Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Hadis ucapan Isa Ruhullah (bagian-2)

101/303: Almasih berkata: “Beradalah di tengah-tengah, terarah dengan benar, tetapi tunjukan sikap yang moderat.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 3:21.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 1:256 [di sini diriwayatkan sebagai perkataan ‘Ali bin Abi Thalib];

(Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid) Al-Mubarrad (… – 285 H), Al-Kamil, 1:210 [variasinya];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 152.

102/303: Almasih berkata: “Kalian tidak berzina selama kalian menundukkan pandangan kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 4:84.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 1:62 [variasinya].

Catatan:

Bandingkan juga Matius 5:27-28.

103/303: Isa menghampiri seekor sapi yang sedang beranak dengan kesusahan. “Ya Kalamullah,” kata si sapi, “doakanlah agar Allah membebaskan aku [dari derita ini].” Isa berdoa: “Ya Pencipta ruh dari ruh. Engkau yang mengeluarkan ruh dari ruh, bebaskanlah sapi ini.” Sapi itu kemudian melahirkan anaknya.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 4:123.

104/303: Isa berkata: “Aku memikirkan penciptaan [alam semesta] dan berkesimpulan bahwa yang tidak diciptakan, menurutku lebih berbahagia daripada yang diciptakan.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Asyraf.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 104-105.

105/303: Isa berkata: “Allah adalah saksiku bahwa dunia ini tidak tinggal di dalam hati seorang hamba tanpa membuat sang hati bersentuhan dengan tiga hal: – pekerjaan yang bebannya tidak akan berkurang, – kemiskinan yang tidak bisa dientaskan, – dan harapan yang tidak bisa terpenuhi. Dunia ini mengejar dan dikejar. Dia mengejar orang yang mencari ahirat hingga hidupnya menemui akhirnya, sementara akhirat mengejar orang yang mencari dunia ini, hingga ajal datang dan mencengkram punggungnya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 162.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 147;

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 9:332.

106/303: Dikabarkan bahwa Isa melihat wujud dunia dan bahwa ia melihatnya dalam sosok seorang wanita tua ompong yang dipenuhi oleh segala jenis perhiasan. “Berapa banyak laki-laki yang telah menikahimu?” tanya Isa kepadanya. “Aku tidak bisa menghitungnya,” jawab dunia. “Apakah mereka telah mati mendahuluimu, atau apakah mereka menceraikanmu?” tanya Isa. “Bukan ini dan bukan itu, melainkan aku telah membunuh mereka semuanya,” jawab dunia. Isa berkata: “Alangkah menyedihkannya para suamimu yang masih hidup. Karena mereka tidak belajar dari para suamimu yang terdahulu, dan juga tidak berhati-hati padamu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 27.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:210;

(Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 363 [variasi yang tidak menyebut ini sebagai kisah Isa].

107/303: Isa berkata: “Hati seorang yang beriman tidak bisa menyimpan kecintaan kepada dunia ini dan dunia nanti sekaligus, sebagaimana tidak mungkinnya sebuah panci menyimpan air dan api sekaligus.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 76.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:200.

108/303: Suatu hari seorang laki-laki menemani Isa dan berkata kepadanya: “Aku ingin pergi bersamamu dan menjadi teman perjalananmu.” Mereka pergi dan sampai ke tepi sebuah sungai di mana mereka duduk untuk makan. Mereka membawa tiga potong roti. Mereka memakan dua potong, roti ketiga tersisa. Kemudian Isa berdiri dan berjalan ke sungai untuk minum. Ketika kembali dia melihat roti yang ketiga sudah tidak ada, dan karenanya dia bertanya kepada si laki-laki itu: “Siapa yang memakan roti itu?” “Aku tidak tahu,” jawab dia. Isa meneruskan perjalanannya bersama laki-laki itu, dan melihat seekor kambing dengan dua anaknya. Isa memanggil satu dari kedua anak kambing itu, dan anak kambing itu menghampirinya. Isa menyembelihnya, memanggang sebagian [daging-]nya, dan makan bersama teman perjalanannya. Isa lalu berseru kepada hewan muda [= anak kambing yang sudah disembelih] itu: “Bangkitlah, insya Allah!” Anak kambing itu bangkit [= hidup lagi] dan pergi. Isa berbalik ke teman perjalanannya: “Aku bertanya kepadamu, demi Dia yang menunjukkan mukjizat ini kepadamu: Siapa yang mengambil roti tadi?” “Aku tidak tahu,” jawab laki-laki itu. Kemudian keduanya sampai ke sebuah danau besar yang berada di sebuah lembah. Isa memegang tangan laki-laki itu, dan keduanya berjalan di atas air. Ketika keduanya sudah menyeberangi danau itu, Isa berkata kepadanya: “Aku bertanya kepadamu, demi Dia yang menunjukkan mukjizat ini kepadamu: Siapa yang mengambil roti tadi?” “Aku tidak tahu,” jawab laki-laki itu. Mereka kemudian sampai ke sebuah gurun pasir tak berair dan duduk di atas tanah. Isa mulai mengumpulkan sedikit tanah dan pasir, dan lalu berkata: “Jadilah emas, insya Allah!” Campuran tanah dan pasir itu menjadi emas, Isa membagi emas itu dalam tiga bagian: “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu, dan sepertiga lainnya untuk orang yang mengambil roti tadi.” Maka menjawablah si laki-laki: “Akulah yang memakan roti itu.” Isa berkata kepadanya: “Semua emas ini milikmu.” Kemudian Isa meninggalkannya. Dua orang lelaki lain mengejutkan si laki-laki yang membawa emas di gurun pasir itu, mereka berniat merampok serta membunuhnya. Si laki-laki berkata kepada mereka: “Marilah kita bagi tiga emas ini, dan seorang di antara kalian harus pergi ke kota untuk membeli makanan.” Seorang dari dua laki-laki itu disuruh pergi ke kota, dan dia [= yang pergi ke kota] berpikir: “Mengapa aku harus berbagi emas dengan mereka? Aku lebih baik meracuni makanan ini, maka aku akan mendapat semua emasnya.” Dia pun berangkat dan menjalankan rencananya. Sementara itu kedua orang yang tertinggal berbicara satu sama lain: “Mengapa kita harus memberinya sepertiga dari emas? Lebih baik kita bunuh saja dia kalau dia kembali, dan jatah emasnya kita bagi dua.” Ketika orang yang pergi ke kota itu datang lagi, mereka berdua membunuhnya, kemudian menyantap makanan beracun yang dibawa orang itu, dan mati. Semua emas tertinggal di gurun pasir, di samping tiga jasad yang mati. Isa datang melewati, melihat mereka dalam keadaan seperti itu, dan berkata kepada para muridnya: “Itulah dunia. Berhati-hatilah padanya!”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 87.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:267;

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:255;

(Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 82;

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 2:263-264 [dengan sedikit variasi].

109/303: Isa berkata: “Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, sebagaimana halnya orang yang sakit tidak mempedulikan makanan karena dia merasakan nyeri, maka orang yang mencintai dunia ini tidak senang pada ibadah dan tidak mempedulikan kenikmatan ibadah gara-gara kecintaan pada dunia ini. Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, apabila seekor hewan penarik beban tidak diarahkan dan dituntun, dia akan bertingkah semaunya dan mengubah tabiatnya. Dan demikian pula hati akan menjadi keras dan tak berperasaan apabila tidak diperlunak dengan ingatan akan mati und upaya untuk beribadah. Sesungguhnya kukatakan kepada kalian, apabila permukaan air tidak pecah, maka ia bisa menahan madu. Maka demikian juga hati bisa menjadi bejana penuh hikmah apabila ia tidak dikerubuti nafsu, dirusak iri hati, dan diperkeras oleh kemubaziran.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 90.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:222.

110/303: Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau tidak mencari sebuah rumah tempat engkau tinggal?” Isa menjawab: “Cukuplah bagi kita reruntuhan orang-orang sebelum kita.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 129.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:200.

111/303: Isa berkata: “Dunia ini dulu ada, dan aku dulu tidak ada di dalamnya. Dunia ini nanti ada, dan aku tidak akan ada di dalamnya. Semua yang aku punya hanyalah hari-hariku tempat aku hidup. Apabila aku berbuat dosa di hari-hari ini, maka memanglah aku seorang pendosa.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 216.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 213 [variasinya].

112/303: Isa berkata: “Satu sifat dari kaum zuhud dunia ini adalah bahwa mereka menghindari berteman dengan orang yang tidak menginginkan apa yang ia inginkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 225.

113/303: Isa berjalan melalui sebuah desa dan melihat para penduduknya mati di halaman rumah mereka serta di jalan-jalan. Isa menatap ke para muridnya dan berkata: “Orang-orang ini mati karena azab Allah, karena kalau tidak mereka pasti menguburkan satu sama lain.” “Ruhullah,” kata para muridnya, “seandainya saja kami bisa mengetahui apa yang telah menimpa mereka.” Isa bermunajat kepada Allah Yang Mahakuasa, dan Allah mewahyukan bahwa Isa harus menyeru mereka jika hari sudah malam dan bahwa mereka akan menjawabnya. Ketika hari sudah malam Isa menaiki sebuah bukit dan berteriak: “Hai penduduk desa!” “Aku menurut seruanmu, Ruhullah,” jawab salah seorang dari yang mati. Isa bertanya: “Bagaimana keadaan kalian, apa yang terjadi pada kalian?” Orang itu menjawab: “Kami tertidur dalam keadaan sehat, dan [ketika terbangun] melihat kami sudah berada di [alam] kubur.” “Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Isa. Orang itu menjawab: “Ini terjadi karena kecintaan kami pada dunia dan penghambaan kami pada kaum yang berdosa.” “Bagaimana kecintaan kalian pada dunia?” tanya Isa. “Laksana anak mencintai ibunya,” jawab orang itu. “Jika dunia menghampiri kami, kami bahagia; jika dia pergi, kami sedih dan menagis.” Isa bertanya: “Mengapa penduduk desa lainnya tidak menjawab seruanku?” “Karena mereka dikekang oleh bebatuan dari api dan diawasi oleh para malaikat yang keras dan tegas,” jawab orang itu. “Dan mengapa kamu bisa menjawab seruanku?” tanya Isa. “Karena waktu itu aku berada di antara mereka, tetapi bukan salah seorang dari mereka,” jawab orang itu. “Ketika bencana itu menimpa mereka, aku juga terkena. Sekarang aku berada di tepian jurang neraka, dan aku tidak tahu apakah aku bisa terbebas atau akan dijatuhkan ke dalamnya.” Isa berkata kepada para pengikutnya: “Sesungguhnya, memakan roti biasa dengan garam kasar, memakai pelindung kepala dari sengatan matahari, dan tidur di atas timbunan sampah, adalah lebih dari cukup jika orang ingin hidup selamat dan tenang di dunia ini.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 282.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali) Ibn Babuya al-Qummi (… – 381 H), Ilal al-Syara’i’, 2:151-152;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:201.

Catatan:

Untuk ucapan di akhir kisah di atas bandingkan juga “Jesus’ Sayings and Stories in Islamic Literature” nomer 42 dan 67.

114/303: Isa berkata: “Kalian bersusah payah untuk dunia yang kecil dan tidak penting, tetapi tidak memikirkan kehidupan besar setelah mati, dan kematian akan menjemput kalian semua.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 286.

115/303: Isa berkata: “Barang siapa cenderung ke harta dunia, maka dia itu seperti orang yang meminum air laut: makin banyak dia minum, makin haus pula dia, hingga air laut itu membuatnya mati.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 342.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:212;- (Abu al-Ma’ali Muhammad bin al-Hasan) Ibn Hamdun (… – 562 H), Al-Tadzkira al-Hamduniyya, 1:249;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 150.

116/303: Isa berkata: “Ya kaum hawariyyun, hiduplah sederhana di dunia ini, maka kalian akan melewatinya tanpa rasa takut.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 344.

117/303: Isa berkata: “Celakalah kalian, para ulama yang buruk! Kalian membuang-buang kerajaan surga demi dunia yang tak terpandang dan nafsu yang tak terhormat, serta melupakan kebengisan hari kiamat.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 377.

Catatan:

Lihat juga kritik lain yang ditujukan kepada para ulama di “Jesus’ Sayings and Stories in Islamic Literature” nomer 92 dan 94.

118/303: Diriwayatkan bahwa Isa memandang setan sambil berkata: “Dialah rukun dunia. Masalah setan adalah dunia, dan dunialah yang diinginkannya. Aku tidak berbagi apapun dari dunia dengan setan; tidak sebuah batupun –yang bisa menjadi sandaran kepalaku. Aku juga tidak akan banyak tertawa di dalam dunia, hingga aku meninggalkannya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 409.

119/303: Setan sedang lewat ketika Isa menyandarkan kepalanya pada sebuah batu. [Setan berkata:] “Isa, lihatlah, dengan sebuah batu ternyata engkau menemukan kepuasan di dunia ini.” Isa mengambil batu yang berada di belakang kepalanya, melemparkannya ke setan, dan berkata: “Ambillah batu ini dan dunia bersamanya. Aku tidak memerlukan keduanya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 410.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida, 129 [dengan variasi: “seorang yang keluyuran” alih-alih “setan”];

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:11 [variasinya];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 112.

Catatan:

Lihat juga “Jesus’ Sayings and Stories in Islamic Literature” nomer 118.

120/303: Orang meminta Isa: “Ajarkanlah kami sebuah amalan yang membuat Allah mencintai kami.” Isa menjawab: “Bencilah dunia, maka Allah akan mencintai kalian.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 415.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:201.

Catatan:

Bandingkan juga Yoh 15:18-19 yang menyebutkan bahwa dunia membenci “Yesus” dan para pengikutnya.

121/303: Isa berkata: “Hai kaum hawariyyun, merasa puaslah dengan apa yang dianggap buruk di dalam dunia ini sementara keimanan kalian tetap selamat dan tak terganggu, sebagaimana halnya manusia dunia ini merasa puas dengan apa yang dianggap buruk di dalam keimanan sementara [urusan] dunia mereka selamat dan tak terganggu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 449.

122/303: Isa berkata: “Allah berkehendak bahwa seorang hamba mempelajari sebuah pekerjaan agar dia bisa merdeka dari manusia lain, dan Allah membenci seorang hamba yang mempelajari ilmu agama untuk digunakan sebagai pekerjaan.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 316.

123/303: [Najasi dari Habsyi berkata:] Termasuk dari wahyu Allah kepada Isa ialah: “Sudah sepantasnya dan seharusnya apabila hamba Allah berendah diri di hadapanNya jika Allah memperlihatkan kasih-sayangNya kepada mereka.”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 127.

Rujukan silang atas riwayat di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:332.

124/303: Yahya bin Zakariya bertemu dengan Isa ibn Maryam. Yahya tersenyum dan menyapa Isa, sementara Isa mengerutkan dahinya dan tampak risau. Isa berkata kepada Yahya: “Engkau tersenyum seolah-olah engkau merasa tenang.” Yahya berkata kepada Isa: “Engkau tampak murung seolah-olah engkau dalam keraguan.” Allah mewahyukan: “Apa yang dilakukan Yahya lebih Kami sukai.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Al-Ikhwan, 136.

Rujukan slang atas kisah di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 6:380;

(Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 7:197;

(Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Risala fi al-Shadaqa wa al-Shadiq;

(Abu al-Wafa’ ‘Ali al-Baghdadi) Ibn ‘Aqil (… – 513 H), Kitab al-Funun, 2:635-636;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 246;

(Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 2:205.

125/303: Orang-orang bertanya kepada Isa: “Sebutkanlah sebuah amalan yang karenanya kami bisa masuk surga.” Isa menjawab: “Jangan berkata apapun.” Mereka berkata: “Kami tidak bisa memenuhi itu.” Isa menjawab: “Maka katakanlah hal-hal baik saja.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 46.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:107;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 172.

126/303: Isa berkata: “Barang siapa banyak berbohong, dia akan kehilangan kerupawanannya; barangsiapa yang selalu bertengkar, dia akan kehilangan rasa hormatnya; barangsiapa banyak berkeluh kesah, dia akan sakit; dan orang yang bersifat dengki, dia menyiksa dirinya sendiri.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 133.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:114;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 160;

(Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 2:176 [variasinya].

127/303: Isa dan kaum hawariyyun melewati sebuah bangkai anjing. Kaum hawariyyun berkata: “Busuk sekali baunya [bangkai ini]!” Isa berkata: “Putih sekali giginya [anjing ini]!” Isa berkata demikian untuk memberi pelajaran terlarangnya berbicara jelek tentang orang lain.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 297.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:140;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 170;

(Abu al-Husain) Warram bin Abi Firas (… – 606 H), Majmu’at Warram: Tanbih al-Khawatir wa Nuzhat al-Nawazir, 1:117.

128/303: Seekor babi melewati Isa. Isa berkata kepadanya: “Pergilah dalam damai.” Orang bertanya: “Ruhullah, bagaimana mungkin engkau berkata begitu kepada seekor babi?” Isa menjawab: “Aku tidak suka membiasakan keburukan kepada lidahku.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 308.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:116;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 170.

129/303: Isa berkata kepada para pengikutnya: “Apa yang akan kalian lakukan seandainya kalian menjumpai seorang yang sedang tidur, yang bajunya terbawa angin?” Mereka menjawab: “Kami akan menutupi badannya.” Isa berkata: “Tidak, kalian [sebenarnya] akan menelanjangi sisanya.” Dengan cara ini Isa membuat sebuah perumpamaan tentang manusia yang mendengar kabar buruk tentang seseorang, kemudian menambah-nambahkannya, dan [akhirnya] menyebarkan kabar yang lebih buruk lagi.

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 645.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2:175;

(Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 4:48;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 165.

130/303: Isa berkata: “Termasuk salah satu dosa besar adalah apabila seorang hamba Allah bersumpah dengan berkata ‘Allah mengetahuinya,’ dan Allah mengetahui bahwa itu tidak benar.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 727.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 6:125 [dengan sedikit variasi];

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:138.

131/303: Orang meminta sebuah petunjuk yang utama kepada Isa. Dia menjawab: “Kalau engkau harus berhadapan dengan dua hal, di mana yang satu menyangkut dirimu, dan yang lainnya menyangkut Allah, maka uruslah dahulu hal yang bersangkutan dengan Allah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Muhammad bin ‘Ali) Al-Hakim al-Tirmidzi (… – 285 H), Al-Shalat wa Maqasidiha.

132/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata: “Ada tiga macam jenis ulama: (i) ulama yang mengenal Allah dan perintah-perintahNya, (ii) ulama yang mengenal Allah tapi tidak mengenal perintah-perintahNya, (iii) dan ulama yang mengenal perintah-perintah Allah, tapi tidak mengenalNya.”

Catatan:

Tarif Khalidi mengutip ucapan di atas dari karya Asín y Palacios “Logia et agrapha domini Jesu apud moslemicos scriptore, asceticos praesertum, usitata”, dan menyebutkan bahwa Asín menukilnya dari tulisan Imam Tirmidzi. Tarif Khalidi tidak menyebut langsung karya Imam Tirmidzi yang menjadi sumber acuan, tapi mempersilakan para pembaca bukunya untuk memeriksanya sendiri di karya Asin.

133/303: Isa berkata: “Sebarkanlah sesuatu yang tidak bisa dimusnahkan api.” “Apakah itu,” orang meminta tahu dari dia. “Amal shalih,” jawab Isa.

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar tata bahasa Arab dan penulis tentang adab (Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid) Al-Mubarrad (… – 285 H), Al-Fadil.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:240.

134/303: Diriwayatkan bahwa Almasih senantiasa berkata: “Jika kalian membutuhkan orang lain, makanlah secukupnya dan bersikaplah tidak berlebih-lebihan.”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh pakar tata bahasa Arab dan penulis tentang adab (Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid) Al-Mubarrad (… – 285 H), Al-Kamil, 1:210.

135/303: Isa senantiasa berkelana ke mana-mana dan tidak pernah menetap di sebuah rumah ataupun desa. Pakaiannya terdiri dari secarik kain dari bulu-bulu kasar atau bulu unta, dan dua baju yang tidak terbuat dari bulu-bulu. Di tangannya terdapat sebuah tongkat. Jika malam tiba sinar bulan adalah lenteranya, kegelapan malam adalah bayangannya, bumi adalah kasurnya, batu adalah bantalnya, tumbuh-tumbuhan padang adalah makanannya. Terkadang dia tidak makan dan minum berhari-hari. Dalam suasana genting dia senang, dalam suasana tenang dia gundah.

Keterangan:

Penampilan dan kebiasaan Isa as. di atas diriwayatkan oleh penulis kisah para nabi (‘Umara bin Watsima al-Farisi) Abu Rifa’a al-Fasawi (… – 289 H), Kitab bad’ al-Khalq.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 120 [variasinya].

136/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Kalian tidak akan memperoleh rahmat Allah sebelum kalian dengan gembira mengenakan suf [1], dengan gembira memakan gandum, dan dengan gembira menjadikan tanah sebagai tempat tidur kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh penulis kisah para nabi (‘Umara bin Watsima al-Farisi) Abu Rifa’a al-Fasawi (… – 289 H), Kitab bad’ al-Khalq.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 5:92.

Catatan kaki:

[1] “Suf” adalah kain wol kasar yang biasa dikenakan kaum “suf”i.

137/303: “Siapakah gurumu?” tanya orang kepada Isa. “Tak seorang pun,” jawab Isa. “Aku [sekedar] melihat bahaya dari ketidaktahuan dan menjauhinya.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh penulis adab (Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 2:442.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din, 210;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:63.

138/303: Termasuk ke dalam wahyu Allah kepada Isa di Injil adalah hal sbb.: “Kami memenuhi kalian dengan kerinduan, tetapi kalian tidak mempunyai kerinduan. Kami bersedih atas kalian, tetapi kalian tidak menangis. Hai manusia di usia limapuluhan, apa yang telah kau berikan, apa yang kau simpan? Hai manusia di usia enampuluhan, saat panenmu telah dekat! Hai manusia di usia tujuhpuluhan, ayo berangkat ke perhitungan!”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh penulis adab (Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:145.

139/303: Isa berkata tentang air: “Itu adalah ayahku.” Dan ia berkata tentang roti: “Itu adalah ibuku.” Maksud dia, air dan roti memberi makan kepada tubuh laksana yang dilakukan orang tua.

Keterangan:

Hal di atas ditulis oleh penulis adab (Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 6:290.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il al-Andalusi) Ibn Sida (… – 458 H), Kitab al-Mukhassas, 13-173-174.

Catatan:

Tarif Khalidi memberi komentar bahwa tulisan Ibn ‘Abd Rabbihi di atas mungkin ada hubungannya dengan polemik berkenaan dengan keyakinan umat Kristen akan perwujudan “roti dan anggur” sebagai “daging dan darah Yesus”.

140/303: Isa berkata: “Orang jahat itu menular; barang siapa bersekutu dengan kejahatan, akan terjerat dalam resiko untuk membunuh. Karenanya perhatikanlah dengan siapa kalian bersekutu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits dan ulama dari kaum Syiah (Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub) Al-Kulaini (… – 329 H), Al-Ushul min al-Kafi, 2:640.

141/303: Diriwayatkan bahwa Almasih berkata: “Barangsiapa diantara penghormat Allah dihormati oleh Allah, maka dia dihormati oleh seluruh makhluq.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar sejarah dari Andalusia yang kemungkinan besar keturunan Gothic Nasrani (Abu Bakr Muhammad bin ‘Umar al-Qurthubi) Ibn al-Qutiyya (… – 367 H), Tarikh Iftitah al-Andalus.

142/303: Di dalam Injil tertulis: “Ya Bani Adam, ingatlah padaKu di saat engkau sedang marah, maka Aku akan ingat padamu di saat Aku marah. Merasa cukuplah dengan rezeki yang Aku berikan kepadamu, karena rezeki itu lebih baik daripada yang kau berikan sendiri kepadamu.”

Keterangan:

Kalimat di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Catatan:

Sebenarnya kalimat di atas tidak termasuk kategori “Jesus’ saying” ataupun “story”, melainkan –tanpa melihat aspek keshahihannya– hadits qudsi.

Dalam injil yang empat tidak terdapat kalimat di atas.

143/303: Isa berkata kepada Bani Israil: “Hukumlah seorang penjahat tidak dengan kejahatan, karena ini akan mebuat amal kalian mejadi hilang di dalam pandangan Allah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

144/303: Di zaman Isa ada seorang lelaki yang karena kekikirannya mendapat julukan Mal’un [=yang terkutuk]. Pada suatu hari datang seorang laki-laki, yang akan pergi berperang, menemui Mal’un dan berkata: “Mal’un, kalau engkau memberiku beberapa senjata yang bisa menolongku dalam pertempuran, kamu akan selamat dari api neraka.” Tetapi Mal’un menolaknya dan tidak mau memberikan apapun. Ketika lelaki itu pergi, Mal’un menyesali keputusannya dan memanggil si lelaki itu kembali untuk diberikannya sebuah pedang. Ketika si lelaki itu pulang ke rumahnya dia bertemu Isa yang didampingi seorang saleh, yang tujuh puluh tahun lamanya mengagungkan Allah. “Dari mana kamu mendapat pedang ini?” tanya Isa. Si lelaki menjawab: “Mal’un memberikannya kepadaku.” Isa senang mendengar kemurahan hati Mal’un. Ketika di kali berikutnya Isa dan si orang saleh lewat, Mal’un yang duduk di depan pintu rumahnya, berkata kepada dirinya sendiri: “Aku akan pergi dan menemui Isa serta si orang saleh ini.” Ketika dia melakukan ini si orang saleh berkata: “Aku akan menghindar dari Mal’un, sebelum dia membakarku dengan apinya.” Maka Allah mewahyukan kepada Isa: “Katakan kepada hambaku yang berdosa ini [Mal’un]: ‘Aku mengampuni engkau karena kemurahan hatimu, yang dengannya engkau memberikan pedang, dan karena kecintaanmu kepada Isa; dan katakan kepada si orang saleh, bahwa Mal’un akan menjadi temannya di surga.” Si orang saleh berkata: “Allah adalah saksiku, aku tidak mau berada di surga bersama Mal’un, dan aku tidak perlu seorang teman seperti dia!” Allah Yang Mahakuasa berfirman melalui Isa: “Engkau tidak puas dengan keputusanKu, dan engkau telah berkata buruk tentang hambaKu. Karenanya Aku akan melihat engkau dihukum di neraka. Aku telah menukar tempat kalian: tempatmu di surga untuk hambaKu [Mal’un] dan tempatnya di neraka untukmu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 8:147 [variasinya];

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf [variasinya];

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:150 [variasinya];

(Abu Muhammad ‘Abdallah bin Ahmad) Ibn Qudama al-Maqdisi (… – 620 H), Kitab al-Tawwabin.

145/303: Isa memasuki sebuah desa, tempat seorang penghalus kain tinggal. Para penduduk desa berkata kepada Isa: “Tukang penghalus kain ini merusak baju-baju kami dan menutup-nutupinya. Mintakanlah kepada Allah agar dia tidak kembali kepada kami beserta buntelannya.” Isa berdoa: “Ya Allah, jangan biarkan dia kembali bersama buntelannya.” Ketika si penghalus kain –yang membawa tiga potong roti– sedang mengerjakan pekerjaannya, mendekatlah seorang wali yang mengagungkan Allah di gunung-gunung. Si wali menyapa si tukang dan berkata: “Punyakah engkau sepotong roti yang bisa kumakan, atau [paling tidak] tunjukkanlah sepotong roti sehingga aku bisa melihat dan mencium baunya. Aku sudah sejak sekian lama tidak memakan roti.” Si tukang memberikannya sepotong roti. Si wali berkata: “Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan membersihkan hatimu.” Si tukang memberikannya roti kedua; si wali pun berkata: “Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Ketika si tukang memberikan roti ketiganya, si wali berkata: “Semoga Allah mendirikan sebuah rumah untukmu di surga.” Malam itu juga si tukang kembali [ke desanya] dengan aman; para penduduk desa berkata: “Ya Isa, si tukang penghalus kain telah kembali.” Maka Isa memanggilnya: “Katakan kepadaku apa yang telah engkau lakukan hari ini!” Si tukang menjawab: “Seorang wali yang berkelana di pegunungan ini mendekatiku. Dia memintaku memberikan makanan, maka aku beri dia tiga potong roti, dan untuk setiap roti yang aku berikan, dia berdoa untukku.” Isa berkata: “Berikan kepadaku buntelanmu, agar aku bisa melihat isinya!” Si tukang memberikan buntelannya kepada Isa yang kemudian membukanya; dan Isaa menemukan di dalamnya seekor ular hitam yang dirantai. Isa berseru: “Ya hitam!” [di sini terjemahannya tidak begitu pasti, mungkin juga seharusnya “Ya ular!”] Sang ular menjawab: “Aku siap ya Nabiyullah!” “Apakah engkau tidak dikirim ke tukang ini [untuk menggodanya?]?” tanya Isa. “Ya,” jawab sang ular, “tetapi seorang wali yang berkelana di pegunungan ini datang kepadanya dan meminta makanan. Untuk setiap roti yang diberikannya dia berdoa untuknya, sementara di sampingnya berdiri satu malaikat yang berkata ‘Amin!’ Maka Allah Yang Mahaperkasa mengutus satu malaikat [lain] untuk merantaiku.” Isa berkata: “Hai tukang, pergilah kembali ke pekerjaanmu. Allah telah memaafkanmu, karena Dia memuji kemurahanmu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Catatan:

Menurut Tarif Khalidi pada zaman dahulu di Timur Tengah pekerjaan penghalus kain tidak disukai orang karena sering dicurigai banyak mengandung unsur penipuan.

146/303: Kalau kalian ingin berpuasa seperti Isa, [ketahuilah bahwa] Isa berpuasa setiap hari dan tidak makan apapun selain gandum. Dia senantiasa mengenakan [pakaian dari] bulu kasar; dan apabila malam tiba, berdiamlah dia [di situ juga] untuk berdoa hingga fajar tiba. Dia tidak pernah meninggalkan sebuah tempat tanpa sebelumnya shalat dua rakaat. Jika kalian ingin berpuasa seperti ibunya, [Maryam] sang perawan, [maka ketahuilah bahwa] dia senantiasa berpuasa dua hari dan berbuka dua hari berikutnya.

Keterangan:

Ajaran di atas disampaikan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

147/303: Di dalam Injil tertulis: “Barang siapa menebar keburukan, dia akan menuainya juga.”

Keterangan:

Hal di atas disampaikan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Catatan:

Di dalam injil yang empat tidak terdapat kalimat di atas; tetapi yang bunyinya mirip bisa ditemui di Ayyub 4:8.

148/303: Di dalam kitab-kitab Injil tertulis: “Ya Bani Adam, Allah akan bermurah hati kepadamu sebagaimana engkau bermurah hati. Bagaimana engkau mengharapkan kemurahhatian Allah, sementara engkau tidak bermurah hati kepada hamba-hambamu?”

Keterangan:

Hal di atas disampaikan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Catatan:

Bandingkan Lukas 6:36.

149/303: Isa berkata: “Apa gunanya bagi seorang buta sebuah lampu yang dengannya hanya orang lain bisa melihat? Dan apa gunanya bagi sebuah rumah yang gelap sebuah lampu yang dipasang di atas atap? Dan apa gunanya bagimu banyak berbicara indah tetapi kamu tidak mengamalkannya?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

150/303: Isa melewati sebuah desa di dekat sebuah gunung yang dari sana terdengar suara tangisan dan ratapan. Isa bertanya kepada penduduk desa: “Tangisan dan ratapan apa dari gunung ini?” Mereka menjawab: “Sejak kami tinggal di desa ini kami sudah mendengar tangisan dan ratapan ini.” Isa berkata: “Ya Allah, izinkalah gunung ini berbicara kepadaku.” Allah membuat gunung itu berbicara, dan gunung itu berkata: “Apa yang kau inginkan dariku Isa?” “Katakan kepadaku mengapa kau menangis?,” pinta Isa. Gunung itu menjawab: “Aku adalah gunung yang dulu digunakan orang sebagai bahan pembuat berhala untuk disembah selain Allah. Aku takut Allah akan melemparkanku ke api neraka, karena aku mendengar Allah berfirman: ‘Dan hati-hatilah jangan sampai kalian masuk ke api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.'” Allah mewahyukan kepada Isa untuk dikatakan kepada gunung itu: “Hiduplah dengan damai, karena Aku telah melindungimu dari neraka.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk.

Catatan:

Bandingkan pula QS Al-Baqarah 24 “… peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

151/303: Isa berkata: “Orang jangan memikirkan mengapa orang yang terkutuk dikutuk, tetapi [pikirkanlah] mengapa orang yang diselamatkan selamat.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama fiqh (Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin.

152/303: Isa datang ke sebuah kota ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan saling berteriak. “Ada apa dengan kalian?” tanya Isa. “Ya Nabiyullah,” kata si lelaki, “dia adalah isteriku. Dia seorang isteri yang baik dan rajin, tetapi saya ingin bercerai darinya.” “Katakan kepadaku sesungguhnya apa yang terjadi dengan isterimu,” pinta Isa kepadanya. “Muka dia sudah aus meski dia belum tua,” jawab si lelaki. Isa berbalik kepada si perempuan dan berkata kepadanya: “Hey perempuan, inginkah kau mendapatkan kembali wajahmu yang mulus?” “Ya,” jawab si perempuan. “Kalau kau makan,” jawab Isa, “janganlah sampai berlebihan, karena apabila makanan menumpuk berlebihan di perut, maka hilanglah kemulusan di wajahmu.” Perempuan itu melaksanakan apa yang diperintahkan Isa, dan mukanya halus kembali.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama Syi’ah (Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali) Ibn Babuya al-Qummi (… – 381 H), ‘Ilal al-Syara’i’, 2:184.

Catatan:

Setelah ini masih ada 2 kisah lain tentang Isa as. dari Ibn Babuya al-Qummi yang juga menceritakan peran Isa sebagai ahli pengobatan.

153/303: Isa datang ke sebuah kota yang pepohonan buah-buahannya dilanda hama ulat. Penduduk kota itu mengeluh tentang wabah ini, dan Isa pun berkata: “Obatnya ada di tangan kalian, tetapi kalian tidak mengenalinya. Kalian adalah kaum yang apabila menanam pohon menaburkan dulu tanah, kemudian menyiramnya. Harusnya tidak begitu. Seharusnya kalian menyirami dulu akar pohon-pohon ini baru kemudian menaburkan tanah di atasnya agar ulat tidak memasuki akar.” Penduduk kota kemudian mulai itu melakukan apa yang diajarkan Isa, dan wabah itu kemudian berakhir.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama Syi’ah (Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali) Ibn Babuya al-Qummi (… – 381 H), ‘Ilal al-Syara’i’, 2:261.

154/303: Isa datang ke sebuah kota yang penduduknya dilanda muka menguning dan mata membiru. Mereka memaggil Isa dan mengeluhkan penyakit ini. Isa pun berkata: “Obatnya ada di tangan kalian. Apabila kalian makan daging, kalian memasaknya tanpa mencucinya terlebih dahulu. Tidak ada sesuatupun yang datang ke dunia ini tanpa kotoran.” Setelah itu penduduk kota itu mencuci daging [sebelum mereka memasaknya], dan penderitaan mereka pun berakhir. Di dalam kesempatan lain Isa datang ke sebuah kota yang penduduknya menderita keompongan dan benjolan-benjolan di muka. Mereka mengeluhkan ini kepada Isa, dan Is apun berkata: “Kalian tidur dengan mulut yang tertutup. Udara di perut kalian naik ke mulut tetapi tidak menemukan jalan keluar, dan karenanya memasuki akar gigi dan merusak muka kalian. Bukalah mulut kalian jika kalina tidur, dan biasakanlah ini.” Mereka mengerjakan ini, dan penderitaan mereka pun berakhir.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh ulama Syi’ah (Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali) Ibn Babuya al-Qummi (… – 381 H), ‘Ilal al-Syara’i’, 2:262.

155/303: Isa berkata: “Orang yang murah hati di dunia ini akan mendapat ampunan di dunia nanti.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh filsuf (Abu al-Hasan Muhammad bin Yusuf al-Naisaburi) Al-‘Amiri (… – 381 H), Al-Sa’ada wa al-Is’ad.

156/303: Isa senantiasa berkata kepada dunia: “Pergilah dariku, babi!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:244.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:147 [yang menyebut perkataan di atas sebagai ucapan seorang sufi anonym di masa lampau].

157/303: Isa berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang bisa mencapai keimanan yang sesungguhnya selama kalian berkeinginan untuk dipuji dalam beribadat pada Allah Yang Mahakuasa, dan selama kalian berkeinginan untuk ikut menikmati harta dunia ini.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:256.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:370;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Minhaj al-‘Abidin.

158/303: Termasuk ke dalam firman Allah kepada Isa adalah sbb.: “Ya Bani Adam, menangislah sepanjang hidupmu seperti menangisnya orang yang telah meninggalkan dunia ini dan keinginannya telah diangkat ke hadhirat Allah. Merasa puaslah dengan hal-hal secukupnya di dunia ini; temukanlah kepuasan dalam hal-hal yang keras dan kasar. Sesungguhnya Aku katakan kepadamu, engkau tidak lebih berharga daripada hari dan saatmu; dan apa yang engkau ambil dari dunia ini, dan apa yang engkau keluarkan, semuanya akan dicatat. Berlakulah dengan benar, karena engkau akan dimintai pertanggungjawaban. Seandainya kamu tahu apa yang Aku janjikan kepada orang yang adil, engkau pasti akan menyerahkan nyawamu kepadaKu.”

Keterangan:

Hadits qudis di atas diriwayatkan oleh (Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:256.

159/303: Isa berkata: “Orang yang mencintai Allah, cinta juga kesusahan.” Dan diriwayatkan dari Isa, bahwa dia berjumpa dengan sekelompok pemuja Allah yang karena pemujaannya menjadi kurus kerontang laksana pembuluh air yang mengering. “Siapakah kalian?” tanya Isa. “Kami pemuja Allah,” jawab mereka. “Mengapa kalian memuja Allah?” tanya Isa. Mereka menjawab: “Allah mengabarkan menakutkannya neraka, dan kami takut.” Isa mengatakan kepada mereka: “Allah berkewajiban untuk menyelamatkan kalian dari apa yang kalian takutkan.” Isa melanjutkan perjalanannya dan bertemu kelompok lain yang lebih giat lagi dalam pemujaan pada Allah. “Mengapa kalian memuja Allah?” tanya Isa. Mereka menjawab: “Allah memberikan kerinduan atas surga dan atas apa yang Ia siapkan untuk sahabat-sahabatNya di sana. Itulah yang kami harapkan.” Isa berkata kepada mereka: “Allah wajib memberikan kepada kalian apa yang kalian harapkan.” Isa pergi lagi dan bertemu dengan kelompok lain yang juga memuja Allah, dan ia bertanya: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Kami mencintai Allah. Kami memujaNya bukan karena takut atas neraka atau rindu atas surga, melainkan karena kecintaan kami padaNya dan keagunganNya.” [Isa berkata:] “Kalian benar-benar sahabat Allah, dan aku seharusnya hidup bersama kalian.” Dan Isa pun hidup di antara mereka. Dalam riwayat lain dikabarkan bahwa Isa berkata kepada kedua kelompok pertama: “Apa yang kalian takutkan adalah ciptaan Allah, dan apa yang kalian inginkan adalah ciptaan Allah.” Dan kepada kelompok ketiga Isa berkata: “Kalian benar-benar kaum yang paling dekat dengan Allah.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 2:56.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:288.

Catatan:

Bandingkan pandangan Rabi’a al-‘Adawiya (.. – 185 H) tentang surga dan neraka dengan sikap kelompok ketiga di atas.

160/303: Isa memberikan nasihat kepada kaum hawariyyun: “Jika kalian mengamalkan apa yang aku amalkan dan ajarkan, maka kalian esok akan berada di kerajaan surga bersamaku, serta tinggal bersama Bapakku dan bapak-bapak kalian, dan juga menyaksikan malaikat-malaikatNya di sekeliling ‘arsy-Nya memuja dan menyembahNya. Di sana kalian akan bersenang-senang tanpa [harus] makan dan minum.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh Ikhwan al-Safa’ (sebuah kelompok di penghujung abad ke-4 H), Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa’, 3:91-92.

Catatan:

Ikhwan al-Safa’ adalah nama grup dari sekelompok filsuf dan cendekiawan di penghujung abad ke-4 H, yang mengumpulkan pandangan-pandangan mereka atas persoalan filsafat, agama, etika dan ilmu pengetahuan dalam sebuah ensiklopedia berjudul “Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa'”.

161/303: Suatu hari Isa bertemu dengan beberapa tukang penghalus kain di pinggiran kota. Isa menghampiri mereka dan berkata: “Bila kalian telah mencuci, membersihkan, dan menghaluskan baju-baju ini, akankah kalian mengizinkan pemiliknya memakainya dengan badan mereka yang terkotori oleh darah, air seni, tinja, dan noda?” “Tidak,” jawab mereka, “karena yang melakukan itu pasti tidak tahu malu.” “Kalian sendiri telah melakukannya,” kata Isa. “Bagaimana?” tanya mereka. “Karena kalian membersihkan jasmani kalian, menghaluskan baju kalian dan memakainya, sementara rohani kalian dikotori oleh ketidakadilan, dan dipenuhi oleh kotoran-kotoran dari kebodohan dan kebutaan, kebisuan dan kejahatan, kedengkian dan kebencian, kelicikan dan penipuan, keirian dan ketamakan, dendam, curiga, dan nafsu yang membawa ke kenistaan. Kalian ini tak berarti dan merupakan hamba-hamba yang memalukan [di sini terjemahannya tidak begitu pasti], dan kalian tidak akan mendapat pertangguhan kecuali di dalam kematian dan di kuburan.” Para tukang itu berkata: “Apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami bisa mencari nafkah hidup kami selain ini?” Isa berkata: “Mengapa kalian tidak mengharapkan kerajaan surga, yang di dalamnya tidak ada kematian dan ketuaan, sakit dan penyakit, lapar dan dahaga, ketakutan dan kesedihan, kemiskinan dan kebutuhan, kelemahan dan kesusahpayahan, duka cita dan dengki di antara penghuninya, kebencian dan kesombongan serta kebohongan. Para penghuninya justru saling bersaudara yang duduk di dipan-dipan berhadap-hadapan, bahagia dan riang, senang dan berkecukupan, menikmati ampunan dan keridhaan serta kesenangan dan kebahagiaan. Mereka juga berjalan-jalan di lapisan-lapisan langit dan alam semesta serta mengamati barisan malaikat di sekeliling ‘arsy-Nya, yang melantunkan puji-pujian untuk Tuhan mereka dalam nada dan irama yang tidak pernah didengar oleh manusia dan jin. Dan kalian akan hidup abadi bersama mereka. Kalian tidak akan pernah tua atau mati, tidak akan sakit, merasa khawatir atau bersedih hati.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh Ikhwan al-Safa’ (sebuah kelompok di penghujung abad ke-4 H), Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa’, 4:95-96.

Catatan:

Sebagaimana catatan di “Jesus’ Sayings and Stories in Islamic Literature” nomer 145, perlu diingat di sini bahwa pekerjaan penghalus kain pada zaman dulu tidak begitu dihormati dan disukai di wilayah Timur Tengah karena banyak dicurigai mengandung unsur penipuan.

162/303: Almasih senantiasa berkata kepada para muridnya: “Aku datang kepada kalian dari Bapakku dan bapak-bapak kalian untuk mengangkat kalian dari kematian ketidaktahuan, untuk menyembuhkan kalian dari penyakit dosa, mengobati kalian dari penyakit keyakinan sesat, adab yang buruk, dan amalan yang jahat, agar jiwa kalian dibersihkan dan hidup di dalam ruh hikmah, serta agar kalian diangkat ke Bapakku dan bapak-bapak kalian. Di sana kalian akan menjalani kehidupan yang bahagia dan terbebas dari penjara dunia ini dan sakitnya alam ciptaan serta kesengsaraan, yang merupakan tempat tinggalnya para penjahat, kezhaliman iblis, dan kekuasaan setan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh Ikhwan al-Safa’ (sebuah kelompok di penghujung abad ke-4 H), Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa’, 4:172.

163/303: Ketika Isa pada suatu waktu bertemu dengan para muridnya secara mendadak, dia melihat mereka sedang tertawa. Isa berkata: “Barangsiapa yang bertakwa, tidak tertawa.” Para muridnya menjawab: “Ruhullah, kami hanya bercanda.” Isa menukas: “Ruh yang sehat tidak bercanda.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 1:21.

164/303: Almasih berkata: “Ya hawariyyun, karena kalianlah aku meletakkan dunia ini mendatar di atas perutnya, dan menempatkan kalian di atas punggungnya. Hanya ada dua kelompok yang berlomba-lomba melawan kalian di dalam mencari kekuasaan dunia: para raja, dan setan. Mengenai setan, carilah bantuan dalam melawannya dengan kesabaran dan doa. Mengenai para raja, berikanlah dunia mereka untuk mereka, maka mereka akan memberikan kalian dunia yang lain.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 1:23.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 142.

165/303: Isa berkata: “Jika seandainya Allah tidak berkuasa untuk menetapkan bahwa orang-orang yang berdosa kepadaNya harus mendapat siksaan, maka tetap sudah sepantasnya apabila orang tidak melawanNya sebagai rasa syukur atas kasih sayangNya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 2:423.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 3:78 [di sini ucapan diatasnamakan pada “seorang bijak”];

(Abu Sa’d Mansur bin al-Husain) Al-Abi (… – 421 H), Natsr al-Durr, 7:28.

166/303: Isa berkata: “Suatu peristiwa mengerikan akan menggulung kalian di suatu saat yang tak terduga. Apa yang menghalangi kalian untuk bersiap-siap sebelum peristiwa ini tiba-tiba datang?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 3/1:181.

Catatan:

Peristiwa yang dimaksud tampaknya adalah datangnya hari kiamat.

167/303: Isa berkata: “Jadilah tamu di dunia ini, dan jadikan mesjid sebagai rumahmu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 3/2:440.

168/303: Isa berkata: “Tiap orang yang teraniaya akan dibalaskan dendamnya di hari akhir, kecuali oramg yang teraniaya dunia, [karena justru] dunia akan membalas dendam padanya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 7:147.

Catatan:

Menurut Tarif Khalidi yang dimaksud dengan “teraniaya dunia” adalah “terjerat oleh godaan dunia”.

169/303: Isa berdakwah kepada Bani Israil. Mereka menangis dan mulai merobek-robek baju mereka [1]. Isa berkata: “Kesalahan apa yang telah dilakukan baju kalian? Lebih baik alihkan perhatian kalian ke hati kalian dan berikan kecaman kalian kepadanya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Basa’ir wa al-Dhakha, 7:226.

Catatan kaki:

[1] Merobek-robek baju adalah kebiasaan bangsa Yahudi dulu apabila sedang sedih dan/atau dilanda amarah.

170/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Rasa kasih sayang satu sama lain adalah ciri, yang harus kalian perhatikan, bahwa kalian mengikuti [ajaran-] aku.” Dan Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Kalian harus mencintai Allah dengan segenap hati kalian, dan mencintai sesama seperti kalian mencintai diri sendiri.” Orang bertanya kepada Isa: “Perlihatkanlah kepada kami ya Ruhullah, apa perbedaan dari kedua jenis cinta ini, agar kami bisa dengan terang mempersiapkannya.” Isa menjawab: “Kalian mencintai seorang teman demi kalian sendiri, dan kalian mencintai Allah demi jiwa kalian sendiri. Bila kalian peduli pada teman kalian, maka itu kalian lakukan demi kalian sendiri; tetapi bila kalian menyerahkan jiwa kalian, itu kalian lakukan demi Allah.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Risala fi al-Shadaqa wa al-Shadiq.

171/303: Isa berkata: “Bersikap sederhanalah di dalam pikiran kalian yang paling dalam dalam menghadapi Allah Yang Mahakuasa, sebagaimana juga di dalam tingkah laku lahiriah kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi Abu Sa’d al-Kharkusyi (… – 406 H) dalam sebuah manuskrip yang tidak pernah dipublikasikan.

172/303: Isa berkata: “Perbandingan tentang dunia kini dan dunia nanti adalah seperti seorang laki-laki yang beristeri dua: jika yang satu gembira, yang lain menjadi murung.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi Abu Sa’d al-Kharkusyi (… – 406 H) dalam sebuah manuskrip yang tidak pernah dipublikasikan.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:18;

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:65 [di sini ucapan di atas dinisbatkan kepada Wahb ibn Munabbih].

173/303: Isa berkata: “Ada tiga perkara yang bisa menjatuhkan manusia: kurangnya rasa syukur atas rezeki dari Allah Yang Mahakuasa, ketakutan atas [sembahan] yang lain selain Allah, dan menggantungkan harapan pada makhluk.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi Abu Sa’d al-Kharkusyi (… – 406 H) dalam sebuah manuskrip yang tidak pernah dipublikasikan.

174/303: Isa melihat seorang yang sedang menderita, dan karena dia merasa kasihan pada orang ini Isa berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu, bebaskanlah dia.” Allah berfirman kepada Isa: “Bagaimana Aku bisa membebaskan dia dari sesuatu yang dengannya Aku membebaskannya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi Abu Sa’d al-Kharkusyi (… – 406 H) dalam sebuah manuskrip yang tidak pernah dipublikasikan.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf [disini dinisbatkan kepada “seorang Nabi”].

175/303: Almasih ditanya: “Mengapa orang tua lebih bergantung pada dunia daripada orang muda?” Dia menjawab: “Karena mereka telah mencicipi dunia ini, sementara yang muda belum.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab (Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad) Al-Raghib al-Isfahani (… – >400 H), Muhadarat al-Udaba’, 1:525.

176/303: Almasih berkata: “Daging memakan daging? Sesuatu yang memuakkan!”

Keterangan:

Ucapan pro vegetarianisme di atas diriwayatkan oleh pakar adab (Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad) Al-Raghib al-Isfahani (… – >400 H), Muhadarat al-Udaba’, 1:610.

177/303: Isa berdoa: “Ya Allah, siapakah yang paling mulia di antara manusia?” Allah berfirman: “Dialah orang yang apabila sedang sendiri tahu bahwa Aku bersamanya, dan dia sangat menghormati keagunganKu sehingga dia tidak membuatKu menjadi saksi atas dosa-dosanya.”

Keterangan:

Dialog di atas diriwayatkan oleh pakar adab (Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad) Al-Raghib al-Isfahani (… – >400 H), Muhadarat al-Udaba’, 2:402.

178/303: Diriwayatkan bahwa Isa berkata ke seorang laki-laki yang [sebenarnya] tidak pantas menerima ucapan ini: “Semoga Allah melindungimu.” Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau mengatakan itu kepadanya?” Isa menjawab: “Lidah yang terbiasa berkata baik, akan berbicara begitu ke semua manusia.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh filsuf dan pakar tarikh (Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida.

179/303: Almasih berkata: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah pelan dalam [pemberian] kasih sayangNya, dia harus berhati-hati! Karena Allah bisa mejadi murka dan membuatnya mudah mendapatkan jalan menuju harta dunia ini.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh filsuf dan pakar tarikh (Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida.

Catatan:

Tarif Khalidi mencantumkan hadits Rasulullah saw. dari Sunan Ibn Majah (Kitab al-Fitan, 2:1325, nr. 3197) sebagai rujukan. Hadits ini berbunyi: “Bukannya kejatuhan kalian ke dalam kemiskinan yang aku takuti, melainkan tertekannya kalian oleh kelimpahruahan dunia.”

180/303: Isa berkata: “Apakah kalian menginginkan dunia karena [agar bisa melakukan] amal shalih? Kalian akan lebih shalih apabila kalian melepaskan dunia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh filsuf dan pakar tarikh (Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida.

181/303: Kaum hawariyyun bertanya kepada Isa: “Bagaimana pendapat engkau atas penguasa?” Isa menjawab: “Penguasa itu menjadi godaan bagi kalian. Jangan biarkan kecintaan kalian pada mereka membuat kalian berbuat kesalahan terhadap Allah; dan jangan biarkan kebencian kalian pada mereka membuat kalian membangkang Allah. Apabila kalian melaksanakan kewajiban kalian pada mereka, kalian akan terhindar dari kesalahan-kesalahan mereka, dan keimanan kalian tidak akan ternodai.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh wazir Daula Syiah Bujiah (Abu Sa’d Mansur bin al-Husain) Al-Abi (… – 421 H), Natsr al-Durr, 7:33.

182/303: Isa senantiasa berkata: “Kebanyakan makanan bisa membinasakan ruhani seperti halnya kebanyakan air membinasakan tanaman.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh wazir Daula Syiah Bujiah (Abu Sa’d Mansur bin al-Husain) Al-Abi (… – 421 H), Natsr al-Durr, 7:35.

183/303: Isa berkata kepada para pengikutnya: “Serahkanlah diri kalian kepada kelaparan dan kehausan, berjalanlah telanjang, dan lemahkanlah diri kalian sendiri, agar hati kalian bisa mengenal Allah Yang Mahakuasa.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 2:370.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:79.

184/303: Isa berkata: “Barangsiapa yang merasa tidak perlu nasihat, akan bertindak tanpa keberhasilan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 5:237.

185/303: Isa berkata: “Jika kalian mampu, ikhlaslah seperti burung merpati dalam menghadapi Allah.” Orang berkata bahwa tidak ada makhluk yang lebih ikhlas daripada burung merpati. Kalian bisa mencuri anak-anak burung merpati dari bawah badannya, membunuh anak-anaknya, dan si burung merpati akan [tetap] kembali ke tempat itu untuk tidur.

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 5:239.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:242.

Catatan:

Bandingkan Matius 10:16.

186/303: Diriwayatkan –wallahu ‘alam– bahwa Isa pada suatu hari melewati sebuah lembah yang bernama Lembah Kebangkitan dan melihat sebuah tengkorak yang sudah memutih dari sebuah badan yang tulang-tulangnya sudah hancur membusuk. Isa mengagumi warna putih tengkorak ini. Orang ini mati tujuh puluh dua tahun sebelumnya. Isa berdoa: “Ya Allah Yang tidak bisa dilihat mata, Yang tidak bisa dijatuhkan oleh kekacauan, Yang tidak bisa digambarkan oleh siapapun, aku memohon kepadaMu agar tengkorak ini mengatakan kepadaku termasuk kaum mana dia.” Allah berfirman: “Ya Isa, berbicaralah kepada tengkorak ini, dan dia akan menjawab berkat kekuasaanKu, karena Aku berkuasa atas segala sesuatu.” Isa mengucapkan lafaz yang diwajibkan, mendekati tengkorak itu dan berkata: “Bismillahirrahmanirrahim.” Tengkorak itu menjawab dengan lugas: “Ya Ruhullah, engkau telah menyebut nama yang terbaik dari semua nama.” Isa berkata: “Aku memohon kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa untuk mengatakan kepadaku di mana keindahan dan kebersihanmu, di mana daging dan lemakmu, di mana belulang dan nyawamu.” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, tanah telah mengubah keindahan dan kebersihanku. Daging dan lemakku telah dimakan cacing. Belulangku hancur membusuk. Jiwaku hari ini berada di dalam api neraka di dalam siksaan yang besar.” Isa berkata: “Aku bertanya kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa termasuk kaum mana engkau ini?” Tengkorak itu menjawab: “Aku termasuk kaum yang memperoleh azab Allah di dunia ini.” Isa bertanya: “Mengapa azab Allah menimpa kalian?” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, Allah mengutus seorang nabi yang menyampaikan kebenaran kepada kami, tetapi kami menyebutnya pendusta. Dia memerintahkan kami untuk mematuhi Allah, tetapi kami tidak mematuhiNya. Maka kemudian Allah mengirimkan hujan dan petir kepada kami selama tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari. Kemudian pada suatu hari turun kepada kami malaikat-malaikat penyiksa. Tiap malaikat mempunyai dua cambuk, yang satu terbuat dari besi, yang lainnya dari api. Malaikat-malaikat itu tidak berhenti untuk menarik nyawaku dari tiap anggota tubuhku dan dari tiap urat nadiku, hingga nyawaku sampai di tenggorokan. Dan pada saat itu malaikat maut mengulurkan tangannya mencabut nyawaku.” Isa berkata: “Aku mohon demi Allah Yang Mahakuasa, gambarkanlah malaikat maut itu!” Tengkorak itu menjawab: “Ruhullah, malaikat maut mempunyai satu tangan di barat dan satu lagi di timur. Kepalanya mencapai lapisan langit tertinggi, dan kakinya mencapai wilayah ketujuh dan terbawah dari bumi. Bumi sendiri terletak di antara dua lututnya, dan semua makhluk berada di antara matanya.” Tengkorak itu meneruskan: “Ya Nabiyullah, tidak sampai satu jam [kemudian] datang dua malaikat hitam pekat menghampiriku. Mereka berbicara seperti guruh yang menggelegar, dan mata mereka menyambar laksana petir. Mereka berambut ikal, dan merambah bumi dengan gigi-gigi taring mereka. Mereka berkata kepadaku: ‘Siapakah tuhanmu? Siapakah nabimu? Siapakah imammu?’ Ya Ruhullah, aku merasa takut dan berkata: ‘Aku tidak mempunyai tuhan, nabi, dan imam selain Allah.’ ‘Kamu bohong,’ kata mereka, ‘kamu adalah musuh Allah dan musuhmu sendiri.’ Kemudian mereka memukulku dengan sebuah tongkat besi dengan keras sekali hingga aku merasakan bagaimana tulang-tulangku remuk dan daging tubuhku terpental. Lalu mereka melemparkanku ke dasar neraka dan menyiksaku sesuai kehendak Allah. Ketika aku berada di dalam keadaan ini datang dua malaikat pencatat yang menulis semua amal para makhluk dunia ini; dan mereka berkata kepadaku: ‘Hai musuh Allah, ikutlah kami mengunjungi tempat penghuni surga.’ Aku pun mengikuti mereka ke pintu surga yang pertama, dan menyaksikan bahwa surga mempunyai delapan pintu. Surga itu terbuat dari bebatuan yang sebagiannya adalah emas dan perak. Ubinnya terdiri dari muska. Rumputnya adalah za’faran. Kerikilnya adalah mutiara dan rubin. Sungai-sungainya berisi susu, air, dan madu. Penghuninya adalah remaja-remaja muda seumur yang mempesona dan saleh. Ya Ruhullah, aku benar-benar terpesona. Kemudian kedua pencatat itu berkata kepadaku: ‘Hai musuh Allah dan musuhmu sendiri, di kehidupan duniamu kau tidak beramal saleh untuk bisa menikmati semua ini. Sekarang ikutlah kami pergi ke tempat penghuni neraka.’ Akupun pergi bersama malaikat pencatat itu ke pintu neraka pertama, di mana ular-ular dan kalajengking mendesis-desis; dan akupun bertanya: ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang memakan harta anak yatim dengan bathil.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu kedua, di mana para lelaki digantung pada janggut mereka, dan anjing-anjing menjilati darah dan nanah dari tangan mereka. Aku berkata ke malaikat pencatat: ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang meminum khamr dan memakan makanan haram di kehidupan dunia.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu ketiga dan melihat bagaimana api menyembur masuk ke mulut orang-orang dan keluar dari punggung mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang memfitnah wanita baik-baik di kehidupan dunianya.’ Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keempat dan melihat wanita-wanita yang digantung pada lidah mereka, dan api keluar dari mulut mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang tidak mendirikan shalat.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu yang kelima dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut mereka, dan api menyembur ke kepala mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk mereka yang bersolek untuk orang lain selain suaminya.’ Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keenam dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut dan lidah mereka dan api menyembur ke kepala mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk kaum pendosa yang sesat di dunia.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu yang ketujuh dan melihat laki-laki yang di bawahnya terdapat sebuah sumur yang disebut Sumur Falaq. Aku dilemparkan ke sana, ya Ruhullah. Di dalamnya aku mendapat siksaan yang keras dan menjadi saksi atas banyak sekali hal-hal yang mengerikan. Kemudian Isa berkata: “Hai tengkorak, kalau kau mau, mintalah kepadaku sesuatu yang kau inginkan, insya Allah.” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, mintakanlah agar Allah mengembalikan kehidupan duniaku.” Isa berdoa kepada Allah yang kemudian menghidupkan kembali tengkorak itu. Dengan qadrat Allah Yang Mahakuasa wanita itu hidup kembali dan bertemu dengan Isa. Kemudian dia beribadah bersama Isa dua belas tahun lamanya, sehingga kepastian –artinya: kematian– menemuinya. Dia meninggal sebagai muminah yang sebenarnya, dan Allah dalam kemurahanNya memberikan tempat baginya di antara para penghuni surga.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 6:10-12.

187/303: Di dalam kitab-kitab injil tertulis: “Satu saja batu salah [terpasang] akan membuat tembok runtuh.”

Keterangan:

Kalimat di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 6:95.

188/303: Isa berkata: “Bicaralah banyak kepada Allah, bicaralah sedikit kepada manusia.” Orang bertanya kepadanya: “Bagaimana kami bisa berbicara banyak kepada Allah?” Isa menjawab: “Bicaralah kepadaNya di dalam kesunyian, berdoalah kepadaNya di dalam kesendirian.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 6:195.

Rujukan silang atas ucapan Isa di atas:

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf [variasinya, di sini dinisbatkan kepada sahabat Nabi: Mu’adz bin Jabal].

189/303: Jika kalian ingin, kalian bisa mencontoh apa yang senantiasa diucapkan oleh orang yang memiliki “kalima” dan “ruh”, yaitu Isa ibnu Maryam: “Lapar adalah bumbu makananku, takut adalah pakaianku, kulit domba adalah bajuku, cahaya fajar adalah penghangatku di musim dingin, bulan adalah lenteraku, kakiku adalah tungganganku, dan hasil bumi adalah makanan dan buah-buahanku. Aku tidur di malam hari tidak dengan apa-apa kecuali namaku, dan aku terbangun di pagi hari tidak dengan apa-apa kecuali namaku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih kaya daripada aku.”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 6:314.

190/303: Isa berkata: “Ya Bani Israil, Musa telah melarang kalian untuk berzina, dan memang baguslah larangan dia itu. Aku melarang kalian bahkan untuk membayangkan berzina, karena orang yang membayangkannya [meski] tanpa melakukannya adalah seperti rumah yang terbuat dari tanah lumpur yang di dalamnya dinyalakan api: meski rumahnya tidak terbakar, rumah ini toh akan menghitam oleh asap.” [Isa juga berkata:] “Ya Bani Israil, Musa telah melarang kalian untuk bersumpah palsu dengan nama Allah, dan baguslah larangan dia itu. Aku melarang kalian sama sekali untuk bersumpah dengan nama Allah, tidak peduli apakah sumpah kalian benar atau salah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 8:145-146.

Catatan:

Bandingkan Matius 5:27-28 dan 5:33-35.

191/303: Isa berkata: “Ya ulama, ambilah pelajaran dari pengetahuan yang tidak kau ketahui, dan ajarkanlah apa yang telah kau pelajari kepada kaum yang tidak mengetahui.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

192/303: Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau tidak menikah?” Isa menjawab: “Hanya di tempat tinggal yang abadilah beranak pianak itu terpuji.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

193/303: Isa berkata: “Sebagaimana kalian tidur, begitulah kalian [akan] mati. Sebagaimana kalian bangun, begitulah kalian [akan] dibangkitkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

194/303: Isa berkata: “Hindarilah melihat perempuan terus menerus, karena itu membangkitkan nafsu syahwat di dalam hati; sebuah godaan yang cukup besar bagi yang melakukannya!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Faraj ‘Abd ar-Rahman bin ‘Ali) Ibn al-Jauzi (… – 597 H), Damm al-Hawa.

195/303: Diriwayatkan bahwa Almasih diberi pertanyaan: “Sampai umur berapakah orang pantas menuntut ilmu?” Dia menjawab: “Selama hidup itu sendiri masih pantas.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, 1:96.

196/303: Isa berkata: “Ya qurra’ dan ‘ulama, mengapa kalian menjadi tersesat setelah kalian menimba ilmu? Dan mengapa kalian menjadi buta setelah mata kalian mendapat penerangan? Dan semua ini hanya demi dunia yang hina dan nafsu serakah? Celakalah kalian di dunia ini, dan celakalah dunia ini gara-gara kalian!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, 1:190.

197/303: Almasih berkata: “Janganlah bersedih karena apa yang dikatakan orang tentang kalian. Bila apa yang dikatakan mereka itu salah, maka itu adalah amal shalih tanpa kalian harus menjalankannya. Bila apa yang dikatakan mereka itu benar, maka itu adalah perbuatan dosa yang balasannya telah ditimpakan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Bahjat al-Majalis, 1:405.

198/303: Isa mengunjungi sebuah pekuburan. Ia memanggil seorang yang telah mati, dan Allah pun membangkitkannya. Isa bertanya kepadanya: “Siapakah kamu?” “Aku dulu seorang pengangkut barang,” jawab orang itu, “aku memikul kayu bakar untuk seseorang, dan mematahkan sebuah ranting untuk membersihkan gigiku. Sejak aku meninggal aku terus ditanyai tentang ranting itu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi, qadi, dan ‘ulama (Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf.

199/303: Isa berkata: “Betapa banyak jenis pepohonan, tetapi tidak semuanya mengeluarkan buah-buahan. Betapa banyak jenis buah-buahan, tetapi tidak semuanya enak dimakan. Betapa banyak jenis ilmu pengetahuan, tetapi tidak semuanya bisa berguna.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:38.

200/303: Isa berkata: “Memberikan hikmah kepada orang selain dari yang pantas menerimanya adalah hal yang bathil, dan menyembunyikannya dari mereka yang pantas menerimanya sama dengan menzhalimi mereka. Bersikaplah seperti dokter baik hati yang meletakkan obat [tepat] pada bagian tubuh yang sakit.” Menurut riwayat lain Isa berkata: “Barang siapa yang memberikan hikmah kepada orang selain dari yang pantas menerimanya adalah orang yang sombong, dan yang menyembunyikan hikmah dari orang yang pantas menerimanya sama dengan berbuat bathil. Hikmah mempunyai upahnya sendiri yang pantas, dan ada manusia yang pantas menerimanya, maka berikanlah kepada setiap orang upah yang pantas untuk mereka.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:43.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:35;

Ikhwan al-Safa’ (nama sebuah kelompok di penghujung abad ke-4 H), Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa’, 4:215 [sebagian];

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, 1:109 [sebagian];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 225 [variasi].

Catatan:

Biasanya Tarif Khalidi memasukkan di daftar rujukan para peulis yang hidup terkemudian daripada si penulis utama. Dalam “Jesus’ Sayings …” nomer 200 ini dia memasukkan Imam al-Ghazali sebagai penulis utama, dan memasukkan tokoh-tokoh lain yang hidup sebelum al-Ghazali –kecuali Ibn ‘Asakir– sebagai rujukan.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: