Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

MUTIARA NASEHAT DARI KITAB ZABUR

oleh : Ahmad Sa’ad Ali


Mukadimah

“Ajaklah (manasia) menuju jalan Tuhanmu dengan hik­mah (kebijaksanaan) dan nasihat yang baik:” (Q.S. An­-Nahl: 125).

Saya panjatkan puji pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga salawat, rahmat, dan salam sejahtera selalu tercurah pada rasul yang agung, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan semoga salawat ‘rahmat’ dan salam itu pun tercurah pada keluarga be­liau, para sahabatnya, semua nabi, dan rasul lainnya.

Ini adalah sebuah Kitab berisi nasihat-nasihat/pe­tuah-petuah bernilai tinggi, diambil dari Kitab Zabur yang diturunkan Allah pada nabi Dawud a.s. dan dari kitab-kitab lain yang diturunkan pada nabi/rasul-Nya. Semoga mereka selalu mendapatkan rahmat dan salam kesejahteraan. Dalam kitab ini terdapat tiga puluh surat.

Nasehat-nasehat Mulia

Aku heran terhadap orang yang yakin akan mati, mengapa ia masih dapat tertawa (terbahak-bahak)? Padahal Allah berfirman:

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. At-taubah : 82)

Dan Aku pun heran terhadap orang yang yakin adanya (siksa) kubur, mengapa ia dapat bersuka-ria? Aku kaget terhadap orang yang meyakini adanya hisab (perhitungan), bagaimana dia (berani) mengumpulkan harta kekayaan dengan berbuat dosa (cara yang haram)? Aku heran terhadap orang yang yakin akan sempitnya alam kubur, mengapa ia tertawa (terbahak-bahak)? Aku heran terhadap orang yang yakin tentang adanya (kehidupan) akhirat, siksaan, kenikmatan, dan kelanggengannya, ia mengapa ia lengah? Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap neraka dengan siksanya, mengapa ia dapat tidur nyenyak dan tidak memeranginya? Aku heran ter­hadap orang yang yakin akan surga dan kenikmatannya, mengapa ia dapat tidur nyenyak dan tidak mencarinya?

Aku heran terhadap orang yang yakin akan dunia dan kefanaannya (kerusakannya), mengapa ia merasa te­nang di dunia? Aku heran terhadap orang yang yakin (mengenai bahaya) lidah, yang mengetahui permasalah­an lidah, tetapi tidak mengerti masalah hati, mengapa ia merasa bahagia? Aku heran terhadap orang yang merasa sedih karena kurang hartanya, tetapi tidak merasa sedih karena umurnya berkurang. Aku heran terhadap orang yang suci (badannya) dengan air, tetapi hatinya tidak su­ci. Aku heran terhadap orang yang selalu sibuk dengan cela orang lain, tetapi lupa atas cela dan aibnya sendiri; Aku heran terhadap orang yang mengetahui, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, selalu memantau dan mewaspadainya, tetapi mengapa ia mendurhakai-Nya? Aku heran terhadap orang yang mengetahui bahwa ia akan mati seorang di­ri, masuk liang kubur seorang diri, dan dihisab (dihitung amalnya) seorang diri, mengapa ia merasa gembira bersama-sama dengan manusia, tetapi tidak merasa gembi­ra bersama Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan rasul-Nya melalui perkata­annya:

لآَاِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدُرَّسُوْلُ اللهِ

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan nabi Muhammad utusan Allah“ dengan secara haq dan sidiq (yakin)?

Surat Pertama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku menyaksikan (mengenai diri-Ku dengan diri-Ku, bahwa tidak ada Tuhan selain Aku sendiri, tak ada sekutu bagi-Ku dalam kekuasaan-Ku, dan bahwa (sesungguhnya) Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam itu hamba dan utusan-Ku.” Maka, siapa yang tidak rida dengan qadla (ketentuan)-Ku, tidak sabar atas bala (ujian)-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, dan tidak merasa qana’ah (puas) atas pemberian-Ku, hendaklah ia minggir dari bawah langit-Ku dan menyembah tuhan selain-Ku.Siapa yang merasa sedih dalam (memikir-kan) keduniaan, maka sungguh ia seakan-akan murka pada-Ku, siapa yang mengaduh (mengenai) musibah yang menimpa-nya, sungguh ia telah mengaduh (melaporkan) Aku, padahal tidak ada yang seperti Aku, yang pantas menjadi tempat mengaduh.

Siapa yang mendatangi seseorang kaya, lalu ia merendahkan dirinya karena harta kekayannya, maka lepaslah dua pertiga agamanya, siapa yang menampar mukanya (karena sedih) atas mayat, seakan-akan ia mengambil (menghunus) tombak untuk memerangi-Ku. Siapa yang mematahkan dahan (pohon) yang ada di atas kuburan mayat, seakan-akan ia menghancurkan pintu Ka’bah dengan tangannya, siapa yang tidak peduli dari mana ia makan, halal atau haram, maka Allah pun tidak peduli, dari pintu neraka mana mereka dimasukkan pada hari kiamat, siapa yang tertawa di atas kuburan mayat, seakan-akan ia membunuh enam puluh (60) nabi dan membunuh ibu dan ayahnya.

Siapa yang melakukan kesalahan (dosa) sambil tertawa (bangga), ia pasti masuk neraka sambil menangis; tetapi siapa yang mentaati Allah sambil menangis (menyadari keteledoran) ia akan masuk surga sambil tertawa (riang).  Siapa yang tidak bertambah (ilmu dan pengamalan) agamanya, maka dia berkurang amalnya.  Siapa yang terbukti (tetap) kurang (segi) agamanya, maka mati lebih baik baginya daripada hidup.

Siapa yang mengamalkan (dan mempraktekkan) apa yang telah ia ketahui (ilmunya), maka Allah akan memberinya ilmu yang belum ia ketahui.  Dan siapa yang memanjangkan lamunannya, maka amal perbuatannya tidak akan ikhlas murni.

Surat Kedua

Wahai anak Adam, siapa yang merasa puas dengan rezeki sedikit, kayalah ia, siapa yang melepaskan hasud (dengki), tentramlah (hidupnya), siapa yang mening-galkan barang (yang) haram, selamatlah agamanya, siapa yang meninggalkan ghibah (mengumpat) dan namimah (mengadu domba) karena cinta pada Allah, tampaklah kecintaannya kepada Allah, siapa yang menghindarkan kejahatan dirinya dari manusia, selamatlah ia dari kejahatan mereka, siapa yang sedikit perkataannya, sempurnalah akalnya, dan siapa yang rida dengan rezeki sedikit, penuhlah kepercayaannya atas jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai anak Adam, kamu mempunyai ilmu (menge-tahui) yang tidak kamu amalkan, bagaimana (mungkin) kamu meminta (dan mencari) ilmu yang tidak (akan) kamu amalkan? Wahai anak Adam, kamu habiskan umurmu untuk mencari keduniaan, kapankah kamu mencari (dan mengamalkan) sesuatu yang memasukkanmu kedalam surga?

Wahai anak Adam, beramallah seperti kamu akan mati esok hari, dan janganlah kamu mengumpulkan harta seakan-akan kamu akan kekal abadi (di dunia). Wahai dunia! Muliakanlah-orang yang rakus padamu, dan jauhilah orang yang zuhud (tidak mencintai) padamu, dan menjadilah tampak manis (menggiurkan) di hadapan pandangan orang-orang yang suka meman­dang dan mencintaimu.

Surat Ketiga

Wahai anak Adam, siapa yang tetap rakus pada kedu­niaan, ia akan semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin susah mendapatkan keduniaan, dan semakin payah diakhirat. Bahkan, ia seakan-akan murka pada-Ku. Siapa yang (selalu) menuntut (mencari) keduniaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan ke dalam hatinya empat ma­cam sifat, yaitu:

1. Kesusahan yang tak pernah putus.

2. Kesibukan yang terus-menerus.

3. Angan-angan yang tak pernah mencapai puncaknya.

4. Kefakiran yang tak pemah mencapai kekayaan selamanya.

Wahai anak Adam, setiap hari umurmu berku-rang, teta­pi kamu tidak menyadari apa yang berkurang darimu, setiap hari rezekimu diberikan secara penuh, tetapi ka­mu tidak memuji-Ku (tidak bersyukur pada-Ku), dengan rezeki sedikit kamu tidak puas, dan dengan rezeki ba­nyak kamu tak pernah kenyang.

Wahai anak Adam, tak ada suatu hari baru (yang lewat), kecuali datang padamu rezekimu dari-Ku, tetap tak ada suatu malam baru (yang lewat) kecuali datang pada-Ku malaikat-Ku darimu, sambil membawa namamu yang jelek; kamu makan rezeki-Ku, tetapi kamu dur­hakai Aku, kamu berdoa meminta pada-ku, Aku kabul­kan doamu, dan kebaikan-Ku turun padamu, namun ke­jelekanmu naik pada-Ku, maka sungguh Aku bagimu adalah sebaik-baik Majikan dan Penolong, dan sejelek-je­lek hamba bagiku adalah kamu. Kamu .meminta pada­Ku, lalu Aku beri kamu, Aku tutupi segala kejahatan dan segala keburukanmu, dan Aku malu padamu, tetapi kamu tak malu pada-Ku, kamu lupakan Aku dan kamu menyebut (ingat) selain-Ku, kamu takuti manusia, tetapi kamu merasa aman (tidak takut) pada-Ku, Allah berfir­man (dalam Alquran)­:

Mereka bersembunyi dari manusia (mengenai dosanya), namun mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka me­netapkan keputusan rahasia yang tidak diridai Allah. Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) atas apa yang mereka kerjakan.”(Q.S. An-Nisa: 108)

Engkau takuti kebencian mereka (terhadapmu) tetapi engkau merasa aman dari murka-Ku.

Surat Keempat

Wahai anak Adam, janganlah engkau termasuk orang yang menangguhkan tobat, panjang angan-angan, mengharapkan (kebahagiaan) akhirat tanpa amal ibadah, berbicara seperti pembicaraan orang-orang dusta, melakukan amal perbuatan seperti yang dilakukan orang-orang munafik, jika diberi tidak merasa ‘puas’ (qana’ah), dan jika tidak diberi dia tidak sabar, dia memerintahkan (orang lain) untuk melakukan kebaikan, tetapi dia tidak melakukannya, dia melarang (orang lain) untuk berbuat kejelekan, tetapi ia tidak berhenti melakukannya, dia mencintai orang-orang saleh, tetapi dia sendiri tidak termasuk orang saleh, dia membenci orang-orang munafik padahal dia sendiri orang munafik, dia suka mengatakan sesuatu yang tidak dilakukannya, dan mengerjakan hal-hal yang tidak diperintahkan (untuk dikerjakan), dan dia selalu meminta untuk dipenuhi (keinginannya), tetapi dia sendiri tidak memenuhi (keinginan orang lain).

Wahai anak Adam, tak ada suatu hari baru (yang lewat), kecuali bumi berbicara padamu, “Wahai anak Adam, engkau berjalan di atas punggungku, sedangkan tempat kembalimu adalah perutku. Engkau terta-wa atas punggungku, dan menangis di dalam perutku. Engkau  bersenang-senang di atas punggung-ku, tetapi engkau akan bersedih di dalam perutku, engkau berdosa (berbuat dosa) di atas punggungku dan engkau akan di­siksa di dalam perutku, engkau memakan segala kesenanganmu di atas punggungku, tetapi engkau akan dimakan ulat dalam perutku, wahai yang tertipu. “Kuburan berkata,” Aku adalah satu lubang di antara lubang­-lubang neraka (untukmu), jika kamu durhaka (berbuat maksiat), tetapi aku akan menjadi suatu taman di antara taman-taman surga jika kamu taat.”

Wahai anak Adam, (kata bumi/kuburan), aku adalah rumah tempat kemurungan, rumah kesepian (kesendirian), rumah kegelapan, rumah yang sempit, rumah permasalahan, rumah yang menakutkan, rumah ular-ular, rumah kalajengking, rumah kelaparan, rumah kehausan, rumah kejelekan, rumah neraka, rumah timbangan, rumah kejahatan, (bagi manusia) kecuali yang dirahmati/dikasihi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia paling Penyayang di antara yang penyang, m­aka makmurkanlah aku (dengan amal ibadah) dan jangan kamu robohkan (hancurkan) aku.

Surat Kelima

Wahai anak Adam, tidaklah Aku ciptakan kamu seka­lian secara sia-sia (tanpa tujuan), tidak pula Aku tinggalkan kamu dengan percuma, tidaklah aku ciptakan kamu untuk memperbanyak (makhluk) karena sebelum-nya se­dikit, tidak pula untuk menjadi pelipur lara, karena aku kesepian, tidak juga untuk membantu-Ku mengerja-kan sesuatu yang tidak dapat.

Aku kerjakan. Aku pun tidak menciptakan kamu karena Aku ingin menarik manfaat (kebaikan) dari kamu, juga bukan untuk menolak bahaya yang menimpa-Ku.

Sangat luhur keagungan-Ku, jus­tru Aku mencipta-kan kamu untuk banyak menyembah-Ku, banyak mensyukuri nikmat-Ku, bertasbih, Memaha­sucikan Aku di kala pagi dan sore hari.  Seandainya (sejak) makhluk pertama sampai terakhir, yang masih hi­dup atau sudah mati, kecil dan besar, merdeka atau hamba sahaya, laki-laki atau perempuan, baik manusia ataupun jin, bahkan makhluk lain selain kamu, berkum­pul (sepakat) untuk mentaati-Ku, itu semua tidak akan menambah kekuasaan-ku sebesar atom pun (sedikitpun). Juga, seandainya makhluk pertama sampai terak­hir, hidup atau sudah mati, kecil atau besar, merdeka, atau sahaya, laki-laki dan perempuan, manusia dan jin, dan makhluk lain selain kamu berkumpul (sepakat) untuk mendurhakai-Ku, itu semua tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sebesari atom pun (sedikitpun). Hal terse­but terbukti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Siapa yang berjihad (bersungguh-sungguh ibadah), se­sungguhnya jihadnya untuk (kemaslahatan) dirinya, dan (karena) sesunggubnya Allah Mahakaya (tidak memerlu­kan-bantuan) dari semesta alam.” (Q.S. Al-Ankabut: 6)

Wahai anak Adam, jika kamu beruntung, maka kamu akan ditagih, jika kamu berbuat, kamu akan dibalas, dan jika kamu menanam, kamu akan mengetam.

Surat Keenam

Wahai anak cucu Adam, wahai hamba-hamba dinar dan dirham, sesungguhnya Aku tidak menciptakan untuk kamu sekalian, dinar dan dirham, kecuali supaya kamu sekalian memakan dengan uang itu, rezeki-Ku, memakai pakaian (dari)Ku, dan untuk mengkuduskan (menyucikan) amal (ciptaan)Ku. (Mengapa) kamu sekalian mengambil Kitab-Ku lalu meletakkannya di bawah kakimu, mengangkat dunia (keduniaan), lalu meletakkannya di atas kepalamu, kamu mengangkat rumah-rumahmu tetapi merendahkan rumah-rumah-Ku, menghiasi rumah-mu tetapi menghancurkan/meroboh-kan rumah-rumah-Ku, meramaikan rumah-rumahmu, tetapi mengosongkan rumah-rumah-Ku, maka, bukanlah kamu sekalian (menjadi) orang-orang baik, bukan pula orang-orang merdeka, dan bukan orang-orang yang banyak kebajikannya, justru kamu adalah hamba dunia (keduniaan) dan pengumpul harta kekayaannya. Perumpamaan kamu di dunia bagaikan kuburan-kuburan yang dikapur (diberi cat/dihiasi), sehingga tampak keindahan (bangunan) lahirnya, padahal (bagian) dalamnya jelek, begitulah kamu sekalian, kalian perbaiki (perindah) diri kalian untuk (berhadapan) dengan manusia, menarik perhatian mereka dengan mulut manis dan Wahai anak Adam, janganlah seperti sebuah lampu yang ada di atas rumah, dia menerangi manusia  (penampil-an) lahir yang sangat bagus, tetapi kamu sekalian menjauhi-­Ku dengan hati yang keras (kasar) dan perbuatan yang buruk/keji (orang lain), tetapi membakar dirinya dan kegelapan ada di da­lamnya.

Wahai anak Adam, sebagaimana tidak bermanfaat­nya seruling di kuburan mayat, maka demikian juga de­ngan (keadaan) kamu sekalian dengan perkataan yang baik, tetapi disertai perbuatan yang buruk.

Wahai anak Adam, ikhlaskanlah, untuk-Ku, amalmu dari riya (pamer) dan mintalah pada-Ku karena sesung­guhnya Aku (akan) memberi lebih banyak daripada apa yang yang diminta (sang peminta).

Surat Ketujuh

Wahai anak Adam, tidaklah Aku ciptakan kamu percu­ma dan tidaklah aku tinggalkan kamu begitu saja, serta tidaklah aku lengah dari apa yang kamu kerjakan. Se­sungguhnya kamu sekalian tidak (akan) mencapai surga dari-Ku, kecuali jika kamu sabar atas apa yang tidak kamu sukai dalam mencari rida-Ku, dan sabar dalam men­jalankan (taat) perintah-Ku lebih ringan daripada sabar menjauhi maksiat pada-Ku, meninggalkan (cinta) dunia lebih mudah daripada mencari-cari alasan, meninggal­kan aniaya/zalim lebih ringan daripada panasnya api neraka, siksaan dunia lebih ringan daripada siksaan ak­hirat sebab siksaan dunia dapat putus dan dapat hilang, sedangkan siksaan akhirat tidak dapat putus dan tak da­pat hilang.

Wahai anak Adam, setiap kamu pasti tersesat, ke­cuali yang Aku beri hidayah (petunjuk), dan setiap ka­mu pasti sakit, kecuali orang yang Aku sembuhkan, setiap kamu pasti celaka, kecuali orang yang aku selamat­kan, setiap kamu dapat menjadi fakir, kecuali orang yang Aku kayakan, dan setiap kamu (suka) berbuat ja­hat, kecuali orang yang Aku jaga, maka bertobatlah (kembalilah) pada Tuhanmu, pereratlah tali persaudara­an, dan janganlah kamu merusak penutup (harga diri­mu) di sisi Dzat yang sangat mengetahui segala rahasia :

لآَ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Tidak adan tuhan selain Dia Yang Mahagagah dan Maha Bijaksana”.

Surat Kedelapan

Wahai anak-cucu Adam, janganlah kamu melaknat makhluk supaya laknat itu tidak kembali kepadamu. Wahai anak-cucu Adam, sesungguhnya Aku mendirikan berlapis-lapis langit dan bumi di angkasa tanpa tiang, hanya dengan satu nama di antara nama-nama-Ku, mengapa hatimu semua tidak istiqamah (tegak lurus) de­ngan seribu nasihat dari kitab-Ku?

Wahai anak Adam, sebagaimana yang sakit tidak da­pat terhindar dari kematian, sebagaimana batu tidak mencair dalam air, maka demikian pula, berbagai nasi­hat tidak akan bermanfaat bagi hati-hatimu yang keras.

Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya salah se­orang di antara kamu tidak dapat meminum air karena kehausan, kecuali jika ia mendapatkan (air) dari-Ku, dia tidak akan takut pada neraka, dan tidak akan takut pada murka Allah yang Rahman, kecuali dengan rahmat ka­sih-sayang-Ku.

Wahai anak Adam, bagaimana kamu sekalian (bera­ni) bersaksi bahwa kamu adalah hamba-hamba Allah, te­tapi kamu mendurhakai-Nya, bagaimana pula kamu mengaku (meyakini) bahwa mati itu hak (pasti terjadi), pa­dahal kamu membencinya, dan (bahkan) kamu mengatakan dengan lidahmu apa yang tidak ada dalam hati­mu, dan juga kamu menganggap hal itu sebagai sesuatu yang remeh, padahal itu bagi Allah adalah masalah be­sar. (lihat Alquran, An-Nur: 15)

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Surat Kesembilan

Wahai sekalian manusia, telah datang padamu nasihat dari Tuhanmu, dan obat penawar untuk penyakit yang terdapat di dalam dada, juga menjadi hidayah petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang beriman. Wahai sekalian manusia, telah datang padamu bukti dari Tuhanmu, ka­mi telah menurunkan padamu cahaya yang terang dan kami tidak melihat kamu sekalian tidak berbuat baik, kecuali pada orang yang telah berbuat baik, tidak mem­pererat tali persaudaraan, kecuali pada orang-orang yang menghubungkannya, tidak mengajak bicara, kecua­li dengan orang yang mengajak kamu bicara, tidak memberi makanan, kecuali pada orang yang suka memberi makanan, dan tidak memuliakan, kecuali terhadap orang yang memuliakan kamu.

Maka dari itu, tak ada seorang pun di antara kamu yang mempunyai keutama­an atas orang lain, sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah yang beriman (percaya dengan yakin) pada Allah dan rassul-Nya, suka berbuat baik terhadap orang­-orang yang berbuat jahat pada mereka, dan menghu­bungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang memutus-kannya, memberi makan orang yang tidak mau memberi, menghindar dari orang-orang yang menipu mereka, mengajak bicara pada orang-orang yang men­jauhinya, menghormati (memuliakan) orang yang meng­khianatinya, dan memaafkan orang yang berbuat zalim (aniaya) padanya, (ketahuilah), sesungguhnya Aku Ma­ha Mengetahui dan Maha Mengenal. (Q.S. Al-Huju­rat: 13).

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Surat Kesepuluh

Wahai sekalian manusia, ‘sesungguhnya dunia itu adalah negeri tempat tinggal orang yang tidak mempunyai negeri, harta bagi mereka yang tidak mempunyai harta.  Hanya orang yang tidak berakal sempurna yang suka mengumpulkan kekayaan, dengan keduniaan pasti akan bergembira orang yang tidak mempunyai keyakinan.  Hanya orang yang tidak berjiwa tawakal yang rakus terhadap keduniaan, hanya orang yang tidak mempunyai ma’rifat (pengenalan terhadap Allah) yang akan selalu mencari kenikmatan dunia. Maka, barangsiapa yang menghendaki nikmat yang akan lenyap, hidup (kehidupan) yang terputus, syahwat (kesenangan/kenikmatan) yang fana (rusak), hendaklah ia mencari dan menuntut keduniaan, tetapi siapa yang mencari keduniaan sungguh ia telah menganiaya dirinya, mendurhakai Tuhannya, melupakan akhiratnya dan tertipu oleh dunia.

Wahai anak Adam, banyak lampu yang dipadam-kan angin, banyak yang dikenai istidraj (tipu daya) disebabkan tidak mensyukuri nikmat Allah, banyak yang tercela karena dipuji-puji, banyak raja yang berkuasa karena ditakuti (karena rakyat tidak berdaya), dan banyak yang tertipu dengan kesehatan. Hal ini terbukti dalam firm Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Janganlah kamu tertipu oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri, (itu hanyalah) sedikit kesenang­an, kernudian tempat kembali mereka adalah neraka ja­hanam juga, dan itulah seburuk-buruk tempat (kembali).” (Q.S. Ali Imran: 196-197)

Juga firman Allah:

“Tinggalkanlah dosa yang tampak (terang-terangan) dan dosa yang batin (tak tampak); Sesungguhnya orang-orang yang melakukan dosa pasti akan dibalas atas apa yang mereka perbuat.” (Q.S. Al-An’am: 120)

Wahai anak Adam, bercocok tanamlah dengan (untuk) Aku, berniagalah dengan (untuk) Aku, pinjamilah Aku, dan bermuamalah (bergaullah) dengan-Ku, sebab keun­tungan kamu yang ada pada-Ku ialah apa yang belum pernah terlihat mata, belum terdengar selinga, belum pernah terbetik dalam hati seorang manusia pun, dan perbendaharaan-Ku tidak akan pernah habis-habis, kekuasaan-Ku pun tidak akan berkurang, dan Aku adalah al-Wahhab (Maha Pemberi/rezeki) dan Mahamulia (der­mawan). Hal ini terbukti dalarn firman-Nya:

Maka tak seorang pun mengetahui apa yang disembu­nyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menye-dapkan pandangan mata mereka, sebagai balasan (pahala) atas apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. As Sajadah: 17.

Surat Kesebelas

Wahai bani Israil, ingatlah (syukurilah) nikmat-Ku yang telah Aku berikan padamu dan penuhilah janji-Ku, su­paya Aku penuhi janji-Ku padamu, dan hanya pada-Ku­lah kamu sekalian hendaknya takut. Sebagai-mana sese­orang tidak mengetahui jalan yang (akan) dilaluinya, ke­cuali dengan dalil (petunjuk jalan). Maka demikian juga, kamu sekalian, tidak akan mengetahui jalan menuju sur­ga, kecuali dengan ilmu dan amal yang baik. Sebagaima­na kamu tidak dapat mengumpulkan harta, kecuali de­ngan (suatu) sebab, maka begitu juga, kamu sekalian ti­dak akan masuk surga, kecuali dengan sabar dalam me­laksanakan ibadah pada-Ku, maka bertobatlah (kembali­lah) pada-Ku dengan melaksana-kan kebaikan-kebaikan yang sunah, carilah/tuntutlah keridaan-Ku dengan me­nyenangkan orang-orang miskin, niscaya Aku rida dan senang padamu, berharaplah atas rahmat kasih sayang­-Ku dengan bergaul dengan para Ulama, sebab rahmat­Ku tak pernah lepas dari mereka sekejap mata pun. Dan Allah telah mewahyukan pada nabi Musa a.s.:

“Wahai Musa, dengarkanlah firman-Ku dan yang Aku firmankan ten­tu hak (benar), sesugguhnya, jika ada orang yang sombong pada orang-orang miskin hamba-Ku, maka akan Aku bangkit­kan ia di hari kiamat dalam bentuk dzarrah (biji sawi/atom) yang akan di injak-injak manusia dengan kaki-kakinya; Barang siapa yang bertawadlu (bersopan santun/ rendah hati) pada para ulama dan kedua orang tuanya, maka pasti akan Aku angkat (derajatnya) di dunia secara tidak jelas, tetapi akan diperlihatkan di akhirat dengan terang-terangan; Siapa yang suka merusak harga diri seorang muslim, akan Aku rusak harga dirinya sebanyak tujuh puluh kali, dan siapa yang membela orang mukmin yang fakir, dia akan disalami malaikat di dunia secara sembunyi-sembunyi (tidak jelas) dan akan disalaminya di akhirat dengan terang-terangan.”

Surat Kedua Belas

Wahai anak cucu Adam, taatilah Aku sebesar keperluan­mu kepada-Ku, berbuatlah maksiat dan dosa terhadap­Ku; sebesar kesabaranmu menahan neraka, bekerjalah (mencari harta) di dunia sebesar kebutuhan hidupmu di di dunia, berbekallah untuk ‘mati sebesar kebutuhan (tem­pat tinggalmu) di dalam kubur, dan janganlah meman­dang kepada ajalmu yang diakhirkan (dinantikan), dan pada rezekimu yang ada, serta dosa-dosa yang kecil-ke­cil; (sebab) setiap segala sesuatu akan hancur luluh, kecuali wajah/Dzat Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dia-lah yang menentukan hukum dan kepada-Nya-lah kamu semua dikembalikan.

Surat Ketiga Belas

Wahai anak Adam, banyak lampu dipadamkan angin, banyak ahli ibadah yang celaka karena ujub (merasa hebat), banyak yang kaya celaka karena kekayaannya, banyak pula yang fakir (miskin) celaka karena kefakiranya, tidak sedikit yang sehat terpedaya dengan kesehatannya, dan banyak juga orang alim (cerdik pandai) celaka dengan ilmunya, maka seandai-nya orang-orang tua yang suka ruku’ (rajin ibadah), pemuda yang khusyuk, anak-anak yang sedang menyusu, hewan-hewan yang sedang digembalakan, anak-anak membaca Al-Quran, kitab-kitab Allah, salat duha, wanita yang setia pada suaminya, salat malam, dan pembawa Arasy, akan Aku jadikan langit di atas itu besi, bumi menjadi membeku (tidak berair atau gersang), tanah menjadi abu, tidak akan Aku turun hujan dari langit sedikit pun, tak akan Aku tumbuhkan di bumi sesuatu biji pun, dan akan Aku timpakan dari siksaan dari langit dengan keras.

Surat Keempat Belas

Wahai anak Adam, agamamu (adalah) agamamu, amal­mu (adalah) amalmu, dagingmu (adalah) dagingmu, dan darahmu (adalah) darahmu. Jika rusak agamamu, maka hancurlah amalmu, dagingmu, dan darahmu; Tetapi Jika baik agamamu, maka baik pula amalmu, dagingmu, dan darahmu.

Wahai anak Adam, janganlah kamu seperti lampu yang membakar dirinya (meskipun) menerangi (orang lain) manusia. Keluarkanlah dari hatimu cinta dunia (ke­duniaan), sebab Aku tidak akan mengumpulkan cinta (pada)-Ku dengan cinta keduniaan dalam satu hati sela­manya, sebagaimana tidak akan istiqamah (tegak lurus) (jika bercampur) antara cinta keduniaan dengan cinta keakhiratan dalam hati mukmin selamanya, (juga) seba­gaimana tidak akan istiqamah (bersatu padu) antara air dan api dalam satu tempat selamanya.

Wahai anak Adam, hati-hatilah menjaga dirimu da­lam mencari rezeki dan dalam mengumpulkan barang yang fana (akan hancur), serta jangan melelahkan diri­mu, sebab rezeki itu telah diatur pembagiannya. Yang rakus pasti tidak akan mendapat-kannya, yang kikir akan dicela (oleh Allah dan manusia), kenikmatan di dunia pun tidak akan abadi, kepuasan (sampai batas maksi­mal) merupakan keuntungan yang malang (tidak akan tercapai), ajal itu maklum (diketahui), yang haq itu mafhum (dapat dipahami), sebaik-baik hikmah (ilmu yang bermanfaat) ialah takut pada Allah, sebaik-baik kekayaan ialah qana’ah (merasa puas atas rezeki yang ada) sebaik-baik bekal ialah takwa kepada Allah, sebaik-baik yang dimasukkan ke dalam hati ialah keyakinan, sebaik-baik pemberian (karunia) ialah kesehatan, seburuk-buruk senjatamu ialah berdusta, dan seburuk-buruk nasihat (bakti) ialah mengadu domba, dan (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Tuhanmu bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya. (lihat Q.S. Fushshilat: 46)

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.

Surat Kelima Belas

Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu katakan yang tidak kamu kerjakan, sangat besar kemurkaan (jika) kamu mengucapkan apa yang tidak kamu kerjakan”. (Q.S. As-Shaff: 2).

Sering kamu melarang (orang lain) dari perbuatan yang tidak kamu tinggalkan, seringkali kamu menyuruh (orang lain) untuk mengerjakan se­suatu yang tidak kamu kerjakan; sering kamu berkata d­an berpura-pura (baik), sering kamu mengumpul­kan harta yang tidak kamu makan, sering kamu mengangan­-angankan sesuatu yang tidak mungkin kamu capai, sering kamu menunda-nunda tobat, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sering kamu memandang apa yang diharamkan Allah untuk dipandang, apakah kamu akan merasa aman dari rasa maut, atau­kah datang (berita) kebebasanmu dari cengkeraman neraka?

Ataukah kamu merasa yakin akan beruntung (karena) dengan surga, ataukah kamu sekalian mempunyai perjanjian dengan al Rahman (Yang Maha Pengasih), bahwa ka­mu akan diampuni-Nya? Sungguh kamu telah tertipu d­engan kenikmatan, kamu telah dirusak dengan ihsan, k­amu pun telah tertipu dengan panjang lamunan (angan-angan), maka (berhati-hatilah) jangan sampai kamu ditipu oleh kesehatan dan keselamatan, hari-hari­mu (umurmu) diketahui (Allah), nafasmu terbatas, rahasiamu terbuka (diketahui Allah), dan hijab (penutup aibmu) dihancurkan, maka berta-wakallah pada Allah wahai orang-orang yang mempu-nyai hati (pandai), supaya kamu sekalian beruntung (lihat Q.S. Al-Maidah: 103), dan dahulukan/cepatkan (dan siapkan) segala yang ada pa­da tanganmu untuk (kemaslahatan) di alam baka yang ada di hadapanmu.

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Wahai anak Adam, majulah pada-Ku (menghadap­lah pada-Ku dengan amalmu), sebab kamu di ambang kehancuran (pada) sisa umurmu, sejak kamu keluar dari perut ibumu lalu tiap hari/saat kamu mendekati kuburmu sampai kamu memasukinya.

Wahai anak Adam, perumpamaan kamu di dunia itu sebagaimana lalat dalam madu, jika ia (lalat itu) memakan sebagiannya, maka ia akan melekat (terlibat) dengannya sampai mati. Demikian pula kamu dengan keduniaan, maka janganlah kamu seperti kayu bakar yang membakar dirinya dengan api, meskipun menerangi manusia.

Surat Keenam Belas

Wahai anak Adam, kerjakanlah segala yang aku perin­tahkan padamu, berhentilah dari hal-hal yang Aku la­rang, dan janganlah kamu jadikan dirimu (terus-menerus) hidup dan tidak mati selamanya, sebab Aku-lah yang Mahahidup dan tidak mati selamanya, dan jika Aku menghendaki sesuatu, Aku hanya mengatakan kun (jadilah kamu), maka barang itu jadilah.

Wahai anak Adam, jika perkataanmu manis tetapi amalmu buruk, maka kamu adalah pemimpin orang­orang munafik, jika lahirmu manis dan indah, tetapi batinmu jahat, maka kamu termasuk yang rusak hancur. Hal ini terbukti dalam firman-Nya:

“Mereka menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali terhadap diri­nya sendiri, tetapi mereka tidak merasakan.” (Q.S. Al­-Baqarah- 9)

Wahai anak Adam, tidak akan masuk surga-Ku, selain manusia (yang) rendah hati karena (adanya) keagungan­Ku, memanfaatkan siang (hari)nya untuk zikir/meng­ingat-Ku, menahan dirinya dari berbagai kesenangan (syahwat) untuk (berbakti) pada-Ku, dia tidak suka me­nyakiti orang asing (perantau), suka mengurus (mem­bantu) fakir, mengasihi orang miskin, memuliakan anak yatim sehingga antara dia dengan anak yatim itu bagai­kan seorang ayah yang penyantun, dia dengan orang janda, bagaikan suami yang pengasih dan (bagai-kan) saudara sekandung, barang siapa yang mempunyai sifat ini di dunia, maka ia akan termasuk wali-Ku dan hamba pilihan-Ku, dan jika ia berdoa meminta pada-Ku, pasti Aku kabulkan, jika ia meminta pada-Ku, pasti Aku beri dia, dan (bahkan) jika ia tidak meminta pada-Ku, Aku ti­dak akan pernah melupakannya.

Surat Ketujuh Belas

Wahai anak Adam, sampai kapan kamu melapor dan mengadu kepada makhluk-Ku mengenai (ketetapan) -Ku, padahal tak ada yang pantas menjadi tempat mengadu, selain Aku, sampai kapan kamu melupakan Aku dan se­lalu mengingat selain-Ku, padahal Aku tidak pernah memerintahkan hal itu padamu, sampai kapan kamu berkufur mengingkari-Ku, padahal Aku tidak pernah berbuat zalim pada hamba-hamba-Ku, sampai kapan ka­mu tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku, padahal tak ada yang dapat memberi nikmat selain Aku, sampai ka­pan kamu berani meremehkan kitab-Ku, padahal Aku ti­dak membebanimu dengan apa yang tidak mampu ka­mu lakukan, dan sampai kapan kamu membenci-Ku, pa­dahal Aku tidak pernah membencimu, juga sampai ka­pan kamu selalu memuji-muji selain-Ku, padahal kamu tidak mempunyai Tuhan selain Aku yang pantas di puji. Jika kamu bertemu dengan dokter, kamu berkata, “Siapakah yang dapat menyembuhkan penyakitku?” Adakah yang dapat menyembuhkan penyakit selain-Ku?

Bukankah kamu mengatakan, bahwa zamanlah yang membuat begini dan begitu; padahal Akulah yang me­nentukan waktu itu, jika Aku mencurahkan hujan atas kamu sekalian dengan berlimpah, kamu sekalian menga­takan, “Kami diberi hujan oleh bintang si Anu, sungguh kamu sekalian telah kufur pada-Ku dan mempercayai bintang-bintang, padahal Akulah yang telah melimpah-kan rahmat-Ku pada kamu sekalian menurut ukuran ter­tentu, dan menurut timbangan tertentu pula. Jika di an­tara kamu ada yang belum mempunyai (mendapatkan) makanan untuk tiga hari, dan mengatakan Aku sedang krisis (tidak baik) dan bukan mengatakan aku (sedang) baik,’ sungguh kamu sekalian telah mengingkari nikmat­-Ku dan tidak mensyukuri. Siapa yang tidak mengeluar­kan zakat hartanya, maka sungguh ia meremehkan ki­tab-Ku, dan apabila is mengetahui waktu shalat, tetapi ti­dak segera mendirikannya, sungguh ia lengah dari-Ku (terhadap-Ku) dan tidak menghadap pada-Ku.

Surat Kedelapan Belas

Wahai anak Adam, bersabarlah dalam menjalankan pe­rintah-Ku, bertawadulah supaya Aku angkat derajat-mu, bersyukurlah atas nikmat-Ku supaya Aku tambah reze­kimu, mintalah ampunan pada-Ku, agar Aku ampuni dosamu, berdoalah dan memintalah pada-Ku, agar Aku kabulkan permintaanmu, bertobatlah pada-Ku, agar Aku terima tobahnu, mintalah pada-Ku, agar Aku beri pada­mu, bersedekahlah dengan ikhlas, agar Aku beri berkah-Ku rezekimu, sambungkanlah tali persau-daraan, agar Aku panjangkan umurmu, mintalah kepada-Ku kesehatan dengan lama -berdiam- (tidak banyak berbicara), sesungguhnya Aku menjadikan kese-lamatan itu pada, al­-Walidali (menyendiri), Aku menjadikan ikhlas untuk berbakti pada-Ku pada wara’ (teliti mengenai halal dan haram), Aku menjadikan zuhud dengan meninggalkan (cinta) keduniaan itu pada tobat pada-Ku, dan Aku men­jadikan (nikmat) ibadah dengan (cara) meninggalkan ke­nyang, (sebab) bagaima-na bisa kamu menjadi orang ka­ya jika tidak mempunyai jiwa puas (qana’ah).

Wahai anak Adam, bagaimanakah kamu meng-ingin­kan banyak ibadah bila selalu kenyang, bagaimana pula kamu dapat mencintai Allah tanpa meninggalkan cinta dunia, bagaimana kamu mengingin-kan jernihnya hati padahal kamu banyak tidur, bagaimana juga kamu merasa takut pada Allah, padahal kamu masih takut fakir, bagaimana kamu bisa mencapai wara, tetapi tetap rakus pada keduniaan, bagaimana kamu dapat rida Allah, padahal kamu suka menghina orang-orang miskin, bagaimana kamu dapat bertemu dengan Allah, padahal kamu kikir, bagaimana kamu ingin hikmah, tetapi kamu masih cinta dunia, senang pujian dan sanjungan, dan bagaimana kamu sangat menginginkan kebahagiaan (sa’adah) padahal i1mumu sangat sedikit?

Surat Kesembilan Belas

Wahai anak Adam wahai sekalian manusia, tak ada ke­hidupan yang lebih baik daripada hidup teratur dan he­mat, tak ada wara’ yang sebanding dengan menahan diri dari yang haram, tak ada kemuliaan yang lebih baik da­ripada akhlak yang baik, tak ada keturunan yang lebih baik daripada budi pekerti yang baik, tak ada penolong yang lebih baik daripada tobat, tak ada ibadah yang le­bih tinggi daripada (mengkaji) ilmu, tak ada kesalehan yang melebihi takut pada Allah, tak ada (keunggulan) akal yang melebihi kesabaran, tak ada ibadah yang me­lebihi taufiq, tak ada teman yang lebih tinggi derajatnya daripada akal, tak ada sahabat yang lebih jahat daripada kebodohan, dan tak ada pelipur lara yang lebih mudah didapat daripada Ilmu.

Wahai anak Adam, perbanyaklah ibadah kepada-Ku supaya Aku penuhi hatimu dengan jiwa kaya, tanganmu dengan rezeki, dan badanmu dengan istirahat (tidak pa­yah). Dan janganlah lengah dari zikir mengingat-Ku, se­bab jika kamu lengah mengingat-Ku, Aku penuhi hati­mu dengan (jiwa) fakir, tanganmu dengan kepayahan, badanmu dengan rasa lelah, dan dadamu dengan kese­dihan. Dan jika kamu menyadari dan mengetahui sisa umurmu, pasti kamu tinggalkan dunia dan selalu hidup zuhud (tidak terlalu sibuk dengan keduniaan).

Wahai anak Adam, telah Aku kuatkan badann agar taat pada-Ku dan melaksanakan segala yang Al wajibkan padamu, dan Aku beri kamu rezeki, tetapi to nyata kekuatan berkah rezeki itu kamu pergunakan u tuk bermaksiat pada-Ku; Telah Aku berikan padan nikmat kekuatan, sehingga kamu dapat berdiri, dudu pergi, dan ke sana ke mari, dan atas jaminan-Ku, kan berada di sore dan pagi hari (dengan sehat), atas kar nia-Ku, kamu dapat hidup, pada nikmat Ku, kamu bergerak bolak-balik, dengan kesehatan dari-Ku, kamu berdandan, sedangkan kamu melupakan Aku, Aku yai memberimu, tetapi kamu mengingat selain-Ku dan (ba kan) tidak mensyukuri nikmat-Ku!

Surat Kedua Puluh

Wahai anak Adam, kematian akan membuka rahasia ka­lian, kiamat akan menguji berita kamu, akhirat dan ba’ats (kebangkitan) akan menghancurkan hijab pengha­lang kamu. Jika kamu berbuat dosa kecil janganlah meli­hat kecilnya, tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat dosa, sebab kamu tidak tahu, dengan dosa mana kamu membuat Allah murka padamu. Demikian juga, jika ka­mu diberi (mempunyai) rezeki sedikit, janganlah melihat nilai dan jumlahnya, tetapi ingatlah siapa yang membe­rimu rezeki itu, maka, janganlah kamu menganggap re­meh dosa yang kecil, sebab kamu tidak mengetahui pin­tu dosa mana yang dapat mengakibatkan Allah murka padamu, sehingga Dia menutup langit dan tidak meneri­ma doamu, apakah itu disebabkan oleh dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil, maka kamu tidak boleh merasa aman (tenang) dari tipu muslihat-Ku, karena tipu musli­hat-Ku lebih samar daripada rayapan semut di bukit (shafa), di tengah malam gelap gulita.

Wahai anak Adam, apakah kamu sekalian mendur­hakai Aku, lalu kamu mengingat murka-Ku, kemudian meninggalkan laranganku, apakah kamu sekalian melaksanakan segala yang aku fardukan sebagaimana Aku pe­rintahkan, apakah kamu sekalian memberi makan fakir miskin dari harta-harta kamu sekalian, apakah kamu sekalian menyambungkan tali persaudara-an dengan orang yang memutuskannya, apakah kamu tidak berkhianat pada orang yang mengkhianatimu, apakah kamu berbicara dengan orang yang membiar-kanmu, apakah kamu mendidik putra-putrimu, apakah kamu berbuat baik pada tetanggamu, apakah kamu berbuat baik pada orang yang berbuat jahat padamu, apakah kamu memaafkan orang yang menganiayamu, apakah kamu bertanya pada para ulama mengenai agama dan keduniaanmu. (Ketahuilah), sesungguhnya Aku tidak memperhatikan bentuk (lahir)mu, juga tidak memperhatikan keindahan (1ahir) mu, tetapi Aku perhatikan hati-hati (motivasi)mu dan Aku rida sifat-sifat (baik) ini kamu miliki, sesungguhnya Aku mengetahui segala yang kamu sekalian kerjakan.

Surat Keduapuluh Satu

Wahai anak Adam, perhatikanlah dirimu dan semua makhluk-Ku, jika kamu mendapat-kan seseorang yang le­bih mulia, tetapi sombong padamu, perlihatkanlah ke­muliaanmu padanya, atau jika tidak demikian, mulia­kanlah dirimu dengan bertobat, dan kuatkanlah dirimu dengan ilmu dan amal saleh. Hal ini terbukti dengan fir­man Allah Subhanahu wa Ta’ala:

lngatlah akan nikmat Allah yang telah diberikan atas kamu sekalian dan (ingat pula) janji-Nya yang telah Dia janjikan padamu ketika kamu mengatakan ‘kami mende­ngar dan kami (akan) mentaati’, dan bertawakallah pada Allah.” (Q.S. Al-Maidah: 7)

Bertakwalah pada Allah sebelum datang hari (peristiwa) al-Waqi’ah, hari saling membalas/menipu (taghaabun), hari musibah besar (al-haaqaah). Di samping itu, hari yang ukurannya (untuk orang kafir) limapuluh ribu (50.000) tahun, hari ketika manusia tidak dapat berbicara, hari tidak adanya kompromi/alasan, hari Menutup segala sesuatu (al-Thaammah), hari petir yang keras (al’ Shaakhkhaah) hari kecut (membuat manusia kecut) dan sa­ngat genting, dan hari ketika setiap jiwa tidak dapat me­miliki (membantu) yang lain sedikit pun (karena) pada hari itu segala urusan hanya terletak pada Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang menentukannya), hari penyesalan (al-Nadamaah), hari kegoncangan (al-Zalzalah), hari yang mengetuk (al-­Qari’ah), dan bertakwa-ah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. sebelum da­tangnya hari di mana gunung-gunung berjalan dengan cepat, hari ditimpakannya siksaan, dan hari kehancuran.

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum datangnya hari teriakan/siksaan (al-Shaihah), hari yang tidak ada perlin­dungan selain perlindungan Allah, hari menggoncang­kan yang membuat anak-anak menjadi tua dan jangan­lah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata ‘kami mendengar, tetapi sebenarnya mereka tidak mende­ngar.

Surat Keduapuluh Dua

`Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah mengingat Allah (berzikirlah pada-Nya) dan Mahasuci-kan Dia (ber­tasbihlah) pagi dan petang hari. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Luhur berfirman: “Wahai Musa bin Imran, wahai shahibal bayaan (yang dapat menjelas-kan), dengarkanlah apa yang Aku katakan padamu, “Aku adalah Raja yang suka membalas (al-Dayyan), tak ada penerjemah/penengah di anta­ra-Ku dan kamu, gembirakanlah (ancamlah) orang yang me­makan riba (renten), yang memakan makanan milik anak ya­tim dengan tanpa hak, atau yang banyak berbuat maksiat dan menipu, bahwa dia sungguh telah membuat murka Allah yang Rahman dan dia akan masuk neraka.

Wahai anak Adam, jika kamu mendapatkan kekeras­an pada hatimu, atau penyakit pada badanmu, atau sulit mendapatkan rezeki, atau kekurangan harta, ketahuilah, bahwa kamu telah mengatakan sesuatu yang tidak ber­guna bagimu.

Wahai anak Adam, agamamu tidak akan berdiri te­gak, hingga lidahmu berdiri tegak (istiqamah), dan li­dahmu tidak akan berdiri tegak, kecuali jika hatimu berdiri tegak, tetapi hatimu tidak akan berdiri tegak kecuali, jika kamu mempunyai rasa malu oleh Tuhanmu.

Wahai anak Adam, jika kamu melihat aib manusia, tetapi melupakan aibmu sendiri, itu artinya kamu menggembirakan setan dan membuat murka Tuhan yang Rahman.

Wahai anak Adam, lidahmu itu singamu, jika kamu lepaskan, pasti ia memakanmu, dan kehancuranmu itu terletak pada ujung lidahmu.

Surat Keduapuluh Tiga

Wahai anak Adam:

Sesungguhnya setan itu, musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh (jangan  mengikutinya). (Q.S. Faathir: 6)

Dan ketahuilah, hari waktu kamu dibangkitkan dan di­kembalikan pada Allah dengan berbondong-bondong, kamu akan berdiri di hadapan Allah dengan berbaris, kamu akan membaca kitab (catatan amal) huruf demi huruf, kamu akan diminta pertanggungjawaban dari se­gala yang kamu perbuat, baik yang terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi, kemudian orang-orang yang bertakwa digiring ke surga dengan berbondong-­bondong dan orang-orang berdosa pun digiring ke nera­ka perkelompok, semua amal perbuatan kamu sekalian akan mendapatkan balasan dari Allah yang setimpal.

Hai anak Adam, sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali Aku, tak ada yang menyerupai-Ku, tak ada sultan (kekuasaan) selain kekuasaan-Ku, siapa yang saum seumur hidupnya sehari untuk mencari keri­daan-Ku, ia akan Aku beri makan dari berbagai makan­an Surga, dan siapa yang berdiri di satu malam (untuk beribadah) pada-Ku, pasti ia akan mempunyai kedudukan disisi-Ku, siapa yang memejamkan matanya dari yang Aku haramkan, ia akan merasa aman dari yang Aku haramkan, sehingga ia akan merasa aman dari neraka-Ku, dan Akulah Ar-Rabbu (Tuhan/Penga-tur/Pengurus), maka kenalilah Aku, Akulah yang memberi nikmat, maka bersyukurlah pada-Ku, Akulah yang mejagamu, mintalah perlindungan dari-Ku, Akulah Penolong, mintalah pertolongan dari-Ku, Akulah yang Maha Kaya, mintalah pada-Ku, Akulah yang memaafkan dosa,  mintalah ampunan dosa pada-Ku, Akulah yang (semestinya) menjadi tujuan (hidupmu), maka tujukan-lah perbuatanmu pada-Ku, Akulah Pernberi, mintalah pada-Ku, Akulah Al-Ma’buud (yang disembah), maka sembahlah Aku, dan Aku mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi, maka hati-hatilah.

Surat Keduapuluh Empat

Allah memberitahukan, bahwa tidak ada.Tuhan selain Dia, Semua malaikat dan ahli ilmu menyaksikan (bahwa tidak ada Tuhan selain Dia) yang menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia yang Gagah Perkasa dan Mahabijaksana”. (Q.S. Ali Imran: 18).

Sesungguhnya agama yang diridai Allah hanyalah Islam, dan barang siapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima oleh-Nya, bahkan di akhirat ia termasuk orang yang merugi. Wahai Daud, gembirakan-lah setiap yang berbuat baik dengan surga, dan sesungguhnya setiap yang jahat, pasti akan celaka, tetapi ia celaka karena mendurhakai­-Ku. Siapa yang putus asa dari rahmat-Ku, akan Aku ba­kar ia dengan api-Ku (neraka-Ku), siapa yang ma°rifat (mengenal) pada Allah, dan menaati-Nya, pasti ia sela­mat, dan siapa yang mengenal setan lalu mendurhakai­nya, selamatlah ia, siapa yang mengetahui al-Haq (yang benar) dan mengikutinya, amanlah ia, siapa yang mengetahui kebatilan (salah), lalu ia tidak mengikutinya, beruntung-lah ia, siapa yang mengenal dunia, lalu ia me­nolak (tidak mencintainya) selamatlah agamanya, dan siapa yang mengenal akhirat dan mencarinya, pasti ia sampai padanya, sesungguhnya Allah akan selalu mem­bimbing siapa saja yang Dia kehendaki, dan hanya kepada-Nyalah kamu sekalian dikernbalikan.

Wahai anak Adam, sesungguhnya Allah menjamin rezekimu; Lalu untuk apa kamu memperhatikan rezeki tambahan. Seandai.tya rezeki itu betul-betul dari Allah, dan sungguh ia menjamin rezeki (hamba-Nya) dan membagikannya, lalu untuk apa kamu rakus? Jika ter­nyata iblis itu musuh Allah dengan sebenarnya, mengapa kamu lengah? Jika ganti (balasan amal) dari Allah itu sungguh-sungguh ada, lalu mengapa kamu kikir? jika siksaan dari Allah dalam neraka itu sungguh-sungguh, mengapa berbuat maksiat? Jika melewati jembatan  (titian) itu sungguh-sungguh ada, mengapa kamu mengurnpul-ngumpulkan harta? Jika pahala dari Allah, berupa surga, itu sungguh-sungguh (ada), mengapa (kamu) malas (berbakti)? Apabila ternyata se­tu perkara itu menurut qadla, qadar, dan kemauan-Ku dengan sebenarnya, mengapa (kamu) takut? Supaya ka­mu tidak putus asa atas apa yang luput darimu dan ti­dak bergembira ria (sombong) dengan apa yang Dia be­rikan padamu, karena Allah tidak suka orang yang sombong dan congkak.

Surat Keduapuluh Lima

Wahai anak Adam, perbanyaklah bekal, sebab jalan sa­ngat sukar/sulit dan perjalanan (safar) sangat jauh, siap­-siaplah untuk berdiri di hadapan Allah, karena sesung­guhnya Sang Pencipta itu Mahabijaksana, perbagus pe­rahu layar, sebab laut sangat dalam, peringan beban (ba­waan), sebab jalan sangat kecil, ikhlaskan amral, sebab pemantau (pengkritik) sangat tajam penglihatannya, nantikan tidurmu sampai ke liang kubur, nantikan ke­gembiraanmu sampai ke timbangan, nantikan/tahan syahwatmu sampai (kamu masuk) surga, rahmat (balas­an amal)mu sampai akhirat, dan kelezatanmu sampai (mendapat) bidadari, dan jadilah kamu (penolong aga­ma)-Ku, Aku akan menjadi penolongmu, bertaqarrublah (mendekatlah) padaku dengan menganggap binasa kedu­niaan dan menjauhi-nya, dengan membenci manusia-ma­nusia jahat, mencintai orang-orang baik, karena sesung­guhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang­-orang yang berbuat baik.

Surat Keduapuluh Enam

Wahai anak Adam, seringkali kamu sekalian mendurha­kai-Ku padahal kamu merasa tidak kuat menahan pa­nasnya matahari dan panasnya tanah yang sangat panas. Panasnya neraka mempunyai tujuh tingkatan, setiap tingkatan memakan yang lain, pada setiap tingkat itu terdapat tujuh puluh ribu (70.000) lembah dari api/nera­ka, pada setiap lembah terdapat tujuh puluh ribu percik­an api, pada setiap percikan api terdapat tujuh puiuh ri­bu kampung dari api, pada setiap kampung (daerah) ter­dapat tujuh puluh ribu rumah dari api, pada setiap ru­mah terdapat tujuh puluh ribu sumur dari api, pada se­tiap sumur terdapat tujuh puluh peti dari api, pada se­tiap peti terdapat tujuh.puluh ribu pohon zaqqum (pohon untuk makanan ahli neraka), di bawah setiap pohon ter­dapat tujuh puluh ribu belenggu (borgol) dari api, pada setiap borgol, terdapat tujuh puluh ribu rantai dari api, pada setiap helai rantai, terdapat tujuh puluh ekor ular, panjang setiap ekor ular tujuh puluh ribu hasta, pada mulut setiap ular, terdapat satu laut dari racun hitam, di dalam laut-laut tersebut terdapat tujuh puluh ribu ekor kalajengking, setiap ekor kalajengking mempunyai tujuh puluh ekor (buntut), pada setiap buntut (ekor), terdapat tujuh puluh tulang dari api, dan pada setiap tulang ter­dapat tujuh puluh ribu ritl (X8 ons). Maka dengan (atas) nama-Ku, Aku bersumpah demi gunung Thursina, dan Kitab yang ditulis dengan saksama, pada lembaran ter­buka, demi Baitul Ma’mur (Ka’bah), dan alam-alam ang­kasa yang tinggi, dan (demi) segala yang berapi, sesung­guhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tak seorang pun yang dapat menghambatnya.  (Q.S. At-Thuur: 1-13)

Wahai anak Adam, Aku tidak menciptakan neraka­-neraka itu kecuali untuk orang kafir, kikir, pengadu domba, durhaka terhadap kedua orang tuanya, pen-deng­ki, pencela. (penghina), pengumpat, yang tidak/kurang mempunyai jiwa cemburu/ghirah, perampok (pencuri), yang hina (perbuatannya), yang suka menyerupai jenis lain, pemutus hubungan persaudaraan, suka bersumpah atas nama Allah secara palsu, pengkhianat, suka pamer, pemakan renten, suka meninggalkan shalat meski badan­nya sehat, pezina, yang enggan membayar zakat harta­nya, yang suka menyakiti tetangganya, pelanggar janji, peminum arak, orang tua pezina, pemakan harta anak yatim secara zalim (tidak sah), suka meratapi mayat (de­ngan berlebihan), yang lupa (hapalan) Quran setelah menghapalnya, dan setiap yang durjana, kecuali yang bertobat, beriman, dan melakukan amal yang baik, maka untuk mereka Allah akan menggantikan kesalahan dan dosa-dosanya dengan kebaikan karena Allah itu terbukti Maha Pemaaf clan Maha Penyayang.

Maka kasihanilah dirimu, wahai hamba-hamba-Ku, karena sesungguhnya badan kamu sekalian itu lemah, perjalanan (masih) jauh, beban sangat berat, al-Shirah (jembatan/titian) sangat kecil, peniup sangkakala adalah Israfil, neraka (pasti selalu) menyala (dinyalakan), sedangkan yang mengadili adalah (tak ada yang lain se­lain) Rabbul ‘Alamiin (Tuhan semesta alam), Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Surat Keduapuluh Tujuh

Wahai sekalian manusia, jauhilah rasa cinta pada dunia (keduniaan), sebab keduniaan itu merupakan nikmat yang pasti hilang (tidak kekal) dan kehidupan yang tak abadi, syahwat yang pasti hancur. Padahal aku telah me­nyiapkan bagi yang selalu menaati perintah-Ku surga­surga yang mempunyai delapan pintu. Pada setiap sur­ga, terdapat tujuh puluh ribu taman-yang terbuat dari za‘faran kunyit, pada setiap taman, terdapat tujuh puluh ribu kota (terbuat) dari intan permata (marjan), pada se­tiap kota, terdapat tujuh puluh ribu istana (terbuat) dari yakut (batu indah), pada setiap istana, terdapat tujuh pu­luh ribu kampung (terbuat) dari zubarjad ahmar (zamrud merah) -sejenis permadani-, pada setiap kampung, terdapat tujuh puluh ribu rumah dari emas merah, pada setiap rumah, tersebut terdapat tujuh puluh toko dari perak putih. Pada setiap toko, terdapat tujuh puluh ribu meja makan (penuh dengan) dari madu, pada setiap meja makan terdapat tujuh puluh ribu piring besar dari jauhar (permata), pada setiap piring besar, terdapat tujuh puluh ribu macam makanan, di sekitar (setiap) toko ter­dapat tujuh puluh ribu ranjang dari marjan (mutiara), pada setiap ranjang terdapat tujuh puluh ribu ranjang (terbuat) dari hariir (sutra), (diibaj) (kain sutra), sundus (kain sutra tipis), dan istabraq (kain sutra tebal berlapis emas). Di sekitar setiap ranjang, terdapat tujuh puluh ribu sungai dari air kehidupan, susu, arak, dan madu jernih. Pada tengah-tengah setiap sungai, terdapat tujuh puluh ribu warna (macam) buah-buahan.

Demikian pu­la, pada setiap rumah terdapat tujuh puluh ribu kemah (terbuat) dari mutiara, pada setiap kemah terdapat tujuh puluh ribu kasur, dan pada setiap kasur, terdapat tujuh puluh ribu bidadari yang cantik jelita, yang di hadapan­nya terdapat tujuh puluh ribu dayang (pelayan perem­puan), mereka (para bidadari itu) bagaikan telur yang tersimpan. Q.S. Ash Shaffaat: 49), di atas setiap istana tersebut, terdapat tujuh puluh ribu kubah dari kapur ba­rus, dan pada setiap kubah, terdapat tujuh puluh ribu hadiah dari Ar-Rahmaan Yang Maha Pengasih, Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Di dalam surga itu terdapat semua yang tidak (pernah) terlihat oleh mata ( di dunia), tidak pernah ter­dengar oleh telinga dan tidak (pernah) terpikir/terdetik (dalam) hati manusia sama sekali, di dalamnya juga ter­dapat buah-buahan pilihan mereka, daging burung yang sangat mereka gemari, dan bidadari-bidadari yang terpendam, (semua disediakan) sebagai balasan amal mere­ka (di dunia).

Siapa yang masuk surga-Ku, maka tidak akan mati selamanya, tidak akan menjadi tua, tidak akan merasa takut dan sedih, tidak berjual beli, tidak mena­ngis, tidak melaksanakan saum, juga tidak shalat, tidak sakit, dan tidak pernah merasa bingung, tidak buang air besar dan juga tidak pernah buang air kecil, mereka juga tidak akan dikeluarkan dari surga. Siapa yang mencari keridaan-Ku, hendaklah ia menolong fakir miskin, pasti Aku rida padanya, siapa yang mencari negeri yang penuh kemuliaan, dekat pada-Ku dan penuh dengan nik­mat-Ku, hendaklah ia bertaqarrub (mendekatkan diri pa­da rahmat-Ku, dengan bersedekah, tidak cinta dunia dan mempunyai jiwa qana’ah (merasa cukup dengan rezeki yang ada) –dan tidak rakus­.

Surat Keduapuluh Delapan

Wahai anak Adam, harta itu milik Aku dan surga pun milik Aku, sedang kamu sekalian adalah hamba-Ku; (Oleh karena itu), wahai hamba-hamba-Ku, belilah sur­ga-Ku dengan harta-Ku, karena Aku telah menyiapkan bermacam-macam surga untuk hamba-hamba-Ku yang taat. Kamu tidak memiliki harta (dari)-Ku, kecuali yang telah kamu makan itu telah hancur, dan (atau) yang te­lah kamu pakai, itu telah lusuh, (dan) atau yang telah kamu sedekahkan, itu telah lewat (dan habis), sedang­kan selain itu, harus kamu pertanggungjawabkan, ke­baikannya untuk orang lain, dan segala yang telah kamu keluarkan, maka itu telah kamu rusak (habis)kan. Badan kamu itu terbagi tiga, satu untuk-Ku, satu untukmu, dan satu lagi untuk-Ku dan kamu. Yang untuk-Ku adalah roh (jiwa)mu, bagianmu adalah amalmu, sedangkan yang (terbagi) untuk-Ku dan juga untukmu, dari kamu doa dan dari-Ku ijabah doamu).

Wahai anak Adam, milikilah jiwa wara’ (hati-hati), pasti kamu mengenal-Ku, kembalilah padaku, pasti ka­mu akan melihat Aku, sembahlah Aku, pasti kamu akan sampai pada-Ku, dan carilah Aku, pasti kamu akan mendapatkan-Ku.

Wahai anak, Adam, jika para Umara (pemimpin pe­merintahan) masuk neraka karena kecurangan, orang Arab dengan maksiat, para ulama dengan hasud dengki, para pengusaha dengan khianat (penipuan), para praju­rit dengan kebodohan, para industriwan dengan kecurang-an (penipuan), ahli ibadah dengan riya, orang-orang kaya dengan kesombongan, fuqara (orang-orang fakir) dengan bohong, (lalu) siapakah yang (diharapkan) men­cari surga? Mereka tidak dapat masuk surga kecuali de­ngan rahmat kasih-sayang-Ku.

Surat Keduapuluh Sembilan

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnva, dan janganlah ka­mu sekalian mati kecuali memeluk Islam. (Q.S. Ali Imran: 102).

Wahai anak Adam, sesungguhnya perumpama-an il­mu yang tidak dipraktekkan (tidak diamalkan) itu bagai­kan petir dan kilat tanpa hujan. Perumpamaan ilmu tan­pa amal,’ bagaikan pohon tanpa buah, bagaikan busur tanpa tali, bagaikan yang menanam gandum di helot shofa (padang pasir), perumpamaan ilmu bagi/di ha­dapan orang yang bodoh, bagaikan mutiara dan yakut (sejenis permata) bagi hewan binatang. Perumpamaan hati yang keras dengan (disertai) ilmu, bagaikan hajar (batu) yang tersimpan dalarn air, perumpamaan nasihat bagi prang yang tidak menyukainya, bagaikan -seruling di kuburan, dan perumpamaan sedekah dari barang haram, bagaikan mencuci kotoran dengan air kencingnya sendiri (yang ada pada bajunya), perumpamaan shalat tanpa zakat, bagaikan jasad tanpa roh, dan perumpama­an ilmu tanpa tobat, bagaikan bangunan tanpa fondasi, tak ada yang merasa aman dari tipu daya (siksa) Allah kecuali orang-orang yang rugi.

Surat Ketiga Puluh

Wahai anak Adam, taatilah sekedar (sebesar) kecende­rungan (kecintaan)mu terhadap keduniaan, jika tidak, akan Aku keluarkan kecintaanmu pada-Ku dari hatimu, sebab Aku tidak akan mengumpulkan kecinta-anmu pa­da-Ku dan kecintaanmu pada dunia dalam satu hati, sebagaimana tidak dapat menyatunya air dengan api da­lam satu tempat selamanya.

Wahai anak Adam, milikilah jiwa wara’ jauhilah per­buatan maksiat supaya kamu mengenal Aku, sembahlah Aku supaya kamu sampai pada-Ku, kembalilah pada-Ku supaya kamu melihat Aku, sembah-lah dan khususkan­lah waktu untuk beribadah pada-Ku, bersihkan amalmu dari riya supaya kecintaan-mu pada-Ku menetap dalam hatimu, dan siapkanlah waktu untuk dzikir mengingat­-Ku supaya Aku ingat padamu dan Aku menyebutmu di depan para malaikat-Ku.

Wahai anak Adam, sering kamu menghadap Allah, tetapi dalam hatimu ada (Tuhan) selain Allah, jika kamu mengetahui (betul-betul) hak Allah, pasti kamu tidak mempunyai perhatian pada selain Allah, kamu belum takut oleh Allah, seandainya kamu selalu menyebut selain Allah. Janganlah mengumpat, dan jika kamu mem­punyai dosa, mintalah ampunan pada Allah, tetapi keta­huilah, bahwa tidak ada istighfar (ampunan dosa) jika dosanya tidak dihentikan, sebab jika istighfar diucapkan, tetapi dosa dilakukan terus, itu bukan tobat sebenarnya. Dan bukanlah Allah itu penganiaya hamba-hamba-Nya. (Q.S. Fushshilat: 46)

Wahai anak Adam, jika kamu sekalian takut oleh Allah seperti takut fakir, maka pasti akan Aku kayakan kamu dengan cara yang tidak kamu rasakan, jika kamu menginginkan surga seperti menginginkan harta kedu­niaan, pasti Aku bahagiakan kamu di dua negeri (dunia dan akhirat), jika kamu mengingat Aku (dan menyebut­-nyebut) sebagianmu pada temannya, pasti malaikat-Ku akan selalu mengucapkan salam sejahtera padamu siang dan malam (sore dan petang hari) dan jika kamu seka­lian mencintai ibadah pada-Ku seperti mencintai keduniaan, pasti akan-Ku muliakan seperti Aku memuliakan para nabi dan rasul. Maka, janganlah kamu mengikut-sertakan hati dan pikiranmu untuk mencintai dunia se­bab dunia akan segera lenyap (hilang), apabila salah se­orang di antara kamu telah diletakkan pada bibir kubur­nya, akan ada yang memanggil-manggil padanya seba­nyak tiga kali seraya mengatakan:

“Wahai anak Adam, kamu datang menghadap dengan membawa amalmu, maka jika amalmu itu baik, maka balasannya pun baik, tetapi jika buruk, balasannya pun buruk,“ dan jika telah dimasukkan ke dalam lubang lahatnya, dia akan di­panggil tiga kali, kamu di atas bumi berjalan-jalan (ber­senang-senang), sekarang, pada hari ini, kamu berada di dalam perut bumi sambil menangis. Jika kuburannya te­lah ditimbuni tanah, maka kernbali ia akan dipanggil dengan panggilan sebanyak tiga kali,

“Wahai anak Adam, mereka telah menguburmu lalu meninggalkanmu, mere­ka tidak (lagi) berguna untukmu, kamu telah mengum­pulkan harta kekayaan, tetapi lalu kamu tinggalkan un­tuk orang lain, maka hisab ‘perhitungannya’ merupakan tanggung jawabmu, sedangkan kebaikan hartamu (man­faatnya) berada dalam timbangan orang lain“. Inilah hari yang menentu-kanmu, apakah kamu akan menuju surga yang tinggi, lalu bersenang-senang, atau menuju neraka yang sangat panas, yang akan menyedihkaninu, (wallahu ‘alam).

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: