Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kumpulan ceramah MR Bawa Muhaiyaddeen (Bagian Ketiga)

Pasulukan Loka Gandasasmita

Widaksana Natasasmita
Bijaksana dan waspada dalam melihat permasalahan

Bisakah Bawa memberiku do’a spesial untuk diucapkan

Sebuah percakapan Bawa Muhaiyaddeen dengan anak-anak kecil yang disusun dalam sebuah buku Why Can’t I see the Angels ?

Penanya (berusia 7 tahun): Bisakah Bawa memberiku sebuah doa spesial untuk diucapkan?

Bawa Muhaiyaddeen: Kami tidak bisa memberikanmu doa yang tinggi saat ini karena engkau masih kecil. Masih banyak yang harus engkau pelajari. Engkau harus memulainya dengan perlahan-lahan, dan sepanjang perjalanan engkau akan melaju lebih tinggi.

Doa pertama adalah: La ilaha illallah, Muhammadur-Rasulullah. Tuliskan kalimat ini untuknya. (Bawa Muhaiyaddeen lalu mengucapkannya kata per kata secara perlahan-lahan agar anak itu bisa mengucapkannya.) Ambil ini sebagai doa spesialmu.

La ilaha bermakna batin: Tiada apapun yang bukan Engkau. Illallah bermakna batin: Engkau, Allah. Tidak ada tuhan yang sebanding dengan-Mu atau setara dengan-Mu. Engkau pemilik segala kebesaran. Engkaulah satu-satunya Tuhan. Engkaulah Allah yang Maha Berdiri Sendiri. Engkaulah Allah yang menciptakan seluruh ciptaan. Engkaulah Allah yang memberikan rezeki kepada segala sesuatu. Engkaulah Ayah* yang melindungi seluruh mahluk hidup, Allah yang menciptakan segala sesuatu, menjaga segala sesuatu, dan memelihara segala sesuatu. Engkaulah Allah yang menjadikan yang hidup menjadi mati dan engkaulah Allah yang membangkitkan kembali mereka yang telah mati. Engkaulah Allah yang akan mengajukan pertanyaan besok [pada hari pembalasan] mengenai kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan. Engkaulah Allah yang memberikan keputusan di hari pembalasan. Engkaulah Allah; tiada tuhan selain Engkau. Ini adalah sebagian kecil arti dari doa ini.

Illallah. Engkaulah Allah. Muhammadur-Rasulullah, Muhammad (SAL.) adalah utusan-Mu. Dia adalah rasul dari kerajaan-Mu. Dia adalah utusan bagi seluruh kerajaan rahmat-Mu. Engkau menciptakan dia, Rasul (SAL.) melalui kebijaksanaan-Mu, Engkau menurunkan kebijaksanaan-Mu melalui bentuknya. Seorang Rasul (SAL.) adalah bentuk dari kebijaksanaan-Mu dan adalah cahaya bagi iman, bagi kepercayaan, keyakinan, dan keteguhan hati. Bagi mereka yang memiliki kepercayaan kepada Engkau, bagi mereka yang memiliki iman, seorang Rasul (SAL.) hadir sebagai cahaya. Melalui cahaya itu, dia membimbing kita mengetahui-Mu dan melihat-Mu. Muhammad, seorang Rasul (SAL.), adalah budak-Mu, utusan-Mu, Kebijaksanaan-Mu, dan kebesaran-Mu.

La ilaha illallah, Muhammadur-Rasulullah. Aku mengikuti dan mempercayai para Rasul (pembawa pesan) yang telah Engkau datangkan. Aku menerima kebenaran ini sebagai iman dan kebenaran ini sebagai kesucian, sebagaimana aku menerima Engkau, aku menerima utusan-Mu, dan aku bergerak meraih-Mu.

Berikan salinan penjelasan kalimat ini kepada anak ini. Masih banyak penjelasan dari kalimat ini. Terdapat begitu banyak arti di dalamnya, tetapi ini hanyalah satu bagian penjelasan bagi imanmu, kepercayaanmu, keyakinan, dan keteguhan hatimu. Amin.

November 13, 1983

Anak-anak, bersikaplah dengan baik

Artikel-artikel berikut ini  diterjemahkan oleh Dimas Tandayu dari sumber berbahasa Inggris :

Cintaku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku. Mendekat dan duduklah. Setiap dari kamu melihat kepadaku dan dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan. Engkau harus belajar bagaimana untuk bertingkah laku dengan baik.

Pertama engkau harus memikirkan apa yang baik dan apa yang buruk, kemudian engkau harus menyingkirkan apa yang buruk dan hanya melakukan apa yang baik. Rasakan bagaimana rasa dari perbuatan baik tersebut. Dan jika seseorang melakukan suatu kebaikan kepadamu, engkau harus membalas kebaikannya kembali. Tetapi jika seseorang melakukan suatu keburukan kepadamu, cukup lupakanlah. Jangan membalas perbuatannya.

Lebih lanjut, cucuku, engkau harus selalu menghormati ibu dan ayahmu. Tidak saja harus menghormati mereka, engkau juga harus mematuhi mereka. Jika seseorang usianya sedikit lebih tua darimu, maka engkau harus memperlakukan ia seperti kakakmu. Jika seseorang usianya jauh lebih tua darimu, engkau harus menghormatinya seperti ayahmu. Jika seseorang usianya lebih muda darimu, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang dan rangkul ia di bawah sayapmu layaknya seorang adik atau anakmu. Engkau harus menghormati dia. Bahkan kepada sapi, kambing, dan binatang lainnya, engkau harus menunjukkan cinta dan kasih sayang. Melalui hidupmu engkau harus menunjukkan tiga ribu sifat-sifat pengasih Tuhan kepada setiap orang. Engkau harus melakukan kewajibanmu dan menghormati mereka yang lebih rendah sebagaimana engkau menghormati mereka yang lebih tinggi. Engkau harus melakukan ini tanpa diskriminasi dan tanpa memperhatikan status mereka di dalam kehidupan.

Kewajiban apapun yang engkau lakukan kepada orang lain, engkau harus melakukan kewajiban tersebut dengan cinta, belas kasih, kebenaran, dan dengan hati yang terbuka. Jangan melakukannya dengan mementingkan dirimu sendiri atau keterikatan, dan jangan mengharapkan imbalan. Dimanapun engkau membantu seorang anak kecil atau orang dewasa, jangan mengharapkan bantuannya kembali. Tunjukkan mereka kasih sayang, dan ketika pekerjaanmu selesai, pergilah dengan bahagia.

Engkau jangan pernah memiliki pikiran, “Aku melakukan ini untukmu, jadi apa yang bisa engkau lakukan kepadaku sekarang?” Jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu. Jika engkau menolong seseorang dan mengharapkan imbalan, maka engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri yang melakukan perbuatan egois, dan setiap bantuan, kasih sayang, atau kebenaran yang engkau berikan akan berbalik menyakiti dirimu. Hal itu akan mengumpulkan keburukan kepadamu. Jika engkau memberi pertolongan dengan cara seperti itu, hal itu adalah jahat, tidak baik. Engkau selayaknya tidak pernah berada dalam keadaan seperti itu. Imbalanmu datang dari bantuan yang engkau berikan, bukan dari orang yang engkau bantu. Adalah tanggungjawabnya, bukan tanggungjawabmu, untuk mengingat bantuan yang telah ia dapatkan. Engkau selayaknya hanya menyelesaikan pekerjaanmu kemudian pergilah. Adalah salah jika mengharapkan imbalan.

Cucuku, engkau seharusnya jangan pernah marah. Kemarahan adalah pembimbing dari dosa. Kemarahan akan membimbingmu menuju jalan dosa dan membawamu langsung ke neraka. Kebencian akan memakan kebaikanmu, kebijaksanaan sejati. Ketidaksabaran adalah musuh dari kearifanmu. Semua kemegahan itu bukanlah emas. Jangan pernah berpikir seperti itu ketika engkau melihat kebenaran. Sebuah pot emas tidak membutuhkan dekorasi, sebagaimana juga sebuah hati yang penuh dengan kebenaran. Kebenaran tidak butuh penghias.

Jika engkau memiliki kearifan sejati, engkau tidak perlu menerapkannya pada setiap tindakan. Setiap perkataan yang engkau ucapkan akan penuh dengan keindahan, cinta dan belas kasih. Kata-kata tersebut akan terasa manis dan bermartabat di setiap perkataannya. Jika kearifanmu muncul dari kebenaran, maka kearifan itu akan menjadi indah. Tidak di perlukan hiasan lagi. Jadi tidak lagi berbicara dengan kata-kata yang engkau ambil di sini, di tempat lain, atau dari bacaan pada buku-buku. Perkataanmu akan muncul secara otomatis dari dalam hatimu dan mengungkapkan kebenaran. Cukup hanya berbicara kebenaran. Tidak perlu lagi membubuhinya dan membuatnya berkesan.

Cucuku, jangan mencuri. Jangan engkau berbohong kepada kedua orang tuamu karena takut kepada mereka. Katakan kebenaran kepada mereka dengan belas kasih. Katakan, “Aku berbuat kesalahan. Tolong maafkan aku atas apa yang aku lakukan.” Pertama bermohonlah kepada Tuhan untuk memaafkanmu, lalu bermohonlah kepada kedua orang tuamu untuk memaafkanmu. Selanjutnya, mohon maaflah kepada setiap orang yang telah engkau sakiti. Jika engkau menyadari kesalahanmu dan bertobat, dosamu akan dihapus. Tetapi jika engkau tidak menyadari kesalahanmu, jika engkau tidak memohon maaf, dosa itu akan tetap bersamamu.

Jangan mengatakan sesuatu untuk menyakiti orang lain, selalu berbicara dengan belas kasih. Pandanglah orang lain dengan cinta dan kasih sayang; jangan melihat mereka sebagaimana harimau melihat. Jangan memunculkan pertengkaran dengan orang lain; cobalah untuk hidup bersama mereka dengan penuh cinta, kasih sayang, kepercayaan dan kedamaian.

Jangan pernah menyimpan permusuhan dengan orang lain di dalam hatimu. Singkirkan permusuhan dan segala bentuk sifat jahat di dalam dirimu. Jangan berpegang kepada keraguan, keraguan adalah penyakit yang parah. Buang hal itu. Buang segala bentuk kecurigaan yang engkau miliki kepada orang lain. Mereka adalah saudaramu. Hiduplah tanpa prasangka. Hal itu akan membuatmu bahagia. Hal itu akan menjadi surga bagimu.

Jangan menyakiti, menyiksa, atau menyebabkan penderitaan kepada mahluk hidup apapun. Bahkan seekor kerbau yang menarik kereta harus di perlakukan dengan penuh kasih sayang. Jangan memberi beban melebihi batas yang bisa ia angkut. Kemudian, ketika engkau di beri beban yang begitu berat bagimu, bisakah engkau membawanya? Apakah sulit bagimu? Lalu pikirkan penderitaan yang engkau sebabkan pada kerbau ketika mengangkat beban melebihi kemampuannya. Cucuku, engkau harus mengetahui kapasitas setiap tubuh dan mengetahui kapasitas keadaan seseorang. Hanya dengan begitu engkau bisa memberikannya pekerjaan yang sesuai, memperlakukannya dengan hormat, dan melindunginya.

Ketahuilah sifat-sifat pada hati setiap orang lalu layani mereka. Tetapi pertama, cobalah untuk mengetahui hatimu. Hanya dengan begitu engkau baru akan mengerti hati orang lain. Jika engkau telah mengerti hal itu, maka perkataan apapun yang engkau katakan dan kewajiban apapun yang engkau lakukan akan menjadi sebuah tanggungjawab sejati, tanggungjawab Tuhan selamanya. Jika engkau berada dalam keadaan seperti itu, kasih sayang yang engkau berikan kepada setiap orang akan menjadi kasih sayang Tuhan yang sempurna. Di dalam setiap situasi, lakukan kewajibanmu dengan pemahaman ini.

Permata indah yang menyinari mataku, cucuku, putra dan putriku, anak-anakku, ketika engkau pergi ke sekolah, perhatikan apa yang engkau pelajari. Jangan perhatikan apa yang orang lain perbuat. Jangan menghabiskan waktu dengan melihat hal lain. Konsentrasi pada apa yang engkau lakukan saat ini. Hanya hal ini yang seharusnya engkau pikirkan sampai engkau menyelesaikannya. Jika engkau pergi melakukan solat, konsentrasilah pada solat. Jika engkau membaca buku, konsentrasilah pada buku itu. Jika engkau memiliki pekerjaan lainnya, fokus kepada pekerjaan itu. Konsentrasi secara penuh dengan kearifanmu. Niatkan untuk melakukan apapun dalam keadaan seperti ini, dan lakukan segala sesuatu atas nama Tuhan.

Cucuku, jangan dengarkan apa yang di katakan orang lain. Jangan mendengarkan untuk mencari tahu apakah mereka membicarakan tentang engkau atau diriku. Di dunia ini begitu banyak percakapan dan begitu banyak ketidakpedulian (1). Jangan memberi telingamu kepada suara dunia, suara dari ketidakpedulian. Berikan telingamu kepada suara Tuhan. Miliki cinta atas kewajiban yang harus engkau lakukan dan berikan telingamu kepada kewajiban itu.

Permata indah yang menyinari mataku, lakukan setiap kewajibanmu dengan cara yang baik, tanpa memperhatikan pada dunia yang berada di dalam dirimu (2). Di dalam hal ini, lakukan tindakan yang tidak terbatas yang engkau lakukan setiap harinya. Ketidakpedulian, ilusi, dan setan selalu memainkannya di dalam dirimu (3). Hilangkan permainan yang terjadi di dalam. Dan lupakan mengenai permainan yang terjadi di dunia luar (4).

Cintaku, cucuku. Setiap dari kamu sebaiknya memikirkan hal ini. Selalu menyingkirkan apa yang buruk, simpan apa yang baik, dan bertingkah laku menurut yang baik. Raihlah sifat-sifat, Tindakan, dan sikap Tuhan dan singkirkan semua sifat-sifat yang lain.

Cucuku, jika engkau tumbuh di dalam keadaan dari kebaikan, engkau akan menjadi anak-anak Tuhan (5). Engkau akan hidup sebagai anak yang baik di dalam hidup ini, dan engkau akan di butuhkan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tuhan akan menerimamu sebagai anak-anak dari keimanan dan kebenaran. Engkau akan menerima kebaikan-Nya, dan melalui kebaikan-Nya tersebut engkau akan memperoleh keuntungan selamanya.

Hiduplah sebagai anak yang baik kepada segala sesuatu dan sebagai anak yang baik kepada Tuhan. Bijaklah kepada hatimu dan bijaklah kepada kearifanmu.

Cintaku, cucuku. Pikirkan hal ini dan lakukan hidupmu di dalam cara ini. Amin. Semoga

Sebuah Perspektif Bisnis Oleh Sufi

Putra dan putriku, semoga Tuhan melindungimu. Semoga Dia selalu melindungimu dan membimbingmu dengan rahmatNya. Hanya Dia satu-satunya pelindung yang bisa kita gantungi. Semoga Dia membawamu dan memberikan kedamaian kepadamu baik didunia ini maupun diakhirat nanti.

Putra dan putriku, kau ada sebagai cinta didalam cintaku, hati didalam hatiku. Karena kesabaran dan niatmu yang tulus, Tuhan akan selalu melindungi dan membimbingmu kepada jalan yang lurus. Karena sifat-sifatmu yang baik, belas kasih dan perhatian yang ada didalam hatimu kepada orang lain, Tuhan akan membantu kesabaran dan sifat-sifat baikmu untuk tumbuh dan menyingkirkan kegelapan dan ketumpulan dari hidupmu. Jangan khawatir, engkau berada di tangan Tuhan.

Ini adalah poin yang harus dipertimbangkan dan diingat. Ketika air hujan berkumpul dan akan ada bahaya dari banjir, apa yang kita butuhkan adalah sebuah bendungan untuk menampung air. Kita memilih untuk menghentikan laju air atau mengalihkannya. Hal yang sama, ketika pikiran kekanakan membanjiri akal pikiran dan kearifan kita dengan air yang keruh dari keraguan dan ketidakpedulian(1), apa yang kita butuhkan adalah bendungan dari kearifan dan iman yang sempurna. Kita harus memilih apakah mengalihkan pikiran-pikiran keruh mengalir menuju lautan ilusi(2) atau menampung air yang keruh dengan bendungan yang kuat untuk mengalirkannya menuju danau. Jika bendungan dari iman dan kearifan yang sempurna bisa dibangun, kotoran akan mengendap kedasar danau, dan engkau akan bisa menggunakan airnya yang bersih untuk diminum atau untuk menyediakan air bagi ternak-ternak dan ladangmu.

Air keruh dari ketidakpedulian yang membanjiri akal pikiran dan kearifanmu ini muncul dari beberapa yang bisa dinamakan teman yang tidak baik untukmu. Teman-teman ini adalah tujuh tingkatan hasrat, atau nafs(3), yang menciptakan keinginan-keinginan di dunia ini. Mereka berasal dari lima elemen, dari tanah, udara, api, air dan eter, bersama-sama dengan pikiran dan hasrat. Mereka selalu mencoba untuk menarik kebawah kearifan manusia dan membungkusnya dengan lumpur. Bagaimanapun, terdapat hubungan yang tidak stabil yang suatu hari akan bubar. Tubuh ini suatu hari akan mati dan terurai kembali menuju lima elemen yang membentuknya.

Melalui rahmat dan perlindungan dari Tuhan, engkau akan dapat keluar dari banjir lumpur pikiran jika engkau menumbuhkan iman dan kearifan. Engkau harus menumbuhkan keimanan bahwa Tuhanlah satu-satunya dan bertingkah laku sesuai dengan tindakan-tindakan, sifat-sifat, dan niatnya Tuhan. Engkau harus menghubungkan dirimu dengan orang-orang yang memiliki kearifan. Ini akan menjadi teman yang akan menjernihkan kehidupanmu, yang dapat menunjukkan kepadamu Cinta Tuhan dan memberikan kedamaian. Apa yang paling dibutuhkan dalam kehidupan kita adalah kestabilan iman yang sempurna, kearifan, dan sifat-sifat pengasih Tuhan.

Putra putriku, ketika ular berbisa menggigit kita, kita tidak bisa melihat kadar bisa yang dikeluarkannya, bahkan bisa itu dapat menyebabkan kematian langsung. Hal yang sama, hanya dibutuhkan jumlah dari ketidakpedulian yang sangat kecil untuk membunuh kebenaran dan kearifan yang berada di dalam dirimu dan untuk menghancurkan keimananmu. Setidaknya engkau harus memikirkan hal ini. Jika engkau tidak membawa poin ini di dalam pertimbanganmu, pikiran akan kesana-kemari dan menarik kearifanmu ke bawah.

Beberapa pemikiran manusia bergerak kesana-kemari dengan sebuah prasangka, “Bisnis menyakiti orang. Bisnis mengambil uang orang lain dan mengeksploitasi mereka. Aku tidak ingin seperti itu, jadi bagaimana aku bisa menjadi seorang pebisnis?” Apa mereka tidak sadari adalah bahwa segala sesuatu didunia melakukan bisnis secara alami. Petani melakukan bisnis, penceramah, dan pemimpin religius lainnya melakukan bisnis. Dokter menarik bayaran dari pasien, bukankah begitu? Tunjukkan kepadaku siapa didunia ini yang tidak melakukan bisnis. Sepanjang kita membutuhkan sandang, pangan, dan papan, kita harus melakukan berbagai bentuk bisnis.

Hanya orang-orang yang jauh dari kearifan dan kepintaran yang mencoba untuk menyakiti dan mengeksploitasi orang lain ketika melakukan bisnis. Mereka yang memiliki kearifan dapat mencukupi kebutuhan sendiri dan keluarga mereka dengan menggunakan kearifan dan sifat-sifat Tuhan. Mereka bisa mengendalikan dan keluar dari perangkap setan di dunia.

Jangan pernah berpikir untuk menyerah dalam belajar berbisnis. Pelajaran ini akan bermanfaat untukmu dan kehidupanmu. Manusia yang bisa hidup di dunia ini tanpa membiarkan dunia hidup di dalam dirinya adalah yang paling pintar. Sangatlah mudah untuk menghasilkan keuntungan yang besar dengan berbuat curang kepada pelanggan, atau dengan memotong gaji pegawai menjadi setengahnya dan dengan mempekerjakan mereka dua kali lebih lama, pada dasarnya memperbudak mereka. Hal ini sangat mudah. Manusia yang arif, bagaimanapun, akan mencari cara untuk menyediakan apa yang diinginkan pemilik bisnis, apa yang diinginkan karyawan, nilai-nilai keadilan bagi pelanggan, dan bahkan dirinya sendiri dengan menyediakan apa yang ia butuhkan untuk tubuh dan pikirannya.

Jika tidak ada siapun yang melakukan bisnis, tidak akan ada yang memiliki makanan, tempat tinggal, atau kebutuhan-kebutuhan hidup. Jika bisnis bisa dilakukan dengan cinta, keadilan, kearifan, dan kecerdikan, memiliki keimanan kepada Tuhan semata dan tidak mempercayakan kepada dunia, maka bisnis itu akan menuju kesuksesan baik didunia maupun diakhirat. Cara seperti inilah yang harus engkau lakukan dalam berbisnis, dan hal ini akan memberikan manfaat yang besar kepada umat manusia.

Engkau harus belajar bagaimana menjalankan bisnis dengan baik. Jadilah yang pertama dan terkemuka didalam jalur bisnismu, dan kemudian lakukan dengan cinta dan keadilan. Jika engkau melakukannya hal ini akan menguntungkan dirimu dan semua manusia. Jangan malas. Belajarlah dengan giat. Untuk memimpin sebuah bisnis dengan adil engkau harus mengetahui lebih banyak dari mereka yang belajar hanya untuk memuaskan keserakahan dan nafsu untuk kekuasaan, seks, harta benda dan status. Engkau harus membuat kepintaranmu dua kali lebih tajam daripada mereka, jadi engkau bisa mengendalikan mereka dan mencegah mereka dari menyakiti dirinya dan orang lain.

Engkau harus menyerahkan seluruh tanggungjawab kepada Tuhan dan kemudian melakukan kewajibanmu. Dengan kearifan, cinta, keadilan, dan akhirnya diperkuat dengan kepintaran, lakukanlah bisnis yang baik. Jangan malas. Seseorang yang berprilaku seperti ini didalam kegiatan bisnisnya akan dikenal sebagai pebisnis yang luarbiasa. Dia akan menjadi manusia suci untuk dunia ini.

Jangan pernah berpikir bahwa bisnis yang dipimpin dengan kearifan akan menyakiti orang lain. Engkau harus belajar tentang bisnis, dan engkau juga harus belajar mengenai Tuhan, sifat-sifatNya, dan perbuatan kasih sayangNya. Lakukan belajarmu dengan giat dan juga lakukan tugasmu kepada Tuhan. Hal ini akan sangat baik. Engkau harus memberikan keduanya, lakukan pekerjaanmu dengan usahamu yang terbaik dan serahkan tanggungjawabnya kepada Tuhan semata. Maka semuanya akan berjalan baik.

Putra dan putriku, permata hatiku, engkau hadir sebagai cinta didalam cintaku dan hidup didalam hidupku. Semoga Tuhan menganugerahimu kearifan dan menyediakan yang terbaik kepadamu didunia ini dan diakhirat. Semoga Dia memberimu iman yang teguh, kesucian, Sifat-sifatNya yang pengasih, niat, tindakan, dan kewajiban, dan melindungi, menjaga dirimu, keluargamu dan kerabatmu selamanya. Semoga Dia menyediakanmu kearifan manusia yang sempurna. Berikan cinta dan salam kedamaianku untuk setiap orang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi dan menjaga kita semua. Amin.

******

Menemukan kesalahan

Cintaku untukmu, anakku, cucuku. Mendekatlah, dan aku akan memberitahu sesuatu kepadamu yang akan membantumu dalam kehidupanmu. Anakku, apakah kau pernah mengkritik orang lain dan menemukan kesalahan pada mereka, mengeluh “Kenapa mereka melakukan hal itu?” atau pernahkah kau melihat penderitaan yang ada di dunia dan bertanya, “Kenapa Tuhan melakukan hal ini?” manusia yang bijak tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Dia akan mempelajari setiap situasi dan mencoba untuk mengerti apa sebab dan akibatnya. Akhirnya, ia akan berkata, “Ahh, jadi itulah kenapa hal ini terjadi”. Dia tidak pernah menyalahkan Tuhan atau bertanya atas cara yang Tuhan lakukan.

Jika kau berdiri ditengah badai dan mengkritik, mengatakan “Kenapa angin ini berhembus begitu kencang?” dan kau pun akan terperangkap di dalam badai tersebut. Jangan mencoba untuk mencari kesalahan pada badainya. Hal itu hanya akan menghancurkan dirimu. Lebih baik, pelajari badai tersebut dan carilah jalan keluar.

Anakku, Tuhan telah menciptakan berpasang-pasang hal yang berlawanan untuk mengajarkan kepada kita tentang kehidupan kita. Dia menciptakan benar dan salah, baik dan buruk, aroma harum dan bau busuk. Jika kehidupan tidak menyediakan hal-hal yang berlawanan ini kepada kita, bagaimana kita dapat mengerti segala sesuatu?

Kita hanya bisa mengerti kebaikan ketika kita telah mengenal keburukan. Kita hanya bisa mengenal cahaya ketika kita telah melihat kegelapan. Kita hanya bisa mengerti surga setelah kita mengalami neraka. Kita hanya bisa mengetahui terdapat sebuah kebenaran ketika kita telah menyaksikan sebuah kebohongan. Hanya ketika kita telah mengalami hasrat (nafs) rendah dan kerusakan yang datang dari mereka, baru kita akan mengerti pesan-pesan surga. Hanya ketika kita telah mengalami sifat mementingkan diri sendiri dan keterikatan terhadap sesuatu, baru kita akan menemukan jalan kita menuju pribadi yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak terikat terhadap apapun.

Demikian juga tidak ada nilai yang didapat dari mencari kesalahan dan mengkritik Tuhan atau siapapun. Lebih baik, kita seharusnya mencoba untuk mengerti setiap situasi dan mencari penjelasan di dalamnya. Setiap hal di dalam ciptaan terdapat suatu hal yang dapat mengajari kita, adalah tugas kita untuk menemukan pelajaran yang ada di dalamnya. Kita dapat memahami kebenaran melalui contoh-contoh. Itulah yang dinamakan kedewasaan. Manusia yang dewasa memahami penyebab dan akibat dari segala sesuatu.

Tanpa pemahaman ini, manusia hanyalah seekor binatang. Dia akan melakukan perbuatan buruk dan kemudian mengatakan itu adalah tugasnya. Tindakannya akan membawa kerusakan kepada dirinya dan orang lain. Tetapi manusia yang mengerti perbuatannya sebelum ia bertindak akan mendapatkan banyak manfaat dan akan memberi ketenteraman kepada orang lain. Dia akan menyempurnakan karya dari khazanah Yang Maha Kuasa. Jika keadaan ini dibangun di dalam diri manusia, dia akan dikatakan seorang insan kamil, manusia yang sempurna. Dia akan memahami.

Kita harus menemukan nilai dari segala sesuatu di dalam kehidupan kita. Kita harus menggunakan kearifan kita untuk memahami segala sesuatu. Kebenaran akan timbul dari dalam diri kita, dan di dalam kebenaran itu kita akan melihat cahaya Tuhan. Ini adalah keindahan dan rahmat dari jiwa.

Permataku yang bercahaya, kau harus merenungkan hal ini. Inilah kehidupan. Mengkritik dan mencari kesalahan hanya akan mendatangkan keburukan. Kau harus menyadari dimana letak kesalahannya dan kemudian menyingkirkan mereka. Apakah kesalahannya pada Tuhan? Apakah kesalahannya pada orang lain? Atau apakah kesalahannya pada diri kita? Dimana letak kesalahannya? Kita harus memahami ini dan menghindari mereka.

Cintaku untukmu.

Bermanfaat bagi semuanya

Bismillahir-Rahmanir-Rahim: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, lihatlah segala sesuatu di sekeliling kita. Dalam beberapa hal, setiap ciptaan memberikan manfaat kepada kita, bukankah begitu? ambil rumput contohnya. Rumput berguna untuk sapi, kerbau dan kambing. Lihatlah pohon, ia memberi manfaat begitu banyaknya. Beberapa pohon menghasilkan buah-buahan untuk dimakan olehmu, dan pohon yang tidak menghasilkan buah juga memberikan keteduhannya, bukankah begitu? Buah-buahan, semak belukar, dan bunga-bunga semuanya memberikan manfaat untuk mahluk lain. Setangkai bunga dapat memberikanmu aroma yang harum, dan air dari danau dapat memuaskan dahagamu. Matahari memberikan kita cahaya, bulan memberikan kita kesejukan, dan bintang-bintang juga memberikan cahayanya. Semua ciptaan Tuhan memberikan manfaat kepada kehidupan lainnya. Setiap ciptaan membantu dan menyediakan kenyamanan untuk kehidupan lainnya.

Anakku yang mulia, kau harus menyadari ini. Semak-semak, pohon-pohon, bunga-bunga, rerumputan, hujan, dan awan semuanya memberikan kita kenyamanan. Bila mereka bisa menyamankan kita, bukankah sebaiknya kita juga bisa menyamankan orang lain? Kita juga harus memberikan manfaat untuk orang lain. Kita harus bermanfaat bagi setiap mahluk hidup.

Jika seorang manusia duduk di lembah gunung, bayangan dari gunung memberikan kesejukan dan mencegah ia dari panasnya terik matahari. Dengan hal yang sama, jika kau menjadi orang baik, maka kau akan dapat memberikan kenyamanan kepada mahluk lain yang sedang dalam bahaya, dan kau akan dapat memberikan ketenteraman di saat-saat penuh kesulitan. Jika kau seorang yang saleh, berbudi pekerti luhur dan tidak mementingkan diri sendiri, maka kita akan seperti gunung yang melayani tanpa mengharapkan balas jasa ataupun pujian. Jika kita bisa berada dalam keadaan seperti itu dan memberikan ketenteraman kepada mahluk lain, maka kita menjadi bermanfaat untuk orang lain.

Sebuah pohon menaungi kita dari panasnya terik matahari dan melindungi kita dari angin dan hujan. Sebuah pohon bisa begitu bermanfaat. Ia memberikan buah kepada mahluk lain untuk dimakan, tetapi pohon itu sendiri tidak pernah memakan buah yang dihasilkannya, bukankah begitu? Jadi, seperti itu, bahkan jika kita hidup di dunia ini, kita seharusnya tidak memiliki pikiran bahwa kita menikmati kesenangan dunia. Kita harus seperti pohon yang memberikan buah-buahan tanpa ikut serta menikmatinya.

Dengan hal yang sama, walaupun banyak mahluk hidup yang hidup di dalam air, tetapi air tidak pernah memakan mahluk hidup yang ada di air tersebut. Malahan, ia memberikan kehidupan kepada mahluk lainnya. Contohnya, terdapat banyak rerumputan yang ditemukan di dalam air, tetapi airnya tidak memakan rumputnya. Air memberikan kehidupan kepada mahluk lainnya. Seperti itu, anakku yang mulia, jika kita ingin menjadi manusia sejati, maka kita seharusnya menjadi penolong untuk seluruh makhluk hidup. Kita seharusnya tidak berharap untuk memuaskan kesenangan dan kelaparan kita. Kita seharusnya tidak berharap kepada pujian dan kehormatan. Kita seharusnya tidak melihat kepada hal-hal ini. Kita setidaknya harus melakukan tugas seperti yang dilakukan rumput dan semak-semak.

Tuhan melakukan tugasNya tanpa mementingkan DiriNya ataupun keterikatan kepada DiriNya, dan Dia memberi kehidupan kepada seluruh mahluk hidup. Bukankah begitu? Kita harus berada dalam kedaan yang sama seperti Tuhan. Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, sudah waktunya kita menghilangkan diri kita dan mengerti Pembimbing kita (Tuhan).

Setangkai bunga memberikan aromanya yang harum, bukankah begitu? seperti bunga yang merekah dan memberikan keharumannya, hati kita harus merekah dan kearifan pun datang. Hati hanya akan berbunga ketika kearifan merekah. Dan aroma harum baru akan muncul setelah cinta merekah didalam dirimu. Apakah seharusnya hati kita merekah seperti bunga sehingga kita juga bisa memberikan aroma yang harum? Seluruh mahluk hidup akan membungkukkan jiwanya kepada keharuman itu; semuanya akan tunduk kepada keharuman itu.

Setangkai bunga tidak perlu menonjolkan dirinya dan berkata, “Aku setangkai bunga.” Mahluk hidup akan menyadari keharumannya, dan mereka akan tertarik dan mendekatinya. Jadi, jika bunga saja bisa melakukan seperti itu, maka ketika kita hadir dengan hati yang berbunga dan merekah, dan juga dengan keharuman yang ada di hati kita, mereka yang mencintai Tuhan dan memiliki iman kepada Tuhan akan datang mendekati kita. Anakku, permata yang menyinari mataku, sebagaimana bunga menarik mahluk hidup, hati ini akan menarik mereka yang memiliki iman kepada Tuhan. Kita seharusnya berada di dalam keadaan ini.

Jika kita mencabut bunga dan memindahkannya dari pohon, bunga itu akan layu dan kehilangan keharumannya. Bunga tersebut hanya bisa memberikan keharumannya selama bunga itu masih berada dipohonnya. Hal yang sama, jika kita meninggalkan keadaan kita yang benar, bunga yang berada dilubuk hati kita yang paling dalam akan layu. Kita harus tetap terhubung kepada pohon yang merupakan hati. Jika kita meninggalkan hati, maka bunga yang ada di dalam hati kita akan musnah. Inilah yang terjadi ketika kita mencari pujian, kehormatan dan kedudukan demi kebanggaan diri kita. Maka kita akan seperti bunga yang dicabut dari pohonnya; segala kebaikan yang kita miliki di dalam diri kita akan mengering. Bukankah begitu?

Semua anak-anakku, tolong pikirkan hal ini, Tuhan selalu ada di setiap tempat, dan Dia melakukan TugasNya tanpa kebanggaan, tanpa kehormatan, dan tanpa ego “Aku”. Seperti itulah TugasNya. Dengan cara seperti ini seharusnya kita melakukan kewajiban kita, doa kita, ketaatan kita, dan ibadah kita. Tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Tuhan Yang Maha Besar, Allahu ta’lla.

Anakku yang mulia, kau harus berpikir. Kau harus merenung. Kau harus menyadari. Kau harus mengetahui. Dan kau harus mengerti. Apa yang harus kita mengerti? Bahwa Allah ada dimanapun. Bahwa Allah ada disetiap kehidupan dan mengerti semua kehidupan. Yang Maha Esa yang ada dimanapun, apakah Dia tidak ada di dalam diri kita? Apakah kita harus pergi mencari DiriNya? Apakah kita harus membaca ayat-ayat untuk menghadirkan Dia di dalam diri kita? Apakah kita harus menunjukkan keajaiban untuk melihat Dia? Apakah kita harus terbang ke angkasa untuk melihat Dia? Apakah kita harus menutup mata kita dan menunggu untuk melihat Dia?

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, lihatlah bagaimana air turun ketika hujan. Ia mengalir ke semua tempat dan memberikan manfaat ke setiap hal yang ia lewati. Ketika hujan turun, kau akan melihat pohon-pohon, rumput-rumput dan segala sesuatunya menjadi segar; semuanya memilki kesejukan di dalamnya. Danau-danau menjadi terisi, dan air yang berlebih pada danau mengalir menuju laut. Betapa indahnya ketika air mengalir menuju laut. Ketika hujan turun ke bumi dan danau, ia bermanfaat untuk seluruh mahluk hidup, bukankah begitu?

Dengan hal yang sama, di dalam setiap nafas, hati kita selayaknya mengagungkan Tuhan. Pada setiap saat, kita harus memperkenankan hujan dari Rahmat Tuhan turun membasahi hati kita. Setiap menit, setiap detik, di dalam setiap nafas, kita harus mengagungkan Dia. Di dalam setiap detik kita harus memiliki niat untuk beribadah kepadaNya. Setiap kata yang kita ucapkan haruslah perkataanNya. Setiap pemikiran haruslah pemikiranNya. Kita harus berada dalam keadaan ini. Di dalam pikiran kita, di dalam nafas kita, di dalam perkataan kita, dan di dalam niat kita, kita sebaiknya berhubungan dengan Tuhan. Kita harus hidup dalam niatNya. Apapun kegiatan yang kita lakukan, Dia harus selalu berada di dalam niat kita.

Hal ini bukanlah suatu perkara yang besar, anakku yang mulia. Kita mengira bahwa ini sesuatu yang sangat berat untuk dipikul. Tetapi lihatlah pada nafas: kegiatan apapun yang kita lakukan, nafas tetap berkerja secara otomatis, bukankah begitu? Ketika kita bekerja, apakah nafas berhenti bekerja? Ketika kita bekerja, apakah mata kita berhenti berfungsi? Mereka tetap bekerja, bukankah begitu? Kerja apapun yang kita lakukan, apakah peredaran darah tetap bersirkulasi? Apakah ia berhenti bersirkulasi karena kita sibuk bekerja? Tidak, mereka tidak berhenti. Apapun yang kita lakukan, nafas kita tetap mengalir tanpa henti. Dada kita mengembang dan mengempis, setiap organ tubuh berdenyut, setiap akar rambut tumbuh, dan setiap lubang pori-pori bekerja setiap saat. Jika mereka bisa melakukan fungsinya, maka apakah kita bisa selalu memiliki niat kepada Tuhan?

Niat dan kepercayaan kita terhadap Tuhan harus selalu bersama kita, sebagaimana mengalirnya nafas kita. Iman kita harus konstan. Pikiran-pikiran tersebut, niat kita terhadap Tuhan, nafas tersebut, perkataan tersebut, penglihatan tersebut, dan gema tersebut sebaiknya bekerja secara terus-menerus sebagaimana organ-organ tubuh yang berfungsi secara otomatis. Itulah yang dinamakan Zikir, mengingat Tuhan. Jika kau selalu berusaha mengingat Tuhan sebagaimana organ tubuh yang berfungsi di dalam tubuhmu, maka itulah yang di namakan ibadah.

Ini bukanlah suatu beban yang berat untuk dipikul. Yang lain semuanya bekerja secara otomatis; jika hal ini juga dapat bekerja secara otomatis, maka inilah yang di namakan Rahmat Tuhan. Rahmat inilah yang harus kita sebarkan ke segala sesuatu. Seperti hujan yang memberikan begitu banyak kenikmatan dan kesejukan, kita selayaknya memuaskan dahaga orang-orang yang kehausan. Kita selayaknya menghilangkan kelaparan orang lain dan mencoba untuk menenangkan keletihan mereka. Inilah Tugas yang harus kita lakukan.

Anakku, kita tidak selayaknya mengatakan, “Ini sulit, hal itu begitu sulit,” atau “Hal ini tidak mungkin”. Apa-apa yang kita bawa di dalam diri kitalah yang begitu berat. Ketika hujan turun dan terjadi banjir, kau bisa melihat pohon-pohon dan kapal-kapal mengapung di atas air. Tetapi ketika kau mencoba mengangkat pohon dari tanah, hal ini sangat berat. Jika kita mencoba mengangkat pohon sendirian, akan terasa sangat berat. Sama halnya, jika kau mencoba memikul sebuah kapal, terasa sangat berat. Tetapi ketika kapal tersebut berada di air, apakah ia berat? Tidak, kapal tidak terasa berat bagi air. Ketika kita meletakkan kapal di air, apakah yang terjadi? Kita bisa memenuhinya dengan beban tujuh kali berat kapalnya dan tetap tidak terasa berat bagi air.

Anakku yang mulia, segala beban-beban dan apa-apa yang berat yang kita kumpulkan selama hidup kita sama seperti ini. Kita mencoba membawa mereka bersama kita. Kita mencoba membawa bumi, kita mencoba membawa udara, kita membawa hasrat kita, kita membawa keterikatan terhadap dunia dan kecintaan terhadap hubungan-hubungan kita. Hal-hal ini begitu berat karena kita mencoba membawanya melawan gravitasi bumi.

Tetapi jika kau menjadikan setiap nafas membawa gema dari La ilaha, ill-Allahu– Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Hanya Allah yang ada; jika kau bisa mengambil setiap beban ini dan menyerahkannya kepada Dia Hu, ill-Allahu, ini seperti menyerahkan semua beban kedalam kapal tersebut. Lalu kau tidak memiliki beban lagi. Kau tidak memiliki beban untuk dibawa lagi. Sebagaimana air yang bisa menahan sebuah kapal, Allah akan membawa semua beban-bebanmu. Beban-beban ini tidak berat bagiNya, sebagaimana air tidak merasakan beratnya kapal dan beban-beban yang ada di dalam kapal tersebut. Jika kau berserah diri kepada Tuhan dalam keadaan seperti itu, tidak ada lagi beban untuk mu; Allahu akan membawa semua beban-beban tersebut. Tetapi jika kau hanya memberikan setengahnya kepada air dan kau berusaha membawa setengah lainnya, bagaimana kau akan memikulnya? Bagaimana kau akan membawanya?

Anakku yang mulia, tolong renungkan hal ini. Air hanya akan dapat menahan kapalnya ketika engkau memberikan seluruh kapalnya kepada air. Maka sebanyak apapun beban yang kau berikan, air masih dapat menahannya. Sama seperti itu, kita harus menyerahkan beban-beban kita seluruhnya kepada Tuhan, dan berkata, “La ilaha, Tidak ada Tuhan selain Allah, ill-Allahu, hanya Engkau yang ada, Oh Tuhan.” Dan Dia Yang Maha Bijak di seluruh Alam Semesta, Sang Rahmatul-‘alamin, akan membawa semua beban-beban kita yang berat. Semakin banyak beban yang kau berikan kepadaNya, semakin banyak yang akan Ia bawa.

Jika kau renungkan hal ini, kau akan menyadari bahwa jika kita hidup dalam keadaan seperti ini, berserah diri kepada Tuhan, maka kita tidak akan memiliki ketakutan ataupun kesulitan di dalam hidup. Dan ibadah kepada Tuhan menjadi begitu mudah. Kesulitannya terletak pada perbuatan kita yang mencoba membawa beban-beban tersebut dari bumi dan mencoba untuk menyerahkan beban-beban tersebut kepada Allah. Selalu terdapat ikatan keturunan, ras, dan agama yang mendorong kita. Kita membawa mereka, dan hal-hal itulah yang memberi kita beban. Tetapi jika kita bisa mengambil beban ini dan berserah diri kepada Tuhan, maka ibadah akan menjadi sangat mudah, untuk mencapai Tuhan menjadi mudah, untuk berbicara kepadaNya menjadi mudah, untuk menerima kearifanNya menjadi mudah, untuk bersatu denganNya menjadi mudah, dan mencapai kerajaanNya menjadi Mudah. Kita harus memikirkan hal ini. Kita harus merenungkan segala sesuatunya.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, kau harus berusaha untuk mencapai keadaan ini. Anakku yang tersayang, setiap dari kita harus berusaha untuk mengurangi beban-beban yang kita bawa bersama kita. Kita harus menyingkirkan beban-beban kita; kita harus berusaha. Semua masalah ini adalah akibat tingkah laku kita.

Semua anakku, kita harus memikirkan tentang hidup kita. Kita harus memikirkan tentang kewajiban dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Kita harus mengerti hal tersebut dan berusaha untuk hidup dalam keadaan tersebut. Semoga ibadah kita berada dalam keadaan tersebut, dan mari kita berusaha untuk meraih singgasana Tuhan. Hal itu akan menjadi kemenangan bagi hidup kita. Itulah keagungan dari manusia dan kejernihan dari kearifan kita.

Anakku yang mulia, cahaya-cahaya permataku, semoga setiap dari kamu memikirkan hal ini. Berusahalah untuk berjalan dijalan yang lurus, dan berusaha untuk menilai diri kita. Untuk beribadah kepada Tuhan mudah, tetapi untuk mengerti sifat-sifatNya dan untuk berjalan pada jalan inilah yang sulit. Jadi mari kita berjuang untuk mencapai maqam tersebut. Amin. Amin.

As-salamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatu Kullahu. Semoga keselamatan Allah bersamamu dan Rahmat Allah dan Barokah Allah.

Menyeberangi padang pasir kehidupan bersama Guru tercinta

Sayangku, cucu-cucuku, anak-anakku, putra-putriku. Maukah kau ikut denganku ke Arabia? Sejauh kau memandang, yang terlihat hanyalah padang pasir. Lihat bagaimana angin menghembuskan pasir hingga menjadi sebuah gurun. Beberapa tebing bebatuan ada disini dan disana, dan biasanya terdapat semak-semak berduri atau pohon kurma, tetapi saat ini dapatkah kita melihat air, orang-orang, perkampungan, atau kehidupan lainnya?. Kemanapun kita memandang, kita hanya melihat pasir, batu-batu dan cakrawala yang menjulang. Jika manusia terdampar disini, dia akan berhadapan dengan badai gurun, angin topan dan matahari yang menyengat.

Cucu-cucuku, berkenala sepanjang padang pasir ini akan menjadi sangat sulit. Dapatkah kau rasakan kakimu tenggelam kedalam pasir setiap kali kau melangkah? Kau harus mengangkatnya pada setiap langkahmu. Oh, lihat disana, diujung cakrawala. Dapatkah kau melihat burung unta berlari bergerombol menelusuri gurun? Mereka bisa berlari hingga dua puluh kilometer perjam. Kita tidak dapat berlari secepat itu. Kenyataannya, kaki kita terasa sangat berat dipasir dan menyulitkan kita untuk berjalan. Tetapi kita harus terus bergerak, karena jika kita diam disini kita akan mati. Kita harus mencari air sebelum badai gurun datang. Jangan sampai keletihan, kita tidak boleh membuang waktu. Kita harus terus berjalan.

Awas nak! banyak kalajengking dan ular di dekat batu itu. Beberapa ular adalah jenis ular yang berjalan merayap kesamping ketika menyusuri pasir. Lihat, kau juga bisa melihat beberapa iguana dan tikus, dan disebelah sana ada seekor rubah. Bagaimanapun juga mereka semua bisa hidup di padang pasir ini. Tetapi sangatlah tidak mungkin bagi manusia untuk bisa bertahan hidup di sini dimana mataharinya sangat menyengat dan tanahnya yang tandus, dengan hanya beberapa pohon saja yang bisa memberi keteduhan.

Cucu-cucuku, mari kita berjalan menuju gunung bebatuan diujung sana. Lihat! Apakah kau melihat asap yang datang dari sana? Ayo kita berjalan lebih dekat lagi. Sekarang mata kita bisa melihat dua atau tiga tenda dengan kuda dan unta yang diikat di luar. Tetap berjalan, kita hampir sampai disana. Sepertinya beberapa keluarga nomad hidup di sini. Mereka pasti berasal dari suku yang hidup di padang pasir. Para nomad biasanya dipandang rendah dan digolongkan kedalam kasta yang rendah oleh mereka yang menggolongkan diri mereka sebagai kasta yang tinggi. Tetapi mereka ini sangatlah baik dan bijaksana. Lihat bagaimana mereka mendatangi kita dan menawari kita makanan dan air dari kendi-kendi mereka.

“Salam, mari bergabung dan makan bersama kami. Apa yang membawa kalian kemari?

“Kami datang untuk menjelajahi padang pasir. Dan kami belum bertemu seseorang pun sampai Tuhan membimbing kami kepadamu.”

“Sahabatku, kau membutuhkan air untuk perjalananmu. Hanya terdapat sedikit mata air di daerah ini, tetapi kami bisa memberitahu kepadamu bagaimana untuk menemukan mata air itu. Kami juga bisa mengarahkanmu kepada beberapa orang yang memiliki rumah di gunung terdekat. Kau selayaknya bisa menemukan mereka dengan mudah, tetapi jangan dengan berjalan kaki. Silahkan bawa kuda-kuda dan unta-unta kami, mereka terlatih untuk berjalan di gurun dan akan membuat perjalanan kalian lebih mudah. Kami menungganginya kemanapun kami pergi.”

Cucu-cucuku, apakah kau tidak bertanya-tanya bagaimana mereka menemukan makanan di tanah yang panas dan tandus ini? Ayo kita tanya tuan rumah kita. Kita bisa belajar sesuatu jika kita mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang ia katakan kepada kita.

“Kami memakan binatang yang hidup di gurun, burung-burung unta dan unta-unta, beberapa sapi liar dan beberapa ayam. Kadang-kadang kami menangkap sejenis kambing gunung yang memakan rumput pada bebatuan. Dimanapun kami menemukan air, kami menggali sumur, mengisi kendi-kendi kami, dan membawanya kembali ke tenda kami. Kami juga mendapatkan susu dari unta-unta kami. Bagaimapun kami memutuskan untuk tetap disini.Hidup mungkin sulit, tetapi kami tidak pernah kekurangan makanan. Tuhan selalu mencukupi kebutuhan kami.

Cucu-cucuku, ayo kita minum sedikit air dari kendi-kendi ini. Lihat, airnya sebening kristal dengan bayangan agak kebiru-biruan.Mmmm, rasanya begitu segar dan nikmat. Siramkan sedikit ke badanmu. Air itu akan menghilangkan keringatmu dan mendinginkanmu. Ahh, begitu segarnya.

Cucu-cucuku, perjalanan hidup kita sama seperti berjalan mengarungi padang pasir. Kita harus menyeberangi lautan ilusi dan kemudian menyeberangi padang pasir kehidupan. Hari ini kau telah mengalami kesulitan-kesulitan yang ada di kehidupan gurun, dan tetap saja banyak mahluk hidup disini yang hidup tanpa mengalami kesulitan. Unta-unta, burung-burung elang, rubah-rubah, dan ular-ular juga tidak kesulitan dengan badai gurun. Hanya manusia yang menderita. Binatang-binatang hidup hari demi hari, menerima apa saja yang mereka dapatkan setiap harinya. Mereka tidak memiliki kemampuan analisa yang bijak untuk mengetahui yang benar dan yang salah. Mereka memakan apapun yang diberikan kepada mereka, tanpa berpikir akan masa depan.

Tetapi manusia merasakannya sangat sulit. Ia mengumpulkan barang-barang dan menyimpannya untuk besok, hari setelah besok, dan juga untuk sepanjang hidupnya. Ia menimbun barang-barang untuk anaknya dan istrinya. Ia mengumpulkan begitu banyak barang-barang dan mengikat mereka menjadi sebuah timbunan besar. Dia membawa keburukan, hasrat, kegelapan, ikatan keturunan, ilusi, dan fanatisme. Apakah kau melihat bagaimana akan sulitnya bagi dia untuk berjalan menyeberangi padang pasir kehidupan dengan segala beban ini? Dia mencoba membawa muatan yang begitu berat, tetapi ia mendapati kesulitan karenanya bahkan untuk mengangkat kakinya sendiri. Binatang-binatang tidak membawa beban seperti itu. Kau lihat betapa mudahnya burung-burung unta berlari menyeberangi padang pasir. Manusia tidak dapat berlari secepat itu karena ia membawa begitu banyak timbunan beban. Dan seiring dengan waktu, badai gurun dari pikiran dan hasratnya berhembus melawan dirinya dan menekannya ke dalam. Betapa menderitanya ia!

Bahkan jika manusia memutus untuk berenang menyeberangi lautan ilusi, ketika ia telah gagal keluar dari daratan padang pasir ini, gundukan pasir menimpanya dari atas dirinya dan ia mati dalam neraka. Lalu rubah-rubah, anjing-anjing liar, tikus-tikus besar akan memangsa jasadnya. Manusia datang ke padang pasir kehidupan dengan sifat-sifat neraka, dan neraka menunggunya disana, siap untuk memangsanya.

Sayangku, cucu-cucuku. Kita harus berenang menyeberangi lautan ilusi, menyeberangi padang pasir kehidupan, dan menaiki gunung bebatuan dari pikiran. Kita harus menghindar dari semak-semak berduri yang merupakan sifat-sifat beracun yang berkembang didalam pikiran kita. Kita harus menghindar dari sifat jahat yang menyambar untuk memangsa kita, dan dari rubah-rubah, anjing-anjing liar, burung bangkai, singa-singa, harimau-harimau, dan beruang yang siap untuk mencabik tubuh kita. Kita harus menghindar dari setan yang berkeinginan amat besar untuk menelan kita.

Anakku, pada perjalanan ini kita belajar betapa sulitnya kehidupan di padang pasir. Tetapi kaum nomad yang kita temui tidak mengalami kesulitan yang berarti. Mereka sangat bahagia hidup disini, karena mereka mengetahui bagaimana untuk bertahan hidup di tanah yang tandus dan kering ini. Mereka memiliki unta-unta dan kuda-kuda untuk membawa mereka di padang pasir, mereka memiliki tenda yang memberi mereka tempat berlindung, dan mereka mengetahui bagaimana dan dimana untuk mencari makanan. Mereka bisa memberi kita kenyamanan dan menunjukkan kita bagaimana menemukan air. Kita menderita karena kehausan, karena kita tidak menyadari bahwa terdapat air di tempat kita berjalan. Tetapi mereka mengetahui.

Cucu-cucuku, sebagaimana ada manusia yang mengetahui bagaimana untuk hidup di padang pasir, terdapat beberapa manusia bijak yang mengetahui bagaimana caranya menjelajahi padang pasir kehidupan. Manusia yang bijak tidak menemukan kesulitan dalam perjalanan ini, karena ia berjalan pada keimanan, keteguhan, kebenaran, kebersamaan, dan cinta. Dia berjalan pada kearifan, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Tuhan, yang dapat bergerak sangat cepat. Anakku, manusia seperti itu akan membantu memudahkan perjalananmu dengan menawarimu bentuk perjalanan yang sama.

Sebagaimana suku nomad bisa memberitahu dimana kita dapat menemukan makanan dan air, manusia bijak bisa memberitahu kita dimana menemukan kebenaran. Dia bisa menunjukkan kepada kita bagaimana untuk meringankan kelelahan, kelaparan, kehausan dan bagaimana membuat perjalanan kita menjadi mudah. Dia akan menjelaskan dan menunjukkan setiap jalan dan setiap langkah yang ada diperjalanan. Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana caranya menyeberangi lautan ilusi, bagaimana menyeberangi padang pasir kehidupan, dan bagaimana untuk menghindar dari binatang ketidaktahuan. Dia akan menunjukkan kepada kita, “Ini adalah sifat-sifat baik, Ini adalah sifat bijak, inilah Tuhan.” Manusia bijak akan mengajarkan kepada kita bagaimana menjalani hidup kita, bagaimana menghalau ketidaktahuan dan menghindari kecelakaan,bagaimana menghindar dari angin topan, dan akhirnya bagaimana mencapai kebebasan bagi jiwa kita dan membangun hubungan menuju Tuhan. Manusia bijak mengetahui semua ini. Dan ketika kau berjalan bersamanya menyeberangi padang pasir kehidupan, kau akan menemukan perjalananmu lebih mudah karena bantuannya.

Sayangku, cucu-cucuku, tolong pikirkan dalam-dalam tentang hal ini. Kau harus menemukan manusia bijak seperti ini, seseorang yang telah menyeberangi padang pasir ini dan mengetahui jalannya. Dia akan menolongmu pada setiap jalan. Sangatlah sulit untuk menemukan manusia sejati. Hal ini telah terbukti dimasa lalu, terbukti di masa sekarang, dan akan tetap terbukti di masa yang akan datang. Memang sulit untuk menemukan seseorang yang mengetahui jalannya. Juga cukup sulit untuk menemukan makanan dan air yang kau butuhkan, tetapi kamu harus belajar bagaimana caranya. Kau jangan berharap keajaiban untuk membantumu. Apa gunanya keajaiban jika kau tidak bisa keluar dari padang pasir?

Cucu-cucuku, padang pasir kehidupan penuh dengan binatang-binatang. Jika kau tidak melewati padang pasir ini, kau akan mati dan menjadi makanan untuk rubah-rubah dan setan. Tetapi jika kamu menemukan manusia yang bijak, kau akan berhasil dalam menyeberangi padang pasir kehidupanmu dengan kebahagiaan, cinta dan kegembiraan. Itu adalah keajaiban yang sebenarnya. Keajaiban yang terjadi didalam diri, bukan sesuatu yang orang-orang melakukannya dari luar. Tolong mengerti hal ini, cucu-cucuku. Semoga Tuhan memberimu kearifan dan kejernihan hati untuk melakukan ini. Amin

Iklan

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juli 2010
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 123,966 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: