Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

ISRA’ MI’RAJ

Isra Mi’raj bukanlah sebuah imajinasi seorang manusia yang hanya menampilkan kebohongan sejarah keagamaan. Tetapi justru ia lebih dari sekedar peristiwa alam lahiriyah dan bathiniyah dan merupakan sebuah fenomena kekuatan Maha Ruh yang mengendalikan alam kasat mata. Sebuah fakta keagamaan yang otentisitas sejarahnya sangat jelas tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan tidak bisa dilepaskan dari irodah Allah swt.

Bagi mereka yang hanya mengagungkan akal dan hanya mengandalkan alam kasat mata, Isra Mi’raj itu tidaklah mudah dipahami dan diterima sebagai sebuah fenomena yang dapat dipercaya. Kondisi tersebut justru menjadi sebuah proses seleksi umat yang menyimpulkan siapa yang benar-benar menjadi pengikut Nabi Muhammad saw dan siapa yang tidak. Bagi mereka yang percaya, ia akan terus menjadi Muslim. Dan bagi mereka yang tidak percaya, ia kembali kepada alam kekafiran jahiliyah.

Isra Mi’raj adalah hakekat perjalanan akhirat. Bentuknya bukan hanya sekedar musyahadah, tetapi justru lebih menekankan pada aspek pencapaian maqam tertinggi seorang manusia hingga bertajalli kepada Tuhannya. Itulah sebuah perjalanan yang membawa pesan tentang kaifiyat menghadap Allah swt. Dalam literatur agama, pesan Mi’raj itu disebut sebagai shalat. Itulah inti pesan yang harus terus diaktualisasikan dalam kehidupan seorang muslim.

Pahamilah bahwa sesungguhnya shalat adalah rasa uluhiyah di dalam bathin, menghadirkan sinyal Rasulullah saw untuk berkomunikasi kepada Allah swt, sehingga tercegahlah segala perbuatan keji dan munkar. Dalam makna ini, maka shalat berarti “mi’rajul mu’minin”. (Maha Suci Allah dengan segala kehendak-Nya).

Pengertian Isra

Di dalam Al-Qur’an telah tertulis pada Surat Al-Israa ayat 1 :

Maha Suci yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Israa (17) : 1)

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Maha Suci (salah satu Nama Allah) telah memperjalankan hamba-Nya. Memperjalankan dalam ayat tersebut memakai kata asraa yang digandeng dengan bi (artinya dengan). Secara gramatis kata bi itu bermakna mengiringi atau ikut secara beriringan. Dalam pengertian ini, istilah memperjalankan hamba mengandung makna bahwa si hamba berjalan bersama dengan yang memperjalankan. Dan yang memperjalankan hamba tersebut adalah Sang Maha Suci, yang tidak lain adalah salah satu dari 99 Asmaul Husna.

Perjalanan dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha adalah perjalanan spiritual yang tidak hanya menjelaskan tentang fenomena alam jasadiah (materialistik). Namun ia juga mengandung makna-makna simbolik dari sekedar persitiwa alam jasadiah.

Secara literal, Masjid haram dapat dijelaskan kepada makna ruhani. Masjid bermakna tempat sujud Haram bermakna suci (haram dari kekejian dan kemunkaran).  Masjidil Haram secara gramatika bahasa Arab adalah bentuk mudhaf mudhaf ilayhi, yang mengandung pengertian bahwa kata haram menjelaskan kata Masjid, teori DM (Diterangkan dan Menerangkan). Tapi dalam bahasa Arab, istilah itu menjadi disifati dan menyifati (mudhaf mudhaf ilayhi). Jika diterjemahkan secara istilah menurut gramatika bahasa Indonesia, kata ‘haram’ itu adalah sebuah keadaan yang menentukan tempat sujud. Jelasnya, bahwa tempat sujud menjadi terbangun dengan mengharamkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Lebih jelasnya lagi, bahwa mencegah diri dari keji dan munkar adalah makna dari sujud itu sendiri.

Konkritisasi dari sujud dalam makna ini adalah mencegah keji dan munkar. Upaya tersebut adalah upaya penyucian diri. Menjelaskan tentang makna yang lebih dalam dari shalat. Ketika diri sudah disucikan dengan upaya tersebut, maka ia akan bersinergi dengan yang Maha Suci. Saat itu, Maha Suci bersama dengan hamba yang disucikan mengambil start dari kesucian si hamba sendiri untuk melakukan perjalanan. Jadi, makna simbolik dari Masjid Haram itu, tidak lain adalah menunjukkan dan menjelaskan tentang kondisi hamba yang bersinergi dengan yang Maha Suci. Keadaan hamba ketika itu menjadi Ka’bah.

Ka’bah, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah pusaran, poros, as, atau mata-mataan kayu (betawi). Ka’bah disebut juga Masjid Haram, Baytullah, Baytul ‘Atiiq atau Tanah Suci. Disebut Baytullah (Rumah Allah). Allah bersemayam pada hamba yang menyucikan diri. Gerak dan irodah hamba menjadi gerak dan irodah Allah. Disebut juga Baytul ‘Atiiq (Tempat Pembebasan). ‘Atiiq diartikan sebagai Hurriyyah atau kebebasan, kemerdekaan. Pembebasan ini berkaitan dengan kungkungan atau keterikatan hawa nafsu duniawi. Hamba yang menyucikan diri adalah hamba yang merdeka dari kungkungan hawa nafsu duniawi.

Hamba Allah yang menyucikan diri akan menjadi Rumah Allah dan bersinergi dengan yang Maha Suci hingga akhirnya ia menjadi poros bagi alam semesta. Alam semesta mengelilinginya (berthawaf) dan menjadikannya sebagai poros. Mengapa alam semesta mengelilinginya, adalah karena pada dasarnya alam semesta ingin kembali kepada asalnya atau fitrahnya untuk bisa kembali kepada Allah. Seperti atom yang mengelilingi inti atom. Inti atom tidak lain adalah kekosongan yang mengandung energy panas. Atom yang satu akan menarik atom yang lain untuk bersama-sama mencari dan berkeliling kepada intinya. Seperti juga planet mengelilingi matahari. Pada awalnya, matahari itu tiada. Ia muncul karena suatu energy yang dihasilkan oleh planet-planet yang mengelilinginya. Sebuah fitrah alam semesta yang sudah digariskan oleh Allah swt, agar kehidupan dunia tetap terjaga.

Fitrah alam semesta adalah thawaf. Sesuatu yang merdeka akan diambil oleh sesuatu yang lain (yang belum merdeka) menjadi poros untuk berthawaf. Sesuatu dikatakan merdeka adalah karena ia terlepas dan berlainan dari sesuatu yang mengelilinginya. Sesuatu yang merdeka itu tidak lain adalah kekosongan itu sendiri yang kemudian memunculkan wujud energy. Sesuatu yang merdeka itu telanjang dari unsur-unsur penampakkan, karenanya ia menarik sesuatu yang lain untuk menjadi pakaiannya.

Sesuatu yang kosong dan merdeka adalah sosok kesucian yang memunculkan gerak bagi yang lain. Dan yang lain itu mengambil energy dari yang kosong untuk menjadi geraknya. Hal ini menjadi sebuah teori alam semesta bahwa alam semesta terbentuk dari sebuah titik yang bervolume nol. Ia muncul dari sebuah titik yang bervolume nol melalui sebuah ledakan besar hingga akhirnya memunculkan benda-benda dan mengelilinginya. Titik yang bervolume nol itu tidak lain adalah sebuah sosok ciptaan awal dan menjadi sebuah “terminal” yang menghubungkan kepada Sang Pencipta. Ia menjadi transmitter yang menghubungkan antara ciptaan dengan Sang Pencipta. Titik yang bervolume nol itu dikelilingi (dithawafi) oleh sesuatu yang lain, hal itu bermakna bahwa segala sesuatu yang mengelilinginya itu ingin terhubung kepada yang Maha Suci. Karena titik yang bervolume nol itu adalah sosok kesucian yang merdeka dari ikatan benda-benda dan menjadi energy untuk bisa terhubung dengan yang Maha Pengatur kehidupan dunia dan akhirnya untuk kehidupan dunia itu sendiri.

Jadi, Masjid Haram adalah titik yang bervolume nol, sosok kesucian yang merdeka dan bebas dari ikatan-ikatan alam semesta namun ia menjadi poros dari alam semesta dan menjadi transmitter yang terhubung kepada Sang Pencipta.

Ketika dikatakan bahwa Maha Suci memperjalankan hambaNya, itu bermakna bahwa Maha Suci itu tidak lain adalah Sosok Kesucian itu sendiri yang terlepas dari dimensi jarak dan waktu. Dia membawanya kepada sebuah tempat sujud yang lebih luas dan lebih besar (Aqsha).

Aqsha dalam gramatika bahasa arab berbentuk superlative. Asal katanya Qushwa, artinya besar, luas dan agung. Aqsha bermakna lebih luas, lebih besar dan lebih agung. Ia menjadi sosok kesucian selanjutnya dari makna Masjid Haram. Dalam catatan sejarahnya, Masjid Aqsha itu merujuk kepada sebuah tempat di Palestina dan disebut Baytul Maqdis atau Muqaddas. Maqdis berasal dari kata qadasa. Bentuk lain dari qadasa adalah qudus, artinya juga suci. Namun kesucian pada istilah qudus peringkatnya lebih tinggi dari istilah Haram. Dia memiliki keagungan yang lebih tinggi dari derajat kesucian yang dinisbatkan pada makna Masjid Haram.

Perjalanan hamba dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha memunculkan fenomena dan pemandangan luar biasa yang memperlihatkan ilmu pengetahuan tertinggi dari alam semesta. Ia akan banyak mengetahui teori-teori kejadian dan pergerakan alam semesta. Keterlepasan dari dimensi jarak dan waktu dalam perjalanan itu memunculkan pengetahuan tentang jarak dan waktu itu sendiri. Sebuah perjalanan yang mengandung pendidikan cukup berharga bagi seorang hamba. Padahal seorang manusia pada umumnya harus melewati masa puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun untuk mengetahui teori-teori ilmu pengetahuan tentang alam semesta.

Pengetahuan tentang alam semesta yang muncul dalam perjalanan itu adalah makna dari :

yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami” (penggalan Surat Al-Israa ayat 1).

Perjalanan itu dapat disimpulkan menjadi perjalanan ilmu. Kondisi hamba tidak kemana-mana dan tidak berada di mana-mana. Ia dengan kesuciannya berada pada sebuah dimensi yang meniadakan jarak dan waktu. Munculnya jarak karena ada dimensi tempat dan benda-benda dalam perspektif kemakhlukan dan munculnya waktu karena ada dimensi jarak yang memisahkan benda-benda dalam perspektif kemakhlukan jua. Jika kita hanya menganalisa bahwa fenomena isra adalah peristiwa lahiriyah tanpa penyertaan ruhaniyah, maka kita terjebak pada pandangan-pandangan materialism. Tanpa percaya pada agama seseorang bisa menempuh riset itu. Namun, jika kita hanya menganalisa bahwa fenomena isra itu adalah peristiwa ruhaniyah tanpa lahiriyah, maka kita tidak akan bisa mengambil manfaat yang lebih besar kecuali hanya mengambil hikmah dari kisah-kisah sejarah tentang hal itu.

Fakta perjalanan (isra) itu adalah pembelajaran untuk setiap manusia yang meyakini akan kebenarannya. Sosok kesucian yang telah dipaparkan di atas bukanlah sosok jasad si hamba yang melakukan perjalanan. Sosok jasad si hamba, bagaimanapun adalah sosok kasar dan kasat mata. Ia adalah salah satu partikel dunia yang terikat dengan dimensi jarak dan waktu. Meski si hamba sendiri menjadi sosok jasadi yang paling mulia di seantero dunia ini. Sosok kesucian yang dimaksud adalah sosok murni yang berada pada dimensi akal pikiran. Salah satu jendela akal pikiran yang sering mengikat akal pikiran itu sendiri adalah indera penglihatan. Ketika indera penglihatan menerima data dari apa yang dilihat, maka secara tidak sadar data itu menjadi ikatan bagi akal pikiran itu sendiri. Begitupun indera pendengaran. Keduanya menjadi jendela yang sangat penting bagi bekerjanya akal pikiran. Akal pikiran yang murni adalah akal pikiran yang tidak terikat (merdeka) dari data-data yang masuk melalui kedua jendela itu. Karena hal itulah, maka Allah menutup ayat tentang isra itu dengan menunjukkan suatu penekanan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (penggalan Surat Al-Israa : 1).

Indera pendengaran dan penglihatan menjadi suatu obyek paling penting yang harus disucikan secara tematis. Keduanya paling sering membuat seseorang terpuruk dalam keadaan dunianya. Dari keduanya pula seseorang mendapat pengagungan dan penghormatan.

Hanya kepada Allah swt kita serahkan segala upaya, keinginan-keinginan dan rencana-rencana. Karena Ia Maha Penolong, Maha Bijaksana, Yang Memiliki sebaik-sebaik rencana. Kita hanyalah hamba dhoif yang masih sangat tergantung pada makhluk, ruang, waktu, kondisi dan keadaan dan kepada partikel-partikel dunia yang sama sekali tidak pernah ada titik kepuasannya. Karenanyalah, kita harus sadar bahwa kita tidak lebih mulia dari hewan bahkan justru lebih sesat. Mari kita introspeksi diri sejak dini agar kita selalu berpikir dan bertindak bukan hanya sekedar positif tetapi juga mengerti dengan jelas apa dan bagaimana seharusnya kita berbuat untuk Allah swt demi keselamatan diri kita sendiri fiddiin, waddunia wal akhirah.

Pengertian Mi’raj

Mi’raj secara literatur bermakna assullam wal mash’ad artinya menapaki tangga hingga ke ujung atau puncak. Ia berasal dari kata ‘araja yang artinya irtafa’a (naik). Secara referentif istilah Mi’raj tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Namun, ada beberapa ayat yang dijadikan oleh para pentafsir untuk menjelaskan tentang Mi’raj.

1. Demi bintang ketika terbenam. 2. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. 3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. 4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). 5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. 6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. 7. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. 8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. 9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). 10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. 11. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? 13. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, 14. (Yaitu) di Sidratil Muntaha. 15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, 16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. 17. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. 18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. 19. Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al-lata dan Al-‘uzza, 20. dan manata yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?

Jika di dalam isra dijelaskan tentang bagaimana suatu kesucian yang keluar dari dimensi jarak dan waktu lalu memunculkan pengetahuan tentang teori-teori jarak dan waktu itu sendiri, maka di dalam pengertian Mi’raj, dimensi alam-alam itu semakin tidak terjangkau oleh pengetahuan tentang alam semesta pada umumnya.

Keterangan yang disebutkan dalam surat an-Najm itu hanyalah symbol untuk menjelaskan peristiwa yang Maha Agung tersebut. Pada faktanya hal itu tidaklah mudah untuk dicerna oleh akal pikiran. Namun, tidak berarti tidak bisa dijelaskan, meski melalui symbol.

Dalam kisah yang beredar di khalayak ramai, Mi’raj itu adalah perjalanan Nabi saw menuju langit ke tujuh. Secara bertahap (seperti naik tangga) ia lewati setiap lapisan langit. Diceritakan, bahwa dengan buraq Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baytul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat melakukan shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah fitrah engkau dan ummat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi saw meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya, diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”

Kisah tersebut adalah symbol-symbol untuk menjelaskan tentang peristiwa Mi’raj yang dialami Nabi saw. Keyakinan akan kebenaran Isra Mi’raj pada zaman itu nyaris menjadi sebuah imajinasi belaka jika bukan karena gelar Al-Amin yang disandang Nabi Muhammad saw dan jika Allah tidak mengotentifikasikannya dalam Al-Qur’an. Bahkan sebenarnya, tidak sedikit orang-orang Quraisy pada waktu itu yang menganggap Nabi saw tidak waras, sehingga orang-orang yang tadinya muslim, kini harus “berseberangan” (baca: Murtad) dengan Nabi.

Peristiwa Mi’raj memang tidak mudah untuk dipahami. Hingga saat ini, di zaman ketika ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, peristiwa Mi’raj tetap saja sesuatu yang tidak terjangkau secara akal. Semakin dianalisa secara akal, semakin jauh kebenaran yang akan dicapai. Karena dimensi pemahaman secara akal, ada yang bisa dijelaskan secara teori dan ada yang tidak bisa dijelaskan, namun hanya bisa dipahami.

Misalnya, penjelasan tentang rasa. Rasa pedas pada sebuah cabe tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata atau dengan membuat suatu teori tentang rasa pedas untuk menjelaskan kepada seseorang yang sama sekali tidak pernah mengetahui tentang rasa pedas. Bahkan –misalnya- rasa pedas itupun dia tidak mengerti. Hal itu sangat sulit -bahkan tidak bisa- dijelaskan dengan kata-kata kecuali diberikan cabenya dan dimakan sendiri. Nah, ketika seseorang sudah mengetahui rasa cabe yang dimakannya, baru dia akan mengerti bahwa cabe yang dimakannya itu rasanya pedas. Rasa pedas baru bisa dimengerti.

Peristiwa Mi’raj adalah rasa ruhani, meski pencapaiannya tidak meninggalkan unsur-unsur jasadi. Penjelasan yang disampaikannya hanya berupa kisah-kisah simbolik yang menunjukkan keterkaitan dengan dimensi ruang dan waktu. Namun, ketika akal meraba dan meyakini hanya sebatas symbol-symbol saja, maka penetapan atas keyakinan itu hanya berhenti pada keterpukauan yang masuk dari indera pendengaran. Rasa terdalam dari sebuah keyakinan tidak menghujam sampai ke dasar qalbu.

Ayat-ayat awal dari Surat an-Najm hingga ayat ke-12 adalah klarifikasi kedudukan Nabi saw sebagai penyandang gelar al-Amin (jujur). Kejujuran yang menjadi sifat dasarnya menghantarkan penglihatannya untuk melihat sesuatu yang steril, fitri, dan azali. Kisah pertemuannya dengan para Nabi pada lapisan setiap langit menjelaskan tentang sinergisme kejujuran yang diusung oleh para Nabi. Jiwa yang jujur akan memunculkan penampakkan kemurnian para Nabi. Kejujuran adalah keikhlasan. Keikhlasan adalah Ketauhidan. Tauhid adalah penyatuan antara akal murni dengan qalbu yang memang sudah murni. Bagian-bagian qalbu yang paling dalam adalah makna dari Tauhid itu sendiri. Mengenai lapisan qalbu ini, Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah bersabda :

فِي قَلْبٍ فُؤَادٌ ، وَفِي فُؤَادٍ لُبٌّ ، وَفِي لُبٍّ سِرٌّ ، وَفِي سِرٍّ أَنَا .

Di dalam qalbu ada fuad, di dalam fuad ada lubb, di dalam lubb ada sir, di dalam sir ada Aku (Allah).

Ketika dikatakan bahwa Nabi saw meniti langit dan bertemu dengan para Nabi pada setiap langit, itu artinya sinergisme kemurnian yang menunjukkan maqomat-maqomat ruhani. Jalan tauhid pada maqom-maqom tertentu meniscayakan pertemuan dengan para Nabi. Spirit kemurnian para Nabi pada setiap maqom akan sama hingga akhir zaman. Barangsiapa yang mampu membuka hijab langit dalam dirinya, maka ia akan sampai pada spirit kemurnian para Nabi. Sampai kapanpun spirit kemurnian itu akan tetap sama.

Dalam Surat an-Najm ayat 13-14 dikatakan : “dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha”. Jibril as, secara gamblang tidak disebutkan pada ayat tersebut. Namun, para pentafsir menyimpulkan bahwa sosok yang menyampaikan wahyu dan disebut pada ayat itu adalah sosok Jibril as. Jibril dalam rupa yang asli dan disaksikan oleh Nabi juga tidak disebut secara gamblang. Yang disebut pada ayat itu hanyalah bahwa Nabi saw “menyaksikannya pada kesempatan lain, yakni di Sidratil Muntaha”.

Kata “menyaksikannya”, Al-Qur’an memilih dengan kata ru’yah artinya melihat seperti penglihatan dalam mimpi. Kesaksian itu di Sidratul Muntaha. Sidrah adalah penyebutan kepada sebuah pohon bidara. Namun, secara etimologis, Sidrah itu berasal dari kata sa-da-ra, yang arti dasarnya dalam bahasa Indonesia adalah sadar atau kesadaran tentang kebenaran sesuatu. Muntaha berasal dari kata intaha-yantahi, artinya tempat penghabisan. Jika di majemukkan, Sidratul Muntaha bermakna kesadaran akan suatu kebenaran hingga tempat yang penghabisan. Lalu apa kaitannya antara penglihatan terhadap Jibril dalam rupa yang asli dengan kesadaran akan kebenaran hingga tempat yang penghabisan?

Dalam sebuah penggalan Hadits, Nabi saw pernah bersabda bahwa beliau menyaksikan Jibril dalam rupa yang asli, satu sayapnya di sebelah timur dan satu sayapnya lagi di sebelah barat. Dua sayap itu terbentang begitu luas hingga menutupi penglihatan mata ke arah langit.

Pernyataan itu adalah simbolisasi dari alam semesta yang terdiri dari tatanan struktur yang saling berhubungan satu sama lain. Struktur alam semesta yang saling berkaitan itu diumpamakan sayap Jibril yang terbentang dari timur hingga ke barat. Ketika struktur alam semesta itu disadari dan disaksikan melalui ‘ainul bashirah atau dalam surat an-Najm disebut ru’yah (penglihatan yang benar) hingga sampai pada kesadaran di tingkat terakhir (tidak ada kesadaran lagi setelahnya), maka itulah yang disebut sebagai puncak kesaksian atau puncak ilmu. Setelah itu, sang Penyaksi berhenti dari geraknya membuka tabir. Karena hakekat ilmu itu adalah membuka tabir. Membuka tabir yang disebut sebagai hakekat mendapatkan ilmu itu dilakukan oleh Jibril sebagai Penyampai wahyu. Dan itu tidak keluar dari konsep lapisan-lapisan qalbu. Dalam ayat 11 surat an-Najm dikatakan “Hatinya (dalam bahasa Al-Qur’annya dipakai kata Fuad) tidak mendustakan apa yang dilihatnya”. Fuad adalah salah satu lapisan dari qalbu. Jibril mendekat kepada Fuad hingga dua ujung busur panah bahkan lebih dekat lagi (ayat 9 surat an-Najm).

Kesaksian oleh Nabi saw kepada Jibril adalah kesaksian Fuad. karenanya, ia tetap berjarak. Ada satu lapisan lagi setelah Fuad yakni Lubb untuk sampai kepada Sirr, dimana terdapat Singgasana Allah swt. Maqom kesaksian ini berada pada tempat yang terakhir dari segala kesadaran ilmu tentang alam semesta. Maqom kesaksian itu berada dan disebut dengan Sidratul Muntaha. Dalam makna lain, Sidrah adalah pohon bidara yang secara metaforis ia terhubung kepada seluruh alam semesta. Ia menjadi sebuah tempat yang paling ujung pada keagungannya dan menjadi yang paling awal pada kejadian seluruh alam. Seluruh kejadian alam semesta berpangkal padanya. Ia juga menjadi puncak yang tertinggi dari struktur alam semesta yang secara hierarkis tetap terhubung pada alam yang lebih rendah.

Kesaksian Nabi saw di Sidratul Muntaha membuat sirna segala ilmu. Sirnanya ilmu bukan bermakna bahwa ilmu hilang, tapi hakekat ilmu telah nyata pada diri Sang Penyaksi. hakekat ilmu adalah Sang Penyaksi itu sendiri. Qudrah dan irodah Allah berada pada sosok murninya Sang Penyaksi. Kemurnian Sang Penyaksi berbanding lurus dan membentuk barisan yang tiada berjarak dengan kemurnian para Nabi. Jaminan alam semesta berada pada tangannya. Ia diberkati dan sekaligus arah bagi shalatnya alam semesta raya. Karena Allah swt shalat kepadanya. Shalatnya Allah kepadanya bermakna keterhubungan. Itulah maqom yang tertinggi yang tidak ada maqom lagi setelahnya.

Pesan shalat yang muncul ketika Mi’raj adalah untuk menguatkan keterhubungan setiap manusia kepada puncak alam semesta yang menjadi “terminal” terakhir menuju kepada Allah swt. Perintah shalat itu muncul hanya untuk menekankan arah kiblatnya. Arah kiblat yang hakiki dan terlepas dari sifat-sifat kekotoran duniawi. Arah kiblat yang membentangkan kemurnian dan membeberkan rahasia ilmu bagi mereka yang mengerti. Arah kiblat itu mengulurkan syafa’at untuk mengangkat manusia dari keterpurukan karena sebab tabir-tabir dunia. Arah kiblat itu adalah Rumah Allah, Rumah Kebebasan, dan Rumah Kesucian dan Rumah Kemakmuran.

Ayat ke-19 dan ke-20 surat an-Najm adalah sirnanya ketidak patutan akan arah kiblat bagi mereka yang tersesat. Lata, ‘Uzza dan Manata adalah berhala metaforis. Lata secara etimologis adalah latah (ikut-ikutan). Akhbara bighairi maa yus’alu ‘anhu (mendapatkan dan mengikuti sebuah informasi tanpa dikonfirmasi kebenarannya). Lata adalah berhala yang masuk dari jendela mata dan telinga. Lata adalah simbolisasi dari sikap seseorang yang mengikuti sesuatu tanpa memahami sesuatu yang diikutinya. Lata mengkelabui seseorang hingga rusak kepribadiannya. Kemurniannya akan semakin jauh terjangkau. Harapan dan ketakutannya termotivasi dari dan pada sesuatu yang dilihat dan didengarnya.

Sedangkan ‘Uzza adalah bermakna ‘aziizah atau syariifah yang bermakna kemuliaan dan kebesaran. Kemuliaan dan kebesaran dalam pandangan makhluk adalah berhala metaforis. Partikel-partikel kemuliaan diukur dari keadaan secara materiil. Ukuran kemuliaan selalu didasarkan pada keadaan yang nampak secara lahiriyah, bukan secara ruhani. Padahal Allah swt telah menggariskan bahwa jalan kemuliaan adalah taqwa. Bukanlah sesuatu yang nampak. Ketika sesuatu yang nampak dan sesuatu yang terdengar dijadikan motivasi untuk mencapai kemuliaan, maka sesuatu itu telah menjadi ‘Uzza. Itulah berhala metaforis yang secara tidak sadar menjerumuskan seseorang kepada kebinasaan. Ketika diri merasa kehilangan akan kemuliaan duniawi yang tidak dapat diraih, maka secara tidak sadar diri telah terikat oleh sebuah pemberhalaan terhadap kemuliaan duniawi tersebut.

Manata bermakna sebuah kebodohan yang muncul akibat menentukan sesuatu dari unsur-unsur yang nampak dan kasat mata dan menganggap bahwa hal itu adalah kemuliaan tertinggi. Bahasa lainnya adalah menuhankan akal. Hal itu juga termasuk dalam berhala metaforis. Segala sesuatu harus dibuat perencanaan dan menetapkan keyakinan pada perencanaan itu berdasarkan premis-premis secara empirik. Hal ini dianggap kemajuan ilmu, padahal itu adalah kebodohan yang berkedok pengetahuan. Jika keyakinan diletakkan hanya pada sesuatu yang nampak, maka keimanan kepada Allah menjadi hilang. Pandangan manusia pada tataran ini adalah terhijab dengan pertimbangan-pertimbangan empiris. Akal hanyalah alat bantu untuk memahami sesuatu. Tetapi penetapan keyakinan akan Wujud Haq bukanlah pada akal. Ketika keputusan untuk membuat sebuah perencanaan atau keputusan untuk menganalisa sesuatu secara akal, maka penyerahan akan keputusan akal itu berada pada penetapan hati. Saat itu akal mengambil perannya secara proporsional.

Demikianlah pesan Isra Mi’raj yang mengandung makna totalitas penyerahan berdasarkan kemurnian akal pikiran dan kepenyatuannya pada hati. Bahasa agamanya adalah Shalat. Kemurnian akal pikiran hanya bisa dicapai dengan shalat. Ketika keji dan munkar masih mengikat akal pikiran, berarti dominasi berhala masih bercokol di dalam diri. Keji adalah kemaksiatan lahiriyah dan munkar adalah kemaksiatan bathiniyah.

Keyakinan akan adanya kewajiban shalat akan sia-sia, jika tidak dibarengi dengan keyakinan akan kebenaran Isra Mi’raj. Karena keyakinan terhadap kebenaran Isra Mi’raj adalah merupakan rangkaian keyakinan akan kewajiban shalat. Hal itu harus dipahami sebagai dasar pemikiran bahwa mendirikan shalat bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban tetapi mengandung implikasi positif psikis dan psikologis untuk tanhiyatunnafsi ‘anil fakhsyai walmunkari, mencegah perbuatan keji dan munkar. Karena, mencegah keji dan munkar adalah makna hakiki dari shalat itu sendiri.

Ya Allah, bantu kami untuk istiqomah dalam dzikirMu, istiqomah dalam bersyukur kepadaMu, dan istiqomah pada kebajikan ibadah kepadaMu. Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika.

_______________

aljahil ilallah al-Barokaat

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 117,295 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: