.W), Kekasih Tuhan – pun mengatakan maa ‘arrofnaaka bihaqqi ma’rifatik, belumlah aku kenali Engkau sebagaimana seharusnya Engkau harus dikenali. Maka siapa lagi yang dapat menghibur wujud murni dengan sebenar – benar pengenalan akan Khazanah Kesempurnaan -Nya Yang Tersembunyi?

mawar dan tulip – tulip nan ber-sedih-an

jangkar dan kelip bintang tak terjangkau

Wujud dan makhluk – makhluk nan ber-sedih-an

Wujud dan Gelora Puja tak terjangkau

Laila  Majnun gadis pemuda

“rinduku pada bibir – mu, perih  darah khayal-ku” kata Majnun

Musa dan  Allah nabi dan Tuhan

‘ketika Aku Sakit, kenapa kau tak menjenguk – Ku” tanya Tuhan[8]

Wujud murni sakit. Sakit – nya tiada akan tersembuhkan oleh obat apa pun. Karena Ia ingin dikenali dan bahkan para Nabi – Nya pun tak bisa mengenali – Nya dengan sebenar – benar pengenalan. Kesempurnaan wujud murni bak gelombang maha-dahsyat yang tak pernah mengecup palung – palung derita – Nya karena tak dikenali. Kesempurnaan wujud murni memiliki potensi tak hingga untuk dikenali, tapi tak pernah Ia benar – benar dikenali in actu.  Maka Ia adalah perbendaharaan yang tersembunyi, -Lautan Kegemilangan yang dipenuhi potensi untuk dikenali-, yang ingin dikenali, – agar Kesempurnaan – Nya in actu dikenali-, namun tak pernah dikenali, – sehingga Sakit-lah Ia  karena keinginan-Nya satu – satu – Nya tak tercapai.

Laisa kamitslihi syai`an. Sakit wujud murni sama sekali berbeda dengan sakit-nya makhluk. Karena wujud murni tak pernah membutuhkan selain diri – Nya sendiri.[9] Dan memang tidak ada apa pun selain wujud murni.[10] Tapi sakit wujud murni ini adalah keniscayaan dari Kesempurnaan – Nya sendiri yang tanpa batas. Sungguh, wujud murni bukanlah substansi ( baca: jauhar) bukan pula aksiden (baca ; ‘aradh)[11], sehingga benar – benar tak bisa dibandingkan dengan apa – pun dari sudut pandang apa – pun. Sakit wujud murni adalah hakikat Samudera Kesempurnaan – Nya Yang Tiada Berbatas, bergolak – golak dalam lautan Cahaya – Nya Sendiri, Ia memanifestasikan diri-Nya sendiri dalam segala arah dan segenap alam, dan Ia senantiasa menyempurnakan semua ciptaan – Nya terus menerus tiap saat tiap waktu di tiap ruang dan tiap alam apa pun[12]. Sakit  Tuhan adalah Kesempurnaan Tuhan Sendiri. Sakit Tuhan adalah Penciptaan terus-menerus (khalqun jadiidun) .

Sakit wujud murni adalah kesedihan Nama – Nama Tuhan yang menderita dalam ketaktahuan karena tak satupun yang menamakannya. Kesedihan ini diturunkan dalam nafas Tuhan (tanaffus) yang tidak lain adalah rahmat dan eksistensiasi (‘ijad).  Dalam alam sirr atau alam al-asrar rahmat ini diturunkan dari dan untuk diri – Nya sendiri, – yaitu untuk Nama – Nama – Nya sendiri.  Sakit wujud murni adalah Kegemilangan Cinta yang turun menjadi hakikat kerinduan yang memanifestasikan dirinya menjadi gerakan penciptaan wujud terus menerus merindukan manifestasi Nama – Nama – Nya yang baru. Inilah hakikat gerakan hasrat rindu (harakah syauqiyyah).

Wujud murni asli, real dan tunggal. Hanya wujud – lah yang benar – benar nyata. Sedang dalam sekalian alam (al – ‘alamiin ) ada banyak hal. Banyak sesuatu yang tidak tunggal. Kuda, manusia, benda, ruang, waktu, sebab – akibat, panas – dingin, yin – yang, keberadaan – ketiadaan dan lain -lain. Menatap semua realitas ini, pandangan yang benar hanyalah menatap satu wujud yang real. Dan kejamakan berbagai hal tidaklah real, ia hanyalah bayangan yang timbul dalam alam mental semua yang ber-fikir atau semua yang ber-persepsi. Dengan kata lain, kejamakan adalah serpihan – serpihan mahiyyah yang bertarian di alam khayal  mutawahham[13]. Ke-real-an wujud (‘ashalatul-wujuud) dan ke-khayalan mahiyyah membuat,- dalam pandangan makhluk yang telah cerah-, sekalian alam hanyalah Cinta, wujud disertai pembuluh – pembuluh keperihan rindu wujud atas Nama – Nama – Nya sendiri. [14] Dan orang – orang beriman pun memasukkan keseluruhan hakikat diri – nya, -yang tak lain hanyalah salah satu dari Nama – Nama – Nya-, ke dalam Cinta kepada Tuhan.[15]

Para Nabi dan para wali, manifestasi paling sempurna dari wujud murni, tidak pernah sekejappun terlengahkan dari memandang ke-tunggal-an wujud dalam segala. Bagi mereka, kembali ke alam kejamakan  ( al-’alam al-katsrah) lebih menyakitkan dibandingkan dengan memasuki neraka dan merasakan panas siksanya  Sabar yang tertinggi adalah sabarnya para Nabi dan para wali Allah untuk kembali ke alam kejamakan dan mengajak ummat manusia menuju ke-tunggal-an wujud.[16] Bukankah Imam ‘Ali telah merintih dalam doa Kumail yang menunjukkan keadaan ini,  wa hablii shobartu ‘ala harrinarika fa kaifa ashbiru ‘anin-nazhori ilaa karoomatik (Dan jika Engkau sabarkan aku atas menahan panasnya neraka – Mu, betapa mungkin aku bersabar dari melihat kemuliaan-Mu). Ketika seorang arif ditanya “Ke manakah engkau pergi setelah mengenal Tuhan?” Ia pun menjawab “Ke neraka”. Yang bertanya pun bingung, “Kenapa ke neraka?”. Orang arif itu pun menjawab, “ Jika aku tidak pergi ke neraka, maka siapakah yang akan mengajak Anda dan sekalian teman Anda menuju Ke – Tunggal- an Tuhan?”

Wujud murni yang meliputi segala, hakikatnya adalah Kesedihan wujud dan derita wujud yang ingin dikenali. Maka hakikat kesedihan, -perihnya Cinta dan Rindu akan Wajah Yang Maha Gemilang yang tak pernah tercapai, memasuki pori – pori segenap atom di sekalian alam.  Mengingkari penderitaan sebagai satu kemestian yang harus dilalui dalam kehidupan karena itu akan berakhir pada nihilisme. Kehilangan semua makna kehidupan. Kehilangan wujud semua yang ada, yang identik dengan kehilangan diri sendiri[17] Seperti halnya para bikhsu,- yang  raison de entree – nya dalam perjalanan ruhaninya adalah melenyapkan seluruh derita-, akhirnya mengklaim bahwa puncak kearifan adalah kekosongan atau kesunyaan atau nothingness? Tidak ada apa – apa? Tidak perlu apa – apa? Tidak mesti apa – apa?  Segala adalah kesenyapan total? Betapa na`if – nya seluruh perjalanan mereka ! Alangkah bedanya mereka dengan ucapan seorang ‘Arif Besar abad ini[18], “ Kasihku, duhai Kasihku, aku sakit karena – Mu. Tapi akan sakitku ini ku-tak ingin Engkau sembuhkan.” Cobaan, pedih, derita sungguh adalah janji Allah bagi orang – orang beriman,-  yang benar – benar mencintai – Nya.[19]

Hakikat wujud murni, yaitu Cinta nan dipenuhi segenap pembuluh Rindu, meliputi segala yang ada. Cinta ilahi ini, ‘isyq, meliputi semua gerak dan perubahan, menyertai setiap tawa dan tangis, mengalun dalam setiap melodi dan debur – debur ombak, menakutkan jiwa – jiwa di setiap badai , membuat para ahli maksiyat menangisi dosanya dan merintih – rintih memohon ampunan -Nya, dan juga menyertai gemerisik ranting tempat hinggap para burung kutilang. Kata penyair,

Cinta membuat ombak – ombak berdeburan

Cinta membuat hati – hati berdesiran

Cinta membuat jantung asmara berdegupan

Sebagaimana kicauan kutilang bercengkerama

Cinta membuat mata nanar memerah, walau tidak

Cinta membuat pipi kuning memerah, walau tidak

Cinta membuat bibir merah bergeletaran, walau tidak

Sebagaimana jantung pisang hendak kaucari di batu intan

mungkin kaukira aku mabok mendengar salju, walau tak

mungkin kaukira aku menggigil merasa salju, walau tak

mungkin kaukira aku tersilaukan putih salju, walau tak

Sebagaimana bayi dan tetek ibunya, demikianlah aku menggigil karena Cinta

walau dicampur tetaplah murni

walau bersama tetaplah sunyi

walau bercengkerama tetaplah syahdu

Itulah Cinta pembuluh Rindu

bukanlah mawar tanpa onak dan duri

bukanlah cinta tanpa pembuluh rindu

bukanlah lautan tanpa ombak dan badai

bukanlah Hidup tanpa pedih dan duka

bukanlah hujan tanpa awan nan mendung

bukanlah bahagia tanpa tangis air mata

bukanlah intan tanpa jangkauan ribuan tahun

bukanlah insan utama tanpa ribuan derita

ayyub – ayyub dalam perahu

pedih dan kusta ayyub mendayu

tapi Muhamad dan Husein di dalam hu

tiada derita seperih Karbela

Ketiadaan Keburukan

Wujud murni tiada berbatas adalah hakikat segala. Dan sungguh wujud itu sempurna. Bebas dari semua kekurangan. Dan bahkan wujud adalah kesempurnaan itu sendiri. Sedang segala sesuatu selain wujud secara essensial adalah cacat dan kurang. Secara essensial mereka itu faqir. Tapi karena segala sesuatu selain wuj ud hanyalah ada sebagai mahiyyah dalam imajinasi, maka Terpujilah Tuhan Yang Maha Kaya dari segala kekurangan. Terpujilah Realitas dari segala hal. Hanya Ia-lah Yang Ada dan tiada selain Ia. Maka dalam pandangan orang-orang yang dikaruniai bashiiroh, dzauq dan kasyf al-wujuud, keburukan tidak mempunyai keberadaan dalam segenap alam ini. Yang ada hanyalah Kebaikan.

Karena itu, para wali Allah mesti – lah mencapai tingkatan, “Alaa inna auliyaa `alloohi laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun.[20] “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Karena apa yang perlu dikhawatirkan lagi, sedang Segela adalah Kebaikan, dan tidak ada keburukan. Sakit dan nikmat, hanyalah menunjukkan Lautan Kenikmatan yang tak mungkin pernah dapat dirasakan sempurna oleh makhluk. Baik dan buruk, hanyalah menunjukkan Lautan Kebenaran yang tak mungkin pernah diarungi oleh makhluk, bahkan tak ada batasnya. Senang dan sedih, hanyalah menunjukkan Samudera Kebahagiaan yang dirahmatkan oleh wujud murni kepada makhluknya yang tak mungkin menampung keseluruhannya.

Wujud murni tiada berbatas, tak punya lawan. Salahlah orang yang membayangkan setan dan iblis sebagai lawan Tuhan. Bahkan setan dan iblis, – yang kadang diyakini sebagai sumber keburukan dan kejahatan-,  tak memiliki wujud yang mandiri. Tuhan, wujud mutlak tanpa batas, tak bisa dibandingkan dengan  apa pun , juga ia tak ada sesuatu apa pun yang dapat di-”lawan”-kan dengan-Nya dari semua sudut pandang. Maha Suci Ia dari semua apa yang mereka sifatkan.

Maka derita dan kesedihan bukanlah keburukan, namun justru merupakan segi – segi cerlang Kesempurnaan penciptaan. Sakit dan derita wujud sama sekali bukan merupakan kekurangan, namun adalah keniscayaan Kesempurnaannya sendiri. Demikian, ketika seorang pencari Tuhan mencapai penyingkapan hakikat wujud tertentu, ia akan terlarut dalam Samudera Cinta pada Tuhan yang dipenuhi dengan onak dan duri. Onak dan duri yang amat menyakitkan dan memerihkan. Adalah onak rindu kepada Tuhan sebagai wujud tunggal, dan duri – duri hasrat untuk melihat Dia, Huwa yang merupakan hakikat wujud mutlak yang tak akan pernah terjangkau. Yaa Huwa, yaa man laa ya’lamu man Huwa, wala aina Huwa, walaa kaifa Huwa, walaa haitsu Huwa illa Huwa. Wahai Dia, wahai yang tak mengetahui Siapakah Dia, di manakah Dia, bagaimanakah Dia, sedang dalam keadaan bagaimanakah Dia kecuali Dia.

Seseorang yang mencapai tauhid terendah, – yaitu tauhid af’al-, tidak akan pernah mengeluhkan keadaan apa pun dalam kehidupan ini. Karena mereka melihat bahwa pe-laku ( baca : pe-wujud) dari semua yang ada hanyalah Ia Yang Maha Tunggal. Dan tak ada serikat bagi – Nya dalam perbuatan (baca : pe-wujud)-Nya. Dan bahkan dalam pandangan para ‘arif yang telah mencapai tauhid dzat,  tak ada keburukan apa pun dan tak ada kekurangan apa pun yang memasuki alam (baca : Samudera Wujud) ini. Maka mereka semua akan selalu ridho terhadap semua yang terjadi dalam realitas ini.  Allah ridho pada mereka, dan mereka – pun ridho pada – Nya. [21]

Maka adalah sebuah ciri orang yang telah mencapai tauhid; adalah senantiasa ridho dan wajahnya membekaskan lautan kenikmatan. Tidak terlalu gembira dengan apa yang menyenangkannya, tak pula terlalu sedih dari apa yang luput.  Wujuuhun yauma`idzin naa’imah. Lisa’yihaa roodhiyah. Wajah – wajah yang selalu dipenuhi dengan syukur nikmat. Sebagaimana Nabi Ayyub (a.s.) tetap bersyukur kepada Allah setelah tujuh tahun dihinggapi derita kusta yang amat payah. Dan mungkin sebuah ciri lain adalah tak pernah terburu – buru atau mengejar sesuatu yang menjadi hasratnya. Bukankah Imam ‘Ali (a.s.) telah berkata dalam doa Kumail; waf ‘ al bimaa anta ahluh (lakukan apa yang Engkau adalah ahlinya). Atau meminjam perkataan Maulana Rumi; aku – lah ikan , Engkau – lah Lautan, genggamlah aku sebagaimana yang Engkau sukai. Sungguh, Cinta kepada Allah, akan melenyapkan seluruh keburukan dan menggantinya dengan  Kebaikan. Dan Cinta kepada Allah akan melenyapkan seluruh dualisme – dualisme lain yang menjadi akar dari seluruh kesyirikan di dunia. Maulana Rumi berkata; Cinta kepada Allah melenyapkan semua kesulitan, seperti matahari di siang hari melenyapkan semua bayangan.

Apa pun adalah kebaikan. Apa pun, kebaikan adanya. Apa pun, adalah wujud Kebaikan dan Kesempurnaan Tuhan Yang Maha Semarak.

demikian tak ada baik tak ada buruk

yang ada hanyalah Ia sendiri

tak ada nikmat tak pula duka

yang ada hanyalah Sepi sendiri

tak pula tangis tak pula tawa

Bahagia dalam Perih Ceruknya Rindu

tak pula sedih tak pula girang

Ia Gemilang dalam Cahaya-Nya sendiri

maka demikianlah, tidaklah Ia puji

melainkan Muhammad sendiri

dan tak patut Ia puji

selain Muhammad sendiri

sehingga dilelautan dan gegunungan

yang ada hanyalah Muhammad sendiri

di awan pun , di langit pun, di ‘Arsyi pun

Gemilang Terang Muhammad sendiri

tak kan berkilau intan tanpa gosokan

Tak kan Bercahaya Muhammad tanpa derita

maka benarlah Rasul yang mengatakan,

“Tak seorang nabi pun yang menderita seperti apa yang kuderita”

bukankah Imam Shadiq(a..s.) mengatakan,

“Dan orang yang lemah imannya dan lemah akalnya lemah pula cobaannya.”

Maka kini kukatakan

dengan hati yang bergemeretakan;

Ayyub- Ayyub dalam perahu

Derita ayyub Ribuan Samudera

Tapi Muhammad dan Husein di dalam rahasia “hu”

tiada derita seperih Karbela

Juntai ikal Husaini,

Seribu Wangi Kesturi

Perih sekali darah Karbela,

tiada duka seperih Karbela

Muhammad Nabi tangisi ummatnya

dalam nafas akhirnya, “ummati” adalah gumannya

Tapi ummatnya mengucur darahnya

membantai Cucu Nabi biji mata Nabi

Oh mereka mengharap syafa’at

sembari menyiksa Cucu Nabi hingga sekarat

Oh, mereka mengharap kasih sayang Nabi

sembari menyeret wanita-keluarga Nabi hingga sekarat

Oh, mereka berkata kucinta Nabi

sambil menghancurkan biji-mata Nabi

Oh, mereka berkata kuberiman pada Nabi,

sembari melaknat keluarga Nabi

Terkutuklah mereka semua, di awal dan di akhir

terlaknatlah mereka semua, dalam jahannam kehinaan

Mereka katakan, kucinta Nabi

sembari membiarkan bayi Asghar kehausan

Mereka katakan kuberiman kepada Nabi?

sembari menombak cucu Nabi yang masih bayi?

Mereka katakan kumalu pada Nabi?

sembari mempermalu Zainab dan wanita-wanita Nabi

Mereka katakan kucinta kerabat Nabi,

tapi enggan meratapi Kepala Husain?

Terkutuklah orang yang mendengar berita kepala Husain

dan tak meratapinya hingga kering airmata darahnya

Terkutuklah orang yang mendengar keluarga Nabi tak boleh minum walau seteguk

dan tak mengutuki mereka – mereka yang memperbolehkan binatang minum tapi keluarga Nabi tidak !

Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah berlari – lari

Husein akan tinggalkan aku, Zainab putri Fathimah meratap sendiri

Zainab menangis merintih menjerit di padang Karbela

Yazid  bergembira ria mempermainkan Kepala Kakaknya

Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah merintih sendiri

Lautan darah Keluarga Nabi, Zainab putri Fathimah merintih sendiri

dipersembahkan karangan bunga bagi para hamba nan mencapai ajal

kupersembahkan lautan darah ku bagi para Syahid di Karbela

kerna wangi darahnya melampaui taman gulistan

dan suci darahnya melampaui melati putih

dipersembahkan puja puja dan doa bagi para mukmin nan mencapai ajal

kupersembahkan Jantungku nan Berdarah perih bagi Imam Husain di Karbela

tak pernah kutangisi melainkan Wajah mu

tak pernah kuratapi melainkan Darah mu

tak pernah kurindu melainkan Senyum mu

dikaulah Husein pujaan hati

tak pernah kutangisi melainkan Zainab mu

tak pernah kuratapi melainkan Zainab mu

menggigil tubuh menahan derita

Zainab mu kau tinggalkan oh hancurlah hati

jika Musa dikhianati kaumnya dengan Sapi Samiri

Keluarga Muhammad dibantai dan disembelih ummatnya

jika Ibrahim harus menyembelih Ismail sendiri

Husein menggendong anaknya yang bayi dan ditombak di depan mata sendiri

jika Yusuf dimasukkan dalam sumur yang gelap

Keluarga Husein kehausan kekeringan dalam padang Karbela

Jika sembelihan Ibrahim diganti tuhan dengan domba

Kurban keluarga Muhammad telah tetap Husein Syahid di Karbela

Jika Nuh diselamatkan Tuhan dalam bahtera di samudera

Maka Husein dibantai, darah Keluarga Nabi pun mengucur bak samudera

sayap sayap beterbangan

burung burung bertebaran

Syuhada – syuhada beterbangan

bertemu Nabi Kekasih Tuhan

kering Karbala

hening Karbala

jerit demi jerit Lautan Darah Karbala

Tiada derita seperih Karbala


[1] Lihat M.H. Thabathaba`i, Bidayatul Hikmah,ketika beliau membahas tentang Hakikat Tuhan.

[2] Subhaanalloohi ‘amma yashifuun (QS. Ash-Shoffaat ; 159 )

[3] Alaa innahu bi kulli syai`in muhiith… (QS. Fushshilat; 54) Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

[4] Imam ‘Ali (a.s.) dalam Nahjul Balaghah.

[5] Allahush-shomad (QS Al-Ikhlas; 2), menurut penafsiran Imam Khomeini dalam buku “40 Hadits”.

[6] QS An-Nuur; 35.

[7] Merujuk pada hadits qudsi, “Kuntu kanzan makhfiyyan, …”

[8] Merujuk pada hadits qudsi yang dikutip pada buku Misykatul-anwaar, karangan Al-Ghazali, terjemahan Mizan, hal. 50.

[9] Inallooha ghoniyyun hamiid (QS Baqoroh 267)

[10] Fa innamaa tuwalluu fatsamma wajhulloohi (QS Al-Baqoroh 115) Maka ke mana saja engkau menghadap disitulah Wajah Allah.

[11] Sabzavary, Syarhe-Manzhumahe-Hikmat, ketika beliau membahas tentang sifat – sifat negatif wujud.

[12] Bal hum fii labsin min kholqin jadiidin. (QS Qaaf; 15) Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu – ragu tentang penciptaan yang baru.

[13] Kullu man ‘alaihaa faan (QS Ar-Rahman ; 26) Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

[14] Wa yabqaa wajhu robbika dzul-jalaali wal ikram (QS Ar-Rahman ; 27) Dan kekallah wajah Robb-mu Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

[15] Walladziina aamanuu asyaddu hubba lillaah (QS Al-Baqarah; 165) Dan orang – orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah

[16] Lihat penjelasan Imam Khomeini dalam 40 Hadits – nya mengenai Sabar.

[17] Wa laa takuunuu kalladziina nasullooha fa ansaahum anfusahum. Ulaa ika humul – faasiquun. (QS Al-Hasyr; 19)

[18] Imam Khomeini.

[19] QS Al-Ankabut; 2

[20] QS Yunus; 62

[21] Misalnya lihat, QS Al-Bayyinah;  8.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juli 2010
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: