Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Tao Tai Ching

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”

Bijaksana dan waspada dalam melihat permasalah

Pepatah Lao Zi

Volume I

Bab 1 : Sifat Tao Yang Maha Besar.

Tao yang dapat dibicarakan bukanlah tao yang sebenarnya/yang abadi dan nama yang dapat diberikan bukanlah nama yang sejati. Tiada nama itulah kondisi permulaan terjadinya langit dan bumi. Setelah ada nama itulah induk dari segala benda. Maka dengan selalu meniadakan keinginan melihat kegaiban Tao. Dengan kemauan yang sungguh-sungguh dapatkah orang menyelami buah berkerjanya Tao.

Keduanya ini adalah sama, hanya namanya saja yang berbeda, dua-duanya dikatakan gaib, sekali lagi gaib dan pintu dari segala kegaiban.

Bab 2 : Hidup Sesuai dengan Tao.

Di dunia ini segala sesuatu yang indah dan baik bilamana telah diketahui oleh manusia, di samping itu pasti ada yang buruk dan jahat. Setelah kebajikan diketahui manusia sebagai kebajikan, tentu muncul ketidak bajikan/kejahatan. Maka timbullah keseimbangan ada dan tidak ada. Terjadilah saling keterkaitan antara sesuatu yang sukar dan mudah.

Perbandingan antara panjang dan pendek, antara tinggi dan rendah. Suara tinggi dan suara rendah memiliki keselarasan. Yang di depan dan yang di belakang saling mengikuti.

Maka dari itu, Orang suci berada dalam kedudukan tidak berbuat. Memberikan pelajaran dengan tanpa berkata. Bagaikan alam yang menciptakan segala benda dan segala makhluk dengan sewajarnya, menghidupi segalanya tetapi tidak menganggap sebagai miliknya. Berkerja tetapi tidak membanggakan kepandaiannya, berjasa tetapi tidak mengakui pahalanya. Oleh karena mengakui tidak mempunyai apa-apa, maka ia tidak kehilangan apa-apa.

Bab 3 : Pemerintahan Negeri Atas Dasar Tao.

Jangan membanggakan kepandaian, agar tidak menyebabkan rakyat berebut dan bersaing.
Jangan membanggakan/memuliakan benda-benda langkah/yang sulit didapat agar tidak menimbulkan nafsu rakyat untuk mencuri. Jangan memperhatikan sesuatu yang dapat menimbulkan nafsu serakah, agar rakyat tidak kalut.

Seorang raja yang budiman mempunyai cara memerintah negeri dengan senantiasa berdaya upaya melemahkan pikiran rakyat untuk hidup mewah dan meniadakan nafsu serakah, nafsu kejahatan, sebaliknya membuat perut mereka kenyang dan membuat tulang-tulang mereka kuat.

Senantiasa berusaha agar rakyat tidak berpengetahuan rendah, tidak timbul nafsu serakah dan angkara murka. Walaupun di antara mereka ada yang mengerti tipu muslihat, tetapi tentu mereka tidak berani melaksanakan, karena dalam suasana yang tentram dan kehidupan yang serdehana, pengaruh kejahatan akan musnah.

Melakukan kebajikan tanpa berbuat yaitu sesuai dengan pribadianya, dengan tanpa memakai keinginan/sang aku ikut berkerja, dengan demikian semua akan teratur dengan baik dan sempurna.

Bab 4 : Kegaiban Tao.

Walaupun dituang dan digunakan terus-menerus Tao tak bisa habis, sebaliknya diisi sebanyak-banyaknya pun tidak bisa penuh. Bagaikan air sungai yang tak dapat dijajaki, ia adalah sumber segala benda. Menumpulkan ketajaman dan menyelesaikan kekalutan. Membuat kesadaran segala kegemilangan menjadi serupa debu.

Bentuk suram, samar-samar tidak nyata bagaikan tenggelam di dalam air yang dalam, akan tetapi di dalamnya nyata ada intisari dari suatu hukum yang amat sempurna. Aku tidak tahu anak siapakah Tao itu, rupanya ia sudah ada lebih dahulu.

Bab 5 : Sifat Wajar Dari Tao.

Langit dan bumi itu adil tanpa kasih, memandang segala makhluk bagaikan anjing rumput (Mengsia-siakan). Para suci itu adil, memandang manusia yang sifatnya egoistis bagaikan Anjing rumput (Mengsia-siakan).

Di antara langit dan bumi ada suatu gaya gaib yang senantiasa menciptakan dan menghidupi tanpa ada akhirnya, hingga laksana pompa angin dari tukang besi, yang meskipun kosong tetapi tidak hampa, makin cepat gerakan akan mengeluarkan angin semkin banyak. Banyak bicara akan kehabisan, lebih baik berusaha mencapai kesempurnana.

Bab 6 : Gaya Gaib Tao Berkerja Tanpa Akhir.

Dewa dari kekosongan tak dapat musnah, inilah yang disebut sumber kegaiban. Pintu dari sumber kegaiban itu, disebut akar dari langit dan bumi. Lembut dan halus tak dapat dilihat dengan mata, tetapi senantiasa mengalir sambung-menyambung tak ada putusnya, bagaikan ada sesuatu kekuasaan yang mengatur alam ini, tak dapat habis di gunakan.

Bab 7 : Tao Bersifat Hidup dan Menghidupi.

Umur langit dan bumi itu panjang sekali dapat dikatakan bahwa langit dan bumi itu langgang dan abadi, apakah sebabnya langit dan bumi itu langgeng dan abadi ? Karena tidak hidup untuk diri sendiri, tetapi langit dan bumi menghidupi semua makhluk hidup, semua umat manusia dan semua benda yang ada di dalam semesta alam ini, maka langit dan bumi bisa panjang umurnya.

Orang yang luhur budinya tidak menonjolkan dirinya, meskipun ia selalu menempatkan dirinya di belakang, orang-orang akan senantiasa mengindahkannya dan menghargainya, hingga ia senantiasa menjadi orang terkemuka.

Orang yang luhur budinya dapat menghilangkan sifat egoisnya, karena dapat mengalahkan sang aku, barang siapa yang dapat melenyapkan sang aku bukan berati kehilangan diri sendiri, bahkan sebaliknya menemukan diri sejati.

Orang yang luhur budinya selalu berani mengorbankan kepentingan diri sendiri, walaupun demikian pengorbanan itu tidaklah sia-sia karena siapa yang berani berkorban untuk sesamanya, itu tanda dari orang yang tinggi martabat kebatinannya dan ia pun senantiasa akan berlindung serta akan mencapai tingkat kesucian tertinggi dan semakin luhur.

Bab 8 : Sifat Tao Seperti Air.

Kebajikan yang luhur bagai air, air selalu memberi keuntungan kepada segala benda, tetapi tidak mencari jasa. Air selalu mencari tempat yang paling rendah, di tempat yang kotor sekalipun, maka air seperti sifat Tao.

Di mana pun orang budiman berada senantiasa dapat menyesuaikan dirinya. Hatinya senantiasa tentram, bagai air telaga yang dasarnya dalam, air yang diam tandanya dalam, demikian pula dengan hati yang tentram dimiliki orang yang berhati luhur. Dalam pergaulan dengan sesamanya selalu mencurahkan cinta kasihnya. Berbicara lemah lembut dan dapat dipercaya. Dengan hati yang tenang dan jujur dapat menyelesaikan segala persoalan dengan bijaksana dan sempurna.
Senantiasa mengerjakan tugas dengan baik .Dan semua gerakannya dilakukan pada waktu yang tepat. Karena senantiasa mengalah.

Bab 9 : Mengenal Batas Adalah Sifat Tao.

Orang yang mengenal batas tak dapat terjerumus dalam kehinaan. Daripada menjadi seorang serakah yang berusaha mendapat sebanyak-banyaknya melebihi kemampuannya, adalah lebih baik menjadi orang yang tak mempunyai apa-apa sama sekali.

Bagaikan benda keras yang digosok terus-menerus akhirnya akan aus juga. Gedung yang berisi penuh harta benda berharga, emas berlian, walaupun dijaga ketat, toh tetap diincar penjahat-penjahat dan akhirnya dirampok habis-habisan.

Kekayaan dan kemuliaan bila dijadikan kebanggaan akan mendatangkan kemusnahan.
Maka orang bijaksana setelah melakukan pahala bagi dunia lalu mengundurkan diri, inilah justru hukum dari Tao yang bersifat tuhan.

Bab 10 : Tak Ada Kompromi Antara Baik dan Jahat dalam Tao.

Mendukung satu yaitu sifat dalam diri kita dan dapatkah tak terpisahkan pula? Dengan semagat yang tak kunjung padam kita harus melakuakn budi pekerti, lemah-lembut, cinta kasih, serta sabar dan dapatkah hingga seperti sifat anak-anak? Cuci bersih segala cacat dalam diri kita dan dapatkah tak ada sedikit pun noda?

Seorang raja bijaksana yang memerintah negeri atas dasar cinta kasih terhadap rakyatnya, dapatkah tak mengunakan otak dan akal muslihat? Terbuka dan tertutupnya pintu surga, bisahkah jangan mengandung sifat betina (mengikuti)?

Seorang bijaksana yang dengan pikirannya yang jernih dapat mengetahui kejadian di segala pelosok dunia, dapatkah melakukan tidak berbuat? Dihidupi dan dipelihara, Menghidupi tapi tak menganggap bahwa itu miliknya. Berkerja tetapi tidak membanggakan kepandaiannya, memelihara dan menghidupi tetapi tidak membinasakan, inilah kebajikan sempurna.

Volume Dua

Bab 11 : Nilai Kekosongan Sesuai Tao.

Tiga puluh jari-jari roda kereta yang dipasang pada sebuah gadar roda di tengahnya ada satu lobang kosong untuk dimasuki poros/as. Oleh karena itu maka roda dapat diputar, hingga kereta dapat bergerak.

Benda-benda keramik misalnya gelas, cangkir, mangkuk dan sebagainya dapat dipakai karena adanya bagian yang kosong, kalau cangkir tidak mempunyai bagian kosong tentu tak ada gunannya, tak dapat dipakai untuk tempat teh/isinya.

Melobangi tembok untuk pintu/jendela, barulah berguna untuk kamar. Maka dikatakan barang yang berwujud itu memberikan hasil/kebutuhan, tetapi kegunaannya karena adanya kekosongan.

Bab 12 : Mengendalikan Panca Indera Sejalan Tao.

Panca warna dapat membuat mata menjadi buta, panca suara dapat membuat telingga menjadi tuli, panca rasa dapat membuat lidah kehilangan rasa sejati. Menunggang kuda, memburu binatang hutan, membuat pikiran menjadi kalut. Benda-benda yang sulit didapat/benda-benda langka, misalnya batu permata berlian dan sebagainya yang berharga mahal, membuat orang waspada dan berjaga-jaga.

Maka orang budiman hanya mementingkan perut bukan mementingkan mata. (Ini bukan serakah tetapi sederhana bukan kekayaan/nama besar). Ia senantiasa menghindari yang itu sebaliknya mengambil yang ini. (Ini bukan mengambil sesuka hati tetapi mengambil yang menjadi haknya).

Bab 13 : Goncangan-Goncangan Sang Aku Bertentangan dengan Tao.

Kemuliaan maupun kehinaan mendatangkan rasa cemas. Keberuntungan maupun kecelakaan itu di sebabkan adanya sang diri. apa yang dimaksud dengan kemuliaan dan kehinaan mendatangkan rasa cemas itu? Kehinaan adalah keadaan rendah yang sangat ditakuti orang yang mendapatkan kemuliaan akan merasa cemas di dalam hatinya, bilamana kemuliaannya itu lenyap dan berbalik mendapat malu/kehinaan, Inilah sebabnya dikatakan kemuliaan dan kehinaan mendatangkan rasa cemas.

Apakah yang dimaksud dengan keberuntungan maupun kecelakaan itu disebabkan adanya sang diri? Sebabnya kita bisa mendapatkan kecelakaan karena adanya sang diri, kalau tidak ada sang diri, bagaimana kita bisa mendapatkan kecelakaan?

Maka orang yang mencapai kesempurnaan dapat berkerja guna alam dan seolah-olah dapat menjadi perantara alam untuk mencurahkan kebencian kepada sesamanya, orang yang dirinya diliputi cinta kasih dapat berkerja guna alam dan dapat menjadi perantara untuk mencurahkan cinta kasihnya kepada sesama manusia.

Bab 14 : Tao Yang Sempurna Tak Mempunyai Wujud.

Dilihat tak kelihatan mukanya maka dikatakan tak berupa. Didengar tak kendengaran maka dikatakan tak bersuara. Diraba tak kedapatan maka dikatakan tak berbentuk. Ini tiga sifat yang tak dapat dimengerti/dilukiskan, maka telah bersatu di dalam kesamaan.

Di atas ia tidak gemilang, dibawah ia tidak suram. Ia berkerja tidak henti-hentinya namun tak dapat diberi nama.

Ia kembali di dalam kekosongan inilah yang dibilang rupa yang tidak berupa dan wujud yang tak berwujud, ia dapat dikatakan samar, dilihat dari depan, tidak kelihatan mukanya, diikuti dari belakang tidak kelihatan belakangnya.

Berpegang pada Tao dari jaman purba untuk mengendalikan keadaan sekarang. Siapa yang mengerti keadaan kuno dan mengerti keadaan baru, ia terhitung orang yang mengenal pokok dari ajaran Tao.

Bab 15 : Orang Yang Mahir Ilmu Tao Bersikap Samar.

Pada jaman dahulu orang suci yang mahir ilmu kebatinan yang disebut Tao Su, ia mempunyai hubungan erat dengan makhluk-makhluk suci yang membimbing ke arah luhur. Ahli ilmu Tao ilmunya sedemikian dalam hingga tak dapat dijajaki, karena tak dapat dijejaki, maka orang-orang hanya dapat menduga-duga saja. Orang mengatakan bahwa ahli Tao itu sikapnya sanagt waspada, hingga laksana binatang ia menyeberangi sungai yang airnya beku di musim salju.

Ada pula yang mengatakan bahwa ahli Tao itu selalu berkhawatir, bagaikan binatang Ju yang takut pada segala kemungkinan yang datang dari empat penjuru, senantiasa hemat dan bersikap sungguh-sungguh menyambut tamu, mengundurkan diri dan merendah bagaikan sifat salju yang mencair. Wajar bagaikan barang yang belum diselesaikan. Kosong keadaannya bagaikan lembah luas. Ia bersikap samar bagaikan air yang keruh.

Siapakah yang dapat menghentikan air yang keruh itu, di dalam diam dengan sendirinya akan menjadi jernih. Siapa yang mencapai ketentraman abadi dengan lambat-laun hubungan dengan alam surga menjadi aktif. Siapa dapat menginjak jalan utama ini, maka nafsu keinginannya tidak meluap. Siapa yang tidak meluap nafsu keinginannya, maka ia dapat mencapai kekekalan dan bebas dari suka dan duka.

Bab 16 : Ketenteraman Dalam Diam dan Bersatu Dalam Tao.

Mencapai kekosongan yang sempurna dalam keadaan diam dan tenteram hingga sampai pada puncaknya. Sehingga gerakan dari segala macam benda di seluruh alam dunia ini dapat di saksikan, bagaimana tumbuh dan hidupnya segala pergerakannya, begitu kita akan menyaksikan kembalinya mereka pada asal-mulanya.

Benda-benda yang ada di seluruh dunia ini, beribu-ribu jenisnya, beraneka warna coraknya dan bermacam-macam sepak terjangnya, begitu pun perjalanan mereka simpang siur, akan tetapi pada akhirnya tak dapat tidak mereka kembali pula pada asal muasalnya.

Kembali pada pokok pertama dan asal usulnya yaitu dikatakan ketenteraman, maka hal ini boleh di bilang kembali pada kordat dan kembali pada kordat yaitu langgeng dan abadi.

Siapa yang mengnal hukum kelanggengan berati bijaksana dan mengenal hukum kebenaran dan hukum alam. Sebaliknya yang tidak mengenal hukum dari kelanggengan itu berati hidup dalam kebencian dan kebodohan, hingga hidupnya bertentangan dengan Tao dan hukum kebenaran yang menyebabkan hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan yang tak ada habisnya.

Bab 17 : Manusia dan Sifat Wajar Dari Tao.

Pada dahulu kala yaitu jaman yang pertama, rakyat tak mengetahui apakah yang membuat kepala mereka, mereka hanya mengetahui raja, tetapi tidak mengetahui siapa saja mereka.

Pada jaman kedua rakyat menghormati dan memuji pada rajanya. Setelah sampai pada jaman ketika rakyat takut pada rajanya. Pada jaman keempat rakyat memandang rendah dan menghina rajanya. Kejujuran semakin berkurang hingga kepercayaan tak ada lagi.

Sebaliknya pemerintahan dari raja yang bijaksana begitu sempurna karena sang raja selalu berhati-hati dalam membicarakannya, menjalankan pekerjaannya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan diri sendiri, meskipun demikian tidak membanggakan pahalanya sehingga rakyat tidak dapat mengetahui dan menganggap kemakmuran ini terjadi dengan sewajarnya.

Bab 18 : Kebaikan Ditonjolkan Setelah Tao Lenyap.

Bila Tao/sifat wajar dilalaikan, muncullah istilah kebaikan dan kebenaran. Setelah ada orang-orang yang cerdik dan pandai, muncullah di dunia ini segala kepalsuan.

Bila di dalam lingkungan keluarga tidak ada keharmonisan munculah istilah bakti dan cinta-mencintai antara bapak dan anak. Bila negeri dalam kekalutan muncullah menteri yang setia.

Bab 19 : Hidup Sewajarnya Sesuai dengan Tao.

Hapuskanlah dan buanglah istilah kesucian dan kebijaksanaan, supaya rakyat memperoleh faedah berlipat ganda.

Hapuskanlah dan buanglah istilah cinta kasih dan kebajiakan, supaya rakyat dengan sewajarnya kembali pada prilaku bakti dan saling mencintai.

Hapuskanlah dan buanglah segala akal muslihat dan nafsu keserakahan, dengan sendirinya pencuri dan perampok akan lenyap.

Tiga ungkapan di atas memberi bukti bahwa rakyat tidak cukup hanay diberi pelajaran lahir terus, tidak cukup diberi pelajaran ilmu pengetahuan akan tetapi mereka harus diberi pelajaran tentang etika, budi perkerti dan kebatinan serta di pimpin untuk kembali pada sifat sewajarnya, berlaku hemat dan sederhana, menghilangkan sifat egoisme dan nafsu keinginan.

Bab 20 : Menjauhkan Masalah Duniawi untuk Bersatu dengan Tao.

Tidak belajarpun tidak ada kesulitannya. Seberapakah perbedaannya antara yang pintar dan yang bodoh? Apakah perbedaannya antara kebaikan dan keburukan? Yang di segani orang lain, tidak dapat untuk tidak disegani?

Sulit untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Banyak orang tengah hanyut dalam arus kemewahan seperti tak henti-hentinya berpesta danging lembu di atas paseban dan menikmati pemandangan musim semi. Melainkan hanya aku sendiri dalam keadaan tenang, tiada keinginan, bagaikan anak kecil yang belum cukup setahu usiannya. Bagaikan anak piatu yang bergelandangan tidak punya rumah untuk pulang.

Banyak orang mempunyai harta berlebihan, sedangkan aku sendirian bagaikan kehilangan segala-galanya. Aku bagaikan seorang dungu yang tidak mempunyai pikiran suatu apa, dengan pakaian compang-camping tidak menentu.

Kebanyakan orang hidup mewah dan bergelimang harta, sedangkan aku sendiri tampak suram dan menjemukan. Umumnya orang bergembira dengan muka terang dan berseri-seri, sedangkan aku sendiri dalam keadaan kusut, lesu dan sepi.

Akan tetapi aku senantiasa tenang bagaikan lautan yang teduh senantiasa bertiup kian kemari bagai hembusan angin. Banyak orang memiliki kemampuan, sedangkan aku sendiri hanya memiliki kebodohan. Hanya aku sendiri yang sangat berbeda denagn orang lain dan tidak dapat terpisah dari dukungan Tao, bagaikan bayi yang tidak dapat berpisah dari sang ibu.

Volume Tiga

Bab 21 : Tiada Sesuatu Yang Berharga Kecuali Tao.

Kebajikan yang terbesar hanya sesuai dengan Tao. Tao sebagai benda bersifat samar-samar. Di dalam kesamaran itu dengan sepintas lalu dapat dilihat adanya semua sifat. Di dalam kesamaran itu dengan sepintas lalu dapat dilihat adanya sesuatu rupa. Di dalam keadaan tersembunyi dan di antara kegaiban terdapat inti sari.

Intisari itu amat murni dan di dalamnya berisi pokok kebenaran yang dapat dipercaya keasliannya. Sejak dulu hingga kini dan masa yang akan datang namanya tidak bisa hilang.
Untuk menyelidiki asal mula dari alam ini, bagaimana aku sampai dapat mengetahui kondisi asal mula dari alam ini? Ialah berdasarkan penyelidikan dari sini.

Bab 22 : Tao Menyempurnakan Segala Kekurangan.

Siapa yang mengakui dirinya serba kurang, ia akan dibuat menjadi sempurna. Siapa yang mengaku bengkok akan dibuat lurus. Siapa yang mengaku masih kosong akan dibuat penuh. Siapa yang mengaku telah renta akan diperbaruhi.

Siapa yang mengharapkan sedikit akan mendapat sebaliknya yang mengharap terlalu banyak akan kalut. Dari itu seorang budiman hanya mendukung satu hingga menjadi contoh bagi dunia.

Tidak menonjolkan diri maka ia mendapatkan muka terang. Tidak membenarkan diri sendiri maka terkenallah kebajikannya. Tidak membanggakan jasanya maka masyarakat akan mengakui pahalanya. Tidak menyombongkan diri sendiri maka ia dapat langgeng kedudukanya.

Siapa yang tidak suka berebut/bersaing maka orang sedunia tidak akan berebut kepadanya, hingga ia terbebas dari persaingan. Dalam pepatah kuno dikatakan bahwa siapa yang mengaku dirinya serba kurang, justru ia akna menjadi sempurna. Ternyata ini bukan omong kosong, tidak dapat di sangsikan ia akan kembali dalam kesempurnaan yang sesungguhnya.

Bab 23 : Siapa Yang Sesuai dengan Tao Akan Diterima Oleh Tao.

Bahwa orang yang jarang berbicara itu sesuai dengan sifat alam. Maka angin taufan yang bertiup keras tak lebih lama dari satu pagi , hujan lebat tak turun terus-menerus sepanjang hari. Siapa yang menciptakan ini semua ialah langit dan bumi/alam, apalagi manusia.

Maka setiap orang yang tingkah lakunya sesuai kebenaran akan cocok dan bersatu dengan kebenaran yang sesuai dengan kebajikan, kebajikan pun akan bersatu dengan kebajikan, sebaliknya yang tidak benar dan tidak bijak pun juga akan bersatu dengan sifat-sifat yang tidak bijak, tegasnya yang jahat pun akan bersatu dengan kejahatan.

Orang yang sifatnya sesuai dengan kebenaran, maka oleh kebenaran ia akan diterima dengan suka cita, Siapa yang sesuai dengan kebajikan pun akan disambut oleh kebajikan dengan penuh kegembiraan, sebaliknya mereka yang sifatnya jahat pun akan mendapatkan sambuatan baik dari golongan jahat. Bila sekarang tidak cukup kejujurannya maka ia pun tidak mendapat kepercayaan.

Bab 24 : Siapa Yang Menentang Tao Tidak Akan Abadi.

Siapa yang berjingkat tak dapat berdiri lama. Siapa yang membentangkan kaki untuk melangkah terlalu lebar, ia tak akan dapat berjalan. Siapa yang menonjolkan dirinya ke muka, ia tak bisa menjadi gemilang. Siapa yang membenarkan perbuatanya sendiri tak dapat menjadi hebat. Siapa yang memuji-muji diri sendiri, ia tidak memiliki jasa. Siapa yangmenyombongkan diri sendiri ia tidak luhur.

Perbuatan-perbuatan yang rendah itu terhadap Tao bagaikan sisa makanan/sampah yang kotor. Ini adalah yang terburuk diantara benda-benda, maka orang yang mengutamakan Tao tidak suka memakai.

Bab 25 : Tao Adalah Ibu dari Langit.

Ada satu benda yang sifatnya samar namun menjadi pencipta dari segala benda di seluruh semesta alam ini. Ia sudah ada terlebih dahulu sebelum ada langit dan bumi, sifatnya suci dan kosong. Ia berdiri sendiri dan tidak berubah, langgeng dan abadi.

Mengelilingi dan meliputi semuanya dengan tanpa berhenti dan tak ada akhirnya sehingga dapat dikatakan ibu dari semesta alam. Aku tak mengetahui namanya, aku catat dan menyebutnya Tao.

Dari sifatnya yang demikian itu, terpaksa aku namakan ia maha besar , karena maha besar dapat mencapai dimana-mana, dapat dimana-mana maka dikatakan jauh , karena jauh maka dimana ia pergi, ia pun dapat kembali pula.

Maka tao itu besar, langit besar, bumi besar tetapi raja juga besar, di dalam semesta alam ini ada empat besar, dimana raja juga termasuk salah satu di antaranya. Manusia di dalam lingkungan hukum bumi. Bumi di dalam lingkungan hukum langit dan langit di dalam lingkungan hukum dari Tao, sedangkan Tao dari hukum sewajarnya.

Bab 26 : Orang Budiman Tak Terpisahkan Dari Tao.

Berat menjadi akar dari ringan. Diam adalah tuan dari gerak.

Maka seorang budiman dalam tingkah laku sehjari-hari tidak terpisahkan dari Tao, bagaikan tentara yang bergerak maju tak dapat terpisahkan dari perbekalannya.

Walaupun ada pemandangan yang amat menarik dan indah, tetapi ia tidak tertarik, senantiasa diam dan dengan sikap sederhana tinggal dengan tenang.

Mengapa seorang raja dari negeri besar yang mempunyai angkatan perang terdiri dari selaksa kereta perang, maka menyombongkan diri dan memandang ringan terhadap dunia? yang memandang ringan segera kehilangan pokok, bergerak segera kehilangan dasar.

Bab 27 : Yang Mengenal Tao Bertugas Sebagai Guru.

Yang pandai berjalan tidak meninggalkan bekas. Yang pandai bicara tidak dapat dicari kesalahannya. Yang pandai menghitung tidak perlu memakai mesin hitung. Yang pandai menutup tidak perlu memakai kunci/palang pintu, toh tak dapat dibuka. Yang pandai mengikat tidak memerlukan tali, toh tidak dapat terlepas.

Oleh sebab itu seorang kebatinan pandai menolong orang dan tidak mengabaikan sesama umat. Demikianpun beliau pandai pula menolong makhluk, maka tidak mensia-siakan mereka. Inilah yang dikatakan waspada akan jalanya Tao.

Maka orang yang baik adalah guru dari orang yang tidak baik, sebaliknya orang yang tidak baik adalah contoh yang berguna bagi orang yang baik.

Tidak mengindahkan sang guru dan sebaliknya tidak cinta pada contoh walaupun tidak cintah pada contoh, walaupun pandai nyatanya tersendat.

Bab 28 : Tahu Diri Adalah Sesuai Dengan Tao.

Mengetahui sifat positif, melindungi sifat negatif menjadi aliran sungai dunia. Menjadi saluran dari alam, maka ia tidak terpisah dari kebajikan yang kekal, sehingga kembali pada sifat anak-anak, yaitu sifat yang suci jujur dan sewajarnya.

Mengetahui warna yang putih, melindungi warna yang hitam menjadi contoh dunia. Menjadi contoh bagi manusia di dunia, maka kebajikannya yang kekal tak dapat salah pula, ia akan kembali dalam alam kekosongan yang sempurna.

Mengetahui penghargaan, menjaga penghinaan sebagai lembah dunia yang luas. Menjadi lembah dunia, kebajikan kekal akan memenuhi dirinya dan ia akan kembali di dalam kesederhanaan yang sewajarnya. Setelah kesaderhanaannya menjadi sempurna, maka ia akan menjadi alat, yang dipergunakan oleh para bijaksana untuk menjadi pejabat negeri yang adil dan bijaksana. Maka pemerintahan yang baik tak menghukum rakyatnya.

Bab 29 : Tao Menghendaki Kebebasan Setiap Makhluk.

Siapa yang hendak menguasai dunia dan hendak memperdaya rakyat untuk menguntungkan dirinya, aku nyatakan bahwa ia tak akan berhasil.

Dunia sebagai alat dewa, rakyat tak dapat dipaksa untuk berkerja guna pihak lain, siapa yang memaksa akan gagal dan siapa yang menguasai akan kehilangan.

Maka benda-benda bermacam-macam sifatnya, ada yang jalan, ada yang mengikuti, ada yang menyedot dan ada yang meniup, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang dalam keadaan patah dan ada yang dalam keadaan runtuh.

Dari itu seorang budiman membuang segala sifat yang berlebihan, jauhkan kemewahan dan segala sesuatu yang melewati batas.

Bab 30 : Sikap Seorang Ksatria Sesuai dengan Tao.

Raja yang mengayomi rakyat seluruh negerinya dan sesuaikan dirinya dengan Tao tak akan menggunakan kekuatan tentaranya untuk menaklukan manusia di seluruh dunia.

Perbuatannya sangat baik, maka iapun memperoleh pembalasan baik juga. Dimana bala tentara ditempatkan, di situ tanahnya akan dipenuhi kerimbunan alang-alang dan duri. Sesudah ada gerakan tentara secara besar-besaran, kemudian akan diikuti masa paceklik.

Orang budiman setelah mencapai hasil baik, senantiasa akan merasa puas dan tidak serakah menguasai sebanyak-banyaknya dengan menggunakan kekerasan dan kekuatan senjata. Setelah berhasil tidak mengandalkan kegagahannya, setelah berhasil tidak membanggakan pahalanya, setelah berhasil tidak menyombongkan dirinya.

Setelah mendapat hasil senantiasa menganggap bahwa hal ini memang tidak bisa lain dari pada begitu. Bila memperoleh hasil jangan menunjukan kebangisan/kegagahan, karena segala perkara tidak langgeng.

Siapa yang satu kali mencapai puncak dari kekuatannya akan selaksanya menjadi tua dan menjadi lemah, inilah yang dibilang tak sesuai dengan Tao dan siapa yang tak sesuai dengan Tao akan segera berakhir riwayatnya.

Volume Empat

Bab 31 : Tao Tak Menghendaki Pertumpahan Darah.

Betapa indahnya alat perang itu, namun tak membawa kebahagian bagi umat manusia di dunia. Ini adalah paling jahat di antara benda-benda, maka bagi orang yang mengutamakan Tao tak suka memakainya.

Orang yang luhur budinya berkedudukan di sebelah kiri. Panglima perang memuliakan kedudukan di sebelah kanan. Alat-alat perang itu bukanlah alat yang membawa kebahagiaan, maka dari itu bukan alat-alatnya seorang budiman.

Kalau terpaksa menggunakan alat-alat perang itu harus mengutamakan kesederhanaan, sedapat mungkin menggunakan secara minim.

Meskipun memperoleh kemenangan tidak memandang sebagai suatu keindahan/kehebatan. Barang siapa memandang kemenangan sebagai keindahan berarti ia gemar membunuh pada sesamanya.

Perbuatan baik dan urusan yang membawa bahagia mengutamakan kedudukan di sebelah kiri, sebaliknya perbiuatan dan yang mendatangkan malapetaka mengutamakan kedudukan sebelah kanan.

Pada waktu angkatan perang disiapkan panglima curang berkedudukan di sebelah kiri. Sedangkan panglima yang luhur berdudukan di sebelah kanan.

Pribahasa mengatakan bahwa setiap dilakukan upacara pelantikan panglima perang adalah merupakan upacara dari kematian. Pembunuhan pada sesama manusia secara besar-besaran. Membangkitkan ratap-tangis yang sangat memilukan hati. Kemenangan perang senantiasa diikuti dengan upacara kematian.

Bab 32 : Tao Yang Abadi Tak Mempunyai Nama.

Tao yang abadi tak mempunyai nama. Sifat yang sewajarnya, walaupun kecil dan nampak tak berarti, namun tak ada yang dapat memerintahnya. Apabila raja-raja dapat mempergunakannya, segala benda/makhluk dengan sendirinya akan takluk padanya.

Langit dan bumi akan ada keselarasan hingga menurunkan embun yang manis rasanya, walaupun rakyat negeri tanpa diperintah dengan sendirinya akan teratur dengan tenteram.

Kemudian setelah berganti-ganti dari satu dinasti ke lain dinasti, maka peraturan-peraturan makin lama makin bertambah, hingga timbul bermacam-macam nama. Setelah nama-nama itu sudah ada, maka mereka yang menjadi kepala negara harus mengetahui di mana harus berhenti, siapa yang mengetahui di mana harus berhenti tak akan mendapat bencana.

Tao yang berada di dunia ini, bagaikan aliran sungai-sungai yang semuanya menuju ke laut.

Bab 33 : Mengenal Diri Sendiri adalah Kebijaksanaan.

Siapa yang dapat kenal orang lain disebut pandai, tetapi siapa yang bisa mengenal dirinya sendiri, bijaksana. Siapa yang dapat menaklukkan orang lain boleh dikatakan kuat, tetapi siapa yang dapat menaklukan diri sendiri ialah yang besar kekuasaannya.

Siapa yang merasa cukup ialah seorang yang kaya. Siapa yang bisa berjalan maju dengan cepat, ialah mereka yang mempunyai kemauan tetap. Siapa yang tinggal tetap dalam kedudukannya, selamanya tinggal sentosa. Siapa yang setelah mati tetapi tidak musnah, ialah yang berusia panjang.

Bab 34 : Tao Yang Maha Besar Mengalir Bagai Air.

Tao yang maha besar mengalir bagai air dan menggenangi segala sesuatu hingga bersamaan di sebelah kiri dan kanan. Segala benda dan makhluk hidup mengandalkan kepadanya, sedangkan ia tidak menolak untuk menghidupi semuanya dengan tak henti-hentinya dan tanpa beristirahat.

Membuat pahala dengan tanpa maksud mendapat nama, memelihara segala makhluk tetapi tidak menguasainya.

Sifat Tao langgeng dari abadi tanpa pamrih hingga dalam pandangan manusia dinamakan kecil dan tidak mewah. Segala benda dan makhluk pada akhirnya akan kembali pula padanya, walaupun begitu ia tetap tak mau menguasainya dengan sifatnya yang agung ini, maka ia dapat di sebut maha besar.

Oleh karena dari permulaan hingga sampai pada akhirnya ia tidak menyombongkan dan membesar-besarkan diri sendiri, maka justru hal demikian membuatnya sempurna dan maha besar.

Bab 35 : Kesempurnaan Dari Tao.

Barang siapa mencapai persatuan dengan Tao, maka seluruh alam ini seolah-olah dalam genggaman tangannya, manusia dari segala dunia akan datang kepadanya, bukan untuk permusuhan melainkan untuk memberi perlindungan kepadanya.

Musik yang merdu dan makanan/minuman yang lezat dapat menarik kunjungan banyak tamu. Tao bagai mulut begitu tawar tak ada rasanya. Di pandang tak menarik pandangan mata, didengar tak menarik pendengaran telinga, tetapi faedahnya mesti dipakai selamanya tak bisa habis.

Bab 36 : Dunia Yang Fana dan Tao Yang Abadi.

Bila alam akan membuat susut/pendek sesuatu, terlebih dahulu membuat banyak/panjang. Bila akan membuat lemah, lebih dahulu membuatnya kuat.

Bila akan membuat jatuh terlebih dahulu membuatnya bangun. Bila akan mengambil terlebih dahulu memberi, inilah yang disebut sifat alam yang lebih dulu menunjukan gejala gaib untuk sesuatu yang kemudian akan terjadi.

Pihak yang lemah mendapat kemenangan atas musuh yang lebih kuat. Ikan tak dapat dipisahkan dari sungai. Peralatan negeri yang penting tak boleh diperlihatkan pada semua orang.

Bab 37 : Tao Tidak Bekerja Tetapi Tidak Ada Sesuatupun Yang Tidak Diperkerjakan Olehnya.

Tao tak mengerjakan apa-apa selalu diam, tetapi tak ada semua yang tidak dikerjakan oleh Tao. Jikalau seorang raja dapat memegang pemerintahan negerinya atas dasar Tao, segala sesuatu berjalan dengan baik secara sewajarnya.

Apabila sudah berjalan dengan baik, mereka masih memiliki keinginan untuk berkerja menyampaikan keinginannya, kita harus dapat mencegah keinginan itu dengan kesederhanaan dari Tao yang tak dapat dilukiskan.

Kesederhanan dari Tao yang sewajarnya akan menyingkirkan keinginan. Dengan menyingkirkan keinginan maka ketenteraman akan mengambil tempatnya, hingga seluruh dunia akan berubah sendirinya menjadi aman dan sentosa.

Persamaan dari seluruh manusia sehingga dunia menjadi aman dan sejahtera.

Bab 38 : Kebajikan Luhur Tidak Dikenal Sebagai Kebajikan.

Kebajikan luhur tidak dikenal sebagai kebajikan, tetapi justru ini adalah kebajikan yang sejati. Kebajikan yang rendah terlihat nyata akan tetapi justru karena kelihatan, maka ia bukannya kebajikan yang sewajarnya.

Kebajikan luhur tanpa berbuat namun tidak ada yang tidak dikerjakan olehnya. Kebajikan yang rendah dilakuakn menurut keinginan sang aku, maka perbuatanya mempunyai maksud-maksud tertentu, yaitu pamrih.

Budi yang luhur melakukan kebajikan tanpa minta pembalasan budi. Keadilan yang luhur berkehendak mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan pekerjaannya.

Peradapan tinggi di bangun tetapi tidak mendapat sambutan, dengan menyingsingkan lengan baju berusaha supaya peraturan itu dituruti, kalau perlukan dengan kekerasan dan paksaan, akan tetapi umumnya tidak diindahkan.

Maka bila sifat Tao yang sewajarnya lenyap, kemudian orang menonjolkan kebajikan, setelah sifat kebajikan itu lenyap, kemudian orang lantas menonjolkan cinta kasih, setelah cinta kasih lenyap kemudian orang menonjolkan keadilan, setelah keadilan lenyap orang lanats menyusun peraturan dan undang-undang.

Setelah orang merasa perlu menyusun peraturan dan undang-undang, menandakan kesetiaan dan kejujuran dari rakyat jelata sudah menjadi tipis sehingga kekalutan mulai merajalela.

Kebajikan-kebajikan yang diwariskan oleh para budiman dari jaman dulu, sekarang hanya dibangga-banggakan bagai barang yang indah, tetapi tidak dijalankan dengan sesungguhnya dan ini di pandang sebagai permulaan suatu kebodohan.

Dari itu orang budiman mengutamakan keluhuran budi dan mengabaikan keindahan dan kemewahan yang hanya tampak di lahir. Membuang segala sesuatu yang buruk dan memegang pada yang utama.

Bab 39 : Barang Siapa Manunggal Pada Tao Akan Sempurna.

Sejak jaman dahulu tak bisa lain barang siapa bersatu pada Yang Maha Esa akan memperoleh kesempurnaan, misalnya langit memperoleh persatuan menjadi terang. Bumi memperoleh persatuan menjadi tenang.

Dewa memperoleh persatuan menampilkan kemukjijatan, lembah memperoleh persatuan menjadi padat, segala makhluk memperoleh persatuan hingga hidup. Raja memperoleh persatuan hingga dapat memerintah negerinya dengan bijaksana. Dengan demikian kesempurnaan mereka didapatkan oleh karena persatuan dengan yang maha esa.

Bila langit tidak terang dikhawartikan akan menimbulkan kekacauan. Bila bumi tidak tenang dikhawatirkan menimbulkan bencana. Bila dewa tidak menampilkan kemujijatan akan mengalami kemusnahan. Bila lembah tidak padat akan mengalami kekeringan.

Bila segala makhluk tak menampilkan kelahiran dikhawartirkan akan musnah. Bila raja tak bijaksana dikhawartikan pemerintahannya akan hancur.

Maka yang mulia menggunakan yang hina sebagai pokok. Yang tinggi mengunakan yang rendah sebagai dasar. Dari sebab itu raja-raja yang mulia berkedudukan tapi tidak sombong, bahkan menyebutnya dirinya orang yang serba kekurangan/anak piatu dan sebagainya. Bukankah ini yang disebut kehinaan sebagai pokok kemuliaan.

Maka orang yang dapat memperoleh nama mulia tidak mengagung-agungkan namanya sendiri. Maka orang bijaksana tidak memamer-mamerkan dirinya laksana mutiara yang germelapan, bahkan memperlihatkan dirinya seolah-olah batu kerikil biasa.

Bab 40 : Sifat Kebalikan Ialah Pergerakan.

Sifat kebalikan itulah pergerakan dari Tao. Sifat lunak, itulah sesuai dengan sifat yang berguna dari Tao. Segala benda di alam ini semua tumbuhnya dari sang ada, tetapi ada tumbuhnya dari tak ada.

Volume Lima

Bab 41 : Bila Tidak Ditertawakan Belum Cukup Untuk Disebut Tao.

Orang yang tinggi tingkat kebajikannya bila mendengar pelajaran Tao akan menaruh perhatian dengan sunguh-sunguh dan penuh nikmat serta melaksanakan pelajaran dengan rajin dan sepenuh hati.

Orang yang tingkat kebajikannya berada di tengah-tengah bila mendengar tentang Tao, terkadang ingat dan terkadang lupa.

Orang yang tingakat kebajikannya masih rendah bila mendengar pelajaran Tao akan tertawa terbahak-bahak. Bila tidak ditertawakan belum cukup untuk disebut Tao.

Oleh sebab itu ada pribahasa dari jaman dulu yang menyebutkan : Orang bijaksana yang benar-benar mengerti Tao, wujudnya kelihatan seperti orang bodoh, karena ia tak membanggakan kepandaiannya, bahkan ia menjadi seorang pendiam, hingga oleh orang biasa dipandang sebagai orang bodoh. Orang yang memperoleh kemajuan dari Tao kelihatannya terbelakang dan mundur, oleh karena itu siapa yang telah dapat menyesuaikan diri dengan Tao. Ia menjadi demikian serdehana, tak tamak harta, tak mengejar kemewahan hingga oleh umum dianggap terbelakang.

Orang yang hidup tentram di dalam Tao kelihatannya kosong, oleh karena ia tidak germerlap bahkan kelihatan suram dan tawar, Kebajikan luhur bagaikan lembah yang luasnya tidak terbatas, hingga nampaknya kosong melompong, begitu pula kebajikan yang sanagt luhur tak tampak wujudnya oleh penglihatan umum, karena tidak ditunjukan dan dibangga-banggakan hingga namapak tak berisi. Yang putih bersih/suci murni tampak kotor/hina, karena orang yang benar-benar suci senantiasa menunjukan sikap merendah, jujur, sewajarnya, tanpa variasi, maka kelihatan di mata umum bagaikan hina.

Kebajiakan yang luas tidak terbatas, bagi pandangan umum kelihatan belum cukup sempurna, oleh karena luasnya kebajikan itu tak tampak oleh pandangan umum yang dangkal. Pembangunan kebajikan kadang-kadang di pandang sebagai orang rendah moralnya, yang oleh karena itu senantiasa mencurahkan sepenuh tenaga, pikiran dan waktunya untuk kebajikan hingga diri dilupakan dan kepentingan sendiri dilalaikan, sehingga bagi pandangan orang-orang yang tak mengenal kebajikan dicurigai sebagai orang curang. Barang yang asli kelihatan tak murni, oleh karena tanpa variasi hingga tampaknya tidak indah seperti tiruan.

Ruangan yang sangan luas tak ada sudut dan batasnya. Benda yang paling besar paling lama selesainya. Hal ini dapat dimegerti bahwa ruang angkasa tak ada batasnya dan benda yang paling besar menurut prosesnya akan selesai pada waktu yang terakhir. Suara yang terlalu nyaring jarang terdengar. Suara nyaring yang dapat terdengar di semesta alam ini adalah langkah. Maka jarang terdengar. Wujud yang paling besar tidak berupa. benda besar yang berwujud di dalam semesta alam ini sungguh sukar untuk dilihat bentuk dan sifatnya. Oleh karena ia tidak berupa.

Tao yang maha sempurna senantiasa tersembunyi dari mata orang, sehingga tak ada namanya. Lao Tse sendiri tidak tahu namanya, hanya untuk dapat dikenal secara terpaksa Lao Tse menyebutnya Tao. Siapa yang dapat bersatu dengan Tao ia dapat menyempurnakan segala sesuatu, misalnya para suci adalah makhluk-mahluk suci yang telah bersatu dengan Tao, hingga mempunyai kewibawaan/kesaktian untuk menyempurnakan segala sesuatu yang berada dalam alam ini.

Bab 42 : Tao Menciptakan Satu, Satu Menciptakan Dua, dan Seterusnya.

Tao menciptakan satu, satu menciptakan dua, dua menciptakan segala benda dan makluk yang berwujud dan terhampar di semesta alam ini.

Segala benda memanggul sifat Yin dan memeluk sifat yang, maka segala benda tak lepas dari sifat positif dan negatif. Yang menimbulkan keselarasan antara hawa positif dan hawa negatif adalah suasana kekosongan dari alam Buk Kek (kosong).

Umumnya orang membenci kemiskinan, piatu/rendah, akan tetapi justru raja yang dimuliakan rakyat seluruh negeri Membahasakan diri sendiri dengan sebutan Kwa Jin, yaitu berarti orang yang serba kekurangan, suatu keadaan yang oleh umumnya dipandang menjijikan, tetapi justru oleh raja digunakan sebagai sebutan dirinya.

Maka benda-benda di dunia ini ada yang nampaknya merugikan, akan tetapi sesungguhnya menguntungkan dan bermanfaat. Sebaliknya yang nampaknya menguntungkan justru merugikan.

Pengetahuan seperti yang diuraikan tersebut di atas adalah suatu ilmu kenyataan yang diajarkan kepada manusia olehpara bijaksana dari jaman dulu, yang juga aku gunakan sebagai pokok dari pelajaranku.

Orang yang kuat dan menggunakan kekuatanya untuk melakukan kejahatan akhirnya akan menemukan ajalnya dengan tidak sewajarnya.

Dengan pengetahuan ini aku dapat menjadi guru untuk memberi pelajaran kepada sesama.

Bab 43 : Kebajikan Tanpa Berbuat (Wu Wei) Dari Tao.

Kelemahan yang sempurna dalam dunia ini dapat menguasai benda-benda yang kuat di dunia. Kekuasaan yang meliputi semua tak ada yang tidak diliputinya. Dari itu aku mengetahui betapa gunanya kebajiakn dari tanpa berbuat/Wu Wei.

Memberi pelajaran tanpa berbicara dan menggunakan tanpa berbuat di antara manusia di dunia ini jarang yang dapat mencapainya.

Bab 44 : Tahu Kecukupan dan Tahu Berhenti adalah Sifat dari Tao.

Nama dan diri, manakah yang lebih berharga? Diri dan harta benda, manakah yang lebih berat? Kehilangan/mendapatkan, manakah yang lebih menyakitkan?

Maka barang siapa yang mencintai akan banyak menderita? Barang siapa mengetahui kecukupan tidak mendapat malu/kehinaan. Barang siapa terlalu banyak menimbun pasti akan banyak kehilangan. Siapa tahu berhenti tidak mendapat bencana. Dapat tinggal lama dan abadi.

Bab 45 : Tao Yang Sempurna Bahkan Nampaknya Kurang Sempurna.

Barang siapa mencapai hasil yang amat sempurna bahkan nampaknya seolah-olah cacat dan kelihatannya tidak sempurna, namun kegunaannya sungguh tidak mengecewakan.

Barang siapa mencapai kebulatan penuh, bahkan nampaknya masih kurang dan kosong, namun kegunaannya dipakai selamanya tak habis.

Yang lurus nampaknya bengkok. Yang sangat pandai nampak bodoh. Yang pandai berdebat nampak tak lancar bicara.

Kemenangan yang mengunakan kekerasan bersifat dingin, kebalikannya kemenangan yang dengan diam bersifat hangat/dapat diartikan juga Pergerakan dapat kemenangan atas hawa dingin, sebaliknya ketenangan mendapat kemenangan atas hawa panas.

Diam/tenang adalah kelanggangan/kestabilan yang sesuai dengan sifat yang sempurna.

Bab 46 : Keinginan Yang Tak Mengenal Puas Tidak Sesuai Dengan Tao.

Kalau dunia sedang damai orang tak membutuhkan tentara berkuda, bahkan orang lebih membutuhkan kotoran kuda untuk memupuk sawah dan tanaman.

Kalau dunia dalam perang, peralatan senjata dan kuda-kuda perang disiapkan di perbatasan kota.

Tidak ada bencana yang lebih besar daripada sifat orang yang tidak merasa puas. Tidak ada bahaya yang lebih besar daripada nafsu keinginan manusia untuk memperoleh sesuatu.

Maka orang yang luhur budinya mengenal arti cukup, tidak serakah, tidak tamak, bahkan dapat merasa puas untuk menghadapi segala keadaan yang justru dialami, inilah yang dikatakan kecukupan dalam arti kekal.

Bab 47 : Tao Bertentangan dengan Pendapat Umum.

Tidak keluar pintu tapi dapat mengetahui masalah dunia. Tidak mengintip dari jendela tapi dapat melihat hukum alam. Ia keluar semakin jauh, pengetahuannya semakin sedikit.

Maka seorang suci walaupun tidak pergi kemana-mana toh mengetahui. Walaupun tidak mengenal sendiri toh mengenal semuanya dan walaupun tidak berbuat suatu apa tetapi semuanya dapat terjadi dengan sempurna.

Bab 48 : Yang Menyakini Tao Makin Lama Makin Mundur.

Yang belajar ilmu pengetahuan tambah hari tambah maju, tetapi yang meyakini Tao tambah hari tambah mundur. Mundur semakin mundur hingga pada akhirnya mencapai tingkat tidak berbuat. Setelah mencapai tingkat berbuat tak ada sesuatu pun yang tak dapat dilakukannya.

Raja bijaksana yang dapat berkuasa di dunia adalah sesungguhnya raja yang melakukan kebajikan tanpa berbuat. Bila seorang raja belum bebas dari keinginannya dan angkara murkanya, maka ia pun masih belum sempurna, sehingga tak mempunyai kemampuan cukup menguasai suatu negeri di dunia ini.

Bab 49 : Sikap Seorang Budiman Yang Sesuai dengan Tao.

Seorang budiman tidak berhati keras, tetapi pikirannya sesuai dengan pikiran rakyat yang terbanyak.

Pada orang baik aku membalas dengan kebaikan, begitu pun terhadap orang yang tidak baik aku membalas dengan kebaikan juga. Demikian adalah kebajikan yang luhur.

Pada orang yang jujur aku membalas dengan kejujuran, begitu pun terhadap orang yang tak jujur aku membalas dengan kejujuran juga. Demikian adalah kejujuran yang luhur.

Para budiman di dunia ini senantiasa memperkecil diri dan suka bergaul dengan rakyat jelata tanpa mengadakan perbedaan satu sama lain dan memandang mereka sama saja sebagai dirnya sendiri.

Rakyat jelata semuanya menaruh perhatian sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat terhadapnya dan sang budiman memandang mereka bagaikan anak-anaknya sendiri.

Bab 50 : Tao Membimbing Ke Arah Jalan Hidup.

Keluar dari jalan hidup berarti memasuki jalan kematian. Orang yang mengetahui jalan hidup hanya tiga bagian. Yang mengetahui jalan mati hanya tiga bagian. Orang mempunyai kehidupan yang dapat menghindari dari tempat kematian hanay tiga bagian.

Sebab apakah demikian? Karena hidup manusia itu terlalu mementingkan kesenangan hidupnya sendiri, sehingga melupakan pada hidup benar hukum alam.

Orang bijaksana yang mengenal jalan hidup benar senantiasa terhindar dari malapetaka, ibaratnya kalau jalan di daratan tak menjumpai macan, badak/binatang buas lainnya/bila masuk ketentaraan tak menemui bencana dari senjata.

Badak tak akan menggunakan tanduknya untuk menyeruduk. Macan tak akan menggunakan kukunya untuk menerkam dan tentara tak akan menggunakan senjata untuk membunuh. Sebab apakah demikian? Karena ia tak berada pada jalan kematian.

Volume Enam

Bab 51 : Tao Menghidupi dan Memelihara Segalanya.

Tao yang menghidupi, kebajikan yang memelihara, benda yang mewujutkan dan sifat yang menyempurnakan. Dari itu segala makhluk tak bisa dapat semaunya memuja Tao dan memuliakan kebajikan, karena justru dua aspek inilah yang menghidupi dan memelihara mereka.

Keluhuran dari Tao dan kemulian dari kebajiakn walaupun tanpa di perintah tetapi senantiasa dilakukan dengan sewajarnya. Maka Tao menciptakan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Mencipta sesuatu dengan tanpa menganggap bahwa itu miliknya, Berkerja dengan tanpa bersandarkan atas keinginan/pamrih. Memelihara dan membesarkan dengan tanpa ada kemauan untuk menguasainya. Ini kebajikan yang sempurna.

Bab 52 : Tao Adalah Pokok Permulaan Segala Benda.

Di dalam semesta alam ini ada pokok permulaan ialah sesuatu yang pertama-tama telah ada maka ia disebut ibu dan alam.

Setelah mengetahui sang ibu, maka mengenal juga sang anak. Setelah mengenal sang anaknya kemudian menjaga sang ibu, selama hidupnya terhindar dari kesukaran.

Menutup mulutnya dan menutup pintunya selama hidupnya dirinya tak mengalami kesibukan. Membuka mulutnya dan senantiasa mendapat banyak pekara selama hidupnya tak dapat ditolong.

Barang siapa dapat melihat dari mulut yang kecil dikatakan bijaksana. Barang siapa dapat menggunakan kelemahannya dapat dikatakan kuat.

Gunakanlah sinar terang untuk kembali pada penerangan, tidak menjadikan bencana bagi dirinya. Inilah ketenteraman abadi.

Bab 53 : Jalan Ke Arah Tao Sangat Lapang Tetapi Orang Memilih Jalan Sempit.

Jika aku memperoleh kebajikan sesuai dengan Tao yang maha besar, namun masih di kawartikan tak mempunyai keberanian untuk melaksanakan dalam praktek.

Jalan Tao yang maha besar adalah sangat aman, namun umumnya orang memilih jalan yang sempit dan penuh bahaya.

Istana dibangun bertingkat-tingkat indahnya, namun sawah-sawah dibiarkan terlantar tanpa dirawat, hingga tumbuh rumput ilalang yang mengakibatkan panen gagal, tak dapat memetik padinya dan lumbung-lumbung menjadi kosong.

Mengenakan pakaian bersulam yang mewah dengan warna-warna yang indah, dipinggangnya diselipkan pedang yang tajam, makan dan minum sepuas-puasnya, harta benda berlimpah-limpah. Maka ia lebih tepat di sebut pencuri besar, tindakan ini menyimpang jauh dari Tao.

Bab 54 : Tao Adalah Milik Yang Kekal dan Abadi.

Yang pandai membangun tak dapat dicabut pula. Yang pandai mendukung tak dapat lepas pula. Anak cucunya bersembayang kepadanya untuk selamanya tak ada akhir. Siapa yang dapat menyesuaikan dirinya dengan Tao, maka dirinya akan mencapai kebijakan asli.

Setelah ia dapat menyesuaikan seluruh tetangganya dengan Tao, maka kebajikan jadi semakin besar pula. Setelah ia dapat menyesuaikan seluruh desanya dengan Tao, maka ia akan mencapai kebajikan yang luhur. Setelah ia dapat menyesuaikan negerinya dengan Tao, maka kebajikan menjadi luas. Setelah ia dapat menyesuaikan dirinya dengan Tao, maka kebajikannya tak terbatas pula.

Maka dengan melihat diri, dengan rumah melihat rumah, dengan kampung melihat kampung, dengan negeri melihat negeri dan dengan dunia melihat dunia. Seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dirinya, maka dapat lah menggunakan pandangan yang jelas terhadap diri orang lain dan setelah ia dapat menyempurnakan rumah tangga orang lain, sehingga dari kesempurnana rumah tangganya sendiri, menjalar ke negeri orang lain, hingga pada akhirnya menjalar lebih jaun untuk kesempurnaan seluruh dunia.

Bagaimana kami dapat mengetahui keadaan alam ini? Ialah dari pengetahuan tentang Tao tersebut.

Bab 55 : Kebajikan Luhur Dari Tao Bagaikan Bayi.

Seorang yang luhur kebajikannya mempunyai sifat yang sama dengan sifat dari bayi. Tawon dan Kalajengking tidak menyengat, ular berbisa tidak mematuk, binatang buas tidak menerkam, burung elang dan rajawali tidak mengunakan kukunya untuk mencengkeram.

Walaupun tulangnya masih lembek dan urat-uratnya masioh lemah tetapi cengkeramannya kuat. Walaupun belum mengetahui tergabungnya sifat jantan dan betina akan tetapi sekujur tubuhnya telah tersedia semua alat-alatnya dengan lengkap. Inilah pemberian alam yang sempurna. Sepanjang hari menangis tetapi tidak serak, inilah keselarasan yang sempurna.

Mengenal keselarasan dapat dikatakan langgeng. Mengenal kelanggengan dapat dikatakan bijaksana. Hidup berguna dapat dikatakan bahagia, hati yang berkuasa atas nafsu boleh dikata kuat.

Bab 56 : Yang Mengerti Tao Tak Bicara Dan Yang Bicara Tak Mengerti.

Yang mengerti tak mau berbicara yang bicara tak mengerti. Membungkam mulutnya dan menutup pintunya. Menumpulkan segala ketajaman dan meredakan segala kekalutan. Sederhana gejala kegemilangan, sama seperti debu saja. Inilah yang disebut persamaan yang samar.

Maka orang budiman tidak terlalu dekat dengan yang satu, sebaliknya terlalu jauh dengan yang lain. Tidak menguntungkan pada satu pihak dan sebaliknya tidak mencelakai pihak lain. Tidak menjunjung dan memuliakan pada satu pihak dan sebaliknya tidak memandang rendah pada yang lain.

Maka orang budiman yang demikian ini akan diberi penghargaan dan dimuliakan dunia.

Bab 57 : Yang Sesuai Dengan Tao Hidup Dan Yang Menentang Runtuh.

Dengan kejujuran dapat memerintah suatu negeri, dengan kepandaian ilmu perang orang dapat memegang komando atas suatu pasukan tentara dan dengan menggunakan kebajikan tanpa berbuat orang dapat menguasai pemerintahan suatu negara di dunia. Bagaimana aku dapat mengetahui hal yang demikian? Inilah semua dari hukum Tao.

Apabila di dunia dijalankan banyak undang-undang yang membatasi dan merintangi usaha rakyat, maka semakin lama rakyat jadi semakin miskin. Bila rakyat dibiasakan memegang senjata maka negeri jadi semakin rusuh. Bila banyak orang pintar dan licik maka timbullah rupa-rupa keganjilan. Apabila undang-undang dijalankan semakin ketat, penjahat dan perampok jadi semakin banyak.

Maka seorang raja budiman mengatakan : Aku menjalankan kebajikan tanpa berbuat dengan sendirinya rakyat sejahtera. Aku menjalankan kebajikan tanpa berbuat, aku tinggal tentram dengan sendirinya rakyat sejahtera, aku tanpa mengurus dengan sendirinya rakyat sederhana dan wajar.

Bab 58 : Pemerintahan Berdasarkan Tao Dan Yang Menentang Tao.

Jika peraturan pemerintah sederhana, maka rakyat mentaati dengan patuh. Jika pemerintah mempertajam politiknya, maka rakyatnya akan gelisah. Suatu bencana adalah sandaran dari keberuntungan, sebaliknya keberuntungan adalah tempat sembunyi dan bencana.

Siapa yang mengetahui dengan jelas, bahwa rajanya tidak adil adanya. Bila ada orang jujur dan adil dalam pemerintahan segera dirintangi. Bila ada orang bijaksana dalam pemerintahan segera dikacaukan. Demikianlah orang telah tersesat jauh untuk sekian lamanya.

Dari itu raja bijaksana berlaku adil dan tenggang rasa akan tetapi tidak mengunakan kekerasan untuk menghukum. Tulus hati dan tak menyusahkan orang, berhati lurus dan tidak korupsi. Terang tetapi tidak menyilaukan.

Bab 59 : Raja Yang Hebat Dan Sederhana Mengenal Tao Lebih Dini.

Seorang raja yang hendak memerintah rakyat negerinya dan mengabdi pada tuhan yang maha esa, tidak boleh tidak harus hemat.

Barang siapa bisa berlaku hemat dapat dikatakan ia telah sadar lebih dini akan hukum kodrat (Hukum Tao) dan siapa sadar lebih dini akan hukum kodrat dapat dikatakan seorang yang suka menimbun kebajikan.

Barang siapa menimbun kebajikan luhur, maka tak ada yang tak dapat dilakukan, setelah tak ada sesuatu yang tak dapat dilakukan, maka ia sendiri dengan tanpa mengetahui telah mencapai kesempurnaan yang tertinggi.

Barang siapa tak mengetahui kesempurnaan diri sendiri, ia adalah seorang budiman yang mempunyai kecakapan untuk memegang pemerintahan dari sebuah negeri dan apabila ia dapat memengang pokok dasar dari pemerintahan negeri maka kedudukannya akan langgeng selama-lamanya.

Bagaikan pohon yang berakar dalam dan dasarnya teguh hingga berusia panjang, hidup kekal dan abadi sesuai dengan Tao.

Bab 60 : Di Dalam Negeri Yang Sesuai Dengan Tao Tak Ada Gangguan Iblis.

Raja yang bijaksana dapat memerintah negeri besar demikian sederhana bagaikan hanya masak seekor ikan kecil saja. Bila sang raja memegang pemerintahan berdasarkan Tao, maka negeri akan man dan sejahtera sehingga iblis-iblis tidak menunjukan kegaiban.

Bukannya iblis-iblis itu tidak mampu unjuk kegaiban, melainkan mereka tidak suka unjuk kegaiban itu untuk menggangu orang. Bukannya iblis-iblis tidak akan mengganggu orang, tetapi juga sang raja yang budiman berlaku welas asih dan tidak membuat susah rakyat.

Kedua belah pihak tidak suka membuat susah pada rakyat, maka kebajikannya bisa selaras dan bersama-sama membawa kebahagiaan semua rakyat.

Volume Tujuh

Bab 61 : Negeri Besar Yang Sesuai Dengan Tao Menjalankan Politik Damai.

Negeri besar itu harus berlaku merendah bagaikan sungai yang mengalir turun. Hingga menjadi pusat perhubungan dunia dan menjadi sifat wanita dunia. Dengan sifat wanita yang diam dan lemah lembut dapatmenaklukan pria dibawah pengaruhnya.

Maka bila negeri besar dapat berlaku ramah tamah dan rendah hati terhadap negeri kecil, dapat menggambil hati negeri kecil, sehingga negeri-negeri kecil masuk ke dalam sekutu mereka.

Sebaliknya negeri kecil yang mengunakan politik ramah-tamah dan merendah terhadap negeri besar, akan pun dapat memikat hati negeri besar untuk melindunginya. Oleh sebab itu, negeri-negeri yang mempunyai politik lunak mendapat kawan senantiasa pula dengan sikapnya yang toleransi untuk mendapatkan perlindungan.

Jika negeri besar tidak memiliki keinginan lain dari pada membantu memajukan kemakmuran ekonomi negeri-negeri lain. Begitu pula negeri kecil tidak memiliki tujuan lain daripada masuk dalam sekutu sebagai kawan serikat dari negeri besar. Mereka berdua akan mencapai keinginannya akan tetapi negeri yang besar terutama harus senantiasa berlaku rendah hati.

Bab 62 : Tao Adalah Pelindung Segala Makhluk.

Tao adalah tempat berlindung yang sentosa dari segala makhluk. Mustika dari orang baik, tetapi juga memberi perlindungan pada orang yang tidak baik.

Dengan manis budi-bahasanya dapat menarik hati orang, dengan perilaku sopan santun, hormat dan tahu tata-krama menambah simpati orang. Orang yang tidak baik apa harus sia-sia?

Maka seorang raja besar yang didampingi tiga orang perdana menteri, walau pun banyak orang dari negeri lain yang mengirim upeti berupa benda-benda permata yang mahal harganya dan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda yang bagus, semuanya ini belum bisa melawan manfaat dari seorang yang duduk disampingnya sebagai penasehat yang sesuai degan keluhuran Tao.

Bagaimana pada jaman dahulu kala orang memuliakan Tao? Bukannya untuk memperoleh apa-apa guna dirinya sendiri dan untuk menebus dosa, Maka dari itu Tao dimuliakan oleh dunia.

Bab 63 : Tao Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan.

Melakukan pekerjaan tanpa berbuat dan bekerja tanpa pamrih. Rasa tanpa dirasakan, tak ada rasa susah maupun senang. Tak ada perbedaan antara besar, kecil, banyak dan sedikit. Membalas kebencian dengan kebaikan. Melakukan pekerjaan sulit dimulai dari bagian yang mudah. Melakukan perkerjaan besar dimulai dari bagian yang kecil.

Maka di dunia ini pekerjaan yang sulit dapat dikerjakan dengan mudah dan pekerjaan besar di dunia ini dapat diselesaikan bagaikan pekerjaan kecil saja.

Dari itu seorang budiman senantiasa tidak menunjukan kebesarannya dan tak berlaku sombong untuk melakukan pekerjaan besar, maka sikapnya yang demikian itu justru membuat ia memperoleh sukses besar.

Barang siapa dengan mudah memberi kesanggupan maka sering membuat kekurangan-percayaan orang. Barang siapa memudahkan urusan tentu akhirnya mengalami banyak kesulitan.

Dari itu orang budiman tak memandang ringan segala perkara, maka pada akhirnya tak ada perkara sukar baginya.

Bab 64 : Tao Tak Menguasai Sesuatu Maka Tak Pernah Kehilangan.

Bila dalam keadaan aman mudah dipertahankan, sebelumnya terjadi mudah di rundingkan. Bila dalam keadaan lemah mudah dipecah-pecah, sementara yang lembut mudah dihancurkan.

Kerjakanlah sebelumnya ada apa-apa dan aturlah sebelum menjadi kalut. Pohon yang sebesar pelukan orang, mulai tumbuh dari tunas yang kecil. Gedung sembilan tingkat mulai dari setumpuk tanah. Perjalanan seribu kilometer dimulai dari satu langkah.

Siapa yang mengerjakan akan gagal, siapa menguasai akan kehilangan. Dari itu orang budiman tak berbuat apa-apa, maka tak mengalami kegagalan, tidak menguasai apa-apa maka tak kegagalan.

Maka seorang budiman hanya menginginkan yang tak diingini oleh orang. Tidak menghargakan barang yang sukar didapatkan.

Ia belajar apa yang orang tidak mempelajari dan guna membenarkan kesalahan orang banyak. Untuk membantu pada segala makhluk kembali pada sewajarnya dan tak berani berbuat aneh-aneh.

Bab 65 : Raja Budiman Yang Sesuai Dengan Tao Membimbing Rakyat Pada Sifatnya Yang Wajar.

Pada jaman dulu raja bijaksana yang sesuai dengan Tao tak membimbing rakyat menjadi cerdik dan berakal muslihat, bahkan mereka dipimpin pada sifatnya yang sewajarnya. Rakyat sukar diatur karena mereka sudah menjadi pintar dan mempunyai banyak akal yang licik.

Maka raja yang memerintah negeri dengan mengutamakan akal-akal, kecerdikan dan kelicikan dapat dikatakan sebagai pengkhianat negeri. Raja yang memerintah negeri dengan tak mengutamakan akal-akal, kecerdikan dan kelicikan akan membawa kebahagian bagi negerinya.

Barang siapa mengetahui dua rahasia ini. Maka dapat dijadikan contoh. Pengetahuan yang dapat dijadikan contoh ini dapat dikatakan kebajikan yang samar.

Kebajikan yang samar itu begitu murni dan luas. Bertentangan dengan sifat-sifat dari benda-benda umumnya. Tetapi pada akhirnya mencapai akhir yang sempurna.

Bab 66 : Pemimpin Rakyat Yang Bersifat Rendah Hati Sesuai Dengan Tao.

Apa sebabnya sungai besar dan lautan bisa menjadi Raja dari ratusan sumber-sumber dan menerima upeti dari sungai-sungai kecil yang semuanya mengalir menuju ke laut dan sungai besar. oleh karena mereka pandai menempatkan diri di bawah, maka bisa menjadi raja dari ratusan sumber-sumber aliran. Dari itu siapa yang memegang pemerintahan terhadap rakyat harus bicara lemah-lembut dan berlaku rendah hati.

Barang siapa hendak memimpin rakyat harus bisa menempatkan diri di belakang, jangan terlalu menonjolkan diri sendiri. Dari itu seorang budiman walaupun berkedudukan di atas, rakyat tak menaruh keberatan suatu apa, selagi berada di depannya pun rakyat tak mendapat kesukaran.

Maka dari itu orang di dunia memuja-muja kepadanya dengan tanpa merasa bosan, karena ia tak mau berebut, maka orang-orang di dunia tak ada yang berebut dengannya.

Bab 67 : Pada Tao Yang Maha Besar ! Orang Tak Dapat Menyesuaikan Diri.

Semua orang di dunia mengatakan bahwa Tao terlalu besar hingga mereka tak dapat menyesuaikan dirinya. Justru dari besarnya, maka tak dapat menyesuaikan diri, bila ada yang dapat menyesuaikan diri, namun tidak sepenuhnya hanya satu bagian kecil saja.

Aku mempunyai tiga mustika yang aku pegang teduh dan mempertahankannya, pertama cinta kasih, kedua hemat, ketiga tidak mendahului dunia.

Dengan sifatnya yang cinta kasih, maka ia selalu tabah. Dengan berlaku hemat dan sederhana ia dapat memperluas usahanya dan tak berani mendahului orang-orang lain, maka menjadi alat yang besar gunanya.

Barang siapa menggunakan cinta kasih bila di dalam peperangan akan memperoleh kemenangan. Di dalam pembelaan akan menjadi kuat dan teguh. Tuhan akan memberi karunia dengan cinta kasihnya akan melindungi padanya.

Bab 68 : Kebajikan Tidak Bergulat ! Yang Seimbang Dengan Tao.

Prajurit yang bijaksana tak memperlihatkan kegagalan. Seorang prajurit perang yang pandai tak berangasan. Seorang majikan yang pandai memakai orang selalu rendah hati.

Inilah yang disebut kebajikan dari tak berbuat. Inilah yang disebut dapat memakai tenaga-tenaga dan inilah yang pada jaman dulu disebut kesempurnaan yang seimbang dengan langit.

Bab 69 : Panglima Perang Yang Sesuai Dengan Tao Lebih Menghargai Dari Pada Kemenangan.

Seorang panglima perang mempunyai ujar bahwa kami tak berani menjadi tuan rumah hanya menjadi tamu. Tidak berani maju sejengkal, bahkan mundur selangkah. Inilah yang dikatakan berbaris namun tidak maju, tidak menggulung lengan baju, tidak menunjukan sikap permusuhan dan tidak menggenggam senjata di tangannya. Tak ada bencana lebih besar dari gemar bermusuhan. Siapa gemar perang akan kehilangan miliknya yang berharga.

Maka bila dua pihak tentara saling bertempur yang merasa menyesal dengan adanya pertumpahan darah adalah pihak yang menang.

Bab 70 : Tao Sesungguhnya Mudah Dimegerti Dan Mudah Dijalankan.

Bicaraku sangat mudah di mengerti dan sangat mudah dipahami. Tetapi manusia di dunia tak mau mengerti dan tak mau menjalani.

Pembicaraanku ada pokoknya dan pekerjaanku ada dasar dan tujuannya, karena mereka tak mengerti pokok dan pangkalnya maka mereka tak mengerti pelajaranku. Yang mengerti pelajaranku itu jarang sekali, tetapi justru begitu ia sangat memuliakan padaku.

Maka seorang budiman yang nampaknya sederhana di dalam dadanya tersembunyi mustika yang berharga

Volume Delapan

Bab 71 : Siapa Mengenal Tao Akan Pun Mengenal Cacat.

Barang siapa yang mengerti, tapi tidak bangga dan tidak menunjukan dirinya mengerti, itulah tandanya ia mempunyai pengertian yang tinggi. Sebaliknya yang sesungguhnya tidak mengerti tetapi gemar menonjolkan diri sebagai orang yang mengerti, itu adalah satu cacat.

Barang siapa mengenali cacat-cacat dalam diri sendiri sebagai satu cacat maka barulah ia dapat membersihkan cacat-cacat itu, sehingga ia tak mempunyai cacat lagi.

Seorang budiman tak mempunyai cacat, karena beliu telah mengetahui segala cact itu, sehingga beliau tak mempunyai cacat pula.

Bab 72 : Dalam Negeri Yang Sesuai Dengan Tao Tak Ada Revolusi.

Jika rakyat sudah tidak takut lagi dengan kekuasaan pemerintah, maka dapat ditunggu datangnya pemberontakan dari rakyat.

Jangan mempersempit tempat tinggalnya, jangan mempersukar kehidupanya. Apabila pihak di atas tidak menindas rakyat, maka rakyat pun tak akan timbul kebencian terhadap atasannya.

Maka seorang budiman tahu diri sendiri, namun tak menonjolkan diri. Beliau dapat mencintai diri sendiri, namun tak menonjolkan diri, beliau dapat membuang segala cacat dalam dirinya, sebaliknya mengambil sikap yang baik untuk dipelihara di dalam dirinya.

Bab 73 : Tao Tak Merebut ! Tapi Senantiasa Menang.

Gagah dan berani (dalam arti lahir) adalah mereka yang berani melakukan pembunuhan besar-besaran dalam peperangan, sebaliknya gagah tanpa disertai berani (dalam arti kebatinan) ialah mereka yang dengan gagah melawan nafsu kejahatan dan menuju ke arah hidup. Dua macan kegagahan ini yang satu (Kebatinan) memberi faedah dan yang lain mendatangkan bencana.

Yang dibenci oleh tuhan, siapakah yang mengetahui sebabnya? Dari itu orang budiman sangsi dan tak mudah mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam.

Hukum Tuhan tidak bergulat, tetapi sempurna dan menang terhadap segala-galanya walaupun tak bicara namun dapat melayani dengan sempurna, tak usah dipanggil tetapi datang dengan sendirinya. Bersikap diam tetapi dapat menyelesaikan dengan sempurna. Jaring dari alam ini luas, renggang-renggang tetapi tidak pernah lolos.

Bab 74 : Tao Tak Mengenal Hukuman Mati.

Rakyat tidak takut mati mengapa menggunakan hukuman mati untuk menakut-nakuti. Jika bisa membuat agar takut mati dan memandang hukuman mati sebagai nasib yang paling celaka, maka dapat menangkap mereka yang jahat dan memberikan hukuman mati hingga selanjutnya siapakah yang berani lagi melanggar hukuman kriminal?

Hanya ada algojo abadi dari tuhan yang bertugas melaksanakan hukuman mati. Barang siapa berani mewakili algojo tersebut untuk melakukan hukuman mati, maka ia dapat dimisalkan sebagai wakil tukang kayu untuk menggunakan kampaknya guna menebang pohon.

Barang siapa mewakili tukang kayu dan menggunakan kampak untuk menebang pohon, jarang yang tidak melukai tangganya sendiri.

Bab 75 : Karena Tak Berdasarkan Tao Maka Rakyat Menderita.

Rakyat menderita kelaparan karena pihak atas memungut pajak terlalu berat. Sebabnya rakyat yang kelaparan itu sukar diatur, karena pihak atas mempunyai pamrih dan hanya bekerja terutama untuk kepentingan diri sendiri maka dari itu sukar diatur.

Rakyat negeri memandang ringan pada kematian, karena pihak atas hidupnya sangat mewah, inilah yang menyebabkan rakyat memandang ringan pada kematian.

barang siapa hidupnya tanpa terdorong keinginan yang egois, maka ia termasuk seorang yang pandai mengatur hidupnya dengan sempurna.

Bab 76 : Tao Bersifat Lunak Dan Menentang Kekerasan.

Manusia hidup di masa mudanya bertubuh lemas, tetapi setelah mati menjadi kaku dan keras. Segala benda di dunia ini misalnya pepohonan, rumput-rumputan dan sebagainya di waktu tumbuhnya dan hidupnya adalah lemas, tetapi setelah mati menjadi kering dan kaku. Maka keras itu adalah sifat dari kematian, sebaliknya kelembutan itu adalah sifat dari kehidupan.

Oleh sebab itu dikatakan tentara yang dipersenjatai kuat itu tak dapat mencapai kemenangan. Kayu yang kuat itu digunakan untuk tiang, maka yang kuat itu tempatnya di bawah sedangkan yang lemah tempatnya di atas.

Bab 77 : Tao Mengurangi Yang Lebih Dan Menambah Yang Kurang.

Hukum alam, seperti orang membentang busur/panah, bila ketinggian diturunkan sedikit, bila kerendahan dinaikan sedikit, jadi hukum alam menghendaki sesuatu yang sama rata. Pada yang kelebihan dikurangi dan pada yang kurang ditambah.

Jadi hukum alam itu mengurangi yang kelebihan dan menambah yang kekurangan. Akan tetapi hukum yang dibuat manusia tidak demikian, bahkan sebaliknya, hukum dari manusia itu mengurangi yang sudah kurang, untuk menambah yang sudah kelebihan. Jadi yang kekurangan bahkan diambil dan yang kelebihan justru ditambah. Pribahasa mengatakan: Jurang dikeruk dan gunung diuruk. Jadi hukum manusia itu tidak adil adanya.

Siapakah yang setelah mempunyai kelebihan, maka memberikannya pada sesama? Ia adalah seorang budiman yang sudah mencapai Tao. Maka orang budiman bekerja dengan tidak mengharapkan hasil/buah dari pekerjaannya. Berbuat jasa dengan tidak mengakui pahalanya. Beliu tidak mengakui pahalanya. Beliau tidak memperlihatkan diri sebagai orang bijaksana.

Bab 78 : Di Dalam Kelunakan Dari Tao Tersembunyi Kekuatan Yang Sangat Besar.

Di dunia ini tidak ada benda yang lebih lunak dari pada air. Tetapi tenaga menyerang tak ada yang bisa melawan dari pada air. Sifatnya yang tak berubah. Yang lemah menang pada yang kuat, yang lunak menang pada yang keras.

Orang sedunia semuanya mengetahui tentang hal ini, tetapi tak bisa menjalani, tak bisa mengambil contoh air.

Maka orang budiman mengatakan: Siapa yang suka menerima/memikul kehinaan dari negeri, ia adalah yang diperlukan dari negeri itu. Siapa yang menanggung kesukaran negeri dan kesengsaraan rakyat, ia adalah raja dari negeri itu.

Omongan yang benar bertentangan dengan anggapan umum, karena umum memandang pembicaraan yang benar itu sebagai tidak benar.

Bab 79 : Mentaati Janji Adalah Sesuai Dengan Hukum Alam.

Walaupun satu perselisihan hebat dapat didamaikan tentu masih ada sisa perasaan tidak senang dari salah satu pihak. Bagaimana keadaan itu dapat diperbaiki?

Maka seorang budiman memegang perjanjian dengan jujur dengan tanpa mencela orang lain. Orang berbudi mentaati perjanjian, sebaliknya orang yang tidak berbudi menggunakan akal untuk menarik keuntungan dari perjanjian itu. Hukum alam tidak memiliki salah satu pihak, hanya membela pada pihak yang benar.

Bab 80 : Memerintah Negeri Kecil Sesuai Dengan Tao.

Mengurus negeri kecil yang sedikit rakyatnya dengan barang-barang dan alat-alat sangat banyak dan berlipat ganda, hingga berlebihan dan tak terpakai.

Membuat supaya rakyat hidup beruntung, hingga tak memandang ringan pada kematian dan tak suka melakukan perjalanan jauh.

Walaupun mempunyai perauh dan kereta, namun tak ada yang mau menggunakan kendaraan itu untuk pergi mengembara ke negeri lain. Walaupun mempunyai senjata dan alat-alat perang tak ada yang mau menggunakan.

Diusahakan supaya rakyat kembali dalam sifatnya yang sewajarnya dan seolah-olah pada jaman purba yang menggunakan tali ikatan untuk mencatat suatu perkataan. Enak makannya, indah pakainnya, tenang tempat tinggalnya dan suka dengan kepribadiannya.

Negeri tetangga berhadapan satu sama lain, kokok ayam dan gonggong anjing terdengar, namun rakyat hingga tua dan mati tak mengadakan hubungan.

Bab 81 : Ucapan Yang Sesuai Dengan Tao Tak Indah Dan Yang Indah Tak Sesuai.

Ucapan yang benar dan boleh dipercaya tidak seindah, sebaliknya yang indah dan menarik hati tidak boleh dipercaya.

Orang yang luhur budinya tidak suka berdebat, sebaliknya orang yang suka berdebat tidak luhur budinya.

Orang bijaksana tidak belajar, sebaliknya orang yang belajar tidak memperoleh kebijaksanaan.

Orang budiman tidak menimbun, semakin banyak ia berbuat kebaikan semakin besar kebahagiaan yang ia dapat dan semakin bertambah miliknya.

Hukum alam telah meliputi segala sesuatu dan memberi keuntungan pada sesamanya dengan tidak membeda-bedakan dan tak pernah mencelakai pada siapapun juga, sedangkan perjalanan dari budiman, hanya berkerja guna kebaikan sesamanya di dunia dengan tanpa pergulatan/perebutan untuk keuntungan diri sendiri.

Filed under: Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: