Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Hadis ucapan Isa Ruhullah (bagian-3)

201/303: Isa berkata: “Ulama jahat adalah seperti batu yang jatuh ke muara sebuah sungai: batu ini tidak menyerap air, tetapi juga tidak membiarkan air mencapai buah-buahan di ladang. Ulama jahat adalah seperti saluran pembuangan air: tampak luarnya adalah dinding putih, tetapi di dalamnya bau menyengat. Atau mereka itu seperti pekuburan yang luarnya indah, tetapi di dalamnya penuh dengan belulang mati.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:66.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 1:84.

Catatan:

Untuk kalimat terakhir bandingkan Matius 23:27.

202/303: Isa berkata: “Bagaimana mungkin seseorang bisa dianggap ulama apabila dia dengan sadar berjalan-jalan di dunia ini sementara tempat tujuan dia sebenarnya adalah dunia nanti? Dan bagaimana mungkin seseorang bisa dianggap ulama bila dia senang berkhotbah hanya demi omongannya sendiri sementara dia tidak mengamalkan (isi khotbah-) nya?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:67.

203/303: Isa berkata: “Barangsiapa memperoleh ilmu tetapi tidak mengamalkannya, adalah seperti seorang wanita yang berzina secara diam-diam, kemudian hamil, dan aibnya diketahui oleh semua orang. Dan begitu pula orang yang tidak beramal sesuai dengan ilmunya akan dipermalukan Allah di hari pembalasan di hadapan semua orang.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:69.

204/303: Diriwayatkan bahwa Isa pada suatu hari pergi untuk shalat istisqa’. Ketika orang-orang yang bersamanya menjadi tidak tenang, Isa berkata: “Barangsiapa di antara kalian yang pernah berbuat dosa, pulanglah.” Maka mereka pulanglah semuanya, kecuali seorang laki-laki yang tetap diam bersama Isa di padang pasir itu. Isa berkata kepada laki-laki ini: “Pernahkah kamu berbuat dosa?” “Demi Allah yang menjadi saksiku,” jawab laki-laki itu, “sepengetahuanku aku tidak pernah berbuat dosa; selain ketika pada suatu hari saat aku sedang shalat, datang seorang wanita ke dekatku, yang kemudian aku lihat dengan satu mataku ini. Ketika dia kemudian menjauhiku, aku menghujamkan jari-jariku ke mata ini dan mencongkelnya keluar, dan membuangnya.” Maka Isa berkata kepada laki-laki itu: “Berdoalah kepada Allah, agar aku bisa megucapkan ‘Amin’ setelah doamu.” Laki-laki itu berdoa kepada Allah, dan kemudian langit pun dipenuhi awan, dan hujan turun dengan lebat. Begitulah mereka disegarkan.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:316.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu al-Faraj ‘Abd ar-Rahman bin ‘Ali) Ibn al-Jauzi (… – 597 H), Damm al-Hawa [dengan sedikit variasi].

Catatan:

Di Matius 18:9 dicantumkan perintah untuk mencungkil dan mebuang mata apabila mata itu menyesatkan.

205/303: Ketika Maryam mencari Isa dia melihat beberapa orang tukang tenun dan menanyakan jalan kepada mereka. Ketika mereka menunjukkan jalan yang salah, Maryam berkata: “Ya Allah, cabutlah rahmatMu dari mereka, matikanlah mereka dalam keadaan miskin, dan rendahkanlah pandangan manusia atas mereka.” Doa Maryam kemudian terkabul.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:190.

206/303: Diriwayatkan bahwa pada suatu hari setan memperlihatkan diri di hadapan Isa dan berkata: “Katakanlah: ‘Tidak ada tuhan selain Allah!'” Isa menjawab: “[Itu adalah] Perkataan yang benar, yang tidak akan aku ulangi setelahmu.” Isa mengatakan ini karena setan bisa menyembunyikan tipuan bahkan di balik kebaikan.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:29.

207/303: Ketika Isa dilahirkan, datanglah para iblis kepada Setan dan berkata: “Hari ini semua berhala menundukkan kepalanya.” Setan berkata: “Sesuatu telah terjadi di dunia kalian.” Setan terbang ke sana ke mari di atas dunia, tapi tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dia menemukan bayi Isa yang dikelilingi para malaikat. Setan pergi kembali ke para iblis dab berkata: “Kemarin seorang nabi telah dilahirkan. Tidak ada seorang wanita pun kecuali dia [Maryam] yang menjadi hamil dan melahirkan tanpa aku berada di dekatnya. Karenanya lupakanlah setelah malam ini semua harapan akan [masih adanya] penyembahan berhala. Mulai sekarang godailah manusia dengan memanfaatkan ketergesa-gesaan dan ketidak-sungguh-sungguhan mereka.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:32.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 18.

208/303: Isa berkata: “Bahagialah orang yang merelakan hasrat saat ini demi [sesuatu] yang dijanjikan [saat nanti].”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:64.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

– (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 157.

209/303: Diriwayatkan bahwa Isa berdzikir dengan khusyu enam puluh hari lamanya tanpa memakan apapun. Kemudian muncul di pikirannya ingatan akan roti sehingga dzikirnya terputus. Segera muncul sepotong roti di tangannya. Maka iapun terduduk dan menangis karena kehilangan kedekatannya dengan Allah. Pada saat itu seorang tua [datang] menaungi Isa dengan bayangan tubuhnya; Isa berkata kepadanya: “Semoga Allah memberkatimu ya waliyullah. Berdoalah kepada Allah untukku, karena ketika aku sedang khusyu’ aku teringat akan roti, dan kekhusyuanku terputus.” Orang tua itu berdoa: “Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku pernah membayangkan roti sejak aku mengenalMu, jangan maafkan aku. Justru sebaliknya, jika ada sesuatu dikaruniakan kepadaku, itu aku makan tanpa membuang-buang pikiran tentang itu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:81.

210/303: Isa berkata: “Keshalihan itu terdiri dari sembilan per sepuluh diam, dan satu per sepuluh mengasingkan diri dari manusia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:107.

211/303: Di dalam kitab-kitab Injil tertulis: “Barangsiapa yang mendoakan orang yang berlaku buruk kepadanya, maka dia telah mengalahkan setan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:180.

Catatan:

Bandingkan juga Lukas 6:28.

212/303: Isa berkata: “Celakalah manusia dunia ini! Dia mati ketika dia meninggalkan dunia ini dan semua yang ada di dalamnya. Dunia ini menipunya, padahal dia mempercayainya. Dunia ini meninggalkannya, padahal dia mengikutinya. Celakalah orang yang tertipu! Dunia ini memperlihatkan kepadanya apa yang dia benci. Benda-benda yang dia cintai meninggalkannya. Dia bertemu dengan apa-apa yang diancamkan kepadanya. Celakalah orang yang mengurusi dunia dan mencari dosa. Dosa-dosanya akan segera diperlihatkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:200.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 8>87.

213/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata:   “Hai para ulama jahat! Kalian berpuasa, shalat, dan berzakat, tetapi kalian tidak melakukan apa yang kalian perintahkan kepada orang lain, dan kalian mengkhotbahkan apa yang tidak kalian kerjakan. Kalian mengeluarkan fatwa yang menjijikan! Kalian bertaubat dengan kata-kata dan harapan kosong, tetapi kalian bertingkah sekehendak hati kalian. Apa gunanya bagi kalian jika kalian menjaga kebersihan kulit kalian, tetapi hati kalian tetap kotor? Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, janganlah seperti ayakan yang melalui (lubang-lubang-)nya bubuk terigu jatuh, tetapi sisanya tertahan, karena seperti itulah kalian jika kalian mengeluarkan fatwa dengan mulut kalian, tetapi kejahatan tertahan di hati kalian. Hai hamba dunia, bagaimana mungkin seorang manusia bisa meraih alam nanti sementara nafsunya akan dunia ini tidak berhenti, dan keinginannya akan dunia tidak terpenuhi? Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, hati kalian menangis gara-gara perbuatan kalian. Kalian berbicara dengan bahasa dunia dan tidak menghargai amal shalih. Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, kalian telah merusak kehidupan kalian setelah mati, karena kebaikan di dunia ini lebih kalian cintai daripada kebaikan di dunia nanti. Siapakah di antara manusia yang lebih tersesat daripada kalian? Seandainya saja kalian mengetahui. Celakalah kalian! Sampai kapan kalian ingin memberi petunjuk kepada musafir di malam hari, dan tetap berada di antara orang-orang yang disesatkan, sebagaimana kalian menyeru kepada manusia untuk memberikan dunia kepada kalian? Berjalanlah dengan pelan! Berjalanlah dengan pelan! Celakalah kalian, apa gunanya untuk rumah yang gelap apabila kalian memasang lampunya di atas atapnya, sementara di dalamnya tetap gelap dan kosong? Begitu juga tak ada gunanya kalian mengeluarkan cahaya hikmah dari mulut kalian, sementara di dalam [hati] kalian semuanya menyedihkan dan kosong. Hai hamba dunia – kalian tidak bisa disandingkan dengan hamba yang shalih dan orang merdeka yang terhormat! Dunia sedang bersiap untuk mencabut kalian sampai ke akar-akarnya, melemparkannya ke muka kalian, dan menghantamkan hidung kalian ke debu. Dunia akan menjenggut rambut kalian gara-gara dosa-dosa kalian, dan menghalau kalian dari belakang, hingga kalian dalam keadaan telanjang dan sendirian dihadapkan kepada Raja dan Hakim yang akan mengumumkan dosa-dosa kalian serta menghukum kalian akibat anal buruk kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:258-259.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 233.

Catatan:

Lihat juga “Jesus’ Sayings … ” nomer 93, 94, 17, dan 201 yang kesemuanya merupakan kritik atas beberapa ulama.

214/303: Almasih berkata: “Benih-benih akan tumbuh lebih baik di padang datar daripada di antara bebatuan. Maka begitu pula hikmah akan bersemi di hati orang yang merendah diri, bukan di hati orang yang membanggakan diri. Tidakkah kalian melihat bagaimana orang yang membenturkan kepalanya ke atap rumah mengalami kesakitan, sementara orang yang menundukkan kepalanya bisa menjaga dan melindungi kepalanya?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:258-336.

215/303: Isa berkata: “Baju indah, hati suka pujian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:345-346.

216/303: Isa berkata: “Mengapa kalian datang kepadaku dengan berpakaian seperti ‘ruhban’ [1], padahal hati kalian adalah hati srigala dan binatang buas? Kenakanlah pakaian raja, tetapi kekanglah hati kalian dengan ketakwaan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:346.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad) Al-Raghib al-Isfahani (… – >400 H), Muhadarat al-Udaba’, 2:402.

Catatan kaki:

[1] ‘ruhban’ artinya biarawan.

217/303: Almasih berkata: “Kalian tidak akan meraih apa yang kalian inginkan kecuali apabila kalian menerima dengan sabar apa yang tidak kalian inginkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:61.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:164 [di sini dinisbatkan kepada al-Hasan al-Basri];

(Abu al-Ma’ali Muhammad bin al-Hasan) Ibn Hamdun (… – 562 H), Al-Tadzkira al-Hamduniyya, 1:201.

218/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata: “Kalian kaum hawariyyun takut pada dosa; kami para nabi takut pada kekufuran.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:169.

219/303: Diriwayatkan bahwa Almasih dalam perjalanannya pada suatu hari melewati seorang yang sedang tertidur dengan diselubungi pakaiannya. Isa membangungkannya dan berkata: “Hai orang tidur, bangunlah dan berdzikirlah pada Allah Yang Mahakuasa!” “Apa yang kau inginkan dariku?” kata orang itu, “aku sudah menyerahkan dunia ini pada para manusianya.” Isa menjawab: “Teruskan tidurmu, karibku.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:190.

220/303: Almasih berkata: “Dunia ini adalah jembatan. Lewatilah dia, tetapi janganlah membangun apapun di atasnya.” Pada suatu kali orang bertanya kepadanya: “Ya Nabiyullah, bukankah engkau pernah memerintahkan kami untuk membagun sebuah rumah tempat kami bisa beribadah kepada Allah?” Isa menjawab: “Pergilah, dan bangunlah sebuah rumah di atas air.” Mereka bertanya: “Bagaimana mungkin sesuatu yang kokoh bisa dibangun di atas air?” Isa menjawab: “Bagaimana mungkin ada ibadah yang kokoh apabila itu dilakukan bersamaan dengan kecintaan kepada dunia?”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:218.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:256.

221/303: Isa duduk dengan dinaungi bayangan sebuah tembok yang dimiliki seorang laki-laki. Laki-laki itu datang dan menyuruh Isa pergi dari situ. Isa berkata: “Bukan engkau yang membuatku pergi, tetapi Dia yang tidak ingin aku menikmati naungan bayang-bayang.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:224.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 118.

222/303: Isa tidak memiliki apa-apa selain sebuah sisir dan sebuah cangkir. Pada suatu hari dia melihat seorang laki-laki yang sedang menyisir janggutnya dengan tangan. Maka Isa membuang sisirnya. Isa melihat laki-laki lain yang melekukkan tangannya seperti cangkir untuk meminum air dari sungai. Maka Isa kemudian membuang cangkirnya.

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:231-232.

223/303: Isa berkata: “Tidaklah arif orang yang tidak gembira bila musibah menimpanya dan penyakit menyerang tubuhnya, karena [dengan adanya musibah itu] dia bisa bergembira atas [kesempatan] taubat atas dosa-dosanya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:281.

224/303: Termasuk ke dalam ucapan Isa: “Jika kalian melihat seorang anak muda yang merasa terpanggil untuk beribadah kepada Allah, [maka ketahuilah] bahwa ini membuatnya lupa akan semua perkara lainnya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:302.

225/303: Diriwayatkan bahwa Isa bertemu dengan seorang laki-laki yang buta, menderita lepra, cacat, lumpuh kedua kaki, dan badannya rusak oleh kusta dan borok. Orang ini berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskanku dari penderitaan yang telah menyerang banyak manusia.” Isa berkata: “Hai, memang ada penderitaan apa yang tidak menjangkitimu?” Dia menjawab: “Ya Ruhullah, keadaanku lebih baik daripada mereka yang tidak mendapatkan ma’rifatullah yang Allah berikan kepada hatiku.” Maka Isa berkata: “Engkau berkata benar; berikanlah tanganmu kepadaku!” Dan ketika orang itu memberikan tangannya, dalam sekejap dia menjadi orang tertampan wajah dan sosoknya, dan Allah menyembuhkan dia dari penyakitnya; dia pun kemudian mengikuti Isa dan beribadah kepada Allah bersama-sama Isa.

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:339.

226/303: Isa bertanya kepada Bani Israil: “Di manakah berkembangnya benih-benih?” “Di tanah,” jawab mereka. Isa berkata: “Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, hikmah hanya berkembang di dalam hati yang sama dengan tanah.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:347.

227/303: Allah mewahyukan kepada Isa: “Apabila Aku mengamati pikiran tersembunyi dari seorang hamba, dan tidak menemukan kecintaan pada dunia ini maupun dunia nanti, maka Aku isi hatinya dengan kecintaan padaKu dan menjaganya.”

Keterangan:

Hadits qudsi di atas diriwayatkan oleh: (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:349.

Rujukan silang atas hadits qudsi di atas:

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf [dengan sedikit variasi].

228/303: Orang meminta Isa untuk menyebut amal terbaik dari yang terbaik. Dia menjawab: “Ridha atas Allah Yang Mahakuasa dan kecintaan padaNya.”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh: (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:349.

229/303: Isa berkata: “Berbahagialah mata yang pergi tidur tidak dengan niat untuk berdosa, dan bangun tidur dengan niat yang lain daripada berdosa.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:353.

230/303: Kaum hawariyyun bertanya kepada Isa: “Ruhullah, adakah manusia lain di dunia ini yang seperti engkau?” Isa menjawab: “Ya, yaitu orang yang ucapannya adalah berdzikir pada Allah, diamnya adalah merenungkan Allah, dan dari tiap tatapannya ada ilmu yang bisa diambil; itulah orang yang seperti aku.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:411.

231/303: Dikabarkan bahwa ketika Isa baru saja duduk, seorang lelaki tua tampak menimbun tanah dengan sekop. Isa berdoa: “Ya Allah, ambillah harapan dari dia.” Lelaki tua kemudian meletakkan sekopnya, berbaring, dan dan terdiam selama satu jam. Kemudian Isa berdoa: “Ya Allah, berikanlah kembali harapan kepadanya.” Lelaki tua itu berdiri dan mulai kembali bekerja. Setelah itu Isa bertanya kepadanya, dan orang itu menjawab: “Ketika aku bekerja, jiwaku berkata: ‘Sampai kapan kau harus bekerja, orang tua?’ Maka aku melemparkan sekopku dan berbaring. Kemudian jiwaku berkata: ‘Ini adalah kebenaran dari Allah: Engkau harus mencari nafkah selama engkau hidup,’ maka aku pun kembali ke sekopku.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:438.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 248.

232/303: Isa berkata: “Jangan khawatir atas nafkah hari esok. Seandainya besok adalah hari yang dtakdirkan untuk kalian, maka nafkahnya akan datang sendiri kepada kalian. Jika tidak begitu, maka jangan khawatirkan masa yang ditakdirkan untuk orang lain itu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:442.

233/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Berdoalah kepada Allah agar Dia memudahkan untukku [dalam menerima] penderitaan ini, yaitu kematian, karena aku begitu sangat belajar menakuti kematian sehingga aku benar-benar mengenalinya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:446.

Catatan:

Bandingkan Matius 26:39 dan Lukas 22:42 dst.

234/303: Diriwayatkan bahwa Isa berjalan melewati sebuah tengkorak yang ia sentuh dengan kaki dan ia ajak bicara: “Bicaralah, dengan izin Allah!” Tengkorak itu menjawab: “Ruhullah, aku adalah seorang raja dari zaman sekian. Ketika aku duduk di atas tahtaku, dengan mahkota di atas kepalaku, dikelilingi oleh para prajuritku dan para abdi dalemku, muncullah malaikat maut di depanku. Semua bagian tubuhku lepas dariku satu demi satu, dan akhirnya keluarlah nyawaku. Oh seandainya saja semua kerumunan manusia ini diganti oleh kesunyian; oh seandaianya saja semua kegembiraan ini diganti oleh kepiluan.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:448.

235/303: Isa berkata: “Banyak sekali orang dengan badan yang gagah, muka yang rupawan, dan lidah yang lihai bicara merintih di dasar neraka!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din 4:518.

236/303: Isa berkata kepada Yahya bin Zakaria: “Jika ada orang yang berbicara tentang engkau, dan itu benar, maka berterima kasihlah kepada Allah. Jika dia berbohong, berterima kasihlah lebih banyak, karena Allah akan memperbesar daftar amalanmu, tanpa engkau harus bersusah payah untuk itu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk.

Catatan:

Ada yang memperdebatkan apakah “Al-Tibr al-Masbuk” benar-benar karya Imam Ghazali.

237/303: Isa berkata: “Di antara saat seorang manusia diusung ke penguburannya dengan saat dia diletakkan di pingir kuburannya, Allah Yang Mahakuasa dengan segala kekuasaanNya mengajukan kepadanya 40 pertanyaan. Pertama Allah berkata: ‘HambaKu, engkau telah menjaga kesucian makhluk-makhlukKu selama bertahun-tahun, tetapi engkau tidak pernah menjaga kesucian namaKu hanya sekedar satu jam saja.’ Setiap saat, ketika Allah Yang Mahakuasa memeriksa hatimu, Ia berkata: ‘Mengapa engkau melakukan sesuatu untuk yang selain Aku, sementara engkau berada di bawah naungan kasih sayangKu? Apakah engkau tuli? Apakah engkau tidak bisa mendegar?'”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ayyuha al-Walad.

238/303: Isa berjalan melewati seorang pemuda yang sedang menyirami sebuah kebun. Pemuda itu berkata: “Mintakanlah kepada Allah agar Ia memberikan kepadaku kecintaan kepadaNya seberat sebuah debu.” Isa berkata: “Engkau tidak bisa memikul berat sebuah debu.” Pemuda itu berkata: “Kalau begitu, seberat setengah debu.” Isa berdoa: “Ya Allah, berikanlah kepadanya kecintaan kepadaMu seberat setengah debu.” Setelah itu Isa melanjutkan perjalanannya. Beberapa waktu kemudian Isa mendatangi kembali tempat si pemuda itu biasanya berada. Ketika Isa mencari tahu tentang dia, Isa mendapat jawaban: “Pemuda itu menjadi gila, dan pergi ke pegunungan.” Isa berdoa kepada Allah agar Ia memberitahukan tempat di mana pemuda itu berada, dan Allah pun menunjukkan kepadanya jalan ke daerah tinggi di pegunungan. Isa menemukan pemuda itu sedang berdiri di atas sebuah batu cadas, dengan pandangan mata tak berkedip ke atas. Isa memberinya salam, tetapi si pemuda itu tidak menjawabnya. Maka Isa berkata: “Aku Isa.” Kemudian Allah mewahyukan kepada Isa: “Bagaiana mungkin seorang manusia, yang memiliki kecintaan kepadaKu seberat setengah debu, bisa mendengarkan perkataan manusia? Demi kemulianKu dan kekuasaanKu, seandainya engkau mendampingi dia, dia tidak akan merasakan keberadaanmu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Mukasyafat al-Qulub al-Muqarrib ila Hadrat ‘Allam al-Ghuyub.

239/303: Diriwayatkan bahwa Yahya dan Isa berjalan-jalan bersama di sebuah pasar. Seorang perempuan bertabrakan dengan mereka, dan Yahya berkata: “Demi Allah yang menjadi saksiku, aku sama sekali tidak menyadarinya.” Isa berkata: “Alhamdulillah! Jasmanimu ada bersamaku, tetapi di mana hatimu?” Yahya menjawab: “Saudara sepupu, seadndainya saja hatiku menyadari adanya sesuatu selain Allah, meski hanya berlangsung sekejap mata saja, maka aku pikir hatiku tidak pernah mengenal Allah.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Mukasyafat al-Qulub al-Muqarrib ila Hadrat ‘Allam al-Ghuyub.

240/303: Diriwayatkan bahwa Isa pada suatu hari pergi dan bertemu Setan yang di satu tangan memegang madu dan di tangan lain memegang abu. Isa berkata: “Ya musuh Allah, apa yang kau lakukan dengan madu dan abu ini?” Setan menjawab: “Madu kuoleskan pada bibir tukang fitnah, agar mereka mencapai tujuan mereka. Abu kutempatkan di muka anak yatim piatu, agar manusia tidak suka melihat mereka.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Mukasyafat al-Qulub al-Muqarrib ila Hadrat ‘Allam al-Ghuyub.

241/303: Isa berkata: “Kehidupan dunia terdiri dari tiga hari: kemarin, yang tidak bisa kalian kuasai lagi; besok, yang kalian tidak tahu apakah bisa kalian capai; dan hari ini, yang seharusnya kalian pergunakan untuk tujuan baik.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Minhaj al-‘Abidin.

242/303: Isa berkata: “Dengan bertafakur tentang abadinya yang abadi maka tenanglah hati kaum yang bertakwa.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Minhaj al-‘Abidin.

243/303: Isa berkata kepada murid-muridnya: “Banyak lampu mati oleh angin, dan banyak manusia binasa oleh keangkuhan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Minhaj al-‘Abidin.

244/303: Diriwayatkan bahwa Isa berjalan melewati seorang laki-laki yang sedang tidur. Kepalanya teralasi sebongkah bata, muka dan janggutnya tertutupi debu, badannya terselubungi pakaian. Isa berkata: “Ya Allah, hambaMu ini tampak tercampakkan di dunia ini.” Allah kemudian berfirman: “Ya Isa, tahukah engkau bahwa jika Aku menghadapkan mukaKu ke seorang hambaKu, maka aku palingkan semua dunia darinya?”

Keterangan:

Tarif Khalidi menyebutkan bahwa kisah di atas menurut Miguel Asín y Palacios, James Robson (Christ in Islam), dan Hanna Mansur (Aqwal al-Sayyid al-Masih ‘ind al-kuttab al-muslimin al-aqdamin) diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali (… – 505 H), tetapi dia tidak bisa menemukan kutipan aslinya di karya-karya Imam Al-Ghazali.

245/303: Isa berkata: “Aku mempunyai dua cinta –barangsiapa yang mencintainya, maka dia mencintaiku; dan barang siapa membencinya, maka dia membenciku– [yaitu:] kemiskinan dan jihad.”

Keterangan:

Tarif Khalidi menyebutkan bahwa ucapan di atas menurut Miguel Asín y Palacios, James Robson (Christ in Islam), dan Hanna Mansur (Aqwal al-Sayyid al-Masih ‘ind al-kuttab al-muslimin al-aqdamin) diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali (… – 505 H), tetapi dia tidak bisa menemukan kutipan aslinya di karya-karya Imam Al-Ghazali.

246/303: Pada suatu hari Isa bersama murid-muridnya berjalan di alam bebas. Menjelang siang mereka melewati sebuah ladang gandum yang sudah siap dipanen. “Nabiyullah,” kata murid-muridnya, “kami lapar.” Allah mewahyukan kepada Isa untuk mengizinkan mereka makan. Maka murid-murid Isa menyebar di ladang itu, mengolah dan memakan gandum. Ketika mereka makan datanglah pemilik ladang dan dia berseru: “Ini adalah ladangku dan tanahku, yang aku warisi dari ayahku dana kakekku. Dengan izin siapa kalian makan [di sini]?” Isa berdoa kepada Allah agar Dia membangkitkan semua orang yang pernah memiliki ladang ini, dari zaman Adam hingga ke saat itu. Maka muncullah dari tiap batang gandum banyak sekali lelaki dan perempuan. Mereka masing-masing berseru: “Ini adalah ladangku dan tanahku, yang aku warisi dari ayahku dan kakekku!” Lelaki pemilik ladang itu kabur penuh ketakutan. Dia pernah mendengar tentang Isa tetapi tidak pernah berjumpa dengannya. Ketika dia [akhirnya] mengenali Isa, dia berkata: “Aku mohon maaf ya Nabiyullah, aku tidak mengenali engkau. Aku persilakan engkau memakai tanah dan hartaku.” Isa menangis dan berkata: “Celakalah engkau! Semua manusia ini mewarisi tanah ini dan mengolahya dan kemudian mereka mati. Engkau juga akan mengikuti mereka, mati, tanpa tanah dan harta.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

247/303: Dua wanita mendatangi Isa dan berkata: “Ya Ruhullah, mintakanlah kepada Allah agar Dia membangkitkan ayah kami karena dia meninggal ketika kami pergi.” Isa bertanya: “Tahukah kalian dimana kuburannya?” Mereka berkata: “Ya.” Maka Isa pergi bersama mereka, dan para wanita itu mendatangi sebuah kuburan dan berkata: “Ini dia.” Isa berdoa, dan orang yang sudah mati itu pun bangkit. Tetapi kemudian diketahui bahwa ia bukan ayah mereka. Isa berdoa lagi dan orang yang sudah meninggal itu kembali ke [dunia] orang mati. Setelah itu kedua wanita itu menunjukkan kepada Isa sebuah kuburan yang lain. Isa berdoa dan orang yang mati itu pun dibangkitkan. Kemudian diketahui bahwa dia memang ayah mereka. Kedua wanita iu mendekati Isa, menyalaminya, dan berkata: “Ya Nabiyullah dan Guru Kebajikan, mintakanlah kepada Allah agar dia bisa pergi bersama kami.” Isa menjawab: “Bagaimana mungkin aku bisa berdoa untuknya, sementara aku lihat dia tidak mungkin lagi mencari nafkah.” Karenanya Isa mengembalikan orang itu ke [dunia] orang mati dan pergi dari sana.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

248/303: Di salah satu perjalanannya Isa menemukan sebuah tengkorak yang sudah termakan waktu. Isa menyuruhnya berbicara. Tengkorak itu berkata: “Ya Ruhullah, namaku adalah Balwan ibn Hafs, Raja Yaman. Aku hidup seribu tahun, mempunyai seribu anak laki-laki, memperawani seribu gadis, memukul mundur seribu pasukan hingga kocar-kacir, membunuh seribu raja lalim, dan merebut seribu kota. Kabarkanlah kepada orang yang mendengar ceritaku agar mereka jangan sampai tergoda oleh dunia, karena dunia ini tidak lain seperti sebuah mimpi orang tidur.” Isa pun menangis.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:264.

249/303: Isa berkata: “Allah menyeru kepada dunia dengan ucapan berikut: ‘Menghambalah kepada orang yang menghamba kepadaKu, dan perbudaklah orang yang menghamba kepadamu. Ya dunia, lewatlah dengan cepat dari para auliya’Ku agar mereka tidak tegoda olehmu.'”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:265.

250/303: Diriwayatkan bahwa Isa datang ke sebuah kota yang tembok bentengnya sudah runtuh, sungai-sungainya mengering, dan pohon-pohonnya mati. Isa berseru: “Hai reruntuhan, di manakah pendudukmu?” Tidak ada yang menjawab. Isa menyeru lagi: “Hai reruntuhan, di mana pendudukmu?” Sebuah suara berkata kepada Isa: “Mereka sudah mati, dan sekarang bumilah yang memiliki mereka. Amal mereka telah menjadi belenggu di leher mereka hingga hari akhir nanti. Ya Isa ibn Maryam, berusahalah untuk dirimu!”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Catatan:

Bandingkan juga dengan QS Ar-Rad 5, Saba’ 33, dan Al Mu’min 71 yang menyebutkan dibelenggunya leher orang-orang kafir di hari akhir.

251/303: Isa berkata: “Seorang penguasa tidak boleh bejad, karena orang mengharapkan dari dia hilm [1]; dan juga tidak boleh lalim, karena orang mengharapkan dari dia keadilan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Catatan kaki:

[1] ‘hilm’ artinya ‘pengendalian diri’.

252/303: Salah seorang murid Almasih meninggal, dan murid-muridnya yang lain sangat bersedih hati. Mereka menyampaikan kegundahan mereka kepada Almasih yang sedang berdiri di kuburan muridnya dan berdoa. Allah membangkitkan murid yang meninggal ini, dan kakinya [tampak] memakai terompah dari api. Almasih menanyakan penyebab ini kepadanya, dan dia pun berkata: “Aku bersumpah demi Allah, aku tidak pernah berbuat dosa kepada orang lain; tetapi suatu kali aku melihat seseorang yang sedang dizhalimi, dan aku tidak menolongnya; karena inilah aku harus memakai terompah ini.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

253/303: Almasih berkata: “Apa artinya kesabaran jika orang tidak sabar atas ‘jahl’ [1]? Apa artinya kekuatan jika orang tidak bisa menahan amarahnya? Apa artinya ibadah jika orang tidak berendah diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa? Jika orang-orang dungu mulai beribadah kepada Allah, mereka datang di saat yang tidak tepat, dan menempati tempat yang lebih tinggi daripada yang menjadi hak mereka. Jika masalah datang, nasihat bijak hilang.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dari Andalusia (Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Catatan kaki:

[1] ‘jahl’ di sini bisa diartikan ‘ketidaktahuan’ atau juga ‘kekerasan’.

254/303: Dari sebuah tempat yang tinggi Isa memandang ke bawah ke arah Ghouta [1] di Damaskus dan berkata: “Ya Ghouta, orang kaya tidak akan bisa mencari harta di tempatmu, tetapi orang miskin akan memperoleh darimu cukup roti untuk bisa kenyang.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Tarikh Madinat Dimasyq 1/1:117.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Mahmud bin ‘Umar) Al-Zamakhsyari (… – 538 H), Rab’ al-Abrar, 1:259.

Catatan kaki:

[1] Ghouta adalah sebuah wilayah subur di sebelah barat Damaskus.

255/303: Isa berkata: “Ambillah kebenaran dari [ucapan] orang yang biasanya mengatakan kedustaan, tetapi jangan ambil kedustaan dari [ucapan] orang yang biasanya mengatakan kebenaran. Berhati-hatilah jika kalian berkata agar perkataan kalian tidak mengandung sesuatu yang bisa dipalsukan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih 176.

256/303: Isa biasa berkata: “Barang siapa yang berdoa dan berpuasa, tetapi tidak bertaubat dari dosa, akan dikategorikan sebagai pendusta di Kerajaan Tuhan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih 196.

257/303: Isa berkata: “Orang tidak akan tahu makna sesungguhnya dari iman hingga dia merasa muak bila dipuji karena ketaatannya kepada Allah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 200.

258/303: Isa berkata: “Biarkan orang yang beramal baik menantikan pahalanya, dan biarkan orang yang meramal buruk tidak terkejut mendapatkan siksaannya. Orang yang mengambil kekuasaan secara tidak sah akan Allah biarkan mewarisi kehinaan, dan orang yang mengumpulkan kekayaan secara tidak sah akan Allah biarkan mewarisi kemiskinan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 203.

259/303: Seorang laki-laki bertanya kepada Isa: “Siapakah di antara manusia yang paling baik?” Isa mengambil 2 genggam debu dan berkata: “Siapakah di antara kedua genggam debu ini yang paling baik? Manusia terbuat dari debu, dan yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling bertakwa.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 204.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:12.

Catatan:

Bandingkan juga ayat QS Al-Hujurat 13 “Inna akramakum ‘indallahi atqaakum.”

260/303: Isa biasa berkata: “Tak ada sesuatu yang baik keluar dari sebuah ilmu yang tidak mendampingimu di saat-saat kritis [di dalam hidupmu] atau tidak membuatmu menyumbangkan sesuatu untuk umat manusia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 224.

261/303: Allah mewahyukan kepada Isa: “Bila orang malas tertawa, oleskan kilauan tombak kesedihan di mata [-mu].”

Keterangan:

Hadits qudsi di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 73.

Catatan:

“Kilauan tombak” di atas adalah terjemahan dari kata “kuhl”.

262/303: Maryam berkata: “Ketika aku mengandung Isa, aku senantiasa mendengar Isa bertahmid di dalam diriku jika ada orang berbicara denganku di rumahku. Jika aku sendiri dan tak ada orang lain di sekitarku, aku berbicara dengannya dan dia denganku, sementara dia masih berada di dalam rahimku.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sejarawan (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 6.

263/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata: “Ya Allah, bagaimana aku bisa bersyukur kepadaMu sementara rasa syukurku adalah pemberian yang kuterima dariMu yang harus aku syukuri pula?” Allah menjawab: “Kalau kau tahu itu, engkau telah bersyukur kepadaKu.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu al-Hajjaj Yusuf bin Muhammad) Al-Balawi (… – 604 H), Kitab Alif Ba’, 1:370-371.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya 3:11-12 [dengan sedikit variasi; dinisbatkan kepada Nabi Daud dan Musa as.]

264/303: Maryam berada di Baitulmaqdis bersama sepupunya Yusuf, yang melayaninya dan berbicara dengannya di balik sebuah tembok. Yusuf adalah orang pertama yang mengetahui kehamilan Maryam, dan dia menjadi gundah dan sedih karena dia khawatir orang akan menganggap dia bersalah dan telah berbuat sesuatu yang mengotori namanya. Maka berkatalah Yusuf kepada Maryam: “Maryam, bisakah ada tumbuhan tanpa benih?” “Ya,” jawab Maryam. “Bagaimana mungkin?” tanya Yusuf. “Allah,” kata Maryam, “menciptakan tumbuhan pertama tanpa benih. Tapi mungkin engkau akan berkata: ‘Seandainya Allah tidak merekayasa bantuan benih, tentu akan terlalu sulit bagiNya.'” “Na’udzubillah!” kata Yusuf. Kemudian Yusuf berkata kepada Maryam: “Bisakah sebuah pohon tumbuh tanpa air dan hujan?” Maria menjawab: “Tidakkah kau tahu bahwa benih, tumbuhan, air, hujan, dan pepohonan mempunyai satu pencipta?” Maka Yusuf bertanya sekali lagi: “Bisakah ada anak-anak atau kehamilan tanpa seorang laki-laki?” “Ya,” jawab Maryam. “Bagaimana mungkin?” tanya Yusuf. “Tidakkah kau tahu bahwa Allah menciptakan Adam dan isterinya Hawa tanpa kehamilan, tanpa seorang laki-laki dan tanpa seorang ibu?” “Ya,” jawab Yusuf yang kemudian menambahkan: “Katakan kepadaku, apa yang terjadi denganmu?” Maryam berkata: “Allah telah membawakan kepadaku kabar baik tentang kalimatullah yang bernama Almasih Isa bin Maryam.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu al-Hajjaj Yusuf bin Muhammad) Al-Balawi (… – 604 H), Kitab Alif Ba’, 1:406.

265/303: Isa berkata: “Sabarlah atas omongan orang yang kurang ajar, maka kalian akan mendapatkan ganjaran sepuluh kali lipat.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu al-Hajjaj Yusuf bin Muhammad) Al-Balawi (… – 604 H), Kitab Alif Ba’, 1:464.

266/303: Isa berkata: “Ya Bani Israil, janganlah makan dengan berlebihan, karena barang siapa makan berlebih-lebihan akan tidur dengan berlebih-lebihan pula, dan barangsiapa tidur berlebih-lebihan akan sedikit berdoa, dan barang siapa sedikit berdoa akan termasuk orang-orang yang lalai.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir.

267/303: Allah mewahyukan kepada Isa: “Bersikap lembutlah terhadap manusia sebagaimana bumi di bawah kaki mereka, bersikap pemurahlah kepada mereka sebagaimana air yang mengalir, bersikap penyayanglah sebagaimana matahari dan bulan yang terbit baik untuk orang baik maupun yang jahat.”

Keterangan:

Hadits qudsi di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir.

268/303: Isa berkata: “Bagaimana mungkin seorang jadi ‘ulama sementara dia tahu akan kehidupan setelah matinya tapi upaya hidupnya tetap diarahkan ke dunia ini, dan dia menyukai apa yang merugikannya dan bukan yang menguntungkannya?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir.

269/303: Isa menyediakan makanan untuk murid-muridnya. Setelah mereka makan Isa mencuci tangan dan kaki mereka. Mereka berkata: “Ruhullah, itu seharusnya kami lakukan [sendiri].” Isa menukas: “Aku melakukakn ini agar kalian [juga] melakukannya pada orang-orang yang kalian beri pelajaran.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 1:83.

Catatan:

Bandingkan Yoh 13:1-16.

270/303: Isa berkata: “Beban hidup ini dan hidup nanti telah menjadi berat. Mengenai beban hidup ini; janganlah kalian mnegulurkan tangan ke dalamnya tanpa mengetahui bahwa ada orang liar yang telah mendahului kalian melakukannya. Mengenai beban hidup nanti: kalian tidak akan menemukan seorang pun yang akan membantu kalian di dalam mengatasinya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 2:146.

271/303: Isa berkata: “Ya Rabbi, beritakanlah kepadaku tentang umat yang memperoleh rahmatMu!” Allah berfirman: “Itu adalah umat Muhammad, umat yang penuh dengan para ‘ulama, umat yang bertakwa, beriman, menguasai diri, berhati bersih, serta bijaksana seolah-olah mereka itu para nabi. Mereka sudah cukup puas dengan sedikit rahmat dariKu, dan Aku pun cukup puas dengan beberapa amal shalih mereka. Aku akan mengantarkan mereka ke surga karena mereka berkata: ‘Tidak ada tuhan selain Allah.’ Ya Isa, mereka adalah penghuni surga yang terbanyak karena tidak ada lidah yang lebih merendahkan diri seperti mereka ketika berkata ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ dan tidak ada leher yang lebih merendah diri karena ruku’nya mereka.”

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi (Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 2:159.

272/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata: “Allah Yang Mahakuasa membenci orang yang banyak tertawa tanpa alasan dan yang banyak mondar-mandir tanpa tujuan, dan Dia juga membenci orang yang menyinggung kitab suci di antara kelakar dan sendau gurau.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi (Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 2:243.

273/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata: “Barangsiapa tidak dilahirkan dua kali, maka tidak akan masuk ke Kerajaan Langit [1].”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi (Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 1:174.

Catatan kaki:

[1] ‘Kerajaan Langit’ artinya surga, tetapi makna ‘dua kali dilahirkan’ bisa ditafsirkan bermacam-macam.

274/303: Beberapa orang bertamu ke Isa. Isa menyuguhkan mereka roti dan cuka, dan berkata: “Seandainya aku mempunyai kebiasan untuk memuliakan setiap tamuku, maka aku akan memuliakan kalian.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ‘ulama fiqh dari Damaskus (Abu al-Faraj ‘Abd ar-Rahman bin Najm) Ibn al-Hanbali (… – 634 H), Al-Istis’ad biman Laqaituhu min Shalihi al-‘Ibad fi al-Bilad.

Catatan:

Tampaknya kisah di atas menekankan bagaimana sederhananya hidup Isa sehingga dia hanya bisa menyuguhkan cuka dan roti kepada para tamunya.

275/303: Isa berkata: “Bersikaplah kepada manusia sedemikian rupa sehingga ketika kalian masih hidup mereka rindu akan kalian, dan ketika kalian sudah meninggal mereka menangisi kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Muhadarat al-Abrar wa Musamarat al-Akhbar fi al-Adabiyyat wa al-Nawadir wa al-Akhbar, 2:2.

276/303: Isa berkata kepada para ‘ulama fiqh [1]: “Kalian berada di tengah-tengah jalan menuju hidup yang kekal, tetapi kalian tidak mengukur jalan ini dengan tepat hingga ujungnya, dan juga kalian tidak mengizinkan orang lain untuk melakukannya. Rugilah orang yang tertipu oleh kalian!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Muhadarat al-Abrar wa Musamarat al-Akhbar fi al-Adabiyyat wa al-Nawadir wa al-Akhbar, 2:30.

Catatan kaki:

[1] Dalam konteks zaman Isa barangkali terjemahan yang lebih tepat adalah ‘pakar Taurat’.

277/303: Diriwayatkan bahwa Isa berjalan melewati empat ratus ribu wanita yang menunjukkan penyesalan mereka dan memakai pakaian dari bulu kasar dan bulu domba. Isa bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berubah?” Mereka menjawab: “Mengingat api nerakalah yang membuat kami berubah ya Ibnu Maryam. Barangsiapa yang jatuh ke api neraka tidak akan mendapatkan pendingin ataupun minuman penghilang dahaga.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Muhadarat al-Abrar wa Musamarat al-Akhbar fi al-Adabiyyat wa al-Nawadir wa al-Akhbar, 2:253.

278/303: Setan muncul di hadapan Isa dalam sosok seorang lelaki tua. “Ya Ruhullah, katakanlah: ‘Tidak ada tuhan selain Allah,'” pinta setan dengan harapan bahwa Isa bisa mematuhi dia. Isa menjawab: “Aku mengucapkannya –tetapi bukan karena kamu menyuruhnya–: Tidak ada tuhan selain Allah.” Setanpun berlalu dari sana.

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Al-Futuhat al-Makiyya, 1:368-369.

Catatan:

Bandingkan ‘Jesus’ Sayings and Stories …” nomer 206.

279/303: Isa berkata kepada Bani Israil: “Ketahuilah bahwa hubungan kehidupan kalian sekarang dengan kehidupan kalian setelah mati adalah laksana terbitnya kalian dengan terbenamnya kalian. Makin mendekat kalian ke timur maka makin menjauh kalian dari barat, dan makin mendekat kalian ke barat maka makin menjauh kalian dari timur.” Dengan perumpamaan ini Isa mengingatkan mereka bahwa mereka bisa mendekatkan diri ke kehidupan setelah mati dengan beramal shalih.

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Al-Futuhat al-Makiyya, 4:662.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Ma’ali Muhammad bin al-Hasan) Ibn Hamdun (… – 562 H), Al-Tadzkira al-Hamduniyya; – (Mahmud bin ‘Umar) Al-Zamakhsyari (… – 538 H), Rab’ al-Abrar, 1-45 [dinisbatkan ke ‘Ali];

(Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 2:24.

280/303: Isa mengingatkan para pengikutnya dengan cara sebagai berikut: “Larilah dari dunia dengan cara berpuasa, dan bukalah puasa kalian pada saat kematian. Jadilah seperti orang yang merawat luka-lukanya dengan obat agar luka ini tidak menekannya. Sering berpikirlah tentang kematian, karena kematian datang dengan cepat pada kaum yang beriman, dengan membawa kebaikan yang tidak diikuti oleh keburukan; sementara dia membawa kepada kaum yang jahat keburukan yang tidak dikuti oleh kebaikan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sufisme paling masyhur (Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Al-Futuhat al-Makiyya, 4:663.

281/303: Isa bertemu setan dan berkata kepadanya: “Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah Yang Mahahidup dan Mahakekal, apa yang membuatmu sakit?” Setan menjawab: “Ringkikan kuda di jalan Allah.”

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh penulis tarikh (Syams al-Din Yusuf bin Quzughli) Sibt Ibn al-Jauzi (… – 654 H), Mir’at al-Zaman, 8:494.

282/303: Al-‘Uris melihat di dalam tidurnya Almasih Isa Ibnu Maryam yang menghadapkan mukanya dari langit ke arah Al-‘Uris. Al-‘Uris bertanya kepada Isa: “Apakah penyaliban benar-benar terjadi?” Isa menjawab: “Ya, penyaliban memang terjadi.” Al-‘Uris menceritakan mimpinya kepada penafsir mimpi yang kemudian berkata: “Orang yang memimpikan ini akan disalib. Isa tidak mungkin keliru dan karenanya hanya bisa mengatakan yang haq, maka penyaliban yang dikatakannya tidak menimpa dirinya karena Al-Quran yang agung mengatakan dengan jelas bahwa Isa tidak disalib ataupun dibunuh. Karena itu penyaliban ini berkaitan dengan yang bemimpi, dan dialah yang nanti akan disalib.” Dan memang terjadilah apa yang dikatakan oleh penafsir mimpi ini.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Jamal al-Din Muhammad bin Salim) Ibn Wasil (… – 697 H), Mufarrij al-Kurub fi Akhbar Bani Ayyub, 1:248 (sebuah kitab tarikh tentang Daula Ayyubi –keluarga Shalahuddin al-Ayyubi– dan perang mereka melawan tentara salib).

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:83 [variasinya].

Catatan:

Menurut Tarif Kahlidi, Al-‘Uris adalah seseorang yang memang pernah hidup.

283/303: Isa berkata: “Ya kaum hawariyyun, emas adalah penyebab kegembiraan di dunia ini dan penyebab penderitaan di dunia nanti. Sesungguhnya aku katakan kepada kalian: orang kaya tidak akan memasuki Kerajaan Langit.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh penulis tarikh Taj al-Din al-Subki (… – 771 H), Tabaqat al-Syafi’iyya, 4:134.

Catatan:

Lihat juga Matius 19:23-24; ‘kerajaan langit’ artinya ‘surga’.

284/303: Ahli tarikh dan para biograf meriwayatkan bahwa di zaman Isa hidup seorang laki-laki dari Bani Israil bernama Ishaq yang beristrikan sepupunya yang merupakan salah satu wanita paling cantik di zamannya. Ishaq sangat mencintai isterinya, tetapi dia kemudian meninggal dan karenanya Ishaq terus menerus berada di kuburan isterinya yang selalu dia kunjungi. Pada suatu hari Isa lewat di sana dan melihat Ishaq sedang menangis di kuburan isterinya. “Mengapa engkau menangis?” tanya Isa. Ishaq menjawab: “Ya Ruhullah, aku mempunyai sepupu yang kemudian menjadi isteriku dan sangat aku cintai. Dia telah meninggal, dan ini kuburannya. Aku tidak bisa menanggung derita harus berpisah dari dia, kematiannya adalah kematianku pula.” Isa bertanya kepadanya: “Maukah engkau aku bangkitkan isterimu untukmu, dengan izin Allah?” “Tentu Ruhullah.” jawab Ishaq. Maka Isa berdiri di dekat kuburan itu dan berkata: “Bangkitlah dengan izin Allah, engkau yang berada di dalam kuburan ini!” Kuburan itu terbuka dan seorang hamba hitam keluar dari dalamnya, dengan hidung, mata, dan lubang-lubang tubuh lainnya mengeluarkan api sembari berkata: “Tidak ada tuhan selain Allah, dan Isa adalah Ruhullah, Kalimatullah, hamba Allah, dan Nabiyullah.” Ishaq berkata: “Ya Ruhullah dan Kalimatullah, ini bukan kuburan isteriku; kuburan isteriku yang ini,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kuburan lain. Isa berkata kepada orang hitam itu: “Kembalilah ke tempat asalamu.” Orang itu rebah dan mati, dan Isa menguburkannya kembali di kuburannya. Kemudian Isa pergi ke kuburan yang satu lagi dan berkata: “Bangkitlah dengan izin Allah, engkau yang berada di dalam kuburan ini!” Isteri Ishaq bangkit dan kemudian membersihkan debu dari wajahnya. “Inikah isterimu?” tanya Isa. “Ya, Ruhullah,” jawab Ishaq. “Peganglah tangannya dan bawa dia pergi dari sini,” kata Isa. Maka Ishaq pun membawa isterinya pergi dari sana. Dia kemudian merasakan kantuk dan berkata kepada isterinya: “Menunggui kuburamu telah membuatku letih, aku ingin istirahat sebentar.” “Silakan,” jawab isterinya. Maka dia pun merebahkan diri dan tertidur dengan kepala di atas pangkuan paha isterinya. Ketika dia tertidur lewatlah anak raja. Dia tampan dan elok serta menunggangi seekor kuda yang gagah. Ketika isteri Ishaq melihat anak raja ini, dia segera diliputi oleh rasa cinta buta. Dia pun berdiri dan bergegas ke anak raja. Ketika anak raja melihatnya, dia pun jatuh cinta padanya. Isteri Ishaq mendekatinya sambil berkata: “Bawalah aku!” Sang anak raja pun mengangkat dna mendudukkan dia di atas kuda di belakang dia, dan pergi dari situ. Ketika Ishaq terbangun dia menengok ke sekeliling tetapi tidak melihat isterinya. Maka dia pun pergi mencarinya. Dia mengikuti kuda anak raja hingga dia bisa menyusulnya. Dia menghadap anak raja dan berkata: “Berikan kembali isteri dan sepupuku!” Tetapi isterinya menyangkal mengenalnya, dan berkata: “Aku adalah dayang-dayang anak raja.” “Bukan,” kata Ishaq, “kau adalah isteri dan sepupuku.” “Aku tidak mengenalmu,” kata isterinya, “aku hanya dayang-dayang anak raja.” Sang anak raja pun berkata kepada Ishaq: “Engkau hendak mencelakakan dayang-dayangku?” Ishaq menjawab: “Aku bersumpah demi Alah, dia adalah isteriku dan Isa ibnu Maryam telah membangkitkannya dari kematian dengan izin Allah.” Ketika mereka adu mulut, Isa datang. Ishaq berkata kepada Isa: “Ruhullah, inikah isteriku yang telah engkau bangkitkan dengan izin Allah?” “Ya,” jawab Isa. Wanita itu berkata: “Ya Ruhullah, dia berbohong, aku adalah dayang-dayang anak rajha.” Anak raja menambahkan: “Ini memang dayang-dayangku.” Isa bertanya kepada wanita itu: “Bukankah engkau wanita yang telah aku bangkitkan dengan izin Allah?” “Bukan ya Ruhullah, Allah saksinya,” jawab dia. Isa berkata: “Maka kembalikan kepada kami apa yang telah kami berikan kepadamu.” Wanita itu rebah dan mati. Isa berkata: “Barang siapa yang ingin melihat laki-laki yang diwafatkan Allah dalam keadaan kafir, kemudian dibangkitkan, dan diwafatkan lagi dalam keadaan muslim, maka perhatikanlah si laki-laki hitam. Barang siapa yang ingin melihat wanita yang diwafatkan Allah dalam keadaan beriman, dibangkitkan, dan diwafatkan lagi dalam keadaan kafir, maka lihatlah wanita ini.” Ishaq si laki-laki Israil kemudian bersumpah bahwa dia tidak akan menikah lagi, dan bergelandang di belantara sambil menangis.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1:202-203.

285/303: Isa bertemu dengan setan yang sedang menuntun lima keledai yang membawa beban. Isa bertanya kepada setan beban apa yang dibawa keledai, dan setan menjawab: “Barang yang aku cari pembelinya?” “Barang apa?” tanya Isa. “Yang satu adalah penindasan,” jawab setan. “Siapa yang membeli ini?” tanya Isa. “Penguasa,” jawab setan. “Barang kedua adalah kesombongan.” “Siapa pembelinya?” tanya Isa. “Para pemuka daerah.” “Yang ketiga adalah dengki.” “Siapa yang membeli?” tanya Isa. “Para ulama,” jawab setan. “Yang keempat adalah ketidakjujuran.” “Siapa pembelinya?” “Para pedagang,” jawab setan. “Dan yang kelima adalah penipuan.” “Siapa yang membeli ini?” tanya Isa. “Perempuan,” jawab setan.

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh (Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1:225.

Rujukan silang atas dialog di atas:

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:215.

286/303: Isa berjalan melewati seorang pawang ular yang sedang mengejar seekor ular. Si ular berkata: “Ya Ruhullah, katakan kepada orang ini bahwa kalau dia tidak membiarkanku hidup tenang aku akan memotong-motongnya.” Ketika si pawang ular kembali Isa melihat ular tadi sudah berada di keranjang si pawang. “Bukankah engkau telah berkata kepadaku bahwa engkau akan memotong-motong orang ini? Bagaimana mungkin engkau berakhir di tempat ini?” “Ya Ruhullah,” jawab si ular, “dia telah memberikan janji kepadaku, tetapi dia melanggar janjinya. Ganjaran atas khianat janji akan lebih keji daripada bisaku.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1:252.

287/303: Ketika Isa Ibnu Maryam dan Yahya bin Zakariyya sedang berjalan mereka melihat seeokor kambing liar yang sedang melahirkan anaknya. Isa berkata kepada Yahya: “Ucapakanlah perkataan ini: Hannah melahirkan Yahya, Maryam melahirkan Isa. Bumi memanggil kamu, Nak. Keluarlah, Nak!” [Komentar Al-Damiri:] Tiap wanita yang sedang melahirkan, yang diberikan ucapan ini, dengan izin Allah akan segera mengeluarkan bayinya. Yahya adalah orang pertama yang meyakini dan mempercayai Isa. Mereka adalah saudara sepupu, anak dari bibi dari pihak ibu. Yahya lebih tua enam bulan daripada Isa. Kemudian Yahya terbunuh sebelum Isa naik ke langit.

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh (Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 2:40.

288/303: Isa berkata: “Bila seseorang mengusir pengemis dengan tangan hampa maka para malaikat tidak akan mengunjungi rumahnya tujuh hari lamanya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 1:9.

289/303: Isa berkata: “Aku merawat orang yang berpenyakit kusta serta orang buta dan menyembuhkan keduanya. Aku merawat orang dungu dan dia membuatku putus asa. Menghadapi orang dungu [sebaiknya] dengan diam.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 1:16.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ayyuha al-Walad [versi lebih pendek].

290/303: Seorang laki-laki berkata kepada Isa: “Berikan aku pelajaran!” Isa menjawab: “Perhatikanlah dari mana rotimu datang!”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pemikir sufisme (Abd al-Wahab bin Ahmad al-Mishri) Al-Sya’rani (… – 973 H), Al-Tabaqat al-Kubra, 1:53.

291/303: Isa melewati seorang lelaki pembuat pelana yang sedang berdoa dan berkata di dalam doanya: “Ya Allah, seandainya aku tahu di mana keledai yang Engkau tunggangi maka aku akan membuatkan untuknya sebuah pelana yang dipenuhi oleh batu permata.” Isa menggoyang-goyangkan badan lelaki itu sambil berkata: “Celakalah engkau, memangnya Allah Yang Mahakuasa mempunyai keledai?” Allah berfirman kepada Isa: “Biarkanlah dia, karena dia telah mengagungkanKu dengan cara yang paling baik menurutnya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pemikir sufisme (Abd al-Wahab bin Ahmad al-Mishri) Al-Sya’rani (… – 973 H), Lata’if al-Minan wa al-Akhlaq.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1:229 [variasi].

292/303: Setan mengajukan pertanyaan kepada Isa: “Bisakah Tuhanmu mengatur sedemikian rupa sehingga alam ini berada di sebuah telur tetapi dunia tidak menjadi kecil dan telur tidak menjadi besar?” Isa menjawab: “Celakalah engkau! Ketidakmampuan tidak bisa disifatkan kepada Allah. Siapakah yang lebih perkasa daripada Dia yang bisa membuat dunia ini indah dan lembut dan membuat telur membesar?”

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 4:142.

293/303: Isa berkata: “Dinar itu penyakit agama, dan ‘ulama adalah dokternya agama. Bila kalian lihat si dokter terjangkiti penyakit ini, berhatilah-hatilah padanya, dan ketahuilah bahwa dia tidak pantas untuk memberikan nasihat kepada orang lain.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 14:319.

294/303: Isa berkata: “Apa gunanya untuk seorang manusia jika dia menjual jiwanya untuk semua yang ada di dunia dan kemudian dia mewariskan semua ini kepada orang lain sementara dia sendiri menjatuhkan jiwanya ke dalam kehancuran. Bahagialah orang yang menyelamatkan jiwanya dan memprioritaskan jiwanya atas semua yang ada di dunia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 14:329.

295/303: Isa berdiri untuk menyeru kepada Bani Israil. Dia berkata: “Ya Bani Israil, janganlah makan sebelum kalian lapar; dan bila kalian lapar maka makanlah, tetapi jangan sampai kenyang, karena kalau kalian kenyang maka tengkuk kalian membesar dan pinggul kalian menggemuk, dan kalian akan melupakan Tuhan kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 66:337.

Catatan:

Bandingkan juga ‘Jesus’ Sayings …’ nomer 266.

296/303: Isa berkata: “Tidak ada penyakit hati yang lebih buruk daripada kekejaman, dan bagi ruh tidak ada yang lebih tidak bisa ditanggung daripada hilangnya lapar. Kedua hal ini adalah kendali dari pengasingan dan pengucilan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 66:337.

Catatan:

Tarif Khalidi menyebut ucapan di atas tidak begitu terang maknanya.

297/303: Isa mengutus dua dari pengikutnya untuk menyampaikan risalahnya. Satu dari dua orang ini ketika kembali tampak seperti pipa air yang mengering, sementara yang satunya lagi gemuk dan gempal. Isa bertanya kepada yang pertama: “Mengapa kamu bisa menjadi seperti ini?” Orang itu menjawab: “Karena takwa.” Kemudian Isa bertanya kepada orang yang kedua: “Mengapa kamu menjadi seperti ini?” Orang itu menjawab: “Karena tawakkal.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dari kaum Syi’i (Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihar al-Anwar, 70:400.

298/303: Isa berkata: “Seandainya ini aku katakan, Engkau pasti mengetahuinya, karena Engkaulah yang berbicara dari dalam diriku. Engkaulah lidah yang dengannya aku mengatakan dengan yakin bahwa Engkau berada di dalam bentuk dan wujudku.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh sufi Palestina Abd al-Ghani al-Nabulusi (… – 1143 H).

Catatan:

Tarif Khalidi tidak bisa menemukan naskah Arab yang merupakan asal ucapan di atas. Dia mensarikan ucapan ini dari karya Asín, Mansur, dan Robson.

299/303: Isa berkata: “Celakalah kalian hamba dunia! Apa gunanya terangnya sinar matahari bagi orang buta yang tidak bisa melihat? Begitu pula tidak ada gunanya ‘ulama berilmu tinggi jika dia tidak beramal sesuai dengan ilmunya. Betapa banyaknya jenis buah-buahan, tetapi tidak semuanya bermanfaat dan bisa dimakan! Begitu pula ada betapa banyak ‘ulama, tetapi tidak semuanya mengamalkan ilmunya. Berhati-hatilah pada ‘ulama palsu, yang mengenakan baju sufi, yang merundukkan kepalanya hingga ke tanah, tetapi di balik alisnya dia menatap kalian laksana srigala. Ucapan mereka bertolak belakang dengan amalan mereka. Siapa yang bisa memetik buah anggur dari semak berduri, atau buah ara dari pohon timun pahit? Maka begitulah ucapan palsu dari ‘ulama palsu hanya membawa kepalsuan pula. Bila binatang penarik beban yang ada di alam bebas tidak diikat pemiliknya, maka dia akan lari ke tempat asal dan ke sesamanya. Demikian pula ilmu yang tidak diamalkan oleh pemiliknya akan keluar dari hatinya, meninggalkan dia, dan membuatnya tak berguna. Seperti halnya tumbuhan yang hanya bisa berkembang di air dan di tanah, maka keimananpun hanya bisa berkembang dengan ilmu dan amal. Celakalah kalian hamba dunia! Segala sesuatu mempunyai tanda sebagai pengenal dan saksi yang bisa menguntungkan atau merugikannya. Agama mempunyai tiga tanda sebagai tanda pengenal: iman, ilmu, dan amal.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ‘ulama besar dari Yaman yang menyusun kamus bahasa Arab klasik terbesar (Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:229-230.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Imta’ wa al-Mu’anasa, 2:123.

300/303: Diriwayatkan bahwa setan muncul di depan Isa dengan mamakai bandul-bandul bermacam jenis dan warna. Isa bertanya: “Apa artinya bandul-bandul ini?” “Itu adalah nafsu manusia,” jawan setan. “Apa aku ada urusan dengan ini?” tanya Isa. “Mungkin saja engkau makan kekenyangan, maka kami akan membuatmu malas untuk berdoa dan berdikir,” jawab setan. “Ada lagi yang lain?” tanya Isa. “Tidak ada,” jawab setan. “Aku bersumpah demi Allah tidak pernah mengisi perutku dengan makanan sampai penuh,” kata Isa. “Dan aku bersumpah demi Allah, tidak akan lagi mengingatkan seorang muslim tentang ini,” kata setan.

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh ‘ulama besar dari Yaman yang menyusun kamus bahasa Arab klasik terbesar (Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 7:445.

Rujukan silang atas dialog di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Minhaj al-‘Abidin;

(Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 3:102 [di kedua karya ini yang berdialog dengan setan adalah Yahya, bukan Isa].

301/303: Isa berkata: “Ya Bani Adam, lahirkanlah ke dunia apa yang akan mati, dan bangunlah [di dunia] apa yang akan hancur. Dengan cara seperti ini jiwa kalian akan jatuh ke dalam kebinasaan, dan rumah-rumah kalian akan hancur.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ‘ulama besar dari Yaman yang menyusun kamus bahasa Arab klasik terbesar (Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 8:85.

302/303: Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau tidak membangun sebuah rumah?” Isa menjawab: “Aku membangun di jalan bah.”

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh ‘ulama besar dari Yaman yang menyusun kamus bahasa Arab klasik terbesar (Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 9:933.

Catatan:

Bandingkan ‘Jesus’ Sayings …’ nomer 60.

303/303: “Betapa banyaknya manusia yang mengingatkan orang lain untuk mengingat Allah, tetapi mereka sendiri lupa akan ini! Betapa banyaknya orang yang menyuruh orang lain takut di hadapan Allah, tetapi mereka sendiri berlagak sombong di depanNya! Betapa banyaknya orang yang menyeru orang lain untuk menghadapkan muka kepada Allah, tetapi mereka sendiri lari menjauh dariNya! Betapa banyaknya orang yang membacakan dari Kitabullah untuk orang lain, tetapi mereka sendiri tidak mempedulikan ayat-ayat ini.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ‘ulama besar dari Yaman yang menyusun kamus bahasa Arab klasik terbesar (Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H).

Catatan:

Tarif Khalidi menambahkan bahwa ucapan di atas ada di karya Imam Al-Ghazali ‘Ihya’ ‘Ulum al-Din’ 1:52 yang dinisbatkan kepada orang zuhud Ibn al-Sammak.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,242 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: