Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Kepanikan Avian Flu Diatur Tepat Waktu Secara Politik

Oleh: Dr. Leonard Horowitz
12 Oktober 2005
(Sumber: www.globalresearch.ca)

Abstrak
Kepanikan Avian Flu: Diatur Tepat Waktu Secara Politik untuk “Iatrogenocide” Global

Jika avian flu menjadi lebih dari pandemi yang mengancam, itu pasti terjadi melalui rancangan politik dan ekonomi. Tesis ini ditopang oleh penggambaran keliru media secara masif saat ini; pengambilan untung dari vaksin beresiko dan tak berharga; pengabaian mencolok terhadap data yang membuktikan wabah buatan manusia serupa di masa lalu yang meliputi SARS, West Nile Virus, AIDS, dan masih banyak lagi; keberlanjutan studi genetika yang mengembangbiakkan semakin banyak virus flu yang bermutasi yang kemungkinan besar akan berjangkit; skandal perdagangan internal yang melibatkan Gedung Putih dan pejabat industri obat yang paham pandemi; kekebalan mengherankan pada entitas farmasi ini selama seabad terakhir terhadap penegakan hukum dan penyelidikan media mainstream; dan tujuan depopulasi yang secara resmi dipublikasikan. Dengan pengungkapan dan pernyataan yang dimajukan di sini, publik terperingatkan lebih awal tentang pembunuhan masal yang dibantu dokter ini, yang tepat diistilahkan sebagai “iatrogenocide”. Pelaksanaan genosida ini diduga utamanya untuk menjalankan tujuan depopulasi yang bersifat ekonomis dan politis.

Latar Belakang

Pada April 2003, sebuah eksperimen sosial yang disebut SARS, konon datang dari Asia, parah melanda Toronto. Saya berada di sana hampir selama kepanikan pertanda flu Asia ini. Penyakit ganjil dan baru mirip pneumonia ini bernama Severe Acute Respiratory Syndrome. Konon ini merupakan ancaman terbaru dalam serangkaian serangan terus-menerus terhadap manusia dari “superkuman” yang bermutasi secara misterius.

Studi seksama atas korelasi ilmiah dan medis-sosiologis dan pendahuluan “perjangkitan” ini mengungkap sesuatu yang keliru yang jauh lebih berbahaya daripada SARS. Saya secara kritis menganggap reaksi media di Toronto sebagai seorang pakar kesehatan publik terlatih Harvard dalam sains perilaku persuasi media. Malapetaka itu memiliki semua ciri-ciri eksperimen sosial baru yang dijalankan oleh bioteroris kerah putih.

Menurut saya jelas bahwa manipulasi populasi yang tak pernah terjadi sebelumnya ini efektif mengindoktrinasi pikiran masyarakat untuk mendukung respon kesehatan publik yang sama sekali tak efektif, walaupun dilegislasikan, sebelum kedatangan “Big One”. Sepanjang “SARS Scam”[1], berulang kali disebut mengenai agen biologis yang akan memfasilitasi pemusnahan 1/3 sampai ½ populasi dunia. Setelah meninjau luas literatur kontrol populasi yang bersifat politis dan tujuan-tujuan kontemporer para industrialis global terkemuka, saya mencatat prediksi ini sesuai dengan sasaran pengurangan populasi resmi saat ini.[2]

Respon Kanada terhadap SARS pada 2003, untuk pertama kalinya dalam sejarah, diarahkan oleh PBB dan WHO. Setelah meninjau ikatan finansial dan administratif intim antara organisasi-organisasi ini, keluarga Rockefeller, Carnegie Foundation, dan para produsen obat terkemuka dunia, pada esensinya “si rubah” berkuasa atas “ayam-ayam” Kanada.

Kebenaran mengenai wabah meliputi fakta bahwa “tak ada pandemi yang pernah berkembang terpisah dari pergolakan sosio-politik besar”. SARS memajukan agenda politik lebih dari sekadar darurat kesehatan publik. Seandainya pejabat kesehatan publik sungguh-sungguh bermaksud mencegah penyakit-penyakit yang baru muncul ini, atau berhasil menanganinya dari akar-akarnya, saya ulangi, mereka akan mempelajari asal-usulnya dari arena gabungan bioteknologi-medis-militer. Pelajaran dasar dalam sosiologi medis cukup membenarkan nasehat berfaedah ini.

Para “pakar” telah memprediksikan kedatangan wabah super selama berdekade-dekade. Yang AMAT MENCURIGAKAN dari kedatangan SARS yang mengerikan dan misterius adalah, bagaimanapun, pemilihan waktunya. Ia hadir bersamaan dengan perang global terhadap terorisme, dan perang Anglo-Amerika dengan Irak. Sepertinya ini merupakan pengalihan dari fakta bahwa pemerintahan Bush telah mengirimi Saddam Hussein sebagian besar senjata biologi mematikannya yang meliputi antraks dan West Nile Virus. SARS bersifat pathognomonic (yakni simtomatis dan khas), sesuatu yang sudah saya prediksikan dan jelaskan dalam buku “Death in the Air: Globalism, Terrorism, and Toxic Warfare” (Tetrahedron Publishing Group, 2001, www.healthyworlddistributing.com), sebuah buku prediksi yang terbit beberapa bulan lebih awal dari serangan 9-11 terhadap Amerika, dan menyajikan analisis kontekstual atas kaitan globalis tertentu dengan “perjangkitan” baru-baru ini.

Pada esensinya, saya menyajikan pandangan mengenai aplikasi luas bentuk baru “bioterorisme” terlembaga yang konsisten dengan perang biologis yang disponsori negara. Saddam Hussein konon telah memapar penduduk di negaranya dan tetangganya dengan senjata pemusnah masal biologis dan kimia. Berdasarkan banyak contoh yang terdokumentasi, kepanikan SARS dan avian flu saat ini didukung oleh industrialis farmasi-medis-militer yang juga beroperasi di atas undang-undang. Setelah bersaksi di hadapan Kongres AS, saya pribadi merasakan bagaimana industrialis farmasi besar mengatur perwakilan politik-ekonomi kita di pemerintahan. Penyakit-penyakit yang tengah bermunculan melengkapi politik “Perang terhadap Terorisme”, dan kebudayaan kita yang terpengaruh bioteror. Agenda ini mempunyai dua tujuan utama: profitabilitas dan pengurangan populasi.

Realita Politik versus Mitos Massa

Kegilaan yang terus meningkat di sekitar kita konsisten dengan rekomendasi think tank globalis untuk “konflik selain perang” saat ini. Dimulai pada akhir 1960-an, “pengganti ekonomis untuk militerisasi standar” diupayakan dan ditemukan oleh industrialis global terkemuka. Ancaman biologis baru, “perang terhadap terorisme”, dan peningkatan jumlah “bencana alam” termasuk ancaman dari ruang angkasa dan badai super dianggap sangat berguna secara politis dan ekonomis dibanding perang dunia pertama dan kedua. “Konflik selain perang” ini jelas lebih bisa diatur dan dapat terus berjlangsung secara ekonomi. Untuk alasan ini, terutama profitabilitasnya, itu semua menjadi opsi penting di kalangan pembuat kebijakan Anglo-Amerika.

Anak didik Nelson Rockefeller, Henri Kissinger, contohnya, saat National Security Act (NSA) di bawah Richard Nixon, mengatur kebijakan luar negeri sambil mempertimbangkan “kebutuhan” pengurangan populasi Dunia Ketiga bagi AS, Inggris, Jerman, dan sekutu lain. Bush, yang mengatur investigasi konspirasi 9-11, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kejahatan perang, kala itu memilih opsi mendorong CIA mengembangkan senjata biologis, menurut US Congressional Record tahun 1975. Di antara senjata biologis baru buatan manusia ini adalah kuman-kuman yang jauh lebih mematikan daripada avian flu.

Contoh, pada 1968, saat Kissinger meminta dan menerima update informasi mengenai “agen biologis buatan” yang berguna untuk perang biologi dan kontrol populasi, virus flu rekombinan yang bermutasi baru saja direkayasa oleh periset O’Conner, Stewart, Kinard, Rauscher, dan lainnya dari Special Virus Cancer Program.[3] Selama program ini, virus-virus influenza dan parainfluenza direkombinasikan dengan virus leukemia berjalar cepat (leukemia limposit akut) untuk melepaskan senjata yang berpotensi menyebarkan kanker, layaknya flu, melalui bersin. Para periset ini juga mengumpulkan virus avian cancer (sarcoma) dan menginokulasikannya ke dalam tubuh manusia dan monyet untuk menentukan karsinogenisitasnya. Dalam laporan-laporan terkait, Raucher dkk. menggunakan radiasi untuk meningkatkan potensi penimbulan kanker dari avian cancer tersebut. Realita ilmiah luar biasa ini telah secara resmi disensor dan umumnya diabaikan oleh media mainstream.

Demikian pula halnya, Institute of Science in Society (IoSS) di London memajukan pertanyaan rekayasa genetika mengenai asal-usul SARS. “Mungkinkah rekayasa genetika berkontribusi secara tidak sengaja dalam terlahirnya virus SARS?” tanya mereka. “Poin ini bahkan tidak dipertimbangkan oleh para koronavirologist yang dipanggil untuk membantu menangani krisis, dan kini sedang dijamu dan disusahkan oleh perusahaan-perusahaan farmasi yang berhasrat mengembangkan vaksin.” Mereka yang tinggal dalam rumah kaca tidak boleh melempar batu. Penekanan di atas ditambahkan untuk menunjukkan kepada IoSS bahwa pakar-pakar itu “bahkan tidak mempertimbangkan” penyebaran SARS secara sengaja dalam bidang ilmiah mereka yang katanya tidak memihak.[4]

Konflik selain perang, seperti “Perang terhadap AIDS”, “Perang terhadap Narkoba”, Perang terhadap Terorisme”, “Perang terhadap Kanker”, da sekarang “Perang terhadap Avian Flu”, memerlukan program propaganda rumit yang mempergunakan kampanye rasa takut demi mendapat pengakuan masyarakat dan dukungan kebijakan legislasi. Operasi psikologis (secara resmi diistilahkan sebagai PSYOP) untuk “command and control warfare” ini (secara teknis disebut C2W), nasehat para pakar, paling menopang kemunculan “Revolution in Military Affairs” (RMA). Kemampuan RMA mencakup “sebentuk perbudakan manusia” di mana populasi tawanan dunia tidak akan tahu diri mereka sedang diperbudak.[2]

RMA tak diragukan lagi menggabungkan penggunaan agen biologis dan kimiawi pelemah atas nama produsen obat dan vaksin. Contoh klasik adalah pestisida organophosphate karsinogenik dan beracun yang disebarkan terhadap populasi manusia, yang dikatakan untuk membidik “nyamuk”, dalam “Perang Terhadap West Nile Virus”. Agen “peperangan non-mematikan” semacam itu, demikian diistilahkan secara militer, sungguh mematikan, tapi kematian yang diakibatkan secara perlahan dari paparan racun memungkinkan gabungan industrialis farmasi dan medis mendapat lebih banyak laba. Korban paparan “non-mematikan” tewas secara perlahan akibat penyakit kronis yang melemahkan [tubuh]. Rumah sakit luas dan fasilitas perawatan jangka panjang sesungguhnya merupakan kamp sonsentrasi. Penyakit yang dihasilkan untuk “iatrogenocide” mencakup penyakit auto-imun yang melimpah dan kanker baru yang 50 tahun silam hampir tidak eksis. Fakta ini saja kuat mengindikasikan agenda genosida sosio-ekonomis dan politis.

Avian Flu untuk Mendapat Laba

Dalam merespon SARS, anggota senior di Hudson Institute, Washington, Michael Fumento, mempublikasikan sebuah tesis ekonomi di Toronto terkait dengan [tesis] yang saya majukan di sini. “Super-bug or Super Scare”, dipublikasikan di National Post, Kanada. Warga Kanada telah diperingatkan untuk “mengkarantina diri”, mengenakan masker, dan, dalam beberapa kasus, tinggal di rumah. Kementerian Kesehatan Ontario mendeklarasikan “darurat kesehatan” begitu media menjuluki “pembunuh misterius” itu sebagai “super-pneumonia”. Beranjak dari kehebohan tersebut, Fumento menanyakan dan menjawab beberapa “pertanyaan riil… Seberapa mematikan, seberapa menular, dan seberapa terobati strain ini?” Jawabannya, simpulnya, “tak ada alasan untuk gempar, apalagi panik.” Hal yang sama mungkin akan dikatakan terhadap kutukan baru avian flu ini.[1]

Mematikan?

Pada waku penulisan ini, avian flu dikatakan telah membunuh “sekitar 65 orang” di Asia Tenggara selama dua tahun belakangan! Tak ada data yang tersedia mengenai individu-individu ini, yang umumnya memiliki kondisi medis yang membahayakan sistem imun. Lebih jauh, semua kematian terjadi di negara-negara Asia dengan layanan kesehatan meragukan.

Sebaliknya, bentuk-bentuk lain flu membunuh lebih dari 40.000 orang Amerika Utara setiap tahun, umumnya kaum tua dengan sistem imun beresiko.

Menular?

Menurut USA Today (9 Oktober 2005), “Pejabat kesehatan Eropa sedang bekerja untuk memuat virus [avian flu], yang sejauh ini belum menginfeksi seorang pun di kawasan itu.” Walaupun, katanya “lebih dari 140 juta burung telah mati atau musnah,… dan kerugian finansial pada sektor peternakan unggas telah mencapai $10 miliar.” Propaganda ini sebetulnya mengakui, “virus saat ini, dikenal sebagai H5N1, belum bermutasi ke titik di mana ia bisa mudah menyebar dari orang ke orang.” Justru kemungkinan besar belum pernah menyebar dari orang ke orang kecuali selama penanganan laboratorium![5]

Terobati?

“Senat AS telah menyetujui paket $3,9 miliar untuk membeli vaksin dan obat anti-virus, dan Pemerintah juga sedang menyiapkan permintaan $6 miliar sampai $10 miliar tambahan,” menurut laporan BusinessWeek terbaru.[6]

“Beritahu aku, Scottie, tak ada makhluk berakal di planet ini.” Ini sebagian besar menjelaskan mengapa publik betah dengan penipuan mematikan ini. Bahkan USA Today meratap, “Belum vaksin manusia.” Lantas bagaimana bisa Senat AS tergesa-gesa membelanjakan uang miliaran ini untuk vaksin avian flu?

Saya duga kita pasti melupakan fakta bahwa strain virus avian flu H5N1 yang saat ini menakutkan belum pernah menular dari manusia ke manusia, dan umumnya juga tidak dari burung ke manusia. Karena itu, vaksin efektif hanya bisa disiapkan dengan memutasi virus ini, sehingga menciptakan apa yang paling dikhawatirkan dunia. Biar saya jelaskan….

Untuk membuat vaksin manusia yang spesifik untuk virus H5N1 yang bermutasi, Anda harus memulai dengan virus manusia yang belum eksis, kecuali barangkali di laboratorium farmasi-biomedis-militer. Nyatanya, inilah persis yang sedang disiapkan menurut laporan-laporan berita. Untuk memproduksi patogen manusia, avian virus harus dibiakkan selama periode yang panjang dalam biakan sel manusia, kemudian disuntikkan kepada monyet dan akhirnya manusia untuk melihat apakah subjek-subjek eksperimen ini mendapat flu yang sama. Dengan demikian, virus flu yang saat ini paling dikhawatirkan dunia: 1) kini sedang disiapkan di laboratorium-laboratorium yang didanai oleh industrialis, dengan motif membangun kekayaan masif, untuk “secara tak sengaja” melepas virus; atau 2) telah betul-betul siap di laboratorium semacam itu untuk mengambil untung dari kepanikan saat ini dan penjualan mendatang menyusul pelepasan virus.

Ingat, supaya efektif melawan virus, vaksin konon memerlukan kekhususan. Bila saat ini otoritas mempunyai strain utama avian flu H5N1 yang dikhawatirkan menyebar di masa mendatang, tak ada jaminan ketika mereka mengembangkan vaksin, strain-nya akan tetap sama untuk vaksin tersebut, sebab kemungkinan terjadi mutasi virus. Mutasi virus setelah melewati beberapa waktu merupakan sifat baru agen. Pendirian laboratorium virus baru buatan manusia, seperti yang saat ini sedang disiapkan untuk uji vaksin, tidak berkembang selama beberapa milenium. Dengan demikian, seluruh upaya vaksin sebagian besar, jika tidak sepenuhnya, adalah kepura-puraan dengan motif tersembunyi.

Ingat pula bahwa kehandalan vaksin membutuhkan bertahun-tahun, atau skeurangnya berbulan-bulan, pengujian pada populasi target. Data bahaya vaksin harus, atau mestinya, dikumpulkan dengan sangat cermat selama periode ini untuk memastikan vaksin tidak akan membunuh dan melumpuhkan lebih banyak orang daripada yang terselamatkan atau tertolong. Bisakah Anda percaya jaminan ini akan diberikan oleh pemerintah atau pejabat industri farmasi segera sesudah pandemi ini? Respon buruk FEMA terhadap badai Katrina dapat dibandingkan dengan liabilitas kesehatan publik dan ketidakpastian bahaya vaksin ini.

Saya bilang “ketidakpastian bahaya vaksin” karena adanya daftar panjang vaksinasi yang baru dikembangkan, amat digembar-gemborkan ketika dihadirkan di pasaran, yang menimbulkan akibat mengerikan. Daftar ini mencakup vaksin flu babi pertama, vaksin polio, vaksin cacar, vaksin antraks, vaksin hepatitis B, dan yang teranyar vaksin penyakit Lyme yang melumpuhkan kurang lebih 750.000 orang dalam hitungan bulan perilisannya dan sebelum ditarik oleh FDA.

Kebanyakan orang lalai menyadari bahwa semua vaksin membawa bahan-bahan yang umumnya menambah penyakit manusia dan kematian (yakni ketidaksehatan dan kematian). Ini mencakup unsur-unsur dan bahan kimia beracun seperti merkuri, aluminium, formaldehyde, dan formalin (dipakai untuk mengawetkan mayat), MSG, material genetik asing, dan protein-protein beresiko dari beragam spesies bakteri, virus, dan binatang yang secara ilmiah telah dikaitkan dengan pemicuan kelainan auto-imun dan kanker tertentu. Semakin banyaknya bukti ilmiah mengindikasikan bahwa vaksin sebagian besar bertanggung jawab atas pertumbuhan kasus autisme dan ketidakmampuan belajar lainnya, kelelahan kronis, fibromyalgia, Lupus, MS, ALS, rheumatoid arthritis, asma, hay fever (demam akibat kepekaan terhadap rumput kering-penj), alergi, infeksi kuping bernanah kronis, diabetes auto-imun tipe 1, dan masih banyak lagi pandemi lain. Penyakit-penyakit kronis ini konon memerlukan perawatan medis jangka panjang karena manajemen pasien yang menimbulkan efek samping beracun menghasilkan pembunuh utama Amerika – penyakit iatrogenis. Dengan kata lain, vaksin dan temuan industri farmasi lainnya betul-betul membunuh atau melumpuhkan jutaan orang dengan hanya sedikit upaya dari pihak pemerintah dan rekan industri obat mereka untuk menahan malapetaka ini.

Walaupun kita semua tahu, pemerintah sedang memesan vaksin avian flu yang akan mengantarkan pandemi ini ke seluruh dunia untuk menjalankan kontrol populasi. Tesis absurd? Terus baca.

BusinessWeek menganggap pencadangan vaksin avian flu oleh pemerintah akan membantu perusahaan Sanofi-Pasteur atas nama Sanofi-Aventis dan Chiron. “Tamiflu,” lapor BusinessWeek, merupakan antivirus yang diproduksi oleh Roche,…. “dianggap efektif melawan avian flu…. AS memiliki jumlah yang cukup untuk 4,3 juta orang, masih banyak lagi yang dipesan.” BusinessWeek lalai melaporkan: 1) keamanan dan keefektifan Tamiflu belum dipastikan terhadap orang-orang dengan kondisi medis kronis lain – persentase yang cukup signifikan dari populasi AS – serta efek samping obat ini yang meliputi mual, muntah, diare, bronkhitis, nyeri perut, pening, sakit kepala, dan masih banyak lagi; 2) Roche (Hoffman-LaRoche) diketahui bersalah atas pengaturan harga suplai vitamin dunia pada tahun 1999 sebagai bagian dari kartel petrokimia/farmasi global yang berkembang dari organisasi I.G. Farben-nya Nazi Jerman [2][6]; dan 3) kolega-kolega korporat Sanofi-Aventis mencakup Merck, sebuah perusahaan yang menerima yang menerima jatah terbesar dana perang Nazi di akhir Perang Dunia II, yang pendapatannya turun setelah penarikan obat arthritis Vioxx-nya yang mematikan tahun lalu. Menurut laporan-laporan berita terbaru, Merck tengah berpartner dengan Sanofi-Aventis dalam rangka memproduksi vaksin pertama untuk kanker-yang menular-secara seksual untuk diberikan kepada remaja laki-laki dan perempuan pra-dewasa.[7] Merck tersohor atas pengembangan vaksin hepatitis B pertama yang memicu pandemi AIDS internasional menurut riset ilmiah yang dipublikasikan dan dokumen-dokumen mengejutkan yang dicetak ulang dalam buku best-seller nasional karangan saya.[3][8]

Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan setelah serangan 9-11 terhadap Amerika, saya menelusuri misteri surat berantraks, yang dipublikasikan secara luas, yang dikirim ke kontraktor senjata biologis CIA yang punya ikatan dengan MI6 Inggris, Porton Down, dan kartel farmasi Anglo-Amerika.[9] Surat berantraks menghembuskan ketakutan terhadap bioterorisme di seluruh Amerika dan secara ekonomi membantu hubungan finansial dan administratif produsen obat dan vaksin dengan para pengambil untung avian flu ini.[10]

Orang-orang sudi menyerahkan hak sipil dan kemerdekaan pribadi mereka segera sesudah kepanikan rekayasa semacam itu. Diterimanya “Homeland Security Act” di Amerika, dan sejenisnya di Kanada, merupakan contoh klasik dari pengarahan sosial, legislasi paksa, dan manipulasi luar biasa.

Mengapa Asia?

Asia konon begitu cocok untuk menjadi sumber, sebagaimana SARS, wabah terbaru ini sementara hubungan China-Anglo-Amerika sedikit menegang.

Hari-hari sebelum kemunculan kasus SARS pertama, Amerika berpacu menuju Pacific Rim untuk mempengaruhi agresi yang sedang meningkat terhadap semenanjung Korea. Komunis China – pasangan dagang “paling disukai” bersama Amerika – secara politik bersekutu dengan beberapa musuh Amerika, termasuk mereka yang konon mempunyai senjata pemusnah masal, termasuk Irak. Kebetulankah? Kemungkinan besar tidak bila memandang gambaran politik lebih besar yang melibatkan RMA-nya oligarki Anglo-Amerika, perusahaan-perusahaan globalnya, dan “konflik-konflik selain perang” yang dihasut di seantero planet ini.

Pertimbangkan pula fakta bahwa media mainstream telah sangat dipengaruhi, jika tidak dikendalikan sepenuhnya, oleh sponsor korporat multinasional yang melindungi dan memajukan kepentingan entitas global yang relatif segelintir. Ingat pula bahwa—menurut otoritas ternama yang mencakup pensiunan petugas berita dan pejabat intelijen—fokus penyaji berita, pada hari atau jam tertentu, dihasilkan dari arahan dinas intelijen. Jadi tanyakan dan jawab pertanyaan cerdas berikut:

  • Mengapa pejabat militer AS, dimulai dengan Menteri Pertahanan William Cohen selama pemerintahan Clinton, mempromosikan kebohongan kerentanan terbesar Amerika dalam bidang senjata biologis yang dipegang oleh teroris? Bukan merupakan sebentuk pengkhianatan terhadap AS untuk me-relay informasi sesensitif itu kepada musuh potensial melalui pers mainstream?
  • Mengapa media mainstream terus-menerus meramalkan kehadiran “Big One” – sebuah virus influenza yang akan menimbulkan super flu yang dapat membunuh miliaran orang, seperti Flu Spanyol antara 1918-1919, sambil sama sekali mengabaikan individu, organisasi, dan laboratorium yang telah bekerja memproduksi senjata pemusna masal ini? Sekalipun virus Flu Spanyol telah betul-betul digali untuk studi lebih lanjut dan, Anda tebak, disebarkan?
  • Mengapa virus influenza “flu Spanyol” disebut “flu Spanyol” padahal asalnya, menurut catatan sejarah, dari Tibet pada 1917? Konon surat kabar Spanyol merupakan satu-satunya yang melaporkan tentang wabah besar itu lantaran netralitas mereka dalam politik Perang Dunia I. Bagaimanapun, Spanyol kala itu adalah kekasih AS sebagaimana Komunis China hari ini. Dinamai “flu Spanyol” menyusul dua dekade perselisihan antara Amerika dan Spanyol atas penjajahan Kepulauan Karibia, Hawaii, dan Filipina yang dimulai dengan perang Spanyol-Amerika dan berakhir di Filipina pada 1902. Faktanya, flu Spanyol hebat berawal di kamp militer. Apakah sejarah ini terlihat berulang?
  • Tidakkah masuk akal bahwa Amerika sedang dimanipulasi, jika tidak ditargetkan, untuk kepentingan agenda globalis, yang di antaranya adalah pengurangan populasi?

“Big One”

Sebagaimana disebutkan di atas, selama tahun 1960-an dan 1970-an, kontraktor senjata biologis militer yang mempunyai ikatan intim dengan industrialis obat terkemuka mempersiapkan mutasi virus influenza dan para-influenza yang direkombinasikan dengan virus leukemia limposit akut. Dengan kata lain, mereka mencadangkan virus kanker yang menjalar cepat yang mungkin juga disebarkan.[3]

Sebagai kemungkinan lain, banyak pakar penyakit menular dan pejabat kesehatan pemerintah yang terlupa atas realita ilmiah ini mengatakan bahwa avian flu ini mungkin merupakan “Big One”. Beberapa hari lalu, PBB melansir sebuah laporan yang menyatakan bahwa sebanyak 150 juta orang di seluruh dunia akan mati akibat avian flu ini.

Emma Ross dari Associated Press memberitakan tentang SARS begitu WHO meluncurkan “rencana darurat untuk menyerang” Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). WHO, sebagaimana Anda mungkin ingat, merupakan organisasi bawahan PBB yang dirumorkan membantu menyebarkan AIDS ke Afrika melalui vaksinasi hepatitis B dan/atau polio yang terkontaminasi. Terdapat sejumlah bukti berdasar yang mendukung pendapat ini.[1]

Yang lebih membingungkan, PBB diketahui sangat dipengaruhi oleh anggota keluarga Rockefeller dan kepentingan petrokimia-farmasi mereka. Sejarah menunjukkan Rockefeller membangun gedung PBB di New York City. Selama Perang Dunia II, menurut catatan pengadilan, keluarga Rockefeller dan Standard Oil Company mereka menopang Hitler lebih dari yang mereka berikan kepada sekutu. Seorang hakim federal memutus Rockefeller melakukan “pengkhianatan” terhadap Amerika Serikat. Menyusul Perang Dunia II, menurut jaksa John Loftus – seorang penyelidik resmi kejahatan perang Nazi – Nelson Rockefeller membujuk blok voting Amerika Selatan di PBB untuk mendukung pendirian Israel hanya demi menjamin kerahasiaan berkenaan dengan dukungannya kepada Nazi. Di awal abad tersebut, John D. Rockefeller bergabung dengan Prescott Bush dan Keluarga Kerajaan Inggris dalam mensponsori inisiatif eugenik yang melahirkan program kebersihan ras-nya Hitler. Selama periode yang sama, keluarga Rockefeller betul-betul memonopoli pengobatan Amerika, farmasi Amerika, dan industri kanker dan genetika.[2][3]

Hari ini, keluarga Rockefeller, yayasannya, PBB dan WHO, masih di front terdepan dalam mengatur “program populasi” yang dirancang untuk mengurangi populasi dunia ke level yang lebih terkendali. Menurut iklan di Foreign Affairs – majalah politik prestisius yang diterbitkan oleh Council on Foreign Relations pimpinan David Rockefeller – populasi AS ditargetkan berkurang 50%.[2]

“Kita belum pernah menghadapi sesuatu pada skala ini dengan jangkauan sedemikian global,” kata Dr. David Heynmann, dari WHO, terkait SARS, bukan avian flu.

“Ini merupakan pertama kalinya jaringan global laboratorium [dan pos terdepan ‘pengawasan’ penyakit menular pimpinan Rockefeller] berbagi informasi, sampel, darah, dan gambar,” tambah Dr. Klaus Stohr, virolog WHO yang mengkoordinasi laboratorium secara internasional. “Pada dasarnya, tak ada rahasia, tak ada kecemburuan, tak ada persaingan di hadapan darurat kesehatan global. Ini adalah jaringan yang fenomenal.”[1]

Istilah “iatrogenocide” berasal dari gabungan kata “iatrogenesis”, yang berarti penyakit yang ditimbulkan oleh dokter, dan “genocide”, didefinisikan sebagai pembunuhan masal dan/atau perbudakan masyarakat demi ekonomi, politik, dan/atau ideologi.

Leonard G. Horowitz, D.M.D., M.A., M.P.H., merupakan otoritas terkemuka internasional di bidang kesehatan publik, sains perilaku, penyakit yang muncul, dan bioterorisme. Dr. Horowitz dikenal atas buku best-seller nasionalnya, Emerging Viruses: AIDS & Ebola – Nature, Accident or Intentional? (Tetrahedron Press, 1998; 1-888-508-4787) yang baru-baru ini mengakibatkan United States General Accounting Office menyelidiki asal-usul teori AIDS buatan manusia. (Lihat: www.healingcelebrations.com/gao.htm) Penelitian Dr. Horowitz di bidang kepedulian resiko vaksinasi telah mendorong sekurangnya tiga negara Dunia Ketiga mengubah kebijakan vaksinasi mereka. Kesaksiannya yang mempesona di hadapan Government Reform Committee Kongres AS betul-betul membuat rapat dengar pendapat itu berhenti. (Lihat: www.healingcelebrations.com) Dr. Horowitz mempertanyakan pejabat kesehatan pemerintah berkenaan dengan laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang dirahasiakan yang menunjukkan kaitan definitif antara merkuri (yakni Thimerosal), terdapat pada kebanyakan vaksin, dengan membumbungnya tingkat pertumbuhan autisme dan kelainan perilaku yang mempengaruhi anak-anak kita dan masa depan bangsa kita.

Buku terbaru Dr. Horowitz adalah DNA: Prates of the Sacred Spiral, sebuah buku referensi mengenai elektro-genetika biologi, terapi penyakit, dan spiritualitas manusia. Karya ini juga menguraikan kaitan antara surat berantraks dan proyek genom manusia, dan dinas intelijen terkemuka, industri genetika, dan pejabat perusahaan farmasi.

Untuk informasi lebih lanjut tentang buku, video, CD, dan DVD Dr. Horowitz, kunjungi www.healingcelebrations.com dan http://www.tetrahedron.org, atau hubungi 1-888-508-4787. Website resminya adalah www.drlenhorowitz.com.

Artikel ini disajikan atas kebaikan Dr. Leonard G. Horowitz dan Tetrahedron Publishing Group. Hak cipta diberikan untuk distribusi luas.

Referensi
[1] Horowitz LG. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome): A Great Global Scam. Available at: http://www.healingcelebrations.com/SARS.htm
[2] Horowitz LG. Death in the Air: Globalism, Terrorism and Toxic Warfare. Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, (Spring) 2001.
[3] Horowitz LG. Emerging Viruses: AIDS & Ebola, Nature, Accident or Intentional? Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, (Spring) 2001.
[4] The Institute of Science in Society. SARS and Genetic Engineering? London, England. Article available at: http://www.tetrahedron.org/articles/health_risks/sars_engineering.html
[5] Knox N. Europe braces for avian flu. USA TODAY, October 9, 2005; Manning A.Government to stock up on avian flu shots. USA Today, Oct 8, 2005.
[6] Wang P. Avian Flu: Inoculate Your Portfolio. BusinessWeek. Online edition. Available at: http://www.businessweek.com/investor/content/oct2005/pi2005110_4988_pi015.htm
[7] CNNMoney. Merck shares jump on cancer drug vaccine. October 6, 2005. Available at: http://money.cnn.com/2005/10/06/news/fortune500/merck.reut/
[8] For more scientific background on the link between the hepatitis B vaccine and the AIDS pandemic link to http://www.originofAIDS.com .
[9] Horowitz LG. The CIA’s Role in the Anthrax Mailings: Could Our Spies be Agents for Military-Industrial Sabotage, Terrorism, and Even Population Control? A Special Report. Article available at: http://www.tetrahedron.org/articles/anthrax/anthrax_espionage.html
[10] Horowitz LG. DNA: Pirates of the Sacred Spiral. Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, 2004.

Apakah Avian Flu merupakan Hoax Pentagon Lainnya?

Oleh: F. William Engdahl (Contributing editor Global Research ini adalah penulis buku “A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order” (Pluto Press), dan yang segera dirilis, “Seeds of Destruction: The Geopolitics of Gene-ocide”. Dia dapat dihubungi melalui websitenya: www.engdahl.oilgeopolitics.net)
30 Oktober 2005
(Sumber: www.globalresearch.ca)

Baru saja dakwaan dijatuhkan kepada Scooter Libby, Kepala Staf Wakil Presiden AS, atas kebohongan dan penutup-nutupan informasi yang dengan sengaja dilakukan untuk menyembunyikan fakta bahwa Pemerintahan Bush tak punya ‘smoking gun’ (bukti kuat-penj) untuk membuktikan Saddam Hussein sedang membangun gudang nuklir, satu skandal baru muncul ke permukaan yang sama menggemparkannya dan kemungkinan juga jahat.

Bertentangan dengan semua kebijakan ilmiah dan prosedur kesehatan publik standar, penduduk dunia sedang disiapkan memasuki hiruk-pikuk kepanikan oleh pejabat kesehatan publik yang tak bertanggung jawab, mulai dari Pemerintahan Bush, WHO, sampai United States Centers for Disease Control. Mereka semua memperingatkan tentang bahaya di depan bahwa strain virus jahat dapat menyebar dari burung yang terinfeksi, terutama di Vietnam dan negara Asia lainnya, untuk mengkontaminasi seluruh spesies manusia dalam ukuran pandemi. Seringkali, pandemi flu 1918, yang konon membunuh 18 juta orang di seluruh dunia, dikutip sebagai contoh atas apa yang ‘mungkin’ terjadi pada diri kita.

Pada 1 November, tepat setelah hari Halloween, Presiden Bush dijadwalkan mengunjungi National Institutes of Health di Bethesda, Maryland, untuk mengumumkan strategi Pemerintahannya dalam bersiap-siap menghadapi epidemi flu berikutnya, entah dari Flu Burung atau suatu strain lain. Rencana tersebut telah disusun selama setahun. Pada 28 Oktober, Senat meluluskan dana pembiayaan darurat sebesar $8 miliar untuk menghadapi kepanikan Avian Flu yang terus bertambah. Health and Human Services Secretary, Mike Leavitt, dalam momen terbuka selama perdebatan mengenai dana Senat itu mengatakan kepada pers, ‘Seandainya bukan virus H5N1 sekarang yang menimbulkan pandemi influenza, pada suatu titik dalam masa depan bangsa kita, virus lain akan [menimbulkan].’ Sementara itu, miliaran uang pembayar pajak akan beralih ke segelintir raksasa farmasi yang diposisikan menguntungkan. Tak ada yang lebih memperoleh laba dibanding raksasa farmasi Swiss-AS, Roche Holdings dari Basle.

Satu-satunya obat yang dikatakan kepada kita dapat mengurangi gejala-gejala influenza musiman atau influenza umum dan juga ‘mungkin’ dapat mengurangi gejala-gejala Avian Flu adalah obat bernama Tamiflu. Hari ini, firma farmasi raksasa Swiss itu, Roche, memegang lisensi tunggal untuk memproduksi Tamiflu. Gara-gara kepanikan media, sekarang ini Roche kebanjiran pesanan. Baru-baru ini Roche menolak permintaan Kongres AS untuk mencabut hak paten eksklusifnya agar memungkinkan produsen obat lainnya memproduksi Tamiflu dengan alasan mustahil bahwa terlalu rumit bagi yang lain untuk berproduksi secara cepat.

Namun, poin perhatian sebenarnya adalah perusahaan di California yang mengembangkan Tamiflu dan memberikan hak pemasaran atas paten temuannya kepada Roche.

Rummy Flu

Tamiflu dikembangkan dan dipatenkan pada 1996 oleh sebuah firma bioteknologi California, gilead Sciences Inc. Gilead adalah perusahaan perseroan yang terdaftar di NASDAQ (kode GILD), dan lebih suka bersikap low profile atas keramaian Tamiflu saat ini. Itu mungkin karena adanya orang-orang yang terikat dengan Gilead. Pada 1997, sebelum menjadi Menteri Pertahanan AS, Donald H. Rumsfeld, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Gilead Sciences, di mana dia berada di sana sampai diangkat sebagai Menteri Pertahanan. Menurut press release perusahaan tanggal 3 Januari 1997, Rumsfeld berada dalam dewan pengurus Gilead sejak 1988

Sebuah laporan yang belum terkonfirmasi menyatakan bahwa Rumsfeld, saat menjabat Menteri Pertahanan, juga membeli saham tambahan di bekas perusahaannya, Gilead Sciences Inc., seharga $18 juta, menjadikannya sebagai salah satu pemegang saham terbesar hari ini.

Sang Menteri Pertahanan, orang yang diduga menyokong penggunaan rekayasa intelijen untuk menjustifikasi perang terhadap Irak, kini mempertimbangkan untuk menuai keuntungan besar atas kepanikan flu yang telah dipromosikan Pemerintahannya dengan melakukan segala hal. Ada baiknya untuk mengetahui apakah suksesor Douglas Feith di Kantor Perencanaan Khusus Pentagon mengembangkan strategi perang biologi di balik kepanikan Avian Flu saat ini. Barangkali suatu komite Kongres yang mau berusaha dapat menyelidiki seluruh subjek konflik kepentingan Menteri Rumsfeld.

Rumsfeld mendapat untung atas royalti karena penduduk dunia yang panik berebut membeli sebuah obat yang tak berguna dalam menyembuhkan efek-efek Avian Flu. Model ini mengindikasikan kesamaan dengan kecurangan tak tahu malu Halliburton Corporation yang mantan CEO-nya adalah Wakil Presiden Dick Cheney. Perusahaan Cheney sejauh ini sudah mendapat kontrak konstruksi Irak dan tempat lain senilai miliaran dolar. Kebetulankah bahwa teman politik terdekat Cheney adalah sang Menteri Pertahanan dan pengambil untung Avian Flu, Donald Rumsfeld? Ini adalah contoh lain dari apa yang disebut sebagai prinsip politik kepentingan khusus AS yang korup: ‘Himpun keuntungan; sebar biaya’, Presiden Bush telah memerintahkan Pemerintah AS untuk membeli Tamiflu-nya Gilead Sciences seharga $2 miliar.

Ayam GMO Pulang untuk Bertengger

Tapi konflik Tamiflu barangkali hanya puncak gunung es dalam cerita Avian Flu. Ada riset biologis tingkat tinggi yang sedang berjalan di Inggris dan mungkin juga AS dalam rangka mengembangkan metode rekayasa genetika untuk membuat ayam dan burung lain ‘resisten’ terhadap virus Avian Flu.

Ilmuwan-ilmuwan Inggris dilaporkan merekayasa genetika ayam untuk menghasilkan burung yang resisten terhadap strain virus H5N1 mematikan yang menghancurkan peternakan ayam di Timur Jauh. Laurence Tiley, Profesor Microular Virology di Universitas Cambridge serta Helen Sang dari Roslin Institute di Skotlandia terlibat dalam pengembangan ‘ayam transgenic’ yaitu dengan menyuntikkan sepotong kecil material genetik ke dalam telur ayam untuk membuat ayam resisten terhadap H5N1.

Tiley mengatakan kepada Times of London pada 29 Oktober, ‘Setelah kami mendapat persetujuan regulasi, kami yakin hanya perlu 4 sampai 5 tahun untuk membiakkan cukup banyak ayam untuk mengganti seluruh populasi (ayam) dunia.’ Pertanyaan dalam usaha mencurigakan ini adalah raksasa GMO yang mana yang tengah menanggung riset dan pengembangan ayam GMO dan siapa yang akan mengontrol produknya. Kian jelas bahwa seluruh hikayat Avian Flu adalah sesuatu yang dimensinya semakin ketahuan, hanya saja secara perlahan. Apa yang bisa kita lihat sejauh ini sama sekali tidak baik.

Hoax Flu Burung Berikutnya

Oleh: Jon Rappoport
18 Desember 2004
(Sumber: www.nomorefakenews.com)

12 Desember 2004. Pertama-tama, baca kutipan dari AP ini mengenai pengujian baru kehadiran flu burung pada manusia:

Researchers Develop Quick Bird Flu Test Early Diagnosis is Crucial to Controlling Outbreaks
(www.cbsnewyork.com/healthwatch/health_story_343125514.html)
8 Desember 2004 12:00 pm US/Eastern

Para periset Hong Kong (AP) mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka telah mengembangkan pengujian baru yang dapat mendeteksi flu burung pada manusia dalam hitungan jam, dibandingkan dengan versi lama yang memerlukan waktu sampai seminggu atau lebih.

Pengujian baru itu mendeteksi antigen dan antibodi terhadap strain flu burung H5N1 yang mematikan, berkebalikan dengan pemeriksaan virus secara langsung melalui pengisolasian.

Akhir kutipan AP.

Oke. Perhatikan, pengujian baru tersebut tidak berupaya mengisolasi virus itu sendiri, hanya akan menggali petunjuk yang tidak langsung mengarah ke virus. Antibodi atau antigen. Tapi apa sebenarnya yang diperlihatkan oleh petunjuk ini?

Biasanya, dalam semua jenis kasus penyakit manusia yang jumlahnya melimpah, kehadiran antibodi mengandung arti: TUBUH BERSENTUHAN DENGAN KUMAN DAN BERHASIL MENGUSIRNYA. Kehadiran antibodi tidak menyampaikan apa-apa tentang potensi atau probabilitas akan sakitnya seseorang. Tidak ada.

Antigen, yakni molekul yang dianggap sebagai produk kuman, hanya merupakan petunjuk lain bahwa ada kuman. Jika sistem imun berfungsi dengan baik, kuman kemungkinan akan terhalau.

Jadi, setelah semuanya dipertimbangkan, pengujian baru ini akan melakukan satu hal: IA AKAN MENGADA-ADA PENINGKATAN JUMLAH ORANG YANG KONON TERKENA FLU BURUNG. Pengujian ini akan membantu dinas-dinas yang ingin kita percaya bahwa, meski hanya 31 manusia yang telah terhitung (secara global) sebagai kematian akibat flu burung, penyakit ini sedang menular di antara manusia.

Anda tidak akan membaca tentang trik ini di pers mainstream.

‘Flu Burung’, SARS – Perang Biologi atau Propaganda Pandemi

Oleh: Sepp Hasslberger
2 Maret 2005
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Apakah kita sedang didesak ke dalam pandemi? Sebuah pengumuman dibuat oleh Dr. Nancy Cox dari US Centers for Disease Control (CDC). Menurut sebuah artikel di The Scotsman, Coxs mengatakan bahwa epidemi global flu burung bisa mengecilkan signifikansi bencana infeksi terburuk dalam sejarah kita, yang telah membunuh antara 20 sampai 40 juta orang. Maksudnya tentu saja adalah “Flu Spanyol” di akhir Perang Dunia I, yang, menurut sebuah artikel BBC sekitar setahun lalu, dikatakan para ahli kemungkinan disebabkan oleh “virus burung yang melompat ke manusia”.

Alasan dari pernyataan CDC itu adalah berikut:

Strain influenza H5N1 yang telah membunuh 42 orang itu memiliki tingkat fatalitas 76%, demikian indikasi dari kasus-kasus sejauh ini. Virus yang menyebabkan pandemi 1918 hanya membunuh 1% dari mereka yang terinfeksi.

Pengaitan itu sangat lemah dan alasannya terdengar aneh, tapi pesannya jelas: “Bersiap-siap menghadapi yang terburuk”.

Ada baiknya untuk mengingatkan diri kita bahwa H5N1 adalah virus burung yang sedang “diriset” (artinya sedang diubah dan dibiakkan secara aktif) ketika Liu Jianlun, ilmuwan laboratorium di provinsi Guangdong, China, menjadi korban SARS pertama dua tahun silam – 4 Maret 2003. Kematian seorang ilmuwan lain berikutnya terhubung dengan sebuah laboratorium di Singapura. Laboratorium ini membiakkan virus yang sama.

“Pandemi” SARS akhirnya berangsur pergi, tapi meninggalkan kesan mendalam. Kampanye media bernada tinggi meyakinkan dunia bahwa kita sedang menghadapi ancaman besar, padahal kenyataannya SARS merupakan penyakit kecil dengan jumlah infeksi 8.500 orang di seluruh dunia dan sekitar 812 kematian. Bandingkan dengan angka dari CDC, 36.000 kematian terkait flu setiap tahun di AS saja. Atau bandingkan dengan lebih dari 100.000 kematian di AS akibat efek obat-obatan farmasi yang merusak dalam rentang waktu yang sama.

“Para periset, dari cabang Centers for Disease Control bidang influenza di Atlanta, akan mengawinkan H5N1 dan virus-virus flu manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai reassortment. Keturunan yang dapat hidup akan diujicoba pada binatang, yang dianggap bagus sebagai pengganti manusia, untuk melihat apakah virus-virus itu bisa menginfeksi, bisa ditularkan secara mudah dari binatang terinfeksi ke binatang sehat, dan untuk mengetahui keparahan penyakit yang ditumbulkan oleh masing-masing. Dengan kata lain, periset CDC akan secara sengaja merekayasa virus-virus berpotensi pandemi. Ini adalah pekerjaan beresiko tinggi namun krusial, tegas komunitas influenza tersebut.”

Inilah yang kita baca dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Kanada Desember lalu, yang mengutip para ahli yang menjelaskan bahwa usaha beresiko sedemikian tinggi itu diperlukan untuk mencegah potensi berjangkitnya pandemi baru. Mau tak mau saya jadi berpikir tentang anak-anak kecil yang bermain-main dengan korek api di lumbung kayu. Gagasan mengenai usaha tersebut cukup membuat seseorang gelisah.

Di Vietnam, sekitar seminggu lalu, pengumuman lain dilaporkan oleh reporter CBC Kanada: “Kami di WHO percaya bahwa dunia kini sedang dalam ancaman potensial pandemi paling seram,” Dr. Shigeru Omi, kepala kantor Pasifik Barat dinas kesehatan PBB, memperingatkan dalam konferensi ilmiah di Ho Chi Minh City pada hari Rabu. Para petugas kesehatan publik khawatir H5N1 yang terbentuk dari virus flu burung, yang telah menular dari manusia ke manusia dua kali, akan semakin baik dalam penyebaran antar manusia dan melepaskan perubahan yang terhadapnya penduduk tidak memiliki imunitas alami.

Karena itu, dalam permainan ulang kepanikan SARS, kita kembali memeriksa riset pemerintah dalam membuat virus melompati rintangan spesies, dan kembali kita memperoleh prediksi mengerikan dari otoritas kesehatan top dunia tentang bencana di ambang pintu.

Apa solusi yang tengah disiapkan untuk kita? Menurut sebuah artikel di www.newstarget.com, nasib kita ada di tangan yang baik:

Saat ini, 50 orang yang mewakili perusahaan obat, pemerintah, dan dinas pelisensi vaksin sedang bertemu di Jenewa dalam sebuah pembahasan tertutup guna mendiskusikan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah pandemi flu yang akan datang ini. World Health Organization telah bulat menyatakan tidak ada cukup vaksin untuk dibagikan. Di website mereka, mereka mengatakan, “kapasitas produksi vaksin pandemi sangat tidak mencukupi, kecuali kalau perusahaan lain ikut serta dalam pengembangan bibit vaksin dan persiapan sejumlah uji klinis.” Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa dalam peristiwa pandemi, persediaan vaksin akan kurang dan kemungkinan akan terdistribusi secara tidak merata.

Sepertinya “solusinya” adalah vaksin, yang tengah disiapkan secara tergesa-gesa dan tertutup, oleh mereka orang-orang yang bertanggung jawab, langsung ataupun tidak langsung, atas ratusan ribu kematian tiap tahun – orang-orang yang menyodori kita sistem medis yang  telah disebut sebagai genocidal dalam sebuah pengaduan kriminal yang diajukan kepada International Court of Justice di The Hague.

Secara resmi, tak ada penyebutan kondisi kesehatan yang baik sebagai benteng pertahanan pertama. Tak satupun pejabat tinggi yang berpikir bahwa ‘penambahan’ pertahanan kita melalui nutrisi yang baik, istirahat, dan suplemen adalah penting, walaupun itu sangat masuk akal. Dengan catatan suram vaksin dalam mencegah penyakit – sebenarnya ia adalah penekan imunitas – kita mesti mempertimbangkan opsi lain ini dan barangkali kita mesti membuatnya sebagai benteng pertahanan utama terhadap “pandemi” hipotetis yang melanggar masyarakat dunia.

Karena SARS dikalahkan bukan oleh vaksin, tapi oleh kehigienisan dan oleh orang-orang yang memeriksa sendiri persoalannya, menyimpan persediaan vitamin C dan nutrien penambah imunitas lainnya, bukankah akan lebih baik jika kita mengikuti jalan yang berhasil baik ini?

Jonathan Campbell menceritakan bagaimana menggunakan vitamin C dan beberapa nutrien esensial lain dalam artikelnya: Prepare for Avian Influenza!

Berbagai dinas AS dan PBB dan Council on Foreign Relations menyebarkan kabar bahwa Avian Influenza, bilamana berjangkit musim gugur atau musim dingin ini, bisa separah epidemi Influenza Spanyol di seluruh dunia pada tahun 1918, dan mereka memprediksikan ratusan juta orang akan mati di seluruh dunia.  Inluenza ini, saat ini diisolasi di China, adalah penyakit pendarahan (hemorrhagic illness). Ia membunuh sebagian tubuh korbannya dengan secara cepat menghabiskan simpanan ascorbate (vitamin C) dalam tubuh, menyebabkan scurvy (penyakit akibat kekurangan vitamin C-penj) dan kejatuhan suplai darah arteri, menyebabkan pendarahan internal pada paru-paru dan kavitas sinus. Sebagian besar orang hari ini hampir tidak cukup memiliki vitamin C dalam tubuh mereka (tipikalnya 60 mg per hari) untuk mencegah scurvy di bawah kondisi normal, dan tidak siap menghadapi penyakit jenis ini.

Mengapa masih membuat “cash-cow” (penghasil uang-penj) lain untuk perusahaan-perusahaan farmasi yang berkontribusi kecil terhadap kesehatan dan imunitas, padahal catatan jelas menunjukkan bahwa vaksin bukan jalan yang baik dilalui? Otoritas kesehatan di seluruh dunia sepertinya berusaha menopang rekan-rekan mereka di industri vaksin. Contoh mutakhirnya adalah kampanye vaksin meningococcal eksperimental untuk lebih dari satu juta anak di Selandia baru dengan biaya ratusan juta dolar, dipromosikan oleh otoritas kesehatan dengan angka timbulnya penyakit yang dibesar-besarkan tanpa rasa malu.

Di AS, meski terdapat kampanye kepanikan di media dan berkurangnya dosis vaksin flu secara drastis gara-gara persoalan kontaminasi di Chiron (produsen vaksin), satu dari hanya dua penyedia vaksin flu di AS, sejauh ini flu tidak naik lepas kendali.

Tapi, menurut laporan-laporan pers terbaru, obat anti virus sedang dicadangkan untuk memukul flu mematikan dan ratusan Juta Dolar “Dibutuhkan untuk Mengendalikan Flu Burung”.

Dengan banyaknya bukti bahwa nutrien berbasis pangan “meningkatkan sistem imunitas” dan suplemen seperti vitamin C sederhana diketahui efektif dalam menangkis SARS, strategi semacam ini semestinya digunakan secara luas sebagai benteng pertahanan pertama.

Tetapi kenyataanya sebaliknya, kita menjumpai riset tentang bagaimana membuat virus flu burung menjadi lebih mematikan, kita melihat kampanye vaksin sedang disiapkan, kita melihat obat anti-AIDS memasuki panggung sebagai agen potensial untuk “memerangi flu burung”.

Dalam hiruk-pikuk yang dikobarkan oleh media, kita sepertinya lupa untuk menguji vaksin demi keamanan. Ini menghadirkan ketidakpastian ilmiah. Akankah pandemi berikutnya merupakan kesalahan “virus” atau mungkinkah itu disebabkan oleh vaksin yang digembar-gemborkan sebagai solusi. Tapi sepertinya, usaha berjalan baik-baik saja – setidaknya sekarang – bagi Raksasa Farmasi.

Vaksinasilah yang Bertanggung Jawab dalam Flu Spanyol, Bukan Virus

Oleh: Dr. Mercola.com
31 Mei 2003

Berikut ini terdapat komentar menarik mengenai artikel yang membahas pandemi tahun 1918-1920, yang menurut propaganda disebabkan oleh flu Spanyol (Irish Examiner, 1 Mei).

Sebuah tim sains Inggris mengidentifikasi virus pertama pada manusia di tahun 1933, tapi propaganda menyebutkan bahwa selama pandemi dari tahun 1918 sampai 1920 virus flu Spanyol membunuh jutaan penduduk sipil dan tentara.

Banyak pihak ingin kita percaya bahwa semua prajurit Amerika yang mati akibat penyebab non-pertempuran itu disebabkan oleh flu Spanyol. Namun, catatan Angkatan Darat AS menunjukkan bahwa tujuh orang mati setelah divaksinasi.

Lebih lanjut, menurut sebuah laporan dari Menteri Peperangan AS, Henry L. Stimson, tak hanya kematian tersebut yang terverifikasi tapi juga ada 63 kematian dan 28.585 kasus hepatitis yang dilaporkan sebagai akibat langsung dari vaksinasi demam kuning selama 6 bulan perang.

Selain itu, vaksinasi demam kuning hanyalah salah satu dari 14 sampai 25 suntikan [vaksin] yang diberikan kepada para calon prajurit.

Menurut catatan Angkatan Darat, setelah vaksinasi diwajibkan dalam Angkatan Darat AS pada tahun 1911, kasus typhoid dan penyakit vaksin meningkat pesat. Tingkat kematian akibat typhoid mencapai titik tertinggi dalam sejarah Angkatan Darat AS setelah Amerika memasuki perang pada tahun 1917.

Pada 1917, menurut laporan Surgeon-General Angkatan Darat AS, 19.608 orang prajurit dimasukkan ke rumah sakit lantaran inokulasi dan vaksin anti-typhoid, dan ini belum termasuk prajurit lain yang gejalanya diatributkan pada penyebab lain.

Dokter angkatan darat tahu bahwa semua kasus penyakit dan kematian ini disebabkan oleh vaksinasi dan cukup jujur mengakuinya dalam laporan-laporan medis mereka.

Dokter angkatan darat berusaha menekan gejala typhoid dengan vaksin yang lebih kuat, namun itu menghasilkan bentuk typhoid yang lebih buruk, paratyphoid.

Mereka lalu membuat vaksin lebih kuat lagi untuk menekan vaksin sebelumnya dan justru menciptakan penyakit yang lebih buruk lagi—flu Spanyol.

Setelah perang, ini termasuk vaksin yang digunakan untuk melindungi dunia penuh kepanikan dari prajurit yang tertular penyakit berbahaya yang baru kembali dari pertempuran Perang Dunia II.

Sisanya menjadi sejarah.

(Irish Examiner, 8 Mei 2003)

Komentar Dr. Mercola

Intinya di sini adalah bahwa vaksin bukanlah jawaban. Vaksin, semua vaksin, menekan sistem imun; dengan kata lain, mereka menekan fungsi imun kita, yang membuat kita rentan terhadap banyak penyakit.

Vaksin mengandung banyak bahan kimia dan logam berat seperti merkuri dan aluminium, yang, terlepas dari sifatnya sebagai penekan sistem imun, dapat menyebabkan kerusakan serius pada tubuh Anda.

Sementara vaksin merobohkan imunitas kita, nutrisi yang benar akan membangun dan menopang sistem imun yang kuat, yang akan menyediakan imunitas alami terhadap sejumlah penyakit.

Saya menguraikan manfaat nutrisi yang benar, yang dimulai dengan menyingkirkan gula dan padi-padian dari diet Anda, dalam buku baru saya, “The No-Grain Diet”. Buku ini juga memberi Anda pendekatan praktis untuk mencapai gaya hidup baru yang sehat, dan menjelaskan bagaimana Emotional Freedom Technique (EFT) dapat membantu Anda menghadapi masalah mengidam dan persoalan emosional lainnya yang bisa menghalangi keberhasilan diet Anda.

Vaksinlah yang Menghasilkan Pandemi, Bukan Flunya

(Sumber: www.preventdisease.com)

Dengan melimpahnya bukti yang kini mengarah pada pembuatan flu H1N1 di laboratorium, semakin terlihat bahwa bukan flu yang akan menyebabkan pandemi, melainkan vaksin.

Teori bahwa berjangkitnya virus flu baru yang relatif ringan di musim semi memprediksikan berjangkitnya [virus flu] mematikan dan lebih parah di musim gugur, tidak ditunjang oleh catatan dari epidemi sebelumnya. “Sejarah pandemi menunjukkan bahwa perubahan penularan ataupun patogenitas bisa dihindari,” simpul Drs. David Morens dan Jeffery Taubenberger, ahli penyakit menular di US National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), bagian dari National Institute of Health.

Periset vaksin dan dokter naturopathic, Dave Mihalovic, mengatakan, “Kehebohan flu babi H1N1 yang dipromosikan oleh WHO dan media mainstream terkait dengan dorongan untuk memvaksinasi penduduk dunia.”

Di awal musim semi, ada semacam spekulasi mengenai asal-usul flu babi, namun sejak saat itu, bukti jernih telah mengarah pada inisiatif pemerintahan nasional dan internasional untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat agar bersiap-siap menerima vaksinasi masal.

“Sekalipun fakta menunjukkan bahwa strain flu ini dibuat di suatu lab pemerintah, pembuatnya tahu benar bahwa strain yang ada saat ini takkan pernah membunuh puluhan juta orang, setidaknya tidak akan terjadi tanpa mutasi mematikan. Nyatanya, sebagian besar gejala cukup ringan, terutama pada orang-orang sehat yang telah terkena virus tersebut,” tambah Mihalovic.

Menurut Dr. Leonard Horowitz, “Dalam sejarah bumi, tak ada pandemi yang pernah berkembang terpisah dari pergolakan sosio-ekonomi dan politik besar.”

Dr. Horowitz menyatakan dalam websitenya, www.fluscam.com, bahwa, “Setiap kali iblis-iblis ini terbongkar, sifat mematikan virus menurun. Ada pandangan bahwa ilmu sihir dalam perbuatan mereka diterangi dengan lampu kebenaran yang menunjukkan tertariknya benang finansial dan politik untuk mengangkat gajah ke udara.”

Sebagai seorang whistleblower terkemuka dunia dan pelindung kesehatan konsumen, advokasi Dr. Horowitz telah membongkar agen dan agensi yang paling terlibat dalam menciptakan dan melepas kuman buatan dan kengerian “bioteroris” yang menguntungkan.

Sebuah perusahaan swasta rekanan CDC yang bernama NOVAVAX terlibat dalam konspirasi untuk memproduksi “vaksin Johnny-on-the-spot” yang digembar-gemborkan oleh pejabat CDC dan pemimpin industri obat, demikian menurut Dr. Horowitz. Dia menemukan bahwa “pipeline vaksin” kriminal pengambil untung terlibat dan dirinya segera meminta investigasi kriminal terhadap realita konspirasi, pembunuhan masal, dan “genosida global” ini, yang dia ceritakan kepada orang-orang radio, Jeff Rense dan Alex Jones.

Dr. Horowitz juga sangat aktif dalam beberapa front resolusi segera setelah diusulkannya kampanye vaksinasi yang dijadwalkan musim gugur ini. Dia membuat draft model resolusi legislatif untuk aksi lokal urgen yang dapat diperluas untuk aksi politik (dengan modifikasi) oleh orang-orang di seluruh dunia untuk melindungi kebebasan beragama dan pembebasan filosofis.

Mihalovic percaya virus H1N1 hanya taktik menakut-nakuti yang dilakukan media untuk memaksa vaksinasi masyarakat. Dia menyatakan bahwa, “Hanya perlu pengulangan untuk mencapai tujuan mereka menciptakan negara penuh ketakutan dan kepanikan dalam masyarakat.”

Sudah ada banyak informasi yang tersedia di internet mengenai flu H1N1 dan eksploitasi media. “Jika Anda cukup sering mengulangi sesuatu, bagaimanapun penyajiannya, orang-orang akan mulai mempercayainya,” kata Mihalovic. “Begitu banyak orang-orang yang bebal dan terperdaya… Saya menyebut mereka domba…mau mengantri untuk vaksin ini karena sangat percaya itu akan melindungi mereka dari flu. Keyakinan mereka didasarkan pada pola pikir yang diprogram untuk hanya mengindera realitas vaksin yang palsu. Ini adalah soal pengendalian massa dan bagaimana membuat mereka berpikir bahwa tak ada konsekuensinya divaksin, kecuali manfaat,” tambahnya.

Spesialis paru-paru, Wolfgang Wodarg, mengatakan bahwa terdapat banyak resiko terkait dengan vaksin virus H1N1. Dia mempunyai keberatan serius tentang firma Novartis yang mengembangkan vaksin dan mengujinya di Jerman. Vaksinasi disuntikkan “dengan jarum sangat panas”, kata Wodarg.

Larutan nutrien vaksin terdiri dari sel-sel kanker binatang dan “kita tak tahu apakah bisa timbul reaksi alergi”. Tapi yang lebih penting, beberapa orang khawatir resiko kanker bisa meningkat dengan menyuntikkan sel-sel tersebut.

Vaksin itu – sebagaimana diuraikan Johannes Lower, presiden Paul Ehrlich Institute – juga dapat menimbulkan efek samping yang lebih buruk dari virus flu babinya.

Wodrag juga menggambarkan kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi sebagai sebuah “orkestra”. “Ini adalah bisnis besar bagi industri farmasi,” katanya kepada ‘Neuen Presse’. Flu babi tidak jauh berbeda dari flu biasa. “Malah, jika Anda memperhatikan jumlah kasus, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan berjangkitnya flu biasa,” tambahnya.

Menurut Mihalovic, “Hanya ada satu hal yang terjadi pada Anda ketika disuntik vaksin. Anda kemasukan racun biologi dan kimia yang mendegradasi sistem imun Anda.”

Surat dari UK Health Protection Agency, badan resmi yang mengawasi kesehatan publik, bocor ke sebuah surat kabar nasional (The Mail) yang memunculkan tuntutan [dari masyarakat] untuk mengetahui mengapa informasi mengenai penyakit syaraf mematikan tidak diberitahukan kepada publik sebelum vaksinasi jutaan orang, termasuk anak-anak, dimulai.

Itu memberitahu para ahli syaraf bahwa mereka harus siap siaga akan peningkatan kasus kelainan otak yang disebut Guillain-Barre Syndrome (GBS), yang bisa dipicu oleh vaksin tersebut. GBS menyerang lapisan syaraf, menyebabkan kelumpuhan, dan ketidakmampuan bernafas, dan bisa mengakibatkan kematian.

Surat itu, dikirim kepada sekitar 600 ahli syaraf pada 29 Juli, merupakan sinyal pertama adanya kerisauan di tingkat atas bahwa vaksin dapat menimbulkan komplikasi serius.

Selama lebih dari 6 bulan sekarang, beragam laporan terutama dari media alternatif telah meniupkan informasi mengenai ketidak-efektifan vaksin dalam menangani semua flu, bukan hanya flu H1N1. Mihalovic sependapat, “Itu tak memberikan perlindungan apapun dari virus. Jika pun ada, hanya akan menciptakan penyakit, baik segera ataupun dalam seumur hidup seseorang.”

Sebuah laporan tentang betapa inokulasi merupakan senjata pemusnah masal sejati, menguraikan kenyataan dasar vaksin, “Jadi, pada esensinya, ini semualah yang diinginkan oleh pemerintah dan kekuatan mainstream ini dari vaksin H1N1. Mereka ingin setiap pasien vaksin mati dalam waktu singkat atau menderita penyakit permanen sepanjang hidupnya. Ini adalah konsep yang sangat sederhana dan dipraktekkan secara sempurna sebagaimana sedang kita saksikan di depan mata kita,” simpul Mihalovic.

Periset dan penulis, Patrick Jordan, telah mengungkap rencana yang terhampar untuk membunuh banyak orang melalui virus dan vaksin rekayasa. Dia berkata bahwa mereka telah lama menyempurnakan vaksin yang mematikan sistem imun manusia dan tentara AS telah sering digunakan sebagai hewan percobaan.

Riset Patrick Jordan mengungkap sistem vaksin tiga tingkat. Inokulasi pertama mematikan sel darah putih (sistem imun); inokulasi kedua menyuntikkan virus; dan inokulasi ketiga menghidupkan kembali sistem imun.

Pada periode tengah, virus meluas ke seluruh tubuh, tapi orang itu tidak merasa sakit karena sistem imun tidak memerangi virusnya. Ketika sistem imun hidup kembali, ia melepas semacam serangan terhadap cocktail virus sehingga merusak tubuh.

Ini dikenal sebagai cytokine storm, sistem imun begitu kuat sehingga mengirim terlalu banyak antibodi dalam waktu bersamaan ke area tubuh yang terinfeksi, lalu tubuh merusak dirinya sendiri.

WHO bahkan telah meminta virus hidup flu babi supaya dimasukkan dalam vaksin dan cukup mungkin mereka akan memperluas dan meningkatkan kekuatan virus melalui vaksin. Website WHO menyatakan:

“Dari sudut ketersediaan vaksin yang terbatas di level global dan potensi kebutuhan untuk melindungi dari strain virus yang “menyimpang”, SAGE merekomendasikan bahwa promosi produksi dan pemakaian vaksin seperti yang diformulasikan dengan campuran adjuvant dan vaksin influenza hidup yang dilemahkan adalah penting…..di Eropa, beberapa produsen telah menjalankan studi terdepan dengan menggunakan apa yang disebut vaksin “mock-up” (sampel) yang mengandung sebuah bahan aktif untuk virus influenza yang belum beredar dalam populasi manusia sehingga bisa meniru kejadian baru virus pandemik. Studi terdepan seperti itu bisa sangat mempercepat persetujuan regulasi.”

Kita telah melihat apa yang terjadi ketika Baxter International mengirim vaksin flu manusia yang terkontaminasi oleh virus hidup avian flu yang mematikan ke 18 negara dari cabang Austria mereka. Berkat perlindungan Tuhan-lah kontaminasi itu ditemukan setelah batch pertama kali diujicoba kepada musang-musang di Republik Ceko, sebelum dikirimkan untuk disuntikkan kepada manusia. Semua musang itu mati dan ditemukanlah hal mengejutkan ini.

Laporan sebelumnya pada bulan Juli menyatakan bahwa target pertama kampanye vaksinasi adalah wanita hamil dan janin. Seorang Kepala Petugas Medis Inggris menyatakan bahwa orang-orang dengan kondisi kesehatan seperti diabetes, asma, dan penyakit jantung, akan menjadi pihak pertama yang divaksin flu babi pada bulan Oktober. Yang mengantri berikutnya setelah kelompok beresiko adalah wanita hamil, menurut lisensi susunan mengenai trimester paling sesuai untuk disuntik, orang-orang yang hidup dalam rumah yang dihuni pasien lemah sistem imun, seperti pasien kanker yang menjalani chemotherapy atau mereka yang mengidap HIV, dan lebih dari 65 orang bermasalah kesehatan yang diperparah oleh flu.

Kanada juga berpartisipasi dalam promosi kehebohan flu H1N1 dengan mengumumkan perlunya “tsar kesehatan” baru berkekuatan politik untuk mengkoordinasi respon terhadap H1N1. Dalam sebuah editorial yang ditandatangani oleh editor-in-chief Dr. Paul Hebert, Canadian Medical Association Journal menuntut penunjukan seseorang yang akan menjabat sebagai “pejuang nasional” independen berkekuatan legislatif penting untuk bisa memfasilitasi respon dari seluruh provinsi dan wilayah. Posisi tersebut akan memiliki kekuatan berbeda – dan lebih luas – dari posisi pejabat federal (untuk respon pandemi) saat ini, Chief Public Health Officer Kanada, Dr. David Butler-Jones.

Catatan positifnya, Kanada juga memperhatikan peran vitamin D dalam pencegahan flu. Public Health Agency of Canada (PHAC) telah mengkonfirmasikan bahwa mereka akan meneliti peran vitamin D dalam perlindungan terhadap flu babi. Dinas tersebut tahun lalu memulai studi tentang peran vitamin D dalam influenza berat musiman, dan mereka bilang akan menyesuaikan diri dengan virus flu babi H1N1. Para periset di PHAC tengah bekerja dengan kolega dari Universitas McMaster dan dengan partner dari universitas lain dan rumah sakit untuk menentukan apakah ada korelasi antara penyakit berat dan level vitamin D yang rendah dan/atau susunan genetik seseorang.

Kian banyak orangtua yang khawatir mengenai vaksin flu babi dan efeknya. Justin Roberts, co-founder www.mumsnet.com, mengatakan: “Banyak ibu di Mumsnet.com mempertanyakan apakah memberi vaksin flu babi kepada anak-anak mereka merupakan ide bagus. Beberapa ibu khawatir tentang sudah seberapa baik vaksin itu diuji, yang lain khawatir tentang efektifitas dan efek sampingnya.”

Vaksin GlaxoSmithKline (GSK) mengandung thimerosal yang pada 1990-an dikaitkan dengan kelainan syaraf dan autisme. GSK mengklaim bahwa itu digunakan untuk membuat vaksin bertahan lebih lama sehingga menghindari pemborosan.

Dengan semakin banyaknya informasi mengenai sifat mematikan vaksin H1N1, banyak orangtua lambat laun menyadari bahwa vaksin kemungkinan besar merupakan ancaman yang lebih besar terhadap anak-anak mereka ketimbang flu H1N1 sendiri. Dalam jumlah catatan, publik mencela vaksin yang berbahaya dan secara tegas menyatakan bahwa tak akan ada vaksinasi paksa di semua komunitas bila kita semua berdiri bersama dan cukup berkata tidak.

Deklarasi Universal Menentang Vaksinasi Wajib

(Sumber:www.thepetitionsite.com/1/a-universal-declaration-of-resistance-to-mandatory-vaccinations)

Kami yang bertandatangan di bawah ini, Pria dan Wanita merdeka, tidak mengakui otoritas World Health Organization (WHO) untuk memandatkan vaksinasi paksa atas masyarakat. Tubuh kami adalah wilayah kedaulatan kami dan tunduk pada ketentuan eksklusif kami. Setiap upaya pelanggaran terhadap tanggung jawab ini harus ditafsirkan sebagai pelanggaran hak dasar tersebut. Karena itu kami menganggap Pemerintah terpilih kami bertanggung jawab dalam pembelaan ini dengan penerbitan pemberitahuan: Gugatan Class Action preemptive akan disampaikan bilamana hak kami (yang tidak dapat dipindahtangankan) untuk memilih diabaikan.

Checklist WORLD HEALTH ORGANIZATION untuk perencanaan siaga pandemi influenza: Section 1.5.1 isu hukum dan etika:

‘Selama pandemi, mungkin perlu untuk mengesampingkan legislasi yang sudah ada atau hak asasi manusia (individu). Contohnya adalah pelaksanaan karantina (mengesampingkan kebebasan individu untuk bergerak), penggunaan bangunan milik swasta untuk rumah sakit, penggunaan obat-obatan tanpa lisensi, vaksinasi wajib atau implementasi pergantian kondisi darurat dalam layanan dasar. Keputusan-keputusan ini memerlukan kerangka hukum untuk memastikan penaksiran transparan dan justifikasi tindakan yang sedang dipertimbangkan, dan untuk memastikan koherensi dengan legislasi internasional (International Health Regulations).’ (www.who.int/csr/resources/publications/influenza/FluCheck6web.pdf)
Tak ada bukti forensik yang menunjukkan virus H1N1 sebagai penyebab langsung kematian orang-orang yang tewas setelah terkena virus tersebut (144 orang hingga hari ini). Mayoritas kematian itu disebabkan oleh komplikasi yang sudah ada sebelumnya dan defisiensi auto-imunitas. Negara-negara berkualitas kesehatan rendah memiliki jumlah kasus kematian terbesar. Berdasarkan pedoman dari Center for Disease Control, gejala-gejala yang terkait H1N1 betul-betul tak dapat dibedakan dari gejala flu musiman biasa, dan tingkat keparahannya sebanding dengan flu musiman ringan,

‘Gejala virus flu H1N1 baru ini pada orang-orang mirip dengan gejala flu musiman yang meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung ingusan atau tersumbat, badan pegal, sakit kepala, kedinginan, dan kelelahan. Sejumlah signifikan orang-orang yang telah terinfeksi virus H1N1 baru ini juga dilaporkan mengalami diare dan muntah-muntah. Kelompok yang beresiko tinggi terhadap flu H1N1 baru ini saat ini belum diketahui tapi mungkin saja sama dengan influenza musiman. Orang-orang yang beresiko tinggi mengalami komplikasi serius akibat flu musiman meliputi orang-orang berusia 65 tahun atau lebih, anak-anak berusia kurang dari 5 tahun, wanita hamil, orang-orang segala usia dengan kondisi medis kronis (seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung), dan orang-orang yang sistem imunnya tertekan (misalnya sedang menjalani pengobatan untuk menekan imunitas, terkena HIV).’ (www.cdc.gov/h1n1flu/sick.htm)

GlaxoSmithKline merupakan pengembang Farmasi utama di balik vaksin Avian Flu H5N1. Berdasarkan fakta bahwa strain H1N1 adalah hibrid Avian/Babi/Manusia, kemungkinan besar komponen ini akan digunakan sebagai bagian dari resim 3 injeksi,

‘Adjuvant milik GSK disebut ASO4. Ia mengandung alum dan MPL. MPL merupakan singkatan dari monophosphoryl lipid A. Adjuvant milik (tak berlisensi) Tentara AS yang dikembangkan sebelum Perang Teluk I untuk vaksin antraks generasi kedua disebut Tri-Mix atau Triple Mix. Tri-Mix mengandung MPL (monophosphoryl lipid A) dan squalene. Setelah perang tersebut, ilmuwan Tentara menganggap MPL terlalu beracun, jadi mereka mulai bekerja dengan Chiron Corporation dari Emeryville, Kanada, untuk mengembangkan adjuvant yang mengandung squalene dan air saja…atas asumsi bahwa keberacunan adjuvant pada Tri-Mix disebabkan oleh MPL. Asumsi ini pun terbukti tidak benar. Terdapat lebih dari dua lusin studi hewan yang menghasilkan data yang menunjukkan kemampuan squalene untuk menimbulkan auto-imunitas; dan terdapat bukti yang diperselisihkan bahwa nano dosis squalene dalam vaksin antraks membuat sakit personil militer dalam jumlah tak terhitung yang menerima vaksin tercemar squalene selama AVIP. MPL juga merupakan komponen Ribi Adjuvant System. Ribi Adjuvant System, atau RAS, adalah derivatif dari Tri-Mix, yang diizinkan digunakan terhadap binatang saja. Tak ada bukti yang menunjukkan apakah MPL membangkitkan respon imun yang spesifik terhadapnya. Jika MPL bersifat imunogenik, itu meningkatkan kemungkinan “reaksi silang” yang berbahaya. Tubuh manusia penuh dengan lipid (zat mirip lemak yang tak larut dalam air tapi larut dalam pelarut organik, lipid meliputi asam lemak, minyak, lilin, dan steroid-penj). Antibodi dan sel imun yang merespon terhadap MPL mungkin juga merespon terhadap lipid lain dalam tubuh, sehingga merusak toleransi terhadap lipid endogen (lipid alami tubuh manusia) dan menginisiasi auto-imunitas.’ Gary Matsumoto – Jurnalis/Penulis mengenai Vaksin A. (www.whale.to/vaccine/secret_adjuvant.html)

Resiko perjangkitan Gulf War Syndrome secara luas di antara masyarakat umum adalah tak terelakkan – dengan asumsi adjuvant squalene H5N1 yang sama digunakan pada H1N1 (adjuvant adalah agen farmakologis atau imunologis yang memodifikasi efek agen-agen lain). Selanjutnya vaksin menimbulkan sedikit respon antibodi. Oleh sebab itu, perlua 12 kali lipat dari dosis normal agar ‘efektif’. Perjudian semacam itu, di mana nyawa kita dilibatkan, tidak bisa dinegosiasikan.

Perusahaan-perusahaan farmasi (Novartis di antaranya) mendapat durian runtuh selama krisis seperti itu. Kami tak mau mempertaruhkan keselamatan kami demi laba industri di bawah kondisi apapun,

‘Berjangkitnya flu babi akan menguntungkan salah satu firma venture capital paling subur dan sukses di Amerika Serikat: Kleiner, Perkins, Caufield & Byers. Harga saham dua dari delapan perusahaan terbuka di portofolio investasi Pandemic and Bio Defense sudah naik. BioCryst naik lebih dari 26% ke $2,21 per lembar saham, dan Novavax, pembuat vaksin virus, naik 75% ke $1,42 per lembar saham pada saat pengumuman pertama berjangkitnya flu babi di Meksiko.’ (www.drtenpenny.com/swine_flu.aspx)

Kurangnya pengujian terhadap vaksin eksperimental ini menimbulkan banyak kerisauan. Tak ada kriteria atas kemanjurannya atau pernyataan statistik valid,

‘Novavax memakai informasi genetik dan “teknologi rekombinan partikel mirip virus” untuk secara cepat memproduksi sebuah vaksin. Teknologinya baru melalui uji klinis Fase II tapi akan dirilis secara prematur. CEO Novavax, Rahul Singhvi, mengumumkan pada hari Jumat, “Terdapat kesempatan otorisasi darurat yang akan memungkinkan kita untuk menggunakan vaksin dalam keadaan darurat tanpa pengujian lebih lanjut.” Ketentuan Division-E akan melindungi perusahaan dari semua liabilitas.’ (www.drtenpenny.com/swine_flu.aspx)

H1N1 merupakan strain yang sama sekali unik, tak pernah dijumpai sebelumnya dengan semua tanda virus buatan laboratorium,

‘Penulis buku Emerging Viruses: AIDS and Ebola: Nature, Accident, or Intentional?, Horowitz, mengatakan bahwa strain flu babi-burung-manusia, yang dilaporkan ditemukan pertama kali di Meksiko pada akhir Maret 2009, hanya mungkin berasal dari Dr. James S. Robertson dan koleganya yang tergabung dengan US Centre for Disease Control dan produsen vaksin, Novavax Inc., yang telah siap mengambil untung dari pelepasan tersebut. Tak ada orang lain lagi yang mengambil ayam terinfeksi flu Asia H5N1, membawanya ke Eropa, mengekstrak DNA-nya, mengkombinasikan proteinnya dengan virus H1N1 dari isolat flu Spanyol 1918, memasukkan beberapa gen flu babi dari babi sebagai campuran tambahan, kemudian me-reverse engineer-nya untuk menginfeksi manusia, kata Horowitz.’ (www.uncensored.co.nz/2009/04/30/dr-horowitz-mexicanswine-flu-made-in-lab/)

Selama kepanikan flu babi 1976, vaksin flu babi sendiri membunuh ratusan orang dan membuat sakit lainnya dalam jumlah tak terhitung,

‘Hanya Lewis muda (Tamtama David Lewis dari Ashley Falls, Massachusetts, berumur 19 tahun) yang meninggal akibat flu babi pada 1976. Tapi karena para pengritik cepat menunjuk, ratusan warga Amerika terbunuh atau terluka serius oleh inokulasi yang diberikan pemerintah untuk mencegah virus.’ (www.capitalcentury.com/1976.html)

Menurut data yang valid, PBB yang mengawasi WHO telah terlibat dalam promosi virus hidup dan program sterilisasi tipe eugenik sepanjang masa lalu. Kami tidak ingin menjadi hewan percobaan mereka lagi. Kami secara bulat menegaskan keputusan ini. Beban selanjutnya ada pada WHO untuk membuktikan riwayat keamanannya sendiri. Setiap laporan atau bantah yang dikeluarkan oleh mereka harus tunduk pada investigasi independen yang dijalankan oleh dewan pilihan kami,

National Security Council Document 20506: Implications of Worldwide Population Growth for U.S. Security and Overseas Interests – Memorandum ini dirancang oleh Henry Kissinger yang secara langsung diarahkan pada pelepasan vaksin eksperimental terhadap masyarakat yang tak curiga. 3 juta orang Filipina berumur 12-48 tahun diberi vaksin ujicoba yang merusak kesehatan mereka. Wanita Amerika Utara kulit hitam dan pribumi diberi vaksin yang sama yang mengakibatkan tingkat kemandulan sebesar 25% (kulit hitam) dan 35% (pribumi). Instruksi datang dari WHO dan terikat langsung dengan laporan Kissinger. (www.scribd.com/doc/6474391/Henry-Kissinger-Population-Control-Document)

Laporan itu menyusul laporan tahun 1972 yang dikeluarkan oleh WHO yang merujuk pada permintaan sebuah virus yang akan secara selektif menghancurkan Sistem Sel T Manusia. Laporan ini membidik negara-negara sebagai target “eksperimen awal pengurangan populasi yang akan diimplementasikan sekitar tahun 2000”. Mereka mengidentifikasi India, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, Meksiko, Indonesia, Brazil, Filipina, Thailand, Mesir, Turki, Ethiopia, dan Kolombia untuk dipelajari, yang secara kebetulan mendahului berjangkitnya AIDS di Afrika, Amerika, dan tempat lain. Faktor penentu yang paling umum pada korban AIDS adalah rusaknya Sistem Sel T dalam tubuh. Kebetulan lain. http://whqlibdoc.who.int/bulletin/1972/Vol47/Vol47-No2/bulletin_1972_47(2)_211-227.pdf)

Jika vaksinasi wajib dilegislasikan di bawah kondisi pandemi terduga/asli, kami menuntut riset independen atas vaksin – oleh sebuah tim yang terdiri dari profesional kesehatan berlisensi pilihan kami, sebelum menyampaikan vaksin ke pusat-pusat distribusi. Semua vaksin akan diuji kontaminasi dan keamanan. Monitoring terus-menerus terhadap mereka yang divaksin akan dilakukan dalam sistem data up-to-date. Bila WHO atau distributor mereka ditemukan sengaja menyebarkan produk beracun, mereka akan dituntut dengan hukuman seberat-beratnya. Kami akan memandatkan investigasi publik untuk membasmi orang-orang yang bertanggung jawab dan keadilan akan tegak. Dalam hal ini, kami juga menganggap Pemerintah kami bertanggung jawab sepenuhnya.

Kami, yang bertandatangan di bawah ini, bersatu mendukung Petisi ini.

DAFTAR BAHAN VAKSIN: Dengan resmi diatur secara sengaja pada setiap vaksin yang disediakan kepada publik.

Di samping RNA atau DNA virus dan bakteri yang menjadi bagian vaksin, berikut adalah bahan-bahannya:

–  aluminum hydroxide
–  aluminum phosphate
–  ammonium sulfate
–  amphotericin B
–  jaringan sel binatang: darah babi, darah kuda, otak kelinci
–  ginjal anjing, ginjal monyet
–  embrio anak ayam, telur ayam, telur bebek
–  serum anak sapi (keluarga sapi)
–  betapropiolactone
–  fetal bovine serum
–  formaldehyde
–  formalin
–  gelatin
–  glycerol
–  sel diploid manusia (berasal dari jaringan janin manusia yang diaborsi)
–  hydrolized gelatin
–  monosodium glutamate (MSG)
–  neomycin
–  neomycin sulfate
–  indikator merah phenol
–  phenoxyethanol (anti-pembekuan)
–  potassium diphosphate
–  potassium monophosphate
–  polymyxin B
–  polysorbate 20
–  polysorbate 80
–  hydrolysate casein pankreas porcine (babi)
–  residu protein MRC5
–  sorbitol
–  sukrosa
–  thimerosal (merkuri)
–  tri(n)butylphosphate,
–  sel VERO, garis bersambung sel ginjal monyet
–  sel darah merah domba yang dicuci
(http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2001/03/07/vaccineingredients.aspx)

Bahan-bahan tambahan ini diberikan tanpa sepengetahuan atau seizin publik. Merck, monster raksasa farmasi di AS memproduksi mayoritas suplai vaksin dan dilindungi dari tuntutan oleh Undang-undang Federal yang dipaksakan di bawah pemerintahan Bush.

Analisis atas bahan tambahan vaksin

1) Aluminium (dua varian) – terkait langsung dengan penyakit alzheimer.
2) Ammonium Sulfate – senyawa kimia anorganik yeng digunakan sebagai penyubur dan “pemurni protein”; diketahui menyebabkan kerusakan ginjal dan liver, disfungsi gastrointestinal.
3) Amphotericin B – “disinfektan anti-jamur”, merusak jalan perkencingan, usus, fungsi jantung.
4) Jaringan binatang yang didaur ulang (berkali-kali) – penyusun Penyakit Sapi Gila.
5) Formaldehyde – digunakan sebagai “pengawet dan disinfektan”, diketahui menyebabkan kanker, bronkhitis kronis, iritasi mata, jika terpapar oleh sistem imun tubuh.
6) MSG – sekarang diketahui menyebabkan kanker pada manusia.
7) Phenol – bahan celup disinfektan yang sangat beracun, dikaitkan dengan kerusakan liver, ginjal, jantung, dan pernafasan.
8) Phenoxyethanol (anti-pembekuan) – terbukti memiliki efek samping yang sangat neurotoksik.
9) Thymerosal (merkuri) – bahan tambahan ini adalah penyebab Gugatan Class Action lain yang diorganisir oleh ibu-ibu yang anaknya terlahir menderita autisme dan kelainan perilaku terkait lainnya yang dihubungkan dengan thymerosal. Autisme kini terjadi pada level yang belum pernah dijumpai sebelumnya dalam sejarah, 1 kasus per 67 orang. Dahulu rata-ratanya 1 kasus per 20.000 orang.

Kampanye penentangan vaksin telah menerima dukungan kuat dari profesional di seluruh Industri Medis. Beberapa pendukung kami:

–  Dr. William R.Deagle MD, ABFP, AAPM, SSPM, ACOEM, CIME, ACO – www.nutrimedical.com, www.clayandiron.com
–  Injunction Against Forced Vaccinations
(http://mail.google.com/mail/?ui=1&view=att&th=121da8941cfb26c2&attid=0.1&disp=vah&zw)
–  Dr. Andrew Moulden PhD, B.A, M.A. Pendiri Brainguardmd.com, Pemimpin Gugatan Class Action terhadap Produsen Vaksin
–  Dr. Mayer Eisenstein MD, JD, MPH, Penulis “Don’t Vaccinate Before You Educate!
–  Dr. Daniel Ellis – Minnesota
–  Paula Jackson – Perawat Bersertifikat
–  Cindy Czocher – Perawat Bersertifikat
–  Mary R. Brown – Perawat Kesehatan Anak

Kami juga dengan bangga mendapat tanda tangan dari Anggota Angkatan Bersenjata pensiunan maupun aktif dan tak terhitung patriot lain di seluruh komunitas dunia yang telah bergabung mendukung kampanye ini.

Petisi ini merupakan satu jeritan  kepada mereka yang berkepentingan menggunakan hak inheren kami untuk menentukan diri sendiri. Bergabunglah dengan kampanye berani kami yang akan memungkinkan kita menentang Pemerintah terpilih kita demi mempertahankan hak inheren kita untuk memilih. Terima kasih untuk kalian semua!!!

UPDATE: Kami tidak berharap WHO mengakui validitas Petisi ini. Demikian pula halnya, Pemerintahan dan Pengadilan terpilih kita rutin menyangkal Petisi online. Itulah mengapa saya percaya kita harus mengambil pendekatan alternatif untuk memastikan suara kita didengar – Petisi tradisional yang ditandatangani dari tangan ke tangan yang bisa dibuktikan di Pengadilan. Kita perlu bekerja kolektif untuk mencapai tujuan kita tepat pada waktunya. Apakah ini menuntut banyak hal? Saya harap tidak. Setiap orang bisa memasang salinan rapi Petisi ini dan menyebarkannya. Anda juga akan memerlukan lembaran hitung untuk banyak tanda tangan. Mungkin salah satu anggota kita dapat menyiapkan halaman formulir umum saja dan mempostingnya di sini? Itu akan cukup terus terang. Ada banyak lokasi untuk melihat dan menandatangani Petisi ini: ruang kopi, kafetaria, papan buletin, acara-acara, sekitar kantor, perpustakaan, gereja, sinagog, gimnasium, toko buku, pos pagar. Mohon konsisten dengan terus mencatat jumlah yang didapat. Memajang beberapa lembar per lokasi barangkali merupakan ide bagus. Kita harus memutuskan lokasi sentral untuk menerima semua formulir ini setelah jumlahnya terkumpul. Akhirnya, kita bisa menjawab semua birokrasi sinis, pembilang tidak, dan tak terhindari dari pihak Pemerintah dengan respon bergema yang melimpah dari setiap negara di seluruh dunia. Sebuah peristiwa untuk menyaingi klimaks ‘Mr. Smith Goes to Washington’ di mana Petisi yang membanjir dari warga biasa mengubah sejarah. Saya amat yakin kita dapat betul-betul mengubah sejarah dengan sebuah pertunjukan historis kekuatan proaktif dan damai.

“Kita bisa melakukan ini dengan mudah atau sulit, yang penting dilakukan.” – Glenn Ivey/Pengacara County Prince George, Maryland, AS, terkait mandat Legislasi Vaksinasi baru yang dipaksakan kepada Gr. 5 – Gr. 10 pelajar untuk divaksin Cacar Air dan Hepatitis B.

“Ketika kita memberi pemerintah kekuasaan untuk membuat keputusan medis bagi kita, kita, pada esensinya, mengakui bahwa negara memiliki tubuh kita.” Anggota Majelis Rendah AS, Ron Paul.

Gerakan Menentang Vaksin (www.facebook.com/reqs.php#/group.php?gid=100535026404)

Petisi Menentang Vaksin: Deklarasi Universal Menentang Vaksinasi Wajib
(www.thepetitionsite.com/1/a-universal-declaration-of-resistance-to-mandatory-vaccinations)

Sepuluh Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui Mengenai Vaksin Flu Babi

Oleh: Mike Adams (Editor NaturalNews)
28 Juli 2009
(Sumber: www.naturalnews.com)

Dia amat khawatir akan flu.
Jadi dia bertanya pada dokternya apa yang mesti dilakukan.
Dokter menyuntiknya, tanpa dilihat terlebih dulu,
dengan vaksin flu babi
dan berkata tanpa pikir, “Darling, aku tak punya petunjuk.”
(Oleh Health Ranger)

Mari kita hadapi isu ini secara langsung: vaksin flu babi yang kini tengah dipersiapkan untuk injeksi masal kepada bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa belum pernah diuji dan tidak akan diuji sebelum injeksi dimulai. Di Eropa, di mana vaksin flu biasanya diuji pada ratusan (atau ribuan) orang sebelum dirilis ke masyarakat, European Medicines Agency mengizinkan perusahaan-perusahaan untuk melewati proses pengujian sama sekali.

Dan, hebatnya, orang-orang mengantri untuk menerima vaksin, mengabaikan uji keamanan. Ketika National Institute of Health di AS mengumumkan uji vaksin flu babi dimulai pada awal Agustus, mereka dibanjiri panggilan telepon dan email dari orang-orang yang ingin sekali memainkan peran sebagai manusia percobaan. Kekuatan rasa takut, hingga menggiring domba menuju injeksi vaksin, sungguh luar biasa…

Di Eropa, tentu saja, setiap orang akan menjadi hewan percobaan karena tidak akan ada pengujian sama sekali terhadap vaksin. Yang lebih buruk, vaksin Eropa akan menggunakan adjuvant – bahan kimia yang digunakan untuk melipatgandakan kekuatan bahan aktif dalam vaksin.

Yang perlu dicatat, sama sekali tak ada data keamanan penggunaan adjuvant pada bayi dan ibu hamil – dua kelompok orang yang paling giat ditargetkan oleh para penganjur vaksin flu babi. Ini membawa kita pada kesimpulan menggelisahkan bahwa vaksin flu babi boleh jadi merupakan bencana medis modern. Ia belum teruji dan belum dicoba. Bahan-bahannya berpotensi cukup membahayakan, dan adjuvant yang digunakan pada vaksin Eropa dicurigai menyebabkan penyakit syaraf.

Dilumpuhkan oleh vaksin

Barangkali saya tak perlu mengingatkan Anda bahwa pada 1976, sebuah vaksin flu babi yang gagal menyebabkan kerusakan tak terperbaiki pada sistem syaraf ratusan orang, melumpuhkan banyak orang. Dokter-dokter medis memberi nama pada masalah tersebut, tentu saja, untuk membuat mereka seolah-olah tahu apa yang sedang mereka bicarakan: sindrom Guillain-Barre. (Perlu dicatat, mereka tak pernah menyebutnya “Sindrom Vaksin Beracun”, sebab itu akan terlalu informatif.)

Tapi fakta tetap menyatakan bahwa dokter-dokter tak pernah tahu bagaimana vaksin menimbulkan masalah-masalah berat ini, dan bila peristiwa yang sama dimainkan kembali hari ini, semua dokter dan penganjur vaksin tak diragukan lagi akan menyanggah kaitan antara vaksin dan kelumpuhan sama sekali. (Itulah yang tengah terjadi hari ini pada perdebatan seputar vaksin dan autisme: penyanggahan total.)

Nyatanya, ada banyak hal yang takkan pernah dikatakan oleh otoritas kesehatan kepada Anda mengenai vaksin flu babi yang akan hadir. Demi kesenangan Anda, saya telah menuliskan di bawah sini sepuluh hal yang paling kentara [mengenai vaksin flu babi].

Sepuluh Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui Mengenai Vaksin Flu Babi
(Setidaknya, tidak diketahui oleh satu pihak berwenang pun…)

  1. Produksi vaksin “diburu-buru” dan vaksin belum pernah diuji pada manusia. Apa Anda senang menjadi hewan percobaan Big Pharma? Jika demikian, mengantrilah untuk mendapatkan vaksin flu babi musim gugur ini…
  2. Vaksin flu babi mengandung adjuvant yang berbahaya yang menimbulkan respon peradangan dalam tubuh. Inilah mengapa ia dicurigai menyebabkan autisme dan penyakit syaraf lainnya.
  3. Vaksin flu babi bisa betul-betul meningkatkan resiko kematian akibat flu babi dengan mengubah (atau menekan) respon sistem imun Anda. Tak ada bukti bahwa injeksi vaksin flu musiman menawarkan perlindungan berarti untuk orang-orang yang mengambil suntikan ini. Vaksin adalah snake oil pengobatan modern.
  4. Para dokter masih belum tahu mengapa vaksin flu babi tahun 1976 melumpuhkan begitu banyak orang. Dan itu artinya mereka sebenarnya tidak punya petunjuk apakah vaksin yang akan hadir dapat menimbulkan efek samping merusak yang sama. (Mereka juga belum mengujinya…)
  5. Sekalipun vaksin flu babi membunuh Anda, perusahaan obat-obatan tidak bertanggung jawab. Pemerintah AS telah memberi kekebalan penuh kepada perusahaan obat terhadap liabilitas produk vaksin. Berkat kekebalan penuh tersebut, perusahaan obat tidak memiliki pendorong untuk membuat vaksin yang aman, sebab mereka dibayar hanya berdasar kuantitas, bukan keamanan (liabilitas nol).
  6. Tak ada vaksin flu babi yang bekerja sebaik vitamin D untuk melindungi Anda dari influenza. Itu adalah fakta ilmiah tidak menyenangkan yang pemerintah AS, FDA, dan Big Pharma harap masyarakat tak pernah menyadarinya.
  7. Sekalipun vaksin flu babi betul-betul bekerja, secara matematis bila setiap orang di sekitar Anda divaksin, Anda tak perlu menerimanya! (sebab ia tidak bisa menyebar melalui populasi di mana Anda tinggal). Jadi sekalipun Anda mempercayai vaksin, yang Anda butuhkan hanya mendorong teman-teman Anda untuk divaksin.
  8. Perusahaan obat menghasilkan miliaran dolar dari produksi vaksin flu babi. Uang itu keluar dari dompet Anda – sekalipun Anda tidak diinjeksi – karena semuanya dibayar oleh pembayar pajak.
  9. Ketika orang-orang mulai mati dalam jumlah besar akibat flu babi, orang yang tersisa akan yakin bahwa banyak dari mereka yang mati adalah orang-orang yang divaksin flu babi. Para dokter akan memberi alasan dengan logika khas Big Pharma mereka: “Jumlah yang selamat jauh lebih besar jumlah yang mati.” Tentu saja, jumlah “yang selamat” sama sekali fiksi…khayalan…dan hanya ada dalam kepala kacau mereka.

10.  Pusat vaksin flu babi yang akan muncul di seluruh dunia dalam bulan-bulan mendatang sama sekali tidak berguna: mereka akan menyediakan sebuah cara mudah untuk mengidentifikasi orang-orang sangat bodoh dalam jumlah besar. (Sayang tak ada semacam blue dye (celup biru) yang bisa kita bubuhkan pada mereka untuk  referensi di masa mendatang…)

Lotere, mereka bilang, adalah pajak atas orang-orang yang tidak bisa matematika. Demikian pula halnya, vaksin flu adalah pajak atas orang-orang yang tidak mengerti kesehatan.

Tentang penulis: Mike Adams adalah penulis kesehatan dan pionir teknologi alami dengan minat kuat dalam kesehatan pribadi, lingkungan, dan kekuatan alam untuk membantu kita sembuh. Dia telah menulis dan mempublikasikan ribuan artikel, wawancara, panduan konsumen, dan buku mengenai topik-topik seperti kesehatan dan lingkungan, menjangkau jutaan pembaca dengan informasi yang menyelamatkan nyawa dan memperbaiki kesehatan pribadi di seluruh dunia. Adams adalah jurnalis independen terpercaya yang tidak menerima uang atau bayaran promosi untuk menulis tentang produk-produk perusahaan lain. Pada 2007, Adams meluncurkan EcoLED, penghasil lampu LED hemat energi yang sangat mengurangi emisi CO2. Dia juga merupakan pionir teknologi terkemuka dan mendirikan sebuah perusahaan software pada 1993 yang mengembangkan software HTML email newsletter yang saat ini menggerakkan sistem subscription NaturalNews. Sekarang ini, Adams merupakan direktur eksekutif Consumer Wellness Center, 501(c)3 nirlaba, dan mengerjakan hobi seperti seperti Pilate, Capoeira, nature macrophotography, berkebun organik. Dikenal di internet sebagai ‘Health Ranger’, Adams membagi prinsip moral, pernyataan misi, dan statistik kesehatan pribadinya di www.healthranger.org.

Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung

Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO Memperingatkan Pandemi
Oleh: Sorcha Faal
22 Mei 2005
(Sumber: www.whatdoesitmean.com)

Berita menyedihkan menghampiri kita hari ini, yaitu terbunuhnya salah seorang ilmuwan periset terkemuka dunia lainnya dalam keadaan misterius, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Associated Press News Service dalam artikel mereka berjudul “Murder of prominent doctors remains a mystery” yang menyatakan, “Polisi telah menemukan dua kartu kredit yang diyakini dicuri ketika pimpinan pengobatan nuklir di San Fransisco General Hospital itu ditikam hingga tewas di rumahnya, tapi selain dari itu mereka tidak mendapat petunjuk. Dr. Robert J. Lull ditemukan di lantai persis di sebelah dalam pintu rumahnya pada hari Kamis, setelah pihak rumah sakit mengutus asistennya untuk mencarinya. Polisi percaya serangan di rumahnya yang berada di Diamond Heights terjadi pada Rabu malam, tapi tak ada tanda-tanda masuk secara paksa ataupun perlawanan.” (www.mercurynews.com/mld/mercurynews/news/local/states/california/northern_california/11706193.htm)

Dr. Lull Robert J. Lull MD juga merupakan Komisioner South Western Low Level Radioactive Waste Compact, Ketua Scientific Advisory Panel on Nuclear Medicine, dan Kepala California Medical Association.

Sebagai salah satu periset terkemuka dunia dalam sains baru Radiovirotherapy, Dr. Lull direncanakan mempresentasikan temuan-temuan terbarunya di hadapan Pertemuan Tahunan ke-52 Society of Nuclear Medicine Juni 18-22 di Metro Toronto Convention Centre mengenai studinya atas efek-efek pengubahan virus flu dalam pengobatan kanker.

Kegemparan besar timbul di komunitas ilmiah dunia mengenai bidang baru Radiovirotheraphy ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari American Association for Cancer Research berjudul “Turning Viruses into Allies Against Cancer with Radiovirotheraphy” yang menyebutkan, “Bagi sebagian besar orang, penyebutan kata “virus” menimbulkan ingatan tentang sakit, demam, dan beragam tingkat penderitaan. Tapi pada tahun-tahun belakangan, para ilmuwan telah mencoba mengubah musuh lama medis ini menjadi sekutu dalam memerangi kanker. Melalui rekayasa genetika, virus-virus diprogram ulang untuk memanfaatkan kemampuan alami mereka dalam menginfiltrasi, menyita, mereplikasi diri, dan menghancurkan, tapi hanya di sel tumor dan tidak di sekitar jaringan yang sehat. Beberapa dari virus “oncolytic” (pembunuh kanker) ini sedang dalam berbagai tahap pengembangan, termasuk modifikasi virus penyebab campak dan virus herpes simplex, yang bertanggung jawab atas lepuh bibir yang dikenal sebagai cold sore (luka dekat mulut akibat demam-penj).” (http://interactive.snm.org/index.cfm?PageID=3876&RPID=971)

Kematian Dr. Lull juga menambah daftar ilmuwan hilang dan tewas yang terus meningkat, yang semuanya terkait dengan riset mengenai virus, khususnya virus-virus yang baru muncul hasil modifikasi manusia.

Berita kematian ilmuwan periset terkemuka dunia ini juga muncul ketika China baru saja mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO memperingatkan dunia untuk bersiap-siap menghadapi pandemi flu, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Canadian News Service dalam artikel mereka berjudul “Get ready for flu pandemic – WHO” yang menyebutkan:

“WHO mendesak negara-negara untuk segera melakukan tindakan persiapan pandemi flu setelah lembaga itu merilis sebuah laporan yang menguraikan perubahan menggelisahkan pada virus H5N1 yang menyebar di Asia. Di antara temuan mutakhirnya adalah bukti perubahan susunan genetik virus secara sedmikian rupa sehingga dapat membuat H5N1 beradaptasi lebih baik untuk menyebar di antara manusia. Selain itu, laporan tersebut mendokumentasikan sebuah kasus di mana virus memperlihatkan resistensi parsial terhadap obat utama yang dicadangkan negara-negara kaya dunia untuk memeranginya, yaitu oseltamivir. Itu menimbulkan pertanyaan tentang apakah strain virus yang resisten terhadap oseltamivir bisa berkembang biak dan menyebar. Laporan tersebut memperhatikan skenario ini, seandainya terjadi, akan ada “implikasi signifikan atas pencegahan dan kontrol H5N1….” (http://www.canoe.ca/NewsStand/EdmontonSun/News/2005/05/19/1046734-sun.html)

Barangkali yang paling menyusahkan adalah bahwa dengan kehilangan ilmuwan-ilmuwan ini satu-satunya persiapan yang bisa dilakukan oleh manusia adalah penguatan sistem imunitas mereka sendiri, tapi bagi orang-orang Barat ini hampir mustahil lantaran ada banyaknya makanan modifikasi genetik yang mereka konsumsi, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Slate News Service dalam artikel mereka berjudul “How Much of Our Food is Bioengineered?” yang menyebutkan:

“Kira-kira 76 persen panen kacang kedelai Amerika tahun lalu adalah modifikasi genetis, serta 32 persen untuk jagung. (Beberapa memperkirakan angka untuk jagung hampir 50 persen.) Sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang terbiasa membaca label, produk kacang kedelai dan jagung tersebar di rak-rak toko pangan, menyajikan segala sesuatu mulai dari Pop-Tarts hingga burger vegetarian hingga sup tomato Campbell (yang mencatatkan “sirup jagung berfruktosa tinggi” sebagai bahan utama). Tak ada lembaga pemerintah yang membuat statistik akurat, tapi angka perkiraan populer di kalangan periset universitas adalah bahwa sekitar 70 persen makanan olahan mengandung bahan modifikasi genetis. Mengingat bahwa sekitar 90 sen dolar yang dihabiskan di supermarket dibelanjakan pada makanan olahan, kemungkinannya Anda telah mengkonsumsi makanan modifikasi genetis tanpa disadari sejak pertengahan 1990-an, ketika mereka mulai bermunculan di toko-toko.” (http://slate.msn.com/id/2083482/)

Bahaya ekstrim terhadap kesehatan dan sistem imun mereka akibat mengkonsumsi makanan modifikasi genetis ini juga dirahasiakan dari mereka melalui penggunaan laporan-laporan rahasia, bukan publik, sebagaimana bisa kita baca laporan dari British Independent News Service dalam artikel mereka berjudul “Revealed: health fears overs secret study into GM food” yang menyebutkan:

“Tikus yang diberi makanan yang kaya akan jagung modifikasi genetis mengalami abnormalitas pada organ internal dan perubahan pada darah mereka, menimbulkan kekhawatiran bahwa manusia boleh jadi terpengaruh dengan memakan makanan modifikasi genetis. The Independent on Sunday hari ini bisa mengungkap detail riset rahasia yang dijalankan oleh Monsanto, raksasa makanan modifikasi genetis, yang menunjukkan bahwa tikus yang diberi makan jagung modifikasi mempunyai ginjal lebih kecil serta pergantian dalam komposisi darah mereka.” (http://news.independent.co.uk/world/science_technology/story.jsp?story=640430)

Membingungkan semua standar logika manusia, pengenalan makanan modifikasi genetis kepada sistem pertanian dunia, dan tubuh manusia, dianggap aman karena tidak ada studi yang memperlihatkan kerusakan ekologis atau manusia. Namun, sejumlah studi yang tengah berjalan, seperti yang dilakukan secara rahasia seperti disebutkan barusan, menunjukkan semakin banyak bahaya ekstrimnya, dan, tak seperti obat-obatan yang harus melalui berdekade-dekade riset dan uji medis, makanan dan panen modifikasi genetis tak memerlukan tindakan ketat sebelum diperkenalkan kepada masyarakat yang tak tahu dan tak curiga.

Dengan kematian seorang ilmuwan dunia lainnya, bahaya Pandemi Flu yang terus tumbuh serta pemerintah Barat dan industri makanan yang mengizinkan peracunan warga mereka melalui makanan modifikasi genetis, ada bijaknya bagi masyarakat Barat ini untuk mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh binatang mereka sendiri yang tidak mau memakan makanan jenis ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Institute of Science in Society dalam artikel mereka berjudul “Food Quality? What’s That?” yang menyebutkan:

“Penelitian terbaru ini mengkonfirmasikan dan memperluas review komprehensif 150 studi sebelumnya, yang dilakukan oleh periset di Federal Institute for Health Protection of Consumers and Veterinary Medicine di Berlin, Jerman, yang memperlihatkan bahwa binatang memang lebih menyukai produk organik.” (http://www.i-sis.org.uk/FoodQuality.php)

©May 22, 2005, EU and US all rights reserved.

[Catatan editor: pemerintah AS secara aktif berusaha menemukan, dan mendiamkan, setiap dan semua opini tentang AS kecuali yang datang dari pemerintah berwenang dan/atau sumber terafiliasi, di mana kami bukan salah satunya. Kami tidak mengizinkan wawancara, dan kami hanya memberikan sedikit informasi pribadi mengenai kontributor kami, atau sumber mereka, demi melindungi keamanan mereka.]

Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung

Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO Memperingatkan Pandemi
Oleh: Sorcha Faal
22 Mei 2005
(Sumber: www.whatdoesitmean.com)

Berita menyedihkan menghampiri kita hari ini, yaitu terbunuhnya salah seorang ilmuwan periset terkemuka dunia lainnya dalam keadaan misterius, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Associated Press News Service dalam artikel mereka berjudul “Murder of prominent doctors remains a mystery” yang menyatakan, “Polisi telah menemukan dua kartu kredit yang diyakini dicuri ketika pimpinan pengobatan nuklir di San Fransisco General Hospital itu ditikam hingga tewas di rumahnya, tapi selain dari itu mereka tidak mendapat petunjuk. Dr. Robert J. Lull ditemukan di lantai persis di sebelah dalam pintu rumahnya pada hari Kamis, setelah pihak rumah sakit mengutus asistennya untuk mencarinya. Polisi percaya serangan di rumahnya yang berada di Diamond Heights terjadi pada Rabu malam, tapi tak ada tanda-tanda masuk secara paksa ataupun perlawanan.” (www.mercurynews.com/mld/mercurynews/news/local/states/california/northern_california/11706193.htm)

Dr. Lull Robert J. Lull MD juga merupakan Komisioner South Western Low Level Radioactive Waste Compact, Ketua Scientific Advisory Panel on Nuclear Medicine, dan Kepala California Medical Association.

Sebagai salah satu periset terkemuka dunia dalam sains baru Radiovirotherapy, Dr. Lull direncanakan mempresentasikan temuan-temuan terbarunya di hadapan Pertemuan Tahunan ke-52 Society of Nuclear Medicine Juni 18-22 di Metro Toronto Convention Centre mengenai studinya atas efek-efek pengubahan virus flu dalam pengobatan kanker.

Kegemparan besar timbul di komunitas ilmiah dunia mengenai bidang baru Radiovirotheraphy ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari American Association for Cancer Research berjudul “Turning Viruses into Allies Against Cancer with Radiovirotheraphy” yang menyebutkan, “Bagi sebagian besar orang, penyebutan kata “virus” menimbulkan ingatan tentang sakit, demam, dan beragam tingkat penderitaan. Tapi pada tahun-tahun belakangan, para ilmuwan telah mencoba mengubah musuh lama medis ini menjadi sekutu dalam memerangi kanker. Melalui rekayasa genetika, virus-virus diprogram ulang untuk memanfaatkan kemampuan alami mereka dalam menginfiltrasi, menyita, mereplikasi diri, dan menghancurkan, tapi hanya di sel tumor dan tidak di sekitar jaringan yang sehat. Beberapa dari virus “oncolytic” (pembunuh kanker) ini sedang dalam berbagai tahap pengembangan, termasuk modifikasi virus penyebab campak dan virus herpes simplex, yang bertanggung jawab atas lepuh bibir yang dikenal sebagai cold sore (luka dekat mulut akibat demam-penj).” (http://interactive.snm.org/index.cfm?PageID=3876&RPID=971)

Kematian Dr. Lull juga menambah daftar ilmuwan hilang dan tewas yang terus meningkat, yang semuanya terkait dengan riset mengenai virus, khususnya virus-virus yang baru muncul hasil modifikasi manusia.

Berita kematian ilmuwan periset terkemuka dunia ini juga muncul ketika China baru saja mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO memperingatkan dunia untuk bersiap-siap menghadapi pandemi flu, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Canadian News Service dalam artikel mereka berjudul “Get ready for flu pandemic – WHO” yang menyebutkan:

“WHO mendesak negara-negara untuk segera melakukan tindakan persiapan pandemi flu setelah lembaga itu merilis sebuah laporan yang menguraikan perubahan menggelisahkan pada virus H5N1 yang menyebar di Asia. Di antara temuan mutakhirnya adalah bukti perubahan susunan genetik virus secara sedmikian rupa sehingga dapat membuat H5N1 beradaptasi lebih baik untuk menyebar di antara manusia. Selain itu, laporan tersebut mendokumentasikan sebuah kasus di mana virus memperlihatkan resistensi parsial terhadap obat utama yang dicadangkan negara-negara kaya dunia untuk memeranginya, yaitu oseltamivir. Itu menimbulkan pertanyaan tentang apakah strain virus yang resisten terhadap oseltamivir bisa berkembang biak dan menyebar. Laporan tersebut memperhatikan skenario ini, seandainya terjadi, akan ada “implikasi signifikan atas pencegahan dan kontrol H5N1….” (http://www.canoe.ca/NewsStand/EdmontonSun/News/2005/05/19/1046734-sun.html)

Barangkali yang paling menyusahkan adalah bahwa dengan kehilangan ilmuwan-ilmuwan ini satu-satunya persiapan yang bisa dilakukan oleh manusia adalah penguatan sistem imunitas mereka sendiri, tapi bagi orang-orang Barat ini hampir mustahil lantaran ada banyaknya makanan modifikasi genetik yang mereka konsumsi, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Slate News Service dalam artikel mereka berjudul “How Much of Our Food is Bioengineered?” yang menyebutkan:

“Kira-kira 76 persen panen kacang kedelai Amerika tahun lalu adalah modifikasi genetis, serta 32 persen untuk jagung. (Beberapa memperkirakan angka untuk jagung hampir 50 persen.) Sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang terbiasa membaca label, produk kacang kedelai dan jagung tersebar di rak-rak toko pangan, menyajikan segala sesuatu mulai dari Pop-Tarts hingga burger vegetarian hingga sup tomato Campbell (yang mencatatkan “sirup jagung berfruktosa tinggi” sebagai bahan utama). Tak ada lembaga pemerintah yang membuat statistik akurat, tapi angka perkiraan populer di kalangan periset universitas adalah bahwa sekitar 70 persen makanan olahan mengandung bahan modifikasi genetis. Mengingat bahwa sekitar 90 sen dolar yang dihabiskan di supermarket dibelanjakan pada makanan olahan, kemungkinannya Anda telah mengkonsumsi makanan modifikasi genetis tanpa disadari sejak pertengahan 1990-an, ketika mereka mulai bermunculan di toko-toko.” (http://slate.msn.com/id/2083482/)

Bahaya ekstrim terhadap kesehatan dan sistem imun mereka akibat mengkonsumsi makanan modifikasi genetis ini juga dirahasiakan dari mereka melalui penggunaan laporan-laporan rahasia, bukan publik, sebagaimana bisa kita baca laporan dari British Independent News Service dalam artikel mereka berjudul “Revealed: health fears overs secret study into GM food” yang menyebutkan:

“Tikus yang diberi makanan yang kaya akan jagung modifikasi genetis mengalami abnormalitas pada organ internal dan perubahan pada darah mereka, menimbulkan kekhawatiran bahwa manusia boleh jadi terpengaruh dengan memakan makanan modifikasi genetis. The Independent on Sunday hari ini bisa mengungkap detail riset rahasia yang dijalankan oleh Monsanto, raksasa makanan modifikasi genetis, yang menunjukkan bahwa tikus yang diberi makan jagung modifikasi mempunyai ginjal lebih kecil serta pergantian dalam komposisi darah mereka.” (http://news.independent.co.uk/world/science_technology/story.jsp?story=640430)

Membingungkan semua standar logika manusia, pengenalan makanan modifikasi genetis kepada sistem pertanian dunia, dan tubuh manusia, dianggap aman karena tidak ada studi yang memperlihatkan kerusakan ekologis atau manusia. Namun, sejumlah studi yang tengah berjalan, seperti yang dilakukan secara rahasia seperti disebutkan barusan, menunjukkan semakin banyak bahaya ekstrimnya, dan, tak seperti obat-obatan yang harus melalui berdekade-dekade riset dan uji medis, makanan dan panen modifikasi genetis tak memerlukan tindakan ketat sebelum diperkenalkan kepada masyarakat yang tak tahu dan tak curiga.

Dengan kematian seorang ilmuwan dunia lainnya, bahaya Pandemi Flu yang terus tumbuh serta pemerintah Barat dan industri makanan yang mengizinkan peracunan warga mereka melalui makanan modifikasi genetis, ada bijaknya bagi masyarakat Barat ini untuk mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh binatang mereka sendiri yang tidak mau memakan makanan jenis ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Institute of Science in Society dalam artikel mereka berjudul “Food Quality? What’s That?” yang menyebutkan:

“Penelitian terbaru ini mengkonfirmasikan dan memperluas review komprehensif 150 studi sebelumnya, yang dilakukan oleh periset di Federal Institute for Health Protection of Consumers and Veterinary Medicine di Berlin, Jerman, yang memperlihatkan bahwa binatang memang lebih menyukai produk organik.” (http://www.i-sis.org.uk/FoodQuality.php)

©May 22, 2005, EU and US all rights reserved.

[Catatan editor: pemerintah AS secara aktif berusaha menemukan, dan mendiamkan, setiap dan semua opini tentang AS kecuali yang datang dari pemerintah berwenang dan/atau sumber terafiliasi, di mana kami bukan salah satunya. Kami tidak mengizinkan wawancara, dan kami hanya memberikan sedikit informasi pribadi mengenai kontributor kami, atau sumber mereka, demi melindungi keamanan mereka.]

Periset Top Flu Burung Asal Prancis Dibunuh Secara Brutal di London

Oleh: Sorcha Faal
4 Juli 2008
(Sumber: www.whatdoesitmean.com)

General Directorate for External Security (DGSE) Prancis hari ini melaporkan bahwa salah satu dari periset top avian flu mereka, Laurent Bonomo, bersama rekan sekamar Prancis-nya, Gabriel Ferez (keduanya terdapat dalam gambar di atas), telah dibunuh secara brutal di London, sebagaimana dapat kita baca dari laporan Times Online News Service Inggris:

“Kedua pelajar biokimia berbakat dan saling bersahabat, Laurent Bonomo dan Gabriel Ferez, datang ke London untuk mengembangkan ketrampilan mereka sebagai spesialis penyakit menular dan environmental engineering.

Keduanya justru menjadi korban sebuah serangan yang, bahkan dengan standar pemerangan terhadap penyakit kejahatan berpisau di kota, termasuk dalam insiden paling mengerikan dalam ingatan.

Jasad Tuan Bonomo dan Tuan Ferez, keduanya 23 tahun, ditemukan pada Minggu malam, terikat, mulut tersumbat, dan dengan ratusan luka tikaman dan luka lainnya. Mereka disiksa dan dipukuli berulang-ulang dengan alat tumpul.

Kemarin, para petugas menggambarkan pembunuhan itu, yang terjadi di flat Tuan Bonomo di tenggara London, sebagai pembunuhan paling kejam yang pernah mereka lihat.

Tuan Bonomo, pelajar yang mempelajari protein penyebab penyakit menular, ditikam 196 kali, di mana setengah dari lukanya itu dikenakan setelah dia mati. Tuan Ferez, yang berharap menjadi ahli bahan bakar ramah lingkungan, memiliki 47 luka terpisah.” (www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/crime/article4265622.ece)

Yang paling menarik dari laporan ini bukan hanya pembunuhan brutal atas Tuan Bonomo, tapi bidang studi yang dia mulai di Imperial College, London, salah satu institusi pertama dunia yang menginvestigasi Virus Avian Flu H5N1 yang mematikan dan diklaim oleh Pemerintah Indonesia ‘di-engineer’ oleh AS.

Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadillah Supari, telah bergabung dengan daftar pejabat pemerintah yang terus bertambah yang meminta penutupan ‘segera’ United States Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) yang berada di negara mereka, dan menyatakan:

“Laboratorium ini telah berada di Indonesia tanpa surat izin selama lebih dari 40 tahun untuk riset penyakit. Berbagai tipe virus dari Sri Lanka, Vietnam, dan Indonesia telah dipelajari di laboratorium ini,” kata Supari.

Sang menteri curiga bahwa hasil riset itu digunakan untuk target misterius dan berbahaya dan dia juga sangat prihatin atas ketidakmampuan pemerintah menjaga negara dari ancaman kekuatan asing yang telah berada di dalam negeri. (www.antara.co.id/en/arc/2008/6/28/call-for-closure-of-namru-2-in-indonesia-increasing/)

Karena Indonesia menjadi negara di dunia yang paling terpengaruh oleh virus flu burung, dengan 109 warganya dilaporkan tewas, mereka menolak menyerahkan sampel flu burung mereka kepada AS, dan justru memberikannya kepada Inserm Medical Institute prestisius di Prancis, di mana dari institusi itulah Tuan Bonomo sebagai pelajar dikirim ke Imperial College di London untuk menginvestigasi lebih jauh bidang risetnya.

Laporan ini lebih jauh berspekulasi bahwa (para) pembunuh Laurent Bonomo dan Gabriel Ferez ‘terpacu beraksi’ oleh pemeriksaan mereka terhadap laptop milik Tuan Bonomo yang dicuri dari flat-nya minggu lalu.

Ketika ilmuwan-ilmuwan top dunia kembali mengeluarkan peringatan bahwa dunia berada ‘dalam resiko’ pandemi avian flu, pembunuhan Tuan Bonomo, dan temannya, sebenarnya tidak mengejutkan karena lebih dari 80 periset top dunia yang menginvestigasi avian flu dan penyakit-penyakit menular telah terbunuh dalam 4 tahun belakangan.

Yang tidak diketahui masyarakat Barat adalah bahwa tidak ada proteksi terhadap virus flu burung mematikan, dan salah satu eksperimen terbaru dalam pengembangan vaksin berakhir dengan kematian lebih dari 20 orang tunawisma Polandia yang dibayar untuk ambil bagian dalam eksperimen semacam itu.

Yang lebih buruk bagi rakyat Amerika adalah bahwa pemerintahan mereka merencanakan untuk warganya penyelamatan nyawa dengan obat antivirus Tamiflu, yang telah dilarang oleh Jepang karena menyebabkan kematian bunuh diri pada remaja.

Dan di sebuah dunia yang semakin ganjil, dan berbahaya, setiap menit, seseorang hanya bisa bertanya-tanya bagaimana masyarakat Amerika akan bereaksi jika mengetahui fakta bahwa miliaran dolar yang dibelanjakan pemerintah mereka untuk Tamiflu sebenarnya masuk ke kantong salah satu Pemimpin Perang Top mereka, mantan Menteri Pertahanan, Donald Rumsfeld, dan juga merupakan investor utama di perusahaan yang memproduksi obat bunuh diri dan mematikan ini.

©July 4, 2008, EU and US all rights reserved.

[Catatan editor: pemerintah AS secara aktif berusaha menemukan, dan mendiamkan, setiap dan semua opini tentang AS kecuali yang datang dari pemerintah berwenang dan/atau sumber terafiliasi, di mana kami bukan salah satunya. Kami tidak mempersilahkan wawancara, dan kami hanya memberikan sedikit informasi pribadi mengenai kontributor kami, atau sumber mereka, demi melindungi keamanan mereka.]

Daftar Ilmuwan yang Tewas

(Sumber: Jerry D. Gray, “Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia”, Jakarta: Sinergi, Cet. I, Januari 2009, hal. 198-215)

Anda harus bertanya-tanya mengapa (kira-kira 100) ilmuwan terkenal dunia tewas secara misterius baru-baru ini. Sebagian dari mereka sedang bekerja bagi kesejahetraan umat manusia dengan melakukan penelitian untuk menemukan alat-alat yang dapat menghadang senjata biologi dan membantu menolong orang-orang dari kejahatan senjata penghancur massal itu. Sebagian lagi dari mereka memang tidak.

1. Dr. Mario Alberto Vargas Olvera. Meninggal dunia 6 Oktober 2007, karena beberapa luka benda-benda tumpul di kepala dan lehernya. Polisi mengkategorikan sebagai pembunuhan. Ia ditemukan tewas di rumahnya pada usia 52 tahun. Ia adalah seorang ahli biologi yang terkenal secara nasional dan internasional.

2. Lee Jong-woo. Meninggal dunia 22 Mei 2006, disebabkan adanya gumpalan darah pada otaknya (caused by a blood cuts in his brain). Lee memimpin perjuangan organisasinya untuk melawan ancaman global flu burung, AIDS, dan penyakit-penyakit menular lainnya. Menjadi Direktur Jenderal WHO sejak 2003, Lee adalah pejabat internasional ternama di negaranya. Seorang Korea Selatan yang ramah, yang senang menyegarkan acara konferensi persnya dengan guyonan-guyonan, sangat atletis dan tidak memiliki riwayat sakit. Ia berusia 61 tahun ketika meninggal dunia.

3. Leonid Strachunsky. Meninggal dunia 8 Juni 2005 setelah dihajar di bagian kepala dengan botol sampanye. Strachunsky spesialis dalam menciptakan mikroba “yang resisten” teradap senjata biologi. Strachunsky ditemukan tewas di kamar hotelnya di Moskow, di mana ia baru saja tiba dari Smolensk menuju Amerika Serikat. Para penyelidik berspekulasi bahwa pembunuhan Strachunsky berkaitan dengan wabah Hepatitis A yang menimpa 500 orang Rusia di wilayah Tver dan telah mencapai Smolensk, dan sebagian percaya bahwa hal itu disebabkan oleh senjata biologi.

4. Robert J. Lull. Meninggal dunia 19 Mei 2005 pada usia 66 tahun “karena tusukan yang banyak”. Lepas dari masalah hilangnya kendaraang Lull dan pencurian kartu kreditnya, Inspektur bagian pembunuhan, Holly Pera, mengatakan bahwa para penyelidik menganggap bahwa motif perampokan bukanlah satu-satunya motif terbunuhnya Lull. Dia mengatakan bahwa seorang perampok umumnya akan mengambil lebih banyak lagi benda-benda berharga di rumah korban ketimbang apa yang telah diambil oleh pembunuhnya. Lull adalah seorang kepala bidang obat-obatan nuklir di San Fransisco General Hospital sejak 1990 dan juga seorang profesor radiologi di UCSF. Ia adalah mantan Kepala the American College of Nuclear Physicians dan the San Fransisco Medical Society dan juga bertindak sebagai editor jurnal masyarakat medis, San Fransisco Medicine, sejak 1997 hingga 1999. Lee Lull mengatakan bahwa mendiang suaminya adalah seorang pendukung kekuatan nuklir dan senang mendiskusikan posisi politiknya.

5. Todd Kauppila. Meninggal dunia 8 Mei 2005, di Rumah Sakit Los Alamos, dan menurut kantor penguji kesehatan negara bagian disebabkan oleh hemorrhagic pancreatitis. Fotonya tidak tersedia karena sifat pekerjaannya yang sangat rahasia. Kematiannya terjadi dua hari setelah ia secara luas menyatakan kemgembiraannya atas perginya direktur laboratorium. Kauppila sebelumnya dipecat oleh Direkturnya, Pete Nanos, pada 23 September 2004, karena skandal keamanan yang kemudian diketahui direkayasa untuk memfitnahnya dan diketahui smaa sekali tidak benar (kejadian yang aneh untuk seorang karyawan yang berharga). Ia berusia 41 tahun saat meninggal.

6. David Banks. Meninggal dunia 8 Mei 2005; bertempat tinggal di North Queensland. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat bersama 14 lainnya. Tidak ada bukti kesalahan mekanis dan perekam pesawat turbo berkursi 15 ini ‘secara misterius’ dimatikan dan tidak dapat memberikan data (ini bukanlah prosedur penerbangan yang normal). Pada saat kematiannya, ia baru berusia 55 tahun. Banks dikenal sebagai seorang Agro Genius yang telah menciptakan perangkap nyamuk bagi sapi. Banks adalah ilmuwan utama dengan otoritas karantina, Biosecurity Australia, dan sangat terlibat dalam usaha menjaga orang-orang Australia dari penyakit-penyakit dan hama-hama yang tidak diharapkan. Sebagian besar hasil pekerjaan Dr. Banks berhubungan dengan pencegahan penyakit-penyakit yang berpotensi menghancurkan agar tidak masuk ke Australia.

7. Dr. Douglas James Passaro. Meninggal dunia 18 April 2005 karena sebab yang “tidak diketahui” di Oak Park, Illinois. Dr. Passaro adalah seorang ahli epidemiologi yang cemerlang yang ingin membuka rahasia bakteri berbentuk spiral yang menyebabkan penyakit-penyakit perut. Ia seorang profesor yang menantang siswa-siswanya dengan latihan bioterorisme yangs esungguhnya. Pada saat meninggal, ia baru saja berusia 43 tahun.

8. Geetha Angara. Meninggal dunia 8 Februari. Seorang ahli kimia yang pernah hilang ini ditemukan tewas di dalam sebuah tangki di kawasan pengolahan air di Totowa, New Jersey. Angara, 43 tahun, berasal dari Holmdel, terakhir kali terlihat pada malam 28 Februari melakukan pengujian kualitas air di kawasan Passaic Valley Water Commission di Totowa, di mana ia telah mengabdi selama 12 tahun. Para penyelam menemukan tubuhnya di dalam dasar tangki kosong sedalam 35 kaki. Para penyelidik percaya bahwa kematiannya merupakan aksi bunuh diri. Angara seorang ahli kimia yang meraih gelar doktor dari Universitas New York, menikah dan memiliki tiga orang anak.

9. Jeong H. Im. Meninggal dunia 7 Januari 2005. Seorang Korea, Jeong H. Im, tewas karena tusukan yang bertubi-tubi di dadanya sebelum para pemadam kebakaran menemukan tubuhnya di bagasi sebuah mobil yang sedang terbakar, di garasi Maryland Avenue lantai tiga. Jeong adalah seorang pensiunan profesor asisten peneliti di Universitas Missouri/Columbia dan seorang ahli kimia protein utama. “Seorang yang dicurigai” digambarkan oleh polisi menggunakan semacam topeng, kemungkinan topeng pelukis, terlihat di sekitar wilayah garasi Maryland Avenue sekitar waktu kematiannya. Pada saat kematiannya, ia berusia 72 tahun.

10. Darwin Kenneth Vest. Lahir pada 22 April 1951. Ia seorang ahli entomologis terkenal, seorang ahli di bidang hobo spiders (laba-laba hobo) dan laba-laba beracun lainnya, serta ular. Darwin menghilang secara misterius pada suatu pagi 3 Juni 1999, pada saat ia sedang berjalan-jalan pagi di Downtown Idaho Falls, Idaho, USA. Keluarga beranggapan suatu tindakan curang berada di balik menghilangnya. Suatu perayaan dilakukan di Idaho Falls dan Moskow untuk memperingati satu tahun hilangnya. Dalam acara tersebut diperlihatkan hasil-hasil kerjanya dan surat-surat terima aksih dari anak-anak dan guru-guru. Darwin dinyatakan meninggal dunia secara hukum pada minggu pertama bulan Maret 2004.

11. Taleb Ibrahim al-Daher. Meninggal dunia 21 Desember 2004. Al-Daher adalah seorang ilmuwan nuklir yang ditembak hingga tewas oleh seorang penembak tak dikenal. Ia sedang dalam perjalanan ke kantornya di Diyala University saat seseorang menembak ke arah mobilnya saat menyeberangi jembatan di Baqouba, 57 km sebelah timur daya Baghdad. Kendaraannya keluar dari jembatan dan masuk ke sungai Khrisan. Al-Daher yang merupakan seorang profesor di sebuah universitas lokal, dipindahkan dari mobil yang tenggelam, dilarikan ke rumah sakit Baqouba, dan dinyatakan meninggal dunia.

12. John R. La Montagne. Meninggal dunia 2 November 2004 saat berada di Meksiko, pertama kali dinyatakan meninggal tanpa sebab; selanjutnya kematiannya disebut sebagai akibat dari emboli paru-paru. Dr. Montagne Ph.D. adalah kepala unit Penyakit-penyakit Menular AS di bawah Tommie Thompson (Deputi Direktur). Ia ahli di bidang program kerja AIDS, Mikrobiologi, dan penyakit-penyakit menular.

13. Matthew Allison. Meninggal dunia 13 Oktober 2004 karena ledakan fatal pada mobil yang diparkir di Osceola County, Florida Wal Mart store. Ia berusia 32 tahun. Ini bukan suatu kecelakaan, para saksi mengatakan bahwa Allison meninggalkan toko pada pukul sekitar 11 malam dan memasuki mobilnya yang kemudian meledak. Para penyelidik mengatakan bahwa mereka menemukan log Duraflame dan kaleng-kaleng gas propane di kursi depan. Allison memperoleh gelar sebagai ahli biologi molekuler dan bioteknologi.

14. Profesor John Clark. Meninggal dunia 12 Agustus 2004. Ia ditemukan tergantung di rumah peristirahatannya. Ia seorang ahli dalam ilmu-ilmu hewan dan bioteknologi di mana ia menciptakan suatu teknik untuk modifikasi genetika binatang ternak. Hasil kerjanya mengarahkan pada kelahiran Dolly the sheep pada tahun 1999, binatang pertama yang dihasilkan dari pengkloningan ternak dewasa. Ia adalah kepala laboratorium yang menciptakan Dolly sheep.

15. Dr. John Badwey. Meninggal dunia 21 Juli 2004. Dr. Badwey adalah seorang ilmuwan dan secara tak sengaja menjadi politisi. Ia menentang program pembuangan kotoran melalui saluran air, yang dapat membuat manusia terkena kotoran. Secara tiba-tiba dan misterius, ia menderita gejala-gejala yang mirip pneumonia dan meninggal dunia dua minggu kemudian. Dr. Badwey adalah seorang ahli biokimia di Sekolah Kedokteran Harvard, dengan spesialisasi penyakit-penyakit menular.

16. Dr. Bassem al-Mudares. Meninggal dunia 21 Juli 2004. Tubuhnya yang telah termutilasi ditemukan di kota Samarra, Irak. Dia seorang doktor kimia dan mengalami siksaan sebelum dibunuh. Dia adalah seorang karyawan perusahaan kimia yang memiliki gelar doktor.

17. Profesor Stephen Tabet. Meninggal dunia 6 Juli 2004, disebabkan oleh suatu kondisi penyakit yang tidak dikenal. Ia adalah seorang asisten profesor dan ahli epidemiologi di Universitas Washington. Dr. Tabet adalah seorang dokter HIV terkenal dan seorang peneliti yang bekerja dengan para pasien HIV dalam percobaan vaksinasi klinis bagi HIV Vaccine Trials Network (Jejaring Percobaan Vaksin HIV).

18. Dr. Larry Bustard. Meninggal dunia 2 Juli 2004 karena sebab yang tidak diketahui (unknown causes). Ia adalah seorang ilmuwan Sandia di Departemen Energi yang membantu mengembangkan suatu spray untuk membersihkan gedung kongres dan wilayah-wilayah media saat terjadi ancamana anthrax tahun 2001. Ia bekerja di Sandia National Laboratories di Albuquerque. Sebagai seorang ahli dalam bidang bioterorisme, timnya menemukan suatu teknologi yang dapat digunakan untuk melawan zat-zat kimia dan biologi jahat.

19. Edward Hoffman. Meninggal dunia 1 Juli 2004 karena sebab yang “tidak diketahui”. Hoffman adalah seorang profesor dan ilmuwan yang juga memegang posisi pimpinan di komunitas media UCLA. Ia berkarya untuk mengembangkan scanner PET manusia pertama pada tahun 1973 di Universitas Washington di St. Louis.

20. John Mullen. Meninggal dunia 29 Juni 2004 karena diracuni sejumlah besar arsenik. Ia adalah seorang ahli ilmu fisika nuklir. Ia ilmuwan peneliti nuklir yang bekerja pada McDonell Douglas. Hasil penyelidikan polisi tidak menyebutkan bagaimana Mullen dapat terkena arsenik ataupun dari mana asal arsenik tersebut. Pada saat kematiannya, ia sedang bekerja secara kontrak dengan Boeing.

21. Dr. Assefa Tulu. Meninggal dunia 24 Juni 2004. Dr. Tulu bergabung dengan departemen kesehatan pada tahun 1997 dan bekerja selama lima tahun sebagai satu-satunya ahli epidemiologi di daerahnya. Ia menciptakan suatu sistem yang dapat mendeteksi serangan bioteroris yang melibatkan virus-virus atau bakteri-bakteri. Tulu sering mengkoordinasikan usaha penyampaian keprihatinan atas kondisi kesehatan di Dallas County, seperti wabah virus Nil Barat beberapa tahun sebelumnya, dan bekerjasama dengan media untuk menginformasikan warga. Dr. Tulu ditemukan tertelungkup, tewas di kantornya. Ahli epidemiologi di Dallas County ini meninggal dunia karena serangan hemoragi.

22. Antonina Presnyakova. Meninggal dunia 25 Mei 2004. Ia adalah seorang ilmuwan Rusia yang bekerja pada laboratorium senjata biologi di Siberia. Ia tewas setelah sebuah “kecelakaan” terkena jarum yang telah dicampur dengan Ebola. Para ilmuwan dan pejabat mengatakan bahwa kecelakaan tersebut telah menimbulkan keprihatinan mengenai keselamatan, kemananan, dan kerahasiaan di State Research Center of Virology and Biotechnology (Pusat Penelitian Virologi dan Bioteknologi milik Negara Bagian), yang dikenal dengan sebutan Vector, di mana pada era Soviet mengkhususkan pada mengubah virus-virus mematikan menjadi senjata-senjata biologi. Selama ini Vector merupakan penerima bantuan utama dalam program Amerika.

23. Dr. Eugene Mallove. Meninggal dunia 14 Mei 2004. Hasil otopsi menyebutkan bahwa Mallove tewas akibat hantaman-hantaman benda tumpul di kepala dan lehernya. Ia ditemukan di ujung jalan masuk rumahnya. Ia sangat dikenal atas pengetahuannya mengenai fusi dingin. Ia baru saja mempublikasikan sebuah “surat terbuka” yang menggambarkan hasil dan tujuan dari pekerjaannya selama 15 tahun di bidang “penelitian energi baru”. Dr. Mallove yakin bahwa hanya masalah bulan, sampai dunia dapat melihat adanya alat energi bebas. (Tentunya Bush dan teman-temannya yang kaya itu tidak ingin alat ini terjual di pasaran)

24. William T. McGuire. Ditemukan tewas pada 5 Mei 2004 pada usia 39 tahun. Ia terakhir terlihat pada akhir April 2004. Tubuhnya ditemukan dalam tiga koper mengambang di teluk Chesapeake. Ia adalah profesor di New Jersey University dan seorang analis programer senior di New Jersey Institute of Technology di Newark. Ia terkenal sebagai salah seorang ahli mikrobiologi dunia dan ahli dalam pengembangan dan pengaturan fasilitas-fasilitas pengendalian biologi yang bertingkat-tingkat.

25. Mohammed Munim al-Izmerly. Meninggal dunia April 2004. Profesor kimia Irak yang terpandang ini tewas pada masa tahanan Amerika akibat hantaman keras benda tumpul secara tiba-tiba di bagian kepalanya. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana ia tewas, tapi yang pasti seseorang telah menghantamnya dari belakang, mungkin dengan balok kayu, atau dengan pistol. Mayatnya muncul di rumah mayat dan sebab kematiannya dicatat sebagai possibly with a bar or a pistol. His battered corpse turnep up at Baghdad’s morgue and the cause of death was initially recorded sebagai “tekanan pada cabang syaraf otak”. Kemudian diketahui bahwa dokter-dokter AS telah melakukan pembukaan sepanjang 20 cm pada tengkoraknya.

26. Dr. Michael Patrick Kiley. Meninggal dunia 24 Januari 2004. Dr. Kiley meninggal dunia akibat serangan jantung “besar”. Ia adalah seorang ahli Ebola dan Sapi Gila nomor satu di dunia. (Menarik untuk dicatat adalah ia memiliki hati yang baik, tapi kemudian hati itu “keluar”). Dr. Shope dan Dr. Kiley sedang bekerja untuk meng-upgrade laboratorium menjadi BSL4 di Laboratorium UTMB Galveston bagi Keamanan Dalam Negeri. Laboratorium tersebut harus cukup aman bagi patogen-patogen mematikan dari penyakit-penyakit tropikal dan menular yang baru ditemukan, maupun yang sudah berbentuk senjata biologi.

Siapapun manusia yang normal dan berpendidikan dapat melihat dengan jelas bahwa terlalu banyak ilmuwan dunia yang meninggal dalam keadaan-keadaan yang “aneh termasuk pembunuhan. Sebagian besar dari mereka yang meninggal dunia (catatan pribadi saya mencapai lebih dari 100 orang; maaf karena daftar tersebut melampaui kepasitas buku ini) dalam posisi keamanan yang tinggi, membuat senjata biologi, atau sedang bekerja untuk melindungi masyarakat dan negara-negara dari serangan biologi.

Iklan

Filed under: Waspada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 127,245 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

%d blogger menyukai ini: