Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

MUTIARA HIKMAH IBNU ARABI

Buah-buah Perjalanan

Bismillahirrahmanirrahiim. Segala puji bagi Allah Yang bersinggasana di atas mega “Arsy”, setelah Ia ciptakan bumi dan langit-Nya. Yang telah menurunkan al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, malam yang diberkahi, ke langit dunia secara keseluruhan dengan surah-surah dan ayat-ayatnya. Ia telah menjalankan kendaraan melewati tempat-tempat pengumpulan dan pemilihan, Ia jadikan itu sebagai ketentuan-Nya yang terpuji. Ia telah menjalankan hamba-Nya Muhammad, di waktu malam, dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit untuk menunjukkan sebagian dari ayat-ayat-Nya.

Ia telah menurunkan Adam ke bumi cobaan-Nya setelah Ia mengeluarkannya dari sorga kenikmatan dan kesenangan-Nya. Ia telah mengangkat Idris a.s. dari dunia nyata hingga Ia menurunkannya di tempat yang mulia dan tinggi derajatnya. Ia telah membawa Nuh a.s. melewati gelombang badai topan-Nya di atas bahtera keselamatan-Nya. Ia telah membawa Ibrahim a.s. kepada hidayah dan karamah-Nya. Ia telah memisahkan Yusuf a.s. dari orang tuanya, kemudian ia menyusulkan orang tuanya kepadanya demi membenarkan bahwa mimpi yang pernah dilihatnya adalah pemberian-Nya yang terindah.

Ia telah menjalankan Luth dan keluarganya untuk Ia selamatkan dari azab dan siksaan-Nya. Ia percepat perjalanan Musa a.s. dari kaum-kaumnya untuk menghadap Tuhannya, kemudian Ia berikan kepadanya cahaya berupa api untuk memenuhi kebutuhannya. Musa datang kepada-Nya, mendekati-Nya dalam bermunajat. Ia telah mengeluarkan Musa dari kaumnya demi risalah-Nya. Ia telah menjalankan kaum Musa untuk menenggelamkan mereka yang menentang Tuhan dengan kesesatan mereka. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa sampai kepada batas pengetahuan hingga bertemu dangan orang yang mendapatkan ilmu da karunia-Nya. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa yang menghantarkannya kepada kekhususan dan kemampuan dalam memberikan keputusan yang diberikan Allah kepadanya. Ia telah membawa Musa kecil dalam keranjang menelusuri sungai-sungai kehancuran.

Ia telah mengangkat Isa kepada-Nya padahal ia adalah kalimat dari kalimat Allah. Ia menjalankan Yunus a.s. dengan kemarahannya memuncak hingga tersesat dalam perut Ikan yang gelap gulita. Ia telah memuliakan Thalut dengan bala tentaranya termasuk Daud a.s. untuk melewati sungai cobaan agar mereka bisa meneguk seteguk air-Nya. Ia telah menyalakan ufuk di tangan Dzul Qarnain untuk menciptakan pagar pemisah antara hamba Allah yang taat dan durhaka.

Kemudian Ia telah menurunkan Jibril di hati setiap nabi-nabiNya dan Ia mengangkat kalimah tauhid melalui amal-amal shalih dan memuliakan pemiliknya dengan melihat Dzat-Nya.

Shalawat serta salam senantiasa terkirim kepada Muhammad, sebaik-baik orang yang mengenakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Keselamatan untuknya serta untuk keluarga, sahabat-sahabat, isteri-isteri dan anak-anaknya.

*************************************************************

Kutipan di atas adalah pembukaan dari kitab “al-Isfar ‘an-Nataijil Asfar” (“Buah-buah perjalanan”). Kitab tersebut merupakan renungan-renungan tasawuf atas beragam perjalanan yang dialami oleh mahluk Allah, ditulis oleh seorang ulama besar Muhyiddin ibn al-Arabi, terkenal dengan nama “Ibnu Arabi”. Beliau merupakan salah satu ulama Andalusia, lahir tahun 560 H/1165M di kota Marsiah wilayah timur Andalus dan meninggal tahun 638H/1240M di Damaskus. Pengembaraannya dalam mencari ilmu dan mendalami ilmu tasawuf telah membuahkan berbagai karya-karya monumental. Kajiannya yang begitu mendalam dalam karya-karyanya telah menimbulkan banyak kritik dan pujian. Banyak yang menuduhnya menyeleweng dengan konsep “wihdatul wujud” (kesatuan wujud), namun bagi yang telah mendalami dan memahami karya-karyanya akan menemukan bahwa sebenarnya dalam karya beliau penuh berisi untaian mutiara-mutiara hikmah ketuhanan yang maha tinggi dan petuah-petuah ketauhidan yang maha dalam.

Buah-buah Perjalanan

Terdapat tiga jenis perjalanan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, yaitu perjalanan dari Allah, perjalanan kepada-Nya dan perjalanan bersama-Nya. Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah, keuntungan yang akan didapatkannya adalah sebatas apa yang diperolehnya dalam perjalanan tersebut. Mereka yang melakukan perjalanan bersama Allah, tidak akan mendapatkan keuntungan kecuali apa yang ada dalam dirinya. Kedua perjalanan ini pasti mempunyai tujuan dan memerlukan ayunan langkah untuk mencapainya, kecuali perjalanan orang yang sesat yang tidak mempunyai tujuan yang pasti.

Jalan yang dilalui seorang musafir adalah darat dan laut. Allah berfirman “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan lautan” (Yunus : 22). Allah mendahulukan kata “darat” sebelum “laut” menujukkan bahwa seorang musfir tidak akan bepergian melewati laut kecuali terpaksa. Umar bin Khattab pernah mencela : “Seandainya tidak ada ayat ini, tentu aku akan melarang orang bepergian melewati laut”.

Seandainya ayat yang menganjurkan bepergian hanya sabda Allah “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sesungguhnya dari itu semua (apa yang kalian lihat) adalah tanda-tanda bagi mereka yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Luqman : 31), tentu ayat (surah Yunus) di atas juga cukup menjadi jawabannya.

Setiap perjalanan pasti akan melewati bahaya, kecuali perjalanan yang ditanggung oleh Allah, seperti perjalanan Isra’. Orang yang diperjalankan atau diajak berpergian oleh Allah pasti akan selamat, sementara orang yang berpergian sendiri pasti akan melewati mara bahaya.

Karena “wujud” sumbernya adalah “gerak”, maka demikian halnya Allah tidak akan terselimuti oleh sifat diam dan berhenti, karena itu mencerminkan ketidak-adaan (hampa). Demikian lah perjalanan ini selalu terjadi di alam langit (atas) dan alam bumi (bawah). Hakekat ilahiyah juga demikian, selalu diwarnai perjalanan pergi dan perjalanan pulang. Kita tahu bahwa Allah turun ke langit dunia dan kita tahu bahwa Allah bersinggasana di atas langit, seperti yang diceritakan oleh ayat-ayat-Nya. Kita tahu itu dengan tanpa perumpamaan dan persamaan.

Buah-buah Perjalanan

Alam langit selalu diwarnai dengan perputaran bersama-sama dengan apa yang terkandung di dalamnya. Ia tidak pernah berhenti dan diam. Seandainya ia diam niscaya alam semesta ini hancur dan sirna. Perputaran bintang-bintang di angkasa merupakan perjalanan mereka, seperti dijelaskan oleh al-Qur’an “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempatnya” (Yaseen :39). Bergeraknya empat arah angin, bergeraknya janin-janin dalam setiap detik dengan perubahan dan perpindahan pada setiap nafas, perjalanan fikiran antara hal terpuji dan tercela, perjalanan nafas yang dihembuskan oleh mereka yang bernafas, perjalanan mata antara bangun dan terpejam, perjalanan pandangan dari satu dunia ke dunia yang lainnya dengan pengamatan dan I’tibar, semuanya adalah perjalanan yang dicerna oleh akal manusia.

Ada yang berkata bahwa dunia fisik ini sejak diciptakan oleh Allah senantiasa dalam perjalanan (proses) yang menempati ruang dan tak pernah berhenti. Maka sebenarnya kita semua senantiasa dalam perjalanan itu, sejak kelahiran kita, kelahiran nenek moyang kita sampai masa yang tak berujung. Ketika kamu merasa sampai di satu tujuan kemudian kamu berkata: “Inilah sebenarnya tujuanku”, tiba-tiba terbuka untukmu jalan-jalan yang lain dan jalan itu terus bertambah, lalu kamu pun meninggalkan tempat itu. Tidak ada satu pun tempat dimana kamu sampai kepadanya, meskipun kamu telah berucap “Inilah tujuanku”, pasti sejenak setelah itu kamu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan yang lain.

Betapa banyak kamu berjalan melewat tingkat-tingkat kejadian dalam dirimu, mulai dari darah yang mengalir di tubuh bapak dan ibumu, kemudian darah itu berkumpul membentukmu entah dengan atau tanpa kesengajaan mereka. Kamu pun berubah menjadi mani (sperma), lalu berubah menjadi segumpal darah, lalu kamu melewati itu dan berubah menjadi segumpal daging, lalu tulang yang kemudian terbungkus daging, lalu ditumbuhkan sekali lagi dan dikeluarkanlah kamu ke dunia.

Lalu kamu pun melewati masa bayi, ke masa kanak-kanak lalu ke masa remaja dan dewasa, lalu ke masa tua dan pikun, inilah masa yang paling hina dari umurmu. Dari situ kamu pun pergi ke alam barzakh, setelah itu kamu akan melewatinya menuju hari kebangkitan. Kamu pun akan melewati jembatan (shirat) yang akan menghantarkanmu ke sorga atau ke neraka, bila kamu memang penduduknya. Namun apabila kamu bukan penduduk neraka, kamu masih akan melewati perjalanan neraka menuju sorga dan dari sorga ke tempat melihat Allah dan begitulah selamanya, kamu akan mondar-mandir dari sorga ke tempat melihat Allah.

Mereka yang di neraka juga terus mengalami perjalanan, naik dan turun silih berganti seperti sepotong daging yang direbus di dalam periuk di atas api yang membara “Setiap kali kulit mereka terkelupas, Aku gantikan dengan kulit yang baru agar mereka merasakan pedihnya siksaan-Ku” (An-Nisaa :56).

Tidak ada yang diam dan berhenti di alam ini. Siang dan malam, dunia ini senantiasa diwarnai dengan gerak dan perubahan yang silih berganti. Fikiran, perilaku dan sifat juga demikian, senantiasa berubah silih berganti bersama perubahan siang dan malam dan bersama silih bergantinya hakekat ilahiyah di atas semuanya. Hakekat ilahiyah terkadang turun dengan nama-Nya Yang penuh kasih sayang, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha menerima taubat, Maha Memaafkan, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha Memberi rizqi, Maha Mengkaruniai dan terkadang turun dengan nama-Nya Yang Maha Membalas dan dengan semua nama-nama Ilahiyah-Nya.

Hakekat ilahiyah tersebut terkadang turun kepadamu dari keagungan-Nya dengan karunia, rizqi, dendam, taubat, ampunan dan kasih sayang. Ia turun kepadamu atas permohonan dan ia turun dari-Nya atas karunia.

Dari situ seorang hamba hendaknya berfikir, agar menyelami perbedaan antara perjalanan yang ia diperintah untuk mempersiapkannya, perjalanan yang di dalamnya penuh dengan kabahagiaan, yaitu perjalanan kepada-Nya, bersama-Nya dan dari-Nya. Semua perjalanan ini telah disyariatkan kepadanya. Dan antara perjalanan yang tidak diperintahkan untuk mempersiapkannya, seperti mengayunkan kaki di atas bumi ke jalan yang halal, perjalanan dagang untuk melipatgandakan harta dan menyimpannya, dan seperti perjalanan nafas keluar dan masuk. Ini merupakan kabutuhan bagi pertumbuhannya.

Kita berdoa kepada Allah agar dikaruniai akhir yang penuh bahagia dan kesehatan yang sempurna.

Buah-buah Perjalanan

Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah terdapat tiga golongan. Pertama : mereka yang dicampakkan, yaitu iblis dan orang-orang yang menyekutukan Allah. Kedua : mereka yang tidak ditolak dan tidak dicampakkan, namun penuh dengan kebimbangan dan keraguan, inilah orang-orang yang bergelimang maksiat, karena mereka tidak mampu singgah dalam keramaian dengan menentang rasa malu yang menguasainya. Dan ketiga adalah perjalanan ujian dan pemilihan, seperti perjalanan para utusan Allah dari-Nya kepada makhluq dan perjalanan kembali para pewaris dan ahli makrifat dari pengembaraannya menyaksikan dunia nafsu dalam kekuasaan, pemerintahan, tipu daya dan rekayasa.

Orang-orang yang berpergian menuju Allah juga terdapat tiga golongan. Pertama : mereka yang menyekutukan Allah, mem-benda-kan-Nya, menyerupakan-Nya dengan mahluk dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya. Allah telah menegaskan “Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya” (al-Syuura:11). Mereka ini hanya akan sampai kepada hijab yang menutupinya dari rahmat-Nya. Kedua adalah mereka yang mensucikan Allah dari segala hal yang tidak layak dan mustahil untuk-Nya, dari apa-apa yang mutasyabihat yang datang dalam kitab-Nya, lalu ia berkata “Allah Maha Mengetahui dari apa yang ada dalam kitab-Nya”. Meskipun mereka tidak menyekutukan Allah, namun mereka masih melalui penyimpangan. Mereka ini akan sampai kepada ketercelaan, meskipun tidak sampai kepada hijab atau ketertutupan dan siksaan yang abadi. Ibaratnya apa yang didapatkan orang-orang yang memberi santunan, berdiri di depan pintu, lalu orang-orang menempatkannya di tempat mulia, namun ia dicela karena tidak memberikan penghormatan. Ketiga adalah perjalanan orang-orang yang dijaga dan dilindungi, diperhatikan dan disertai dengan petunjuk jalan. Mereka ditakuti manusia namun mereka tidak pernah takut, disedihkan manusia namun mereka tidak pernah sedih, karena sebenarnya mereka telah meninggalkan ketakutan dan kesedihan itu. Orang yang telah meninggalkan sesuatu tidak mungkin ia ada di dalamnya. “Mereka tidak disedihkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. Malaikat berkata ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'” (al-Anbiya’:103). Itulah kebahagian mereka di akherat. Mereka pergi ke sana.

Sedangkan orang-orang yang pergi bersama Allah, atau mendalami Allah terdapat dua golongan. Golongan pertama ialah mereka yang pergi dengan pemikirannya dan menyelam dengan akalnya lalu mereka tersesat dan pasti akan tersesat, karena mereka berkeyakinan bahwa tidak ada penunjuk jalan kecuali akal dan fikirannya. Itulah para filosuf dan orang-orang yang mengikuti jalannya.

Golongan kedua adalah mereka yang diantarkan kepada-Nya, yaitu para utusan, nabi Allah dan orang-orang yang terpilih dari para wali-Nya, seperti Sahl bin Abdullah, Abu Yazid, Farqad As-sabkhi, Junaid bin Muhammad, Hasan Basri dan para ulama terkenal di zaman kita ini.

Akan tetapi kalau diamati, zaman kita bukanlah seperti zaman-zaman yang lalu (zaman Rasulullah) karena dekatnya zaman kita dengan alam akhirat, maka tabir-tabir rahasia banyak terkuak pada masa ini, lapisan-lapisan ruh mulai jelas dan nampak. Ulama pada masa kita lebih cepat membuka tabir (ilmu ghaib), lebih banyak mencapai kesaksian, lebih luas makrifat dan lebih sempurna dalam hakekat, namun lebih sedikit dalam amalnya dibandingkan dengan ulama zaman dulu. Mereka dulu banyak amalnya meskipun lebih sedikit kashf-nya (terbuka ke alam ghaib) dibandingkan kita. Itu karena kita jauh dari zaman sahabat yang menyaksikan langsung nabi Muhammad s.a.w. dan turunnya ruh-ruh kepadanya di tengah-tengah mereka. Mereka yang menerima cahaya pada masa itu sangat sedikit seperti Abu Bakar siddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib r.a. dan para ulama sepadannya. Amal pada masa lalu lebih banyak dilakukan dan ilmu pada masa sekarang lebih banyak didapatkan, dan ini terus bertambah hingga pada saat turunnya Isa a.s. Satu rakaat dari kita sekarang ini nilainya seperti ibadah satu orang orang pada masa lalu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. “Bagi orang yang beramal diantara mereka (pada masa dimana kebencian menjadi panutan, nafsu menjadi guru, harta menjadi penentu dan orang-orang bangga dengan pendapatnya sendiri-sendiri) pahalanya seperti pahala limapuluh orang yang beramal seperti amalan (pada zamanmu) sekalian” (Tirmizi, Ibnu Majah).

Alangkah indahnya perumpamaan itu dan alangkah halusnya isyarat yang diberikan Rasulullah s.a.w. Ini karena kedekatan kita dengan zaman akhir dan mulai nampaknya hukum-hukum dunia barzakh. Tidakkah kamu ingat perkataan Rasulullah: “Tidak akan datang hari kiamat sehingga paha seseorang berbicara tentang apa yang diperbuat si tuannya dan ujung cemeti (menceritakan apa yang dilakukan pemiliknya) dan pohon-pohon memberi tahu: ‘Ini ada orang yahudi yang bersembunyi di belakangku, bunuhlah ia'”.

Ini semua terjadi di dunia, tidak lain karena mulai nampaknya perkara akhirat yang merupakan alam kehidupan. Sesungguhnya ilmu (hikmah) ini mulanya satu lalu menyebar dan ini memerlukan pembawa dan penyebarnya. Semakin banyak yang menyebarkannya, karena ini ilmu yang dimiliki orang-orang salih, maka ia pun terbagi. Itulah mengapa pada masa awal, sedikit orang yang mendapatkannya, dan mereka yang mendapatkannya pun tidak tampak dan tidak terlihat, karena ilmu tersebut menyebar di antara mereka.

Semakin sedikit orang-orang yang membawa ilmu tersebut, karena kerusakan yang telah merajalela di antara mereka, semakin banyak mereka bisa mendapatnya, karena bagian yang seharusnya menjadi milik orang-orang fasik diberikan juga kepada mereka. Itulah mengapa orng-orang salih pada masa akhir banyak bisa mendapatkan ilmu, kasyf dan terbukanya tabir (ghaib). Mereka yang dikaruniai ilmu ini pun akan terlihat dan nampak karena ilmu tersebut menonjolkannya dikarenakan banyaknya. Maha suci Dzat yang telah memberikan semuanya.

Amal mereka yang hidup di akhir zaman tetap senilai bila ditimbang dengan amal para pandahulunya, karena mereka mengikuti jalan pendahulunya. Ini karena timbangan yang ada adalah amal dan bukan ilmu kepada Allah, dan ilmu kepada Allah akan mempunyai nilai tersendiri “Itulah karunia Allah yang diberikannya kepada orang yang Ia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang agung” (al-Hadid: 21).

Buah-buah Perjalanan

Allah berfirman “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :”Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab :”Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Fussilat : 11-12).

Allah juga berfirman :“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (al-Anbiya : 30)

Kata “kemudian” mengisyaratkan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah melewati tenggang waktu penciptaan bumi dan kekuatan-kekuatannya selama empat masa, yaitu dua masa untuk penciptaan zat dan fisik bumi, satu masa untuk kelahirnya yang kasat mata dan satu masa untuk isi dan rahasia-rahasianya, atau dua masa untuk memberikannya kekuatan ghaib dan dua masa untuk memberinya kekuatan lahir.

Lalu terjadilah perjalanan suci Allah dalam menyatukan langit dan menciptakannya. “Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya”. Lalu diberikannya kepada langit apa yang diperlukannya untuk perubahan, dari susunan, unsur-usurnya, pergantian dan perubahannya dan perpindahannya dari satu bentuk ke bentuk lainnya, inilah ketentuan ilahi terhadap langit-langit dalam firman-Nya : “Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya”, yaitu mengenai sisi rohaniahnya, lalu ditampilkannya pergerakan dalam bentuk orbit di atas angkasa untuk membentuk satu susunan sesuai dengan pola peredarannya. Ketika Allah meyatukan langit dari ketercerai-beraiannya lalu berputar, ia tembus pandang sehingga tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya, maka kita bisa melihat dengan mata kita gemerlapnya lampu-lampu bintang yang berada di langit ke delapan seakan-akan menghiasi langit dunia ini, Allah berfirman : “Dan Kami hiasi langit yang dekat (dunia) dengan bintang-bintang yang cemerlang”. Hiasan untuk sesuatu, tidak selalu berada di dalamnya.

Adapun maksud dari “pemeliharaan Allah” ialah dengan lemparan batu di atas angkasa untuk menghancurkan mereka dari golongan setan yang hendak mencuri pendengaran, maka Allah memberikan untuk mereka batu yang meluncur, yaitu bintang yang mempunyai ekor, membelah angkasa hingga jatuh ke langit dunia. Meskipun demikian tidak sedikitpun terlihat keretakan hingga menyebabkan kebocoran langit-langit tersebut, demikian hingga mereka kembali dengan hina dan lelah.

Kemudian Allah menciptakan di setiap langit dari ketujuh langit tersebut, bintang-bintang yang senantiasa beredar “Semuanya beredar sesuai dengan garis edarnya” (al-Anbiya:33). Demikianlah sebenarnya kegiatan angkasa tidak lain pergerakan bintang-bintang bukan pergerakan langit-langit. Pergerakan-pergerakan tersebut terlihat meskipun berada di langit tertinggi, Allah berfirman “Dan aku hiasi langit dunia”, karena mata manusia tidak akan mampu melihat kecuali apa yang ada di langit dunia, itulah mengapa Allah mengungkapkannya dengan kata “menghiasi” tidak dengan kata “menciptakan”. Perhiasan tidak selalu merupakan bagian dari sesuatu yang dihiasinya, bala tentara dan kuda merupakan perhiasan kekuasaan namun keduanya berdiri sendiri.

Begitu pula lah, ketika telah sempurna bangunan manusia dan ia mampu berdiri tegak dan Allah telah Menghembuskan keagungan maka terjadilah sebutan untuknya sebagai manusia karena kesempurnaannya dalam menerima rahasia ilahi yang tidak pernah diterima oleh mahluk lainnya. Di sinilah mengapa manusia berhak menempati dua maqam, yaitu maqam “syurah” (simbol) dan maqam “khilafah” (kekuasaan).

Demikian pula, ketika telah sempurna tubuh (manusia yang laksana) bumi, dan telah diberikan kepadanya kekuatan khusus sebagai mahluk yang tumbuh, seperti kekuatan menarik, mencerna, menahan, menolak, tumbuh, menghidupi dan telah disatukan untuknya ketujuh lapisan tubuhnya, yaitu kulit, daging, lemak, keringat, persendian, otot dan tulang, maka naiklah rahasia ilahi yang mengalir di dalamnya melalui sela-sela rohaniahnya menuju alam yang lebih tinggi di atas badaniyahnya, mirip kabut yang naik menembus tujuh langit, yaitu langit dunia yang penuh bintang-bintang dan lampu-lampu seperti kedua mata, kemudian langit hayalan, langit fikiran, langit akal, langit kenangan dan zikir, langit ingatan dan langit keraguan.

Ketika Allah mewahyukan kepada setiap langit urusannya, maksudnya adalah memberikan kepada mata kemampuan melihat sesuatu, kita tidak mampu membahas kaifiyahnya, bagaimana itu terjadi. Kita memahaminya, namun pemahaman kita tidak mampu menghilangkan perbedaan Allah dari alam yang kita lihat, dari khayalan kemustahilan dan dari apa yang mampu dibuat oleh akal kita. Demikian di setiap langit ada yang menyerupainya yang sejenisnya dan penghuni setiap langit tercipta darinya. Mereka terpengaurh kepada keadaan dari tempat ia berada. Allah menciptakan di setiap langit bintang yang beredar di samping juga menciptakan bintang-bintang yang bergerak, itulah sifat-sifat seperti hidup, mendengar, melihat, kuasa, iradah, kehendak, mengerti dan berbicara. Semuanya berjalan sampai masa yang ditentukan. Kekuatan tidak akan melewati apa yang telah menjadi kemampuannya, mata tidak akan mampu melihat kecuali apa yang terlihat, demikian hingga ia kembali dengan hina dengan tanpa menemukan setetespun kebocoran. Akal manusia membenarkan itu semua, dibuktikan oleh ufuk yang ada dalam diri manusia, semuanya atas kehendak Yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui.

Inilah perjalanan mahluk-Nya yang membuktikan keagungan-Nya dan mengantarkan kepada terbukanya alam teratas. Mengapa disebut perjalanan yang artinya “terang”, karena ia membuka dan menunjukkan akhlaq seseorang, artinya perjalanan akan menampilkan apa yang dimiliki setiap manusia dari akhlaq yang mulia dan tercela. Maka ketika dikatakan perempuan itu terang mukanya, artinya terbukalah parasnya dan terlihat cantik dan buruknya. Allah berfirman “Demi subuh apabila ia mulai terang” (al-Muddatsir : 34) artinya subuh mulai tampak oleh penglihatan. Orang arab juga mempunyai kebiasaan bila ingin mengetahui apakah perempuan menyimpan aib yang dilakukannya, dari raut mukanya yang memerah atau berubah. Allah berfirman “Dan Allah berkata benar dan Ia menunjukkan jalan yang benar” (al-Ahzab : 4).

Buah-buah Perjalanan

Perjalanan al-Qur’an

Allah berfirman “Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur’an di malam Lailatul Qadar”(al-Qadr:1) “Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur’an di malam yang penuh berkah” (al-Dukhan:3).

Para ahli tafsir mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut bahwa al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia kemudian diturunkan secara bertahap ke dalam hati Muhammad s.a.w. Kejadian ini terus berulang dan tak akan pernah berhenti selama al-Qur’an dibaca, baik secara diam-diam atau terang-terangan. Hakekat Lailatul Qadar bagi hamba Allah adalah kejernihan dan kebersihan, itulah mengapa Allah mensifatinya “pada malam itu dijelaskan segala perkara yang penuh hikmah”.

Demikian halnya nafsu, diciptakan di dalamnya perkara-perkara yang penuh hikmah, dibisikkan kepadanya kedurhakaan dan ketaqwaannya. Hati manusia ibarat langit dunia yang diturunkan kepadanya al-Qur’an secara keseluruhan, lalu perlahan menjadi jelas dan terang tergantung kepada penerimanya. Mereka yang menerima dengan matanya tidak sama dengan mereka yang menerima dengan telinganya. Arti bahwa al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke dalam hatimu, tidak berarti bahwa engkau telah hafal dan merasakannya. Namun artinya bahwa al-Qur’an itu telah kau miliki dan ada pada dirimu, hanya saja kamu tidak mengerti dan tidak menyadarinya. Langit dunia pun demikian, ketika turun kepaanya al-Qur’an, tidak berarti ia menjaga nash-nashnya. Ini permasalahan rohani.

Kemudian bagaimana al-Qur’an turun ke dalam hatimu secara bertahap? Adalah dengan terbukanya tabir yang menyelimuti dan menutupimu. Aku telah menyaksikan itu dalam diriku sendiri dan aku juga telah menyaksikan itu terjadi pada guruku, Abul Abbas al-Uraini dari Andalusia barat yang termasuk orang-orang tinggi dan juga mendengar itu dari banyak orang-orang yang mengikuti jalanku. Mereka menghafalkan al-Qur’an atau ayat-ayatnya dengan tanpa bimbingan guru melalui pengajaran yang biasa kita lihat. Mereka menemukan al-Qur’an dari dalam hatinya, berbicara dengan bahasa al-Qur’an, bahasa Arab seperti yang ada dalam mushaf-mushaf kita, meskipun yang menerimanya orang a’jam (asing yang tidak berbahasa Arab). Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Dhibali bahwa Abu Yazid al-Busthami meninggal setelah menemukan bahwa al-Qur’an muncul di hatinya dengan tanpa dibimbing oleh guru ngaji.

Lantas bagaimana al-Qur’an senantiasa turun dan terus menerus turun ke dalam hati hamba-hamba, adalah karena kejadian itu tidak mungkin terjadi dalam dua masa yang berbeda dan kejadian itu juga tidak mungkin berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukankah hafalan yang dimiliki Zaid tidak mungkin berpindah ke Amir. Ketika telinga mendengarkan suara yang membacakan ayat, maka Allah menurunkan ayat tersebut ke dalam hati pendengarnya agar ia menyadari dan menjaganya. Apabila hati tersebut sibuk, maka sang pembaca pun mengulangi bacaannya dan kembalilah al-Qur’an itu turun. Begitulah al-Qur’an turun secara terus menerus dan abadi. Kalau ada orang yang berkata “Allah telah menurunkan al-Qur’an kepadaku” sesungguhnya ia tidak berbohong, karena al-Qur’an senantiasa melakukan perjalanan ke dalam hati dan sanubari hamba-hamba yang menjaganya.

Mengapa Rasulullah s.a.w. ketika datang Jibril kepadanya membawa al-Qur’an.beliau serta merta membacanya bahkan sebelum wahyu itu selesai? Ini karena kuatnya kemampuan batin beliau, hingga mampu menembus apa yang sedang dibawa Jibril a.s. lalu membacanya dan lisannya tergesa-gesa membacanya sebelum wahyu itu selesai. Tidak ubahnya seperti ketika kamu bicara dari apa yang tiba-tiba terbersit di hatimu. Ini sangat sering terjadi pada kita, namun apa yang terjadi pada Rasulullah tentu lebih tinggi dan lebih cepat dari kita. Meskipun demikian, Allah tetap mengajari beliau dengan tata cara yang terbaik “dan janganlah kamu (Muhammad) tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu”. Allah mengajari beliau bersopan santun kepada Jibril a.s. karena dia lah yang mengajarinya kata-kata yang benar dan indah dengan amal shalih.

Maka sesungguhnya manusia yang sempurna tidak lain adalah al-Qur’an itu sendiri. Ia datang dari dirinya menuju malam yang penuh berkah. Malam itu ghaib dan langit-langit dunia adalah tutup keagungan yang paling rendah, di sana ada penerang dan pembeda, yaitu bintang-bintang. Tergantung hakekat ilahiyah untuk memahaminya. Ia menunjukkan hukum-hukum yang berbeda-beda. Manusia yang memhami itu semua. Bintang-bintang itu senantiasa turun ke dalam hatinya, hingga kemudian menyatu lalu sirnalah dan terbukalah hijab itu, hingga sirnalah ia dari ketentuan “dimana” dan “apa” dan hilanglah keghaiban.

Al-Qur’an yang diturunkan adalah kebenaran, sebagaimana Allah menyebutnya kebenaran, setiap kebenaran adalah hakekat dan hakekat al-Qur’an adalah manusia itu sendiri. A’ishah r.a. pernah ditanyai tentang akhlaq Rasulullah s.a.w, ia berkata “Akhlaq Rasulullah adalah al-Qur’an”. Ulama berkata, sesungguhnya A’isyah mengatakan firman Allah “Sesunggunya kamu (Muhammad) berakhlaq mulia” (al-Qalam:4).

Renungilah perjalanan ini, engkau akan terpuji di ujungnya.

Buah-buah Perjalanan

“Perjalanan melihat Allah”

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesunguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (al-Israa’ :1).

Allah s.w.t. memulai kisah Israa’ dengan tasbih (pensucian) untuk menghilangkan semua keraguan yang muncul dari orang-orang yang meragukan, mempersamakan dan membendakan-Nya. Sebab itu Allah menegaskan dengan ungkapan “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami”.

Allah memperjalankannya semata karena kehendak-Nya, sebagai karunia dan kepedulian-Nya dan itu belum pernah terbersit sebelumnya di hati Rasulullah.

Mengapa perjalanan itu dilakukan pada malam hari? Agar sesuai dengan kekhususan beliau dengan maqam “mahabbah”, kecintaan, karena Allah telah menjadikannya kekasih yang dicintai-Nya. Kemudian ditegaskan dengan kata “malam”, padahal isra’ adalah perjalaan malam agar menepis keraguan dalam hati orang-orang yang ragu bahwa Isra’ hanya dengan ruh beliau atau kemungkinan Isra’ terjadi pada siang hari. Itulah kelebihan al-Quran, meskipun diturunkan dengan bahasa Arab, namun ia teruntukkan semua bahasa.

Malam adalah saat terindah bagi dua pemadu kasih, karena malam mampu menyatukan keduanya. Khalwat atau menyendiri dengan kekasih lebih bermakna di malam hari, agar bisa melihat tanda-tanda ilahiyah dengan cara yang lebih khusus, karena mata tidak akan bisa melihat sesuatu dengan cahaya yang ia pancarkan sendiri, sebab ia akan melihat kegelapan. Kemudian datanglah cahaya yang menjadikannya mampu melihat sesuatu, namun itu bila cahaya tersebut tidak mengalahkan kekuatan cahaya mata. Bila cahaya itu terlalu kuat sehingga mengalahkan cahaya mata, maka mata pun kembali kepada kegelapan karena tidak melihat kecuali cahaya itu, seperti mata yang tidak melihat apapun dalam kegelapan kecuali kegelapan itu sendiri. Mata hanya bisa melihat dengan cahaya yang sedang, sehingga ia bisa melihat cahaya tersebut dan apa-apa yang tersinari oleh cahayanya. Itulah rahasia perjalanan Rasulullah dalam Mi’raj di malam hari, agar nampak olehnya tanda-tanda Kebesaran Allah.

Perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Masjid adalah tempat sujud seseorang, sujud adalah ibadah. Al-Haram maknanya mencegah dan melindungi. Di situ lah tersimpan makna hakiki dari ibadah, yaitu mencegah dan melindungi. Kemudian dijelaskan bahwa perjalanan itu sampai ke Masjidil Aqsha. Al-Aqsha berarti yang terjauh. Dengan demikian yang dimaksudkan adalah Ibadah sampai ke batas terjauh yang merupakan salah satu sifat-sifat ketuhanan. Itulah mengapa Allah memilih nabi-Nya untuk menjalani dua rantang ibadah tersebut, sehingga mengantarkannya memiliki sifat mahluk termulia, dengan ibadah yang menyeluruh yang memberikannya ma’rifat yang sempurna.

Demikianlah, seorang hamba ketika ia diangkat di atas semua yang wujud dan ketika ia dimuliakan, maka dibersihkanlah kehambaannya dari sifat-sifat ketuhanan dan ketuanan. Dan ketika kehambaan seorang hamba diberi sifat-sifat ketuhanan, maka ia telah dipersamakan dengan tuhannya dan pada saat itulah ia akan menemukan kahancurannya. Allah berfirman “Rasakanlah (siksaan itu, wahai orang-orang yang berdosa) bukankah engkau adalah orang-orang yang mulia lagi bijaksana” (al-Dukhan : 49).

Buah-buah Perjalanan

“Perjalanan Melihat Allah” (2)

Allah berfirman “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (Mu’min:25). Demikianlah sifat ketuhanan apabila diterapkan kepada hamba bukan berarti akan menunjukkan kemuliaan dan ketinggiannya, karena di sini terjadi penyamaan dari apa yang semestinya dimiliki oleh hamba berupa memerlukan menjadi apa yang semetinya dimiliki oleh Ilahiyah berupa pemberian.

Demikian apa yang terjadi dalam kisah Isra’, kehambaan yang dimiliki oleh Rasulullah sudah sedemikian sempurna, bahkan telah dinisbatkan kepada Allah, yaitu sebutan “hamba-Nya”, maka hak dari Ketuhanan adalah memberinya imbalan kepadanya dengan megangkatnya menembus keghaiban dari Yang Ghaib. Ketika turun kehambaan Rasulullah s.a.w. hingga ke tingkat hamba yang haqiqi, maka diangkatnya ia ke atas kemuliaan ghaib. Dari sini beliau menyaksikan kebenaran sebagai perseorangan. Cinta akan membangkitkan rasa memiliki, sehingga tidak lagi bisa memberikan. Seorang hamba mungkin mampu memberikan, namun ia telah terbatasi, maka di sana tidak nampak olehnya apapun kecuali nama Dzat yang Maha Gahib itu.

Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah untuk Isra’, maka itu adalah ajakan bercengkerama, karena datang di malam hari. Bercengkerama adalah pembicaraan yang paling tinggi, karena di dalamnya mengandung ungkapan-ungkapan manis, mengandung petuah mengajak kepada kedekatan yang murni.

Tanda-tanda yang disaksikan oleh Rasulullah s.a.w. sebagian nampak di atas ufuk dan sebagian lagi ada dalam dirinya. Allah berfirman “Akan aku tunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri” (Fussilat : 53), “Dan di dalam dirimu (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah) apakah kalian tidak menyaksikannya” (al-Dzariyat:21). Kedekatan (Jibril) kepada Rasulullah s.a.w. sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi (An-Najm:9) merupakan tanda-tanda yang nampak di ufuk yang membuktikan keberadaan maqam hamba dari Tuhannya dan menunjukkan maqam kecintaan (mahabbah) dan kedekatannya kepada Allah, “Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”, inilah maqam bercengkerama dengan Yang Maha Ghaib.

Allah pun menegaskan “Nurani tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-Najm:11). Nurani yang diungkapkan dengan kata “fuad” adalah hati dari hati (qalb). Nurani bisa melihat, demikian hati bisa melihat. Hati bisa melihat mulai dari kebutaan lalu ia menerima kebenaran yang ditunjukkan dan didekatkan kepadanya, sesuai firman-Nya “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada” (al-Hajj: 46). Nurani tidak akan pernah buta karena ia samasekali tidak berhubungan dengan mahluk, ia hanya behubungan dengan Tuhannya, dan dia berhubungan dengan Tuhannya semata melalui jalan ghaib yang paling tinggi, sesuai dengan maqam dan tingkatannya.

Itulah mengapa Allah menegaskan “Nurani tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-Najm:11). Sering mata salah melihat, meskipun ungkapan ini hanya dari orang yang bodoh semata, karena yang salah melihat adalah pengendalinya bukan apa yang dilihat oleh panca indera. Mereka yang berkata mata telah salah lihat karena tidak sesuai dengan hakikat, maka ini berarti membohongi pemilik mata, karena sifat bohong tidak pernah terjadi pada mata.

Hamba yang ada pada kisah Isra’ di atas, adalah hamba yang benar-benar hamba, yang disucikan dalam kehambannya. Begitu juga tentang Yang Maha Ghaib adalah puncak dari keghaiban. Tanda-tanda yang dilihatnya dalam dirinya, merupakan cernaan dari kehambaan hamba terhadap kaghaiban ghaib dengan menggunakan mata nurani, maka tidak ada seorangpun yang melihatnya. Sedangkan tanda-tanda yang ada di ufuk adalah apa yang dilihat oleh Rasulullah s.a.w. pada bintang-bintang, langit, tangga-tangga naik, derikan Qalam, Singgasana dan Sidratul Muntaha. Ini semua menunjukkan bagaimana maqam hamba yang telah dikhususkan oleh Yang Maha Ghaib.

Allah mengingatkan “(Masjidil Aqsha) yang Kami Berkahi apa sekelilingnya”. Allah tidak menyebutkan berkah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha itu sendiri, karena sudah jelas, keduanya merupakan tempat berduyun-duyunnya manusia karena kemuliaannya. Masjidil Haram kepada Masjidil Aqsha ibarat Sorga dan Neraka, “Sorga senantiasa dikelilingi dengan hal yang dibenci” seperti firman Allah: “Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok” (al-‘Ankabut:67). Dan “Neraka senantiasa dikelilingi dengan nafsu syahwat”, seperti firman Allah “Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya”.

Buah dari kisah perjalanan di atas adalah menyaksikan Yang Maha Ghaib. Allah berkata benar dan menunjukkan jalan yang benar.

Wahdat al-Wujud (Wihdatul wujud)

Ibn Al-‘Arabi adalah penganut faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan oleh orientalis. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud.

Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan :

“ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”.

Ia juga menjelaskan :

“Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada RasulNya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari mazahir (fenomena-fenomena) ini. Sedang Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari nama ‘Allah’ yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah yang mengatur gambaran alam seluruhnya dengan Tuhan yang tampil padanya, disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).”

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukanlah Nabi Muhammad sebagai manusianya namun Haqiqat Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Akhlaqnya. Nabi muhammad disebut dengan Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan :

“ketahuilah bahwa yang ada hanya Allah beserta sifatNya, af’alNya maka semuanya adalah Dia, denganNya, dariNya dan kepadaNya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaanNYa dan penglihatanNya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahayaNya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.”.

Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat Muhammadiyah, dan alam muncul dari hakikat tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi mengungkapkan :

“Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”.

Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan :

“Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.”

Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dariNya adalah Dia juga.

Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya :

“wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga tidak benar-benar lain dariNya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah’’.

Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarannNya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Willian dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatanNya sedang ZatNya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oelh Ibn Arabi sebagai berikut :

“Allah nyata ditinjau dari penampakanNya pada cipatanNya dan batin dari segi Zatnya’’.

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.

Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada denganNya”.

Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat :

  1. Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak.
  2. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya (asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlah dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak denganjalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah.
  3. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu.

Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya :

“Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belim benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqun. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.”

Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya :

“Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari ZatNya.”

Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatulwujud tersebut? Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa Zat Allah adalah sumber segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dengan Haqiqat Muhammadiyah (A’yan sabitah, wahdah, tajalliyat wjudiyah sifatiyah) merupakan penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda.

Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat :

Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.”

Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan :

“Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka bayangannya ada padanya.”

Bayangan yang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beraam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi ZatNya dan berbilang dari segi penampakanNya dalam gambaran serta bayanganNya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan :

“sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.’’

Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-Wujudiyah :

“Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalamNya atau bersamaNya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.’’

Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah :

“Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.’’

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaanyang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata.

Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi mengungkapkan :

“Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segal seuatu dan yang bukan sesuatu.’’

Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal danyang kekal dan tampak adalah ZatNya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaanNya yang tiada batas.’’

Di lain bukunya Ibn Arabi mengungkapkan :

“Tidak ada dalam wujud ini selain Allah, kita walupun ada (Maujudun) maka sesungguhnya keberadaan kita denganNya, barang siap yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.’’

Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan sendiriNya dan tidak mengambil keberadaannya dari yagn lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaanyang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain . Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jia sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan? Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam.

Dalam menerangkan wahdatulwujud Ibnu Arabi kadang mengutip kuplet berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif :

  • Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat
  • Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu

Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertaNya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang Ia sebagaimana keadaanNya dahulu’. Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan segalaNya pada sisiNya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah.

Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujid disamping Allah ataupun diataNya atau dibawahNya atau ditengahNya atau didalamNya atau diluarNya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain allah jua adanya.

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah cukup dengan logika namun harus dibuktikan dengan penyaksian sebagaimana pernyataan Ibn Arabi :

“Tauhid adalah penyaksian dan bukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.’’

Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud.

Al-Hirah (Ketakjuban, Kebingungan, Laut Tanpa Pantai, Anggur Keabadian)

AL-Hirah merupakan ketakjuban dan puncak dari pengenalan akan Allah yang dalam hal ini Ibn Arabi menjelaskan :

“Uluhiyyat (ketuhanan) dapat dikatakan karena ia merupakan tawajjuh (kehendak) Zat untuk mewujudkan semua hal yang mungkin, adapun Zat tidaklah dapat dikatakan namaun disaksikan.’’

Hal ini mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut :

Zat Allah Esa dan Tunggal adanya namun tidaksatu makhlukpun dapat mengetahui hakikat Zat tersebut serta segala potensi yang ada pada Zat Allah. Penyaksian akan ZatNya bisa terjadi pada orang tertentu dan penyaksian itu bukanlah meluputi akan keadaan ZatNya. Ol;eh sebab itu tidak bisa dikatakan karena segalanya luluh dan fana ketika penyaksian itu terjadi. Sedangkan Uluhiyat bisa dikatakan karena Ia berhubungan dengan segala yang mungkin. Dalam al-Quran Allah berfirman :

Wayuhazzirukumullahu nafsah.

Artinya: Allah melarang kamu untuk berpikir tentang diri (Zat)Nya. Ali Imran 28.

Pada ayat yang lain, Allah berfirman :

Wamaa qadarullahu haqqa qadrih

Artinya: dan mereka tidak mampu memperkirakan Allah dengan sebenar-benar perkiraan, Al-An’am 91.

Di samping itu Kalimat Allah atau seala yang mewujud karenaNya atau segala yang berasal dariNya tidak terhingga atau tidak terbats, oleh sebab itu tidak ada bats dalam mengenal Allah Swt. Jadi yang diketahui hanya keesaanNya sedang kuasaNya tanpa batas.

Ibn Arabi menjelaskan dalam tafsirnya mengenai ayat terakhir daru surat al-Kahfi :

“Katakanlah jika lautan huyuli (asal keberadaan alam semesta) yang menerima berbagi macam gambar yang mewuudkan segala ilmu Allah dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan segala makna dan hakikat dan roh yang ada pada ZatNya maka air lautan akan habis sebelum habisnya kalimat Allah, karena ia tidak terhingga adanya. Tidak mungkin satu yang terbatas bisa mengibaratkan Yang Tidak Terbatas.’’

Jika dikaitkan dengan dua aspek yaitu tanzih dan tasybih, maka aspek tanzihNya adalah ketidak terbatasan Zat Allah atau Maha SuciNya Ia dari segala ikatan dan keterbatasan. Sedang aspek tasybihNya adalah kalimatNya atau fenomena segala alam ini yang mewujud denganNya. Alam ini sendiri juga tidak terbatas, sebagaimana kalimat Allah tidak terbatas. Jadi puncak pengenalan akan Allah adalah ketidak mampuan untuk mengenalNya dan ketakjban akan keMaha BesaranNya. Sebagaimana Nabi bersabda :

Allahumma la nuhshi tsanaan ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika

Artinya: “Ya Tuhan kami kami tidak mampu menghumpun pujian kepadaMua sebagaimana Engakau memuji diriMu Sendiri.’’

Abu Bakar berkata: “ketidak sanggupan untuk mengenal Allah adalah pengenalan. Oleh sebab itu Abu Talib al-Makki berkata: “tidak mengenal Allah selain Allah.” Nabi Saw juga pernah bersabda: “Rabbi zidni fika tahayyuran” yang artinya : “Wahai Tuhanku tambakanlah kepadaku keta’juban.” Hal ini dita’wilkan oleh Ib Arabi sebagai kesinambunan takalliyat Allah kepada Nabi Saw. Kesinambungan tajalliyat adalah bertambahnya senantiasa ilmu pengenalan akan Allah dan itu tentunya tiada batas.

Nabi Muhammad Saw merupakan jalan petunjuk kepada ketakjubanyang membaw panji pujian kelak dihari kiamat. Beliaulah hamba yang paling mengenal Allah. Oleh sebab itu seorang tidak akan mampau mengenal Allah kecuali melalui jalan atau cermin Muhammad Saw. Ibn Arabi menjelaskan dalam kitab fusus al-Hikam :

“Allah berfirman: “sesungguhnya sahabatmu tidaklah sesat dan salah: an-an’am 2, atau Ia tidak takut dalam keheranannya karena Ia mengetahi bahwa puncak dalam pengenalan akan Allah adalah hirah (ketakjuban). Maka barang siapa yang sampai dalam keadaan ini maka ia telah beroleh petunjuk dan dia adalah yang menunjuki dan menjelaskan dalam penetapan ketakjuban.’’

Ibn Arabi menyebutkan: “ Yang Haq adalah lautan dasarnya adalah azali pantainya adalah abadi.”

” Inilah lautan yang tiada tepi, ia melantunkan syair dalam ketakjuban :

  • Aku terkesima pada Samudera dantap pantai dan Pantai tanpa samudera
  • Pada Cahaya pagi tanpa kegelapan dan Malam tanpa fajar
  • Pada dunia tanpa tempat yang diketahui oleh pagan dan pendeta
  • Pada kubah biri langit, menjulang tinggi dan berputar.
  • Kemahakuasaan adalah pusatNya dan pada bumi yang subur tanpa kubah dan tempat, tersembunyi rahasia.

Tasybih dan Tanzih

Permasalahan Tasybi dan Tanzi juga merupakan polemik dari daulu ingga sekarang. Dalam al ini Ibn Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesecuian Allah dari segala sifat yang baharu) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baharu) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah sperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Al ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baharu.

Dalam kitab Fusus al-Hikam Ia mengatakan:

“Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecualai Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

‘Abd al_raziq al-Qasyani menjelaskan mengenai hal ini bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baharu yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sigat materi, hal ini berarti bahawa setiap seuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sigat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi teriakt denagn suatu sifat dan erbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya. Ibn Arabi juga menjelaskan:

“Tidak ada yang serupa denganNya” potongan ayat ini mengisyaratkan tanzih, dan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” potongan ayat ini mengisyaratkan tasybih.

Abd Karim al-Jily menerangkan mengenai hal ini sebagai berikut:

“Yang mensucikan mengosongkan Tuhan dari segala sifat sehingga dia menghilangkan kuasa Tuhan, yang menyerupakan Tuhan menghiasaiNya dengan sifat yang tak pantas aritnya memakaikan Tuhan dengan sifat selainNya (Mujassimah) sedang yang berada di antara keduanya (tidak mengosongkan dan tidak memakaikan) artinya seorang yang ‘arif yang beada antara tasybih dan tanzih tidak menanggalkan apa yang pantas bagi Allah dan menyifatiNya dengan pakaian atau sifat yang tidak pantas bagiNya. Bahkan ia berkata Allah adalah Yang Lahir dan Yang Batin atau ia menyifati Allah dengan Lahir dan Batin. Aspek Batin merupakan hukum kesempurnaan bagiNya sedang aspek Lahir merupakan nyatanya Ia dalam segala yang ada.”

Ibn Arabi menjelaskan dalam sebuah syair:

   * jika engkau mengatakan dengan tanzih maka engakau membuatNya terikat
   * jika engkau mengatakan dengan tasybih engkau membuatNya terbatas
   * jika engakau katana dengan dua hal tadi maka engkau benar
   * engkau menjadi imam dalam ma’rifat dan menjadi penghulu.

Penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sesuai dengan doktrin ontologisnya tentang wahdatulwujud, yang bertumpu pada perumusan ambiguous:

“Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa) sebagai jawaban atas persoalan apakah alam identik dengan Tuhan. Dalam perumusanini terkadnung dua bagian jawaban:

bagian positif, yaitu ‘Dia’ dan bagian negatif, yaitu ‘bukan Dia’.

Bagian pertama menyatakan bahwa alam identik dengan Tuhan. Bagian terakhir menegaskan aspek tanzih Tuhan. Dapat pula dikatakan bahwa penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sejalan denagn prinsip memadukan segala hal yang bertentangan. Misalnya antara Yang Satu dan yang banyak, Yang Lahir dan Yang Batin. Oleh sebab itu dinaytakan Hakikat Muhammad lah yang menghimpun antar aspek tanzih dan tasybih antara Qran dan Furqan antara Jama’ dan Tafsil.

Ada ungkapan-ungkapan kaum sufi yang mengisyaratkan tasybih yang dikenal dengan syatahat seperti ungkapan Biyazid: “Maha Suci Aku betapa Agung keadaanKu.” Begitu juga imam Junaid: “Tidak ada dalam jubah ini selain Allah.” Al-Hallaj juga berkata: “Ana al-Haq.” Abu Bakar as-Syibli berkata: “Aku adalah titik dibawah Ba.” Perkatan ini semua mengandung tasybih al-Haq dengan yang baharu. Ada sebagian kaum yang mengkafifkan orang yang berkata demikian dan ada yang menta’wilkan. Kaum sufi berkata demikian dalam keadaan iluminasi dan menyaksikan Wajah Yang Satu hingga mereka menyatakan ungkapan syatahat (ungkapanyang janggal dalam keadaan fana). Sedangkan Fir’aun mengatakannya dalam kesadaran penuh akan keberadaan nafsunya dan keberadaan dirinya sebagi Tuhan dan tidak mengaku adanya Allah.

Ini semua berkaitan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Sepanjang sejarah pembicaraan ini taidak pernah habisnya, karena kasus Keesaan Tuhan terus bergulir. Ulama salaf mengimani ayat mutasyabihat dalam batasan tdiak menta’wilkan sebagaimana ungkapan Imam Malik: “Istiwa’ itu diketahui artinya, kaifiyyahnya tidak diketahui,beriman dengannya wajib, bertanya mengenainya bid’ah.” Ulama khalaf menta’wilkannya, ada yang menta’wilkannya dengan berkuasa dan mengatur. Sedang kaum Mu’tazilah mensucikan Tuhandari segala sifat apa lagi sifat yang bahari dengan alsan jika sifat itu qadim maka akan banyaklah yang qadim. Kaum mujassimah menyamakanNya dengan yang baharu dan seterusnya.

Berkaitan dengan muhkamat dan mutasyabihat ini dijelaskan dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 7:

Huwal lazi anzala…..

Artinya: Dialah yang menurunkan al-Quran kepadamu diantaranya ada yang muhkamat itulah ummul kitab (induk kiab) dan yang lainnya mutasyabihat.”

Jadi ayat yang muhkamat mewakili aspek tanzih sedang yang mutasyabihat mewakili aspek tasybih. Mengenai ayat ini Ibn Arabi menafsirkan ayat muhkamat adalah yang mengandung makna yang satu yang merupakan asal kitab dan tidak dimasuki penyerupaan dengan yang baharu, sedang yang lain mutasyabihat. Mutasyabihat ini yang mungkin memiliki dua makna atau lebih atas samr di situ antara yang haq dan yang batil, hal ini dikarenakan bahwa Allah memiliki Wajah Yang Esa dan Kekal setelah fananya makhluk yang tidak mengandung pluralitas dan keterbilangan disamping itu Allah juga memiliki wajah-wajah yang banyak sesuai dengan cermin-cermin penampakanNya berdasarkan potensi penampakanNya dan seluruhnya bersumber dari Wajah Yang Satu tadi. Pada wajah yang banyak inilah samar antara Haq dan yang batil maka turunlah ayat al-Quran agar ayat-ayat mutasyabihat diletakkan pada wajah-wajah yang sesuai dengan potensinya hingga setiap sesuatu berkaitan dengan yang lain sesuai dengan kesiapannya. Maka dari sinilah timbul ujian dan cobaan. Adapun orang ‘arif yang muhaqqa yang mengenal Wajah Yang Kekal dalam berbagai gambaran dan bentuk mengenal wajah tersebut dari wajah-wajah yang mustasyabihat maka ia mengembalikannya kepada muhkamat melaksanakan perkataan penyair:

“Sungguh Wajah hanyalah Satu Namun jika engkau perbanyak cermin Ia menjadi terbilang.”

Adapun orang yang terhijab (atau orang yang bengkok hatinya) dari kebenaran maka dia akam mengikuti yang mutasyabihat karena ia terhijab dari Yang Satu oleh yang banyak dan memilih keyakinan sesuai dengan seleranya untuk menyebarkan fitnah.

Jalan untuk mengenal yang muhkamat dan mutasyabihat adalah lewat cermin Muhammad Saw mengikuti ajarannya dengan memasrahkan pengetahun mengenai hal tersebut kepada Allah agar Allah membukakan kepad akita dan mengenalkan diriNya kepada kita. Hal ini yang dijelaskan oleh Ibn Arabi dalam kitabya Fusus al-Hikam dalam Fas Nuh As:

“Ketahuilah bahwa Allah menuntut dari hambanya untuk mengenalNya sebagaimana yang telah diterangkan oleh Lisan segala syariat dalam menyifatiNya, maka akal tidaklah boleh melampauiNya sebelum datangnya syariat, ilmu mengenaiNya pensucian dari sifat-sifat baharu, jadi seorang ‘arif adalah orang yang memiliki dua pengenalan tentang Allah: pengenalan sebelum datangnya syariat dan pengenalan yang ia peroleh dari syara’, akan tetapi syaratnya hendaklah ia menyerahkan ilmu tersebut kepada Allah, jika Allah menyingkapkan baginya tentang ilmu itu maka hal itu merupakan anugrah dari pintu pemberian Zat Allah.”

Kesimpulannya Allah Mutlak dengan keterbatasanNya dan Terbatas dengan kemutlakanNya. Dalam kata lain Allah Mutlak dari segi ZatNya Yang Maha Suci dari seala sifat dan terbatas dalam kemutlakan dengan nama-nama, sifat-sifat, af’al, dan mazahir kauniyah (fenomena-fenomena alam) yang merupakan tajalliyatNya yang tak terhingga. Jadi penampakanNya itu sendiri tidak terbatas, karena kalimatNya tidak pernah habis. Inilah yang disebut sebagai lautan yang tak bertepi.Dialah Yang Maha Esa dalam banyak rupa dan rupa yang banyak adalah pada hakikatnya wajah-wajah dari Zat Yang Esa. Yang banyak adalah tiada dan yang ada hanya Zat yang Esa. Dialah jami’ atau penghimpun segalanya dan fariq yang membedakan segalanya dalam berbagai rupa. Aspek JamalNya (keindahan) mewakili tasybih dan aspek JalalNya (keagungan) mewakili tanzih keduanya mewujudkan Kamal (kesempurnaan) bagi ZatNya. Namun keseluruhannya itu menunjukkan kemutlakan yang tak terhingga.

Di atas semua itu pengenalan akan Allah adalah ketidak tahuan. Kelemahan untuk mengenalNya adalah pengenalan. Mengutip perkataan Abu Talib al-Makki: “Tiada ada yang mampu mengenal, tidak ada yang setara denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat” kecuali “Tidak ada yang setara denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Pasulukan Loka Gandasasmita

Widaksana Natasasmita

Bijaksana dan waspada dalam memandang permasalahan

MUTIARA HIKMAH
IBNU ARABI :

Buah-buah Perjalanan


Bismillahirrahmanirrahiim. Segala puji bagi Allah Yang bersinggasana di atas mega “Arsy”, setelah Ia ciptakan bumi dan langit-Nya. Yang telah menurunkan al-Qur’an di malam Lailatul Qadar, malam yang diberkahi, ke langit dunia secara keseluruhan dengan surah-surah dan ayat-ayatnya. Ia telah menjalankan kendaraan melewati tempat-tempat pengumpulan dan pemilihan, Ia jadikan itu sebagai ketentuan-Nya yang terpuji. Ia telah menjalankan hamba-Nya Muhammad, di waktu malam, dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit untuk menunjukkan sebagian dari ayat-ayat-Nya.


Ia telah menurunkan Adam ke bumi cobaan-Nya setelah Ia mengeluarkannya dari sorga kenikmatan dan kesenangan-Nya. Ia telah mengangkat Idris a.s. dari dunia nyata hingga Ia menurunkannya di tempat yang mulia dan tinggi derajatnya. Ia telah membawa Nuh a.s. melewati gelombang badai topan-Nya di atas bahtera keselamatan-Nya. Ia telah membawa Ibrahim a.s. kepada hidayah dan karamah-Nya. Ia telah memisahkan Yusuf a.s. dari orang tuanya, kemudian ia menyusulkan orang tuanya kepadanya demi membenarkan bahwa mimpi yang pernah dilihatnya adalah pemberian-Nya yang terindah.


Ia telah menjalankan Luth dan keluarganya untuk Ia selamatkan dari azab dan siksaan-Nya. Ia percepat perjalanan Musa a.s. dari kaum-kaumnya untuk menghadap Tuhannya, kemudian Ia berikan kepadanya cahaya berupa api untuk memenuhi kebutuhannya. Musa datang kepada-Nya, mendekati-Nya dalam bermunajat. Ia telah mengeluarkan Musa dari kaumnya demi risalah-Nya. Ia telah menjalankan kaum Musa untuk menenggelamkan mereka yang menentang Tuhan dengan kesesatan mereka. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa sampai kepada batas pengetahuan hingga bertemu dangan orang yang mendapatkan ilmu da karunia-Nya. Lalu Ia melanjutkan perjalanan Musa yang menghantarkannya kepada kekhususan dan kemampuan dalam memberikan keputusan yang diberikan Allah kepadanya. Ia telah membawa Musa kecil dalam keranjang menelusuri sungai-sungai kehancuran.


Ia telah mengangkat Isa kepada-Nya padahal ia adalah kalimat dari kalimat Allah. Ia menjalankan Yunus a.s. dengan kemarahannya memuncak hingga tersesat dalam perut Ikan yang gelap gulita. Ia telah memuliakan Thalut dengan bala tentaranya termasuk Daud a.s. untuk melewati sungai cobaan agar mereka bisa meneguk seteguk air-Nya. Ia telah menyalakan ufuk di tangan Dzul Qarnain untuk menciptakan pagar pemisah antara hamba Allah yang taat dan durhaka.


Kemudian Ia telah menurunkan Jibril di hati setiap nabi-nabiNya dan Ia mengangkat kalimah tauhid melalui amal-amal shalih dan memuliakan pemiliknya dengan melihat Dzat-Nya.


Shalawat serta salam senantiasa terkirim kepada Muhammad, sebaik-baik orang yang mengenakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Keselamatan untuknya serta untuk keluarga, sahabat-sahabat, isteri-isteri dan anak-anaknya.


*************************************************************

Kutipan di atas adalah pembukaan dari kitab “al-Isfar ‘an-Nataijil Asfar” (“Buah-buah perjalanan”). Kitab tersebut merupakan renungan-renungan tasawuf atas beragam perjalanan yang dialami oleh mahluk Allah, ditulis oleh seorang ulama besar Muhyiddin ibn al-Arabi, terkenal dengan nama “Ibnu Arabi”. Beliau merupakan salah satu ulama Andalusia, lahir tahun 560 H/1165M di kota Marsiah wilayah timur Andalus dan meninggal tahun 638H/1240M di Damaskus. Pengembaraannya dalam mencari ilmu dan mendalami ilmu tasawuf telah membuahkan berbagai karya-karya monumental. Kajiannya yang begitu mendalam dalam karya-karyanya telah menimbulkan banyak kritik dan pujian. Banyak yang menuduhnya menyeleweng dengan konsep “wihdatul wujud” (kesatuan wujud), namun bagi yang telah mendalami dan memahami karya-karyanya akan menemukan bahwa sebenarnya dalam karya beliau penuh berisi untaian mutiara-mutiara hikmah ketuhanan yang maha tinggi dan petuah-petuah ketauhidan yang maha dalam.

Buah-buah Perjalanan


Terdapat tiga jenis perjalanan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, yaitu perjalanan dari Allah, perjalanan kepada-Nya dan perjalanan bersama-Nya. Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah, keuntungan yang akan didapatkannya adalah sebatas apa yang diperolehnya dalam perjalanan tersebut. Mereka yang melakukan perjalanan bersama Allah, tidak akan mendapatkan keuntungan kecuali apa yang ada dalam dirinya. Kedua perjalanan ini pasti mempunyai tujuan dan memerlukan ayunan langkah untuk mencapainya, kecuali perjalanan orang yang sesat yang tidak mempunyai tujuan yang pasti.


Jalan yang dilalui seorang musafir adalah darat dan laut. Allah berfirman “Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan lautan” (Yunus : 22). Allah mendahulukan kata “darat” sebelum “laut” menujukkan bahwa seorang musfir tidak akan bepergian melewati laut kecuali terpaksa. Umar bin Khattab pernah mencela : “Seandainya tidak ada ayat ini, tentu aku akan melarang orang bepergian melewati laut”.


Seandainya ayat yang menganjurkan bepergian hanya sabda Allah “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan ni’mat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sesungguhnya dari itu semua (apa yang kalian lihat) adalah tanda-tanda bagi mereka yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (Luqman : 31), tentu ayat (surah Yunus) di atas juga cukup menjadi jawabannya.


Setiap perjalanan pasti akan melewati bahaya, kecuali perjalanan yang ditanggung oleh Allah, seperti perjalanan Isra’. Orang yang diperjalankan atau diajak berpergian oleh Allah pasti akan selamat, sementara orang yang berpergian sendiri pasti akan melewati mara bahaya.


Karena “wujud” sumbernya adalah “gerak”, maka demikian halnya Allah tidak akan terselimuti oleh sifat diam dan berhenti, karena itu mencerminkan ketidak-adaan (hampa). Demikian lah perjalanan ini selalu terjadi di alam langit (atas) dan alam bumi (bawah). Hakekat ilahiyah juga demikian, selalu diwarnai perjalanan pergi dan perjalanan pulang. Kita tahu bahwa Allah turun ke langit dunia dan kita tahu bahwa Allah bersinggasana di atas langit, seperti yang diceritakan oleh ayat-ayat-Nya. Kita tahu itu dengan tanpa perumpamaan dan persamaan.

Buah-buah Perjalanan


Alam langit selalu diwarnai dengan perputaran bersama-sama dengan apa yang terkandung di dalamnya. Ia tidak pernah berhenti dan diam. Seandainya ia diam niscaya alam semesta ini hancur dan sirna. Perputaran bintang-bintang di angkasa merupakan perjalanan mereka, seperti dijelaskan oleh al-Qur’an “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempatnya” (Yaseen :39). Bergeraknya empat arah angin, bergeraknya janin-janin dalam setiap detik dengan perubahan dan perpindahan pada setiap nafas, perjalanan fikiran antara hal terpuji dan tercela, perjalanan nafas yang dihembuskan oleh mereka yang bernafas, perjalanan mata antara bangun dan terpejam, perjalanan pandangan dari satu dunia ke dunia yang lainnya dengan pengamatan dan I’tibar, semuanya adalah perjalanan yang dicerna oleh akal manusia.


Ada yang berkata bahwa dunia fisik ini sejak diciptakan oleh Allah senantiasa dalam perjalanan (proses) yang menempati ruang dan tak pernah berhenti. Maka sebenarnya kita semua senantiasa dalam perjalanan itu, sejak kelahiran kita, kelahiran nenek moyang kita sampai masa yang tak berujung. Ketika kamu merasa sampai di satu tujuan kemudian kamu berkata: “Inilah sebenarnya tujuanku”, tiba-tiba terbuka untukmu jalan-jalan yang lain dan jalan itu terus bertambah, lalu kamu pun meninggalkan tempat itu. Tidak ada satu pun tempat dimana kamu sampai kepadanya, meskipun kamu telah berucap “Inilah tujuanku”, pasti sejenak setelah itu kamu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan yang lain.


Betapa banyak kamu berjalan melewat tingkat-tingkat kejadian dalam dirimu, mulai dari darah yang mengalir di tubuh bapak dan ibumu, kemudian darah itu berkumpul membentukmu entah dengan atau tanpa kesengajaan mereka. Kamu pun berubah menjadi mani (sperma), lalu berubah menjadi segumpal darah, lalu kamu melewati itu dan berubah menjadi segumpal daging, lalu tulang yang kemudian terbungkus daging, lalu ditumbuhkan sekali lagi dan dikeluarkanlah kamu ke dunia.


Lalu kamu pun melewati masa bayi, ke masa kanak-kanak lalu ke masa remaja dan dewasa, lalu ke masa tua dan pikun, inilah masa yang paling hina dari umurmu. Dari situ kamu pun pergi ke alam barzakh, setelah itu kamu akan melewatinya menuju hari kebangkitan. Kamu pun akan melewati jembatan (shirat) yang akan menghantarkanmu ke sorga atau ke neraka, bila kamu memang penduduknya. Namun apabila kamu bukan penduduk neraka, kamu masih akan melewati perjalanan neraka menuju sorga dan dari sorga ke tempat melihat Allah dan begitulah selamanya, kamu akan mondar-mandir dari sorga ke tempat melihat Allah.


Mereka yang di neraka juga terus mengalami perjalanan, naik dan turun silih berganti seperti sepotong daging yang direbus di dalam periuk di atas api yang membara “Setiap kali kulit mereka terkelupas, Aku gantikan dengan kulit yang baru agar mereka merasakan pedihnya siksaan-Ku” (An-Nisaa :56).


Tidak ada yang diam dan berhenti di alam ini. Siang dan malam, dunia ini senantiasa diwarnai dengan gerak dan perubahan yang silih berganti. Fikiran, perilaku dan sifat juga demikian, senantiasa berubah silih berganti bersama perubahan siang dan malam dan bersama silih bergantinya hakekat ilahiyah di atas semuanya. Hakekat ilahiyah terkadang turun dengan nama-Nya Yang penuh kasih sayang, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha menerima taubat, Maha Memaafkan, terkadang dengan nama-Nya Yang Maha Memberi rizqi, Maha Mengkaruniai dan terkadang turun dengan nama-Nya Yang Maha Membalas dan dengan semua nama-nama Ilahiyah-Nya.

Hakekat ilahiyah tersebut terkadang turun kepadamu dari keagungan-Nya dengan karunia, rizqi, dendam, taubat, ampunan dan kasih sayang. Ia turun kepadamu atas permohonan dan ia turun dari-Nya atas karunia.


Dari situ seorang hamba hendaknya berfikir, agar menyelami perbedaan antara perjalanan yang ia diperintah untuk mempersiapkannya, perjalanan yang di dalamnya penuh dengan kabahagiaan, yaitu perjalanan kepada-Nya, bersama-Nya dan dari-Nya. Semua perjalanan ini telah disyariatkan kepadanya. Dan antara perjalanan yang tidak diperintahkan untuk mempersiapkannya, seperti mengayunkan kaki di atas bumi ke jalan yang halal, perjalanan dagang untuk melipatgandakan harta dan menyimpannya, dan seperti perjalanan nafas keluar dan masuk. Ini merupakan kabutuhan bagi pertumbuhannya.


Kita berdoa kepada Allah agar dikaruniai akhir yang penuh bahagia dan kesehatan yang sempurna.

Buah-buah Perjalanan


Mereka yang melakukan perjalanan dari Allah terdapat tiga golongan. Pertama : mereka yang dicampakkan, yaitu iblis dan orang-orang yang menyekutukan Allah. Kedua : mereka yang tidak ditolak dan tidak dicampakkan, namun penuh dengan kebimbangan dan keraguan, inilah orang-orang yang bergelimang maksiat, karena mereka tidak mampu singgah dalam keramaian dengan menentang rasa malu yang menguasainya. Dan ketiga adalah perjalanan ujian dan pemilihan, seperti perjalanan para utusan Allah dari-Nya kepada makhluq dan perjalanan kembali para pewaris dan ahli makrifat dari pengembaraannya menyaksikan dunia nafsu dalam kekuasaan, pemerintahan, tipu daya dan rekayasa.


Orang-orang yang berpergian menuju Allah juga terdapat tiga golongan. Pertama : mereka yang menyekutukan Allah, mem-benda-kan-Nya, menyerupakan-Nya dengan mahluk dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya. Allah telah menegaskan “Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya” (al-Syuura:11). Mereka ini hanya akan sampai kepada hijab yang menutupinya dari rahmat-Nya. Kedua adalah mereka yang mensucikan Allah dari segala hal yang tidak layak dan mustahil untuk-Nya, dari apa-apa yang mutasyabihat yang datang dalam kitab-Nya, lalu ia berkata “Allah Maha Mengetahui dari apa yang ada dalam kitab-Nya”. Meskipun mereka tidak menyekutukan Allah, namun mereka masih melalui penyimpangan. Mereka ini akan sampai kepada ketercelaan, meskipun tidak sampai kepada hijab atau ketertutupan dan siksaan yang abadi. Ibaratnya apa yang didapatkan orang-orang yang memberi santunan, berdiri di depan pintu, lalu orang-orang menempatkannya di tempat mulia, namun ia dicela karena tidak memberikan penghormatan. Ketiga adalah perjalanan orang-orang yang dijaga dan dilindungi, diperhatikan dan disertai dengan petunjuk jalan. Mereka ditakuti manusia namun mereka tidak pernah takut, disedihkan manusia namun mereka tidak pernah sedih, karena sebenarnya mereka telah meninggalkan ketakutan dan kesedihan itu. Orang yang telah meninggalkan sesuatu tidak mungkin ia ada di dalamnya. “Mereka tidak disedihkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. Malaikat berkata ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu'” (al-Anbiya’:103). Itulah kebahagian mereka di akherat. Mereka pergi ke sana.

Sedangkan orang-orang yang pergi bersama Allah, atau mendalami Allah terdapat dua golongan. Golongan pertama ialah mereka yang pergi dengan pemikirannya dan menyelam dengan akalnya lalu mereka tersesat dan pasti akan tersesat, karena mereka berkeyakinan bahwa tidak ada penunjuk jalan kecuali akal dan fikirannya. Itulah para filosuf dan orang-orang yang mengikuti jalannya.


Golongan kedua adalah mereka yang diantarkan kepada-Nya, yaitu para utusan, nabi Allah dan orang-orang yang terpilih dari para wali-Nya, seperti Sahl bin Abdullah, Abu Yazid, Farqad As-sabkhi, Junaid bin Muhammad, Hasan Basri dan para ulama terkenal di zaman kita ini.


Akan tetapi kalau diamati, zaman kita bukanlah seperti zaman-zaman yang lalu (zaman Rasulullah) karena dekatnya zaman kita dengan alam akhirat, maka tabir-tabir rahasia banyak terkuak pada masa ini, lapisan-lapisan ruh mulai jelas dan nampak. Ulama pada masa kita lebih cepat membuka tabir (ilmu ghaib), lebih banyak mencapai kesaksian, lebih luas makrifat dan lebih sempurna dalam hakekat, namun lebih sedikit dalam amalnya dibandingkan dengan ulama zaman dulu. Mereka dulu banyak amalnya meskipun lebih sedikit kashf-nya (terbuka ke alam ghaib) dibandingkan kita. Itu karena kita jauh dari zaman sahabat yang menyaksikan langsung nabi Muhammad s.a.w. dan turunnya ruh-ruh kepadanya di tengah-tengah mereka. Mereka yang menerima cahaya pada masa itu sangat sedikit seperti Abu Bakar siddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib r.a. dan para ulama sepadannya. Amal pada masa lalu lebih banyak dilakukan dan ilmu pada masa sekarang lebih banyak didapatkan, dan ini terus bertambah hingga pada saat turunnya Isa a.s. Satu rakaat dari kita sekarang ini nilainya seperti ibadah satu orang orang pada masa lalu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. “Bagi orang yang beramal diantara mereka (pada masa dimana kebencian menjadi panutan, nafsu menjadi guru, harta menjadi penentu dan orang-orang bangga dengan pendapatnya sendiri-sendiri) pahalanya seperti pahala limapuluh orang yang beramal seperti amalan (pada zamanmu) sekalian” (Tirmizi, Ibnu Majah).


Alangkah indahnya perumpamaan itu dan alangkah halusnya isyarat yang diberikan Rasulullah s.a.w. Ini karena kedekatan kita dengan zaman akhir dan mulai nampaknya hukum-hukum dunia barzakh. Tidakkah kamu ingat perkataan Rasulullah: “Tidak akan datang hari kiamat sehingga paha seseorang berbicara tentang apa yang diperbuat si tuannya dan ujung cemeti (menceritakan apa yang dilakukan pemiliknya) dan pohon-pohon memberi tahu: ‘Ini ada orang yahudi yang bersembunyi di belakangku, bunuhlah ia'”.


Ini semua terjadi di dunia, tidak lain karena mulai nampaknya perkara akhirat yang merupakan alam kehidupan. Sesungguhnya ilmu (hikmah) ini mulanya satu lalu menyebar dan ini memerlukan pembawa dan penyebarnya. Semakin banyak yang menyebarkannya, karena ini ilmu yang dimiliki orang-orang salih, maka ia pun terbagi. Itulah mengapa pada masa awal, sedikit orang yang mendapatkannya, dan mereka yang mendapatkannya pun tidak tampak dan tidak terlihat, karena ilmu tersebut menyebar di antara mereka.


Semakin sedikit orang-orang yang membawa ilmu tersebut, karena kerusakan yang telah merajalela di antara mereka, semakin banyak mereka bisa mendapatnya, karena bagian yang seharusnya menjadi milik orang-orang fasik diberikan juga kepada mereka. Itulah mengapa orng-orang salih pada masa akhir banyak bisa mendapatkan ilmu, kasyf dan terbukanya tabir (ghaib). Mereka yang dikaruniai ilmu ini pun akan terlihat dan nampak karena ilmu tersebut menonjolkannya dikarenakan banyaknya. Maha suci Dzat yang telah memberikan semuanya.


Amal mereka yang hidup di akhir zaman tetap senilai bila ditimbang dengan amal para pandahulunya, karena mereka mengikuti jalan pendahulunya. Ini karena timbangan yang ada adalah amal dan bukan ilmu kepada Allah, dan ilmu kepada Allah akan mempunyai nilai tersendiri “Itulah karunia Allah yang diberikannya kepada orang yang Ia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang agung” (al-Hadid: 21).

Buah-buah Perjalanan


Allah berfirman “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, Dia berkata kepadanya dan kepada bumi :”Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”, keduanya menjawab :”Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Fussilat : 11-12).

Allah juga berfirman :“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”. (al-Anbiya : 30)


Kata “kemudian” mengisyaratkan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah melewati tenggang waktu penciptaan bumi dan kekuatan-kekuatannya selama empat masa, yaitu dua masa untuk penciptaan zat dan fisik bumi, satu masa untuk kelahirnya yang kasat mata dan satu masa untuk isi dan rahasia-rahasianya, atau dua masa untuk memberikannya kekuatan ghaib dan dua masa untuk memberinya kekuatan lahir.


Lalu terjadilah perjalanan suci Allah dalam menyatukan langit dan menciptakannya. “Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya”. Lalu diberikannya kepada langit apa yang diperlukannya untuk perubahan, dari susunan, unsur-usurnya, pergantian dan perubahannya dan perpindahannya dari satu bentuk ke bentuk lainnya, inilah ketentuan ilahi terhadap langit-langit dalam firman-Nya : “Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya”, yaitu mengenai sisi rohaniahnya, lalu ditampilkannya pergerakan dalam bentuk orbit di atas angkasa untuk membentuk satu susunan sesuai dengan pola peredarannya. Ketika Allah meyatukan langit dari ketercerai-beraiannya lalu berputar, ia tembus pandang sehingga tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya, maka kita bisa melihat dengan mata kita gemerlapnya lampu-lampu bintang yang berada di langit ke delapan seakan-akan menghiasi langit dunia ini, Allah berfirman : “Dan Kami hiasi langit yang dekat (dunia) dengan bintang-bintang yang cemerlang”. Hiasan untuk sesuatu, tidak selalu berada di dalamnya.


Adapun maksud dari “pemeliharaan Allah” ialah dengan lemparan batu di atas angkasa untuk menghancurkan mereka dari golongan setan yang hendak mencuri pendengaran, maka Allah memberikan untuk mereka batu yang meluncur, yaitu bintang yang mempunyai ekor, membelah angkasa hingga jatuh ke langit dunia. Meskipun demikian tidak sedikitpun terlihat keretakan hingga menyebabkan kebocoran langit-langit tersebut, demikian hingga mereka kembali dengan hina dan lelah.


Kemudian Allah menciptakan di setiap langit dari ketujuh langit tersebut, bintang-bintang yang senantiasa beredar “Semuanya beredar sesuai dengan garis edarnya” (al-Anbiya:33). Demikianlah sebenarnya kegiatan angkasa tidak lain pergerakan bintang-bintang bukan pergerakan langit-langit. Pergerakan-pergerakan tersebut terlihat meskipun berada di langit tertinggi, Allah berfirman “Dan aku hiasi langit dunia”, karena mata manusia tidak akan mampu melihat kecuali apa yang ada di langit dunia, itulah mengapa Allah mengungkapkannya dengan kata “menghiasi” tidak dengan kata “menciptakan”. Perhiasan tidak selalu merupakan bagian dari sesuatu yang dihiasinya, bala tentara dan kuda merupakan perhiasan kekuasaan namun keduanya berdiri sendiri.


Begitu pula lah, ketika telah sempurna bangunan manusia dan ia mampu berdiri tegak dan Allah telah Menghembuskan keagungan maka terjadilah sebutan untuknya sebagai manusia karena kesempurnaannya dalam menerima rahasia ilahi yang tidak pernah diterima oleh mahluk lainnya. Di sinilah mengapa manusia berhak menempati dua maqam, yaitu maqam “syurah” (simbol) dan maqam “khilafah” (kekuasaan).


Demikian pula, ketika telah sempurna tubuh (manusia yang laksana) bumi, dan telah diberikan kepadanya kekuatan khusus sebagai mahluk yang tumbuh, seperti kekuatan menarik, mencerna, menahan, menolak, tumbuh, menghidupi dan telah disatukan untuknya ketujuh lapisan tubuhnya, yaitu kulit, daging, lemak, keringat, persendian, otot dan tulang, maka naiklah rahasia ilahi yang mengalir di dalamnya melalui sela-sela rohaniahnya menuju alam yang lebih tinggi di atas badaniyahnya, mirip kabut yang naik menembus tujuh langit, yaitu langit dunia yang penuh bintang-bintang dan lampu-lampu seperti kedua mata, kemudian langit hayalan, langit fikiran, langit akal, langit kenangan dan zikir, langit ingatan dan langit keraguan.


Ketika Allah mewahyukan kepada setiap langit urusannya, maksudnya adalah memberikan kepada mata kemampuan melihat sesuatu, kita tidak mampu membahas kaifiyahnya, bagaimana itu terjadi. Kita memahaminya, namun pemahaman kita tidak mampu menghilangkan perbedaan Allah dari alam yang kita lihat, dari khayalan kemustahilan dan dari apa yang mampu dibuat oleh akal kita. Demikian di setiap langit ada yang menyerupainya yang sejenisnya dan penghuni setiap langit tercipta darinya. Mereka terpengaurh kepada keadaan dari tempat ia berada. Allah menciptakan di setiap langit bintang yang beredar di samping juga menciptakan bintang-bintang yang bergerak, itulah sifat-sifat seperti hidup, mendengar, melihat, kuasa, iradah, kehendak, mengerti dan berbicara. Semuanya berjalan sampai masa yang ditentukan. Kekuatan tidak akan melewati apa yang telah menjadi kemampuannya, mata tidak akan mampu melihat kecuali apa yang terlihat, demikian hingga ia kembali dengan hina dengan tanpa menemukan setetespun kebocoran. Akal manusia membenarkan itu semua, dibuktikan oleh ufuk yang ada dalam diri manusia, semuanya atas kehendak Yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui.


Inilah perjalanan mahluk-Nya yang membuktikan keagungan-Nya dan mengantarkan kepada terbukanya alam teratas. Mengapa disebut perjalanan yang artinya “terang”, karena ia membuka dan menunjukkan akhlaq seseorang, artinya perjalanan akan menampilkan apa yang dimiliki setiap manusia dari akhlaq yang mulia dan tercela. Maka ketika dikatakan perempuan itu terang mukanya, artinya terbukalah parasnya dan terlihat cantik dan buruknya. Allah berfirman “Demi subuh apabila ia mulai terang” (al-Muddatsir : 34) artinya subuh mulai tampak oleh penglihatan. Orang arab juga mempunyai kebiasaan bila ingin mengetahui apakah perempuan menyimpan aib yang dilakukannya, dari raut mukanya yang memerah atau berubah. Allah berfirman “Dan Allah berkata benar dan Ia menunjukkan jalan yang benar” (al-Ahzab : 4).@@@

Buah-buah Perjalanan


Perjalanan al-Qur’an


Allah berfirman “Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur’an di malam Lailatul Qadar”(al-Qadr:1) “Sesungguhnya Aku telah turunkan al-Qur’an di malam yang penuh berkah” (al-Dukhan:3).


Para ahli tafsir mengatakan bahwa maksud dari ayat tersebut bahwa al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia kemudian diturunkan secara bertahap ke dalam hati Muhammad s.a.w. Kejadian ini terus berulang dan tak akan pernah berhenti selama al-Qur’an dibaca, baik secara diam-diam atau terang-terangan. Hakekat Lailatul Qadar bagi hamba Allah adalah kejernihan dan kebersihan, itulah mengapa Allah mensifatinya “pada malam itu dijelaskan segala perkara yang penuh hikmah”.


Demikian halnya nafsu, diciptakan di dalamnya perkara-perkara yang penuh hikmah, dibisikkan kepadanya kedurhakaan dan ketaqwaannya. Hati manusia ibarat langit dunia yang diturunkan kepadanya al-Qur’an secara keseluruhan, lalu perlahan menjadi jelas dan terang tergantung kepada penerimanya. Mereka yang menerima dengan matanya tidak sama dengan mereka yang menerima dengan telinganya. Arti bahwa al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke dalam hatimu, tidak berarti bahwa engkau telah hafal dan merasakannya. Namun artinya bahwa al-Qur’an itu telah kau miliki dan ada pada dirimu, hanya saja kamu tidak mengerti dan tidak menyadarinya. Langit dunia pun demikian, ketika turun kepaanya al-Qur’an, tidak berarti ia menjaga nash-nashnya. Ini permasalahan rohani.


Kemudian bagaimana al-Qur’an turun ke dalam hatimu secara bertahap? Adalah dengan terbukanya tabir yang menyelimuti dan menutupimu. Aku telah menyaksikan itu dalam diriku sendiri dan aku juga telah menyaksikan itu terjadi pada guruku, Abul Abbas al-Uraini dari Andalusia barat yang termasuk orang-orang tinggi dan juga mendengar itu dari banyak orang-orang yang mengikuti jalanku. Mereka menghafalkan al-Qur’an atau ayat-ayatnya dengan tanpa bimbingan guru melalui pengajaran yang biasa kita lihat. Mereka menemukan al-Qur’an dari dalam hatinya, berbicara dengan bahasa al-Qur’an, bahasa Arab seperti yang ada dalam mushaf-mushaf kita, meskipun yang menerimanya orang a’jam (asing yang tidak berbahasa Arab). Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Dhibali bahwa Abu Yazid al-Busthami meninggal setelah menemukan bahwa al-Qur’an muncul di hatinya dengan tanpa dibimbing oleh guru ngaji.


Lantas bagaimana al-Qur’an senantiasa turun dan terus menerus turun ke dalam hati hamba-hamba, adalah karena kejadian itu tidak mungkin terjadi dalam dua masa yang berbeda dan kejadian itu juga tidak mungkin berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukankah hafalan yang dimiliki Zaid tidak mungkin berpindah ke Amir. Ketika telinga mendengarkan suara yang membacakan ayat, maka Allah menurunkan ayat tersebut ke dalam hati pendengarnya agar ia menyadari dan menjaganya. Apabila hati tersebut sibuk, maka sang pembaca pun mengulangi bacaannya dan kembalilah al-Qur’an itu turun. Begitulah al-Qur’an turun secara terus menerus dan abadi. Kalau ada orang yang berkata “Allah telah menurunkan al-Qur’an kepadaku” sesungguhnya ia tidak berbohong, karena al-Qur’an senantiasa melakukan perjalanan ke dalam hati dan sanubari hamba-hamba yang menjaganya.

Mengapa Rasulullah s.a.w. ketika datang Jibril kepadanya membawa al-Qur’an.beliau serta merta membacanya bahkan sebelum wahyu itu selesai? Ini karena kuatnya kemampuan batin beliau, hingga mampu menembus apa yang sedang dibawa Jibril a.s. lalu membacanya dan lisannya tergesa-gesa membacanya sebelum wahyu itu selesai. Tidak ubahnya seperti ketika kamu bicara dari apa yang tiba-tiba terbersit di hatimu. Ini sangat sering terjadi pada kita, namun apa yang terjadi pada Rasulullah tentu lebih tinggi dan lebih cepat dari kita. Meskipun demikian, Allah tetap mengajari beliau dengan tata cara yang terbaik “dan janganlah kamu (Muhammad) tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu”. Allah mengajari beliau bersopan santun kepada Jibril a.s. karena dia lah yang mengajarinya kata-kata yang benar dan indah dengan amal shalih.


Maka sesungguhnya manusia yang sempurna tidak lain adalah al-Qur’an itu sendiri. Ia datang dari dirinya menuju malam yang penuh berkah. Malam itu ghaib dan langit-langit dunia adalah tutup keagungan yang paling rendah, di sana ada penerang dan pembeda, yaitu bintang-bintang. Tergantung hakekat ilahiyah untuk memahaminya. Ia menunjukkan hukum-hukum yang berbeda-beda. Manusia yang memhami itu semua. Bintang-bintang itu senantiasa turun ke dalam hatinya, hingga kemudian menyatu lalu sirnalah dan terbukalah hijab itu, hingga sirnalah ia dari ketentuan “dimana” dan “apa” dan hilanglah keghaiban.


Al-Qur’an yang diturunkan adalah kebenaran, sebagaimana Allah menyebutnya kebenaran, setiap kebenaran adalah hakekat dan hakekat al-Qur’an adalah manusia itu sendiri. A’ishah r.a. pernah ditanyai tentang akhlaq Rasulullah s.a.w, ia berkata “Akhlaq Rasulullah adalah al-Qur’an”. Ulama berkata, sesungguhnya A’isyah mengatakan firman Allah “Sesunggunya kamu (Muhammad) berakhlaq mulia” (al-Qalam:4).


Renungilah perjalanan ini, engkau akan terpuji di ujungnya.@@@

Buah-buah Perjalanan


“Perjalanan melihat Allah”


“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesunguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (al-Israa’ :1).


Allah s.w.t. memulai kisah Israa’ dengan tasbih (pensucian) untuk menghilangkan semua keraguan yang muncul dari orang-orang yang meragukan, mempersamakan dan membendakan-Nya. Sebab itu Allah menegaskan dengan ungkapan “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami”.


Allah memperjalankannya semata karena kehendak-Nya, sebagai karunia dan kepedulian-Nya dan itu belum pernah terbersit sebelumnya di hati Rasulullah.


Mengapa perjalanan itu dilakukan pada malam hari? Agar sesuai dengan kekhususan beliau dengan maqam “mahabbah”, kecintaan, karena Allah telah menjadikannya kekasih yang dicintai-Nya. Kemudian ditegaskan dengan kata “malam”, padahal isra’ adalah perjalaan malam agar menepis keraguan dalam hati orang-orang yang ragu bahwa Isra’ hanya dengan ruh beliau atau kemungkinan Isra’ terjadi pada siang hari. Itulah kelebihan al-Quran, meskipun diturunkan dengan bahasa Arab, namun ia teruntukkan semua bahasa.


Malam adalah saat terindah bagi dua pemadu kasih, karena malam mampu menyatukan keduanya. Khalwat atau menyendiri dengan kekasih lebih bermakna di malam hari, agar bisa melihat tanda-tanda ilahiyah dengan cara yang lebih khusus, karena mata tidak akan bisa melihat sesuatu dengan cahaya yang ia pancarkan sendiri, sebab ia akan melihat kegelapan. Kemudian datanglah cahaya yang menjadikannya mampu melihat sesuatu, namun itu bila cahaya tersebut tidak mengalahkan kekuatan cahaya mata. Bila cahaya itu terlalu kuat sehingga mengalahkan cahaya mata, maka mata pun kembali kepada kegelapan karena tidak melihat kecuali cahaya itu, seperti mata yang tidak melihat apapun dalam kegelapan kecuali kegelapan itu sendiri. Mata hanya bisa melihat dengan cahaya yang sedang, sehingga ia bisa melihat cahaya tersebut dan apa-apa yang tersinari oleh cahayanya. Itulah rahasia perjalanan Rasulullah dalam Mi’raj di malam hari, agar nampak olehnya tanda-tanda kebesaran Allah.


Perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsha. Masjid adalah tempat sujud seseorang, sujud adalah ibadah. Al-Haram maknanya mencegah dan melindungi. Di situ lah tersimpan makna hakiki dari ibadah, yaitu mencegah dan melindungi. Kemudian dijelaskan bahwa perjalanan itu sampai ke Masjidil Aqsha. Al-Aqsha berarti yang terjauh. Dengan demikian yang dimaksudkan adalah Ibadah sampai ke batas terjauh yang merupakan salah satu sifat-sifat ketuhanan. Itulah mengapa Allah memilih nabi-Nya untuk menjalani dua rantang ibadah tersebut, sehingga mengantarkannya memiliki sifat mahluk termulia, dengan ibadah yang menyeluruh yang memberikannya ma’rifat yang sempurna.


Demikianlah, seorang hamba ketika ia diangkat di atas semua yang wujud dan ketika ia dimuliakan, maka dibersihkanlah kehambaannya dari sifat-sifat ketuhanan dan ketuanan. Dan ketika kehambaan seorang hamba diberi sifat-sifat ketuhanan, maka ia telah dipersamakan dengan tuhannya dan pada saat itulah ia akan menemukan kahancurannya. Allah berfirman “Rasakanlah (siksaan itu, wahai orang-orang yang berdosa) bukankah engkau adalah orang-orang yang mulia lagi bijaksana” (al-Dukhan : 49).@@@

Buah-buah Perjalanan


“Perjalanan Melihat Allah” (2)


Allah berfirman “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (Mu’min:25). Demikianlah sifat ketuhanan apabila diterapkan kepada hamba bukan berarti akan menunjukkan kemuliaan dan ketinggiannya, karena di sini terjadi penyamaan dari apa yang semestinya dimiliki oleh hamba berupa memerlukan menjadi apa yang semetinya dimiliki oleh Ilahiyah berupa pemberian.


Demikian apa yang terjadi dalam kisah Isra’, kehambaan yang dimiliki oleh Rasulullah sudah sedemikian sempurna, bahkan telah dinisbatkan kepada Allah, yaitu sebutan “hamba-Nya”, maka hak dari Ketuhanan adalah memberinya imbalan kepadanya dengan megangkatnya menembus keghaiban dari Yang Ghaib. Ketika turun kehambaan Rasulullah s.a.w. hingga ke tingkat hamba yang haqiqi, maka diangkatnya ia ke atas kemuliaan ghaib. Dari sini beliau menyaksikan kebenaran sebagai perseorangan. Cinta akan membangkitkan rasa memiliki, sehingga tidak lagi bisa memberikan. Seorang hamba mungkin mampu memberikan, namun ia telah terbatasi, maka di sana tidak nampak olehnya apapun kecuali nama Dzat yang Maha Gahib itu.


Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah untuk Isra’, maka itu adalah ajakan bercengkerama, karena datang di malam hari. Bercengkerama adalah pembicaraan yang paling tinggi, karena di dalamnya mengandung ungkapan-ungkapan manis, mengandung petuah mengajak kepada kedekatan yang murni.


Tanda-tanda yang disaksikan oleh Rasulullah s.a.w. sebagian nampak di atas ufuk dan sebagian lagi ada dalam dirinya. Allah berfirman “Akan aku tunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri” (Fussilat : 53), “Dan di dalam dirimu (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah) apakah kalian tidak menyaksikannya” (al-Dzariyat:21). Kedekatan (Jibril) kepada Rasulullah s.a.w. sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi (An-Najm:9) merupakan tanda-tanda yang nampak di ufuk yang membuktikan keberadaan maqam hamba dari Tuhannya dan menunjukkan maqam kecintaan (mahabbah) dan kedekatannya kepada Allah, “Lalu dia (Jibril) menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”, inilah maqam bercengkerama dengan Yang Maha Ghaib.


Allah pun menegaskan “Nurani tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-Najm:11). Nurani yang diungkapkan dengan kata “fuad” adalah hati dari hati (qalb). Nurani bisa melihat, demikian hati bisa melihat. Hati bisa melihat mulai dari kebutaan lalu ia menerima kebenaran yang ditunjukkan dan didekatkan kepadanya, sesuai firman-Nya “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada” (al-Hajj: 46). Nurani tidak akan pernah buta karena ia samasekali tidak berhubungan dengan mahluk, ia hanya behubungan dengan Tuhannya, dan dia berhubungan dengan Tuhannya semata melalui jalan ghaib yang paling tinggi, sesuai dengan maqam dan tingkatannya.


Itulah mengapa Allah menegaskan “Nurani tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-Najm:11). Sering mata salah melihat, meskipun ungkapan ini hanya dari orang yang bodoh semata, karena yang salah melihat adalah pengendalinya bukan apa yang dilihat oleh panca indera. Mereka yang berkata mata telah salah lihat karena tidak sesuai dengan hakikat, maka ini berarti membohongi pemilik mata, karena sifat bohong tidak pernah terjadi pada mata.

Hamba yang ada pada kisah Isra’ di atas, adalah hamba yang benar-benar hamba, yang disucikan dalam kehambannya. Begitu juga tentang Yang Maha Ghaib adalah puncak dari keghaiban. Tanda-tanda yang dilihatnya dalam dirinya, merupakan cernaan dari kehambaan hamba terhadap kaghaiban ghaib dengan menggunakan mata nurani, maka tidak ada seorangpun yang melihatnya. Sedangkan tanda-tanda yang ada di ufuk adalah apa yang dilihat oleh Rasulullah s.a.w. pada bintang-bintang, langit, tangga-tangga naik, derikan Qalam, Singgasana dan Sidratul Muntaha. Ini semua menunjukkan bagaimana maqam hamba yang telah dikhususkan oleh Yang Maha Ghaib.


Allah mengingatkan “(Masjidil Aqsha) yang Kami Berkahi apa sekelilingnya”. Allah tidak menyebutkan berkah Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha itu sendiri, karena sudah jelas, keduanya merupakan tempat berduyun-duyunnya manusia karena kemuliaannya. Masjidil Haram kepada Masjidil Aqsha ibarat Sorga dan Neraka, “Sorga senantiasa dikelilingi dengan hal yang dibenci” seperti firman Allah: “Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok” (al-‘Ankabut:67). Dan “Neraka senantiasa dikelilingi dengan nafsu syahwat”, seperti firman Allah “Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya”.


Buah dari kisah perjalanan di atas adalah menyaksikan Yang Maha Ghaib. Allah berkata benar dan menunjukkan jalan yang benar.@@@

Wahdat al-Wujud (Wihdatul wujud)

Ibn Al-‘Arabi adalah penganut faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan oleh orientalis. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud.

Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan :

“ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”.

Ia juga menjelaskan :

“Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada RasulNya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari mazahir (fenomena-fenomena) ini. Sedang Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari nama ‘Allah’ yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah yang mengatur gambaran alam seluruhnya dengan Tuhan yang tampil padanya, disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).”

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukanlah Nabi Muhammad sebagai manusianya namun Haqiqat Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Akhlaqnya. Nabi muhammad disebut dengan Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan :

“ketahuilah bahwa yang ada hanya Allah beserta sifatNya, af’alNya maka semuanya adalah Dia, denganNya, dariNya dan kepadaNya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaanNYa dan penglihatanNya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahayaNya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.”.

Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat Muhammadiyah, dan alam muncul dari hakikat tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi mengungkapkan :

“Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”.

Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan :

“Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.

Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dariNya adalah Dia juga.

Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya :

“wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga tidak benar-benar lain dariNya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah’’.

Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarannNya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Willian dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatanNya sedang ZatNya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oelh Ibn Arabi sebagai berikut :

“Allah nyata ditinjau dari penampakanNya pada cipatanNya dan batin dari segi Zatnya’’.

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.

Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada denganNya”.

Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat :

  1. Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diriNya untuk diriNya dari diriNya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak.
  2. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diriNya, untuk diriNya, pada penampakan kesempurnaanNya (asma) dan penampakan sifat-sifatNya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlah dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak denganjalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah.
  3. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diriNya untuk diriNya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan ZatNya, sifatNya dan perbuatanNya dengan jalan limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu.

Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya :

“Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belim benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqun. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.”

Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya :

“Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari ZatNya.

Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatulwujud tersebut? Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa Zat Allah adalah sumber segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dengan Haqiqat Muhammadiyah (A’yan sabitah, wahdah, tajalliyat wjudiyah sifatiyah) merupakan penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda.

Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat :

Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.

Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan :

“Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka bayangannya ada padanya.”

Bayangan yang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beraam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi ZatNya dan berbilang dari segi penampakanNya dalam gambaran serta bayanganNya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan :

“sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.’’

Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-Wujudiyah :

“Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalamNya atau bersamaNya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.’’

Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah :

“Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.’’

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaanyang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata.

Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi mengungkapkan :

“Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segal seuatu dan yang bukan sesuatu.’’

Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal danyang kekal dan tampak adalah ZatNya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaanNya yang tiada batas.’’

Di lain bukunya Ibn Arabi mengungkapkan :

“Tidak ada dalam wujud ini selain Allah, kita walupun ada (Maujudun) maka sesungguhnya keberadaan kita denganNya, barang siap yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.’’

Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan sendiriNya dan tidak mengambil keberadaannya dari yagn lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaanyang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain . Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jia sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan? Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam.

Dalam menerangkan wahdatulwujud Ibnu Arabi kadang mengutip kuplet berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif :

  • Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat
  • Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu

Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun besertaNya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang Ia sebagaimana keadaanNya dahulu’. Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan segalaNya pada sisiNya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah.

Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujid disamping Allah ataupun diataNya atau dibawahNya atau ditengahNya atau didalamNya atau diluarNya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain allah jua adanya.

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah cukup dengan logika namun harus dibuktikan dengan penyaksian sebagaimana pernyataan Ibn Arabi :

“Tauhid adalah penyaksian dan bukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.’’

Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud.

Al-Hirah (Ketakjuban, Kebingungan, Laut Tanpa Pantai, Anggur Keabadian)

AL-Hirah merupakan ketakjuban dan puncak dari pengenalan akan Allah yang dalam hal ini Ibn Arabi menjelaskan :

“Uluhiyyat (ketuhanan) dapat dikatakan karena ia merupakan tawajjuh (kehendak) Zat untuk mewujudkan semua hal yang mungkin, adapun Zat tidaklah dapat dikatakan namaun disaksikan.’’

Hal ini mungkin dapat dijelaskan sebagai berikut :

Zat Allah Esa dan Tunggal adanya namun tidaksatu makhlukpun dapat mengetahui hakikat Zat tersebut serta segala potensi yang ada pada Zat Allah. Penyaksian akan ZatNya bisa terjadi pada orang tertentu dan penyaksian itu bukanlah meluputi akan keadaan ZatNya. Ol;eh sebab itu tidak bisa dikatakan karena segalanya luluh dan fana ketika penyaksian itu terjadi. Sedangkan Uluhiyat bisa dikatakan karena Ia berhubungan dengan segala yang mungkin. Dalam al-Quran Allah berfirman :

Wayuhazzirukumullahu nafsah.

Artinya: Allah melarang kamu untuk berpikir tentang diri (Zat)Nya. Ali Imran 28.

Pada ayat yang lain, Allah berfirman :

Wamaa qadarullahu haqqa qadrih

Artinya: dan mereka tidak mampu memperkirakan Allah dengan sebenar-benar perkiraan, Al-An’am 91.

Di samping itu Kalimat Allah atau seala yang mewujud karenaNya atau segala yang berasal dariNya tidak terhingga atau tidak terbats, oleh sebab itu tidak ada bats dalam mengenal Allah Swt. Jadi yang diketahui hanya keesaanNya sedang kuasaNya tanpa batas.

Ibn Arabi menjelaskan dalam tafsirnya mengenai ayat terakhir daru surat al-Kahfi :

“Katakanlah jika lautan huyuli (asal keberadaan alam semesta) yang menerima berbagi macam gambar yang mewuudkan segala ilmu Allah dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan segala makna dan hakikat dan roh yang ada pada ZatNya maka air lautan akan habis sebelum habisnya kalimat Allah, karena ia tidak terhingga adanya. Tidak mungkin satu yang terbatas bisa mengibaratkan Yang Tidak Terbatas.’’

Jika dikaitkan dengan dua aspek yaitu tanzih dan tasybih, maka aspek tanzihNya adalah ketidak terbatasan Zat Allah atau Maha SuciNya Ia dari segala ikatan dan keterbatasan. Sedang aspek tasybihNya adalah kalimatNya atau fenomena segala alam ini yang mewujud denganNya. Alam ini sendiri juga tidak terbatas, sebagaimana kalimat Allah tidak terbatas. Jadi puncak pengenalan akan Allah adalah ketidak mampuan untuk mengenalNya dan ketakjban akan keMaha BesaranNya. Sebagaimana Nabi bersabda :

Allahumma la nuhshi tsanaan ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika

Artinya: “Ya Tuhan kami kami tidak mampu menghumpun pujian kepadaMua sebagaimana Engakau memuji diriMu Sendiri.’’

Abu Bakar berkata: “ketidak sanggupan untuk mengenal Allah adalah pengenalan. Oleh sebab itu Abu Talib al-Makki berkata: “tidak mengenal Allah selain Allah.” Nabi Saw juga pernah bersabda: “Rabbi zidni fika tahayyuran” yang artinya : “Wahai Tuhanku tambakanlah kepadaku keta’juban.” Hal ini dita’wilkan oleh Ib Arabi sebagai kesinambunan takalliyat Allah kepada Nabi Saw. Kesinambungan tajalliyat adalah bertambahnya senantiasa ilmu pengenalan akan Allah dan itu tentunya tiada batas.

Nabi Muhammad Saw merupakan jalan petunjuk kepada ketakjubanyang membaw panji pujian kelak dihari kiamat. Beliaulah hamba yang paling mengenal Allah. Oleh sebab itu seorang tidak akan mampau mengenal Allah kecuali melalui jalan atau cermin Muhammad Saw. Ibn Arabi menjelaskan dalam kitab fusus al-Hikam :

“Allah berfirman: “sesungguhnya sahabatmu tidaklah sesat dan salah: an-an’am 2, atau Ia tidak takut dalam keheranannya karena Ia mengetahi bahwa puncak dalam pengenalan akan Allah adalah hirah (ketakjuban). Maka barang siapa yang sampai dalam keadaan ini maka ia telah beroleh petunjuk dan dia adalah yang menunjuki dan menjelaskan dalam penetapan ketakjuban.’’

Ibn Arabi menyebutkan: “ Yang Haq adalah lautan dasarnya adalah azali pantainya adalah abadi.”

” Inilah lautan yang tiada tepi, ia melantunkan syair dalam ketakjuban :

  • Aku terkesima pada Samudera dantap pantai dan Pantai tanpa samudera
  • Pada Cahaya pagi tanpa kegelapan dan Malam tanpa fajar
  • Pada dunia tanpa tempat yang diketahui oleh pagan dan pendeta
  • Pada kubah biri langit, menjulang tinggi dan berputar.
  • Kemahakuasaan adalah pusatNya dan pada bumi yang subur tanpa kubah dan tempat, tersembunyi rahasia.

Tasybih dan Tanzih

Permasalahan Tasybi dan Tanzi juga merupakan polemik dari daulu ingga sekarang. Dalam al ini Ibn Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesecuian Allah dari segala sifat yang baharu) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baharu) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah sperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Al ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baharu.

Dalam kitab Fusus al-Hikam Ia mengatakan:

“Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecualai Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

‘Abd al_raziq al-Qasyani menjelaskan mengenai hal ini bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baharu yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sigat materi, hal ini berarti bahawa setiap seuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sigat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi teriakt denagn suatu sifat dan erbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya. Ibn Arabi juga menjelaskan:

“Tidak ada yang serupa denganNya” potongan ayat ini mengisyaratkan tanzih, dan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” potongan ayat ini mengisyaratkan tasybih.

Abd Karim al-Jily menerangkan mengenai hal ini sebagai berikut:

“Yang mensucikan mengosongkan Tuhan dari segala sifat sehingga dia menghilangkan kuasa Tuhan, yang menyerupakan Tuhan menghiasaiNya dengan sifat yang tak pantas aritnya memakaikan Tuhan dengan sifat selainNya (Mujassimah) sedang yang berada di antara keduanya (tidak mengosongkan dan tidak memakaikan) artinya seorang yang ‘arif yang beada antara tasybih dan tanzih tidak menanggalkan apa yang pantas bagi Allah dan menyifatiNya dengan pakaian atau sifat yang tidak pantas bagiNya. Bahkan ia berkata Allah adalah Yang Lahir dan Yang Batin atau ia menyifati Allah dengan Lahir dan Batin. Aspek Batin merupakan hukum kesempurnaan bagiNya sedang aspek Lahir merupakan nyatanya Ia dalam segala yang ada.”

Ibn Arabi menjelaskan dalam sebuah syair:

   * jika engkau mengatakan dengan tanzih maka engakau membuatNya terikat
   * jika engkau mengatakan dengan tasybih engkau membuatNya terbatas
   * jika engakau katana dengan dua hal tadi maka engkau benar
   * engkau menjadi imam dalam ma’rifat dan menjadi penghulu.


Penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sesuai dengan doktrin ontologisnya tentang wahdatulwujud, yang bertumpu pada perumusan ambiguous:

“Dia dan bukan Dia” (huwa la huwa) sebagai jawaban atas persoalan apakah alam identik dengan Tuhan. Dalam perumusanini terkadnung dua bagian jawaban:

bagian positif, yaitu ‘Dia’ dan bagian negatif, yaitu ‘bukan Dia’.

Bagian pertama menyatakan bahwa alam identik dengan Tuhan. Bagian terakhir menegaskan aspek tanzih Tuhan. Dapat pula dikatakan bahwa penafsiran Ibn Arabi tentang tanzih dan tasybih sejalan denagn prinsip memadukan segala hal yang bertentangan. Misalnya antara Yang Satu dan yang banyak, Yang Lahir dan Yang Batin. Oleh sebab itu dinaytakan Hakikat Muhammad lah yang menghimpun antar aspek tanzih dan tasybih antara Qran dan Furqan antara Jama’ dan Tafsil.

Ada ungkapan-ungkapan kaum sufi yang mengisyaratkan tasybih yang dikenal dengan syatahat seperti ungkapan Biyazid: “Maha Suci Aku betapa Agung keadaanKu.” Begitu juga imam Junaid: “Tidak ada dalam jubah ini selain Allah.” Al-Hallaj juga berkata: “Ana al-Haq.” Abu Bakar as-Syibli berkata: “Aku adalah titik dibawah Ba.” Perkatan ini semua mengandung tasybih al-Haq dengan yang baharu. Ada sebagian kaum yang mengkafifkan orang yang berkata demikian dan ada yang menta’wilkan. Kaum sufi berkata demikian dalam keadaan iluminasi dan menyaksikan Wajah Yang Satu hingga mereka menyatakan ungkapan syatahat (ungkapanyang janggal dalam keadaan fana). Sedangkan Fir’aun mengatakannya dalam kesadaran penuh akan keberadaan nafsunya dan keberadaan dirinya sebagi Tuhan dan tidak mengaku adanya Allah.

Ini semua berkaitan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Sepanjang sejarah pembicaraan ini taidak pernah habisnya, karena kasus Keesaan Tuhan terus bergulir. Ulama salaf mengimani ayat mutasyabihat dalam batasan tdiak menta’wilkan sebagaimana ungkapan Imam Malik: “Istiwa’ itu diketahui artinya, kaifiyyahnya tidak diketahui,beriman dengannya wajib, bertanya mengenainya bid’ah.” Ulama khalaf menta’wilkannya, ada yang menta’wilkannya dengan berkuasa dan mengatur. Sedang kaum Mu’tazilah mensucikan Tuhandari segala sifat apa lagi sifat yang bahari dengan alsan jika sifat itu qadim maka akan banyaklah yang qadim. Kaum mujassimah menyamakanNya dengan yang baharu dan seterusnya.

Berkaitan dengan muhkamat dan mutasyabihat ini dijelaskan dalam al-Quran surat Ali-Imran ayat 7:

Huwal lazi anzala…..

Artinya: Dialah yang menurunkan al-Quran kepadamu diantaranya ada yang muhkamat itulah ummul kitab (induk kiab) dan yang lainnya mutasyabihat.”

Jadi ayat yang muhkamat mewakili aspek tanzih sedang yang mutasyabihat mewakili aspek tasybih. Mengenai ayat ini Ibn Arabi menafsirkan ayat muhkamat adalah yang mengandung makna yang satu yang merupakan asal kitab dan tidak dimasuki penyerupaan dengan yang baharu, sedang yang lain mutasyabihat. Mutasyabihat ini yang mungkin memiliki dua makna atau lebih atas samr di situ antara yang haq dan yang batil, hal ini dikarenakan bahwa Allah memiliki Wajah Yang Esa dan Kekal setelah fananya makhluk yang tidak mengandung pluralitas dan keterbilangan disamping itu Allah juga memiliki wajah-wajah yang banyak sesuai dengan cermin-cermin penampakanNya berdasarkan potensi penampakanNya dan seluruhnya bersumber dari Wajah Yang Satu tadi. Pada wajah yang banyak inilah samar antara Haq dan yang batil maka turunlah ayat al-Quran agar ayat-ayat mutasyabihat diletakkan pada wajah-wajah yang sesuai dengan potensinya hingga setiap sesuatu berkaitan dengan yang lain sesuai dengan kesiapannya. Maka dari sinilah timbul ujian dan cobaan. Adapun orang ‘arif yang muhaqqa yang mengenal Wajah Yang Kekal dalam berbagai gambaran dan bentuk mengenal wajah tersebut dari wajah-wajah yang mustasyabihat maka ia mengembalikannya kepada muhkamat melaksanakan perkataan penyari:

“Sungguh Wajah hanyalah Satu

Namun jika engkau perbanyak cermin Ia menjadi terbilang.”

Adapun orang yang terhijab (atau orang yang bengkok hatinya) dari kebenaran maka dia akam mengikuti yang mutasyabihat karena ia terhijab dari Yang Satu oleh yang banyak dan memilih keyakinan sesuai dengan seleranya untuk menyebarkan fitnah.

Jalan untuk mengenal yang muhkamat dan mutasyabihat adalah lewat cermin Muhammad Saw mengikuti ajarannya dengan memasrahkan pengetahun mengenai hal tersebut kepada Allah agar Allah membukakan kepad akita dan mengenalkan diriNya kepada kita. Hal ini yang dijelaskan oleh Ibn Arabi dalam kitabya Fusus al-Hikam dalam Fas Nuh As:

“Ketahuilah bahwa Allah menuntut dari hambanya untuk mengenalNya sebagaimana yang telah diterangkan oleh Lisan segala syariat dalam menyifatiNya, maka akal tidaklah boleh melampauiNya sebelum datangnya syariat, ilmu mengenaiNya pensucian dari sifat-sifat baharu, jadi seorang ‘arif adalah orang yang memiliki dua pengenalan tentang Allah: pengenalan sebelum datangnya syariat dan pengenalan yang ia peroleh dari syara’, akan tetapi syaratnya hendaklah ia menyerahkan ilmu tersebut kepada Allah, jika Allah menyingkapkan baginya tentang ilmu itu maka hal itu merupakan anugrah dari pintu pemberian Zat Allah.”

Kesimpulannya Allah Mutlak dengan keterbatasanNya dan Terbatas dengan kemutlakanNya. Dalam kata lain Allah Mutlak dari segi ZatNya Yang Maha Suci dari seala sifat dan terbatas dalam kemutlakan dengan nama-nama, sifat-sifat, af’al, dan mazahir kauniyah (fenomena-fenomena alam) yang merupakan tajalliyatNya yang tak terhingga. Jadi penampakanNya itu sendiri tidak terbatas, karena kalimatNya tidak pernah habis. Inilah yang disebut sebagai lautan yang tak bertepi.Dialah Yang Maha Esa dalam banyak rupa dan rupa yang banyak adalah pada hakikatnya wajah-wajah dari Zat Yang Esa. Yang banyak adalah tiada dan yang ada hanya Zat yang Esa. Dialah jami’ atau penghimpun segalanya dan fariq yang membedakan segalanya dalam berbagai rupa. Aspek JamalNya (keindahan) mewakili tasybih dan aspek JalalNya (keagungan) mewakili tanzih keduanya mewujudkan Kamal (kesempurnaan) bagi ZatNya. Namun keseluruhannya itu menunjukkan kemutlakan yang tak terhingga.

Di atas semua itu pengenalan akan Allah adalah ketidak tahuan. Kelemahan untuk mengenalNya adalah pengenalan. Mengutip perkataan Abu Talib al-Makki: “Tiada ada yang mampu mengenal, “tidak ada yagn setata denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat” kecuali “Tidak ada yang setara denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: