Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kembalilah Kepada Tuhan Di Tanah Kelahiran

Oleh : Merah Putih al-Barokaat

Wahai Para Anak Bangsa !

Ketahuilah, bahwa perjuangan tidak kenal lelah dan tidak berbatas ujung. Karena kelelahan dan batas ujung sebuah perjuangan hakekatnya bukanlah sebuah perjuangan. Perbedaannya hanyalah terletak pada kemampuan aksentuasi nilai perjuangan itu sendiri. Perjuangan menjadi bernilai jika yang dibawa adalah segmen paling sensitive dari koridor hati nurani.

Meski demikian, hati nuranipun tidak bisa menjadi hakim untuk meligitimasi sebuah perjuangan. Hanya orang-orang yang kenal dirinyalah yang bisa meredusir bahwa suara hati nurani adalah suara Tuhan. Adalah sebuah kenaifan, jika dalam perjalanannya hati nurani hanya menampilkan sebuah perjuangan tanpa kesadaran menghargai sisi hidup dan kehidupan seorang manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang pada setiapnya terdapat cahaya kesucian Ruh Universal. Ingatlah bahwa realitas taqdir Tuhan pada hakekatnya tergantung kita manusia.

Tuhan telah menciptakan akal untuk manusia. Dengan akal itu manusia menentukan pola berpikirnya sendiri. Pola pikir itu pada perjalanannya melahirkan konsep-konsep dasar dalam membentuk peradaban. Konsep-konsep dasar tersebut pada akhirnya dinyatakan sebagai azas-azas keagamaan. Bukanlah berarti bahwa agama itu produk dari pola pikir akal manusia. Tetapi ketetapan untuk menentukan hidup yang berkwalitas adalah pada akal. Ketetapan akal tersebut dilegitimasi dengan kemurnian hati nurani. Kita telah bersepakat bahwa hati (qalbu) adalah Baytullah (Rumah Allah). Dari sana Allah menurunkan titahNya pada akal yang jernih. Begitulah kemudian secara epistemologis dikatakan bahwa keputusan akal yang jernih adalah perintah Tuhan. Spirit tersebut membentuk azas-azas yang kemudian kita sebut sebagai agama.

Bangsa kita adalah bangsa yang dilahirkan dari spirit ini. Sebuah bangsa yang dibangun di atas kemurnian berpikir dan kekuatan nurani. Bangsa yang diambil dari sebuah keputusan akal murni. Sebuah bangsa yang lahir melalui tulisan inskripsi di dada para pendiri. Sebuah bangsa yang diberi kekuatan untuk menentukan taqdirnya sendiri.

Lihatlah…, betapa Tuhan telah memberikan kita bangsa yang memiliki wibawa. Tuhan telah memberikan kita daya untuk membuat pakaian yang berperadaban. Tuhan telah memberikan kepada kita kehormatan dan keagungan. Tuhan telah memberikan kita tanah pertiwi yang anggun, elok dan produktif.

Kepada setiap komponen anak bangsa, mari kita bersyukur atas anugerah ini. Kita ambil dan kita cuci pakaian kita yang sudah lama kita tinggalkan. Kita pakai kembali pakaian kita yang penuh kehormatan. Kita berjuang dengan pakaian itu. Kita bangun tanah kita sendiri.

Mari kita jawab tantangan zaman ini dengan visi kita masing-masing. Indonesia sebagai negara demokrasi atau teokrasi, itu hanyalah soal nama. Semua konsekwensi pilihan salahsatu dari keduanya juga tidak bisa diartikan sebagai sebuah teori absolute yang bisa mejustifikasi pencapaian kesejahteraan dikemudian hari. Kesejahteraan bukanlah synthesis dari penentuan bentuk negara dengan potensi kesejarahan.

Kedamaian (keamanan dan ketentraman), pencerdasan politik, kebebasan rakyat, pencapaian real terhadap hak-hak sipil politik, penegakan hukum, dll., hanyalah orientasi semu jika pada prosesnya hanya mengedepankan egosentrisme pemikiran. Sebab nilai nasionalisme bukanlah kecintaan pada Tanah Air an sich, tetapi hakekat nasionalisme terletak pada bagaimana kita mampu menghargai sisi humanisme rakyat bangsa itu sendiri. Konsep-konsep penyelenggaraan sebuah negara hanyalah teori yang ditulis di atas kertas yang akurasinya sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan. Waktu terus menuliskan cerita-cerita baru sepanjang perjalanannya, sementara kita asyik bertikai dan terus melahirkan bangkai-bangkai ‘manusia tak berdosa’ sepanjang masa.

Saudaraku, janganlah menampilkan perjuangan sebagai sebuah egosentrisme budaya pemikiran dan janganlah menjadikan kekerasan sebagai trend perjuangan politik demokratik rakyat sipil. Karena partikel-partikel tersebut hanya akan membuat nilai perjuangan menjadi absurd.

Kuberikan kado ini sebagai ruh perjuanganmu…..


Saudaraku,

hidup memang sebuah perjalanan yang melelahkan,

tujuannya hanyalah pengabdian kepada Tuhan.

persinggahannya hanyalah mimpi yang muncul akibat keterbatasan akal.

akal jika sering digunakan terkadang tidak masuk akal

dan keterbatasannya hanyalah imajinasi

Saudaraku,

berperanglah di medan peperangan akal-akal…

Karena kesucian Tuhan dalam diri manusia dipantulkan olehnya

Ia akan mengubah sejarah sebuah bangsa.

Teruskan paparan pemikiranmu dengan cinta …

karena jiwa-jiwa telah terguncang dan nilai-nilai menjadi gamang

ingatlah, bahwa kegelapan akalmu adalah sebuah fatwa

yang akan melahirkan prahara angkara murka….

Saudaraku,

selimuti perjuanganmu dengan kesucian Tuhan ….

carilah Dia dengan nurani di dadamu

temukanlah Dia pada tanah kelahiranmu

Kejayaan Bangsa kita berada pada KesucianNya

Terukir pada pakaian kita yang telah lama kita tinggalkan

Filed under: Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: