Pasulukan

Ikon

for Indonesian Culture

THAHAROH (KESUCIAN) (Bag. 1)

Maka Aku bersumpah dengan masa Turunnya bagian-bagian Al-Quran.  Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia,  Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (al-Waaqi’ah : 75-79)

Dalam prakteknya, di setiap ajaran syariat terdapat dua sisi yang mendasarinya, yakni sisi ruhaniyah dan jasmaniyah. Spiritual dan material. Konsep dasar syariat yang diajarkan dan ditulis dalam Kitab-kitab Fiqih menjadi sebuah kurikulum dasar untuk memahami dan menghayati konsep-konsep kehidupan dalam Islam. Seluruh materi yang diajarkan, mulai dari thaharah, mu’amalat, munakahat, hingga kepada materi yang bersifat umum dan ilmiah, tidak akan terlepas dari dua sisi ini.

Dari dua sisi tersebut, aspek ruhaniah atau spiritual lah yang paling utama dan menjadi tolak ukur derajat/maqam seseorang di sisi Allah swt. Sisi ruhanilah yang akan mengantarkan seseorang kembali dengan selamat kepada Allah swt. Ruhanilah yang menempatkan hamba di sisi Allah sesuai dengan nilai yang diperoleh pada saat di dunia. Kedua sisi tersebut telah ditunjukkan oleh Allah kepada kita melalui Al-Qur’an. Sisi materilnya dapat di lihat pada ayat-ayat yang tertulis, sedangkan sisi ruhaninya dapat dirasakan pada kandungannya.

Satu contoh dari materi fiqih yang sering dijadikan sebagai bab pembuka bagi pelajaran fiqih secara keseluruhan adalah mengenai thaharah.

Secara lughawi (bahasa) thaharoh itu berasal dari kata tha-ha-ra yang arti dasarnya adalah nadzhofah yakni melakukan sesuatu untuk kesucian. Secara syar’i, thaharoh itu adalah mengangkat (membersihkan) kotoran atau menghilangkan najis atau segala sesuatu yang sama dengan makna keduanya atau menyerupai keduanya, seperti mandi (wajib atau sunnah atau pengulangannya), wudhu, tayammum, dan lain-lain, dari badan, pakaian, tempat, dan lain-lain.

Salah satu dari pembahasan fiqih tentang thaharoh adalah pengenalan tentang air. Dari segi asal keluarnya, air itu terbagi menjadi 7 macam[2] dan dari segi penggunaannya air itu terbagi menjadi 4 bagian[3]. Cara membersihkan najis juga merupakan hal lain yang dibahas dalam bab thaharoh yang dalam istilah fiqih dikenal dengan istinja beserta pengenalan seputar kategori najis dan bagian-bagiannya.

Upaya penyucian diri (tubuh/badan secara materil) dari segala kotoran dengan berbagai bentuknya yang dibahas dan ditulis dalam kitab-kitab fiqih oleh para Ulama terdahulu tidaklah hanya berhenti pada kesucian jasadiah (badan/tubuh). Thaharah dalam fiqih bukan merupakan ajaran yang orientasinya hanya kebersihan jasad dan lingkungan an sich. Kalau pendidikan tentang kebersihan hanya menonjolkan dan sekedar mengarah kepada jasad, maka ajaran fiqih tersebut membangun sebuah paham materialisme klasik[4]. Sebagaimana dalam catatan sejarah bahwa materialisme klasik membuat konsep ilmu pengetahuan berdasarkan apa yang tampak, kasat mata dan dapat dibuktikan secara logika. Yang tidak kasat mata, mereka sebut sebagai kebohongan, termasuk kepercayaan kepada Tuhan.

Untuk tidak terjebak pada pemahaman materialistic, maka kita harus lebih jauh lagi memandang, mengkaji, menelaah dan mendalami maksud-maksud yang terkandung dalam setiap ajaran fiqih.

Sekilas kita kritisi, bahwa jika kita hubungkan antara teori atau praktek kebersihan yang ditulis dalam kitab-kitab fiqih dengan keselamatan dunia dan akhirat, nampaknya tidak available. Jelasnya, dimana hubungan konkritnya antara praktek wudhu dengan keyakinan pada Tuhan (dasar-dasar tauhid dalam beragama). Bagaimana dapat dikatakan bahwa membersihkan badan secara jasadiah dengan air dapat menjamin kita masuk surga dan kembali kepada Allah dengan selamat. Toh, orang yang gak percaya Tuhan pun, suka dan butuh akan kebersihan. Seorang koruptor sekalipun, tetap membutuhkan dan suka berpakaian rapi, bersih, dan enak dipandang mata. Dalam pengertian ini ternyata, kebersihan dan kerapian yang ditampilkannya tidak identik dengan mentalnya. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلىَ أَجْساَمِكُمْ وَلاَ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلىَ قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ .

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada badanmu dan rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu dan amalmu.

Kesucian (thaharoh) yang diajarkan di dalam kitab-kitab fiqih adalah bagian awal dari pemahaman thaharoh secara luas yang merupakan dasar-dasar tauhid. Semangat yang dimunculkan pada ajaran kebersihan adalah kesucian hati yang nantinya akan memantulkan kesucian pikiran. Kesucian lahir/jasad hanyalah proses awal dari pentahapan untuk sampai kepada kesucian bathin. Namun kesucian bathin tidak akan bisa dicapai jika tidak ada pemahaman dan penghayatan terhadap praktek-paraktek kesucian lahir.

Pada sisi bathinlah pernyataan-pernyataan kesucian lahir. Sementara akal pikiran harus melewati proses asbabiyah (sebab musabab) dalam menterjemahkan kesucian lahir itu dengan media-media seperti air dalam wudhu atau mandi wajib misalnya. Tanah atau debu dalam bertayammum, dan lain-lain.

Ketika selesai berwudhu, atas dasar apa lantas kita menyatakan bahwa kita sudah suci lalu kita melaksanakan shalat. Apakah kita benar-benar sudah menjamin bahwa badan kita benar-benar sudah suci dari najis, atau pakaian kita sama sekali sudah benar-benar suci dari najis. Lalu bagaimana kalau setelah berwudhu badan kita mengeluarkan keringat, apakah akan kita katakan bahwa keringat kita itu sudah suci. Mengapa mengeluarkan keringat tidak membatalkan wudhu sementara menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Kok, menyentuh kemaluan sendiri yang bukan kotoran dapat membatalkan wudhu. Mana di antara keduanya yang lebih kotor, kemaluan atau keringat.

Pada akhirnya, kesucian diri yang kita lakukan melalui mandi, berwudhu, tayammum dll., hanyalah simbol-simbol yang kemudian dituntaskan dengan pernyataan bathin bahwa kita sudah suci dari najis. Suci dari najis adalah sebuah kesimpulan akal yang kemudian dituntaskan atau distampel oleh hati. Setelah itu, baru muncul perasaan yakin bahwa diri ini sudah suci. Bagian selanjutnya dari pembahasan tentang kesucian adalah kesucian pikiran.

Kalau bagian pertama tadi bathin menyatakan tentang kesucian jasad dan terfokus pada kesucian badan/jasad, maka bagian selanjutnya dari pernyataan bathin adalah kesucian pikiran. Jasad kita ini adalah salah satu dari sekian banyak partikel dunia. Berpikir tentang kesucian jasad, berarti berpikir tentang jasad itu sendiri, artinya berpikir tentang dunia. Bathin  diarahkan untuk menyatakan tentang kesucian salah satu partikel dunia. Aktifitas ini belum dikatakan sebagai aktifitas/amalan yang mengarah kepada akhirat.

Kesucian pikiran terletak pada nilai-nilai positif yang diproduksi olehnya dan kepatuhannya pada gerak dan pernyataan bathin. Seringkali kita mengalami beban pikiran yang begitu berat sehingga tidak mampu mengambil kesimpulan dari kenyataan yang sangat sederhana. Kita menjadi bodoh karena tidak kuat lagi berpikir. Banyak orang di zaman sekarang mengalami depressi/stress karena persoalan-persoalan klasik; ekonomi, kehormatan, status sosial, ketidakadilan, dll. Dari keadaan yang penuh tekanan itulah seseorang mengambil cara hidup yang menyimpang. Sekecil apapun cara hidup yang menyimpang, penyebabnya adalah keadaan yang penuh tekanan. Keadaan yang penuh tekanan yang kemudian memunculkan  perbuatan menyimpang akan berlanjut kepada tekanan dari keadaan selanjutnya. Kondisi  itu terus berlanjut hingga menjadi kacau dan tumpang tindih. Padahal semua penyebab depressi tersebut bertumpu pada satu titik, yaitu pikiran.

Agama mengajarkan shalat, namun shalat tidak membawa dirinya kepada satu titik yang bisa meringankan beban pikiran, yakni ketenangan bathin. Shalat dengan ketenangan bathin pada kenyataannya menjadi sesuatu yang dikotomis, sesuatu yang seolah tidak ada kaitannya. Shalat jalan terus, maksiat semakin bertambah. Seolah tidak ada hubungan.

Persepsi tentang shalat yang tidak mampu menciptakan suasana tenang di dalam dirinya disebabkan oleh pemahaman terhadap ajaran fiqih yang tidak simultan, tidak menyeluruh, tidak sampai kepada spirit dasarnya. Pemahaman agama hanya terfokus dan berhenti pada diskursus tentang formalitas ritual. Pemahaman agama berhenti pada cara membaca huruf-huruf Arab yang menjadi tulisan al-Qur’an, berhenti pada praktek berwudhu, shalat, zakat, puasa, dll., juga berhenti pada penetapan tentang hukum haram, halal, mubah, sunnah, wajib atau makruh mengenai sesuatu perbuatan, atau benda, atau keadaan. Tema-tema ajaran agama tidak diselami sampai ke dasar samuderanya, yakni sampai ke titik pemahaman; untuk apa kita melakukan ini, itu, dll.

Pada hakekatnya, kesucian pikiran berkaitan erat dengan kesadaran akan arah pikiran itu sendiri. Karena itu, seringkali kita terjebak pada pikiran kita sendiri yang sebetulnya tidak perlu kita repot-repot memikirkannya. Terjebaknya kita pada pikiran sendiri adalah fakta bahwa kita telah tersesat. Kita telah dipacu oleh pikiran yang abstrak. Kita telah digerakkan dan dikendalikan oleh pikiran kita sendiri yang sesungguhnya tidak ada. Keinginan kita untuk punya rumah, pada hakekatnya hanya untuk memenuhi pikiran kita sendiri. Padahal rumah yang milik sendiri atau ngontrak, dua-duanya terbuat dari bahan yang sama, tembok. Keinginan memiliki mobil juga hanya memenuhi pikiran kita sendiri. Keinginan-keinginan itulah yang kemudian membentuk pola-pola kehidupan.

Keinginan-keinginan itulah yang membuat banyak persoalan di dunia. Keinginan-keinginan itulah yang pada hakekatnya memenuhi dan menyesakkan pikiran kita. Hingga pada akhirnya menyesakkan dada kita sendiri. Itulah dunia. Itulah permainan yang menipu.

Manusia dihiasi dengan kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah perhiasan kehidupan dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Ali Imron : 14).

Dunia yang terbentuk dan berada dalam persepsi serta mengikat pikiran kita, sedikit demi sedikit harus kita lepaskan. Persepsi itulah yang mengikat, memenjarakan, mengendalikan, dan memperbudak diri kita sendiri. Oleh karenanya, segala sesuatu yang mengikat persepsi akal pikiran kita, yang kemudian memperbudak dan menjebak diri kita hingga tersesat, itulah yang dinamakan dunia. Pikiran kita harus dibebaskan dari ikatannya, dari perintah-perintahnya, dari kungkungannya dan dari perbudakannya. Proses pembebasan pikiran itulah yang disebut sebagai penyucian pikiran.

Pada asalnya, pikiran itu netral seperti netralnya kejernihan air. Air akan berubah jika dimasuki zat-zat lain selain air. Jika dicampur kopi, maka dia akan lebur menjadi kopi. Begitulah makna filosofis dari perintah wudhu. Mengapa harus dengan air, karena air adalah simbol kejernihan pikiran. Secara hakekat, fiqih mengajarkan cara berwudhu adalah sebuah perintah untuk menjernihkan pikiran hingga seperti air. Anggota-anggota tubuh yang dibasuh pada saat berwudhu adalah anggota-anggota tubuh yang sangat berpengaruh pada pembentukan diri kita sendiri dan sangat rentan terhadap kotornya pikiran. Kotoran dalam pikiran yang berasal dan masuk melalui anggota inderawi kita bersifat semu dan binasa, dan akan menghalangi kita untuk mencapai kepada Yang Maha Suci.

Dengan demikian, thaharah yang benar adalah bersinerginya antara kesucian lahir dengan kesucian bathin. Jika hanya mengarah kepada kesucian lahir, maka bukan disebut thaharah (kesucian) tapi nadzofah (kebersihan). Konsekwensinya, niat berwudhu itu harus juga diiringi dengan niat menyucikan pikiran dan harus juga diiringi dengan niat mengkonkritkannya dalam perbuatan yang mewujud kepada prilaku positif. Begitulah yang dimaksud dalam kaidah-kaidah fiqhiyah ushuliyah (spirit-spirit dasar dalam pemahaman hukum syariat).

Wallahu a’lamu bishawabih


[1] Makalah ini ditulis oleh alJahil ila Allah Ahmad Baihaqi dan disampaikan di depan Jamaah Mushalla al-Fitrah pada kuliah dwi jum’atan, tgl 9 Mei 2008 M. dan disampaikan di depan Jamaah shalat jum’at di Depkominfo – Jakarta pada tanggal yang sama.

[2] 1. Air hujan, 2. Air laut, 3. Air sungai, 4. Air sumur, 5. Air dari mata air, 6. Air salju, dan 7. Air es.

[3] 1. Suci menyucikan dan tidak makruh (air muthlaq), 2. Suci Menyucikan namun makruh (air musyammasy), 3. Suci tidak menyucikan (air musta’mal), 4. Tidak suci (air yang bercampur najis).

[4] Materialisme klasik sebuah ajaran yang mengarah kepada ketidakpercayaan kepada adanya Tuhan (atheisme). Paham inilah yang mengilhami berdirinya komunisme sosialis. Bahwa tanpa percaya kepada Tuhan pun mereka tetap bisa membangun pola kehidupan dan system ketatanegaraan. Mereka mendasarkan tingkah lakunya pada baik dan buruk, bukan pada kepercayaan kepada Tuhan.

Filed under: Agama

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender Posting

Juni 2010
M S S R K J S
    Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Pengunjung

  • 85,514 Orang

Arsip

Sabda Guru

Sabda Guru

Sabda Guru

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: