Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

DANA REVOLUSI

Pasulukan Loka Gandasasmita

“Widaksana Natasasmita”
Bijaksana dan waspada dalam melihat permasalahan


Hantu Itu Bernama DANA REVOLUSI

Dana Revolusi: ”Saya Nggak Mau Belepotan Duit Panas Itu …”

SEUMPAMA hantu, Dana Revolusi oleh sebagian orang diyakini ada, sebagian yang lain menganggap tak ada. Nah, kini persoalannya, tinggal mencari siapa yang mampu menjadi ghostbuster alias penangkap hantu itu. Kita semua ingin melihat ”wajah hantu” itu!

Ternyata ada yang dengan lantang menyatakan siap membuktikan bahwa hantu bernama Dana Revolusi memang benar-benar ada, bukan  sekadar nama. Berselang sehari setelah bekas Mensesneg Sudharmono menyatakan Dana Revolusi ”tidak ada,” muncul suara yang  membantah pernyataan itu. ”Saya pastikan Dana Revolusi ada,” kata Bugi Supeno.

Bugi Supeno? Dialah purnawirawan Komisaris Besar Polisi (sekarang setingkat Kolonel), yang di zaman Orde Lama sempat menjadi  seorang menteri dan dialah salah satu pelaksana pengumpulan dana yang kini dianggap misterius itu. Bugi juga menyatakan, dia  mempunyai bukti-bukti kongkret tentang Dana Revolusi.

Kini, mungkin tak banyak yang mengenal nama Bugi Supeno, hingga ia terlupakan di hari-hari pertama Dana Revolusi menjadi berita ramai. Padahal, bapak tiga anak dan kakek seorang cucu ini adalah salah seorang tokoh yang cukup kontroversial. Mungkin dialah menteri termuda dalam sejarah Republik Indonesia. Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai Menteri ketika umurnya belum genap 33 tahun. Boleh jadi pula, bekas anggota pasukan Tentara Republik Indonesia (TRIP) BE XVII Jatim ini adalah pejabat tinggi dengan usia pensiun termuda: 35 tahun.

Pada umur yang sama, Bugi sempat pula dipilih sebagai calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Tanzania. Surat kepercayaan (credential) yang ditandatangani oleh Presiden  Soekarno, dan harus diserahkannya untuk Presiden Yulius Nyerere pun telah dikantonginya. Tapi nasib berbicara lain. Bugi ditangkap hanya tiga hari sebelum dilantik Presiden. Ia dituduh terlibat persekongkolan mendongkel pimpinan Angkatan Kepolisian RI. Bugi sempat ditahan selama delapan bulan, tanpa secuilpun proses hukum. Digugatnya Kapolri, tapi gugatan itu mental di pengadilan.

Kini Bugi sibuk sebagai pengacara. Pria kelahiran Jember, 19 November 1930, ini adalah Presidium Persatuan Pengacara RI dan Ketua LBH Veteran Jakarta. Media mewawancarai lelaki bertubuh  tegap dan segar itu di rumahnya, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu siang pekan lalu. Petikannya:

Anda menyatakan Dana Revolusi ada?

Ya. Saya kaget waktu melihat Pak Sudharmono di TV menyatakan Dana Revolusi itu tak ada. Kok, enak Pak Dharmono bilang nggak ada. Kok rakyat mau dibujuki (dibohongi), jangan dong. Dana Revolusi itu ada. Saya yang ditugasi oleh Presiden Sukarno mengumpulkan duit itu. Saya punya bukti-buktinya (Bugi mempertontonkan surat-surat bukti itu). Lalu saya teringat saat peringatan hari ABRI ke-42, ketika Presiden Soeharto menyatakan, ”Katakan yang benar itu benar, yang salah itu salah”. Nah, setelah saya baca beritanya di koran, saya katakan itu.

Lalu ?

Saya bukannya oposan. Begini, saya berbicara dalam konteks  demokrasi. Dalam alam demokrasi, beda pendapat itu biasa wajar-wajar saja. Jangan kalau yang atas bilang A, semua bawahan  dan rakyatnya bilang A bareng-bareng. Jangan dipertentangkan.  Bukannya saya oposan terhadap Pak Dharmono, wong kami sama-sama ABRI-nya, kok.

Baiklah. Bagaimana ceritanya Anda sampai terlibat dengan Dana Revolusi?

Awalnya, ya pengangkatan saya dan Brigjen Soekendro sebagai Menteri Negara Bidang Khusus Kabinet Dwikora dengan tugas istimewa. Pak Kendro bidang politik, saya bidang ekonomi. Tugas saya mengumpulkan dana untuk revolusi. Karena, menurut Presiden Soekarno, revolusi belum selesai. Antara lain, karena masih ada konfrontasi dengan Malaysia. Bung Karno menyamakan peran saya dengan Laksamana John Lie yang menyelundupkan candu ke Singapura untuk membeli senjata dan obat-obatan ketika di masa revolusi fisik.

Dananya bersumber dari mana ?

Saya menyita duit dua orang penyelundup valuta asing asal India.  Saya tawarkan denda damai. Kalau menyerahkan duitnya kepada  negara, mereka saya bebaskan. Nilainya satu miliar rupiah. Nah, setelah saya laporkan ke Bung Karno, beliau malah memerintahkan  mencarinya lagi. Katanya, ”Lho, lek ngono kowe pancen bisa.  Saiki ngene, golek maneh (Ternyata kamu memang bisa. Sekarang begini, cari lagi)”. Bung Karno kan orang gedhe, ya enak saja beliau memerintahkan saya. Ya, saja laksanakan, antara lain lewat hasil judi hwa hwe, semacam SDSB-lah. Wah, banyak yang terkumpul.

Kira-kira berapa nilai Dana Revolusi itu ?

Cukup besar. Ya, kira-kira beberapa miliar rupiah, tapi nggak  sampai satu triliun. Tapi, ini cuma yang saya kumpulkan lho. Belum termasuk yang lain-lain. Setiap saya menyetor, jumlah setoran itu berkarung-karung.

Terus…?

Saya serahkan dana itu ke Bank Indonesia, receipt-nya saya ada.  Jumlahnya dan perinciannya ada di Bank itu. Saksi penyerahan  teken semua, antara lain Menteri Kehakiman, Direktur BI dan  Salamoen (pernah Dirjen Pajak Orde Baru). Saya hati-hati dan terbuka. Saya mengharuskan semua orang untuk teken, karena saya tahu, kadang-kadang sejarah diputarbalikkan. Saya harus punya bukti atau kesaksian tertulis. Semua saya laporkan ke Bung Karno.  Sebagai polisi saya bilang pada Bung Karno, cara ini menyimpang dari hukum.

Lho, sudah sadar melanggar hukum…?

Sebagai polisi, jawaban saya, ya. Tapi, ini perintah Presiden  Tertinggi Pemimpin Besar Revolusi, ya saja jalankan, meski, terus terang, memang agak gelap soal dana itu.

Apakah dana itu termasuk pungutan beberapa macam pajak ?

Nggak. Saya nggak ikut mengumpulkan dana lewat pajak atau pungutan bioskop, misalnya. Tugas saya hanya menjalankan penyitaan.

Berapa lama Anda mengumpulkan Dana Revolusi ?

Nggak sampai setahun kok. Sekitar delapan sampai 10 bulan.

Disimpan di BI atas nama siapa ?

Saya menyetornya dengan kode MNBC (Menteri Negara bidang Chusus).  Bisa dilacak di sana. Apakah omongan dan bukti tertulis saya benar atau tidak.

Lalu, yang berhak mengeluarkan siapa ?

Wah, tugas saya cuma menyerahkan. Untuk penggunaannya saya nggak  tahu. Yang bisa menariknya, ya jelas Presiden Pemimpin Tertinggi Panglima Besar Revolusi.

Maksudnya masuk ke rekening Presiden…?

Bukan. Terserah BI mau diserahkan ke mana. Siapa yang menarik  atau kemana dana itu lagi, saya nggak tahu. Tugas saya cuma  menyerahkan, sesudah itu saya melapor ke Bung Karno. Ada sedikit ilustrasi. Salah satu teman (seorang Mayor Jendral Polisi)  menyarankan agar saya mendepositokan dulu dana itu sebelum menyetorkannya ke BI. Bunganya kan lumayan. Ha…ha…

Anda mau ?

Nggak, saya nggak mau. Saya nggak mau belepotan duit panas itu.  Meski Bung Karno nggak tahu, kan ada Yang Maha Tahu. Waktu  Gubernur Bank Sentral bagi-bagi kredit deferred payment (kredit cuma-cuma), antar lain kepada para menteri, saya nggak mau. Dia bilang saya sok aksi dan gila, nggak mau duit. Tapi, waktu Orde  Baru, menteri-menteri yang menerima duit dan teken, daftar namanya ditulis di koran. Jendral-jendralnya banyak. Untung, nama  saya nggak ada. Kalau ada, rusak dong nama baik saya.

Setelah menyerahkan duit dan lapor, Anda nggak pernah mengecek lagi ?

Nggak. Pokoknya tugas saya ngumpulin atau memobilisasi dana, setor, sudah. Perkara dana itu dipakai untuk apa, atau oleh siapa terserah. Bukan urusan saya.

Terus, siapa yang bertanggung jawab ?

Logikanya, ya yang memberi tugas, Presiden.

Presiden Soekarno…?

Ya, Presiden sebagai sebuah lembaga dong. Kan dana itu untuk  kepentingan revolusi. Ini nggak main-main.

Anda tadi mengatakan, mekanisme melacaknya gampang?

Ya gampang. Kan duitnya di BI. Nggak tahu kalau dikumpulkan  Soebandrio di luar negeri itu. Saya nggak tahu dan nggak mau  tahu. Kalau yang di BI, ya bongkar saja arsipnya. Pasti masih ada di sana.

Apa ada koordinasi soal Dana Revolusi dengan Soebandrio ?

Nggak ada. Pegangan tugas saya waktu itu pidato pelantikan oleh  Presiden, bahwa saya berada langsung di bawah komando Presiden  Panglima Tertinggi Pemimpin Besar Revolusi. Garis itu saya pegang. Saya nggak mau tunduk pada Waperdam Soebandrio

Tapi pernah dengar soal dana yang dikelola Soebandrio, kan ?

Ya, dengar begitu saja. Tapi, saya nggak tertarik. Itu kan tugas orang lain. Yang jelas, dana itu untuk kepentingan revolusi. Logikanya, yang bisa mencairkan ya empat orang itu: Bung Karno  dan tiga Wakil Perdana Menteri. Sayangnya, sekarang yang masih hidup cuma Soebandrio.

Selain Anda dan Soebandrio, siapa lagi yang berurusan dengan Dana Revolusi ?

Saya nggak tahu persis.

Mungkin nggak, dana itu sekarang sudah habis?

Wah, kalau soal itu jangan tanya pelaksananya, dong.

Bagaimana untuk memperjelas kondisi dana itu sekarang ?

Saya setuju dengan Ketua DPR/MPR Wahono, kalau pelaksana pengumpulan Dana Revolusi mempunyai bukti-bukti lengkap supaya  diagendakan di DPR. Supaya jelas. Ada yang bilang ada, ada yang bilang habis, ada yang bilang nggak ada. Kasihan rakyat. Mestinya  wakil-wakil rakyat yang memanggil para pelaksananya. Kalau ada  yang bilang bahwa masalah Dana Revolusi itu terserah pak Bandrio, dan hak dia mau menjelaskan atau tidak, nggak benar. Mestinya,  Soebandrio sebagai warga negara RI yang ditugaskan untuk masalah  itu, harus bertanggung jawab. Nah, DPR perlu mengadakan hearing dengan Soebandrio.

Anda akan membawa bukti itu ke DPR ?

Ya. Kalau dipanggil, saya siap.

Bagaimana dengan Pak Bandrio, kayaknya dia bakal menjelaskan nggak ?

Ya. Media massa mesti menggiring supaya masalah ini dibawa ke  DPR. Kan di lembaga wakil rakyat itu banyak jagoan bertanya.  Tugas mereka mencecar pelaksana-pelaksana pengumpul Dana Revolusi dan di-cross-checking dengan data yang ada. Biar semua jelas  terungkap. Meski seorang diplomat kawakan, waktu dihadapkan ke  sidang Mahkamah Militer Luar Biasa dulu, Soebandrio keteteran kok.

Lalu mengapa Pak Dharmono mengatakan Dana Revolusi nggak ada?

Mungkin itu visi dia sendiri. Kalau nggak salah, waktu dia masih  menjadi Menteri Sekretaris Negara, dia sempat ditugasi untuk  menyelidiki soal dana ini. Mungkin saja, para pelaksana pelacakan itu safety player, yang mau enaknya saja. Bikin saja laporan  nggak ada. Beres. Wong, ada kok dibilang nggak ada.

Waktu dulu masalah Dana Revolusi pernah diramaikan, kok Anda diam saja?

Ngapain. Terus terang, saya bukan orang yang suka mencari  popularitas, atau cari muka. Kalau ada yang membutuhkan, ya saya akan bantu. Kalau ada yang tanya seperti Anda, ya saya kasih  tahu. Saya orangnya gampang, kok.

Lho, sebagai warga negara, Anda kan mempunyai semacam kewajiban moral untuk menunjukkan bukti itu?

Itu kalau itikadnya baik seperti sampeyan, saya senang. Tapi,  orang yang nggak senang pasti mengolok-olok saya. Orang sudah  tua, sudah tersingkir kok mencari muka.  Saya nggak mau dibilang begitu dan saya bukan orang macam itu.

Anda dulu pensiun muda. Kenapa ?

Jangan tanya saya. Tanya yang mengeluarkan SK pensiun, dong.  Ha…ha… Ya, mungkin dianggapnya saya trouble maker. Padahal,  saya sih maunya jalan lurus saja. Pokoknya, saya bekerja sebaik-baiknya. Soal penilaian itu urusan atasan.

MIM Edisi 6 Agustus 1995, KCN

Filed under: Waspada

2 Responses

  1. sonia ariez mengatakan:

    dana revolusi ada kok,berupa mata uang dollar – uang Brasil dll…ada juga emas batangan.
    orang harus berpiirk…banyak ditemukanya uang pecahan 100,000 dollar dan uang Brasil tahun 1934…1937…dari mana uang itu.sedangkan yg pegang orang biasa…bukankah uang tersebut lebih dari selembar…..bahkan di temukan berpeti-peti.saya melihat dengan mata kepala sendiri.foto ..dan pisik uang yg di pegang oleh opa saya…uang Brasil berpuluh peti…
    maklum opah saya..udah tua..dan gampang di tipu orang..

  2. H Soesantoro mengatakan:

    Monggo sedikit aja, kita sama2 menengok kebelakang klo kita tinjau yg sebenarnya ya memang ada dana revolusi itu…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

  • 88,812 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: