Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

Renungan Ki Jero Martani

Pasulukan Loka Gandasasmita

Widaksana Natasasmita
Bijaksana dan Waspada Dalam Melihat Permasalahan

Sirna Hilang Kertaning Bumi

Beratus tahun yang lalu, ditandai dengan Candrasengkala Sirna Hilang Kertaning Bhumi, kerajaan besar Majapahit, pemersatu Nusantara, RUNTUH. Konon diakhir jaman majapahit, pemuka agama, penasehat negara, wiku, resi, banyak yang hilang kebijakannya. Para cerdik cendekia yang mestinya obyektif, hanya menjadi ilmuwan tukang, mengeluarkan pendapat bukan karena kebenaran, tapi hanya berdasarkan pesanan, bahkan ada pemuka agama jelas-jelas berkhianat menjadi corong musuh majapahit. Kaum ningrat gelisah, resah dan susah,  dikejar-kejar dosa yang telah dibuat. Korupsi, penyelewengan, pengkhianatan, permusuhan antar saudara, menjadi cerita dari mulut ke mulut di masyarakat saat itu. Carut marut dan ketidak stabilan, menyebabkan saudagar berdagang tak pernah untung, dan kesemuanya itu menyebabkan rakyat jelata makin menderita.

Penyebab utamanya, konon kelompok-kelompok penyelenggara negara saat itu, kurang melaksanakan swadharma atau kewajibannya sebagai warga bangsa. Kelompok-kelompok Ksatriya penanggung jawab subsistem pencapaian tujuan (politis), Wesya – subsistem adaptif (ekonomi) dan  Brahmana – subsistem sosio-cultural, sibuk dengan kepentingannya sendiri. Banyak oknum-oknum yang melakukan cross-function sehingga terjadi conflict of interest. Kaum Brahmana, terjun ke bidang politik sehingga terjadi perpecahaan antara pemeluknya. Para Ksatria jadi backing Wesya – kaum pedagang, untuk memperkaya diri. Wesya berkolaborasi dengan para Ksatria pemberontak, untuk melindungi usaha dagangnya. Keadaan makin tidak terkendali, kerusakan makin menjadi-jadi, masalah buntu tanpa solusi, sehingga rakyat kehilangan motivasi – kehilangan kepercayaan terhadap raja, sehingga negara yang tadinya jaya dan berkuasa, lalu ambruk, runtuh tercerai berai. Krisis motivasi juga menghilangkan kepercayaan terhadap agama yang dominan saat itu, lalu menumbuh suburkan Agama Islam sebagai kepercayaan yang baru.

Hilangnya konsep swadharma, kerja adalah ibadah, ditambah hilangnya budi pekerti, maraknya pengkhianatan, perang saudara, menyebabkan majapahit jatuh dan runtuh. Tahun kejadian, ditandai dengan CandraSengkala – SIRNA HILANG KERTANING BHUMI – (Sirna=0, Hilang=0, Kertaning=Kemakmuran=4, Bhumi=1) – 1400 Tahun Jawa atau 1478 tahun masehi. Hilang Musnah Kesejahteraan Negara, selama beratus tahun kemudian, kita terjajah dan dinistakan bangsa-bangsa lain.

KRISIS EKONOMI, POLITIK LALU KRISIS LEGITIMASI

500 tahun kemudian, tahun 1978 konsep Eka Prasetya Pancakarsa bergaung ke seluruh Nusantara, bangsa Indonesia bangkit, ditoleh oleh bangsa-bangsa lain, menyelenggarakan konferensi Asia Afrika, swasembada pangan, ekonomi bergeliat, hingga diberi julukan salah satu macan asia. Di tangah kejayaan yang dinikmati, bangsa kita menjadi tidak ”eling” dan kurang ”waspada”. Oknum-oknum pejabat memperkaya diri dengan mem-backing para cukong sang pedagang. Cukong-cukong bermain mata dengan politikus agar mengeluarkan undang-undang untuk memproteksi barang dagangan, sehingga keuntungan berlipat ganda, tanpa saingan.

Lalu datang krisis ekonomi melanda asia. Oleh penguasa saat itu, krisis ekonomi ditanggulangi menggunakan instrumen-instrumen politik seperti kebijakan BLBI. Karena upaya politis gagal, maka krisis segera berubah bentuk menjadi krisis politik. Gelombang mahasiswa,  dengan modal garang dan urat leher kencang, tanpa pengetahuan tentang topik yang diteriakkan, ditunggangi oknum pengecut, didukung organisasi tanpa bentuk dan antek-antek negara asing, mampu meruntuhkan kekuasaan Orde Baru.

Orde Reformasi berjalan penuh wacana dan silang sengketa. Budaya rukun dan sikap saling hormat menghormati, yang menjadi pedoman bathin warga nusantara, terkoyak dan terinjak. Tokoh masyarakat mengeluarkan pendapat ’benere dewe’ – pagi tempe sore kedele. Atas nama demokrasi, sikap rukun dan toleran, yang telah menjadi karakter bangsa seakan sirna. Juga sikap saling hormat, seakan lenyap. Bicara tak lagi menggunakan ’rasa’ dan logika. Anggota legislatif bersuara lantang didepan Panglima TNI, atas nama rakyat, tanpa rasa hormat. Hilang keinginan untuk rukun, hanya fitnah, tanpa solusi. Pepatah mulut-mu harimau-mu, seakan tak berlaku lagi.

—oOo—

KEHANCURAN POLITIK, EKONOMI DAN BUDAYA

Eksekutif dan Legislatif tidak mampu, menyusun regulasi untuk menjaga moral bangsa. Para selebriti di program infotainment, memberi toladan buruk pada anak-anak bangsa, dari Sabang sampai Jayapura. Tontonan yang menginjak-injak prinsip rukun, toleran dan saling hormat-menghormati di tengah keluarga. Kawin cerai, tuding menuding antar anak dan orang tua, sumpah serapah, gugat menggugat, somasi dan hal-hal buruk lainnya, menjadi tontonan televisi 3 x sehari, seperti minum obat saja. Belum lagi sinetron-sinetron, yang di produksi oleh sodagar-sodagar keturunan negeri seberang, yang mengais berkah di Nusantara, tanpa disertai tanggung jawab, untuk ikut membangun jati diri bangsa. Hancur sudah budaya Nusantara, hilang sifat rukun, toleransi dan saling hormat menghormati yang kita junjung tinggi.

Dibidang ekonomi setali tiga uang. Saudara kita, WNI keturunan, selalu ribut tentang hak mendapatkan KTP. Tetapi lupa akan tugas dan tanggung jawab, untuk menasehati kerabat-familinya yang menjadi sodagar, agar tidak semena-mena menjarah begitu besar kekayaan bangsa dan melarikannya keluar negeri. Licik cerdik, jujur bodoh, tiada batas. Kelicikan dan kerjasama dengan penguasa serakah, ditujukan untuk menjarah hasil bumi, membabat hutan, membuat sengsara sebagian besar anak bangsa. Kalau ada berita di televisi yang menayangkan oknum-oknum penjarah BLBI, bandar besar narkoba dan judi, pembalakan hutan, orang tulipun tahu ras apa yang melakukannya.

Dibidang politik, penuh dengan wacana tanpa karya. Merasa bisa, tapi tidak bisa merasa. Media massa pernah memuat tulisan pakar tentang konglomerat hitam, bicara lantang tentang berbagai teori, hingga terpilih menjadi menteri. Saat diberi tanggung jawab, selama masa jabatannya tidak ada hal signifikan yang dibuatnya, memang pakar, alias tanpa karya. Diakhir jabatan jadi pengkhianat partai, sekarang berkoar lagi, menggurui, pendapat orang ini laksana sepahan tebu, hilang manis tiada berguna. Ada lagi yang meraih posisi puncak dengan menikam kawan seiring, penggunting dalam lipatan, masih seperti jaman Ken Arok dulu. Setiap pergantian kekuasaan selalu ada ”pembunuhan karakter”. Kutuk Empu Gandring belum bisa dihapuskan sampai saat ini. Etika berpolitik kita telah hancur. Meraih kuasa dengan uang, bukan pengabdian. Hari ini preman terminal, besok bisa menjadi anggota legislatif yang terhormat. Kemarin tersangka korupsi, sekarang bisa menepuk dada jadi penguasa. Hilang sudah prinsip ”memayu hayuning buwono”, karena investasi yang ditanam saat pilkada, minimal harus pulang pokok, bahkan kalau bisa lebih untuk pilkada berikutnya.

—oOo—

KRISIS LEGITIMASI

Masyarakat yang berperan dalam sistem perekonomian bangsa, berkurang kemampuannya dalam menyediakan barang/jasa kepada sistem sosio kultural. Sistem sosio kultural atau masyarakat, kurang mampu memberikan kontribusi maksimal, untuk bekerja membantu menggerakkan sistem perekonomian. Subsistem politik tidak mampu membangun regulasi yang sehat, agar subsistem ekonomi bergerak dengan baik. Pajak dari sub sistem ekonomi tak mampu, menyediakan anggaran yang cukup bagi penyelenggara negara, sehingga kita harus berhutang sepanjang masa. Subsistem politik tak mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya dan pada akhirnya masyarakat tidak lagi setia pada penyelenggara negara. Ditambah peran serta alam semesta, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, pagebluk seperti flu burung dan deman berdarah. Kerusakan laksana tanpa solusi, alam-pun seakan meng-”amin”-i.

Para menteri, kualitas akademiknya luar biasa. Presiden, doktor pertanian, jenderal, pandai membaca situasi, ahli bicara dan fasih mengembangkan wacana. Wakil presiden, anak pedagang sukses dengan warisan berlimpah,  menguasai legislatif dan sangat berpengaruh di eksekutif. Akan tetapi, mohon maaf, lebih dua tahun janji diucap, belum ada tanda, rakyat terlepas dari derita, malah tambah melarat, mungkin sebentar lagi sekarat.

Oknum-oknum legislatif, ada yang bilang, seperti murid taman kanak-kanak. Berbicara semau gue, tanpa data dan pengetahuan yang memadai. Kalau berdebat ngotot dan membuat bingung rakyat, terkadang memalukan. Melontarkan pendapat, tujuannya Cuma agar dikatakan hebat, seolah-olah membela rakyat, kenyataannya, mohon maaf … dia juga bejat. Tak kalah hebat, oknum-oknum yudikatif yang menjadi pejabat, menambah waktu berkuasa hanya melalui rapat. Dikritik malah semakin nekat, buta tuli untuk memegang kuasa tambah erat. Keadilan hanya impian belaka, uang masih bicara.

—oOo—

KRISIS MOTIVASI

Krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi jika tidak diselesaikan akan menjadi krisis motivasi. Jika telah hilang kepercayaan, maka akan terjadi perubahan mendasar terhadap sistem sosial-budaya. Perubahan itu menyebabkan disfungsi bagi negara, sistem kerja & struktur sosial.

Bibit krisis motivasi sudah terlihat, antara lain :

  • Hilangnya kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Biaya masuk perguruan tinggi negeri yang fantastis, hanya dapat dijangkau oleh orang berpunya, dan mengurangi kesempatan bagi anak-anak berprestasi dan tidak mampu.
  • Standar ganda dalam penegakan hukum. Pejabat boleh berkilah apa saja, yang jelas konglomerat yang menjarah uang rakyat, tetap melenggang tenang, bahkan ada yang diperkenankan masuk istana.
  • Tidak sinkronnya antara pendidikan dan pekerjaan. Orang yang tidak tamat perguruan tinggi, jelas-jelas malas dan kerjanya kebut-kebutan, bisa menjadi eksekutif perusahaan multinasional, hanya karena menjadi anak pejabat. Kasus pemalsuan ijazah di eksekutif dan legislatif sangat marak. Tadinya kerja di terminal, ijazah tidak jelas, kalau punya modal untuk pilkada, bisa jadi bupati.
  • Tidak adanya sistem pengukuran prestasi yang jelas. Laporan pertanggung jawaban penguasa carut marut dan cenderung di politisir, karena tidak ada pengukuran kinerja yang jelas. Bahkan di lingkungan pemerintahan ada istilah PGPS, Pintar Goblok Pendapatan Sama. Pejabat-pejabat publik diangkat, bukan karena prestasi dan profesionalisme, melainkan karena pengaruh modal dan jalur politik.

Usaha untuk mencegah krisis motivasi, sudah pernah dilakukan. Tokoh lintas agama melakukan pertemuan untuk merumuskan konsep mengatasi keadaan yang diperkirakan bakal terjadi. Tokoh-tokoh nasional dari seluruh agama berkumpul menyusun konsep Kerangka Kebersamaan Minimal (KKM). Lalu tokoh-tokoh ini berusaha membawa konsep ini, kepada kedua calon presiden sebelum pemilihan umum yang baru lalu. KKM berupaya untuk mempersatukan lagi sumber daya terakhir yang dimiliki bangsa, yakni subsistem sosio kultural. Karena dengan pemilihan presiden secara langsung, suara akan terbelah menjadi tiga. Suara untuk Pemenang, untuk yang Kalah dan yang tidak memilih.  Melihat kompleksnya permasalahan kedepan yang dihadapi, melalui konsep KKM, para tokoh lintas agama meminta kepada Calon Presiden, apapun hasil pemilihan yang akan datang, agar diutamakan persatuan dan kesatuan. Lalu diuraikan sembilan pokok pikiran agar kita tidak terjebak kedalam krisis pamungkas yakni krisis motivasi.

Saat itu konsep diterima dengan terbuka oleh Ibu Megawati, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat tinggi negara seperti Panglima TNI, Kepala Polri dan Ketua Mahkamah Konstitusi. Bahkan konsep itu disinggung oleh calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat pidato penajaman visi dan misi calon presiden. Tapi setelah terpilih, KKM tak pernah disinggung lagi. Sampai saat ini, dan sampai kita telah memasuki pintu gerbang krisis pamungkas yakni krisis motivasi.

—oOo—

Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa

Rwaneka datu winuwus wara buda wiswa,
Bhineki rakwa ringapan kena parwa nosen,
Mangkan jinatwa, kalawan siwatatwa tunggal,
Bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa

Sumber-sumber ajaran agama konon berbeda-beda,
Tapi bicara mengenai Sang Kuasa, kapankah Dia dapat dibagi-bagi
Karena baik ajaran siwa-maupun-buda adalah tunggal
Berbeda-beda tetapi tetap satu, Dharma tak dapat dibagi-bagi
[Sutasoma]

—oOo—

Jaman dahulu, ratusan tahun yang lalu, perang besar antara agama buda dan  agama hindu (siwa) nyaris terjadi. Hal itu dapat dicegah, karena ada dialog para pemuka kedua agama. Dialog itu menghasilkan bhisama atau fatwa yang mengikat kedua belah pihak. Bhisama tersebut ternyata menjaga tanah Nusantara, selama ratusan tahun kemudian. Tercantum dalam kitab Sutasoma – Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

Era kemerdekaan, Bung Karno, Sang Proklamator, menyatakan diri sebagai ”penggali” bukan pencipta Pancasila. Karena Pancasila sudah menjadi pedoman atau falsafah hidup warga Nusantara, sejak ribuan tahun yang silam. Bhineka Tunggal Ika, sudah menjadi bhisama yang mengikat bagi kerajaan-kerajaan di Tanah Nusantara, jauh sebelum Indonesia merdeka. Konflik-konflik agama, bukannya baru  terjadi sekarang ini, melainkan telah pernah terjadi berkali-kali dalam kurun waktu ratusan tahun. Bangsa kita telah memiliki pengalaman dalam menyelesaikan konflik-konflik yang terkait dengan persatuan dan kesatuan. Sangat disayangkan, Sang Penjajah, telah mengobrak-abrik kekayaan intelektual bangsa, untuk melanggengkan kesempatannya menghisap kekayaan Nusantara dengan semena-mena.

Renungkanlah, kenapa penjajahan terjadi selama berabad-abad, apakah Nusantara terlalu lemah untuk melawan itu ?

—oOo—

Kutukan – Sirna Hilang Kertaning Bumi

Orang tua-tua berkata, candrasengkala yang menandakan jatuhnya majapahit bukanlah dibuat begitu saja. Itu adalah kutukan –  Sirna Hilang Kertaning Bumi – hilang lenyap kesejahteraan bumi nusantara. Karena apa ? Karena raja baru, dengan gelar Panatagama, penata atau pengatur agama, melupakan bhisama atau fatwa – Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Raja berkolaborasi dengan ulama-ulama besar, membangun negara berlandaskan satu agama. Celakanya, kerajaan diperluas sambil melakukan penyeragaman kepercayaan yang baru itu.

Maraknya penyaragaman, karena ulama yang termasuk dalam sub sistem sosiokultural yang mestinya memiliki tugas independen untuk mengayomi seluruh masyarakat, berkolusi dengan sub sistem politik pada saat itu. Untuk mempermudah proses infiltrasi budaya, maka dilakukan perubahan-perubahan pakem-pakem pewayangan misalnya ramayana dan bharatayudha. Senjata Kalimasada sang Yudistira, di gothak gathik gathuk menjadi Kalimah Syahadat. Ada ulama yang jelas-jelas menjiplak cerita dewa ruci, menjadi suluk linglung yang diclaim sebagai karyanya, dan mengganti bima seolah dirinya. Suatu cara infiltrasi
budaya yang cerdik namun tetap saja licik. Penumpasan dilakukan secara kasat mata, pergantian agama bukan karena suka rela dan dari hati yang terdalam, tetapi timbul karena alasan ekonomi, ketakutan politis dan kekejaman aparat negara yang berkolaborasi dengan ulama bengis tanpa ampun.

Ada banyak ulama-ulama yang tak sejalan, seperti Siti Jenar, atas nama agama, disingkirkan bahkan dibunuh secara fisik. Dibuat mitos bahwa, ketika jasad Syekh Siti Jenar ditanam, berubah menjadi anjing buduk, suatu pembunuhan jasad dilanjutkan dengan pembunuhan karakter yang membuat miris logika kita. Itulah ulah para ulama keblinger kekuasaan, tega memalsukan sejarah, plagiator karya orang lain, meramunya untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Rekayasa budaya, agama dan politik, membuat kemarahan yang amat sangat di bathin warga nusantara, akan tetapi telah kehilangan kata-kata. Akhirnya muncul kutukan Sirna Hilang Kertaning Bumi yang berarti hilang musnah kesejahteraan di bumi Nusantara. Dan sejarah mengatakan, sejak itu, bangsa kita jadi bangsa yang dinistakan, dijajah, dihisap dari bangsa lain karena para petinggi negara
bekerjasama dengan para ulama melupakan bhisama/fatwa Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

Eka Prasetya Pancakarsa

Tahun 1978, 500 tahun setelah terjadinya kutukan Sirna Hilang Kertaning Bumi, muncul Eka Prasetya Pancakarsa yang diinisiasi dan dicanangkan oleh Presiden Suharto. Pancasila kembali menjadi landasan dan falsafah berbangsa. Batas-batas negara ditetapkan, zone ekonomi eksklusif dipatok. Sang Ksatria, pada saat itu, benar-benar menjalankan tugas negara. Kita sempat menjadi Bangsa yang terhormat
beberapa saat.

Adanya reformasi menyebabkan Pancasila dipinggirkan kembali, karena salah kaprah, memandang itu sebagai produk Orde Baru yang harus disingkirkan. Tidak ada kesinambungan pemikiran, dari para oportunis-oportunis politik yang suka mengail di air keruh, memanfaatkan segala resources secara membabi buta, termasuk menunggangi agama. Keinginan-keinginan penyeragaman kembali lagi
timbul, nafsu-nafsu menggunakan agama untuk meraih posisi kekuasaan menjadi kian subur. Lalu terbukti, kita menjadi hancur lagi.

Nah … tidak kah kau lihat … hei Warga Nusantara … ketika kita lupakan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa … ketika slogan itu hanya menjadi penghias dinding, dan tidak ada dalam kalbu sang pemimpin,  maka kerusakan pasti akan terjadi ! Sudah beberapa kali kita mengadakan pemilihan umum, baik yang langsung, maupun berdasarkan perwakilan, partai islam tak pernah menang !!!
Karena ada goresan keperihan di bathin warga Nusantara, akibat campur aduk agama dengan negara.

Indonesia harus kembali lagi pada penerapan sejati, Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, tanah Nusantara akan tetap menderita. Dengan penipuan-penipuan, cara-cara halus meraih kekuasaan melalui agama, Nusantara akan tetap menderita.

Jati Diri Bangsa

Di era globalisasi ini, ketika serangan budaya luar makin menghebat, ketika perekonomian carut marut, subsistem politik kita buyar, maka salah satu jalan agar kita bisa berdiri tegak adalah dengan membangun kembali Jati Diri Bangsa. Pedoman-pedoman rukun, toleransi dan sikan hormat-menghormati, harus diberikan tempat seluas-luasnya. Dari pada diberikan pelajaran agama, yang jelas menyebabkan terpisahnya warga bangsa sejak duduk di bangku SD, kenapa kita tak berpaling pada pelajaran Budhi Pekerti, yang pasti ada di setiap agama. Dari pada beragama dimulut saja, tapi korupsi merajela, dan kerusuhan tak henti melanda, kenapa alternatif itu tak difikirkan dengan seksama. Bagi golongan
tertentu ini merupakan suatu kerugian, tapi sudah saatnya kita memikirkan bangsa, bukan golongan agama.

Profesi-profesi utama harus kembali ke swadharma atau kewajibannya masing-masing. Brahmana atau ulama kembali menjadi pengemong seluruh umat tanpa harus terkait dengan partai. Ksatria – politikus benar-benar mengkonsentrasikan dirinya untuk membuat aturan-aturan negara. Wesya – pengelola perekonomian tekun dengan usaha-usaha inovasi dan seluruh masyarakat mampu tabah menghadapi segala cobaan yang ada. Jangan sampai dimanfaatkan oleh oknum-oknum pencari keuntungan sesaat. Jangan sampai buruh digerakkan oleh serikat-serikat yang dipimpin oleh oknum-oknum yang jelas-jelas mendapatkan dana luar biasa besar dari negara luar. Keserakahannya digunakan oleh musah-musuh negara untuk mengacaukan bangsa, dan mengambil untung dari kekacauan yang terjadi pada bangsa kita.

Cara-cara untuk bangkit kembali sebagai bangsa telah tercantum di Kitab Negara Kertagama dan kitab-kitab lain Nusantara, kenapa kita tak berpaling ke padanya …

Karena kalau kita mengacu pada bangsa lain … apalagi mengacu pada bangsa-bangsa timur tengah … mereka sendiri sedang carut marut .. tak bisa dijadikan panutan.

Lamun sira paksa nulad, tuladhaning kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, wateke tan betah kaki, rehne ta sira tanah jawi, sathitik bae wus cukup, aja guru aleman, nelad kas ngepleki pekih, lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat.

Jika kau memaksakan diri untuk meniru sikap keteladanan Nabi, o, terlampau jauh anakku. Dari gelagatmu (kau) takkan mampu karena kau lahir sebagai orang jawa. Karenanya, tak perlu berlebihan. Janganlah mencari pujian (dengan) meniru atau menyerupai ulama ahli. Asalkan engkau tekun meraih cita-cita tentu anugrah akan tiba.

[Serat Wedhatama, Sinom]

Demikian sodara-sodaraku, mudah-mudahan kisah pengantar tidur di atas, menjadi perenungan walau sepintas. Siapa tahu, bisa dijadikan pedoman kalau tanda Gunung Merapi Meletus, Laharnya Berbau Amis, benar-benar ada.

Parang Kusumo, 8 April 2006

Salam Hormat,

Ki Jero Martani

Tat Twam Asi [Engkau adalah Aku]

Tat twam asi adalah sebuah ungkapan dalam bahasa kawi (jawa kuna) yang berarti engkau adalah aku, yang dalam psikologi modern dikenal dengan empati – menempatkan diri dari sudut pandang orang lain. Kitab kuno tersebut membahas Tat Twam Asi dalam kerangka penataan hubungan antara sesama. Kali ini, Tat Twam Asi dibahas bukan dalam kerangka berfikir pencarian “surga” setelah mati, namun dicoba untuk membumikan konsep ini untuk melakukan pelayanan kepada orang lain sehingga berbuah transaksi bisnis atau penjualan produk.

Dalam menjual produk ada sebuah analogi yang sering dipergunakan yaitu “Jika anda ingin berhasil memancing ikan, pahami dulu perilakunya”. Pahami dulu kebutuhan calon pelanggan potensial, pahami cara berfikir mereka, posikan diri anda di kerangka berfikir mereka, jika produk yang ditawarkan dapat memenuhi kebutuhan, transaksi niscaya terjadi.

Dalam bisnis, Tat Twam Asi perlu diterjemahkan secara lebih rinci menjadi pemahaman tentang (1) keadaan /status customer saat ini, (2) gambaran masa depan yang mereka inginkan, dan (3) “gap” yang ada dari kedua status tersebut. Agar terjadi transaksi bisnis terwujud, langkah awal yang biasa dilakukan pelaku bisnis adalah memahami status customer saat ini dengan menggali jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kepada customer sebagai berikut :

  • Apakah mereka cukup puas dengan apa yang berjalan saat ini ?
  • Apakah mereka tahu kebutuhan yang harus dipenuhi di masa datang ?
  • Adakah jarak antara keadaan saat ini dan masa depan yang diinginkan ?

Untuk mencapai masa depan, tentu harus dilakukan berbagai perubahan. Perubahan selalu diiringi dengan resiko. Hal berikutnya yang perlu digali adalah terkait dengan pemahaman terhadap “kekhawatiran” customer akan resiko, dengan mengajukan pertanyaan berikut :

  • Mengapa anda mengkhawatirkan hal itu ?
  • Bagaimana anda merespon resiko yang ada ?
  • Apa hasil ideal yang diharapkan, jika setiap hal berlangsung sesuai rencana ?

Ketika anda sudah mendapatkan jawaban-jawaban tersebut, tentu anda mengevaluasi produk yang anda miliki apakah dapat memenuhi kebutuhan mereka. Tapi yang harus anda ingat, pada hakekatnya mereka “tidak peduli” dengan solusi anda, namun yang mereka kehendaki sesungguhnya adalah hasil / outcome yang sesuai dengan kehendak mereka. Jadi mereka membeli apa yang mereka butuhkan untuk memperoleh apa yang diinginkan. Mereka tidak butuh solusi, yang mereka inginkan adalah hasil !

Dengan menempatkan kaki anda di “sepatu” customer, maka memudahkan kita untuk mencari solusi yang sesuai untuk mereka. Terkadang proses pembelian oleh customer mengalami proses yang rumit, namun kebanyakan customer akan membeli sesuatu dari penjual yang :

  1. Memahami kebutuhan ideal masa depan yang mereka inginkan (Lihat Gambar : Point C).
  2. Mampu menyediakan rencana yang paling mudah dan handal untuk membawa mereka dari status A ke C.
  3. Menyebabkan mereka merasa yakin bahwa mereka akan sampai di “C” tepat waktu dan tepat biaya.

Pada hakikatnya yang mereka butuhkan adalah ketiga hal di atas, bukan vendor yang menyodorkan harga paling rendah. Walau lebih mahal sedikit, bukankah anda sendiri akan merasa nyaman jika membeli sesuatu dari sesesorang yang mau menyediakan waktu untuk memahami apa yang anda ingin capai, membantu anda memilih berbagai alternatif yang ada dan membantu anda memilih solusi yang tepat. Jika anda memiliki pikiran seperti itu, maka sebagian besar customer anda juga memiliki pemahaman yang sama.

Jika anda sudah memahami tujuan dari pelanggan, apakah itu langsung akan menyebabkan transaksi ? Jawabannya adalah BELUM TENTU, karena pada hakikatnya ada hal lain yang perlu anda pahami yaitu Pemicu Transaksi, yang akan di bahas pada kesempatan berikutnya.

Selamat berbisnis Ala Tat Twam Asi,

Ki Jero Martani

Negara Gagal

Sebuah catatan lama menguraikan, sebuah negara di tanah Nusantara, membangun sistem sosial kemasyarakatan dengan 4 warna atau profesi utama yaitu kelompok brahmana – bekerja di sektor sub sistem sosio kultural, wesya – di sub sistem ekonomi, ksatriya yang bekerja untuk sub sistem politik atau pencapaian tujuan, sedangkan sudra adalah kelompok bukan ketiganya. Pembagian ini berdasarkan adanya functional differentiation untuk mencegah conflik of interest ketika melaksanakan tugas profesinya masing-masing, jadi tidak ada lebih tinggi satu dengan yang lain atau lebih penting satu sub sistem dengan sub sistem lainnya. Brahmana diandaikan sebagai kepala, ksatriya adalah tangannya, wesya adalah perut dan sudra yang menopang ketiga komponen sehingga dapat berdiri tegak.

Para pengelola sistem politik disebut dengan golongan ksatriya. Golongan ini menjalankan tugas pengelolaan negara baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sistem politik melaksanakan tugas (2) pengendalian atau regulator untuk bidang perekonomian sehingga tercipta keadilan dalam berusaha. Atas perannya tersebut, maka Sistem ekonomi menyetorkan (1) pajak kepada pengelola negara.

Beragam artefak budaya seperti hasil karya cipta manusia berupa ilmu pengetahuan, norma hukum atau kurikulum pendidikan, harus dibangun sesuai standar internal tertentu, mandiri, konsisten serta logis. Obyektifitas sistem sosial budaya harus tinggi tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik apalagi desakan masalah ekonomi. Disinilah peran penting para Brahmana – ulama, pemikir, guru, dosen dan orang-orang yang bekerja sebagai pemikir budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai penjaga gawang obyektifitas sehingga standar ini tidak bisa dikompromikan atau dilanggar untuk tujuan politik atau ekonomi. Pelanggaran ini akan menyebabkan hancurnya validitas artefak budaya yang dihasilkan tersebut.

Para ksatriya bertugas untuk memberikan (4) kesejahteraan kepada sub sistem sosio kultural. Sedangkan subsistem ini, akan memberikan (3) kesetiaan atau loyalitasnya kepada penyelenggara pemerintah. Sedangkan para wesya melalui kegiatan jasa, industri dan perdagangannya, bertugas menyediakan (5) barang/jasa kepada sub sistem sosio kultural dan sebagai imbalannya sub sistem ini menyediakan (6) tenaga kerja yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pertambahan nilai.

Mengambil sari-sari kisah lama, mari kita coba terapkan pola di atas untuk memotret keadaan negara kita saat ini.

Sektor Politik vs Ekonomi

Pengendalian (1). Sudah kita ketahui bersama bahwa pemerintah sebagai pengendali kegiatan ekonomi atau regulator, terlihat sibuk dengan berbagai wacana, namun sayang belum mampu menggerakkan perekonomian bangsa. Indikator-indikator indah ekonomi makro, tidak mampu menggerakkan sektor riil. Roda sektor riil bergerak lambat kalau boleh dikatakan makin pelan, dan sebentar lagi akan berhenti.

Penghisapan Manusia atas Manusia

Harga BBM yang dilambungkan secara fantastis atas pertimbangan harga minyak dunia, membuat efek domino yang luar biasa dalam jangka panjang. Bantuan Tunai Langsung hanya hiburan sesaat, beritanya sudah nyaris tak terdengar. Dan ketika minyak dunia sudah normal, harga BBM tetap tinggi. Ironi negara kaya raya, rakyatnya bagai tikus mati di lumbung padi. Cara baru dalam “explotation de l’home par l’home” – penghisapan manusia pengelola negara, terhadap rakyat pemilihnya. Negara sudah kehilangan peran dalam membantu ekonomi rumah tangga. Ada atau tidak negara, rakyat tidak merasa ada manfaatnya. Bahkan mereka menjadi antipati berurusan dengan aparat negara. Dengan keleluasaan anggaran yang luar biasa, roda perekonomian tak bergerak, kemanakah duit itu bergulir ?

Pengadaan Momok Penguasa Korup

Sektor pengadaan barang/jasa pemerintah yang diharapkan mampu menggerakkan perekonomian ternyata dikelola dengan sangat buruk dengan tingkat markup yang menakjubkan dan pelanggaran yang luar biasa. Sektor pengadaan yang diwarnai oleh kolusi pengguna dan penyedia jasa sudah sangat kasat mata terbukti dengan kasus-kasus pengadaan yang melibatkan Ketua KPU, Menteri Sekretaris Negara, Kepala Bulog, berpuluh Kepala Daerah bahkan sampai anggota DPR. Prinsip Keppres 80/2003 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah seperti transparansi, efisien, efektif, adil dan akuntabel, hanya semboyan kosong belaka. Pengelola pengadaan sangat tidak kompeten terbukti rendahnya kelulusan sertifikasi pengadaan barang/jasa pemerintah.

Menteri Pencabut Nyawa

Sektor transportasi darat, laut dan udara, tak henti dihias kecelakaan yang merupakan pembunuhan masal terbesar, melebihi nyawa yang melayang di sebuah peperangan. Karena apakah itu ? Karena kereta api kita sudah tua dijejali oleh penumpang yang memang tak memiliki daya beli untuk membeli kenyamanan lebih, kapal laut kita udah uzur tapi surat ijin jalan tetap keluar, kapal terbang kita sudah tak laku di luar negeri namun masih dianggap gagah perkasa di nusantara. Beribu nyawa telah melayang, sang menteri tak pernah merasa tolol dan tak mampu sebagai pengendali. Dia selalu merasa bisa namun tak pernah bisa merasa. Departemen teknis diisi oleh pejabat politis, jika suatu pekerjaan diserahkan kepada bukan ahlinya, sudah tentu kehancurannya !

Pajak Dimakan Orang

Pajak (1) digenjot dengan luar biasa, seluruh rakyat dikirim NPWP pribadi, tanah sejengkal bayar PBB. Namun tetap saja oknum pajak makin kaya mafia di bea cukai permainannya sudah bukan rahasia. Pernahkah anda dengar sebuah perusahaan eksepedisi resmi yang terang-terangan jadi penyelundup namun bertahun-tahun tak pernah ditangkap ? Hebat khan ? Karena regulasi lemah, maka sektor ekonomi mengerahkan segala daya upaya untuk menghindari pajak di dukung oleh oknum korup petugas … kloplah sudah.

Politik vs Sosio Kultural

Kesejahteraan (4). Janji kampanye untuk memberikan kesejahteraan masih jauh dari harapan. Sebagai ahli rekayasa persepsi, rangkaian bencana ini malah dianggap sebagai berkah, alasan tepat menutupi kegagalan dalam mencapai visi dan memenuhi janji saat pemilu dahulu. Harga BBM Naik, anggaran belanja negara melonjak tajam, penguasa sekarang kaya raya, dari hasil menghisap keringat rakyat Nusaantara, tidak ditindak lanjuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tercetak Ilmuwan Tukang

Pendidikan ditelantarkan, para Brahmana di perguruan tinggi, dengan pola BHMN dan BLU dibiarkan berkeliaran mencari makan dengan membabi buta. Komersialisasi pendidikan akan terjadi dengan sangat luar biasa. Kesempatan menikmati perguruan tinggi akan makin langka. Kurangnya jaminan kesejahteraan bagi para Dosen dan Guru, akan menyebabkan mereka menjadi ilmuwan tukang. Kehilangan obyektifitas hanya kerana desakan pelaku ekonomi dan politik. Akan banyak ahli-ahli yang dibayar oleh politikus untuk melencengkan kebenaran sejarah yang ada. Para komentator-komentator, analis-analis di pusat-pusat penelitian di bungkam oleh penguasa dengan bantuan-bantuan riset yang hasilnya tentu disesuaikan dengan kepentingan pemberi order. Belum lagi kasarnya permainan para penjudi saham yang akan menggoreng saham segera setelah seorang pengamat yang mestinya dipercaya malah memberikan informasi yang menyesatkan.

Penderitaan Melenyapkan Kesetiaan

Dua puluh persen anggaran untuk pendidikan hanya janji palsu belaka. Kesejahteraan yang minim, akan menyebabkan para brahmana hilang kesetiaan (3). Para guru mengoceh kepada murid – membicarakan mencemooh terus menerus kebijakan Sang Raja Tebar Pesona. Murid-murid yang menjadi pemilih pemula, akan bicara kepadanya ibunya. Ibunya yang buta politik, ikut memilih apa yang dibilang anaknya. Belum lagi para mahasiswa yang mendengar fakta-fakta dari sang dosen, Raja Akan tebar wacana.

Ekonomi vs Sosio Kultural

Subsistem ekonomi berfungsi menyediakan barang/jasa kepada masyarakat. Saat ini terjadi fenomena aneh luar biasa. Industriawan cina mampu membuat paket sisir rambut 3 buah dengan harga jual di Indonesia Rp.5000,- ! Baju-baju muslim yang tadinya dibuat di bekasi sekarang lebih murah diimpor dari china. Banjir berbagai produk murah dari china, memukul perekonomian bangsa Indonesia.

Doktor Pertanian Bukan Jaminan

Walau bangsa ini di pimpin oleh seorang Doktor Pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor, tetap saja beras masih impor. Gaduh hanya diwacana, petani tetap menderita. Pupuk, pestisida dan lain-lain melambung tinggi – biaya produksi beras jadi tak terkendali. Jawabannya tetap sederhana, warisan penyakit lama. Padahal … jaman dahulu kita pernah swasembada beras…. ini membuktikan S3 alias Doktor Pertanian tak menjamin petani tidak tambah sengsara. Institut Pertanian Bogor – alumni nya sudah masuk ke segala bidang – komputer – perbankan – hotel – cleaning service sampai presiden. Tampaknya mereka sudah seolah pintar di segala bidang, namun gagal mengurus bidangnya sendiri yakni pertanian.

Krisis Motivasi

Kerja banting tulang, hasilnya tak seberapa. Bahkan ada yang bunuh diri karena tak tahan menghadapi derita berkepanjangan. Korban Lusi – lumpur sidoarjo jadi gila karena menunggu janji fatamorgana. Korban gempa – putus asa – menunggu janji 30 juta. Petani tetap menderita. Nelayan menahan lapar akibat tak mampu beli solar. Para pekerja pergi pagi pulang petang pendapatan pas-pasan. Pikiran penuh penderitaan. Pencuri sudah berani menantang penghuni. Garong merajalela di tengah keramaian.

Sementara, para pejabat bejat, mantan politikus bermulut garang, menggaruk milyaran dengan gampang. Syukurlah si gondrong KPU akhirnya masuk bui. Kepala Bulog dicocok makan duit milyaran. Ketua PLN kita doakan mati kesetrum akibat korupsi yang dilakukan. Yusril tidak tahu aturan penunjukan langsung, untung diselamatkan secara adat. Produktifitas kerja menurun seiring dengan melemahnya kekuatan sektor ekonomi.

Penutup

Kita lihat bahwa sub sistem perekonomian kita tidak bertambah baik. Sub sistem politik baik eksekutif, legislatif dan yudikatif perbaikannya masih “akan” bukan “telah”. Sub sistem sosio kultural dipenuhi brahmana bejat penjual ayat serta nasib guru yang kian melarat.

Krisis ekonomi dilanjut dengan krisis politik lalu krisis legitimasi dan berikutnya tentu akan muncul krisis motivasi. Sebagai bahan evaluasi apakah pemerintah saat ini, telah sukses mengantarkan bangsa indonesia ke jurang krisis pamungkas ini, mari kita lihat checklist di bawah ini.

Mohon dicetak checklist berikut, mohon luangkan waktu sejenak untuk membaca 214 butir fakta yang tersedia. Setiap point yang benar berikan tanda CENTANG di nomor baris terkait. Berdasarkan pendapat anda, isilah poling yang telah disediakan.

MOHON BANTUAN rekan-rekan milis, untuk menyebarkan jejak pendapat ini kepada teman-teman anda.

Mudah-mudahan dengan poling ini, kita bisa ukur, sudah seberapa rusak bangsa kita, kalau kita gunakan acuan ramalan fakta cerita lama.

Jika ada jodoh dan ada waktu, pada pertemuan berikutnya kita coba diskusikan solusi untuk menghadapi masalah ini, minimal untuk menyelematkan diri pribadi dan keluarga yang kita sayangi.

====== Daftar Ramalan Jaya Baya =======

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
2. Tanah Jawa kalungan wesi — Tanah Jawa berkalung besi.
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berlayar di ruang angkasa.
4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan lubuk.
5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman— Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik
12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
14. Ora ngendahake hukum Allah— Tak peduli akan hukum Allah.
15. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.
16. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
17. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
18. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
19. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
20. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
21. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
22. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
23. Nantang bapa— Menantang ayah.
24. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
25. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
26. Kanca dadi mungsuh— Kawan menjadi lawan.
27. Akeh manungsa lali asale— Banyak orang lupa asal-usul.
28. Ukuman Ratu ora adil— Hukuman Raja tidak adil
29. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pembesar jahat dan ganjil
30. Akeh kelakuan sing ganjil— Banyak ulah-tabiat ganjil
31. Wong apik-apik padha kapencil— Orang yang baik justru tersisih.
32. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin— Banyak orang kerja halal justru malu.
33. Luwih utama ngapusi— Lebih mengutamakan menipu.
34. Wegah nyambut gawe— Malas menunaikan kerja.
35. Kepingin urip mewah— Inginnya hidup mewah.
36. Ngumbar nafsu angkara murka—nggedhekake duraka, Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
37. Wong bener thenger-thenger— Si benar termangu-mangu.
38. Wong salah bungah— Si salah gembira ria.
39. Wong apik ditampik-tampik— Si baik ditolak ditampik.
40. Wong jahat munggah pangkat— Si jahat naik pangkat.
41. Wong agung kasinggung— Yang mulia dilecehkan
42. Wong ala kapuja— Yang jahat dipuji-puji.
43. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
44. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira
45. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
46. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
47. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
48. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
49. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar pasangan.
50. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
51. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
52. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
53. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
54. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
55. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
56. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
57. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
58. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
59. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
60. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
61. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
62. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
63. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapanya.
64. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
65. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
66. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.
67. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
68. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Di mana-mana perempuan lacur
69. Akeh laknat— Banyak kutuk
70. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
71. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
72. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
73. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
74. Guru disatru—Guru dimusuhi.
75. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
76. Kana-kene saya angkara murka—Angkara murka semakin menjadi-jadi.
77. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
78. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
79. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
80. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
81. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
82. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
83. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
84. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
85. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
86. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
87. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
88. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
89. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
90. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
91. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
92. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
93. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
94. Akeh barang haram—Banyak barang haram.
95. Akeh anak haram—Banyak anak haram.
96. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
97. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
98. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
99. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
100. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
101. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
102. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
103. Sing kebat kliwat—Siapa tangkas lepas.
104. Sing telah sambat—Siapa terlanjur menggerutu.
105. Sing gedhe kesasar—Si besar tersasar.
106. Sing cilik kepleset—Si kecil terpeleset.
107. Sing anggak ketunggak—Si congkak terbentur.
108. Sing wedi mati—Si takut mati.
109. Sing nekat mbrekat—Si nekat mendapat berkat.
110. Sing jerih ketindhih—Si hati kecil tertindih
111. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
112. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
113. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
114. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
115. Wong tani ditaleni—Si tani diikat.
116. Wong dora ura-ura—Si bohong menyanyi-nyanyi
117. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
118. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
119. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
120. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
121. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
122. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
123. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
124. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
125. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
126. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
127. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
128. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
129. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
130. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
131. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
132. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
133. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
134. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
135. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
136. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
137. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
138. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
139. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
140. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.
141. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
142. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
143. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
144. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
145. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
146. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
147. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
148. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.
149. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
150. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
151. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
152. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
153. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
154. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
155. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
156. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit
157. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.
158. Sing sawenang-wenang rumangsa menang—Yang sewenang-wenang merasa menang
159. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
160. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.
161. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi
162. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci
163. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
164. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
165. Maling lungguh wetenge mblenduk—Pencuri duduk berperut gendut.
166. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
167. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
168. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
169. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
170. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh
171. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
172. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
173. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
174. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.
175. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
176. Agama ditantang—Agama ditantang.
177. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
178. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
179. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
180. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
181. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan
182. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
183. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
184. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
185. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
186. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.
187. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
188. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
189. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
190. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
191. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
192. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga
193. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
194. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentausa.
195. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
196. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
197. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
198. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
199. Buruh mangluh—Buruh menangis.
200. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
201. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
202. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.
203. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
204. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
205. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
206. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
207. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal separo.
208. Landa-Cina kari sejodho—Belanda-Cina tinggal sepasang.
209. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
210. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
211. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
212. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
213. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.
214. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya jaman.

======== Sekian Terima Kasih ===============

Jerat Khianat Brahmana Bejat

Jatuhnya kerajaan Majalengka adalah cerita lama. Kenangan lama yang mungkin hanya berfungsi memperkaya khazanah cerita pengantar tidur. Cerita lama juga bisa ditarik hikmahnya, bagaimana “kebenaran” disulap menjadi pembenaran pengkhianatan. Bagaimana Sang Brahmana mempengaruhi Sang Ksatriya dan akhirnya berkolaborasi untuk melaksanakan kudeta berdarah dengan cara papa nista. Berikut cuplikan dongengnya.

Suatu saat, sunan Bonang dan Sunan Giri di “tegur” oleh Prabu Majalengka, karena tidak mengindahkan aturan negara. Pada saat itu Sunan Bonang sudah mengakui kesalahannya, tidak menghadap ke Majalengka. Lalu mereka berdua pergi ke Demak, dan memanggil Adipati Demak, diajak menyerang Majalengka. Terjadilah dialog sebagai berikut :

Pangandikane Sunan Benang marang Adipati Demak : “Weruhe yan saiki wis tekan masa rusake Kraton Majalengka, umure wis satus telu taun, sakan panawangku, kang kuwat dari Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rembugku rusaken Kraton Majalengka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngetarani, sowana besuk Garebeg Maulud, nanging rumantiya sikeping perang : 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kan wis padha islam kumpulna ana ing Demak, yan kumpule iku arep gawe masjid, mengko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kan wis padha Islam, kabeh mesthi nurut marang kowe”

Sunan Bonang berkata, “Ketahuilah, sekarang sudah saatnya Kraton Majalengka hancur. Umurnya sudah seratus tiga tahun. Dari penglihatan ghaibku yang kuat menjadi Raja tanah Jawa, menggantikan tahta raja hanya kamu. Karena itu hancurkan Kraton Majalengka, tetapi dengan cara halus, jangan sampai kelihatan. Menghadaplah besok Garebeg Maulud, tetapi siapkan senjata perang, menyamarlah dan perintahkan prajuritmu para sunan dan para bupati yang beragama Islam untuk berkumpul di Demak. Katakan kalau perkumpulan itu untuk membuat mesjid. Nanti kalau semua sudah berkumpul, para sunan dan para bupati dan prajuritnya yang sudah Islam, pasti menurut pada kamu”

Adipati Demak berkata : “Saya takut menyerang Negeri Majalengka, karena memusuhi ayan dan rajaku. Apa balasan saya kecuali kesetiaan. Nasehat Eyang Sunan Ampelgading, tidak boleh saya memusuhi ayah, meskipun Buda tetapi saya bisa menjadi hidup di dunia. Meskipun Buda atau kafir, beliau ayah saya harus dihormati. Apalagi belum ada kesalahannya kepada saya”.

Sunan Bonang berkata lagi, “Meskipun musuh ayah dan raja, tidak ada jeleknya, karena itu orang kafir. Kalau membunuh orang kafir Buda kawak, kamu akan mendapatkan ganjaran surga. Eyangmu itu santri meri, gundul bentul buteng tanpa nalar, pantasnya hanya menjadi tukang masak, seberapa pengetahuan Ampelgading, anak kelahiran Cempa. Apa dia mampu menandingi aku Sayid Rahmat, Sunan Bonang yang sudah dipuji orang sealam semesta, keturunan rasul pemimpin orang Islam semua. Kamu musuh ayah raja, meskipun dosa sekali, hanya dengan orang satu, lagi pula raja kafir. Tetapi bila ayahmu kalah, orang setanah Jawa Islam semua. Yang demikian itu, seberapa pahalamu nanti di hadapan Allah, lipat berkali-kali. Anugrah Allah Yang Maha Kuasa yang memerintahkan kepada kamu.

Sebenarnya ayahmu itu sia-sia kapada kamu. Buktinya kamu diberi nama Babah, tahu tidak artinya Babah? Babah itu artinya jorok sekali yaitu saja mati saja hidup, benih Jawa dibawa Putri Cina, maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, manusia keturunan raksasa. Itu memutus tali kasih namanya. Ayahandamu pikirannya tetap tidak baik, maka kuanjurkan balaslah dengan halus, artinya jangan sampai ketahuan. Dalam batin sesaplah darahnya, remuklah tulangnya”.

Sunan Giri menyambungi pembicaraan, “Aku ini tidak berdosa, tapi diserang ayahandamu, didakwa hendak memberontak hanya karena saya tidak menghadap kepada Majalengka, kata patih apabila aku ketangkap akan dikunciri dan disuruh memandikan anjing. Banyak orang Cina juga berdatangan ke tanah Jawa. Giri saya islamkan karena sesuai perintah Allah apabila mengislamkan orang kafir, kelak pahalanya adalah surga. Maka banyak orang Cina yang kuislamkan, kuanggap keluarga. Adapun kedatanganku ke sini ini memitan perlindungan kepada kamu, aku takut kepada Patih Majalengka. Ayahandamu sangat membenci para santri yang berdoa dan berdzikir. Katanya seperti sakit ayan, esok sakit dan sore mati. Apabila kamu tidak membentengi kami, pasti akan rusak agama Nabi Muhammad”.

Sang Adipati Demak berkata, “Paduka dituduh hendah memisahkan diri, benarkah begitu? Paduka membangun istana, dianggap tidak menurut perintah raja yang menguasai. Kanjeng Sunan lantas diserang untuk dihukum mati, karena Paduka dianggap lupa kalau makan minum di tanah Jawa”.

Sunan Bonang berkata lagi, “Kalau tidak kamu rebut hari ini, kamu menunggu ayahandamu turun tahta, istana ayahmu sudah pasti tidak akan diserahkan kepada kamu, tetapi kepada Adipati Ponorogo, karena ia putranya yang lebih tua, atau kepada putra menantunya, yaitu Pangeran Handayaningrat di Pengging. Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja. Mumpung ini ada pintu terbuka. Giri yang menjadi alasan engkau menghancurkan Majalengka. Walaupun mati, kalau musuh orang kafir artinya mati di jalan Allah, kematiannya nanti menerima pahala surga yang mulia. Orang Islam mati oleh orang kafir, karena membela agama, dan sudah waktunya orang hidup mencari kemuliaan dunia, mencari derajat yang paling unggul. Apabila orang hidup tidak tahu kepada hidupnya, itu belum genap hidupnya.

Sifat manusia pasti ingin menjadi raja menguasai wadya bala, karena raja itu khalifah wakil Allah. Apapun yang dikehendaki bisa terlaksana. Sebenarnya kamu sudah ditentukan akan menjadi raja tanah Jawa, menggantikan tahta ayahnandamu. Tetapi harus memakai syarat yakni direbut dengan perang. Apabila kamu tidak mau menjalani, pasti anugrah Gusti Allah kepada kamu akan ditarik kembali, karena kamu dianggap menolak anugrah Allah. Aku hanya sekedar mendorong, karena aku sudah tahu sebelum terjadi. Sudah tak semprong makai sangkal bolong. Tidak ragu lagi, kamu yang kejatuhan wahyu dari Allah, menjadi raja di tanah Jawa, mengembangkan agama suci. Dirimu akan menjadi raja yang bersinar cemerlang memangku tanah Jawa dan seluruh anak keturunanmu. Tancep kayon.

—oOo—

Lakon cerita menggambarkan bagaimana kebenaran ajaran agama yang teramat mulia ini, diputarbalikkan oleh oknum-oknum ulama untuk dijadikan pembenaran melakukan pengkhianatan.

Ya Tuhan … Ghairil maghdhuubi’alaihim waladhdhaalliin…

Kalau benar cerita di atas, jelaslah sekarang bahwa jalan pedang yang dipilih oleh para ulama. Akibat jerat ulama bejat maka menjadi rusak negara, Prabu Majalengka melarikan diri dari istana. Setelah itu Majapahit jatuh. Kejatuhan itu menjadi awal senjakala kegelapan di tanah Nusantara. Lalu tercetus kutukan Sabdo Palon – “biji” mati tidak tumbuh, walau tumbuh kecil saja, hanya untuk makanan burung, padi seperti kerikil. Udara tambah panas, jarang hujang, bekurang hasil bumi, banyak manusia suka menipu. Berani bertindak nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani.

Begitu lama perdikan Nusantara berduka. Nista terjajah oleh bangsa eropa. Lepas bangsa Eropa, sekarang perekonomian negara telah terjajah oleh bangsa-bangsa tetangga …

Konon tanah Nusantara akan kembali seperti sediakala, jika raja telah bertobat, “kapok” meraih tahta dengan cara khianat. Tobat bisa dilaksanakan dengan “memahami” dampak perbuatan nista yang dilakukan, diiringi oleh penyesalan yang mendalam dan melakukan langkah-langkah nyata untuk memperbaiki kesalahan yang dibuatnya.

Lalu kenapa Nusantara masih berduka, padahal sudah ada pemilihan presiden langsung – bukankan itu dapat diartikan peralihan kekuasaan sudah bukan akibat pengkhianatan lagi ? Peralihan dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto sampai ke Anaknya Presiden Soekarno lagi … masih ada unsur gonjang-ganjing dan selalu ada unsur sakit hati akibat pengkhianatan.

Pertanyaan masih menggantung, sampai penulis mendengar langsung, dengan telinga sendiri, bertatap muka dengan pelaku sejarah di Ciganjur … dari pembicaran itu, otak bodoh saya menyimpulkan, ternyata pengkhianatan masih ada, walau gayanya halus bak setting sinetron …

Mungkin karena itulah kutukan Sabda Palon masih menggema, kegelapan masih harus terus dialami, bencana timbul layaknya sintron berseri, jaman Nusa Srenggi masih harus dinikmati …

Konon pada saatnya nanti, danghyang tanah jawa akan datang, mengajarkan dengan “keras” apa arti benar dan salah. Sudahkah mereka memulainya ?

Penulis hanya bisa berdoa, semoga sadar para penguasa lalu kembali jaya tanah Nusantara …

Salam hormat,

Ki Jero Martani

Khianat Si Anak Bejat

Sodara-sodara sebangsa dan se tanah air, Sebuah babad / cerita tentang jatuhnya majapahit menceritakan bahwa dari karomah para wali, ketika keris Sunan Giri ditarik, keluar ribuan tawon yang menyerang dan menyengati orang majapahit. Dari mahkota Sunan Gunung Jati Cirebon keluar beribu-ribu tikus, menggerogoti bekal dan pelana kuda prajurit Majapahit sehingga bubar, karena dikerubuti tikus. Peti dari palembang ada di tengah perang dibuka keluar demitnya, orang Majapahit geger karena ditenung demit. Sang Prabu Brawijaya wafat mikraj. Kejadian itu, ditandai dengan candrasengkala Sirna Hilang Kertaning Bumi (1400 tahun jawa) – hilang sudah kesejahteraan “bumi” nusantara. Tancep kayon.

Apakah kita percaya begitu saja dengan cerita itu ? Benarkah kerajaan Majapahit yang meliputi seluruh perdikan Nusantara ini hancur hanya gara-gara tawon, tikus dan demit. Bagi yang menelan mentah-mentah cerita itu, tentulah kurang daya pikirnya. Cerita yang demikian itu aneh tak masuk akal, tidak cocok lahir dan bathin. Itu hanyalah perlambang, karena apabila diterangkan sesungguhnya akan membuka rahasia Majapahit, karena itulah diberi pasemon agar orang berfikir sendiri.

Sahabatku, Tikus itu wataknya remeh, tetapi lama-lama apabila dibiarkan akan berkembang biak. Ini adalah perlambang para ulama, yang ketika baru sampai di Jawa meminta perlindungan kepada Sang Prabu Brawijaya di Majapahit, sesudah diberi, balas merusak.

Tawon itu pembawa madu yang rasanya manis, senjatanya berada di anus. Adapun tempat tinggalnya di dalam tala, artinya tadinya ketika di muka memakai kata-kata yang manis, akhirnya menyengat dari belakang. Adapun tala artinya mentala “tega” merusak majapahit, siapapun yang mendengarnya pasti marah.

Adapun demit diberi wadah peti dari Palembang, setelah dibuka berbunyi menggelegar, artinya Palembang itu mlembang, yaitu ganti agama. Peti artinya wadah yang tertutup untuk mewadahi barang yang samar. Demit artinya samar, remit, rungsid. Demit itu juga tukang santet, adapun kupasannya demikian : hancurnya Negeri Majapahit dengan disantet secara samar, menyerang diam-diam ketika hari raya grebeg. Berdalih pawai menghadap raja, ternyata maksudnya menyerang. Orang Majapahit tidak siap senjata, tahu-tahu Adipati Terung sudah membantu Adipati Demak. Dibinasakan seluruh tentara, dibunuh rakyat tak bersalah, dibakar seluruh kitab kerajaan. Papa nista hina cara.

Sejak jaman dahulu kala, belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit hancur dengan disengat tawon serta digerogoti tikus saja, dan bubarnya orang sekerajaan hanya karena disantet demit. Hancurnya Majapahit suaranya menggelegar, terdengar sampai ke negara mana-mana, kehancuran tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri yaitu Adipati Demak dibantu Wali Delapan atau Sunan Delapan yang disujudi orang Jawa. Mereka semua memberontak dengan licik.

Sebelum Majapahit hancur, burung kuntul itu belum ada kuncirnya. Setelah negara pindah ke Demak, keadaan Jawa juga berubah. Lantas ada burung kuntul memakai kuncir. Prabu Brawijaya disindir, kebo kombang atine entek dimangsa tuma kinjir. Kebo artinya kerbau yakni raja perkasa, kombang artinya diam tapi suaranya riuh, yaitu Prabu Brawijaya tak habis pikir ketika Majapahit hancur. Maksudnya diam marah saja, tidak berkenan melawan dengan perang. Adapun tuma kinjir itu kutu babi hutan. Tuma artinya tuman “terbiasa”, babi hutan itu juga bernama andapan, yaitu Raden Patah ketika sampai di Majapahit bersujud kepada Ayahnda sang Prabu. Waktu itu diberi pangkat, artinya mendapat simpati dari Sang Prabu. Tapi akhirnya memerangi dan merebut tahta, tidak berfikir benar atau salah, sampai Sang Prabu sendiri tak habis pikir.

Adapun kuntul memakai kuncir itu pasemon Sultan Demak. Ia mengejek-ngejek kepada Sang Prabu, karena agamanya Buda Kawak kafir kufur. Makanya Gusti Allah memberi pasemon gitok kuntul kinuciran. Artinya lihatlah tengkukmu, ibumu putri Cina, tidak boleh menghina kepada orang lain agama. Sultan Demak – Sang Prabu Jimbun itu dari tiga benih. Asalnya Jawa, yaitu Sang Prabu Brawijaya, maka Sang Prabu Jimbun besar hati menginginkan tahta raja, ingin cepat kaya sesuai sifat ibunya. Adapun berani tanpa pikir itu dari sifat Sang Arya Damar, karena Arya Damar itu ibune putri raksasa, senang minum darah, sifatnya sia-sia. Maka sejak itu ada kuntul memakai kuncir, itu sudah kehendak Allah, tidak hanya Sunan Demak sendiri saya yang diperingatkan mengakui kesalahannya, tetapi juga para wali lainnya.

Apabila tidak mau mengakui kesalahannya, dosanya lahir batin. Maka namanya wali diartikan walikan, dibaiki membalas kejahatan.

Cuplikan cerita di atas saya ambil dari kitab sabda palon noyo genggong. Mudah-mudahan tidak diartikan sebagai penghinaan terhadap suatu kepercayaan, tetapi semata-semata sebagai kajian sejarah yang disikapi dengan pikiran jernih dan obyektif, tentang perilaku manusia-manusia penganut kepercayaan itu sendiri.

Jika terjadi penyimpangan, percayalah ! itu bukan karena ajarannya yang salah, akan tetapi ulah pelaku-pelaku yang mengaburkan kebenaran untuk pembenaran tindakan yang dipenuhi hawa nafsu.

Sodara-sodara senasib sepenanggungan, Lima ratus tahun berlalu sudah cerita, tanah perdikan yang konon kaya raya, luas membentang antar dua benua, jumlah rakyat berjuta-juta, baru bangkit dari terjajah hina nestapa, merdeka, bergema se asia africa, lalu kembali buram, didera bencana dan tiba di senjakala.

Tikus-tikus koruptor menggerogoti dengan ganas anggaran negara – merata dari sabang sampai merauke.

Tawon-tawon nayapraja utama penjilat, bermulut manis yang berhati jahat, sewaktu-waktu siap menikam kawan seiring penggunting dalam lipatan alias khianat, hanya untuk mendapat kedudukan sebagai anggota dewan yang terhormat.

Para dedemit datang dengan janji manis investasi, bercokol di bank-bank dan lembaga keuangan lain, di industri-industri strategis, yang sedang dijual obral oleh antek-antek nayapraja bermulut manis yang menyembunyikan senjatanya dipantat. Bukankah di”serah”kannya kendali sebagian besar perbankan dan industri-industri strategis, berarti menyerahkan rahasia dinamika perekonomian bangsa sehingga dengan mudah dikontrol oleh kepentingan asing ?

Para ulama bak burung kuntul, dari depan putih bersih mulus padahal dalam hatinya berkuncir. Pandai menjual ayat, padahal hatinya bejat.

Dan sudah tak kurang-kurang lagi orang yang diberi “kehidupan” di tanah Nusantara, malah berkhianat karena kepentingan perut sendiri.

Sang Prabu juga bagai kebo kumbang atine entek dimangsa tuma kinjir, kerbau gagah perkasa, namun hanya bisa menggerutu dan mengelus dada, mengeluh, mengadu, memelas, wacana, punya sederat alasan untuk tidak bertindak tegas terhadap kekacauan yang ada. Hei Prabu yang saya mestinya saya hormati, simaklah nasihat Prabu tanah seberang – Harry Truman kepada John F. Kennedy : “Setelah anda terpilih, Anda harus berhenti berkampanye”.

Tinggal satu lagi lakon yang belum dimainkan … sudahkah sidang pembaca menemukan anak bejat calon pengkhianat ? Ciri si Anak Bejat adalah bernafsu besar ingin merebut tahta, ingin cepat kaya dan bertindak berani – tanpa pikir panjang.

Kalau anda sudah menemukan, mari kita tunggu … bagaimana Senjakala terjadi !!!

Semoga eling dan tetap waspada, sehingga selamat tanah Nusantara.

Salam hangat, Ki Jero Martani

B h a s i r a h (Mata Hati)

Saat ini, akan jatuh lagi seorang Brahmana Penjual Ayat ke dalam api neraka pekat. Mulut manis, menjual murah sorga dengan mempermainkan kalbu, namun Sang Brahmana keparat ternyata tiada mampu taat dengan ayat yang diucap. Brahmana sontoloyo ini, ilmunya telah kalah oleh nafsu setan berupa gejolak birahi mencaplok domba yang harus dilindunginya. Percayalah – perbuatan maksiat – pagar makan tanaman ini, sudah berlangsung lama.

Memposisikan diri sebagai Brahmana, sangat pantang mendustakan perkataan, tetapi silat lidah yang piawai ini, hanyalah untuk mengaburkan kebenaran sejati dengan berbagai pembenaran. Sesungguhnya ilmu-ilmu bathin untuk mengolah kalbu diketahui dengan mata hati (bhasirah), sedangkan orang yang memiliki mata “telanjang” jauh lebih banyak. Jika amal perbuatan Sang Brahmana bertentangan dengan ilmu yang terucap maka sebarang ucapannya tidak akan memiliki daya bimbing lagi.

Apabila sang Brahmana Durjana melakukan perbuatan tercela, lalu berkata kepada orang lain “Janganlah engkau melakukannya !” maka hal ini akan menjadi racun perusak yang maha dahsyat. Orang-orang akan melecehkan dan menuduhnya, bahkan makin besar keinginan umat, untuk melakukan apa yang dilarangnya itu, seraya berfikir “Kalau bukan karena paling baik dan paling enak, pasti Sang Brahmana Pujaan tidak akan melakukannya”. Tingkah polah Brahmana penjual ayat dan umat, laksana bayangan sebuah tongkat, bagaimana bayangan bisa lurus jika tongkatnya bengkok ?

Ada sebuah kata bijak yang mengatakan “jangan kamu melarang suatu peringai tetapi kamu melakukannya. Aib bagimu, apabila kamu lakukan, dan akan menjadi dosa besar”, juga ada petuah yang berkata “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri ?”

Dosa Brahmana Durjana yang bermaksiat lebih besar dari dosa orang bodoh, karena dengan ketergelincirannya itu, akan membuat ketergelinciran orang banyak yang menjadikan Sang Brahmana sebagai panutan. Siapa yang memprakarsai suatu tradisi yang buruk maka ia mendapat dosanya dan juga menanggung dosa para pengikut yang melakukannya. Sesungguhnya kehancuran Brahmana yang pelempar sorban telah datang, walau senyum palsu disertai rangkaian kata berkilah penutup kebenaran yang sejati akan tetapi jelas-jelas dia tak mampu melawan nafsu bejat untuk melakukan maksiat membuang ayat yang telah terucap ke dalam goa nikmat janda berkarat.

Semoga jadi bahan pertimbangan bagi para domba-domba sesat, yang ternyata dibimbing oleh Gembala Bejat penjual ayat berdompet tebal, yang mengumpulkan harta, semata-mata untuk keperluan maksiat.

=== Duka lara Ki Jero Martani – rakyat jelata Nusantara
=== Semoga mendapat pertolongan Gusti Allah
=== karena jin brekasakan pasukan Ki Butalocaya, para danyang tanah nusantara,
=== sabdo palon dan naya genggong
=== telah sukses dalam memulai langkah pertama membangun tatanan baru di Nusantara
=== yang belum diketahui bagaimana bentuk akhirnya
===
=== Ih ratu ngurah tangkeb langit,
=== ratu wayan tebeng,
=== ratu made jelawung,
=== ratu nyoman sakti pengadangan
=== ratu ketut petung,
===
=== ojo lali sira asanak ring ulun apan ulun tan lali astiti bhakti ri sira
=== wehang ulung panugrahan “nusantara selamat sejahtera”
=== om windu siddha rasya muka angamet sarining merta kusuma
=== ya nama namah swaha
===
=== Yang tidak kelihatan
=== akan berperang tanpa balatentara
=== sakti tanpa merapal ajian
=== meraih kemenangan tanpa pujian

Salam hormat dan mohon maaf

Ki Jero Martani

Sang Dalang dan WayangNya

Tujuan berdoa adalah untuk memohon kepada Gusti Allah, agar Dia mendengar dan menjawab doa kita dengan tepat. Gusti Allah memberikan rahmat karunia dan talenta yang spesifik untuk setiap individu, akan tetapi, doa adalah karunia dan hak istimewa untuk setiap orang. Doa adalah pembuka pintu tahta Sang Jiwa.

Lalu apakah perlu berdoa laksana orang munafik, bergerombol mengucap doa dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat, di tikungan keramaian agar supaya dilihat orang ? Tidakkah lebih baik ketika berdoa, masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan berdoa mengetuk pintu tahta Sang Jiwa yang menjadi belahan tubuhmu ? Lalu apakah diperlukan kata panjang lebar dan mulut berbusa ? Bukankah Sang Jiwa telah mengetahui apa yang diperlukan, sebelum diminta kepada-Nya ?

Doa bukanlah untuk memaksa Sang Jiwa melakukan hal-hal yang kita minta. Tetapi semata-mata untuk datang kepadaNya dengan penuh percaya hingga apa yang kita perlukan akan diberikan kepada kita.  Gusti Allah pasti akan menjawab doa hambaNya yang penuh percaya, namun tidak selalu dalam cara yang kita ingini. Dia paling mengetahui apa  keperluan harian kita, di mana keperluan rohani kita lebih penting dari keperluan material.

Kita perlu menghargai betapa istimewanya untuk datang ke dalam hadirat Gusti Allah yang Mahakuasa dalam doa. Kita tahu kita perlu berdoa karena dengan doa, kita mengakui kebergantungan pada satu sumber di luar diri kita – satu kuasa yang lebih tinggi. Kita laksana wayang yang memasrahkan seluruh “hidup” kita pada kehendak sang dalang.  Mensemayamkan Gusti Allah ke tengah kalbu, dan memasrahkan diri kita sebagai alat Gusti Allah untuk mewujudkan rencananya.

Semoga terwujud manunggaling kawula gusti – Gusti Allah menjadi semua dalam semua.

Semoga bermanfaat

Ki Jero Martani

Olah Bathin

Tan samar pamoring sukma, Sinukmanya winahya ing ngasepi, Sinimpen telenging kalbu, Pambukaning warana, Tarlen saking liyep layaping ngaluyup, Pindha pesating supena, Sumusiping rasa jati.

Tidak bingung kepada perpaduan sukma, Diresapkan dan dihayati di kala sepi, Disimpan di dalam hati, Pembuka tirai itu, Tak lain antar sadar dan tidak, Bagai kilasan mimpi, menyusup rasa yang sejati
[Sinom, Serat Wedhatama]

—oOo—

Di jaman edan seperti sekarang ini, banyak dari kita telah dikendalikan oleh keinginan yang bagai laut tanpa batas, keinginan yang tak terpuaskan akan kekuasaan dan kepemilikan. Kita konon mahluk sempurna, bahkan malaikat sekalipun ”hormat” kepada kita. Manusia diberkahi hingga bisa lebih tinggi dari binatang, yang hanya mengingat ”perut”-nya saja. Tetapi celaka, akibat keinginan, terkadang kita berperilaku lebih rendah dan lebih bodoh dari binatang. Dalam usaha yang sia-sia memenuhi hawa nafsu, kita makin menyimpang jauh dari kedamaian dalam diri dan kebahagiaan mental. Walau berada di lingkungan material yang menyenangkan, banyak orang mengalami ketidak puasan, rasa takut, khawatir dan tidak aman. Sejatinya, ada yang hilang dalam hati kita, apakah itu ? Yang hilang adalah ”rasa” spiritual.

Kita harus jelas memahami, bahwa diri kita terdiri dari komponen jiwa dan raga. Kebutuhan kita tidak hanya dapat dipenuhi hanya lewat pemenuhan material. Material diperlukan demi kenyamanan raga, tetapi pemenuhan materi saja, tidak memberikan kenyamanan mental. Karena itu, ”olah bathin” menjadi sangatlah relevan. Jika agama tidak berarti banyak dalam hidup kita sehari-hari, kita memang perlu meninggalkannya. Tetapi saya pribadi tetap percaya, bahwa agama sesungguhnya memberikan keuntungan yang sangat besar. Setiap agama dilengkapi filosofi sendiri, antar agama mengandung kemiripan, sekaligus perbedaan yang luas.

Yang penting adalah, mana yang sesuai untuk setiap individu. Peran penting agama-agama adalah kebangkitan welas asih. Seluruh agama menyadari kepentingan welas asih dan mempunyai potensi untuk meningkatkan dan memperkuat welas asih dan harmoni. Mengingat kesamaan mendasar ini, maka sudah semestinya  timbul rasa memahami satu sama lain dan dapat bekerja sama. Saya juga percaya bahwa kualitas seperti welas asih dan sifat mengampuni adalah kualitas manusia mendasar dan karenanya sangat penting, sekalipun tanpa kepercayaan religius.

Kita perlu membedakan dua istilah penting, agama dan “olah bathin”. Kata agama mempunyai banyak arti, khususnya ia mengimplikasikan perhatian pada nilai suci dan utama dari hidup. Istilah olah bathin, mengacu pada pengalaman langsung atas hal-hal suci. Praktik-praktik olah bathin dapat membantu kita mengalami sang suci – yang paling memusat dan esensial bagi hidup kita – untuk diri kita sendiri.

Tujuan utama olah bathin adalah kebangkitan, yaitu untuk mengetahui siapa diri sejati kita dan bagaimana hubungan kita dengan sang suci. Akan tetapi, praktek spiritual juga menawarkan banyak sekali hadiah lain di sepanjang jalan. Selama ribuan tahun, para leluhur telah menyanyikan tembang-tembang pujian dari banyak keuntungan yang mengalir ke kehidupan praktisi saat mereka berjalan di sepanjang jalan spiritual. Secara berangsur-angsur, hati mulai terbuka, takut dan marah mencair, keserakahan dan iri hati berkurang, kebahagian dan kesenangan mulai tumbuh, cinta berbunga, kedamaian menggantikan kekerasan, kepedulian akan orang lain bermekaran, kebijaksanaan semakin matang, dan baik kesehatan fisik dan psikologis meningkat.

Pengamatan pertama dari empat yang ada dalam olah bathin adalah tan samar pamoring sukma. Terdapat dua dunia realitas, yang pertama adalah dunia sehari-hari yang kita kenal, dunia obyek fisik dan mahluk hidup. Ini adalah dunia yang dapat kita masuki lewat penglihatan dan suara dan dipelajari oleh ilmu pengetahuan seperti fisika dan biologi.

Tetapi di bawah fenomena yang tidak asing ini, terbentang dunia bathin yang jauh lebih tak kentara dan dalam : dunia kesadaran, jiwa atau pikiran. Dunia bathin ini, tidak bisa diketahui lewat indera fisik dan hanya dikenal secara tidak langsung lewat instrumen fisik ilmu pengetahuan. Lebih jauh lagi, dunia bathin menciptakan dan merangkul dunia fisik dan sumbernya. Bathin ini tidak terbatas oleh ruang atau waktu atau hukum fisik, karena ia menciptakan ruang, waktu, dan hukum fisik dan karennya tidak terikat dan tak terbatas, tak mengenal waktu dan bersifat abadi.

Karena luas dan dalamnya, karena perannya untuk menyimbangkan jiwa dan raga, kenapa kita tidak mulai mengarungui ilmu olah bathin ?

Salam hangat,

Ki Jero Martani

Baktikan Djiwa Raga untuk Kemerdekaan

[Beberapa patah kata pribadi dari Ir. Soekarno pada saat pidato Nawaksara]

Kemudian saja mau menjampaikan beberapa patah kata mengenai diri saja sendiri. Saudara-saudara semuanja mengetahui bahwat tatkala saja masih muda, amat muda sekali, saja miskin, dan oleh karena saja miskin, maka demikianlah sering kita utjapkan – saja tinggalkan ”this, material world”. Dunia djasmani saja ini, laksana saja tinggalkan, karena dunia djasmani ini tidak memberi hiburan dan kepuasan kepada saja, oleh karena saja miskin.

Maka saja meninggalkan dunia djasmani ini, dan saja masuk – kataku sering dalam pidato-pidato dan keterangan-keteranganku – ke dalam world of the mind. Saja meningalkan dunia yang ”material” ini, saja masuk kedalam ”world of the mind”, dunianya alam tjipta, dunia chajal, dunia fikiran.

Dan telah sering saja katakan bahwa, di dalam “world of mind” itu, disitu saja berdjumpa dengan nabi-nabi besar, dalam “world of the mind” itu saja berdjumpa dengan ahli falsafah-ahli falsafah yang besar, didalam “world of the mind” itu saja berdjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa jang besar dan didalam “world of the mind” itu, saja berdjumpa dengan pedjoang-pedjoang kemerdekaan jang berkaliber besar.

Nah saja berdjumpa dengan orang-orang besar ini, tegasnja, djelasnja, dari batja buku-buku. Salah satu pemimpin besar dan salah satu bangsa jang berdjoang untuk kemerdekaan, mengutjapkan kalimat sebagai berikut : ”the cause of freedom is a deathless cause” – perdjoangan untuk kemerdekaan adalah satu perdjoangan jang tak mengenal mati, ”the cause of freedom is a deahtless cause”. Sesudah saja batja kalimat itu dan renungkan kalimat itu, bukan sadja saja tertarik kepada ”cause of freedom” daripada bangsa saja sendiri dan bukan sadja saja tertarik kepada ”cause of freedom” daripada seluruh umat manusia di dunia ini, tetapi karena saja tertarik kepada ”cause of freedom” ini, saja ingin menjumbangkan diriku kepada ”deathless cause” ini, ”deathless cause of my own people, deathless cause of all people on earth”.

Dan lantas saja mendapat kejakinan bukan sadja ”the cause of freedom is a deathless cause” tetapi juga ”the service of freedom is a deathless service”, pengabdian kepada perdjoangan kemerdekaan, itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis, pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian, bukan ”service” jang hanja ”lip service”, tetapi service jang betul-betul masuk ke dalam djiwa, ”service” jang betul-betul pengabdian, ”service” jang demikian itu adalah satu ”deathless service”.

Dan saja tertarik oleh saja punya pendapat sendiri itu. Pendapat pemimpin besar daripada bangsa jang saja sitir tadi berkata : ”the cause of freedom is a deathless cause”. Saja berkata “not only the cause of freedom is a deahtless cause, but also the service of freedom is a deathless service”. Dan saja, saudara-saudara telah memberikan, menjumbangkan atau menawarkan diri saja sendiri dengan segala apa yang ada pada saja ini kepada “service of freedom”.

Dan saja sadar sekarang ini, “the service of freedom is a deathless service”, jang tidak mengenal habis, tidak mengenal achir, tidak mengenal maut. Itu adalah urusan isi hati. Badan manusia bisa hantjur, badan manusia bisa dimasukkan dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan ke dalam pendjara, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan jang jauh daripada tempat kelahirannya, tetapi ia punya “service of freedom” tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang ke tempat pengasingan.

Dan saja beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaanku sendiri, saja telah lebih daripada 35 tahun, hampir 40 tahun “dedicate myself to this service of freedom” dan saja menghendaki agar supaja seluruh, seluruh, seluruh Rakjat Indonesia, masing-masing djuga “dedicate” djiwa raganya kepada “service of freedom” ini, oleh karena memang “service of freedom” ini “is a deathless service”.

Tetapi achiernya segala sesuatu adalah didalam tanganNya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saja “dedicate myself, my all to this service of freedom”, itu adalah Tuhan punja urusan. Karena itu, maka saja terus, terus, terus, selalu memohon kepada Allah SWT, agar saja diberi kesempatan untuk membuktikan, mendjalankan aku-punja “service of freedom” ini. Tuhan yang menentukan, de mens wikt, God beslist : manusia bisa berkehendak matjam-matjam, Tuhan jang menentukan. Demikian saja, bersandaran kepada keputusan Tuhan itu, Saudara-saudara. Tjuma saja djuga dihadapan Tuhan berkata, ja Allah, ja Rabbi berilah saja kesempatan, kekuatan, taufik, hidajat untuk ”dedicate myself to this great cause of freedom and to this great service of freedom”

Inilah saudara-saudara, jang hendak saja katakan kepadamu di waktu saja pada hari sekarang ini memberi laporan kepadamu sekalian. Moga-moga Tuhan selalu memimpin Saudara-saudara sekalian.

Sekian saudara ketua.

Pidato Presiden I Republik Indonesia

Ir. Soekarno

Artadaya – Ilmu Penakluk Jagat Raya

Samengko ingsun tutur, Sembah catur supaya lumuntur, Dhihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki, Ing kono lamun tinemu, Tandha nugrahaning manon [Serat Wedhatama, Gambuh]

Anakku Ki Butalocaya, saat ini saya ingin bercerita tentang empat sembah, dengan harapan dapat engkau tahu, pahami, laksanakan dan manfaatkan, lalu disebarkan, untuk membuat dunia ini menjadi rahayu. Sembah Catur, yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Jika engkau laksanakan ke empat sembah ini secara bertahap, niscaya engkau akan mendapatkan anugerah dari Hyang Manon. Untuk kesempatan ini, kucoba menerangkan sembah terakhir yaitu sembah rasa.

Rasa dan kekuatan bathin dalam hidup, bukan berasal dari jasmani atau pikiran. Rasa sesungguhnya berasal dari roh ilafi. Rasa bathin dalam hidup, berasal dari roh ilafi – atman – jiwa alam semesta. Orang-orang yang yang mampu menunjukkan kekuatan yang menakjubkan di dunia ini, adalah mereka yang sudah mampu mendaya gunakan roh ilafi tersebut. Kekuatan ruh ilafi pada diri sesorang, akan mempesonakan jutaan jiwa manusia. Akan tetapi, ingatlah anakku, perjalananmu masih panjang, jangan tergoda untuk menaklukkan jiwa orang lain. Berilah selalu pencerahan dan semangat untuk memberdayakan, bukan menguasai kehidupan manusia lainnya.

Gunung luhure kagiri-giri, segara agung datanpa sama,
Pan sampun kawruhan reke, artadaya puniku,
Data kena cinakreng budi, anging kang sampun prapta,
Ing kuwasanipun, angadeg tengahing jagad
Wetan kulon lor kidul ngandhap myang nginggil, kapurba wisesa

Bumi sagara gunung myang kali, Sagunging kang isining bawana
Kasor ing artadaya, Sagara sat kang gunung
Guntur sirna guwa samya nir, Sing awruh artadaya
Dadya awruh artadaya, Dadya teguh timbul
Lan dadi paliyasing prang, ,Yen lulungan kan kapapag, wedi asih
Saro galak suminggah

Gunung yang luar biasa tinggi, lautan pasang tiada tara, semua itu sudah diketahui. Sedangkan artadaya itu, tak dapat dibayangkan oleh pikiran. Tetapi, bagi yang sudah mencapai kekuasaannya. Berdiri di tengah jagad, timur, barat, utara, selatan, bawah, dan atas, semuanya ada itu berada dalam kekuasaanya.

Bumi lautan, gunung dan sungai. Semua yang menjadi isi dunia. Takluk pada artadaya. Lautan kering, gunung dan guntur sirna. Gua menjadi hilang. Barangsiapa mengetahui artadayanya, akan menjadi orang yang kuat tanpa tanding. Menjadi pencegah perang, bila bepergian, yang bertemu merasa segan dan timbul kasihnya.

[Kidung Dharmawedha]

Engkau tak bisa memprediksi kekuatan artadaya hanya berdasarkan logika-akal-pikiran. Tak bisa dengan rasio. Tak terbandingkan. Apa yang disebut sebagai mukjizat, karomah, maunah dan istijrat, semuanya adalah wujud dari kekuatan artadaya. Secara hakikat, memang daya dan kekuatan itu semata-mata kepunyaan Allah. Tapi, dalam kenyatannya daya dan kekuatan itu dihadirkan oleh Tuhan pada artadaya yang ditempatkan pada setiap orang.

Jika engkau tenggelam dalam meditasi dan merenungkan hidupnya, seseorang telah mampu menembus para Roh Ilafi dan artadaya, maka dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang sudah mencapai artadaya-nya. Mereka memiliki mukjizat. Dan kekuatannya tak tertandingi. Mereka memiliki kharisma yang mampu mencegah terjadinya perang.

Tekunlah kau agar artadaya-mu dapat engkau capai. Kalau artadaya itu tercapai, engkau dapat dengan sengaja menghilang, kebal, menciptakan emas dari tanganmu, bahkan engkau mampu memerintahkan gunung meletus atau luapan samudera. Itu sebagai tanda bahwa engkau sudah mampu memberdayakan Roh Ilafi-mu. Akan tetapi ingatlah jangan engkau pergunakan itu, kecuali dan hanya kecuali, kau sudah mendapat bimbingan dari Sang Paramaatma. Bimbingan langsung dari Gusti Allah, bukan sekali lagi bukan karena dorongan keinginan hawa nafsu.

Tanah Nusantara saat ini sedang bergejolak bukan tanpa sebab anakku. Aku merasakan ada aura kekuatan artadaya, entah disengaja ataupun tidak sangaja. Sebentar lagi  sang penguasa artadaya akan muncul, bersiaplah. Semoga engkau dapat mempergunakan kekuatan yang ada pada dirimu, agar engkau dapat mencegah kerusakan lebih hebat lagi, semoga dia akan merasa segan dan timbul kasih karena kharisma artadaua yang engkau miliki.

Berhati-hatilah Ki Butalocaya anakku, semoga engkau tetap eling dan waspada, berjuanglah agar tanah Nusantara menjadi rahayu …

Salam sayang,

Ki Jero Martani

About these ads

Filed under: Kebudayaan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juli 2010
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Pengunjung

  • 85,516 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: