Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Hadis ucapan Isa Ruhullah (bagian-1)

303: Isa melihat seorang manusia yang melakukan pencurian. Isa bertanya padanya: “Apakah kau melakukan pencurian?” Lelaki itu menjawab: “Tidak pernah. Aku bersumpah pada yang lebih patut disembah daripada yang lain.” Isa berkata: “Aku beriman pada Allah dan menghukumi mataku karena kebohongan.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan dari Hammam ibn Munabbih (… – 131 H/748 M) sebagaimana termuat dalam “Sahifat Hammam ibn Munabbih”. Kemungkinan besar ini adalah kisah tertua tentang Isa yang beredar di kalangan umat Islam, dan membuktikan bahwa di abad pertama Hijriah sudah beredar kisah tentang Isa.

Referensi silang tentang kisah ini:

Shahih Muslim, 7:97

(Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk

(Abu ‘Amr ‘Utsman bin ‘Abd ar-Rahman) Ibn al-Salah (… – 643 H), Fatawa wa Masa’il Ibn al-Salah 1:18

(Mulla Muhammad Baqir) Majlisi (… – 1110 H), Bihal an-Anwar 14:702

2/303: Isa berkata: “Diberkatilah orang yang menahan lidahnya, yang puas dengan rumahnya, dan yang menangis karena dosanya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah ibn al-Mubarak (… – 181 H/797 M) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”.)

Referensi silang tentang ucapan ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 15

(Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syahbani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab az-Zuhd, 229 [di sini yang mengucapkan adalah ‘Abdallaj bin ‘Umar alih-alih Isa]

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi, Al-Risala a–Qusyairiyya fi ‘Ilm al-Taswwuf (… – 465 H) [di sini yang mengucapkan adalah Muhammad saw. alih-alih Isa]

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… -571 H), Sirat al-Sayid al-Masih, 158

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H),

Ithaf al-Sada al-Muttaqin bin Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum ad-Din, 7:456 [dengan urutan ucapan yang sedikit berbeda]

3/303: Isa berkata kepada kaumnya: “Jangan berbicara banyak tanpa mengingat Allah, kalau tidak maka mengeraslah hati kalian; dan hati yang keras akan jauh dari Allah, tetapi kalian tidak mengetahuinya. Jangan menyelidiki dosa orang lain seolah-olah kalian itu tuan, tetapi selidikilah seolah-olah kalian itu hamba. Ada dua macam manusia: yang sakit dan yang sehat. Bersikap baiklah kepada yang sakit, dan berterimakasihlah pada Allah atas kesehatan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”.

Referensi silang atas ucapan ini:

(‘Umara bin Wathima al-Farisi) Abu Rifa’a al-Fasawi (… – 289 H), Kitab Bad’al-Khalaq

(Ahman bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:313

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… -373 H), Tanbih al-Ghafilin

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… -571 H), Sirat al-Sayid al-Masih, 178ff

4/303: Isa berkata: “Kalau salah seorang di antara kalian berpuasa, maka minyakilah kepala dan janggut serta basahi bibir agar orang-orang tidak menyadari bahwa dia berpuasa. Jika dia memberi dengan tangan kanan, maka sembunyikan tangan kirinya. Jika dia berdoa, tutupkanlah tirai di pintunya; karena Allah memberikan pujian sebagaimana dia memberikan rezeki.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”.

Referensi silang atas ucapan ini:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:287

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… -571 H), Sirat al-Sayid al-Masih, 201

5/303: Jibril bertemu Isa dan berkata kepadanya: “Assalamu ‘alaika ya Ruhullah!” “Wa ‘alaikas-salam ya Ruhullah!” jawab Isa. Kemudian Isa bertanya: “Ya Jibril, kapan datangnya saat kiamat?” Jibril berdesir dan menjawab: “Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya. Kiamat amat berat bagi langit dan bumi; dia akan datang kepada kalian secara tiba-tiba.” Dan selain itu dia berkata: “Tentang hal ini hanya Allah yang tahu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”.   Bandingkan juga:

QS Al-‘Araf 187

Markus 13: 32 dan Matius 24: 36 di mana Yesus menyatakan bahwa dia dan para malaikat tidak tahu tentang hari dan jam kiamat; hanya Tuhan yang mengetahuinya.

6/303: Setiap kali di depan Isa disebutkan tentang saat hari kiamat, dia berduka cita dan berkata: “Ibnu Mayam tidak akan tenang apabila saat hari kiamat dibicarakan di hadapannya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 229

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 100

7/303:  Isa berkata kepada para muridnya: “Jangan meminta upah dari kaum yang kalian beri pelajaran, selain upah yang kalian berikan kepadaku.[1] Garam dunia [2], janganlah membusuk. Semua yang membusuk bisa ditangani dengan garam; tetapi jika garamnya membusuk, maka tak ada lagi obatnya. Ketahuilah bahwa kalian mempunyai dua ciri kebodohan: tertawa tanpa sebab, dan tidur hingga melewati pagi.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 284.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd; 478, 491

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin; dengan urutan yang terbalik

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 231

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi; 1:185; di sini tidak diatasnamakan Isa

Catatan kaki:

[1] Beberapa ayat Al-Quran juga menyebutkan bahwa Muhammad tidak meminta upah atas dakwahnya, misalnya Al-An’am 90, Yusuf 104, Al-Mu’minun 72, Furqan 57, Saba’ 47, Shad 86, Ath Thur 40, dan Al Qalam 46; begitu juga para nabi lain seperti Nabi Nuh (Yunus 72, Hud 29, Asy-Syuara 109), Nabi Hud (Hud 29, Asy-Syuara 127), Nabi Shalih (Asy-Syuara 145), Nabi Luth (Asy-Syuara 164), dan Nabi Syuaib (Asy-Syuara 180)

[2] Yesus menggunakan istilah “garam dunia” untuk para muridnya/pengikutnya; lihat Matius 5:13.

8/303: Isa berkata kepada para muridnya: “Para raja menyerahkan masalah hikmah kepada kalian, maka serahkanlah masalah dunia pada mereka.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 284.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd; 475

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin; 190

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 123

Bandingkan juga Matius 22:21, Markus 12:17, Lukas 20:25.

9/303: Isa berkata: “Bani Adam, kalau kamu melakukan perbuatan baik, cobalah untuk melupakannya; karena perbuatan ini akan terus ada pada yang tidak akan melupakannya.” Kemudian dia membacakan ayat Al-Quran[1]: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [dan meneruskan:] “Kalau kamu melakukan perbuatan buruk, maka pandanglah terus ia di depan mata.” Ibn al-Warraq berkata[2]: “Di dekat mata.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 301.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 190.

Catatan kaki:

[1] At-Taubah 120

[2] Ini adalah variasi/koreksi dari Ibn al-Warraq [… – 378 H] atas “… di depan mata.”

10/303: Isa berkata: “Para sahabatku, carilah kasih Allah dengan menghindari kaum yang berdosa; dekatilah Dia dengan melakukan apa yang menjauhkan kalian dari mereka; carilah kemurahanNya dengan melawan mereka.”  [Berikut ini adalah komentar dari Malik ibn Mighwal (… – 159 H)] Dia [Malik] berkata: “Aku tidak tahu dengan perintah yang mana Isa memulainya.” [Akhir dari komentar Malik] Para sahabat Isa bertanya: “Ya Ruhullah, kalau begitu kami harus mendekati kaum mana?”  Isa menjawab: “Dekatilah kaum yang tatapannya mengingatkan kalian pada Allah, yang ucapannya menambah ilmu, yang amalannya membuat kehidupan sesudah mati sangat berharga.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 355.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 1:399 dan 3:175.

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 25 (sebagian, dan diatasnamakan Muhammad saw.)

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:143 (hanya bagian akhir).

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, 1:126.

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2:157.

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 208.

11/303: Isa senantiasa berkata kepada para pengikutnya: “Anggaplah mesjid sebagai tempat tinggalmu, dan rumah [hanya] sebagai tempat persinggahan sementara. Makanlah dari tumbuh-tumbuhan alam bebas, dan larilah dari dunia ini dengan damai.” Syarik [1] berkata: “Aku menyebut ini kepada Sulaiman [2], dan dia menambahkan: ‘Dan minumlah air yang bersih.'”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 563.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:143;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 128.

Catatan kaki:

[1] Syarik (… – 177) adalah seorang qadi dan perawi hadits.

[2] Sulaiman ibn al-Mughira (… – 165 H) adalah perawi hadits dari Basra.

12/303: Isa berkata: “Pada seorang yang sabar, kemalangan membawa kesenangan; pada seorang yang berdosa, kesenangan membawa kemalangan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 627.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 241.

13/303: Isa berkata: “Empat [sifat] lah, yang apabila berada di diri seseorang, membuat kagum: diam yang merupakan awal ibadah, berendah diri di hadapan Allah, berpantang dari dunia, miskin.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 222.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 647;

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin [dengan sedikirt variasi];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 139.

14/303: Isa melewati sebuah reruntuhan dan bekata: “Reruntuhan dari reruntuhan!” Selain itu dia berkata: “Reruntuhan, di manakah orang-orangmu?” Sesuatu dari reruntuhan itu menjawab: “Ruhullah, mereka telah mati, karena itu berusahalah sendiri demi Tuhanmu!” Selain itu suara ini juga berkata: “Keputusan Allah sudah [ditetapkan dengan] pasti, karenanya carilah Allah juga dengan kepastian.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”; 640.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 1057 [di sini Abdallah bin Umar alih-alih Isa as.]

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 215.

15/303: Isa berkata: “Carilah keridhaan Allah, dan bukan keridhaan perut. Lihatlah burung-burung bagaimana mereka datang dan pergi; mereka tidak menanam maupun membajak, tetapi Allah mengurusi mereka. Kalau kalian berkata: ‘Perut kami lebih besar daripada perut burung,’ maka lihatlah binatang-binatang yang besar, buas maupun tidak, bagaimana mereka datang dan pergi, yang tidak menanam dan membajak, tetapi Allah juga mengurusi mereka. Berhati-hatilah atas pemborosan dunia, karena pemborosan dunia adalah aib di sisi Allah.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 848.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Qana’a (dalam “Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya”), 1:71, 173

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin [variasinya]

(Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – 400 H), Al-Imta’ wa al-Mu’anasa, 2:217

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:260 [bervariasi sedikit]

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 187.

Bandingkan juga: Matius 6:26

16/303: Di malam ketika Isa diangkat ke langit, Isa bertemu para pengikutnya dan berkata: “Janganlah mencari penghasilan dengan menggunakan kitabullah. Kalau kamu tidak melakukan ini, maka Allah akan mendudukkan kamu [nanti] di tempat yang di mana sebuah batu lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.” –‘Abd al-Jabbar [1] berkata: “Inilah tempat-tempat duduk yang Allah sebut di dalam Al-Quran: ‘Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.'[2]”– Setelah itu Isa diangkat ke langit.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 1147.

Catatan kaki:

[1] ‘Abd al-Jabbar ibn Salman (… – 112 H) adalah seorang perawi hadits, kemungkinan dulunya Nasrani.

[2] QS Al-Qamar 55.

17/303: Orang bertanya kepada Isa: “Ruhullah dan Kalamullah, siapakah yang paling menyesatkan manusia?” Dia menjawab: “Seorang ulama yang sesat. Kalau seorang ulama sesat, maka tersesatlah karenanya banyak orang.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 1474.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu al-Hasan Muhammad bin Yusuf al-Naisaburi) Al-‘Amiri (… – 381 H), Al-Sa’ada wa al-Is’ad;

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:174;

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 232 [dengan sedikit variasi].

18/303: Yahya bin Zakaria bertemu Isa dan berkata: “Katakanlah kepadaku, apa yang mendekatkan manusia kepada kasih Allah dan menjauhkannya dari murkaNya?” Isa berkata: “Hindarilah marah.” Yahya bertanya: “Apa yang menimbulkan marah dan membuatnya muncul kembali?” Isa menjawab: “Sombong, taklid buta, keangkuhan, dan kemubaziran.” Yahya berkata: “Izinkan saya bertanya sekali lagi.” “Bertanyalah apa yang kau mau,” jawab Isa. “Zina: apa penyebabnya, dan apa yang membuatnya muncul kembali?” “Sebuah tatapan,” jawab Isa, “yang membuat hati mendekati kesenangan dan ketaksusilaan yang berlebihan, sehingga keteledoran dan dosa menguat. Janganlah membelalaki mata pada sesuatu yang bukan milikmu, karena apa yang tidak pernah kau lihat tidak akan membuatmu tambah arif, dan apa yang tidak kamu dengar tidak akan merisaukanmu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 44.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:168 [versi yang lebih pendek].

19/303: Di zaman Isa pernah terjadi musim kemarau panjang. Segumpal awan melayang di langit. Isa memandang ke atas dan melihat malaikat yang melayang di atas awan. Isa berteriak kepadanya: “Ke mana?” “Ke lahan yang dipunyai si Fulan,” jawab sang malaikat. Isa berjalan terus hingga sampai ke orang yang dimaksud; orang itu sedang membenahi lubang-lubang di tanah. Isa bertanya: “Kau ingin lebih banyak?” –maksudnya: lebih banyak hujan. “Tidak,” jawab orang itu. “Kau ingin lebih sedikit?” “Tidak,” jawab orang itu. “Apa yang kau lakukan dengan hasil panenmu tahun ini?” “Panen yang mana?” tanya orang itu, “serangan hama telah memusnahkannya.” “Apa yang kau lakukan di tahun lalu?” tanya Isa. “Aku telah membagikan lahanku menjadi 3 bagian: sepertiga untuk pertanian, peternakan, dan keluarga; sepertiga untuk kaum miskin, kaum fakir, dan para musafir; sepertiga lagi untuk kebutuhanku.” Isa berkata: “Aku tidak tahu, yang mana dari 3 bagian ini yang lebih besar pahalanya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 126.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), “Kitab Islah al-Mal” dalam “Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya” [variasi].

20/303: Kaum hawariyun bertanya kepada Isa: “Katakalah kepada kami, siapakah yang paling patuh pada Allah?” “Orang yang berusaha memenuhi kehendak Allah tanpa mencari pujian manusia,” jawab Isa. “Siapakah yang memberikan nasihat bijak demi Allah?” tanya mereka. “Orang yang pertama-tama memenuhi kewajibannya pada Allah, sebelum dia memenuhi kewajibannya pada manusia, [dan] yang mengutamakan kewajiban pada Allah daripada kewajiban pada manusia. Jika dia harus memilih antara 2 hal: hal duniawi atau kehidupan sesudah mati, dia memulai hal yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati, dan baru kemudian mengalihkan perhatian kepada dunia ini.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 134.

Rujukan silang atas percakapan ini:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 95.

21/303: Al-Masih dan sekelompok pengikutnya sedang berada di [dekat] sungai yang deras dan sebuah bangkai ular ketika seekor burung berwarna-warni yang mengkilap laksana emas terbang ke arah mereka dan turun di dekat mereka. Ketika burung itu mengibaskan badannya, dia merontokkan bulu-bulunya dan memperlihatkan pemandangan yang paling jelek: botak berwarna merah. Sang burung lantas pergi ke sebuah telaga, berkubang di lumpur, dan muncul kembali dalam keadaan hitam dan jelek. Kemudian dia melihat air yang mengalir, mandi di sana, kembali ke bulu-bulunya yang lepas, mengambilnya kembali, dan kembali ke keelokkannya. Begitulah yang dilakukan orang yang berdosa, manakala dia menolak keimanan dan menjatuhkan diri dalam dosa; dan taubat mirip dengan mandi membersihkan kotoran di air tenang yang mengalir. Orang yang berdosa kembali ke keimanannya, apabila dia mengambil kembali kulit dan bulu-bulu yang telah dilepaskan. Dan ini adalah perumpamaan.

Keterangan:

Kisah di atas –tidak lengkap– diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 171. Kisah ini direkonstruksi kembali berdasarkan “Sirat al-Sayyid al-Masih”-nya (Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H).

22/303: Isa senantiasa berkata: “Kecintaan pada surga dan ketakutan pada neraka menimbulkan kesabaran dalam keadaan yang sulit dan menjauhkan hamba [Allah] dari kepuasan pada dunia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam “Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq”, 175.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:180 [lebih luas];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 125.

23/303: Kaum hawariyun mendatangi Isa dan berkata: “Ruhullah dan Kalamullah, perlihatkan pada kami nenek moyang kami Sem bin Nuh, mudah-mudahan Allah [dengan demikian] menguatkan keimanan kami.” Maka Isa pergi bersama-sama para hawariyun ke kuburan Sem dan berkata: “Jawablah dengan izin Allah ya Sem bin Nuh!” Sem bangkit dari kuburnya dengan izin Allah dan berdiri tegak laksana pohon palem yang tinggi. Isa berkata kepadanya: “Berapa lama kau hidup, ya Sem?” Dia menjawab: “Aku hidup empat ribu tahun lamanya. Pada umur dua ribu aku [diangkat menjadi] seorang nabi, dan kemudian aku masih hidup dua ribu tahun lagi.” Isa bertanya kepadanya: “Apa pendapatmu tentang dunia?” Sem menjawab: “Dunia itu seperti sebuah rumah dengan dua pintu. Aku memasukinya melalui satu pintu, dan keluar melalui pintu yang lain.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh “Kitab al-Tijam fi Muluk Himyar” karya (‘Abd al-Malik) Ibn Hisyam (… – 218 H) yang juga mengarang “Sira al-Nabawiya”, biografi tertua Rasulullah saw.

Rujukan silang atas kisah ini:

(Muhammad bin ‘Umar) Al-Waqidi (… – 207 H), Al-Maghazi, 1:121;

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:110-111.

24/303: Melalui lidah Isa: “Terkutuklah sebuah negeri yang penguasanya anak-anak kecil.”

Keterangan:

Kalimat di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Muhammad) Ibn Sa’d (… – 230 H), Al-Tabaqat al-Kubra, 6:29.

Catatan:

Tarif Khalidi sendiri melontarkan kemungkinan munculnya kalimat di atas dalam hubungannya dengan naiknya Mu’awiya II (cucu Mu’awiya) menjadi khalifah, yang ketika itu masih sangat muda dan sakit-sakitan. Mu’awiya II sendiri tak lama kemudian meninggal dunia. Kemungkinan lain adalah pengaitannya dengan Ecclesiastes 10:16 yang menyebut “Unhappy is the land whose king is a boy,”.

25/303: Allah berfirman kepada Isa: “Ya Isa, peringatkanlah dirimu sendiri. Bila dirimu telah diperingatkan, peringatkanlah orang lain. Tetaplah bersahaja di hadapanku.”

Keterangan:

Hadits qudsi ini diriwayatkan oleh Imam Hanbali dalam Kitab al-Zuhd, 300.

Referensi silang atas hadits qudsi ini:

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:68; dan Ayyuha al-Walad.

26/303: Isa berdiri bersama murid-muridnya –atau menurut dia: orang-orang yang mengikutinya– di dekat sebuah kuburan, yang di dalamnya satu jenazah sudah terkubur. Mereka [murid-murid Isa] bercakap-cakap tentang kegelapan, kesendirian, dan kesempitan kubur. Isa berkata: “Kalian pernah berada di tempat yang lebih sempit daripada ini: di rahim ibu kalian. Apabila Allah berkehendak memperluas [rahmatNya], Ia melakukannya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 301.

Referensi silang atas kisah ini:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 250.

27/303: Al-Masih berkata: “Seringlah berdzikir pada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Terpuji, dan Maha Agung, serta patuhilah Dia. Bila kalian berdoa cukuplah bila kalian mengatakan –dan Allah benar-benar akan puas dengan kalian: ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, ubahlah tingkah lakuku, dan jauhkanlah aku dari hal-hal yang buruk ya Allah.'”

Keterangan:

Doa Isa di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 302.

28/303: Isa berkata: “Berbahagialah orang yang beriman, dan sekali lagi berbahagialah, karena Allah mengawasi keturunannya setelah dia meninggal.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 304.

Referensi silang atas ucapan ini:

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ihtaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 8:440.

29/303: Isa senantiasa berkata: “Jika salah seorang dari kalian memberi sedekah dengan tangan kanan, sembunyikanlah ia dari tangan kiri. Kalau dia berdoa, tutupkanlah tirai pintunya, karena Allah mengasihinya sebagaimana dia memberikannya rezeki.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 307.

Catatan: lihat pula ucapan nr. 4.

30/303: Orang bertanya kepada Isa: “Nabiyullah, mengapa engkau tidak mengambil keledai yang bisa kau tunggangi bila dibutuhkan?” Isa menjawab: “Aku dalam pandangan Allah terlalu tulus, sehingga dia tidak memberikanku sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku dariNya.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 313.

Referensi silang atas percakapan ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:69;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:320;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 114, 115;

(Abu al-Faraj ‘Abd ar-Rahman bin ‘Ali) Ibn al-Jauzi (… – 597 H), Damm al-Hawa;

(Kamal al-Din Muhammad bin Musa) Al-Damiri (… – 808 H), Hayat al-Hayawan al-Kubra, 1:229.

31/303: Isa berkata kepada kaum hawariyun: “Sesungguhnya, aku katakan kepada kalian, kalian tidak mengejar dunia kini maupun dunia nanti.” Mereka berkata: “Nabiyullah, terangkanlah itu kepada kami, karena kami selama ini yakin bahwa kami menginginkan salah satu dari dunia itu.” Isa berkata: “Seandainya kalian mengejar dunia kini, maka kalian patuh pada Allah Tuhan semesta alam yang memiliki kunci dari semua kekayaannya. Seandainya kalian mengejar dunia nanti, maka kalian patuh pada Allah Penguasa dan Pemiliknya, dan Dia akan memberikannya kepada kalian. Tetapi kalian tidak menginginkan salah satu dari dunia ini.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 310.

32/303: Isa berkata [kepada kaum Hawariyun?]: “Mengapa aku tidak melihat ibadah paling utama pada kalian?” Mereka bertanya: “Apakah ibadah yang paling utama itu, ya Ruhullah?” Isa menjawab: “Berendah diri di hadapan Allah.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 312.

33/303: Isa berkata: “Kumpulkanlah kekayaan [untuk] di surga, karena hati manusia berada di tempat dimana kekayaannya berada.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 313.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:25;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 218;

(Abu ‘Abdallah Muhyi al-Din Muhammad bin ‘Ali) Ibn ‘Arabi (… – 638 H), Al-Futuhat al-Makiyya, 2:812.

34/303: [Seorang biarawan Nasrani bercerita] Setan berkata kepada Isa, ketika dia membawanya ke Yerusalem: “Kau menyatakan bahwa kau bisa menghidupkan orang mati. Kalau kau memang bisa, mintalah kepada Allah untuk mengubah gunung ini menjadi roti.” Isa berkata: “Apakah manusia hidup dari roti [saja]?” Setan berkata: “Kalau kau memang benar seseorang yang engkau katakan, jatuhkan dirimu dari tempat ini, karena para malaikat akan menyelamatkanmu.” Isa berkata: “Allah tidak menyuruhku untuk menjalankan ujian ini, karena aku tidak tahu apakah Dia akan menolongku atau tidak.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 314.

Rujukan silang atas kisah ini:

(Abu al-Faraj ‘Abd ar-Rahman bin ‘Ali) Ibn al-Jauzi (… – 597 H), Al-Adkiya [variasi].

Catatan:

Bandingkan pula kisah “Yesus dicoba di padang gurun” menurut Matius 4:1-11, Lukas 4:1-13.

35/303: Kaum Hawariyun tidak bisa menemukan nabi mereka, karena itu mereka mencarinya, dan menemukannya sedang berjalan di atas air. Seorang dari mereka berkata: “Nabiyullah, haruskah kami menghampirimu?” “Ya,” jawabnya. Ketika orang itu melangkahkan satu kakinya ke depan, dan kemudian satu kakinya lagi, dia tercebur. Isa berkata: “Ulurkanlah tanganmu hai orang yang beriman sedikit. Seandainya Bani Adam mempunyai sebulir saja keyakinan, dia pasti bisa berjalan di atas air.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 315.

Rujukan silang atas kisah ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 1:22-23;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 94.

Catatan:

Bandingkan pula kisah “Yesus berjalan di atas air” menurut Matius 14:22-33.

36/303: Isa senantiasa berkata: “Kasih terhadap sesama bukanlah berbuat baik kepada yang berbuat baik kepadamu, karena ini artinya membalas kebaikan dengan kebaikan. Kasih terhadap sesama berarti bahwa kamu harus berbuat baik kepada orang yang menjahatimu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 317.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 166.

Catatan:

Bandingkan pula Matius 5:43-48, Lukas 6:32-35.

37/303: Allah mewahyukan kepada Isa: “Ya Isa, Aku berikan kepadamu kecintaan dan kasih sayang atas kaum miskin. Kamu mencintai mereka, dan mereka mencintaimu, dan mereka menjadikanmu imam, kamu menjadikan mereka sahabat dan pengikut. Inilah dua sifat khas [1]. Ketahuilah, barang siapa yang di akhirat nanti menghadapKu dengan dua sifat khas ini, dia berdiri di depanKu dengan amal yang paling suci dan yang paling Aku suka.”

Keterangan:

Hadits qudsi di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 320.

Catatan kaki:

[1] Maksudnya: cinta dan kasih sayang atas kaum miskin.

38/303: Setiap kali masalah hari kiamat disinggung, Isa senantiasa resah ketakutan seperti seorang wanita.

Keterangan:

Pernyataan ini diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 323.

Catatan:

Bandingkan juga kisah/ucapan nomer 6.

39/303: Isa bertemu dengan Yahya, dan berkata: “Nasehatilah aku!” Yahya berkata: “Hindarilah perasaan marah.” Isa menjawab: “Itu aku tidak bisa.” Yahya meneruskan: “Jangan memiliki kekayaan.” Isa menjawab: “Itu bisa [kulakukan].”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 322.

Referensi silang atas percakapan ini:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:161 [dengan sedikit variasi].

40/303: Isa pergi menyendiri dan berseru kepada Allah dengan tunduk: “Inilah aku hambaMu, anak Maryam, anak dari hambaMu.” Kemudian lewatlah 70 nabi yang mengendarai unta sambil mengenakan rompi dari serabut, sebelum mereka shalat di mesjid Khaif.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 324.

Catatan: Mesjid Khaif terletak di Mina.

41/303: Isa berkata: “Ya kaum hawariyyun, siapakah di antara kalian yang bisa membangun rumah di atas gelombang lautan?” Mereka berkata: “Ruhullah, siapa yang bisa melakukan ini?” Dia berkata: “Berhati-hatilah pada dunia, dan jangan jadikan dia rumahmu.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 325.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:156;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:201.

42/303: Isa senantiasa berkata: “Sesungguhnya memakan roti tawar, meminum air putih, dan tidur bersama anjing di atas tumpukan sampah, benar-benar sudah cukup bagi orang yang ingin mewarisi surga.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 326.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:363;

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:75;

Ikhwan al-Safa’ (… – >300 H), Rasa’il Ikhwan al-Safa’ wa Khillan al-Wafa’, 3:34;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:180.

Catatan:

Menurut Tarif Khalidi ini adalah ucapan Isa yang paling populer di kalangan kaum terpelajar Muslim saat ini.

43/303: Isa berkata: “Buat kalian tidak ada gunanya mendapat ilmu yang belum kalian ketahui, selama kalian tidak beramal dengan ilmu yang telah kalian ketahui. Terlalu banyak ilmu hanya menumbuhkan kesombongan kalau kalian tidak beramal sesuai dengannya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 327.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:69-70.

44/303: Isa berkata: “Waktu berputar di sekitar tiga hari: hari kemarin yang telah lewat, yang di dalamnya kamu diberi peringatan, hari ini yang mencukupi kebutuhanmu, dan hari esok yang kamu tidak tahu apa yang menantimu di sana. Semua persoalan berputar di sekitar tiga hal:

sesuatu yang kebenarannya telah ditunjukkan kepadamu, dan kamu harus berorientasi kepadanya, sesuatu yang kebatilannya telah diperlihatkan dengan jelas kepadamu, dan kamu harus menjauhinya, dan sesuatu yang tampak meragukan bagimu, dan ini kamu harus serahkan kepada Allah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 328.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:35;

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:389;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 171.

Catatan:

Untuk kalimat kedua bandingkan juga misalnya QS Ali ‘Imran 7.

45/303: Isa berkata: “Hiburlah aku, karena hatiku lunak, dan aku memandang diriku rendah.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 329.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 60.

46/303: Al-Masih berkata: “Barangsiapa memperoleh ilmu, kemudian beramal sesuai dengannya, dan mengajarkannya, akan diperagung di kerajaan surga.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 330.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, 1:124;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:17;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 221;

(Baha’ al-Din Muhammad bin Ahmad) Al-Absyihi (… – 892 H), Al-Mustatraf fi kulli Fannin Mustazraf, 1:19

47/303: Orang bertanya kepada Isa: “Mengapa engkau bisa berjalan di atas air?” Isa menjawab: “Karena keteguhan iman.” Mereka melanjutkan: “Kami juga mempunyai iman yang teguh.” Isa bertanya: “Apakah bagi kalian batu, lumpur, dan emas sama?” “Tidak,” jawab mereka. Isa berkata: “Di mataku semua itu sama.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 331.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:263 [variasi yang lebih panjang];

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 1:37;

(Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (… – 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil ‘Ilm al-Tasawwuf [sebagian; disebutkan sebagai ucapan Nabi saw.].

48/303: Seorang laki-laki datang ke Isa dan berkata: “Guru Kebaikan, ajarilah aku sesuatu yang kau tahu dan aku tidak tahu, yang berguna bagiku dan tidak mencelakakanmu.” Isa bertanya: “Apa itu [yang engkau ingin tahu]?” Orang itu berkata: “Bagaimana seorang hamba bisa benar-benar bertakwa?” Isa menjawab: “Persoalannya mudah. Engkau harus benar-benar mencintai Allah dengan segenap hatimu, dan menempatkan hidupmu dengan segenap kekuatanmu di dalam penghambaan padaNya, dan kamu harus mengasihi manusia sepertimu, sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.” Orang itu bertanya: “Guru Kebaikan, siapakah manusia sepertiku?” “Semua Bani Adam. Dan apa yang kau tidak inginkan dilakukan padamu, jangan lakukan pada orang lain. Dengan seperti ini kau akan benar-benar bertakwa.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 332.

Catatan:

Bandingkan juga Matius 22:34-40, kemudian Matius 7:12 dan Lukas 6:31.

49/303: Isa senantiasa menyiapkan makanan untuk para pengikutnya, kemudian memanggil mereka untuk makan, menunggu mereka di meja, dan berkata: “Itulah apa yang harus kalian lakukan pada kaum miskin.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 333.

50/303: Apabila Isa mengirimkan para utusannya untuk menghidupkan kembali orang mati, dia senantiasa berkata: “Ucapkanlah ini dan ini, dan bila kalian merasakan adanya gemetar atau linangan air mata, mulailah berdoa.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 334.

51/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Sesungguhnya, kukatakan kepada kalian,” –dan dia sering berkata “Sesungguhnya, kukatakan kepada kalian,”– “di antara kalian yang paling mengeluh bila terjadi kemalangan adalah yang paling sering menghadapkan diri kepada dunia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 338.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 4:67.

52/303: Kaum hawariyyun berkata: “Ya Isa, siapakah ‘para wali Allah, yang tidak akan mengenal rasa khawatir dan sedih hati'[1]?” Isa menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang menatap hati dunia ini, sementara manusia lain melihat permukaannya [saja]; [mereka adalah] orang-orang yang menyongsong datangnya akhir dunia ini, sementara manusia lain [hanya] melihat saat sekarang yang akan menghilang.

Mereka membunuh dari dunia apa-apa yang yang mereka takutkan bisa membunuh mereka, dan meninggalkan apa-apa yang mereka yakini akan meninggalkan mereka. Karenanya mereka mengenyampingkan apa-apa yang dulunya mereka percayai penting bagi kehidupan duniawi. Jika mereka menyinggungnya, mereka lakukan ini hanya sambil lalu saja, dan kegembiraan mereka dari yang mereka dapatkan dari itu, adalah kesedihan.

Mereka menolak semua kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dunia, dan menolak semua kemungkinan kemasyhuran duniawi tanpa sebab-sebab yang adil.

Di mata mereka dunia ini tua dan keropos, dan mereka tidak memperbaruinya. Dunia ini di sekeliling mereka sudah runtuh, dan mereka tidak membangunnya kembali. Dunia ini sudah mati di hati mereka, dan mereka tidak membiarkannya bangkit kembali.

Mereka merusak dunia untuk bersamanya membangun kembali kehidupan mereka setelah mati. Mereka menjual dunia untuk menukarkannya dengan yang kekal. Mereka menolak dunia dan karenanya menjadi kaum sesungguhnya yang beruntung di atas dunia.

Mereka melihat kerabat mereka yang sudah mati dan rusak tenggelam ke dalam bumi, dan memperbarui pikiran akan kematian serta mematikan pikiran akan kehidupan.

Mereka mencintai Allah dan selalu mengingatNya,

mereka mencari nur-Nya dan bercahaya melalui nur-Nya.

Keajaiban dikabarkan keluar dari mereka,

dan mereka mengabarkan hal-hal yang ajaib.

Kitabullah diperkenalkan melalui mereka, dan mereka beramal sesuai dengan kitab ini. Mereka memuji kitabullah sebagaimana kitabullah memuji mereka. Ilmu kitabullah disebarkan melalui mereka, sebagaimana halnya mereka memperoleh ilmu melalui kitabullah.

Mereka tidak mengharapkan pahala yang lebih besar daripada yang mereka bisa dapatkan; mereka tidak mengharapkan keselamatan selain dari yang mereka nantikan; mereka tidak mengharapkan ketakutan selain dari yang mereka hindarkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 339.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:140;

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:144;

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 1:10;

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 245.

Catatan kaki:

[1] Lihat QS Yunus 62.

53/303: Yahya dan Isa bertemu; Yahya berkata: “Mintakanlah ampunan untukku dari Allah, karena kamu lebih baik daripada aku.” Isa menjawab: “Kamu lebih baik daripada aku. Aku mengabarkan keselamatan atasku [1], Allah mengabarkan keselamatan atasmu [2].” Allah mengakui pengabdian keduanya.

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 392.

Catatan kaki:

[1] Lihat QS Maryam 15.

[1] Lihat QS Maryam 33.

54/303: Seorang lelaki yang telah berzina dibawa kepada Isa, yang kemudian memerintahkan perajamannya. Isa berkata: “Tetapi yang pernah melakukan perbuatan yang sama jangan melemparkan batu kepadanya!” Maka semuanya menjatuhkan kembali batu-batunya, kecuali Yahya bin Zakaria.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 394.

Catatan:

Bandingkan juga kisah “Wanita penzina” di Yohanes 8:2-11. Menarik untuk dicatat bahwa di kisah di atas penzinanya adalah seorang lelaki, bukan wanita, Isa memerintahkan perajamannya, Yahya berada di sana, dan tidak termasuk yang menjatuhkan kembali batu, akhir kisahnya tampak terbuka.

55/303: Isa berkata: “Allah mencintai terutama orang asing [gharib].” Orang bertanya: “Siapakah orang asing itu?” Isa menjawab: “Mereka yang demi keimanan melepaskan dunia ini. Mereka akan dipilih bersama-sama Isa di hari akhir nanti.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 402.

Rujukan silang atas percakapan ini [yang menyebutkan ini sebagai ucapanMuhammad saw. alih-alih Isa]:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:271;

(Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 1:265.

56/303: Isa berkata: “Hai hamba dunia ini, daripada membagi-bagikan sedekah lebih baik kalian bersikap baik pada orang-orang yang kalian perlakukan tidak adil!”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 466.

57/303: Isa berkata: “Biarkanlah manusia hidup dalam perdamaian. Urusilah para manusia, dan jangan mengurusi diri sendiri. Jangan berusaha mendapatkan pujian atau celaan mereka. Amalkanlah apa yang telah diperintahkan untuk diamalkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 467.

Rujukan silang atas ucapan ini:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Kitab al-Samt wa Adab al-Lisan, 743.

58/303: Allah berfirman kepada Isa: “Jadikanlah Aku satu-satunya urusanmu. Jadikan Aku bekal harta untuk kehidupanmu sesudah mati. Percayalah padaKu, maka Aku akan mencukupimu. Jangan jadikan sembahan-sembahan selain Aku, atau Aku akan meninggalkanmu.”

Keterangan:

Hadits qudsi di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 468.

59/303: Isa berangkat pergi mengunjungi salah satu saudara laik-lakinya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang berkata: “Saudaramu sudah meninggal.” Maka Isa berbalik lagi.

Ketika anak-anak perempuan saudaranya itu mendengar bahwa Isa berbalik lagi, pergilah mereka menuju Isa dan berkata: “Nabiyullah, berbaliknya engkau sungguh lebih sulit diterima daripada wafatnya ayah kami.” Isa berkata: “Pergilah tunjuki aku kuburannya.”

Maka mereka pergi memperlihatkan kuburan ayah mereka kepada Isa. Isa berteriak dengan suara keras ke arahnya, dan si almarhum muncul; rambutnya sudah memutih. Isa bertanya: “Apakah kamu si Fulan?” “Ya,” jawab orang itu. “Apakah itu yang kulihat telah menimpa dirimu?” “Aku mendengar suaramu, dan menyangka itu adalah ‘saiha'[1],” jawab laki-laki itu.

Isteri dari laki-laki itu terus memperhatikan dan mendengar apa yang telah dilakukan Isa. Wanita itu berkata: “Mulialah badan yang telah mengandungmu, dan dada yang telah memberimu makanan [menyusui].” Isa berkata: “Mulialah orang yang telah diajari Allah dengan Lauhul-Mahfuz, dan meninggal tanpa kesombongan.” [2]

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 470.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 3:53 [di sini yang keluar dari kubur adalah Sem bin Nuh];

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin [dengan sedikit variasi];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 80, 160, 161;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:328 [sebagian].

Catatan kaki:

[1] Teriakan di hari kiamat.

[2] Bandingkan juga Lukas 11:27-28.

60/303: Isa berkata: “Aku telah membalikkan dunia dan duduk di atas punggungnya. Aku tidak punya anak yang bisa mati, [dan aku tidak punya] rumah yang bisa runtuh.” Mereka berkata kepadanya: “Tidak maukah engkau memiliki sebuah rumah untukmu sendiri?” Isa menjawab: “Bangunlah sebuah rumah untukku di atas aliran air yang deras.” Mereka berkata: “Rumah seperti itu tidak akan bertahan lama.” Mereka juga bertanya kepada Isa: “Tidak maukah engkau menikahi seorang perempuan?” Isa menjawab: “Apa yang harus kulakukan dengan seorang wanita yang bisa mati?”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 471.

Rujukan silang atas pecakapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:26-27;

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:173 [sebagian];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 136 [variasinya].

61/303: Isa berkata: “Dosa terbesar adalah kecintaan pada dunia. Wanita adalah tali-tali setan. Khamr adalah kunci ke semua keburukan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 472.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:170 [di sini perkataan tsb. diucapkan oleh Malik ibn Dinar, seorang zuhd dari Basra yang wafat sekitar 130 H].

62/303: Isa senantiasa berkata: “Kecintaan pada dunia adalah akar dari semua dosa. Kekayaan duniawi adalah penyakit parah.” Mereka bertanya: “Bagaimana rupa dari penyakit ini?” Isa berkata: “Orang yang terjangkitnya tidak terhindar dari kesombongan dan keangkuhan.” Mereka bertanya: “Bagaimana seandainya orang itu bisa menghindarinya?” Isa menjawab: “Menumpuk kekayaan menjauhkan manusia dari Allah.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 473.

Rujukan silang atas pecakapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:191;

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:263;

(Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad) Al-Raghib al-Isfahani (… – >400 H), Muhadarat al-Udaba’, 1:512;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 146.

63/303: Isa berkata: “Sesungguhnya, kukatakan kepada kalian: di surga tidak ada orang kaya. Lebih mudah bagi seekor unta untuk memasuki lubang jarum daripada seorang kaya memasuki surga.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 474.

Catatan:

Lihat juga Matius 19:24.

Perumpamaan “unta memasuki lubang jarum” dipakai juga oleh QS Al-A’raf dalam konteks tidak mungkinnya para pendusta ayat-ayat Allah memasuki surga.

64/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Ya hawariyyun, jangan melemparkan mutiara kepada babi, karena babi tidak tahu penggunaannya. Jangan memberikan hikmah kepada seseorang yang tidak menginginkannya, karena hikmah itu lebih berharga daripada mutiara, dan orang yang tidak menginginkannya lebih buruk daripada babi.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 477.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:63.

Catatan:

Bandingkan juga Matius 7:6

65/303: Al-Masih berkata: “Kalau kalian ingin berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menjadi cahaya Bani Adam, maka maafkanlah mereka yang menjahili kalian, tengoklah orang sakit yang tidak [pernah] menengok kalian, bersikap ramahlah pada orang yang tidak ramah pada kalian, dan pinjamkanlah [uang] kepada mereka yang tidak mengembalikan apa-apa kepada kalian.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 480.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 5:238-239.

66/303: Isa berjalan bersama seorang muridnya di Celah Afiq [1]. Seorang laki-laki memotong jalan dan menghalangi mereka meneruskan perjalanan dengan berkata: “Aku tidak akan membiarkan kalian pergi sebelum memukul kalian satu per satu.” Mereka berusaha membuat dia mengurungkan maksudnya, tapi dia bersikeras. Isa berkata: “Ini pipiku, pukullah!” Orang itu menampar pipi Isa dan [kemudian] mengizinkan dia pergi. Orang itu kemudian berkata kepada murid Isa: “Aku tidak akan membiarkan kau pergi sebelum aku memukulmu.” Murid Isa menolak. Ketika Isa melihat ini dia menawarkan pipinya yang lain. Orang itu memukul pipi Isa yang satunya lagi dan [kemudian] mengizinkan mereka berdua pergi. Isa kemudian berkata: “Ya Allah, kalau ini kau ridhai, maka cukuplah ridhaMu bagiku. Kalau ini tidak kau ridhai, maka azabMu yang pantas [adalah balasannya].”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 481.

Catatan kaki:

[1] Celah Afiq adalah sebuah celah yang menuju Ghaur di lembah Yordan. Ada yang menyebutkan Afiq sebagai tempat di mana Isa akan membunuh Dajjal menjelang kiamat.

67/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Aku ingin agar kalian makan roti sederhana, dan mengungsi dari dunia ini dengan aman dan dalam damai. Sesungguhnya kukatakan kepada kalian: manisnya dunia ini adalah pahitnya dunia nanti, dan pahitnya dunia ini adalah manisnya dunia nanti. Orang-orang yang benar-benar menyembah Allah bukanlah mereka yang hidup enak. Sesungguhnya kukatakan kepada kalian: orang terburuk di antara kalian adalah ulama yang mencintai dunia ini dan mendahulukannya daripada perilau yang adil. Seandainya dia bisa, dia ingin membuat semua manusia berbuat sebagaimana dia bertingkah laku.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 482.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:153;

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:256 [sebagian];

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 184.

68/303: Isa biasa berkata: “Aku berkhotbah kepadamu agar kamu belajar. Aku tidak berkhotbah kepadamu agar kamu bangga diri.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 483.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Mukhtasar Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi [lebih panjang]

69/303: Al-Masih berkata: “Bukan sebagaimana yang kuinginkan, melainkan sebagaimana yang kau inginkan. Bukan sebagaimana yang kuharapkan, melainkan sebagaimana yang kau harapkan.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 484.

Catatan:

Ucapan yang mirip terdapat juga di Matius 26:39 dalam doa Yesus pada Tuhan.

70/303: Tidak ada sebutan untuk Isa yang lebih disukainya selain “si orang miskin itu”.

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 485.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:263;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:191-192 [versi lebih panjang].

71/303: Kaum hawariyyun berkata: “Masihullah, lihatlah baitullah ini, betapa indahnya!” Isa menjawab: “Amin, amin. Sesungguhnya, kukatakan kepada kalian, Allah tidak akan membiarkan satu batu dari mesjid ini berada di atas batu yang lainnya, semuanya akan diluluhlantakkan karena dosa-dosa manusia. Allah tidak memerlukan emas, perak, atau batu-batu ini. Daripada semua benda ini Allah lebih menyukai manusia-manusia yang suci hatinya. Bersama mereka Allah membangun dunia ini, atau Allah mengancurkannya jika hati-hati ini tidak suci.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 486.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:396.

72/303: Isa berkata: “Setan [selalu] mendampingi dunia. Kebohongannya mendampingi kekayaan. Kemampuannya menggoda mendampingi kemurungan. Kekuatan terbesarnya mendampingi hawa nafsu.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 487.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 5:252;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 51.

73/303: Isa senantiasa berkata:”Ya murid-muridku, janganlah kalian mencari dunia dengan jalan merusak diri kalian sendiri; carilah keselamatan dengan jalan merelakan apa yang ada di dunia.Kalian datang ke dunia ini dengan telanjang, dan akan meninggalkannya dengan telanjang pula. Kalian tidak usah mencari rezeki yang [memang] akan diberikan oleh hari esok; berkecukupanlah dengan rezeki yang diberikan oleh setiap hari. Hari esok akan membawa masalahnya sendiri. Mintalah kepada Allah agar Dia memberikan kalian rezeki dari hari ke hari.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 488.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:68.

Catatan:

Bandingkan pula Ayub 1:21 tentang telanjangnya manusia, serta Matius 6:34 tentang problematika hari ini dan esok.

74/303: Isa senantiasa berkata: “Ya Rabbi, aku tidak bisa membebaskan diriku dari apa-apa yang aku benci, dan tidak bisa meraih apa yang aku inginkan. Ketentuan tentang ini tidak berada di tanganku, dan aku akan diminta pertanggungjawaban atas apa-apa yang telah aku kerjakan. Tidak ada orang yang lebih miskin daripada aku. Jangan Kau biarkan musuhku mendatangiku. Jangan Kau biarkan temanku menjauhiku. Jangan jadikan keimananku menjadi kehancuranku, dan jangan tempatkan di atasku seseorang yang tidak mempunyai rasa kasihan padaku.”

Keterangan:

Doa Isa di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 490.

Rujukan silang atas doa Isa di atas:

(Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:324;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 103.

75/303: Bangsa Israel mencela Isa karena kemiskinannya. Isa berkata kepada mereka: “Manusia-manusia yang patut dikasihani, kalian telah disesatkan oleh orang-orang kaya. Apakah kalian penah melihat seseorang yang mencari kemiskinan menentang Allah?”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Wara’, 228.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:155.

76/303: Ketika Isa mengembara, langit terbuka, dan hujan turun dengan derasnya. Karenanya dia mencari perlindungan di sebuah gua. Di sana dia melihat [sudah] ada seorang gembala. Isa meninggalkan gua itu dan mencari perlindungan di sebuah semak belukar. Di sana Isa melihat [sudah] ada seekor singa yang sedang mendekam. Isa mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya Rabbi, Engkau telah memberikan tempat berlindung untuk semua, hanya tidak untukku.” Allah berfirman kepada Isa: “Ya Isa, Akulah tempatmu berlindungmu, di bayang-bayang ‘arsy-Ku, dan di rumah rahmatKu. Aku akan menikahkanmu dengan seribu gadis elok, dan memberi makan seribu tahun kepada para manusia [tamu] di pesta pernikahanmu. Di hari kiamat akan ada seorang penyeru yang berteriak: ‘Datanglah dan hadirilah pernikahan waliyullah ini!'”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Wara’, 318.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 121;

(Daud bin ‘Umar al-Darir) Al-Antaki (… – 1008 H), Tazyin al-Aswaq bi-Tafsil Asywaq al-Usysyaq, 1:71;

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ihtaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 8:87 [variasinya].

77/303: Di hari ketika Isa diangkat ke langit, dia tidak meninggalkan apa-apa selain sebuah baju dari bulu domba, sebuah pelontar batu, dan dua buah sendal.

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh periwayat kisah-kisah zuhud (Hannad) Ibn al-Sariyy (… – 243 H), Kitab al-Zuhd, 553.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 122 [variasinya].

78/303: Isa makan tumbuh-tumbuhan, mengenakan pakaian dari bulu-bulu kasar, dan tidur di mana saja ketika malam tiba. Dia tidak punya anak –yang bisa meninggal, tidak punya rumah– yang bisa runtuh, dan dia tidak menyimpan makan siangnya untuk makan malam, atau menyimpan makan malamnya untuk makan siang. Dia senantiasa berkata: “Tiap hari membawa rezekinya sendiri.”

Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh periwayat kisah-kisah zuhud (Hannad) Ibn al-Sariyy (… – 243 H), Kitab al-Zuhd, 559.

Rujukan silang atas hal di atas:

(Abu Bakr Muhammad bin Ishaq) Al-Kalabadzi (… – 380 H), Al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tasawwuf;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:220 [sebagian];

(Syihab al-Din ‘Umar) Al-Suhrawardi (… – 632 H), Awarif al-Ma’arif, 2:249;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 108.

Catatan:

Lihat juga “Jesus’ Sayings and Stories in Islamic Literature” nomer 60 dan 73.

79/303: Isa melihat sekelompok orang yang sedang menangis. Dia bertanya: “Mengapa orang-orang ini menangis?” Orang menjawabnya: “Mereka takut pada dosa-dosa mereka.” Isa berkata: “Lepaskanlah dosa-dosa kalian, maka kalian akan diampuni.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 1:399 dan 3:167.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 2:268; – (Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida.

80/303: Almasih berjalan melewati sekelompok Bani Israil yang mengejeknya. Setiap kali mereka mengeluarkan ucapan buruk, Almasih menjawabnya dengan ucapan baik. Syim’on al-Safi [1] berkata kepadanya: “Akankah kau selalu menjawab mereka dengan ucapan baik jika mereka mengeluarkan ucapan buruk?” Almasih berkata: “Setiap orang [hanya bisa] mengeluarkan apa yang dia miliki.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:177.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:370;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 169.

81/303: Isa terlihat meninggalkan rumah seorang pelacur. [Orang bertanya:] “Ruhullah, apa yang kau lakukan di rumah perempuan ini?” “Yang sakitlah yang dikunjungi dokter,” jawab Isa.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:140.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:370.

Catatan:

Bandingkan juga Matius 9:12.

82/303: Isa berkata: “Dunia adalah hartanya setan, dan manusia adalah para pengolahnya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:140-141.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:143.

83/303: Isa berkata: “Celakalah kalian budak dunia ini! Kelakuan kalian sangat bertentangan dengan kaidah kalian, tuntutan kalian [sangat bertentangan] dengan akal kalian. Ucapan kalian adalah ramuan yang mengobati penyakit, tetapi amal kalian adalah penyakit yang tak mungkin terobati. Kalian tidak seperti ranting pohon anggur yang mempunyai daun-daun halus, buah yang lezat, dan mudah didapat; kalian sebenarnya seperti pohon akasia yang mempunyai sedikit daun, banyak duri, dan susah untuk diraih. Celakalah kalian budak dunia ini! Kalian menyepelekan kebaikan, [dengan pertimbangan] kebaikan bisa dicapai oleh setiap orang yang menginginkannya; dan kalian mengagungkan dunia ini, [dengan pertimbangan] dunia tidak dapat diraih. Kalian bukan hamba yang shalih ataupun orang bebas yang terhormat. Celakalah kalian penerima balasan dosa! Kalian mengambil upah dan merusak pekerjaan. Kalian nanti akan menjumpai apa yang paling kalian takuti, karena pengawas kalian akan segera melihat pekerjaan yang kalian rusak dan upah yang telah kalian ambil. Celakalah kalian yang berutang pada kejahatan! Kalian telah mulai membagikan hadiah sebelum kalian melunasi utang kalian; kalian mengerjakan sesuatu yang mubazir dengan suka rela, tapi kalian tidak mengerjakan apa yang diperntahkan kepada kalian. Seorang yang meminjamkan tidak akan mengambil hadiah sebelum piutangnya dilunasi.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:157.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:173.

84/303: Isa berkata: “Kalian berusaha untuk dunia ini, yang di dalamnya kalian dilayani, tanpa kalian sesungguhnya harus berusaha untuknya; sementara kalian tidak berusaha untuk dunia nanti, yang di dalamnya kalian tidak dilayani, kecuali kalian berusaha untuknya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:166.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:165 [lebih panjang];

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:143;

(Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (… – 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 237.

85/303: Al-Masih berkata: “Bagaimana tak berartinya dunia ini di sisi Allah terlihat jelas dari [kenyataan] bahwa hanya di dunia ini Allah tidak dipedulikan dan [bahwa] kasih sayangNya hanya bisa diraih oleh orang yang tidak mempedulikan dunia.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 3:166.

86/303: Isa berkata kepada kaum hawariyun: “Manusia diciptakan di dunia ini dalah empat tahap. Di dalam tiga tahap manusia merasa tenang, dan di tahap keempat dia merasa gundah dan takut bahwa Allah akan meninggalkan dia. Di dalam tahap pertama manusia dilahirkan ke dalam tiga kegelapan: kegelapan badan, kegelapan rahim, dan kegelapan ari-ari. Allah mengurus dia di dalam kegelapan badan. Bila dia sudah terbebas dari kegelapan badan, dia bertemu dengan makanan yang dia tidak bisa hampiri dengan menggerakkan kaki atau dia raih dengan tangan. Makanan ini disediakan untuknya; dan dia dihadiahi ini hingga dia tumbuh. Bila dia sudah disapih daari air susu, dia mencapai tahap ketiga. Dia mendapat makanan dari orang tuanya yang memperolehnya dengan jalan halal atau haram. Jika orang tuanya meninggal maka orang-orang lain akan merasa kasihan padanya; seseorang memeberinya makan, orang lain memberinya minum, yang lainnya memberi dia tempat untuk tinggal, dan yang lainnya lagi memberi dia pakaian. Jika dia mencapai tahap keempat, bertenaga dan tegak, serta menjadi dewasa, maka takutlah dia bahwa tidak ada lagi yang mengurusi dia, dan [mulailah] dia menyerang manusia lain, mengkhianati amanat mereka, merampoknya, mengambil harta benda mereka, meski dia [sebenarnya] takut bahwa Allah Yang Mahakuasa bisa meninggalkannya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Al-Mahasin wa al-Addad.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ali bin Muhammad al-Baghdadi) Abu Hayyan al-Tauhidi (… – >400 H), Al-Imta’ wa al-Mu’anasa, 2:127;

Al-Baihaqi, Al-Mahasin wal al-Mawasi’ [Traif Khalidi tidak memberi data lebih lanjut tentang kitab ini dan pengarangnya];

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 1:57;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 193.

87/303: Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu, yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm dan ‘ilm [1].” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmKu.”

Keterangan:

Tarif Khalidi tidak memberikan keterangan dari pengarang Muslim mana dialog di atas dinukil. Dia hanya memberikan keterangan bahwa dialog ini terdapat di karya:

Miguel Asín y Palacios, “Logia e agrapha domini Jesu apud moslemicos scriptores, asceticos praesertim usitata”, 1919 M, nr. 224

Hanna Mansur, “Aqwal al-Sayyid al-Masih ‘ind al-kuttab al-muslimin al-aqdamin”, 1976 M, nr. 238.

Catatan:

[1] “hilm” = kemurahan hati; “‘lm” = ilmu; umat yang dimaksud tentu saja umat Islam.

88/303: Orang bertanya kepada Isa: “Apakah amalmu yang paling utama?” Isa menjawab: “Tidak mengurusi sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya denganku.”

Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh (Abu ‘Utsman ‘Amr bin Barr) Al-Jahiz (… – 255 H), Kitab Kitman al-Sirr wa Hifz al-Lisan, 1:162.

Rujukan silang atas percakapan di atas:

(Ahmad bin ‘Abdallah) Abu Nu’aim al-Isbahani (… – 430 H), Hilyat al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya, 1:227.

89/303: Allah mewahyukan kepada Isa untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus.

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh penulis sejarah tentang Mesir di awal masa Islam (Abd al-Rahman bin ‘Abdallah al-Mishri) Ibn ‘Abd al-Hakam (… – 257 H), Futuh Mishr wa Akhbaruha.

Komentar:

Menurut pendapat saya kisah di atas bagi umat Islam paling tidak problematis dalam 2 hal:

Pertama, pengiriman pendakwah ke”para raja di dunia” tampaknya bertentangan dengan pernyataan Al-Quran bahwa Nabi Isa as. diutus untuk Bani Israil.

Kedua terkesan bahwa Allah/Tuhan bereaksi atas sesuatu perintah yang dalam prakteknya memerlukan “support” lebih lanjut. Kisah seperti ini tidak sedikit ada di dalam Bibel, tetapi tampaknya tidak selaras dengan konsep “sunnatullah” Al-Quran.

90/303: Isa berkata kepada kaum hawariyyun: “Jika orang mengangkat kalian sebagai kepala, maka bersikaplah seperti ekor.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 1:266.

91/303: Isa melihat seorang laki-laki dan bertanya kepadanya: “Apa yang kau lakukan?” “Aku menyerahkan diri [sepenuhnya] pada Allah,” jawab si laki-laki. Isa bertanya: “Siapa yang mengurusi [hidup-]mu?” “Saudara laki-lakiku,” jawab dia. Isa berkata: “Saudaramu itu lebih berserah diri pada Allah dibandingkan kamu.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 1:327.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 2:371;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 2:64;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 249.

92/303: Almasih berkata: “Hai para musafir di malam hari, sampai kapankah kalian akan memberi petunjuk jalan, sementara kalian sendiri berada di belakang orang yang tersesat? Sebuah ilmu yang sedikit saja sudah cukup [bagi kalian], tetapi amal kalianlah harus berlimpah.”

Keterangan:

Kritik atas kemunafikan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:127.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 219.

93/303: Almasih berkata: “Allah paling membenci ulama yang suka memfitnah orang lain, yang senang mendapat tempat kehormatan di sebuah pertemuan, yang senang diundang ke perayaan dan menerima sekarung makanan. Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, orang-orang seperti itu telah mendapat pahala mereka di dunia ini, dan Allah di hari kiamat nanti akan melipatgandakan siksaan mereka.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:127.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Ali Ahmad bin Muhammad) Miskawaih (… – 421 H), Al-Hikma al-Khalida.

Catatan:

Terlepas dari sejauh mana keshahihan ucapan di atas, menarik untuk dicatat bahwa temanya masih aktual sampai sekarang. Lihat juga ucapan nomer 94 berikut ini.

94/303: “Di akhir zaman akan ada ulama-ulama: – yang menyeru orang lain untuk zuhud, tapi mereka sendiri tidak zuhud, – yang menyuruh orang lain untuk merindukan akhirat, tetapi mereka sendiri tidak menantikannya, – yang melarang orang untuk mendekati penguasa, tetapi mereka sendiri tidak bisa menahan diri untuk mendekati orang-orang kaya serta berpaling dari kaum miskin, – yang mejauhi rakyat biasa dan menjilati orang-orang berkuasa. Merekalah orang-orang yang zhalim dan musuh Allah Yang Maha Pengasih.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:129-130.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 2:227.

Catatan:

Ucapan yang temanya masih aktual sampai sekarang ini oleh Ibn Qutaiba disebutkan sebagai ucapan seorang dari penerus generasi salafi –Ibn Qutaiba meiwayakanya dengan “Qala ba’d al-salaf”, sementara menururt Ibn ‘Abd Rabbihi ini adalah ucapan Isa as. Wallahu ‘alam.

95/303: Isa berkata: “Barang siapa berbicara tanpa mengingat Allah, gagaplah dia sebenarnya. Barang siapa berpikir tanpa mengingatkan diri, tak waspadalah dia sebenarnya. Barang siapa diam tanpa berpikir, menghamburkan waktulah dia sebenarnya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:178.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-Laits Nashr bin Muhammad) Al-Samarqandi (… – 373 H), Tanbih al-Ghafilin [lebih panjang].

96/303: “Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, orang yang mengucapkan hal-hal bijak, dan orang yang mendengarkannya, termasuk satu golongan; dan orang yang mempraktekkan kebijakan, jauh lebih tepat lagi disebut sebagai orang bijak. Sesungguhnya aku katakan kepada kalian, apabila kalian menemukan sebuah lampu minyak di malam hari, kalian akan menggunakan cahayanya, meskipun minyaknya bau. Dan karenanya kalian harus mengambil hal-hal bijak dari setiap orang yang memilikinya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:268.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu ‘Umar Yusuf) Ibn ‘Abd al-Barr al-Qurthubi (… – 463 H), Mukhtasar Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi [sebagian].

97/303: Isa berkata kepada para pengikutnya: “Kalau kalian benar-benar saudara dan sahabatku, terbiasalah pada permusuhan dan kebencian manusia. Karena kalian hanya akan mendapatkan apa yang kalian cari, jika kalian merelakan apa yang kalian inginkan. Kalian hanya akan memiliki apa yang kalian cintai, jika kalian [bisa] menerima apa yang kalian benci.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:268.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu Bakr ‘Abdallah bin Muhammad) Ibn ‘Abi al-Dunya (… – 281 H), Mausu’at Rasa’il Ibn Abi al-Dunya, 2:104;

(Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan) Ibn ‘Asakir (… – 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 207.

98/303: “Berbahagialah orang yang melihat dengan hati, tetapi hatinya tidak berada pada apa yang dia lihat.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:268.

99/303: Almasih berkata: “Dunia itu seperti sebuah jembatan: berjalanlah di atasnya, tetapi jangan membangun apa-apa di atasnya.”

Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:328.

Rujukan silang atas ucapan di atas:

(Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid) Al-Mubarrad (… – 285 H), Al-Kamil, 1:98;

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 3:173 [dengan sedikit variasi];

(Muhammad bin ‘Ali) Abu Thalib al-Makki (… – 386 H), Qut al-Qulub fi Mu’alamat al-Mahbub, 1:256;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 4:128;

(Muhammad Murtadha bin Muhammad al-Husaini) Al-Zabidi (… – 1205 H), Ithaf al-Sada al-Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya’ ‘Ulum al-Din, 9:332 [versi lebih panjang].

Catatan:

Ucapan ini termasuk yang paling terkenal di antara umat Islam; ucapan ini menghiasi sebuah portal di jazirah Hindia.

Al-Mubarrad, yang hidup sezaman dengan Ibn Qutaiba, menyebutkan bahwa perkataan di atas diucapkan oleh Hasan al-Basri, bukan Isa.

100/303: Almasih berjalan melewati sekelompok orang yang mengeluarkan ejekan untuknya, dan ia menjawabnya dengan doa-doa kebaikan. Berikutnya ia pergi melewati sekelompok orang lain yang juga mengejeknya, dan ia menjawabnya seperti sebelumnya. Seorang dari murid-muridnya bertanya: “Bagaimana mungkin engkau makin mendoakan orang-orang yang makin mengejekmu? Ini seperti seolah-olah engkau menantang mereka?” Almasih menjawab: “Seorang manusia hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam dirinya.”

Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh pakar hadits (Abu Muhammad ‘Abdallah bin Muslim) Ibn Qutaiba (… – 271 H), Kitab ‘Uyun al-Akhbar, 2:370.

Rujukan silang atas kisah di atas:

(Ahmad bin Muhammad al-Qurthubi) Ibn ‘Abd Rabbihi (… – 328 H), Al-‘Iqd al-Farid, 2:276;

(Muhammad bin al-Walid bin Abi Randaqa) Al-Turtusyi (… – 520 H), Siraj al-Muluk;

(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 3:175.

Filed under: Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 116,253 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: